cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP, Jalan Professor Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50275, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23033622     EISSN : 25487213.     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2013): April 2013" : 7 Documents clear
Implementation ff Midwive-Traditional Birth Attendants Partnership by Midwives in Buton District, Southeast Sulawesi, (A Case Study on Wakaokili Primary Healthcare Center) Hermawati Hermawati; Tjahjono Kuntjoro; Ayun Sriatmi
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.872 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Terbatasnya pemahaman pentingnya persalinan Nakes terlatih menjadikan dukun sebagai pilihan penolong persalinan, disamping faktor sosial ekonomi, budaya, dan kinerja bidan, yang berdampak peningkatan AKI di Kabupaten Buton. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah, ditandai rendahnya jumlah dukun bermitra dan rendahnya rujukankehamilan dan rujukan persalinan dukun di Puskesmas Wakaokili. Inilah cermin Program Kemitraan Bidan-Dukun oleh Bidan Desa di Puskesmas Wakaokili. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam pada 4 bidan desa dan 9 dukun bersalin sebagai informan utama. Data dianalisis menggunakan metode content analysis. Penelitian menunjukkan tujuan dan indikator keberhasilan program kurang dipahami, tidak ada aturan tertulis, tidak ada SOP dan pencatatan khusus kemitraan bidan-dukun. Diseminasi program bersifat pengenalan, pelaporan tidak didiskusikan. Pembinaan dan magang dukuntidak ada. Sikap pelaksana terhadap kemitraan cenderung mendua dan sumber daya kurang mendukung. Terbukti lingkungan ekonomi, sosial dan politik mempengaruhi keberhasilan program.Kata Kunci : Puskesmas, Program Kemitraan Bidan-Dukun .The limited knowledge on the importance of health workers deliveries, together with some other factors such as economies, social and culture, made traditional birth attendants became a choice of delivery services. This condition resulted in the increase of Maternal MortalityRate in Buton District. The coverage of health workers deliveries in Wakaokili was still low. It was marked by the low rate of traditional birth attendance-midwives’ partnership and deliveries referral to the midwives, as well as high rates of traditional birth attendancedeliveries. This study was a descriptive qualitative study. Data were collected by in depth interviews on 4 village midwives and 9 traditional birth attendants as the main informants. Data were analyzed by content analysis method. Results showed that the goals and program success indicators were not understood well. Dissemination was only an introduction and the report was not discussed. There was no coaching or internship program. The attitude tended to be ambivalent and the resources were not supportive. It is proven that economic, social and political environment influence the program results.
Sistem Informasi Kerentanan Gizi Buruk di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura dengan Metode Analytic Hierarchy Process Yokelin Tokoro; Dharmaputra Palekahelu; Andeka Rocky Tanaamah
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.984 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

This study is aimed to determine the vulnerability of malnutrition in every village of SentaniDistrict by analyzing the factors of malnutrition acording to UNICEF standard usingAnalytical Hierarchy Proses method. These factors include nutrition, infectious diseases,parenting, food availability, sanitation, and poverty. These factors are known as the criteria inthe AHP process that use to determine the preferred alternative (the village) which isvulnerable to malnutrition. The result of this study can be used as a Decision SupportSystem (DSS) to help the stakeholders in addressing the malnutrition problems on the righttarget by pressing the factors
The Corelation between Perception of Leadership Practice and Perception of Service Quality by Medical and Paramedical Staff in Perinatal Room Kraton Hospital, Pekalongan Moh. Hasyim Purwadi; Sudiro Sudiro; Cahya Tri Purnami
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1378.12 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Pelayanan perinatal merupakan salah satu pelayanan unggulan di RSUD Kraton.Keterbatasan tenaga kesehatan terlatih dan kurangnya peralatan serta kurangnya dukunganpimpinan terhadap rumahsakit sayang bayi merupakan permasalahan yang dijumpai dalampelayanan perinatal di RSUD Kraton.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruhpersepsi tentang praktek kepemimpinan terhadap persepsi mutu pelayanan di ruang perinatalRSUD Kraton Kab. Pekalongan. Jenis penelitian adalah analitik kuantitatif observasionaldengan pendekatan belah lintang (cross sectional). Pengumpulan data menggunakankuesioner dan observasi. Populasi sama dengan sampel penelitian adalah seluruh tenagamedis dan paramedis di ruang perinatal RSUD Kraton sebanyak 36 orang. Data dianalisisdengan uji korelasi Pearson product moment dan rank Spearman dilanjutkan uji regresilogistik. Hasil penilitian ini menunjukkan bahwa persepsi tentang praktek kepemimpinanmenantang proses: kategori baik (58,3%); menginspirasi visi bersama: kategori cukup(58,3%); memberdayakan orang lain untuk berbuat: kategori baik (63,9%), menjadi model:kategori cukup (52,8%); mendorong semangat: kategori baik (50%), dan persepsi tentangmutu pelayanan: kategori baik (55,6%). Ada hubungan antara persepsi praktek kepemimpinantentang menantang proses (r=0,832, p=0,0001), menginspirasi visi bersama ( =0,78,p=0,0001), mendorong semangat ( =0,615, p=0,0001) dan menjadi model ( =0,445,p=0,007) dengan persepsi mutu pelayanan perinatal. Tidak ada hubungan antara persepsipraktek kepemimpinan tentang memberdayakan orang lain untuk berbuat (r=0,252, p=0.139)dengan persepsi mutu pelayanan perinatal. Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwapersepsi praktek kepemimpinan menginspirasi visi bersama mempunyai pengaruh palingbesar terhadap persepsi mutu pelayanan perinatal (exp β = 84,5), diikuti praktekkepemimpinan mendorong semangat (exp β = 22,8) dan praktek kepemimpinan menjadimodel (exp β = 6,4).Perinatal service is one of eminent services in Kraton Hospital. Limitation of trained staff andless completeness of equipment as well as less leadership supports for “infant caringhospital” has been problems in the perinatal service in Kraton Hospital.ResearchObjective was to analyze influence of leadership practice perception to service qualityperception in perinatal room Kraton Hospital. Type of research was observationalquantitative analytic, with cross sectional approach. Data collection used questioner andobservation. Sample was total population. Those were all medical staff and paramedical staffin perinatal room Kraton Hospital, totally 36 respondents. Data analysis used Pearsonproduct moment correlation and Rank Spearman followed by logistic regression. Resultsshowed that perception of challenging process of leadership practice had category good(58.3%); inspiring of shared vision had category moderate (58.3%); empowering others hadcategory good (63.9%); become a model had category moderate (52.8%); driving spirit hadcategory good (50%); and perception of quality of services had category good (55.6%).There was a correlation between challenging process of leadership practices (ρ=0.832;p=0.0001); inspiring shared vision ( =0.78, p=0.0001); driving spirits ( =0.615,p=0.0001) and become a model ( =0.445, p=0.007) and perception of quality of perinatalservices. There was no correlation between perception of empowering others of leadershipand (ρ=0.252, p=0.139). Logistic Regression analysis showed that perception of inspiringshared vision of leadership had the greatest influence to perception of perinatal qualityservices (exp β = 84.5), followed by driving spirit of leadership (exp β = 22,8) and become amodel (exp β = 6,4).
Analisis Pemanfaatan Bantuan Operasional Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Andini Aridewi; Martha Irene Kartasurya; Ayun Sriatmi
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.407 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) telah dimanfaatkan untuk penyelenggaraan upayapromotif dan preventif termasuk peningkatan kesehatan ibu dan anak (KIA) di Puskesmaswilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, namun kasus kematian ibu dan anak diKabupaten Kudus cenderung meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskanpemanfaatan BOK dalam upaya peningkatan KIA di Puskesmas wilayah kerja DinasKesehatan Kabupaten Kudus tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan membandingkan antara Puskesmas serapan tinggi yang berhasil menekan kasuskematian ibu dan bayi dengan Puskesmas serapan rendah dan kurang berhasil dalam menekankasus kematian ibu dan bayi. Pengambilan data dengan wawancara mendalam terhadapinforman utama Kepala Puskesmas serta informan triangulasi bidan koordinator KIA danDinas Kesehatan Kabupaten Kudus. Analisis data menggunakan metode analisis isi.Hasil penelitian menunjukkan pada Puskesmas dengan serapan tinggi dan berhasil menekankasus, pemahaman tentang juknis BOK jelas, pelaksanaan kegiatan sesuai dengan laporan dandilaksanakan secara tim, ada keterlibatan pelaksana dalam penyusunan Plan of Action (POA)serta ada evaluasi pelaksanaan kegiatan. Selain itu pada Puskesmas yang berhasil, pelaksanakegiatan juga menyusun kelengkapan data pendukung sehingga pembuatan laporan tidakhanya dibebankan kepada Tim Pengelola BOK Puskesmas. Demi keberhasilan implementasikebijakan pemanfaatan BOK untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak, perlu penerapanfungsi manajemen yang benar di Puskesmas yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, danevaluasi.Health Operational Aid (BOK) had been utilized for the implementation of promotive andpreventive services. This included maternal and child health improvement in the primaryhealthcare centers of Kudus district health office work area. However, maternal and childmortality in Kudus district tended to increase. The study objective was to explain theutilization of Health Operational Aid in the maternal and child health improvement efforts inthe primary healthcare centers of Kudus health office. This was a qualitative study. This studycompared utilization of BOK in high absorbing primary healthcare centers that succeeded in32minimizing maternal and infant mortality cases and in low absorbing primary healthcarecenters that did not succeed in minimizing maternal and infant mortality cases. Data werecollected through in-depth interview to main informants namely the head of primaryhealthcare centers, and triangulation informants namely maternal and child healthcoordinator midwives and head of Kudus district health office. Content analysis was appliedin the data analysis.Results of the study showed that in the high absorbing primaryhealthcare centers that succeeded in minimizing cases: understanding about healthoperational aid technical guideline was clear; implementation of activities was according tothe reports; executors were involved in a plan of action formulation; and there was anevaluation on the activity implementation. In addition, in the success primary healthcarecenters, it was found that executors of the activities arranged the completeness of supportingdata; therefore, report making was not done only by the management team of primaryhealthcare center’ health operational aid. To be successful in the health operational aidutilization for maternal and child health, application of a right management function in theprimary healthcare center is needed. This management function includes planning,implementation and evaluation
Analysis of Leadership’s Factors in Nursing Care Quality Effort at Hemodialysis Unit of B Class Hospital Yulius Widiyarta; Sudiro Sudiro; Bambang Edi Warsito
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.892 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Layanan unit Hemodialisa sebagai layanan unggulan masih bermasalah pada komitmen dankomunikasi kepemimpinan keperawatan. Penelitian ini betujuan untuk menjelaskan faktorkepemimpinan : komunikasi dan komitmen dalam upaya pelayanan keperawatan yangbermutu di Unit Hemodialisa di RS Tipe B. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif denganmetode wawancara mendalam dan observasi. Subjek penelitian terdiri dari 11 orang yaitu 3orang informan utama (1 perawat kepala ruang dan 2 perawat) dan 8 orang informantriangulasi (1 dokter penanggung jawab unit hemodialisa, 4 perawat dan 3 pasien). Observasidilakukan dengan menggunakan check list atau daftar tilik. Hasil penelitian menunjukkanfaktor komunikasi yang terdiri dari fungsi instruksi, konsultasi, partisipasi, delegasi danpengendalian sudah dilakukan oleh pimpinan. Fungsi instruksi dilaksanakan denganmemberikan arahan tetapi strategi tidak disampaikan. Fungsi konsultasi sudah dilaksanakantetapi masukan tidak direspon oleh kepala ruang. Fungsi delegasi sudah dijalankan dari kepalaruangkepada kepala tim. Fungsi partisipasi sudah dilaksanakan. Fungsi pengendaliandilaksanakan dengan pengawasan langsung tetapi belum ada mekanisme monitoring danevaluasi . Untuk faktor komitmen, yang sudah dilakukan adalah komitmen untuk menjaditeladan dan pemberian motivasi sedangkan komitmen untuk melakukan monitoring danmenjalankan SOP belum dilaksanakan. Pelayanan keperawatan sudah dirasakan cukup baikoleh pasien dan kolaborasi antar petugas medis sudah berjalan dengan baik tetapi belum adapenjaminan mutu pelayanan keperawatan. Sarana dan prasarana sesuai persyaratan dariDepkes dan Pernefri belum dipenuhi. Simpulan, faktor komunikasi kepemimpinan belumsemuanya dilaksanakan oleh pimpinan keperawatan. Komitmen untuk menjadi teladan danmemberikan motivasi sudah dilaksanakan. Komitmen untuk melaksanakan SOP sertamelakukan monitoring dan evaluasi belum dilaksanakan. Saran, kepemimpinan keperawatanagar meningkatkan fungsi komunikasi, pelaksanaan SOP serta melakukan monitoring danevaluasi sebagai bentuk upaya penjaminan mutu pelayanan keperawatan.Haemodialysis unit service as an eminent service had been still a problematic in nursingleadership commitment and communication. This study objective was to explain the factors ofleadership : communication and commitment to quality nursing care effort in HaemodialysisUnit at the Type B Hospital. The research was conducted in-depth qualitative interviews andobservation. Research subjects consisted of 11 people : 3 key informants (1 head room nurseand 2 nurses) and 8 triangulation informants (1 physician responsible hemodialysis unit, 4nurses and 3 patients). Observations carried out by using a check list.The results shows thatthe communication factors consists of instruction, consultation, participation, delegation andcontrolling functions have been done by the head room nurse. The instruction function hasbeen implemented by providing direction but the strategy has not been delivered yet.Consulting function has been already implemented but the suggestion has not been respondedby the head room nurse. Delegation function has been functioning from the head room nurseto the team head nurse. Participation function has been implemented. Controlling functionhas been carried out under the direct supervision but there have been no monitoring andevaluation mechanisms. Commitment factor has been a model and a motivation, while thecommitment to monitor and to do using SOP has not been implemented. The nursing care hasbeen perceived quite well by patients and collaboration among medical officers has beengood but there has no assurance of quality nursing care. Facilities and infrastructuresaccording to the requirements of the Department of Health and Pernefri have not beenfulfilled. Conclusion, leadership communication factors have not all done by nursingleadership. Commitment to be a model and and a motivation have been implemented.Commitment to implement the SOP and conduct monitoring and evaluation have not beenconducted. Suggestions, nursing leadership should improve the functioning of nursingleadership communication, implementation of SOPs and conduct monitoring and evaluationas an effort to guarantee quality of nursing care
Pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) Ditinjau dari Aspek Bidan Desa sebagai Pelaksana di Kabupaten Jepara Sokhiyatun Sokhiyatun; Laksmono Widagdo; Ayun Sriatmi
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.146 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Kematian ibu di Kabupaten Jepara tahun 2011 sebesar 24 orang (AKI 113/100.00 KelahiranHidup), terutama pada periode kehamilan dan persalinan yang diakibatkan perdarahan.Program P4K sebagai terobosan untuk mengurangi kematian ibu telah dilaksanakan diKabupaten Jepara sejak tahun 2009. Survey pendahuluan menunjukkan meski cakupanindikator P4K sudah baik, namun tidak semua kolom stiker diisi, bidan hanya memberikanstiker pada ibu hamil dan seringkali tidak mendiskusikan rencana persalinan dengan ibu hamildan keluarga. Tujuan penelitian yaitu menjelaskan pelaksanaan P4K dari aspek bidan desasebagai pelaksana di wilayah puskesmas Kabupaten Jepara tahun 2012. Jenis penelitiandeskriptif observasional dengan metode kualitatif. Populasi seluruh bidan desa yang ada diKabupaten Jepara, Informan utama 8 bidan desa dari 4 puskesmas terpilih dengan kriteriapuskesmas di daerah perkotaan sebanyak 2 puskesmas dan 2 puskesmas daerah pedesaan.Informan triangulasi yaitu ibu hamil (8 orang), kader kesehatan (8 orang), Bidan Koordinator(4 orang ) dan Kasie Kesga Dinas Kesehatan. Pengumpulan data melalui wawancaramendalam.. Analisis data dilakukan dengan content-analysis. Berdasarkan hasil penelitiandiperoleh informasi umur bidan desa antara 25–36 tahun, berpendidikan D3 Kebidanan danmasa kerja 3-15 tahundengan rata-rata kerja 9 tahun. Pengetahuan dan sikap bidan tentangP4K sudah baik karena dari 8 bidan sudah memahami tujuan dari P4K dan mendukung P4Kdengan alasan program tersebut dapat membantu pencapaian program KIA, meski pelatihankhusus P4K tidak ada, hanya penunjang dari P4K yaitu APN dan BBLR, namun dana khususpenunjang kegiatan P4K, tidak tersedia. Buku KIA dan stiker P4K sebagai sarana danprasarana tersedia cukup, namun bidan kit belum lengkap. Tidak ada SOP khusus P4K,kecuali SOP penapisan awal dan deteksi bumil resti. Indikator keberhasilan yang dipahamibidan bahwa stiker harus terpasang di setiap rumah ibu hamil yang ada di wilayahnya. Bidandesa melakukan aspek perencanaan persalinan cukup baik, serta melakukan koordinasi dankomunikasi melalui sosialisasi dan pertemuan rutin. The number of maternal death in the district of Jepara in 2011 was 24 people (MMR 113/100.000 live births). It was mainly in pregnancy and delivery periods due to bleeding. Delivery planning and complication prevention program (P4K) as a breakthrough program to reduce maternal mortality had been done in Jepara district since 2009. Preliminary survey showed that although P4K coverage was good, yet not all columns in the stickers were fulfilled. Midwives only gave stickers to pregnant women, and most of midwives did not discuss delivery planning with pregnant women and their family. Objective of this study was to explain the implementation of P4K from midwives aspects as the executors in the area of primary healthcare center (puskesmas) in Jepara district in 2012. This was a descriptive observational study using qualitative method. Study population was all village midwives in Jepara district. Main informants were 8 village midwives from 4 selected puskesmas. These puskesmas were two puskesmas from urban areas and two puskesmas from rural areas. Triangulation informants were 8 pregnant women, 8 health cadres, 4 coordinator midwives, and a head of family health unit of local district health office. Data were collected through in-depth interview. Content analysis was applied in the data analysis. Results of the study showed that age of village midwives was 25-36 years old; level of education was D3 in midwifery. Length of working was 3-15 years with the average of 9 years. Knowledge and attitude of midwives regarding P4K were good; 8 midwives had understood the purpose of P4K, and they supported P4K because it could help KIA program accomplishment. No special training on P4K was conducted; however, support of P4K training was conducted such as APN and BBLR trainings. No specific funding for P4K program was provided. Facilities, KIA books and P4K stickers, were sufficient. On the other hand, midwives kit was not complete. No specific standard operating procedure (SOP) was provided except SOP for early screening and for high risk pregnancy detection. Indicator of success understood by midwives was that stickers should be attached in every house of the pregnant women living in the work coverage area of midwives. Village midwives did a good delivery planning aspect, and they conducted coordination and communication through socialization and routine meetings.
Implementasi Program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Puskesmas Wilayah Kabupaten Pasuruan Nikmatul Firdaus; Sudiro Sudiro; Atik Mawarni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 1, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.752 KB) | DOI: 10.14710/jmki.1.1.2013.%p

Abstract

Pada tahun 2006 sosialisasi program MTBS dan pelatihan kepada petugas puskesmas telah dilakukan, dimana masing-masing Puskesmas diwakili oleh 1 orang tenaga medis (dokter) dan 2 orang tenaga paramedis(bidan, perawat). Akan tetapi kematian balita di kabupaten Pasuruan mengalami kenaikan, yaitu tahun 2007 sebesar 5,2/1000 kelahiran hidup, tahun 2008 sebesar 5,4/1000 kelahiran hidup dan tahun 2009 sebesar 6,1/1000 kelahiran hidup. Darikematian tersebut diketahui penyebabnya antara lain karena gizi buruk, pneumonia, DBD,diare serta infeksi. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap faktor faktor dalam implementasi program MTBS di Puskesmas Kabupaten Pasuruan. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif, metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sebagai informan utama adalah petugas MTBS (dokter, bidan, perawat) di Puskesmas wilayahperkotaan dan pinggiran kota yang melakukan MTBS, berjumlah 12 orang. Sedangkan sebagai informan triangulasi adalah 4 kepala Puskesmas, satu Kasie Kesga Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan. Variabel dalam penelitian ini adalah faktor komunikasi, faktor sumber daya, faktor disposisi, serta faktor struktur birokrasi. Penelitian memberikan hasil sosialisasi dan pelatihan program MTBS sudah dilakukan. Petugas yang melayani balita sakit belum menunjang keberhasilan pencapaian tujuan MTBS oleh karena belum semua petugas mendapatkan pelatihan MTBS, jumlah petugas tidak sebanding dengan jumlah balita sakityang berkunjung. Seluruh petugas MTBS mempunyai sikap positif untuk mendukung program MTBS. Meskipun sudah tersedia SOP namun tidak semua petugas menggunakannya dalam melayani MTBS. Pembinaan dari DKK belum dilakukan rutin, supervisi masih bersifat umum, serta tidak ada tindak lanjut yang diberikan. Agar pelayanan MTBS terlaksana dengan baik maka perlu ditingkatkan sosialisasi SOP yang disertai pelatihan yang meratauntuk semua petugas serta supervisi yang spesifik pada MTBS.Data in 2007-2010 showed that integrated management of childhood illness (IMCI) activities increased. However, IMCI coverage had not reached the target established by Pasuruan district health office, which was 80%. Preliminary study indicated that not all under-five children who visited health centers received IMCI services. It was caused by no availability of IMCI facilities, unscheduled supervision, and no feedback. The objective of this study was to explain IMCI program implementation from policy aspect in primary healthcare centers in Pasuruan district.    This was an observational qualitative study with cross sectional approach. Study population was all primary healthcare centers that performed IMCI in Pasuruan district. Main informants were IMCI team that consisted of physicians, midwives, nurses. Triangulation informants were policy makers such as head of primary healthcare center, head of family health section, and consumers.    Results of the study showed that in 4 primary healthcare centers with high IMCI coverage, communication had been performed (socialization and marketing); however, there was no specific organizational structure (unstructured). Viewed from resources side, not all human resource received IMCI training; not all facilities of IMCI were fulfilled; specific funding for IMCI program was not allocated. In relation to disposition, all workers had positive attitude in supporting IMCI program. Bureaucracy structure was not optimal; there was a standard operating procedure, but it was not implemented correctly in practice.  There was recording and reporting, but routine supervision and feedback was not performed.     Based on the results of study, it was suggested and recommended to keep doing IMCI program socialization, human resource improvement, facility fulfillment, improvement of workers by conducting IMCI training, implementing arrangement for reporting and recording to district health office, improvement in supervision quality by giving feedback to district health office.

Page 1 of 1 | Total Record : 7