cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Peningkatan Disolusi Nifedipin dari Mikrokristalnya yang Dibuat Melalui Pengendapan Antisolvent dengan Keberadaan Poloxamer 188 atau Natrium Lauril Sulfat Saleh Wikarsa; Monika Fenita Samaria
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan laju disolusi nifedipin melalui pembentukan mikrokristalnya. Mikrokristal nifedipin dibuat melalui pengendapan antisolvent dengan keberadaan poloxamer 188 atau natrium lauril sulfat pada tiga konsentrasi (1%, 3%, dan 5%) sebagai stabilisator dan peningkatan keterbasahan. Karakterisasi mikrokristal yang dilakukan meliputi morfologi, spektrofotometer inframerah, difraksi sinar-X dan uji disolusi. Profil disolusi nifedipin dari mikrokristalnya menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan serbuk nifedipin. Kecepatan disolusi terbaik nifedipin dari mikrokristalnya dengan keberadaan NLS adalah mikrokristal nifedipin-natrium lauril sulfat 5% sedangkan untuk profil disolusi nifedipin dari mikrokristalnya dengan keberadaan poloxamer 188 dalam berbagai konsentrasi tidak berbeda secara bermakna. Profil disolusi nifedipin terbaik dari mikrokristal nifedipin-natrium lauril sulfat dan poloxamer 188 tidak berbeda secara bermakna. Campuran fisik serbuk nifedipin-surfaktan dengan perbandingan 9:1 memberikan profil disolusi lebih baik dari mikrokristalnya. Hasil pengamatan mikrokristal melalui SEM tidak menunjukkan perbedaan morfologi kristal. Sementara hasil pemeriksaan serapan inframerah, difraksi sinar X memberikan parameter yang sama. Perbedaan kecepatan disolusi nifedipin dari serbuk nifedipin, mikrokristal, dan campuran fisik bukan disebabkan oleh perbedaan bentuk kristal (polimorfisme) tetapi karena adanya perbedaan ukuran partikel dan keberadaan surfaktan.Kata Kunci: nifedipin, poloxamer 188, natrium lauril sulfat, disolusi, pengendapan antisolvent, mikrokristal. The aim of this study is to enhance the dissolution rate of nifedipine through formation its microcrystal. Microcrystals of nifedipine are made by antisolvent precipitation with presence poloxamer 188 (PLX) and sodium lauryl sulfate (SLS) within three concentrations (1%, 3%, 5%) as stabilitator and wet improver. Then, the crystal characterization will be carried out through crystal morphology, infrared spectrum, x-ray diffraction pattern, and dissolution test. Dissolution rate profile of nifedipine from microcrystal showed enhancement was comapared by nifedipine powder. The best dissolution rate profile of nifedipine from microcrystal with presence of SLS is nifedipine microcrystal-SLS 5% whereas for dissolution rate profiles of nifedipine from microcrystal with presence of PLX within some concentration were not different significantly. Dissolution rate of nifedipine from microcrystal-SLS 5% was not different significantly with dissolution rate profiles of nifedipin from microcrystal with presence of PLX. Physical mixture of nifedipine powder-surfactant showed dissolution rate profiles better than its microcrystal. The crystal morphology which observed by SEM did not showed differences. The characterization with infrared spectrophotometer, X-ray diffraction showed the same result for all sample. The difference of dissolution rate of nifedipine was not caused by the shape of its crystal (polymorphism) but by the difference of particle size and presence of surfactant.Keyword: nifedipine, poloxamer 188, sodium lauryl sulfate, dissolution, antisolvent precipitation, microcrystal.
Front Matter Vol 37 No 3 (2012) Acta Pharmaceutica Indonesia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EVALUATION OF DRUG MANAGEMENT AND SERVICE QUALITY OF SEVERAL PUBLIC PRIMARY HEALTH CARE PHARMACIES IN BANDUNG Rizki Siti Nurfitria; Akhmad Priyadi; Sepriantina Sepriantina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTIn national health coverage era, public primary health care pharmacy must be supported by good drug management and service quality. These include human resources, pharmaceutical inventory management, and pharmacy service quality. This paper empirically evaluates the drug management that consist of planning, procurement, storage, distribution, and documentation aspects; and also how patients perceived pharmacy service quality. The research used observational descriptive design through triangulation method (observation, interview and checklist) for drug management evaluation in two primary public HCs and a self-completion Likert-scale SERVQUAL questionnaire was developed using a convenience sampling technique, given to 794 patients from three Primary public HCs that received medicine from pharmacy. This survey included five service quality dimensions; tangibility, reliability, responsiveness, assurance and empathy. The drug management in two primary public HCs had been categorized as having excellent management with the mean score 88.89% and 89.58% of all aspects and gap analysis showed mean gap score for five service quality dimensions of -0.98; -0.83 for responsiveness, -0.91 for reliability, -0.81 for assurance, -1.47 for empathy, -0.89 for tangibility, showing that patient expectation was still not met. Satisfaction level for pharmacy service was 79.53 % which is categorized as excellent. This paper provides useful information to primary public health care provider that the pharmacy unit is not providing service quality level expected by patients and needs improvement in many variables.Keywords: Drug Management, Service Quality, Pharmacy, Public Primary Health Care, EvaluationEVALUASI PENGELOLAAN OBAT DAN KUALITAS PELAYANAN KEFARMASIAN DI BEBERAPA PUSKESMAS DI KOTA BANDUNGABSTRAKDi era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), unit farmasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama milik pemerintah dalam hal ini Puskesmas, harus didukung oleh pengelolaan obat dengan kualitas pelayanan yang baik. Hal ini meliputi sumber daya manusia (SDM), manajemen persediaan obat dan kualitas pelayanan farmasi. Penelitian ini mengevaluasi pengelolaan obat yang terdiri dari aspek perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan pencatatan serta mengevaluasi kualitas pelayanan farmasi di Puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif melalui metode triangulasi untuk mengevaluasi pengelolaan obat dua Puskesmas (observasi, wawancara dan checklist) dan kuesioner SERVQUAL dengan skala Likert untuk mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan kepada 794 pasien yang memperoleh obat di tiga Puskesmas secara convenience sampling berkaitan dengan lima dimensi kualitas: bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Pengelolaan obat di dua Puskesmas dikategorikan sangat baik dengan nilai rata-rata seluruh aspek 88,89% dan 89,58%. Hasil analisis celah menunjukkan nilai celah rata-rata seluruh dimensi kualitas -0,98; daya tanggap -0,83, kehandalan -0,91, jaminan -0,81, empati -1,47, bukti langsung -0,89, mengindikasikan bahwa harapan pasien belum terpenuhi. Tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan farmasi 79,53 % dan dikategorikan sangat baik. Penelitian ini memberikan informasi yang berguna bagi Puskesmas bahwa unit farmasi terkait belum dapat memberikan taraf kualitas pelayanan yang diharapkan oleh pasien dan memerlukan perbaikan dalam berbagai aspek.Kata kunci: Pengelolaan Obat, Kualitas Pelayanan, Unit Farmasi, Puskesmas, Evaluasi
ISOLATION AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF SOIL-DERIVED FUNGI FROM TAMAN BOTANI NEGARA, SHAH ALAM, MALAYSIA Marlia Singgih; Elin Julianti; Muhammad Daniaal Radzali
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTFungi are eukaryotic organisms that consist of unicellular organisms, namely molds and yeasts, and multicellular organism known as mushrooms. In the medical field, fungi have a significant contribution as they are widely used as sources for discovering a lot of novel antibiotics. As the preliminary study, this paper presents the isolation of soil-derived fungi from Malaysian forest as resources for finding the new antibiotics and their test of antibacterial activity against Bacillus subtilis and Escherichia coli. The fungi their selves were isolated by using Sabouraud dextrose agar (SDA) medium. The pure fungi isolates were screened for their antibacterial activity by using disk diffusion method. The active fungi were fermented in Sabouraoud dextrose broth (SDB) medium for 21 days. Culture media and mycelium were separated by filtration method. The culture broth was extracted by liquid-liquid extraction and mycelium was extracted by maceration method using ethyl acetate. The antibacterial activity of the dried extracts was determined by using the microdilution method. The isolation step resulted in five fungal strains coded S1-S5. The antibacterial assay showed that the extract of fungal broth medium of S3 had the highest antibacterial activity against B. subtilis with MIC value of 64 μg/mL and S1 against E. coli with MIC value of 32 μg/mL. Based on these MIC values, these can be classified as significant antibacterial activities as well. Thus, these extracts could be potentially useful for the development a new therapeutic agent bacterial infections.Keywords: antibacterial activity, Bacillus subtilis, Escherichia coli, fungi, isolation.ISOLASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI JAMUR ASAL TANAH TAMAN BOTANI NEGARA, SHAH ALAM, MALAYSIAABSTRAKJamur merupakan organisme eukariotik yang terdiri dari organisme uniseluler yaitu kapang dan ragi, dan organisme multiseluler yang dikenal sebagai jamur. Jamur memiliki kontribusi yang besar terhadap bidang kesehatan karena merupakan sumber yang banyak digunakan dalam pencarian kandidat antibiotik baru. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi jamur yang berasal dari tanah hutan Malaysia sebagai sumber pencarian antibiotik baru dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Isolasi jamur dari sampel menggunakan media agar Sabouraud dextrose (SD). Skrining aktivitas antibakteri dilakukan terhadap isolat jamur murni dengan metode difusi agar. Isolat jamur yang aktif selanjutnya di fermentasi dengan medium cair SD selama 21 hari. Kultur media dan miselia dipisahkan dengan menggunakan metode filtrasi. Bagian kultur media di ekstraksi dengan ekstraksi cair-cair (ECC) sedangkan bagian miselium diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etil asetat. Ekstrak kering diuji aktivitas antimikrobanya terhadap bakteri uji dengan metode mikrodilusi. Hasil dari penelitian ini diperoleh lima strain jamur yang diberi kode S1-S5. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak kultur media jamur S3 mempunyai aktivitas antibakteri yang paling tinggi terhadap B. subtilis dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 64 μg/mL dan jamur S1 terhadap E. coli dengan KHM sebesar of 32 μg/mL. Berdasarkan nilai KHMnya kedua jamur tersebut diklasifikan mempunyai aktivitas antibakteri yang signifikan. Ekstrak jamur tersebut berpotensi berguna untuk pengembangan senyawa terapetik yang baru untuk melawan infeksi bakteri.Kata kunci: aktivitas antibakteri, Bacillus subtilis, Escherichia coli, isolasi, jamur
Studi Dinamika Molekul Dendrimer Pamam G3 Terkonjugasi Ho(III) DTPA dan Asam Folat pada Suhu 25°C dan 37°C dalam Kondisi Vakum dan Berair sebagai Senyawa Pengontras Magnetic Resonance Imaging (MRI) Danni Ramdhani; Amir Musadad Miftah; Abdul Mutalib
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan pemodelan molekul dendrimer PAMAM G3 terkonjugasi Holmium(III)-asam dietilen triamin penta asetat (DTPA) dan asam folat dalam kondisi vakum dan berair pada suhu 25 °C dan 37 °C dengan menggunakan program ChemBio 3D 12.0. Senyawa ini diharapkan dapat digunakan sebagai senyawa pengontras MRI yang spesifik untuk diagnostik sel kanker dan juga dapat berperan sebagai terapi kanker. Sebelum dilakukan pemodelan molekul dan studi dinamika molekul, terlebih dahulu dilakukan parameterisasi untuk senyawa Holmium yang belum terdapat pada program Chem 3D. Parameterisasi, meliputi panjang ikatan, sudut ikatan, sudut dan konstanta gaya masing-masing. Selanjutnya dilakukan pemodelan molekul dengan program chem draw dan perhitungan dinamika molekul dengan melihat nilai dari kestabilan energi total dan energi potensial. Hasil simulasi dinamika molekul didapat nilai energi potensial dan energi total dari senyawa PAMAM G3 terkonjugasi Ho(III)DTPA dan asam folat yang paling stabil pada suhu 25 °C dalam kondisi berair. Kata kunci: PAMAM, DTPA, Holmium, dinamika molekul, energi total, energi potensial. Molecular modeling has been carried out G3 PAMAM dendrimer conjugated Holmium (III)-penta acetic acid diethylene triamin (DTPA) and folic acid in vacuum and aqueous conditions at 25 °C and 37 °C by using the program ChemBio 3D 12.0. These compounds are expected to be used as MRI contrast compounds that specific for diagnostic cancer cells and also serve as a cancer therapy. Prior to molecular modeling and molecular dynamics studies, first performed Holmium parameterization for compounds that have not been found on the Chem 3D program. Parameterization, including bond lengths, bond angles, angles and force constants respectively. Further molecular modeling performed with the program chem draw and molecular dynamics calculations to see the value of the stability of the total energy and potential energy. Molecular dynamics simulation results obtained value of the potential energy and total energy of the compound conjugated PAMAM G3 Ho (III) DTPA and folic acid is most stable at 25 ° C in aqueous conditions. Keywords: PAMAM, DTPA, Holmium, molecular dynamics, total energy, potential energy.
Modifikasi Metode Penentuan Amina Aromatik Primer Tidak Tersulfonasi dalam Bahan Baku Zat Warna Tartrazin Dihitung sebagai Anilina secara Spektofotometri UV-Sinar Tampak Rahmana Emran Kartasasmita; Inayah Inayah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Senyawa amina aromatik primer tidak tersulfonasi merupakan suatu cemaran yang dapat ditemukan di dalam zat warna. Disebabkan toksisitasnya, kadar cemaran ini dibatasi pada tingkat maksimum tertentu, secara khusus ditetapkan sebagai anilina dengan batas maksimum sebesar 100 ppm. Pada kompendial resmi yang dikeluarkan oleh Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) penentuan senyawa amina aromatik primer tidak tersulfonasi dilakukan melalui reaksi diazotisasi dan kopling diazo dengan menggunakan senyawa garam natrium 2-naftol-3,6 disulfonat sebagai pereaksi pengkopling. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode alternatif pada penentuan kadar amina aromatik primer tidak tersulfonasi dalam tartrazin, sebagai zat warna yang paling banyak digunakan di Indonesia, menggunakan 2-naftol sebagai pereaksi pengkopling. Anilina diekstraksi dari tartrazin dengan menggunakan toluen pada pH 12,3 dan kemudian diekstraksi kembali dari fasa organik dengan menggunakan larutan asam hidroklorida 3 N. Anilina yang terlarut dalam bentuk garam klorida mengalami reaksi dengan asam nitrit, yang diperoleh secara in situ dengan mereaksikan natrium nitrit dan asam hidroklorida, membentuk suatu garam diazonium. Untuk menghilangkan kelebihan asam nitrit dilakukan penambahan urea ke dalam campuran reaksi. Garam diazonium kemudian dikopling dengan 2-naftol pada pH 9,0. Absorbansi larutan diukur pada panjang gelombang 540 nm. Metode ini memberikan kurva kalibrasi linier pada rentang konsentrasi 2-10 ppm dengan persamaan garis regresi Y = 0,0952X "“ 0,0005 dan r2 = 0,9997. Batas deteksi dan batas kuantisasi metode ini dihitung secara statistik sebesar 0,16 dan 0,54 ppm. Perolehan kembali kadar anilina dalam tartrazin dengan menggunakan metode penambahan baku pada konsentrasi 0,6; 0,8 dan 0,9 ppm adalah 82,7; 86,7 dan 85,6% dengan nilai simpangan baku relatif (RSD) pada semua penetapan kurang dari 5%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode ini dapat digunakan sebagai metode alternatif dari metode resmi yang terdapat dalam compendium JECFA untuk penentuan amina aromatik primer tidak tersulfonasi dalam tartrazin.Kata kunci: amina aromatik primer tidak tersulfonasi, anilina, tartrazin, 2- naftol, diazotisasi, kopling, spektrofotometri.Unsulfonated primary aromatic amines are impurities which could be present in food colours. Due to their toxicities, the concentration of these impurities is limited to a certain maximum level, typically stated as aniline with the maximum level of 100 ppm. The official compendium of Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) describes the determination of unsulfonated primary aromatic amines applying diazotation reaction in which 2-naphthol-3,6 disulfonic acid disodium salt is used as coupling reagent. The aim of this research was to obtain alternative method for the determination of unsulfonated primary aromatic amines in tartrazine as the most applied food colours in Indonesia using 2-naphthol as coupling reagent. Aniline was extracted from tartrazine using toluene under pH value of 12.3 and then re-extracted from organic phase using a 3 N hydrochloric acid solution. Aniline dissolved as hydrochloric acid salt was reacted with nitrous acid produced in situ from sodium nitrite and hidrochloric acid to form a diazonium salt. To remove excess nitrous acid urea was added to reaction mixture. The diazonium salt was then coupled with 2-naphthol under pH value of 9.0. The Absorbance of the solution was then measured at 540 nm. This method gave a linear calibration curve in the concentration range of 2.0 to 10 ppm with a regression equation of Y = 0.0952X "“ 0.0005 and r2 = 0.9997. The limit of detection and limit of quantification of this method were statistically calculated to be 0.16 and 0.54 ppm, respectively. The recovery of tartrazine at the concentration levels of 0.6, 0.8 and 0.9 were respectively determined using standard addition method and found to be 82.7, 86.7 and 85.6%. The relative standard deviations of all the determinations were less than 5%. Based on these results, it was concluded that this method was suitable to applied as alternative method to official method described in the official compendium of JECFA for the determination of unsulfonated primary aromatic amines in tartrazine.Keywords: unsulfonated primary aromatic amine, aniline, tartrazine, 2-naphtol, diazotization, coupling, spectrophotometry
Optimasi Isolasi dan Karakterisasi Jakalin dari Biji Nangka Tri Suciati; Niknik Widanengsih; Catur Riani; Tutus Gusdinar
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah diisolasi jakalin dari biji nangka (Artocarpus heterophyllus) menggunakan metode kromatografi afinitas dengan matriks guar gum yang telah dipaut silang dengan epiklorohidrin, isolasi dilakukan dengan menggunakan pengelusi D-galaktosa. Hasil karakterisasi jakalin menggunakan SDS-PAGE menunjukkan bahwa jakalin memiliki dua pita dengan bobot molekul 14,1 dan 15,5 kDa, antar subunitnya tidak dihubungkan dengan ikatan disulfida. Jakalin yang diisolasi memiliki kemampuan mengaglutinasi eritrosit, kemampuan hemaglutinasi jakalin tidak berkurang setelah diinkubasi pada suhu 20oC dan 30oC, tetapi setelah inkubasi pada suhu 40oC, 50oC, 60oC, 70oC, aktivitasnya turun masing-masing 75%, 87,5%, 93,75% dan 98,4%. Kemampuan hemaglutinasi jakalin tidak berkurang setelah diinkubasi pada pH 5, 6, dan 7, tetapi aktivitasnya turun 75% setelah inkubasi pada pH 2, 3, 4, dan 8, serta turun 96,9% pada pH 9 dan 10. Kemampuan hemaglutinasi jakalin dihambat oleh D-galaktosa dengan kemampuan inhibisi hemaglutinasi sebesar 6,25 mM, aktivitas hemaglutinasi jakalin tidak dihambat oleh D-manosa, D-glukosa, fruktosa, laktosa, arabinosa, maltosa, dan manitol. Diperoleh jakalin dengan perolehan rata-rata sebesar 0,32% b/b dari serbuk kering biji nangka.Kata kunci: Jakalin, lektin, Artocarpus heterophyllus, D-galaktosa.Jacalin from jackfruit (Artocarpus heterophyllus) had been isolated using affinity chromatography method with epichlorohydrin crosslinked guar gum as the matrix, isolation carried out using D-galactose as the eluen. Characterizationjacalin using SDS-PAGE showed that jacalin has two bands with molecular weights 14.1 and 15.5 kDa, intersubunit not connected with disulfide bonds. Jacalin isolates have the ability to haemagglutination erythrocytes, haemagglutination activity of jacalin maintained after incubation at 20oC and 30oC, but the activity decreased at 40, 50, 60, and 70 oC of incubation, which were 75%, 87.5%, 93.75% and 98.4% , respectively. Jacalin hemagglutination ability is not reduced after incubation at pH 5, 6, and 7, but the activity down 75% after incubation at pH 2, 3, 4, and 8, and down 96.9% at pH 9 and 10. The haemagglutination activity of jacalin was inhibited by D-galactose with the capacity inhibition value was 6.25 mM, but it was not inhibited by D-manose, D-glucose, fructose, lactose, arabinose, maltose, and manitol. Average recovery of jacalin is 0.32% w/w of jackfruit dry powder.Keywords: Jacalin, lectin, Artocarpus heterophyllus, D-galactose.
Determination of Sugar Content in Fruit Juices Using High Performance Liquid Chromatography Sophi Damayanti; Benny Permana; Choong Chie Weng
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sugar is a sweet, water-soluble, crystallizable material which is obtained commercially from sugarcane or sugar beet. As an important source of dietary carbohydrate, a sweetener, preservative in foods and a cause factor for Diabetic disease, analysis of sugar content is needed. The objective of this study was to verify the suitability and determination of sugar content in fruit juices using HPLC. The fresh fruits except strawberries were peeled, cut and blended using homogenizer. After filtration, 12.5mL of each fresh juices and packed juices were diluted with acetonitrile and distilled water (50:50). The diluted fresh juices and packed juices were loaded onto C18 Sep-Pak cartridge. Fructose, glucose, and sucrose of each fresh juices and packed juices were analyzed in HPLC with Refractive Index detector, NH2 polar bonded phase column, 10μm (250mm ×4.6mm I.D.), temperature of 43.5°C, mobile phase of acetonitrile and 10mM sodium phosphate (monobasic) (78:22) and flow rate of 1.0mL/min. The method validation showed good linearity of equations for fructose, glucose and sucrose were y = 3833208.4806x "“ 94721.0361, y = 3782886.4708x "“ 101683.4708, y = 3770593.9638x "“ 82870.9083 with regression coefficients, r2 of 0.9995, 0.9997 and 0.9996 respectively. The calculated regression function coefficients (Vx0) for fructose, glucose and sucrose were 0.0152, 0.0112 and 0.0132% respectively. The percentage recovery of fructose, glucose, and sucrose was found to be in a range of each 86.681 "“ 89.888, 86.898 "“ 90.029, and 94.541 "“ 97.885%. Sugar contents in fruit juices can be determined using verified HPLC method with Refractive Index Detektor. Fructose, glucose and sucrose of fresh juices contained 0.469 "“ 1.431, 0.454 "“ 1.286, 0.544 "“ 1.861%, whereas that of packed juices contained 0.309 "“ 1.587, 0.261 "“ 0.762,0.063 "“ 0.898%, respectively.Keywords: Fructose, glucose, sucrose, fruit juice, HPLC.Gula merupakan zat yang berasa manis, larut dalam air, berbentuk kristal yang dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain bit gula dan tebu. Sebagai sumber karbohidrat, pemanis dan pengawet dari makanan, dan penyebab diabetes, maka kandungan gula perlu ditentukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk verifikasi kesesuaian penentuan kadar gula dalam jus buah menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Buah segar kecuali stroberi dikupas kemudian dipotong dan dicampur dengan menggunakan homogenizer. Setelah disaring, 12.5mL jus segar dan 12.5mL jus kemasan diencerkan dengan asetonitril dan air suling (50:50). Jus segar dan jus kemasan kemudian dilewatkan melalui tabung C18 Sep-Pak. Fruktosa, glukosa dan sukrosa kemudian dianalisis menggunakan KCKT detektor Indeks bias, kolom NH2, 10μm (250μm × ID 4.6mm) dan suhu kolom 43.5ºC, fase gerak asetonitril dan larutan natrium fosfat 10mM (78:22) dan laju aliran adalah 1.0mL/min. Metode validasi menunjukkan linearitas persamaan yang baik untuk fruktosa, glukosa dan sukrosa yaitu y = 3833208,4806x "“ 94721,0361, y = 3782886,4708x "“ 101683,4708, y = 3770593,9638x "“ 82870,9083 dengan koefisien korelasi, r2 adalah 0,9995, 0,9997 and 0,9996 masing-masing. Koefisien fungsi regresi yang dihitung (Vx0) untuk fruktosa, glukosa dan sukrosa adalah 0,0152, 0,0112 dan 0,0132 %. Persentase perolehan kembali untuk fruktose, glukosa dan sukrosa berada dalam rentang masing-masing 86,681 "“ 89,888, 86,898 "“ 90,029, dan 94,541 "“ 97,885%. Kandungan fruktosa, glukosa dan sukrosa dapatditentukan dengan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dengan detektor indek bias. Fruktosa, glukosa dan sukrosa jus segar mengandung 0,469 "“ 1,431, 0,454 "“ 1,286, 0,544 "“ 1,861% sementara pada jus kemasan mengandung masing-masing 0,309 "“ 1,587, 0,261 "“ 0,762, 0,063 "“ 0,898%.Kata kunci: Fruktosa, glukosa, sukrosa, jus buah, HPLC.
Formulasi dan Evaluasi Mikroemulsi Minyak dalam Air Betametason 17-Valerat Jessie Sofia Pamudji; Sasanti Tarini Darijanto; Selvy Rosa
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Betametason 17-valerat merupakan kortikosteroid topikal dengan efek anti-inflamasi yang banyak digunakan dalam pengobatan dermatitis. Senyawa ini memiliki kelarutan yang rendah dalam air dan mudah terurai menjadi betametason 21-valerat dalam suasana asam atau pun basa. Salah satu alternatif untuk meningkatkan stabilitas obat yang mudah terurai adalah membuatnya dalam bentuk mikroemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi mikroemulsi minyak dalam air yang mengandung betametason 17-valerat. Evaluasi mikroemulsi meliputi organoleptik, pH, viskositas, penentuan ukuran globul, uji stabilitas fisik menggunakan sentrifugasi dan metode freeze-thaw, dan penentuan kadar zat aktif yang disimpan pada suhu 40â—¦C dan kelembaban 75%. Formula mikroemulsi M/A yang stabil dihasilkan dari komposisi yang terdiri dari air, isopropil miristat, Tween 80, etanol, dan propilen glikol, PEG 6000 dengan perbandingan 33 : 10 : 36 : 9 : 10 : 2. Mikroemulsi yang dihasilkan berwarna kuning jernih, dengan viskositas sediaan adalah 1193,52 ± 23,42 cPs dan pH adalah 3-4. Tidak ada perubahan yang signifikan dari warna, bau, viskositas dan pH mikroemulsi setelah pengamatan selama 28 hari. Uji freeze-thaw menunjukkan bahwa mikroemulsi stabil selama 6 siklus dan uji sentrifugasi pada 3750 rpm selama 5 jam memperlihatkan tidak adanya pemisahan fasa. Diameter rata-rata dari globul mikroemulsi adalah 18,79 ±1,09 nm. Hasil uji stabilitas dipercepat menunjukkan tidak ada penurunan kadar yang berarti selama penyimpanan 28 hari pada suhu suhu 40â—¦C dan kelembaban 75%. Kadar betametason 17-valerat yang tersisa dalam mikroemulsi adalah 99,96 ± 0,16 μg/mL.Kata kunci : mikroemulsi, betametason 17-valerat, stabilitas.Betamethasone 17-valerate is a topical corticosteroid with anti-inflammatory effects that are widely used in the treatment of dermatitis. This compound has a low solubility in water and degradate into betamethasone 21-valerate in acid or alkaline condition. The aim of this study was to perform formulation of oil in water (o/w) microemulsion system that consist of betamethasone 17-valerate. The evaluations of microemulsion include of organoleptic, pH, viscosity, oil droplet size, physical stability test using centrifugation and freeze-thaw methods and content of active substance during storage at 40°C and RH 75%. The stable O/W microemulsion formula obtained from this study was the formula which consisted of water, isopropyl miristate, Tween 80, ethanol, propylen glycol, PEG 6000 with ratio of 35:10: 36:9:10:2 respectively. The microemulsion was clear and light yellow, the viscosity was 1193.52 ± 23.42 cPs and its pH was 3-4. There was no significant change in color, odor, viscosity and pH of this microemulsion after observation for 28 days. The freeze-thaw test showed that the microemulsion was stable until 6th cycles, and centrifugation test at 3750 rpm for 5 hours showed that there was no phase separation occured. The mean diameters of the microemulsions were 18.79 ± 1.09 nm. The result from accelerated stability test revealed that there was no descent of betametason content after observation for 28 days at 40°C and 75% RH The remaining concentration of betamethasone 17-valerate in microemulsion was 99.96 ± 0.16 μg/mL.Keywords: microemulsion, betametazone 17-valerate, stability.
FORMULASI DAN UJI POTENSI ANTIOKSIDAN NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) RETINIL PALMITAT Framesti Frisma Sriarumtias; Sasanti Tarini Darijanto; Sophi Damayanti
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Retinil palmitat (RP) merupakan golongan retinioid, yaitu ester vitamin A (Retinol) yang memiliki gugus palmitat pada ujung rantainya. Retinil palmitat banyak digunakan sebagai antioksidan dan anti kerut dalam industri kosmetika. Hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi RP yaitu menjaga stabilitas dari panas, cahaya dan oksigen, sehingga perlu dicari sistem yang mampu melindungi RP dari degradasi. Salah satunya dibuat dalam sistem Nanostructured lipid carriers (NLC), sebagaimana diketahui bahwa NLC merupakan sistem penghantaran obat yang bisa meminimalisir degradasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem penghantaran NLC untuk meningkatkan stabilitas serta potensi antioksidan dan meningkatkan difusi RP melalui kulit. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan NLC dengan metode teknik mikroemulsi yaitu 4% PEG-8 beeswax dan 4% Isopropil miristat sebagai lipid padat dan lipid cair, 13% Polisorbat 80 sebagai surfaktan, dan 10% Sukrosa stearat sebagai kosurfaktan. Karakterisasi yang dilakukan yaitu pengukuran ukuran partikel dan polidisperistas indeks, efisiensi penjerapan, uji difusi dengan Franz diffusion cell, karakterisasi morfologi dengan Transmission electron microscopy (TEM) dan uji aktivitas antioksidan dengan DPPH. NLC-RP memiliki ukuran partikel 65,63±1,09 nm, indeks polidispersitas 0,32±0,07, efisiensi penjerapan 94,55±0,76%, hasil uji difusi tertinggi yaitu pada NLC-RP 52,58±4,37%, diikuti krim NLC-RP 36,36±1,46%, krim RP 18,70±2,13% dan emulsi RP 18,22±1,50%. Uji stabilitas fisika dan kimia NLC-RP disimpan selama 60 hari pada suhu 25°C RH 65% dan 40°C RH 75% menunjukan bahwa tidak ada perubahan pada kondisi tersebut. Dari penelitian ini didapat kesimpulan bahwa NLC-RP mampu menjaga stabilitas retinil palmitat. Sedangkan NLC-RP yang dimasukan kedalam krim mengalami penurunan kadar sebanyak 58,15% pada suhu ruang dan 70,05% pada suhu 40°C serta penurunan potensi antioksidan akibat keberadaan basis krim.Kata kunci: antioksidan, DPPH, nanostructured lipid carrier, retinil palmitatRETINYL PALMITATE NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) FORMULATION AND ANTIOXIDANT POTENTIAL TEST ABSTRACT Retinyl palmitate (RP), member of retinoid family is an ester of retinol with palmitate functional group at the end of the chain. RP is commonly used as antioxidants and anti-wrinkle component in cosmetic industry. RP instability requires a formulation system which makes it stable against heat, light and oxygen, such as Nanostructured Lipid Carriers (NLC). NLC is known as notable drug delivery system to minimize degradation. The aim of this research is to develop NLC delivery system to improve stability and antioxidant activity and increase RP diffusion through the skin. Materials used in NLC formulation were obtained using microemulsion technique are 4% PEG-8 beeswax and 4% isopropyl myristate as lipids in solid and liquid form, respectively; 13% polysorbate 80 as surfactant and 10% sucrose stearate as cosurfactant. Characterization NLC were evaluated using particle size measurement, polydispersity index, entrapment efficiency, in vitro diffusion testing using Franz diffusion cell, morphological characterization using Transmission Electron Microscopy (TEM) and antioxidant activity using DPPH. Particle size of NLC-RP was 65,63±1,09 nm, polydispersity index of 0,32±0,07, entrapment efficiency of 94,55±0,76%. Penetration result showed liquid NLC-RP difusion the highest 52,58±4,37%, followed by NLC-RP in cream 36,36±1,46%, RP in cream 18,70±2,13% and RP in emulsion 18,22±1,50%. Physical and chemical stability testing NLC-RP were stored for 60 days at 25°C RH 65% and 40°C RH 75%, the results shown there are no changed in these condition. Research results showed NLC-RP is able to maintain stability of RP, meanwhile NLC RP in cream formulation shows 58.15% amount decrease in room temperature and 70.05% amount decrease at 400C, and antioxidant activity decrease due to cream formulation.Keywords: antioxidant, DPPH, nanostructured lipid carrier, retinyl palmitate