cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Pengaruh Pemberian Jus Daun Katuk, Jus Daun Ubi Jalar, dan Kefir Terhadap Profil Hematologi Mencit Anemia yang Diinduksi Alumunium Sulfat I Ketut Adnyana; Arief Rosmadi; Joseph Iskendiarso Sigit; Siti Farah Rahmawati
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun katuk, daun ubi jalar, dan kefir secara empiris digunakan dalam penanganan kondisi anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pemberian jus daun katuk, jus daun ubi jalar, serta kefir terhadap profil hematologi mencit anemia. Mencit diinduksi anemia menggunakan larutan alumunium sulfat selama 12 hari berturut-turut kemudian dilanjutkan dengan pemberian sediaan uji selama 14 hari berturut-turut. Profil hematologi mencit diamati pada hari ke-0, 12, 15, 19, 22, dan 26. Mencit yang diinduksi anemia mengalami anemia kronis, di mana 80% kelompok kontrol mengalami kematian setelah hari ke-19, sedangkan mencit dari ketiga sediaan uji tetap hidup tetap hidup sampai hari ke-26. Pada pengukuran rata-rata jumlah hemoglobin, jumlah eritrosit, dan persen hematokrit pada hari ke-19, kelompok mencit yang diberikan jus daun katuk memberikan hasil yang paling baik dibandingkan kelompok yang diberikan jus daun ubi jalar dan kefir. Pemberian jus daun katuk, jus daun ubi jalar, dan kefir dapat memperbaiki profil hematologi mencit anemia lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Ketiga sediaan juga mampumempertahankan hidup mencit yang menderita anemia. Jus daun katuk mempu memperbaiki profil hematologi paling baik dibandingkan jus daun ubi jalar dan kefir.Kata kunci: Daun katuk, daun ubi jalar, kefir, anemia. Star gooseberry leaves, sweet potato leaves, and kefir empirically used as treatment for anemia. This study aimed to examine the effect of star gooseberry leaves juice, sweet potato leaves juice, and kefir on hematology profiles of anemic mice. Mice was induced by alumunium sulfate solution for 12 consecutive days followed by the testing materials for 14 consecutive days. Hematology profile of mice was observed on day 0, 12, 15, 19, 22, and 26. The induced mice developed chronic anemia. 80% of the control group died after day 19, whereas the testing groups survived until day 26. On day 19, the gooseberry leaves juice group showed the best and significant result on the hemoglobin profile, erythrocytes profile, and hematocrite percentages. Star gooseberry leaves, sweet potato leaves, and kefir improved the hematology profile better than control group and was able to keep the anemic mice alive. Star gooseberry leaves had the best effect on improving the hematology profile of anemic mice.Keywords: Star gooseberry leaves, sweet potato leaves, kefir, anemia.
Identifikasi Drug Therapy Problems (DTPs) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di Salah Satu RS Swasta di Bandung Cindra Tri Yuniar; Elin Yulinah Sukandar; Ida Lisni
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data WHO tahun 2000, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah pasien diabetes melitus di dunia. Data angka kematian dan resiko komplikasi diabetes melitus menunjukkan pentingnya pemberian terapi dan pencapaian keberhasilan dari terapi diabetes melitus. Dalam hal ini peran farmasis sangat dibutuhkan untuk menjamin bahwa pengobatan yang diterima pasien adalah pengobatan yang rasional, dengan cara mengidentifikasi dan mencegah terjadinya masalah-masalah yang berkaitan dengan terapi obat (Drug Therapy Problems). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengelompokkan kejadian Drug Therapy Problems (DTPs) dalam rangka meningkatkan therapeutic outcome pasien. Data resep pasien dan rekam medik dikumpulkan pada periode September-November 2009 secara retrospektif. Dari penelitian terhadap 63 pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan, terdapat 41 pasien (65,08%) mengalami DTPs, dengan rincian 2 pasien (4,88%) membutuhkan terapi obat tambahan, 6 pasien (16,63%) menerima terapi obat yang tidak diperlukan, 5 pasien (12,20%) menerima dosis terlalu rendah, 16 pasien (39,02%) mengalami reaksi obat merugikan, 1 pasien (2,44%) menerima dosis terlalu tinggi, dan 11 pasien (26,83%) dengan interaksi obat. Reaksi obat merugikan merupakan DTPs yang paling sering muncul pada kedua kelompok pasien; 38,71% kejadian pada pasien dewasa dan 40% pada pasien geriatri. Analisis DTPs ini menunjukkan bahwa peran farmasis penting dalam mencapai keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya reaksi obat merugikan.Kata kunci: drug therapy problems, diabetes melitusAccording to the WHO in 2000, Indonesia is in fourth position based on numbers of peoples suffer from diabetes mellitus. Numbers of death and complication risk shows how important therapy and progressing achievement from the diabetes therapy. Therefore, pharmacist is definitely needed to guarantee that the medication on the patient is rational, by identifying and avoiding DTPs. The aim of this research was to identify and classify DTPs incidences in order to increase patient's therapeutic outcome. This retrospective study was conducted by collection of the patient's prescription and medical record within September-November 2009 period. The result to 63 patients of diabetes mellitus type 2, showed that 41 patients (65.08%) had DTPs, 2 patients (4.88%) need additional drug therapy, 6 patients (16.63%) showed unnecessary drug therapy, 5 patients (12.20%) received too low dose, 16 patients (39.02%) showed adverse drug reactions, 1 patient (2.44%) received too high dose, and 11 patients (26.83%) with drug interactions. Adverse drug reaction is the most occasional DTPs event in both group of patients;38.71% in adults and 40% in geriatric patients.Keywords: drug therapy problems, diabetes mellitus
Pengaruh Pengolahan Bahan Terhadap Kadar Dan Komponen Minyak Atsiri Rimpang Zingiber cassumunar Roxb. Komar Ruslan Wirasutisna; Sukrasno Sukrasno; As’ari Nawawi; Lia Marliani
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak atsiri merupakan salah satu komponen Zingiber cassumunar Roxb. yang memiliki aktivitas farmakologi. Sehubungan dengan potensi pemanfaatan minyak atsiri Zingiber cassumunar Roxb. dalam pengembangan obat, diperlukan jaminan terhadap kualitas bahan yang meliputi kontrol terhadap kualitas bahan baku yang digunakan, termasuk kandungan minyak atsirinya. Penghalusan, pengeringan, dan penyimpanan adalah proses penyiapan bahan yang dapat mempengaruhi kadar minyak atsirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengolahan bahan terhadap kandungan minyak atsiri. Metode penghalusan rimpang segar yang digunakan dalam penelitian ini adalah perajangan (SR) dan penggilingan menggunakan blender (SB). Metode pengeringan yang digunakan adalah pengeringan menggunakan oven 40°C (PO) dan sinar matahari (PM). Sedangkan proses penyimpanan dilakukan dalam tiga tempat berbeda yaitu besek (SSb), karung (SSk), dan keranjang plastik (SSp) selama 14 (A) dan 90 (B) hari. Kadar minyak atsiri setiap sampel ditentukan dan komponennya dianalisa menggunakan kromatografigas-spektrometri massa (KG-SM). Uji t-test (α=0,05) terhadap kadar minyak atsiri menunjukkan perbedaan signifikan antara SR dengan PO, PM, SSb B, SSk B, dan SSp B. Hal ini berarti bahwa proses pengeringan dan penyimpanan selama 90 hari mempengaruhi kadar minyak atsiri. Hasil GC-MS menunjukkan komponen utama untuk setiap sampel adalah 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cissabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate (0,85% - 2,08%).Kata kunci: Zingiber cassumunar Roxb., Minyak atsiri, Pengolahan bahan, Metode pengeringan, Penyimpanan, 4-terpeniol. The rhizome of Zingiber cassumunar Roxb contains essential oil which has pharmacological activity. By considering the potential benefits of essential oil from Zingiber cassumunar Roxb. in drug development, it is necessary to guarantee the quality of the raw materials used, including the content of the essential. Comminuting, drying, and storage are processes which can affect the content of volatile oil in the crude drug. The purpose of this research were to observe the influence of rhizome processing on the essential oil content. Fresh rhizome comminuting methods used in this research were chopping (SR) and grinding using a blender (SB). Drying methods used in this research were oven drying at 40°C (PO) and sun drying (PM), while storage process in three different storage: bamboo container (SSb), sack (SSk), and plastic container (SSp) for 14 (A) and 90 (B) days. Oil content was determined and its composition were analyzed by GC-MS. T-test results (α=0.05) showed significant differences between SR with PO, PM, SSb B, SSk B, and SSp B. It means that drying and storage process influenced essential oil content. GC-MS results showed that major compound were 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cis-sabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate(0,85% - 2,08%).Keywords: Zingiber cassumunar Roxb., Essential oil, Material processing, Drying methode, Storage, 4-terpeniol.
Front Matter Vol 37 No 2 (2012) Acta Pharmaceutica Indonesia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uji Efek Antihiperurikemia Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L.) pada Tikus Betina Galur Wistar Elin Yulinah Sukandar; I Ketut Adnyana; Septa Readi
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun sirsak (Annona muricata L.) digunakan secara tradisional untuk menangani berbagai penyakit termasuk untuk menurunkan asam urat. Dalam penelitian ini telah dilakukan uji antihiperurikemia ekstrak etanol daun sirsak dosis 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb pada tikus Wistar betina yang diberi asam urat 1 g/kg bb dan kalium oksonat 200 mg/kg bb. Hasil menunjukkan ekstrak etanol daun sirsak dosis 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb dapat menurunkan kadar asam urat dalam serum yang berbeda bermakna terhadap kontrol (p<0,05) tetapi tidak meningkatkan ekskresi asam urat dalam urin dibandingkan kontrol (p>0,05).Kata kunci: Annona muricata L., antihiperurikema, asam urat. Soursop (Annona muricata L.) leaves have been used traditionally for treatment some diseases including to decrease uric acid. The objective of this research is to test antihyperuricemic effect of soursop leaves extract at a dose of 100 mg/kg bw, 200 mg/kg bw, and 400 mg/kg bw in female Wistar rats that induced by uric acid 1 g/kg bw and potassium oxonate 200 mg/kg bw. Those doses could decrease uric acid level in the serum (p<0.05) but did not increase excretion uric acid in the urine (p>0.05) compared to control groups.Keywords: Annona muricata L., antihyperuricemic, uric acid.
Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas Senyawa Turunan 3-Haloasilaminobenzoilurea sebagai Inhibitor Pembentukan Mikrotubulus Qoonita Fadhilah; Daryono Hadi Tjahjono
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikrotubulus (MTα) telah diidentifikasi sebagai tempat kerja untuk pengobatan kanker dalam penghambatan pembelahan sel. Salah satu senyawa yang memiliki potensi antikanker yang bekerja pada situs ini adalah turunan 3-haloasilamino benzoilurea. Mekanisme kerja senyawa ini yaitu berikatan pada daerah colchicine binding site pada β-tubulin, dimana akan mengganggu pembentukan benang-benang mitotik mikrotubulus, memblokade siklus sel pada fase mitosis, yang berdampak pada apoptosis sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh persamaan Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas (HKSA) terbaik, senyawa-senyawa baru yang memiliki aktivitas antikanker lebih tinggi dan afinitas yang lebih baik terhadap reseptor β-tubulin, dibandingkan dengan senyawa induknya. Dilakukan pemodelan dan optimasi geometri menggunakan Hyperchem. Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai prediktor diikuti analisis statistik multilinear masing-masing menggunakan MOE 2007.09 dan SPSS Statistic 17.0 dan analisisnya divalidasi dengan metode Leave One Out. Setelah mendapatkan persamaan HKSA yang terbaik, dilakukan desain senyawa baru menurut skema Topliss. Derivat senyawa baru kemudian didocking pada reseptor β-tubulin untuk melihat afitinasnya terhadap reseptor. Persamaan HKSA terbaik untuk senyawa turunan 3-haloasilamino benzoilurea adalah IC50 = "’15,077 (± 1,996) "’ 0,160 (±0,055) AM1_dipole + 0,016 (±0,004) AM1_HF + 0,521 (±0,250) AM1_LUMO + 0,038 (±0,005) ASA_H dengan 3 senyawa baru yang memiliki IC50 lebih rendah daripada senyawainduk.Kata kunci: kanker, benzoilurea, HKSA, docking, mikrotubulus. Microtubules (MTα) has been identified as a rational site to inhibit the dividing of cancer cells in cancer therapy. One of theanticancer compounds that work at this site is 3-haloacylamino benzoylurea derivatives. The mechanism of this compound is to bind with the region of cochicine binding site at the β-tubules, which interferes the assembly of mitotic spindles of microtubules, followed by blocking the cell cycle at mitotic phase then caused the apoptosis of cancer cell. The present study is aimed to obtain the best Quantitative Structure and Activity Relationship (QSAR) equation of 3-haloacylamino benzoylurea derivatives, design its new derivatives that have a higher anticancer activity and higher affinity towards the β-tubulin receptor than its parent compound. Structure modeling and geometric optimization structure, were done by Hyperchem. The calculation of predictors' value was performed by MOE 2007.09, while multilinear statistical analysis was done with SPSS Statistic 17.0. The results were then validated by Leave One Out method. After the best QSAR equation has been obtained, the new derivatives were designed according to the Topliss scheme. New compounds were docked to the β-tubulin receptor to observe the binding affinity and energy. It was obtained that the best QSAR equation is IC50 = "’15.077 (± 1.996) "’ 0.160 (±0.055) AM1_dipole + 0.016 (±0.004) AM1_HF + 0.521 (±0.250) AM1_LUMO + 0.038 (±0.005) ASA_H. 3 new derivatives have the IC50 lower than the parent compound.Keywords: cancer, benzoylurea, QSAR, docking, mircrotubules.
Dekafeinasi Biji Kopi Robusta (Coffea canephora L.) menggunakan Pelarut Polar (Etanol dan Metanol) Rahmana Emran Kartasasmita; Susan Addyantina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biji kopi hijau robusta diekstraksi menggunakan air dan ekstrak diuapkan pelarutnya dengan freeze-dryer. Ekstrak kering yang diperoleh diekstraksi dengan alat Soxhlet menggunakan pelarut polar yaitu etanol dan metanol untuk mengurangi kadar kafein. Pengembalian aroma dilakukan dengan cara biji kopi dekafeinasi direndam dalam dispersi ekstrak kering (10% dalam air). Hasil penelitian menunjukkan kopi hasil dekafeinasi dengan etanol menghasilkan penurunan kadar kafein sebesar 79,713% dan hasil dekafeinasi dengan metanol menghasilkan penurunan kadar kafein sebesar 74,721%. Secara statistik, tidak terdapat perbedaan preferensi yang signifikan terhadap aroma dan rasa kopi pada aras kepercayaan 95% terhadap 30 panelis.Kata kunci: dekafeinasi, biji kopi, robusta, etanol, metanol Robusta green coffee beans were extracted with water and the extract is dried by freeze-dryer. The extract was extracted using Soxhlet with polar solvents, ethanol and methanol, to reduce caffeine content. Decaffeinated coffee beans were soaked in dispersion of that extract (10% in water) to return the aroma. Results showed that the reduction level of caffeine content in ethanol-decaffeinated coffee beans is 79,713% and in methanol-decaffeinated coffee beans is 74,721%. Statistically, there were no significant differences of preference to the aroma and taste of coffee at 95% level of confidence of 30 panelists.Keywords: decaffeination, coffee beans, robusta, ethanol, methanol
Formulasi Natrium Ascorbyl Phosphate dalam Mikroemulsi A/M VCO Tri Suciati; Lisa Patricia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dilakukan pengembangan formulasi mikroemulsi A/M untuk menghasikan permeasi tertinggi dari Natrium Ascorbyl Phosphate (NAP) sebagai turunan vitamin C yang stabil. Mikroemulsi dibuat dengan menggunakan VCO sebagai basis minyak, gliserin sebagai kosurfaktan, dan kombinasi Tween 80 "“ Span 80 sebagai surfaktan. Hasil mikroemulsi diperoleh pada konsentrasi surfaktan 27,5% dengan rasio Tween 80-Span 80 3:1, konsentrasi kosurfaktan gliserin 30%, dan fasa dalam 15%. Pada pengamatan organoleptik, sediaan mikroemulsi memiliki penampilan jernih kuning tanpa pemisahan fasa setelah dilakukan uji sentrifuga, freeze-thaw, danpenyimpanan 28 hari di suhu ruang dan 40°C. Sediaan memiliki viskositas rata-rata 375 cps dan pH rata-rata 6,80±0,21dengan jumlah rata-rata NAP terdifusi 850,56 μg/cm2 atau sebanyak 75,75% selama 8 jam penentuan in vitro dengan membran kulit ular. Mikroemulsi A/M berpotensi untuk dikembangkan sebagai pembawa NAP dalam kosmetik antikerut.Kata kunci: mikroemulsi, NAP, vitamin C, VCO. Optimization of formulation was done to develop a W/O microemulsion formulation to yield highest diffusion of Natrium Ascorbyl Phosphate (NAP) as the stable form of vitamin C. Microemulsions were made using using VCO as the oil phase, options of ethanol or glycerin as cosurfactant, and combination of Tween 80 and Span 80 as surfactants. Microemulsion was obtained at surfactant concentration of 27.5% with a 3:1 ratio of Tween80-Span80, 30% of glycerin as cosurfactant, and 15% of the inner phase. The organoleptic of preparations had a clear, transparent yellowish appearance without phase separation after centrifugation test, freeze-thaw test, and 28 days of storage at room temperature and 40°C. Preparations had 375 cps of average viscosity and 6.80±0.2 pH with 850.56μg/cm2 or 75.75% of NAP diffused after 8 hoursin vitro testing using snake's skin as the membrane. Microemulsion W/O is potential to be developed as a carrier for NAP in anti-wrinkle cosmetics.Keywords: microemulsion, NAP, vitamin C, VCO.
Pembuatan dan Karakterisasi Dispersi Padat Sistem Biner dan Terner dari Gliklazid Wardiyah Wardiyah; Sukmadjaja Asyarie; Saleh Wikarsa
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gliklazid adalah obat yang mempunyai kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi (BCS II). Teknik dispersi padat telah dikembangkan secara luas untuk meningkatkan laju disolusi obat yang mempunyai kelarutan rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan laju disolusi gliklazid dengan teknik dispersi padat dengan pembawa poloxamer 188, HPMC, dan Eudragit® E100. Dispersi padat pada penelitian ini dibuat dengan metode pelarutan. Dispersi padat gliklazid dalam sistem biner dengan poloxamer188 dibuat dalam perbandingan ; 1:0,5, 1:0,75, 1:1, 1:1,5 dan 1:2, dengan HPMC dibuat dalam perbandingan 1:0,1, 1:0,125, dan 1:0,25 sedangkan dengan Eudragit® E100 1:0,25. Dispersi padat sistem terner dibuat perbandingan gliklazid-poloxamer188-HPMC 1:2:0,1 dan 1:2:0,25, sedangkan gliklazid-poloxamer188- Eudragit® E100 pada perbandingan 1:2:0,1 dan 1:2:0,25. Karakterisasi dilakukan dengan uji disolusi, DSC, FTIR, dan XRD. Pada menit ke-15, laju disolusi terbesar dari dispersi padat sistem biner dan terner diperolah dari gliklazid-poloxamer188 1:2 dan gliklazidpoloxamer188-Eudragit® E100 1:2:0,25 yang memberikan peningkatan laju disolusi 12 kali dan 15 kali lebih besar dibanding gliklazid murni. Penurunan puncak endotermik dari gliklazid dalam dispersi padat dengan DSC dan penurunan intensitas pola difraksi gliklazid menunjukkan terjadinya penurunan derajat kristalinitas. Karakterisasi dengan FTIR menunjukkan hampir tidak ada pergeseran puncak serapan gugus fungsi gliklazid pada dispersi padat.Kata kunci: disolusi, gliklazid, dispersi padat, poloxamer 188, HPMC, Eudragit® E100 Gliclazide is a drug with poor water solubility and high permeability. Solid dispersion technique is widely used to improve the dissolution rate of the drug with poor solubility. This study aims to improve the dissolution rate of gliclazide by solid dispersion technique with poloxamer 188, HPMC, and Eudragit® E100 as carriers. Solid dispersions were prepared by solvent evaporation methods in binary and ternary system. In binary system gliklazid was mixed with poloxamer188 in the ratio of 1:0.5, 1:0.75, 1:1, 1:1.5 and 1:2, with HPMC in the ratio of 1:0.1, 1:0.125, and 1:0.25, and with Eudragit® E100 in 1:0.25 ratio. In ternary system gliclazide were prepared with poloxamer188 and HPMC in the ratio of 1:2:0.1 and 1:2:0.25, and with poloxamer188 and Eudragit® E100 in the ratio of 1:1:0.25 and 1:2:0.25. Pure gliclazide, solid dispersions and physical mixtures were characterized by dissolution testing, DSC, FTIR, dan XRD. At the 15th minute, the highest dissolution rate observed from binary and ternary solid dispersions of gliclazide were from gliclazide-poloxamer188 1:2 dan gliclazidepoloxamer188 and Eudragit® E100 1:2:0,25 which showed 12 and 15 fold increase in dissolution rate compared by pure gliclazide. The decrease of endothermic peak (DSC) and the intensity of the diffraction pattern by XRD of solid dispersions showed the decrease of crystallinity rate. Characterization by FTIR virtually showed no shift of absorption peaks of gliclazide on solid dispersion.Keywords: dissolution, gliclazide, solid dispersions, poloxamer 188, HPMC, Eudragit® E100
Profil Penggunaan Terapi Bekam di Kabupaten/Kota Bandung Ditinjau Dari Aspek Demografi, Riwayat Penyakit, dan Profil Hematologi Sophi Damayanti; Fitria Muharini; Bambang Gunawan
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengobatan tradisional bekam tercatat sebagai salah satu pengobatan tradisional yang telah digunakan sejak 400 SM. Pada kurun waktu 5 tahun terakhir, pengobatan bekam di Indonesia berkembang pesat dengan ditandai berdirinya klinik-klinik dan asosiasi pengobatan bekam. Studi pra-penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pasien yang mengunjungi klinik bekam di Bandung mencapai jumlah 4000 orang pasien setiap bulannya. Sementara itu, penelitian-penelitian yang terkait dengan terapi bekam masih terbatas terutama di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk pendataan profil penggunaan terapi bekam di kabupaten/kota Bandung yang diharapkan dapat menjadi suatu studi pendahuluan yang mendorong dilakukannya penelitian ilmiah lain berkaitan dengan pengembangan terapi pengobatan yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang dilakukan dengan metode penyebaran kuesioner di klinik-klinik pengobatan tradisional bekam. Penelitian dilakukan selama periode bulan Januari sampai Mei 2012. Sebagai tambahan, pada penelitian ini juga dilakukan sampling pengambilan darah vena, darah bekam basah, dan darah perifer terkait dengan profil hematologi dan kadar glukosa darah sewaktu pengguna bekam basah. Terapi bekam banyak digunakan oleh masyarakat pada rentang 20-39 tahun (70,63%) dan 30-49 tahun (17,65%). Pendapatan pengguna bekam berkisar antara Rp 500.000,00-Rp 1.500.000,00 (37,5%). Latar belakang pendidikan pengguna terapi bekam berasal dari lulusan SMA. Terapi bekam di masyarakat digunakan untuk pengobatan (62%) dan menjaga kesehatan (38%). Bekam digunakan untuk mengobati tukak (30%), sakit kepala (28%), dan kolesterol (20%). Terdapat perbedaan bermakna pada (p<0,05) antara kondisi kesehatan responden sebelum dan sesudah menjalani terapi bekam terhadap intensitas kualitas tidur, kelelahan, pegal-pegal, dan intensitas sakit. Profil hematologi dan Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) menunjukkan perbedaan komponen leukosit dan trombosit antara darah vena dan bekam.Secara statistik, perbedaan kadar glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah (p<0,05) tidak menunjukkan perbedaan berarti. Terapi bekam paling banyak digunakan oleh masyarakat usia 20-39 tahun (70,63%) dari kalangan ekonomi dengan pendapatan dibawah Rp 1.500.000,- (37,5%). Sebagian besar responden menggunakan terapi bekam untuk pengobatan tukak (30%). Tidak terdapat perbedaan yang berarti antara kadar glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah bekam.Kata kunci: Bekam, bekam basah, pengobatan tradisional, darah, profil penggunaan Traditional cupping treatment is listed as one of the old traditional medicine that has been used since 400 BC. In the last 5years, treatment is rapidly growing in Indonesia by the establishment of clinics and associations of cupping treatment. Preliminary-study showed that the average patient visiting a clinic in Bandung reach the 4000 number of patients each month. However, the study of cupping therapy especially in Indonesia is still limited. The aim of this study was to collect data profile of cupping therapy in Bandung region. Moreover it is expected to be a preliminary study to encourage other scientific research related to the development of more affordable therapeutic treatments for the community. This descriptive study was done by spreading questionnaire for cupping patient at tradional medicine clinics around Bandung from January-May 2012. In addition, sampling of venous blood collection, blood cupping, and peripheral blood associated with hematological profile and blood glucose level of wet cupping users were conducted. Cupping therapy was widely used by the community in the age range of 20-39 years (70.63%) and 30-49 years (17.65%). Cupping user revenues was in a range of Rp 500,000.00 -1,500,000.00 (37.5%). Educational background of cupping therapy users came from high school graduates. In the community, cupping therapy was used for treatment (62%) and health maintaining (38%). Cupping was used to treat ulcers (30%), headache (28%), and cholesterol (20%). There were significant differences (p <0.05) between the health condition before and after cupping therapy on parameters of quality of sleep, fatigue, aches, and the frequency of experiencing pain. Hematology profile showed that, blood glucose levels before and after (p <0.05) showed no significant differences. Cupping therapy in community was used by young adult in age 20-29 years old (70.63%) with income below Rp 1,500,000.00 (37.5%). Most of respondant was used cupping therapy for the treatment of ulcers (30%). Blood glucose levels before and after (p<0.05) showed no significant difference.Keywords: Cupping, wet cupping, traditional medicine, blood, profile of use.