cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Telaah Fitokimia Daun Srikaya (Annona squamosa L.) yang Berasal dari Dua Lokasi Tumbuh Siti Kusmardiyani; Ferlin Wandasari; Komar Ruslan Wirasutisna
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun srikaya (Annona squamosa L., Annonaceae) digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai penurun kadar gula darah. Simplisia yang berasal dari dua lokasi tumbuh dibandingkan kandungan kimianya. Penapisan fitokimia kedua simplisia, karakteristik simplisia, dan pola kromatogram ekstrak menunjukkan hasil yang mirip. Simplisia diekstraksi secara refluks menggunakan pelarut dengan kepolaran meningkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan metanol. Ekstrak n-heksana salah satu simplisia disaponifikasi, difraksinasi secara kromatografi cair vakum, dilanjutkan dengan kromatografi kolom. Fraksi dipisahkan menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif dan isolat dikarakterisasi menggunakan spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dan spektrofotometri inframerah serta penampak bercak Liebermann-Burchard. Isolat merupakan triterpenoid dengan gugus fungsi O"“H, CH, dan C=C serta tidak memiliki ikatan rangkap terkonjugasi.Kata Kunci: Annona squamosa L., daun Srikaya, triterpenoid Sugar apple (Annona squamosa L., Annonaceae) leaf has been traditionally used to treat high blood glucose level. Crude drugs obtained from plants growing at two different locations were studied to evaluate whether there were differences in their phytochemical constituents. Phytochemical screening of those two crude drugs, the quality, and extract chromatographic pattern showed similar results. Crude drugs were extracted by reflux using n-hexane, ethyl acetate, and methanol. N-hexane extract from one of the crude drugs was saponified, followed by fractionation using vacuum liquid chromatography and column chromatography. The fractions were separated using preparative thin layer chromatography and one isolate was characterized using Liebermann-Burchard reagent, ultraviolet-visible and infrared spectrophotometry. The isolate was a triterpenoid with O-H, C-H, and C=C groups and did not have any conjugated double bond.Keywords: Annona squamosa L., sugar apple leaf, triterpenoid
Penetapan Kadar Genistein Biji Kedelai (Soya max Piper) Lokal dan Impor Secara Densitometri Lapis Tipis dan KCKT Siti Kusmardiyani; Asri Dwijayanti; Komar Ruslan Wirasutisna
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biji kedelai (Soya max Piper) impor sangat banyak digunakan di Indonesia terutama sebagai bahan baku utama makanan olahan seperti tahu dan tempe. Genistein, senyawa isoflavon dalam biji kedelai, dilaporkan memiliki aktivitas estrogenik dan antioksidan kuat. Penelitian ini bertujuan menetapkan kadar genistein biji kedelai lokal dan impor serta menemukan metode penetapan kadar tanpa preparasi sampel yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Simplisia biji kedelai diekstraksi dengan cara panas menggunakan metanol. Sebagian simplisia didelipidasi terlebih dahulu dengan n-heksana sebelum diekstraksi. Kadar genistein ditetapkan secara densitometri lapis tipis dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Secara berurutan, kadar genistein biji kedelai lokal dan impor ditetapkan secara densitometri lapis tipis adalah 19,51±4,59 μg/g dan 21,69±3,98 μg/g. Sedangkan secara KCKT adalah 19,99±3,79 μg/g dan 21,12±3,19 μg/g. Kadar genistein biji kedelai lokal dan impor secara densitometri lapis tipis dan KCKT tidak berbeda bermakna pada aras keberartian 0,05.Kata kunci : Soya max, kedelai, genistein.Imported soybean seed is widely used in Indonesia especially as the main ingredient for tofu and soybean cake (tempe). Genistein, an isoflavone in soybean seed, has an estrogenic activity and act as a strong antioxidant. Besides quantifying genistein in the local and imported soybean seeds, this research was also aimed to find a fast and simple quantitative method. Soybean seed crude drugs were extracted by reflux using methanol. Some parts of the crude drug were delipidated using n-hexane before extracted. Genistein was determined using thin layer densitometry and high performance liquid chromatography (HPLC). Quantity of genistein in local and imported soybean seeds determined by thin layer densitometer were 19.51±4.59 μg/g and 21.69±3.98 μg/g, respectively. While the quantity obtained by HPLC were 19.99±3.79 μg/g and 21.12±3.19 μg/g, respectively. Both methods showed no significant difference in probability of 0.05.Keywords: Soya max, soybean, genistein.
Isolasi Senyawa Aktif Lignan dari Buah Lada Hitam (Piper nigrum L.) dan Daun Sirih (Piper betle L.) Elfahmi Elfahmi; Komar Ruslan Wirasutisna; Heipy Ketrin Desyane
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah lada hitam (Piper nigrum L.) dan daun sirih (Piper betle L.) telah banyak digunakan secara tradisional untuk mengobati beberapa jenis penyakit. Beberapa senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada kedua tanaman tersebut diduga bertanggungjawab terhadap efek farmakologi, salah satu golongan metabolit sekunder tersebut adalah lignan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa lignan dari buah lada dan daun sirih. Serbuk simplisia dari daun sirih dan buah lada hitam diekstraksi dengan ekstraksi sinambung menggunakan pelarut metanol. Ekstrak difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut air-diklorometan (1:1) dan kromatografi cair vakum. Pemurnian dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis preparatif. Isolat dikarakterisasi dengan menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa (KG-SM). Dari buah lada hitam telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi dua senyawa lignan berupa hinokinin dan satu senyawa lignan lain yang memiliki ciri fragmen 135 dan 286 pada KG-SM. Sedangkan daun sirih memberikan data kromatografi untuk golongan lignan tetapi belum dapat dikonfirmasi dengan data KG-SM.Kata kunci : buah lada hitam, daun sirih, lignan, tanaman obat Indonesia Black pepper fruits and betel leaves are widely used traditionally to cure several illnesses. Secondary metabolites of both plants are believed to be responsible for their pharmacological effect; one of the secondary metabolites groups is lignan. The goal of this research is to isolate lignans from betel leaves and black pepper fruits. Crude drugs of betel leaves and pepper fruits were extracted with Soxhlet apparatus, using methanol. The extract was fractionated by liquid-liquid extraction using dichloromethane-water (1:1) and vacuum liquid chromatography. Purification was conducted by preparative thin layer chromatography. Isolated compounds were characterized by gas chromatography-mass spectra (GC-MS). Two lignans were isolated from black pepper fruits and identified with GCMS. First known as hinokinin, and another has MS fragment 135 and 268, which are specific for lignan compounds. Betel leaves showed chromatography data to lignan groups but cannot confirm yet by GC-MS.Keywords: black pepper fruits, betel leaves, lignan, Indonesian Medicinal Plant
Produksi Senyawa Metabolit Sekunder Melalui Kultur Jaringan dan Transformasi Genetik Artemisia Annua L. Meilina Marsinta Manalu; Komar Ruslan Wirasutisna; Elfahmi Elfahmi
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi metabolit sekunder pada tanaman biasanya menghasilkan kadar yang rendah. Metode bioteknologi telah terbuktidapat meningkatkan produksi beberapa metabolit sekunder pada tanaman. Untuk meningkatkan perolehan metabolit sekunder telah digunakan teknik kultur jaringan dan transformasi genetik dengan induksi Agrobacterium rhizogenes. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan metabolit sekunder dari kultur kalus dan akar rambut dari tanaman Artemisia annua hasil transformasi genetik menggunakan A. rhizogenes. Kultur kalus dan akar rambut hasil transformasi genetika mengandung senyawa artemisinin lebih tinggi dibanding dengan kultur kalus dan akar tanpa transformasi.Kata Kunci : Artemisia annua, kultur kalus, akar rambut Agrobacterium rhizogenes, artemisinin. The production of secondary metabolites of plant is usually low. Biotechnological methods have been proved to enhance the production of some of plant's secondary metabolites. To enhance the production of secondary metabolites, cell cultures and genetically transformed plants which were induced by Agrobacterium rhizogenes have been used. This research aimed to enhance the secondary metabolite content from A. rhizogenes transformed callus and hairy roots cultures of Artemisia annua. Genetically transformed callus and hairy root cultures of A. annua contained higher artemisinin content compared to untransformed callus and root cultures.Keywords : Artemisia annua, callus cultures, hairy roots, Agrobacterium rhizogenes, artemisinin.
Karakteristik Energy Expenditure di Kegiatan Alam Terbuka I Ketut Adnyana; Tommy Apriantono; Sandra Jati Purwanti; Tjokorde Istri Armina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengukuran pengeluaran energi (energy expenditure) selama kegiatan di alam terbuka merupakan salah satu cara untuk mengurangi risiko kecelakaan dan menghindari penurunan kinerja selama kegiatan. Pada penelitian ini akan dilakukan pengukuran pengeluaran energi dan parameter lain selama kegiatan Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) 2010, di Situ Lembang dengan ketinggian 1600 meter dpl, dalam rentang waktu 4 -16 Juli 2010. Pengukuran pengeluaran energi serta denyut jantung menggunakan Polar RS400. Pengukuran berat badan, persentase lemak tubuh, dan tekanan darah dilakukan pada hari tertentu dari setiap jenis kegiatan yang berbeda. Kuesioner diberikan pada akhir terakhir setiap jenis kegiatan berbeda.Subjek penelitian yang digunakan berjumlah 6 orang pria yang rata-rata berusia 20,7 ± 1,6 tahun, dengan rata-rata tinggi badan 171,8 ± 3 cm, dan berat badan 66,2 ± 5,1 kg. Pengeluaran energi saat kegiatan berbeda bermakna dan mencapai 2-3 kali lipat dari pengeluaran energi saat kegiatan normal sebelum kegiatan PDW (2956 ± 495 kkal/hari). Pengeluaran energi terbesar terjadi saat kegiatan longmarch (8286 ± 730 kkal/hari). Jumlah asupan energi (energy intake) rata-rata selama PDW terekam sebesar 1380 kkal/hari. Terjadi penurunan berat badan (10,20 ± 0,80 %), penurunan persentase lemak tubuh (48,80 ± 2,63 %), danpenurunan massa bebas-lemak (2,87 ± 0,06 %). Dari analisis data dapat disimpulkan bahwa pengeluaran energi tidak diimbangi dengan asupan energi yang cukup, sehingga terjadi perubahan berat badan dan komposisi tubuh.Kata Kunci: pengeluaran energi, kegiatan alam terbuka Determination of energy expenditure during outdoor activity is performed to reduce the risk of accidents and to avoid a fall of performance during activity. In this study, energy expenditure measurement was performed during Pendidikan Dasar Wanadri (basic training of Wanadri or PDW) 2010, at Situ Lembang which is 1600 meter above sea level, from 4 to 16 July 2010. Measurement of body weight, body fat percentage and blood pressure was performed on certain days of each different type of activity. Questionnaires were distributed on the last day of each different activity. Subjects were 6 males, which average age, height, and weight were 20.7 ± 1.6 years old, 171.8 ± 3 cm, and 66.2 ± 5.1 kg respectively. Energy expenditure during PDW activity was significantly larger, around 2-3 times of the normal activity energy expenditure prior to PDW (2956 ± 495 kcal/day). The largest energy expenditure recorded was during long march activity (8286 ± 730 kcal/day). Average energy intake during PDW was recorded at 1380 kcal/day. Weight loss (10.20 ± 0.80 %), body fat percentage decrease (48.80 ± 2.63 %), and fat-free mass decrease (2.87 ± 0.06 %) occurred in subjects during the activity. It was concluded from the data that the energy expenditure was much larger than the energy intake, which caused changes in body weight as well as body composition.Keywords: energy expenditure, outdoor activity
Front Matter Vol 37 No 1 (2012) Acta Pharmaceutica Indonesia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uji Aktivitas Antistres dan Sedatif Minyak Biji Pala (Myristica fragrans Houtt.) pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster I Ketut Adnyana; Retta Nugrahani; Suwendar Suwendar; Zulfan Zazuli
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah diteliti efek antistres minyak biji pala (Myristica fragrans Houtt.) yang diberikan secara oral dan aromaterapi secara inhalasi pada mencit jantan Swiss Webster yang diinduksi stres dengan cara imobilisasi. Efek antistres ditentukan berdasarkan jumlah perpindahan mencit dalam kotak transisi terang-gelap dan lama tidur yang diinduksi dengan tiopental. Mencit yang stres ditandai dengan penurunan bobot badan yang bermakna (p<0,05). Minyak biji pala yang diberikan secara oral dengan dosis 16,90 μL/kg bobot badan dan secara aromaterapi dengan konsentrasi 0,4 g/mL dalam minyak kelapa dengan lama inhalasi dua jam memperpanjang waktu tidur (berturut-turut sebesar 208,29±159,63 menit dan 531,00±265,22 menit) secara bermakna (p<0,05) dibadingkan terhadap kontrol (38,00±7,70 menit). Efek antistres minyak biji pala ditandai dengan peningkatan jumlah perpindahan mencit dalam kotak transisi terang-gelap yang berbeda bermakna bermakna dibandingkan terhadap kontrol (9,71±2,98 kali dan 6,71±3,03 kali secara berurutan, p<0,05).Kata kunci: minyak biji pala, Myristica fragrans Houtt, antistres, sedatif.The antistress effect of nutmeg seed oil (Myristica fragrans Houtt.) given orally and as an aromatherapy through inhalation had been evaluated in stressed-male Swiss Webster mice induced by immobilization. The antistress effect was determined based on total number of crossings of mice in light-dark transition box and sleep duration induced by thiopental. Stressed mice were indicated by significant decreased of mice body weight (p<0.05). Nutmeg oil given orally at 16.90 μL/kg body weight and as aromatherapy at concentration of 0.4 g/mL in virgin coconut oil through inhalation for two hours prolonged sleep duration (208.29±159.63 minutes and 531.00±265.22 minutes respectively) significantly (p<0.05) compared to that of control (38.00±7.70 minutes). The nutmeg oil given as aromatherapy by inhalation for two hours significantly increased total number of crossing of mice in light-dark transition box compared to that of control (9.71±2.98 times and 6.71±3.03 times respectively, p<0.05) indicated the antistress effect.Keywords: nutmeg seed oil, Myristica fragrans Houtt, antistress, sedative.
Telaah Fitokimia Daun Kangkung Air (Ipomoea aquatic Forsskal) Komar Ruslan Wirasutisna; As’ari Nawawi; Nurma Sari
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ipomoea aquatica Forsskal (kangkung air) dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan makanan dan obat tradisional. Dilatarbelakangi adanya faktor geografis yang dapat mempengaruhi kandungan senyawa suatu tanaman, maka penelitian ini ditujukan untuk menelaah kandungan senyawa kimia daun kangkung air yang diperoleh dari daerah Kopo, Bandung Selatan. Penelitian dimulai dengan sortasi kering dan pembuatan serbuk simplisia. Serbuk simplisia diekstraksi dengan ekstraksi sinambung menggunakan pelarut n-heksana dan metanol. Ekstrak metanol difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut etil asetat dan n-butanol, Fraksi etanol dan fraksi etil asetat dimurnikan dengan kromatografi kertas preparatif dan dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer UV-sinar tampak. Dari hasil penelitian diperoleh senyawa flavonoid dari fraksi etil asetat yang memiliki gugus trihidroksi pada posisi 3, 5, 7 dan gugus orto dihidroksi pada cincin B di posisi 3',4' yang merupakan senyawa aglikon kuersetin dan senyawa flavonoid dari fraksi n-butanol yang memiliki gugus 3-O-tersubstitusi, gugus dihidroksi pada posisi 5,7 dan gugus orto dihidroksi pada cincin B di posisi 3',4' yang merupakan senyawa kuersetin 3-Omonoglikosida.Kata kunci: kangkung air, Ipomoea aquatica, flavonoidIpomoea aquatica Forsskal is used by people as food and traditional medicine. Geographic factors can influence chemical compounds of the plant. The goal of this research was to examine the chemical compounds of Ipomoea aquatica Forsskal collected from Kopo, South Bandung. Crude drug of Ipomoea aquatica Forsskal was extracted using Soxhlet apparatus with n-hexane and methanol. The extract was fractionated by liquid-liquid extraction using ethyl acetate, and butanol. The butanol fraction and ethyl acetate fraction were purified by preparative paper chromatography and characterized by UV-visible spectrophotometry. Two flavonoids were obtained, from ethyl acetate fraction it had trihydroxy on 3, 5, 7 position, and ortho dihidroxy on B ring in 3',4' position. From n-buthanol fraction it had 3-O-substituted, dihydroxy on 5,7 position and ortho dihydroxy on B ring in 3',4' position. Ipomoea aquatica Forsskal leaf cointained quercetin and quercitrin 3-O-monoglycoside.Keywords: water spinach, Ipomoea aquatica, flavonoid
Uji Aktivitas Enzim Superoksida Dismutase dalam Ekstrak Mesokarp Buah Merah (Pandanus conoideus Lamarck) Menggunanakan Densitometri Citra Elektroforegram Hamidah Rahman; Tutus Gusdinar Kartawinata; Elin Julianti
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas super oksida dismutase (SOD) mesokarp buah merah (Pandanus conoideus Lamarck). Pengujian dilakukan dengan metode elektroforesis gel poliakrilamid dan densitometri citra terhadap ekstrak kasar buah merah dan ekstrak hasil pemurnian dengan dialisis setelah pengendapan dengan amonium sulfat konsentrasi 25, 50 dan 75% b/v. Aktivitas SOD ditunjukkan dengan terbentuknya pita transparan pada gel setelah dua tahap proses pewarnaan yaitu dengan nitro biru tetrazolium dan riboflavin, dan hasil pencitraan gel dianalisis dengan densitometer. Aktivitas SOD ditentukan dengan membandingkan terhadap SOD dari Escherichia coli dan diperoleh aktivitas SOD sebesar 420 U/mL atau setara dengan 836 U/gram buah merah.Kata kunci: Elektroforesis, Densitometer, Superoksida dismutase, Buah merahThe aim of this study was to test the activity of SOD buah merah (Pandanus conoideus Lamarck). Evaluation was done by polyacrylamide gel electrophoresis and image densitometry was performed to raw extract of buah merah, and the extract pure by dialysis after precipitation with ammonium sulfate concentrations of 25, 50 and 75% w/v. SOD activity was shown by the formation of transparent tape on the gel after the gel staining by nitro blue tetrazolium and riboflavin, then imaging results were analyzed by densitometer. SOD activity was determined by comparing the SOD from Escherichia coli and it was 420 U/mL.Keywords: Electrophoresis, Densitometer, Superoxide dismutase, red fruit
Efektivitas Preventif Omeprazol Terhadap Efek Samping Tukak Lambung Antiinflamasi Non Steroid (Asetosal) pada Tikus Galur Wistar Betina Joseph Iskendiarso Sigit; Ribkah Ribkah; Andreanus Andaja Soemardji
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat antiinflamasi non steroid (OAINS) memiliki efek samping utama dalam penggunaan berulang, yaitu tukak lambung. Penggunaan OAINS dengan dosis tinggi (dosis anti rematik artritis) meningkatkan resiko terkenanya tukak lambung. Pemberian obat anti tukak lambung seperti omeprazol dapat mengobati dan mencegah tukak lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas preventif omeprazol terhadap efek samping tukak lambung OAINS, asetosal pada dosis anti rematik artritis. Efektivitas preventif omeprazol ditentukan secara in vivo pada tikus galur Wistar betina. Tikus dibagi menjadi kelompok yang mendapat OAINS uji (asetosal) pada dosis anti rematik artritis saja dan kelompok yang mendapat omeprazol sebagai terapi preventif, kemudian diberikan asetosal pada dosis anti rematik artritis. Perlakuan diberikan selama tujuh hari, kemudian tukak lambung yang terjadi dievaluasi menggunakan skor jumlah tukak, keparahan tukak dan persen kejadian tukak lambung, dan dibandingkan antar kelompok perlakuan secara statistik. Dihitung indeks tukak tiap klompok untuk menilai tingkat tukak lambung yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan, efektivitas preventif omeprazol terhadap efek samping tukak lambung dari asetosal adalah sebesar 10,68 %.Kata kunci: OAINS, asetosal, efek samping, indek tukak. Non steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) have prominent side effect in repeated use, peptic ulcer. Indication of NSAIDs in high dose (rheumatic arthritis' dose) increase the risk of peptic ulcer. Administration of antipeptic ulcer medicine-omeprazol could prevent and healing peptic ulcer. The aim of this study was to observe the effectivity of omeprazol's prevention to peptic ulcer side effect of NSAIDs, asetosal in rheumatic arthritis' dose. The effectivity of omeprazol's prevention determined in vivo in female Wistar rats. Rats were divided into group given asetosal only in rheumatic arthritis's dose and group given omeprazol preventively then asetoal in rheumatic arthritis's dose. Treatment be given for seven days, then formed peptic ulcer could be evaluated by scoring of ulcer amount and ulcer severity formed and then the datas of the difference beetween two groups are evaluated staticly. Ulcer index each group were determined for determining ulcer damage. The results showed that the effectivity of omeprazol's prevention to peptic ulser side effect of acetosal as an peptic ulser inhibition was 10.68 %.Keywords: NSAID, acetosal, adverse effect, ulcer index.