cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 44 No 3 (2013): September 2013" : 10 Documents clear
ADAMANTINOMA TIBIA Margaretha, Meiske; Wiratnaya, Eka; Juli Sumadi, I Wayan
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.098 KB)

Abstract

Adamantinoma tulang panjang merupakan neoplasma tulang yang jarang dengan histogenesis yangmasih menjadi perdebatan dan gejala klinis yang bervariasi. Insiden tumor ini 0,56% dari seluruhkeganasan tulang primer. Kasus ini dibahas karena insidensinya yang sangat jarang. Pasien adalahseorang wanita, usia 16 tahun dengan keluhan timbul benjolan yang terasa nyeri dan membesarperlahan pada tungkai bawah kiri bagian atas selama 2 bulan terakhir. Radiologis memperlihatkanzona berbatas tegas, eksentrik, ekspansil dan lusen pada bagian atas tibia kiri. Setelah pembedahan,spesimen dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi. Tumor berbatas tegas, lobulated, putih abuabu,kenyal, berukuran 7x4,5x2 cm. Mikroskopis, tumor terdiri dari sel-sel epitel tersusun dalamstrukturcorddan pulau dikelilingi oleh stroma fibrouspadat dengan palisadingpada tepinya. Diagnosisadamantinomaditegakkan berdasarkan gambaran klinis, radiologis, dan histopatologi yang khas.
NYERI KEPALA PADA PENDERITA EPILEPSI Oka Adnyana, I Made
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.43 KB)

Abstract

Nyeri kepala sering tidak menjadi perhatian pada penderita epilepsi, karena penderita maupunkeluarga lebih memperhatikan serangan kejangnya. Nyeri kepala pada penderita epilepsi dibagimenjadi: preictal headache yaitu nyeri kepala yang timbul tidak lebih dari 24 jam sebelum serangandan berakhir saat serangan dimulai, ictal headache yaitu nyeri kepala yang terjadi saat seranganserangan epilepsi parsial sederhana, dan postictal headache yaitu nyeri kepala yang timbul 3 jamsetelah serangan dan berakhir dalam 72 jam setelah serangan. Nyeri kepala pada penderita epilepsiyang tidak berhubungan dengan serangan kejang disebut ictal headace. Secara epidemologi nyeri kepalapaling sering didapat pada penderita dengan epilepsi intraktabel. Nyeri kepala yang paling banyakdidapatkan adalah postictal headche dan yang paling jarang adalah preictal headache. Komorbiditasantara epilepsi dan migren telah diketahui, yaitu frekuensi epilepsi pada penderita migren adalahlebih tinggi dari populasi umum (1-17%) dan frekuensi migren pada penderita epilepsi juga lebihtinggi dari populasi umum (8-15%). Patofisiologi nyeri kepala terutama migren hampir sama denganepilepsi, hal ini dibuktikan dengan penggunaan obat anti-epilepsi juga bermanfaat untuk pencegahanmigren. Teori terjadinya nyeri kepala pada epilepsi adalah teori hipereksitabilitas neuron dimanayang memegang peranan penting adalah teori cortical spreading depressionteori glutamat, dan teorimutasi gen pada familial hemiphlegic migrain. Gejala klinis yang dijumpai adalah nyeri kepala migren,tension type headahce, dan nyeri kepala tidak terklasifikasi, yang disertai dengan fonofobi, fotofobi,nausea, dan vomiting. Pengobatan yang digunakan adalah analgetik, obat untuk migren, dan obatanti-epilepsi, seperti asam valproat, topiramat, levetiracetam dan zonisamid.
PERBANDINGAN EFEK OKSITOSIN BOLUS 3 IU, 5 IU, DAN 10 IU TERHADAP KONTRAKSI UTERUS DAN RESPON KARDIOVASKULAR PADA SEKSIO SESAREA DENGAN ANESTESI BLOK SUBARAKNOID Kusuma, Made Adi; Wiryana, Made; Hariyasa Sanjaya, I Nyoman; Gede Widnyana, I Made
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.704 KB)

Abstract

Oksitosin merupakan obat yang rutin diberikan setelah kelahiran bayi pada seksio sesarea untukmemulai dan mempertahankan kontraksi uterus adekuat tetapi efek samping kardiovaskulardiketahui muncul setelah pemberian intravena seperti takikardi, hipotensi dan disritmia. Hal iniakibat efek relaksasi otot polos vaskular yang menyebabkan penurunan resistensi vaskular sistemik,hipotensi, dan takikardia. Besarnya efek ini tergantung dosis dan cara pemberiannya. Tujuan penelitianini adalah membandingkan kontraksi uterus, tekanan arteri rerata (TAR), dan laju nadi setelahoksitosin bolus 3, 5, dan 10 IU pada seksio sesarea dengan anestesi blok subaraknoid. Penelitian iniadalah uji klinik acak terkontrol tersamar ganda. Enam puluh enam pasien yang memenuhi kriteriapenelitian dibagi 3 yaitu kelompok 3IU, 5IU, dan 10IU. Oksitosin bolus diberikan setelah kelahiranbayi dalam 30 detik dan dilanjutkan kontinyu 0,04 IU/menit. Kontraksi uterus dinilai oleh operatordan perubahan TAR serta laju nadi dicatat pada lembar penelitian. Tidak ditemukan perbedaanprevalensi kontraksi uterus adekuat antar kelompok penelitian. Penurunan rerata TAR danpeningkatan rerata laju nadi kelompok 3IU secara bermakna lebih kecil dibandingkan kelompok 5dan 10IU, dan kelompok 5IU secara bermakna lebih kecil dibandingkan kelompok 10IU. Simpulanpenelitian ini bahwa oksitosin bolus 3 IU menghasilkan keadekuatan kontraksi uterus yang sama,penurunan TAR dan peningkatan laju nadi lebih kecil dibandingkan oksitosin bolus 5 dan 10 IU padaseksio sesarea dengan anestesi blok subaraknoid.
OBESITY IS ASSOCIATED WITH HYPERTENSION IN ADOLESCENTS Hendy, Hendy; Lanang Sidiartha, I Gusti; Putu Nilawati, Gusti Ayu
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.55 KB)

Abstract

Obesity has become a global issue. Previous studies in Bali reveal an increase in the proportionof obesity in adolescents. Obesity causes hypertension; hence there should also be an increase inthe prevalence of hypertension as well in Bali. Hypertension in obese adolescents could be causedby various factors, hence identification of the risks factors is crucial as a preventive approach.The aim of this study was to prove an association between obesity and hypertension in adolescents,and to look for the risk factors. We used an analitical cross sectional design conducted to 12-14years old samples. We took body weight, height, waist circumference, hip circumference, andblood pressure measurements with appropriate devices and asked for information regarding lifestyle and familial history by a questionnare filled in by the samples. The association of obeseadolescents with hypertension and their risk factors was analyzed by Chi-square and multivariatetests. A total of 225 subjects from Santo Yoseph junior high school students, west Denpasar,Bali, met the inclusion criteria. The proportion of obese subjects in this study was 25.7%. Wefound that proportion in familial history of obesity was greater in obese than non-obese subjects(70.7 % vs 41.3%). Logistic regression test revealed that obese subjects with hypertension had abody mass index (BMI) > 30 with odds ratio of 7.3 (CI 95% = 1.8 to 28.8) and P = 0.005. Weconcluded that there was an association between obesity and adolescents with hypertension,and BMI > 30 could be a risk factor for obese adolescents with hypertension.
DIAGNOSIS DAN TATA LAKSANA ENSEFALITIS HERPES SIMPLEKS Yuliantini, Tri; Suwarba, IGN Made; Kari, Komang; Mahalini, Dewi Sutriani
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.423 KB)

Abstract

Infeksi Herpes simpleks pada susunan saraf pusat (SSP) merupakan infeksi SSP yang paling beratdan sering berakibat fatal. Angka kejadiannya diperkirakan 1 kasus per 250 000 sampai 500 000orang per tahun, sepertiganya terjadi pada anak-anak. Gejala dan tanda klinis pada fase awal sangattidak khas. Pemberian terapi yang terlambat membawa dampak terjadinya kecacatan permanen.Deteksi virus Herpes simpleks (VHS) di dalam cairan serebrospinal dengan polymerase chain reactionmerupakan modalitas pilihan untuk diagnosis ensefalitis herpes simpleks (EHS). Asiklovir intravenamerupakan obat pilihan pertama. Pengobatan segera diberikan kepada pasien yang dicurigai menderitaEHS, kemudian pengobatan dapat dilanjutkan atau dihentikan sesuai konfirmasi laboratorium atauhasil biopsi otak. Pasien yang tidak diberikan antivirus atau pengobatannya terlambat angkakematiannya cukup tinggi.
PERBEDAAN OSMOLALITAS DAN pH DARAH PADA TINDAKAN TRANSURETHRAL RESECTION OF PROSTATE (TURP) YANG DIBERIKAN NATRIUM LAKTAT HIPERTONIK 3 ML/KGBB DENGAN NATRIUM KLORIDA 0,9% 3 ML/KGBB Dewi, Srinami; Widnyana, Made Gede; Suranadi, Wayan
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.169 KB)

Abstract

Transurethral resection of prostate (TURP) merupakan prosedur baku  dalam  penatalaksanaanhiperplasia prostat yang disertai retensi urin akut berulang atau kronis. Tindakan ini dikerjakandengan fasilitas air sebagai cairan irigasi. Salah satu komplikasi tindakan ini dikenal sebagai sindromTURP.  Kelebihan cairan intravaskular karena absorbsi cairan irigasi akan mengakibatkan terjadinyahiponatremia dilusional yang akan menurunkan  osmolalitas plasma. Perubahan kadar Nadan Lac dapat mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa yaitu asidosismetabolik. Penelitian ini merupakan uji klinik, melibatkan 22 pasien dewasa dengan status fisikASA II-III, yang menjalani operasi elektif TURP di ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUP SanglahDenpasar dengan anestesi regional dan menggunakan air sebagai fasilitas cairan irigasinya.  Sebelumtindakan TURP, saat mulai puasa, pasien diberikan cairan ringer dextrose 40 ml/kgBB/hari,sesampainya di kamar persiapan IBS dilanjutkan diberikan cairan ringer laktat 10 ml/kgBB.Randomisasi blok dilakukan untuk alokasi subyek ke dalam dua kelompok yaitu  kelompok NLH(kelompok perlakuan) yang mendapatkan cairan awal natrium laktat hipertonik 3 ml/kgBB dan-kelompok NaCl (kelompok kontrol) yang mendapatkan cairan awal natrium klorida 0,9% 3 ml/kgBB.Dilakukan pemeriksaan osmolalitas dan pH darah sebelum, selama, dan sesudah tindakan TURP.Hasil penelitian mendapatkan perbedaan osmolalitas darah antara kelompok NLH dengan kelompokNaCl pada saat pra-operasi, durante operasi, dan pasca-operasi dengan nilai 285,3248 vs 283,3205,P= 0,0028;  287,0259 vs  284,6813, P= 0,045; dan  288,7668 vs 285,9444, P= 0,033. Juga terdapatperbedaan nilai pH darah antara kelompok NLH dengan kelompok NaCl  pada saat pra-operasi,durante operasi dan post-operasi dengan nilai 7,4864 (0,7018) vs 7,4055 (0,5646), P= 0,07;  7,4636(0,02976) vs  7,4318 (0,03945), P= 0,045; dan 7,4791 (0,03727) vs 7,4327 (0,5569), P= 0,033. Statushemodinamik lebih baik pada kelompok NLH. Enam dari 11 pasien pada kelompok NaCl mengalamihipotensi dan membutuhkan lebih banyak efedrin intravena  sedangkan pada kelompok NLH hanya 2pasien. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian cairan awal natrium laktathipertonik lebih efektif dalam mempertahankan osmolalitas dan pH darah dibandingkan cairan natriumklorida 0,9% pada tindakan TURP yang menggunakan air sebagai fasilitas cairan irigasi.
HEMATOMA AURIKULA Indah, Sari; PS, Eka
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.377 KB)

Abstract

Hematoma aurikula merupakan sekuele yang terjadi akibat trauma langsung pada daun telingayang menyebabkan penimbunan darah dalam ruang antara perikondrium dan kartilago yang biasanyaditemukan pada pegulat atau petinju. Keterlambatan diagnosis serta penanganan dapat menimbulkankomplikasi dimana salah satunya adalah telinga kembang kol atau cauliflower ear. Penatalaksanaanhematoma aurikula cukup bervariasi, namun tujuan utama pengobatan tersebut adalah mengevakuasidarah subperikondrial, mencegah kekambuhan, dan mencegah terjadinya infeksi. Dilaporkan satukasus hematoma aurikula pada seorang laki-laki dewasa berusia 68 tahun di Rumah Sakit UmumPusat ( RSUP)  Sanglah-Denpasar yang telah dilakukan penanganan aspirasi serta bebat tekanmenggunakan teknik bolster yang memberikan hasil yang baik.
TUMOR OVARIUM: PREDIKSI KEGANASAN PRABEDAH BUDIANA, I NYOMAN GEDE
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.728 KB)

Abstract

Untuk meningkatkan kelangsungan hidup penderita kanker ovarium, dilakukan upaya untukmemprediksi keganasan tumor tersebut sebelum dilakukan pembedahan, karena adanya perbedaanpenanganan pada tumor jinak dan kanker ovarium. Terdapat berbagai modalitas untuk mendeteksikeganasan tumor ovarium prabedah. Mulai dari pemeriksaan klinis melalui anamnesis danpemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti petanda tumor dan ultrasonografi. Untukmeningkatkan akurasi dalam mendeteksi keganasan tumor ovarium prabedah, dibuat berbagai sistemskoring. Indeks keganasan Sudaryanto, memakai batasan total skor e” 3 menunjukkan risiko keganasantinggi, sedangkan total skor < 3 menunjukkan risiko keganasan rendah. Melalui pemeriksaan USG,dibuat sistem skoring morfologi berdasarkan struktur permukaan dalam tumor, ketebalan dinding,septa, dan echogenitas tumor yang disebut indeks morfologi Sassone-Timor Tritsch. Denganmenggunakan batas skor 9, ditetapkan skor < 9 menunjukkan prediksi jinak dan skor e” 9 menunjukkanprediksi ganas. Batasan ini memiliki sensitifitas 94%, spesifisitas 87%, nilai duga positif 60%, dannilai duga negatif 93,6%. Metode lainnya adalah Risk of Malignancy Index (RMI). RMI mengintegrasikanstatus menopause penderita, temuan USG, dan kadar CA 125 serum. Nilai cut-off 200 digunakanuntuk membedakan tumor ovarium yang jinak dan ganas serta mempunyai sensitifitas 87% danspesifisitas 97%. The Risk of Ovarian Malignancy Algorithm (ROMA) merupakan upaya koreksi RMIdengan menambahkan biomarker human protein epididymis 4 (HE4) dan menghilangkan USG. Untukmemprediksi kanker ovarium tipe epitel, ROMA mempunyai sensitifitas dan spesifisitas masingmasingsebesar 89% dan 83%. Jadi, terdapat berbagai modalitas untuk memprediksi keganasantumorovarium dengan akurasi berbeda-beda. Penerapannya disesuaikan dengan sarana dan prasaranayangtersedia sesuai dengan kondisi tempat pelayanan kesehatan.
ABSES PERITONSIL Agus W, Fandi; Eka P, Dewa Artha
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.126 KB)

Abstract

Abses peritonsil adalah kumpulan nanah yang terdapat pada daerah peritonsil yang merupakanjaringan ikat longgar, diantara fossa tonsilaris dan muskulus konstriktor faring superior. Penyakit inisering terjadi dan berakibat fatal bila penanganannya tidak tepat. Penatalaksanaan abses peritonsilcukup bervariasi, namun tujuan utama pengobatan tersebut adalah mengevakuasi nanah (pus) daridaerah peritonsil, mencegah kekambuhan dan mencegah terjadinya komplikasi. Dilaporkan satu kasusabses peritonsil pada wanita usia 19 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar. Penderitamengeluh sakit tenggorokan, sakit dinding atas mulut sebelah kanan, sukar membuka mulut, mulutberbau, dan suara bergumam. Pada pemeriksaan daerah peritonsil dekstra edema, hiperemis, terdorongkedepan, dan teraba fluktuasi. Pada penderita telah dilakukan insisi drainase, pemberian cairanintravena, antibiotik, analgetik dan posisi TrendelenBerg yang memberikan hasil yang baik.
IMPLANTASI KOKLEA PADA PENDERITA TULI PASCAMENINGITIS BAKTERI Putra W, Adhy; Rahayu, Lely; Putra S, Eka
Medicina Vol 44 No 3 (2013): September 2013
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.297 KB)

Abstract

Meningitis bakterial merupakan penyebab tuli sensorineural didapat yang tersering pada anak-anakmaupun dewasa. Gangguan tersebut akan mempengaruhi kemampuan mendengar dan berkomunikasisehari-hari. Penatalaksanaan gangguan pendengaran pascameningitis masih kontroversi, konservatifatau intervensi dengan implantasi koklea. Dilaporkan satu kasus tulisensorineural derajat sangatberat bilateral pascameningitis bakteri yang ditangani dengan tindakan implantasi koklea denganhasil yang baik.

Page 1 of 1 | Total Record : 10