cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014" : 11 Documents clear
FIRST UNPROVOKED SEIZURE PADA ANAK Melati, Deborah; Suwarba, IGN Made; Sutriani M, Dewi; Kari, Komang
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.882 KB)

Abstract

Kejang sangat sering ditemukan pada pasien anak dengan perkiraan kejadian first unprovoked seizuresebesar 2% dan epilepsisebesar 1% pada anak sebelum berusia 16 tahun. First unprovoked seizure adalah kejang yang terjadi tanpa faktor pencetus seperti demam, infeksi sistem saraf pusat, trauma kepala, gangguan metabolik, hipoksia otak, dan obat-obatan.Berulangnya first unprovoked seizure berbeda-beda pada setiap pasien dan dipengaruhi oleh faktor risiko perorangan seperti gambaran EEG epileptiform atau adanya kelainan neurologis sebelumnya.Tatalaksana first unprovoked seizure berupa mengatasi kejang pada saat serangan.Pemberian obat anti-epilepsi pada pasien dengan first unprovoked seizure masih kontroversial.Tujuan utama pemberian obat anti-epilepsi pada pasien dengan first unprovoked seizure adalah mengoptimalisasi kualitas hidup anak dengan mempertimbangkan risiko pemberian obat dan mencegah berulangnya kejang, pemilihan keluarga serta efek samping pemberian obat. [MEDICINA. 2014;45:93-8].    
Mixed Germ Cell Tumor Ovarium dengan Komponen Endodermal Sinus Tumor dan Teratoma Matur Silfiah, Nur; Ekawati, Ni Putu; Juli Sumadi, I Wayan
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.007 KB)

Abstract

Mixed germ cell tumor ovarium merupakan neoplasma ovarium yang jarang ditemukan. Tumor ini minimal terdiri dari dua komponen germ cell tumor dan minimal satu diantaranya bersifat primitif. Berikut kami laporkan satu kasus mixed germ cell tumor ovarium terdiri dari elemen endodermal sinus tumor dan teratom matur. Pasien seorang wanita berusia 29 tahun dengan perut membesar sejak 3 bulan. Durante operasi didapatkan massa tumor ovarium kiri berukuran 16x13x9 cm. Secara makroskopis tumor mengandung bagian kistik dan solid. Pada pemeriksaan mikroskopis didapatkan gambaran histopatologi yang khas untuk endodermal sinus tumor dan teratoma matur, disimpulkan sebagai mixed germ cell tumor ovarium dengan komponen endodermal sinus tumor dan teratoma matur. [MEDICINA 2014;45:127-9]    
GAMMA-GLUTAMYL TRANSFERASE SERUM BERASOSIASI POSITIF DENGAN PENYAKIT GINJAL KRONIK. STUDI BERBASIS MASYARAKAT DI KECAMATAN BLAHBATUH GIANYAR BALI Sutarka, Nyoman; IG, Raka-Widiana; Suwitra, Ketut
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.74 KB)

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah global kesehatan masyarakat. Gamma-glutamyl transferase (ãGT) serum banyak diusulkan sebagai marker yang sensitif terhadap stres oksidatif yang diperkirakan berhubungan dengan terjadinya PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi antara ãGT serum dan PGK. Dilakukan penelitian potong lintang di Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Bali dengan jumlah sampel 122 orang yang dipilih secara simple proportional random sampling. Sampel yang memenuhi kriteria dimintakan kesediaannya berpartisipasi dengan menandatangani informed consent. Diagnosis PGK ditegakkan sesuai kriteria NKF-KDOQI dengan perkiraan laju filtrasi glomerulus dihitung memakai rumus MDRD. Pemeriksaan ãGT serum dengan metode enzymatic colorimetrix. Data yang terkumpul dianalisis dengan SPSS 16 for windows meliputi uji Chi-Square dan analisis regresi logistik multipel. Dari 122 subyek yang memenuhi syarat, tiga subyek menolak berpartisipasi. Sebanyak 95 subyek adalah laki-laki dan 24 perempuan dengan rerata umur 62,68 (SB 1,27) tahun. Nilai median ãGT didapatkan sebesar 21 U/L. Prevalensi PGK didapatkan sebesar 16,8%. Dari 61 subyek dengan kadar ãGT serum sama dengan nilai median atau lebih 16 diantaranya didapatkan dengan PGK sedangkan dari 58 subyek dengan kadar ãGT serum di bawah nilai median hanya empat yang didapatkan dengan PGK. Didapatkan adanya asosiasi bermakna antara ãGT serum dan PGK (P=0,005 ; OR=4,8; IK95%=1,5 sampai 15,4). Setelah dikontrol dengan variabel umur, jenis kelamin, hipertensi, dan obesitas didapatkan asosiasi ãGT serum dan PGK ini masih tetap bermakna (P=0,029; adjusted OR =4,1; IK95% =1,2 sampai 14,9).Disimpulkan ada asosiasi positif antara ãGT serum dan PGK. Asosiasi ini independen terhadap  variabel umur, jenis kelamin, hipertensi, dan obesitas. ãGT serum mungkin dapat dipakai sebagai biomarker PGK. [MEDICINA. 2014;45:73-8].  
PENATALAKSANAAN ANESTESI PADA BAYI DENGAN EMPHYSEMATOUS BULLOSA KONGENITAL Supradnyawati, Ni Made; Kurniyanta, Putu; Heryana Putra, Kadek Agus
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.238 KB)

Abstract

Emphysematous bullosakongenital merupakan penyebab distress respirasi yang jarang dijumpai, umumnya pada usia neonatus sampai enam bulan pertama. Insiden dilaporkan sebesar 1:70.000- 1:90.000 kelahiran hidup dan biasanya disertai dengan kelainan kongenital lainnya. Etiologi tidak diketahui, namun diduga terjadi akibat displasi kartilago bronkial. Hiperinflasi dan udara yang terperangkap secara progresif akan menimbulkan ekspansi paru ke sisi yang sehat, mendesak parenkim yang sehat, pergeseran mediastinum, dan mengganggu aliran darah balik vena.Secara klinis ditandai dengan distress napas yang semakin memburuk akibat akumulasi progresif udara pada lobus yang sakit. Kami melaporkan kasus pada bayi perempuan berusia 1 bulan, dengan keluhan sesak napas yang semakin memberat sejak 1 minggu sebelumnya. Diagnosis ditegakkan dari klinis, foto dada, dan computed tomography scan dada. Tindakan torakotomi lobektomi lobus medius telah dilakukan untuk menghilangkan lesi desak ruang sekaligus melindungi jaringan paru fungsional.Penatalaksanaan anestesi menitikberatkan pada saat induksi. Pemberian ventilasi manual secara gentle, menghindari pemberian ventilasi tekanan positif dan penggunaan N2O sampai torakotomi dilakukan untuk mencegahpeningkatan volume lobus yangmengalami emphysematous, serta pemberian analgesi perioperatif yang adekuat.Bila terjadi ekspansi lobus emphysematoussecara tiba-tiba, seorang dokter bedah harus siap melakukan torakotomi dengan segera. Pasien ini menunjukkan perkembangan yang baik dan akhirnya pulang pada hari ke-5 pascaoperasi. [MEDICINA 2014;45:134-8]  
HENOCH SCHONLEIN PURPURA ASSOCIATED WITH ACUTE POSTSTREPTOCOCCAL GLOMERULONEPHRITIS: A CASE REPORT Melati, Deborah; Kumara Wati, Ketut Dewi; Putu Nilawati, Gusti Ayu
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acute post-streptococcal glomerulonephritis (APSGN) is one of the most common renal disease resulting from a prior infection with group A â-hemolytic streptococcus (GAS). Henoch Schonlein Purpura (HSP) is a systemic disease with frequent renal involvement, its etiology is still unknown but several infections have been described as trigger includingGAS infection. A 4 year 10 month old Balinese boy presented with full blown acute nephritic syndrome, an elevation in serum creatinine and four fold increase of anti streptolysin-O, also low serum levels of complement C3 with normal C4 confirmed the diagnosis of APSGN. During hospitalization he developed palpable purpura, gastrointestinal symptoms as well as leucytoclastic vasculitis in skin biopsy conclude HSP diagnosis.He was treated with anti-hypertensions and metylprednisolone intravenous. The prognosis of the patient was excellent, he showed normal physical examination with normal complete blood count and urinalysis after 3 months follow up. We conclude that both APSGN and HSP could appear concurrently after GAS infection. [MEDICINA 2014;45:102-7]  
PENATALAKSANAAN ANESTESIA PADA LAPAROTOMI KISTOMA OVARII PERMAGNA Sinantyanta, Hadyan; Sujana, Ida Bagus
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.38 KB)

Abstract

Kistoma ovarii permagna masih sering dijumpai di RSUP Sanglah Denpasar. Kasus ini berisiko tinggi selama periode perioperatif. Seorang wanita, 25 th, didiagnosis kistoma ovarii permagna, pasien tampak kurus dengan perut sangat besar dan aktifitasnya terganggu. Fungsi kardio-respirasi normal. CT scan abdomen: massa ukuran 30,3 x 34,9 x42,1 cm. Sebelum induksi dipasang CVC dan arteri line. Dengan posisi setengah duduk dilakukan laringoskopi – intubasi. Pasca-operasi respirasi tidak adekuat, sehingga perlu  ventilasi kendali di ICU. Saat induksi pasien diposisikan setengah duduk, sedikit miring kiri untuk mencegah regurgitasi-aspirasi dan aorto-caval compresion. Terjadi masalah ventilasi tidak adekuat pasca operasi yang kemungkinan karena sisa obat opioid, pelumpuh otot, faktor mekanik diafragma, otot-otot bantu pernapasan dan nyeri. Anestesiologis harus memperhatikan fungsi fisiologis dalam batas normal dan memfasilitasi pembedahan dapat dilakukan secara aman. [MEDICINA 2014;45:139-42]   .  
ASPEK BIOLOGI TRIHEKSIFENIDIL DI BIDANG PSIKIATRI VIVI SWAYAMI, I GUSTI AYU
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.017 KB)

Abstract

Triheksifenidil adalah obat yang sering digunakan apabila didapatkan sindroma ekstrapiramidal akibat penggunaan antipsikotik. Triheksifenidil merupakan antikolinergik yang mempunyai efek sentral lebih kuat daripada perifer. Triheksifenidil bekerja melalui neuron dopaminergik.Mekanisme kerjanya meningkatkan pelepasan dopamin dari vesikel prasinaptik, penghambatan ambilan kembali dopamin ke dalam terminal saraf prasinaptik atau menimbulkan suatu efek agonis pada reseptor dopamin pascasinaptik.Triheksifenidil sebagai terapi efek samping esktrapiramidal yang diinduksi oleh antipsikotik dan obat-obatan sistem saraf sentral, seperti akathisia, distonia, dan pseudoparkinsonism (tremor, rigiditas, akinesia) dan sindroma ekstrapiramidal (EPS). Penurunan dosis antipsikotik merupakan langkah pertama yang dilakukan jika terjadi efek samping sindroma ekstrapiramidal. Obat antikolinergik contohnya: triheksifenidil, benztropin, sulfas atropin, dan difenhidramin injeksi intra muskular atau intra vena diberikan jika langkah pertama tidak dapat menanggulangi efek samping tersebut. Obat yang paling sering digunakan adalah triheksifenidil dengan dosis 3 kali 2 mg per hari. Penggantian antipsikotik merupakan langkah terakhir jika dengan kedua langkah sebelumnya tidak berhasil menanggulangi efek samping ekstrapiramidal yang terjadi. [MEDICINA 2014;45:88-92]    
HYPERTROPHIC OBSTRUCTIVE CARDIOMYOPATHY IN AN 8-MONTH OLD FEMALE INFANT SUSPECTED INFANTILE ONSET POMPE DISEASE Purnami, Made Dwi; Gunawijaya, Eka
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.176 KB)

Abstract

Hypertrophic cardiomyopathy (HCM) is an autosomal dominant cardiac disorder marked with muscular hypertrophy of the left ventricle, associated obstruction of left ventricular outflow. About 0.2% of all cases worldwide. The majority of patients are asymptomatic, and some present with severe activity- limiting symptoms. The diagnosis of HCM before the age of 2 years is rare and usually discovered by chance, during the investigation of a murmur. Progressive disease characterized by prominent cardiomegaly, cadiomyopathy, hepatomegaly, musle weakness or hypotonia, respiratory distress, feeding difficulties and failure to thrive as presenting sign and symptoms are often referred to infantile Pompe disease. A deficiency of of the enzyme acid alpha glucosidase disease, result in lysosomal accumulation of glycogen in heart and skeletal muscle. Cardiorespiratory failure is the cause of significant morbidity and mortality in the first year of life. We reported a rare case, 8 month-old female with frequent respiratory distress since 2 months before admission. Physical examination showed dyspnea with chest wall retraction, no cyanosis, with grade III systolic murmur at midclavicular line sinistra, ICS IV- V and floopy infant. Chest films showed   pneumonia and cardiomegaly. The echocardiogram demonstrated bi-ventricular and interventricular hypertrophy with left ventricular obstruction. Laboratory finding there was increased levels of glutamic oxaloacetic acid transferase, alanin aminotransferase, and lactate dehydrogenase. Patient was diagnosed with hypertrophic obstructive cardiomyopathy of suspected infantile onset pompe disease. Despite medical treatment with propanolol dan diuretics, there was no significant improvement and she was died after 26th days of treatment in intermediate ward. [MEDICINA 2014;45:108-14]    
REAKSI TUBUH TERHADAP BEBAN KERJA MENYETRIKA DI BAGIAN SETRIKA GARMEN XX, DENPASAR, BALI Adiputra, Nyoman
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.84 KB)

Abstract

Untuk menilai reaksi fisiologis tubuh terhadap beban kerja menyeterika, telah dilakukan pengukuran pada 10 orang pekerja laki-laki dewasa, di Fabrik Garmen X-X Denpasar. Aspek yang dinilai meliputi: denyut nadi kerja direkam dengan ‘’BHL6000"; pengeluaran kalori dengan alat caloric counter; waktu setrika perlembar bahan diukur dengan stopwatch; dan kelelahan dengan observasi istirahat curian. Hasil yang diperoleh: a) denyut nadi istirahat 60,0 (SB 4,24) per menit; b) denyut nadi kerja maksimal 121,0 (SB 1,41) per menit; c) reratadenyut nadi rata-rata selama bekerja 77,5 (SB 6,32) per menit; d) sedangkan rerata denyut nadi totalnya selama menyeterika 17.118,0 (SB 1.159,6) denyut; e) kebutuhan kalori selama pengukuran 170 kcal; f) kalori untuk tugas tersebut 51,4 kcal; g) tugas yang dilakukan bernilai kalori rata-rata 0,86 kcal/kg/menit. h) waktu setrika rata-ratanya: 3,0 (SB 0,95) menit perlembar baju. Disimpulkan bahwa tugas menyetrika baju produk Garmen X-X tergolong beban kerja yang ringan. [MEDICINA 2014;45:84-7]  
FAKTOR RISIKO KEJADIAN LUAR BIASA HEPATITIS A DI SEKOLAH DASAR NEGERI SELULUNG DAN BLANTIH, KINTAMANI Aryana, I Gede Ketut; Sanjaya Putra, I Gusti Ngurah; Karyana, I Putu Gede
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.668 KB)

Abstract

Hepatitis A terjadi secara sporadis dan epidemik di seluruh dunia, dengan kecenderungan untuk kambuh secara siklik. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli tahun 2012 dan awal 2013 terjadi kejadian luar biasa hepatitis A di Kintamani, Bangli. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian luar biasa hepatitis A pada anak-anak sekolah dasar di Kintamani. Penelitian ini merupakan penelitian kasus-kontrol. Data kasus diambil dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Selulung dan Blantih, sedangkan kontrol dari SDN Sekaan, Kintamani. Penelitian dilaksanakan bulan April sampai Mei 2013. Analisis data dengan uji Kai-kuadrat, analisis bivariat dengan tingkat kemaknaan á=0,05, interval kepercayaan (IK) 95%, dilanjutkan analisis multivariat. Pemanfaatan jamban yang tidak baik bermakna secara statistik berhubungan dengan kejadian luar biasa hepatitis A dengan rasio odds 18,0 (IK95% 4,38 sampai 74,01), P<0,001. Pemanfaatan jamban yang tidak baik bermakna secara statistik sebagai faktor risiko kejadian luar biasa hepatitis A pada anak-anak sekolah dasar di Kintamani. [MEDICINA 2014;45:79-83]    

Page 1 of 2 | Total Record : 11