cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015" : 13 Documents clear
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN KARSINOMA PAPILARI TIROID VARIAN FOLIKULAR Pranitasari, Ni Putu Oktaviani Rinika; Sudipta, Made
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.246 KB)

Abstract

Karsinoma papilari tiroid varian folikular merupakan varian karsinoma papilari tiroid yang ditandaiarsitektur folikular namun memiliki karakteristik gambaran nuklear seperti pada karsinoma papilariklasik. Diagnosis karsinoma papilari tiorid varian folikular menggunakan biopsi aspirasi jarum halussering menunjukkan hasil negatif palsu karena tumpang tindih dengan gambaran sitomorfologineoplasma folikular sehingga berdampak pada pemilihan tindakan pembedahan. Pada laporan kasusini dilaporkan seorang perempuan usia 14 tahun dengan nodul tiroid yang muncul sejak 3 tahun yanglalu. Pasien tidak pernah mendapat radiasi daerah kepala leher dan tidak ada anggota keluarga yangmenderita pembesaran kelenjar tiroid. Biopsi aspirasi jarum halus preoperasi pada nodul tiroidmenunjukkan neoplasma folikular. Hasil ultrasonografi leher menunjukkan massa solid berukuran <4 cm, terbatas pada tiroid dan tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening servikal.Pemeriksaan foto toraks tidak menunjukkan metastasis paru. Berdasarkan kriteria Shaha makapasien ini termasuk dalam kelompok karsinoma tiroid risiko rendah sehingga pilihan pembedahanadalah ismolobektomi. Hasil histopatologi spesimen pembedahan menunjukkan karsinoma papilaritiroid varian folikular dan pilihan terapi selanjutnya adalah observasi gejala kekambuhan sertapemberian levotiroksin intraoral sebagai terapi supresi TSH. Pasien ini memiliki prognosis yangbaik. [MEDICINA 2015;46:126-9].Variant follicular of papillary thyroid carcinoma is the most variant of papillary thyroid carcinomawhich is identified with follicular architecture but also have characteristic of nuclear feature likeclassic papillary carcinoma. The diagnosis of variant follicular papillary thyroid carcinoma using fineneedle aspiration biopsy often showed false negative result due to overlapping cytomorphologic featureof follicular neoplasm, so it has impact to type of surgery. We reported a case of a 14 years old girl withlump on neck since 3 years ago. Patient never has history of head and neck radiation exposure beforeand there were no family members with symptom of lump on the neck. Fine needle aspiration biopsypreoperative of thyroid nodule indicates of follicular neoplasm. Neck ultrasonography showed solidmass size less than 4 cm, limited to the thyroid gland and no enlargement of cervical lymph node.Thorax X-ray showed no pulmonary tumor metastasis. According to Shaha classification, this patientwas categorized to mild risk of thyroid carcinoma and the choise of surgery was isthmolobectomy.Histopathology finding of post operative specimen showed variant follicular of papillary thyroidcarcinoma. Observation of the recurrence and levothyroxin intraoral was given as TSH suppressiontherapy. This patient has a good prognoses. [MEDICINA 2015;46:126-9].
HUBUNGAN JUMLAH LEUKOSIT SERTA KADAR C-REACTIVE PROTEIN DENGAN DERAJAT KEPARAHAN PNEUMONIA PADA ANAK Pramana, Kissinger Puguh; Subanada, Ida Bagus
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.187 KB)

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada bayi dan balita. Sitokin-sitokinproinflamasi akan dilepaskan pada saat infeksi sehingga menyebabkan perubahan sistemik. Penandainflamasi sistemik seperti jumlah leukosit dan kadar C-reactive protein (CRP) dapat membantumenentukan derajat keparahan pada pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganjumlah leukosit serta kadar CRP dengan derajat keparahan pneumonia pada anak. Penelitian analitik,dengan desain potong lintang, melibatkan 28 anak dengan pneumonia berat dan sangat berat.Pemeriksaan laboratorium seperti jumlah leukosit dan kadar CRP dilakukan pada subjek penelitian.Pneumonia sangat berat mempunyai rerata kadar CRP lebih tinggi [42,69 (SB 41,70)] dibandingkandengan pneumonia berat [2,95 (SB 3,03)]. Kadar CRP berbeda bermakna pada pneumonia berat dansangat berat [beda rerata 39,74 (IK95% 16,76 sampai 62,71) mg/L, P=0,003], namun jumlah leukosittidak berbeda bermakna [beda rerata 1,75 (IK95% -8,62 sampai 5,12) x 103 u/L, P=0,605]. Analisismultivariat menunjukkan derajat keparahan pneumonia dipengaruhi oleh kadar CRP [RO 1,46 (IK95%1,02 sampai 2,10), P=0,040], sedangkan jumlah leukosit tidak berhubungan dengan derajat keparahanpneumonia pada anak. Disimpulkan, kadar CRP berhubungan dengan derajat keparahan pneumoniapada anak. [MEDICINA 2015;46:77-81].Pneumonia is the biggest causes of death in infants and children under five years old. At the time ofinfection, proinflammatory cytokines would be released and caused systemic changes. Markers ofsystemic inflammation like leukocyte count and C-reactive protein (CRP) level can help to determinethe degree of severity of pneumonia. The aim of this study was to evaluate the association betweenleukocyte count and CRP level with the degree of severity of pneumonia in children. An analytic crosssectional study was done on 28 children with severe and very severe pneumonia at Sanglah HospitalDenpasar, who fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Subjects were conducted laboratoricexamination includes testing the leukocyte count and CRP level. Very severe pneumonia had a highermean CRP level [42.69 (SD 41.70)] compared with severe pneumonia [2.95 (SD 3.03)]. There was asignificant difference between CRP level in severe and very severe pneumonia cases [mean difference39.74 (95%CI 16.76 to 62.71) mg/L, P=0.003], but there was not any significant difference in theleukocyte count [mean difference 1.75 (95%CI -8.62 to 5.12) x 103 u/L, P=0.605]. Multivariate analysisshowed that severity of pneumonia was influenced by CRP level [OR 1.46 (95%CI 1.02 to 2.10), P=0.040],but leukocyte count is not associated with the degree of severity of pneumonia. In conclusion, CRP levelis associated with the degree of severity of pneumonia. [MEDICINA 2015;46:77-81].
HIPERTERMI DALAM 72 JAM AWITAN SEBAGAI PREDIKTOR PERBURUKAN KLINIS PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT SELAMA PERAWATAN Adja, Yuliana Monika Imelda Wea Ora; Nuartha, Anak Agung Bagus Ngurah; Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.718 KB)

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia yang membutuhkan pengobatandan perawatan jangka panjang. Stroke iskemik akut dengan defisit neurologi yang berat terjadikurang lebih 2-10% dan berhubungan dengan prognosis buruk baik jangka pendek ataupun jangkapanjang. Banyak faktor yang mempengaruhi luaran dan tingkatan perbaikan setelah mengalamistroke iskemik di antaranya peningkatan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui hipertermidalam 72 jam awitan yang dihubungkan dengan prediktor perburukan klinis penderita stroke iskemikakut selama perawatan.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangankohort prospektif. Prediktor perburukan digolongkan atas dua kelompok yaitu prediktor perburukanklinis dan prediktor perbaikan klinis melalui nilai NIHSS pada saat awal dan hari ke tujuh perawatan,dan juga di lakukan pengukuran suhu aurikula dalam 72 jam awitan stroke.Selama periode Januarisampai Maret 2015 didapatkan 88 penderita yang memenuhi kriteria eligibilitas. Data dianalisismenggunakan SPSS 20 for windows dengan menampilkan berbagai karakteristik subyek penelitianmeliputi usia, jenis kelamin, awitan stroke, jenis stroke iskemik, skor NIHSS awal, skor NIHSS harike-7, dan derajat hemiparesis. Hubungan antara hipertermi dengan perburukan klinis penderita diujidengan Chi-square, didapatkan hasil yang bermakna secara statistik (RR= 8,01;IK 95% 3,02 sampai21,25; P <0,0001). Dapat disimpulkan bahwa hipertermi merupakan prediktor perburukan klinispenderita stroke iskemik akut selama perawatan yang diukur dengan skala NIHSS. [MEDICINA2015;46:104-11].Stroke is a leading cause of death and disability in worldwide which need a long term care and treatment.Acute ischemic stroke reveal a severe neurological deficits occur approximately 2-10% in population. Itis associated with poor short and long term prognosis. Many factors influence outcomes and degree ofrepairing after ischemic stroke, in which increasing of body temperature is one of it. This study aim todetermine whether a hyperthermia occur in 72 hours is associated with predictor of clinical deteriorationof ischemic stroke patients during treatment.This was an analytic observational prospective cohortstudy design. Predictors of clinical deterioration measures with NIHSS score at baseline and seventhday of treatment and auricular temperature measured in 72 hours of stroke onset.There was 88 patientswith ischemic stroke during January to March 2015 met the eligibility criteria. Data were analyzedusing SPSS 20 for windows to display the various characteristics of the study subjects including age,sex, stroke onset, type of ischemic stroke, first and seventh day NIHSS score, and the degree ofhemiparesis. The relationship between hyperthermia and clinical deterioration tested with Chi-squaretest. The results obtained were statistically significant (RR= 8.01; 95%CI= 3.02 to 21.25; P<0.0001).Itwas concluded a 72-hour hyperthermia as a predictor of clinical deterioration of acute ischemic strokepatients during treatment measured with NIHSS. [MEDICINA 2015;46:104-11].
SUBACUTE CUTANEOUS LUPUS ERYTHEMATOSUS PADA PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Widiawati, Sayu; Karmila, IGAA. Dwi
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.018 KB)

Abstract

Lupus eritematosus (LE) merupakan penyakit autoimun dengan variasi klinis luas dari manifestasiterbatas pada kulit hingga sistemik. Cutaneous lupus erythematosus yang spesifik dibedakan menjadiacute cutaneous lupus eryhtematosus, subacute cutaneous lupus eryhematosus (SCLE), dan discoid lupuserythematosus. Deteksi dini penyakit masih merupakan tantangan, karena LE dikenal sebagai “thegreat imitators”. Kasus, perempuan, usia 8 tahun dengan riwayat bercak merah pada wajah, danpunggung, disertai demam berulang. Lesi kulit berupa makula dan papul yang berkembang menjadilesi papuloskuamosa dan beberapa lesi anular. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan pola reaksilikenoid sesuai SCLE. Pada kasus juga memenuhi kriteria sebagai lupus eritematosus sistemik.Penatalaksanaan meliputi terapi definitif berupa kortikosteroid sistemik dan topikal, terapi suportif,simtomatis, dan pada kasus didapatkan respon terapi yang baik. [MEDICINA 2015;46:130-4].Lupus erythematosus (LE) is an autoimmune disease that has wide range clinical variation, fromlimited to the skin until systemic manifestation.There are three form of spesific cutaneous lupuserythematosus; acute cutaneous lupus eryhtematosus, subacute cutaneous lupus eryhematosus (SCLE),and discoid lupus erythematosus. Early detection of LE is still challenging consider LE known as”thegreat imitators”. Case, 8 years old girl, with a red patch on her face, back and extremities, accompaniedby recurring fever. Skin lesion present as erythematous maculae and papule, that evolve intopapulosquamous lesion and few with anular shape. Histopathology examination show lichenoid reactionreveal SCLE. The patient also meet the ACR’s criteria for the classification of SLE. Therapy givenweredefinitive therapy including systemic and topical corticosteroid, suportif and symptomatic therapyalso. The case show good response to these therapy. [MEDICINA 2015;46:130-4].
ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM TIPE CU T 380 A SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA ANEMIA DEFISIENSI BESI DAN LESI SERVIKS Yudasmara, I Putu Kusuma; Suwiyoga, Ketut; Mayura, I Gusti Putu Mayun
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.706 KB)

Abstract

Desain penelitian adalah case-control analitik untuk mengetahui risiko terjadi anemia defisiensi besidan lesi serviks pada akseptor AKDR tipe Cu T 380 A pada pemakaian minimal 1 tahun. Penelitiandimulai pada tanggal 1 Juli2011 sampai 15 Juli 2014 di RSUP Sanglah. Sampel penelitian adalahwanita usia reproduktif yang datang ke RSUP Sanglah Denpasar,memenuhi kriteria inklusi daneksklusi, diambil secara consecutive sampling. Pada sampel dilakukan pengambilan sampel darahuntuk diperiksa kadar profil besi dengan teknik ELISA di laboratorium RSUP Sanglah. Uji analisiskomparatif dengan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan pemakaian AKDR tipe Cu T 380 Amerupakan faktor risiko terjadinya anemia sebesar 4 kali (RO = 4,80; IK 95% = 1,04 sampai 22,10; P=0,036) dibandingkan tidak memakai AKDR tipe Cu T 380 A, dan pemakaian AKDR tipe Cu T 380 Amerupakan faktor risiko terjadinya lesi serviks sebesar 7 kali (RO = 7,65; IK 95% = 1,37 sampai 42,71;P =0,012) dibandingkan tidak memakai AKDR tipe Cu T 380 A. Simpulan dari penelitian adalahterdapat peningkatan risiko terjadi anemia defisiensi besi dan lesi serviks pada akseptor AKDRtipeCu T 380 A minimal 1 tahun. [MEDICINA 2015;46:82-5].Case-control analytic study at the Obstetrics and Gynaecology Department of Sanglah Hospital wasconducted on Jully 1. 2011 until Jully 15. 2014. Samples were obtained from women who werereproductive age and attended Obstetrics Gynecology Outpatient clinic of Sanglah Hospital, Denpasar.Samples were selected based on the consecutive sampling of the accessible population after fulfilledthe inclusion and exclusion criteria. Peripheral blood sampling of haemoglobin and profile iron levelconducted by ELISA technique at Prodia laboratory and done gynecology examination at ObstetricsGynecology Outpatient clinic of Sanglah Hospital to obtained cervical lession. Data was statisticallyanalyzed comparative test with the Chi-Square. The result of this study were the risk of iron deficiencyanemia in IUD Cu T 380 A acceptor group was four times greater than the non-acceptor group[OR =4.80; 95% CI = 1.04 to 22.10; P =0.036], while the risk of cervical lession in IUD Cu T 380 A group wasseven times greater than non-acceptor group [OR = 7.65; 95% CI = 1.37 to 42.71; P =0.012].We wereconclude that risk of iron deficiency anemia was four times greater and cervical lesions was seven timesgreater after IUD type Cu T 380 A application. [MEDICINA 2015;46:82-5].
PERANAN ESTROGEN RECEPTOR PADA KARSINOGENESIS ORGAN TIROID Widhiasih, Ni Ketut Ari; Dewi, I Gusti Ayu Sri Mahendra
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.421 KB)

Abstract

Lesi tiroid, baik itu lesi neoplastik maupun nonneoplastik dua hingga empat kali lebih sering ditemukanpada perempuan dibandingkan dengan lelaki. Puncak insidens karsinoma tiroid terjadi lebih awalpada pasien perempuan, sehingga diduga hormon pada perempuan turut mengatur karsinogenesisorgan tiroid.Hormon estrogen mempengaruhi regulasi proliferasi sel dengan jalan berikatan denganreseptor spesifiknya. Estrogen receptor diekspresikan oleh sel folikel, dan ditemukan baik pada jaringantiroid neoplastik maupun nonneoplastik. Estrogen juga memiliki efek yang tidak langsung pada jaringantiroid, dengan meningkatkan thyroxine binding globulin. Aksi dari estrogen receptor dalam mempengaruhiproliferasi sel tiroid dimediasi melalui aktivasi jalur transduksi sinyal MAPK/ERK, PI3K, regulasisiklus sel cyclin D1, faktor transkripsi c-fos, dan jalur apoptosis Bcl2/Bax. [MEDICINA 2015;46:112-8].Thyroid lesions, both neoplastic and nonneoplastic are about two until four times more frequent infemale than male. The peak incidence of thyroid carcinoma occurs earlier in female patients, thereforethe expected hormone in female also regulate thyroid organ carcinogenesis. The estrogen hormoneaffect the regulation of cell proliferation by binding to it’s specific receptor. Estrogen receptor is expressedby follicular cell, and found in both neoplastic and nonneoplastic thyroid tissue. Estrogen also has anindirect effect on thyroid tissue, by increasing thyroxine binding globulin.Action of estrogen receptor ininfluencing thyroid cell proliferation mediated by activation of the MAPK/ERK, PI3K signal transductionpathways, cyclin D1 cell cycle regulation, c-fos transcription factor, and Bcl2/Bax apoptosis gen cellline. [MEDICINA 2015;46:112-8].
KEMATIAN JANTUNG MENDADAK PADA WANITA UMUR 37 TAHUN DENGAN MIOKARDIOPATI HIPERTROFIK VAKUOLAR Armerinayanti, Ni Wayan; Sumadi, I Wayan Juli; Mulyadi, Ketut
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.533 KB)

Abstract

Kematian mendadak pada orang dewasa merupakan dasar masalah melakukan bedah mayat untukmencari penyebab kematian. Kasus seorang wanita umur 37 tahun ditemukan mati di dalamkamarnya, mayat dalam keadaan kaku, terdapat lebam mayat dan resapan darah subkutis kepala.Bedah mayat dilakukan di Rumah Sakit Kupang menemukan paru, otak, hati tidak menunjukkankelainan, sedangkan jantung dengan miokardium ventrikel kiri tebalnya 2 cm. Pada pemeriksaanhistopatologi jantung, sel-sel miokardium membengkak, mengandung vakuola jernih, inti sel terdesakke pinggir, tidak terdapat nekrosis, perdarahan, penebalan dari pembuluh darah, dan infiltrat neutrofil,pada pewarnaan periodic acid schiff menunjukkan hasil yang negatif. Pada pemeriksaan otak tidakdapat dibuktikan adanya penimbunan glikogen pada sel-sel glia. Berdasarkan temuan patologidisimpulkan kelainan tersebut adalah miokardiopati hipertrofik vakuolar tipe kardiak stadium IIIyang mengakibatkan kegagalan jantung atau aritmia sebagai penyebab kematian. [MEDICINA2015;46:135-8].Sudden death of adult people is a basic reason to do the autopsy to define exactly the causa of mortis.A case of a 37 year old woman found dead in her room and her deadly body has already in rigor and livormortis, also with blood spot on subcutaneous part of the head. The autopsy was held in general hospitalof Kupang, and there was no disorders found in the lung, brain, hepar, and the thickness of left myocardiacventrikel of heart is 2 cm. On histologic examination of heart specimen, myocardiac cells were swollen,with clear vacuolar, the nuclei displaced to periphery, there was no necrosis, haemorrhagic, thickeningof vascular, and neutrophil infiltrate. Periodic acid schiff staining has showed negative result. Therewas no evidence of glycogen storage on glial cells in brain examination. Based on pathologic finding weconcluded that the disorder was vacuolar hypertropic cardiomyopathy, cardiac type, stage III causingheart failure or arrhythmias as the causa of mortis. [MEDICINA 2015;46:135-8].
KEJADIAN RETINOPATI DIABETIK PADA PASIEN DIABETES MELLITUS Suryathi, Ni Made Ari; Budhiastra, I Putu; Jayanegara, I Wayan Gede; Widiana, I Gede Raka
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.282 KB)

Abstract

Retinopati diabetik adalah salah satu komplikasi mikrovaskular dari diabetes melitus (DM).Komplikasi ini terjadi karena hiperglikemia pada pembuluh darah dalam jangka waktu yang lama.Retinopati diabetik adalah penyebab kebutaan terbanyak setelah katarak. Retinopati diabetik terbagimenjadi retinopati diabetik proliferatif (RDP) dan retinopati diabetik nonproliferatif (RDNP). Penelitianini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien retinopati diabetik pada pasien diabetes mellitus.Penelitian ini adalah penelitian diskriptif yang dilakukan di RSUP Sanglah dan RS Indera, Denpasardari bulan Oktober 2014 sampai dengan Januari 2015. Pada penelitian ini, didapatkan 123 pasienDM, yang terdiri dari 66 laki-laki dan 57 perempuan, rerata umur adalah 56,30 (SB 8,16) tahun danrerata menderita DM selama 9,11 (SB 3,42) tahun. Dari 123 pasien, didapatkan 60,16% pasienmengalami retinopati. Pada kelompok RDP ditemukan lama menderita DM lebih lama (9,72 (SB3,92) vs 8,50 (SB 2,92)) tahun, hemoglobin glikosilat yang lebih tinggi (9,40 (SB 2,17) vs 7,06 (SB1,97))%, rerata umur 56,00 (SB 7,60) tahun dan laki-laki mendominasi kelompok ini (51%). Simpulanpenelitian ini adalah lebih dari 50% pasien DM pada penelitian ini mengalami retinopati dengankadar hemoglobin glikosilat lebih dari 7%. [MEDICINA 2015;46:86-91].Diabetic retinopathy is one of microvascular complication on Diabetes Mellitus (DM). This complicationcauses by hyperglycemia on retinal blood artery and vein during long periods of time. Diabeticretinopathy is the second causes of blindness after cataract. It consists of Non Proliferative DiabeticRetinopathy (NPDR) and Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR). This study has aimed to identifythe characteristics of retinopathy in DM patients. This was descriptive study which had conducted inSanglah and Indera Hospital Denpasar Bali, from October 2014 until January 2015. 123 patients DMwere included, consisted of 66 males and 57 females, with average of age was 56,30 (SD 8,16) years,average of duration diabetes was 9,11 (SD 3,42) years. Among those patients, 60,16% hadretinopathy.Those who had PDR tend to have longer duration of diabetes (9,72 (SD 3,92) vs 8,50 (SD2,92)) years, higher glycosilate hemoglobin (9,40 (SD 2,17) vs 7,06 (SD 1,97))%, average of age was56,00 (SD 7,60) years, and male dominance (51%). In conclusion, more than a half of diabetes in thisstudy has retinopathy with mean glycosilate hemoglobin more than 7%. [MEDICINA 2015;46:86-91].
GANGGUAN TINGKAH LAKU PADA ANAK Pradnyawati, Dewi; Ardjana, I Gusti Ayu Endah
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.632 KB)

Abstract

Gangguan tingkah laku pada anak merupakan gangguan perilaku yang bersifat negatif pada anakterhadap aturan dan lingkungan sekitar. Prevalens sering terjadi pada anak-anak dan remaja awal,lebih sering pada anak lelaki. Faktor biologis, faktor dari individu itu sendiri, dan faktor lingkungankeluarga merupakan penyebab dari gangguan tingkah laku. Diagnosis ditegakkan jika terpenuhi tigadari kriteria yang ada dan sudah berlangsung selama 12 bulan dengan paling sedikitnya satu kriteriamuncul dalam 6 bulan terakhir. Gejalanya pada anak-anak menyerupai gangguan pemusatan pikirandan hiperaktivitas, gangguan depresi, serta pemakaian zat terlarang. Terapi kognitif dan perilakumemberikan manfaat yang besar dalam penanganan gangguan tingkah laku didukung dengan terapikeluarga dan farmakologi menggunakan metylphenidate. Gangguan tingkah laku dapat berkembangmenjadi gangguan kepribadian anti sosial dan melakukan berbagai tindakan kriminal lainnya.[MEDICINA 2015;46:119-21].A behavior disorder in children is a disorder of children negative behavior to rule and the environmentsaround them. The most often prevalence is children and young teenager. Biological factors are their selfand family environment that can make the behavior disorders. The diagnosis is made if fulfilled threeof the existing criteria and has lasted for 12 months with at least one criterion appears in the last 6months. Symptoms in children resemble concentration and hyperactivity disorders, depressive disordersand the use of illicit substances. Cognitive and behavioral therapies offer significant benefits in thetreatment of behavioral disorders is supported by family therapy and pharmacological usemetylphenidate. Behavior disorder may develop into antisocial personality disorder and conduct variousother criminal acts. [MEDICINA 2015;46:119-21].
PENURUNAN JUMLAH LEUKOSIT SEBAGAI PREDIKTOR PERBAIKAN KLINIS PENDERITA STROKE HEMORAGIK SELAMA PERAWATAN Harkitasari, Saktivi; Nuartha, Anak Agung Bagus Ngurah; Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.154 KB)

Abstract

Prognosis penderita stroke hemoragik dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah jumlahleukosit. Berbagai penelitian menyatakan bahwa peningkatan jumlah leukosit sebagai prediktorperburukan klinis dan kematian pada penderita stroke hemoragik, tetapi sampai saat ini masihbelum jelas apakah penurunan jumlah leukosit setelah terjadi leukositosis dapat sebagai prediktorperbaikan klinis penderita stroke hemoragik. Penelitian ini menggunakan rancangan kohort prospektif.Subjek penelitian adalah penderita stroke hemoragik dengan awitan datang d”24 jam denganleukositosis saat masuk rumah sakit yang dirawat di Sanglah Denpasar. Kelompok yang mengalamipenurunan jumlah leukosit dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalami peningkatan atautanpa perubahan jumlah leukosit. Penilaian luaran klinis menggunakan perubahan skor NIHSS yangdinilai pada hari ketujuh. Total sebanyak 44 subjek dimasukkan dalam penelitian, 19 subjekmeunjukkan perbaikan skor NIHSS. Penurunan jumlah leukosit memiliki hubungan yang signifikandengan perbaikan klinis (RR=5,33; IK95%: 1,81 sampai 15,74; P<0,0001). Hasil penelitianmenunjukkan hanya penurunan jumlah leukosit memiliki hubungan yang independent dengan perbaikanskor NIHSS. Disimpulkan bahwa pada penderita stroke hemorgaik dengan leukositosis, penurunanjumlah leukosit dapat menjadi prediktor perbaikan klinis selama perawatan yang diukur denganskala NIHSS. [MEDICINA 2015;46:92-8].The prognosis of hemorrhagic stroke patients is associated with many factors, leucocyte count is one ofthem. Many studies indicated that elevated leucocyte count is a predictor for bad clinical outcome anddeath in patients with hemorrhagic stroke, however, there is remain unclear whether leucocyte reductionafter leucocytosis could be a predictor for better clinical outcome of patients with hemorrhagic stroke.Thisis a prospective cohort study. Subject were hemorrhagic stroke patients who were arrival time d”24hours onset with leucocytosis admitted in Sanglah hospital Denpasar. Group with leucocyte countreduction were compared with group leucocyte count elevation or without changing. Clinical outcomewere measured with NIHSS score changing at day 7.A total of 44 subjects were recruited, 19 of themhad better NIHSS score. Leucocyte count reduction was significantly associated with better clinicaloutcome (RR=5,33; 95%CI: 1,81 to 15,74; P<0,0001). Leucocyte count reduction was the onlyindependently associated with better NIHSS score. It was concluded that in hemorrhagic stroke patientswith leucocytosis, leucocyte count reduction could be a predictor for better clinical outcome duringhospitalization measured with NIHSS.[MEDICINA 2015;46:92-8].

Page 1 of 2 | Total Record : 13