cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
The Intergrowth of Gold Precipitation base on Drift Effect in Pongkor Gold Mine Nur Ali Amri; Abdul Aziz Jemain; Wan Fuad wan Hassan; Jatmika Setiawan
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTOne of semi-variogram modeling utilities in geology used to determine the control of mineralization. The paper discusses the existence of gold mineralization. The grade samples of gold (Au) were transformed into logarithmic function as base of variogram estimation. Parameter of fitting based on spherical weighted least squares. Eight directions used for estimation with angle tolerance of 11.25o. Several parameters obtained from calculation based on robust experimental function, four of them selected as reliable value. The drift effect occurs in Northeast-Southwest start at the lag distance of 325.05m, which has 32 samples of pair points. This drift direction is perpendicular from vein where Au distributed and indicated of Au mineralization.Keyword: Variogram, anisotropic geometry, drift effect, mineralization. ABSTRACTSalah satu kegunaan pemodelan variogram di dalam geologi adalah mengetahui kontrol mineralisasi. Tulisan ini mendiskusikan keberadaan mineralisasi. Sampel grade dari Au ditransformasi ke fungsi logaritma, sebagai basis estimasi variogram. Parameter fitting merujuk pada model weighted least squares fungsi sferis. Delapan arah digunakan dalam mengestimasi, dengan memanfaatkan toleransi jarak 11.25o. Atas dasar perhitungan fungsi eksperimental robust diperoleh beberapa parameter utama, empat di antaranya dipilih sebagai nilai yang reliabel. Informasi diperoleh bahwa efek drift terjadi pada arah Utara-Selatan yang dimulai pada jarak lag 325.05 m, di mana terdapat 32 pasangan sampel titik. Arah drift ini tegak lurus vein dimana Au terdistribusi dan mengindikasikan arah aliran mineralisasi Au.Keyword: Variogram, anisotropic geometry, drift effect, mineralization. 
Studi Injeksi Kimia Melalui Simulasi Reservoir: Kasus Pada Reservoir DI, Lapangan Rantau Yosaphat Sumantri; Joko Pamungkas; Petrus Claver Satrio Wibowo
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reservoir DI terletak di Lapangan Rantau yang telah berproduksi sejak 1930. Terhadap reservoir DI pernah dilakukan studi injeksi air menggunakan simulator black-oil IMEX tetapi hasilnya kurang baik. Dalam studi ini dilakukan simulasi injeksi kimia menggunakan simulator compositional STARS, untuk mengetahui seberapa besar injeksi kimia bisa meningkatkan recovery factor.Langkah-langkah dalam studi ini adalah: konversi model geologi dari simulator IMEX ke dalam simulator STARS, inisialisasi, history matching, dan PI matching sumur, dan prediksi dengan tiga skenario. Skenario I: injeksi air pada kompartemen A1, kompartemen B dan kompartemen C2. Skenario II: seperti Skenario I tetapi dilakukan penambahan polymer dengan beberapa harga pore volume (PV). Skenario III: seperti Skenario I tetapi dilakukan penambahan surfactant dengan beberapa harga PV.Analisis hasil prediksi menyimpulkan: 1) Skenario II, injeksi air ditambah dengan polymer sebesar 0,1 PV, laju injeksi 800 bbl/day dan tekanan injeksi 550 psia adalah skenario terbaik untuk kompartemen A1; 2) Skenario II, injeksi air ditambah dengan polymer 0,1 PV, laju injeksi 600 bbl/day dan tekanan injeksi 500 psia adalah skenario terbaik untuk kompartemen B; 3) Skenario III, injeksi air ditambah dengan surfactant sebesar 0,1 PV, laju injeksi 400 bbl/day dan tekanan injeksi 400 psia adalah skenario terbaik untuk kompartemen C2.Kata kunci: OOIP, recovery factor, injeksi air, injeksi kimia. AbstractReservoir DI located in Rantau Field that has been produced since 1930. There was water injection study using Black-Oil Simulator (IMEX) but the result was unsatisfied. Then, defining recovery factor improvement, the study is developed to chemical injection by using Compositional Simulator (STARS).The steps in this study are: the conversion of the geological model of simulator IMEX into the simulator STARS, initialization, history matching and PI matching of wells, and prediction with three scenarios. Scenario I: injection of water in the compartment A1, compartment B and compartment C2. Scenario II: Scenario I with addition of polymer in several pore volume prices (PV). Scenario III: Scenario I with addition of surfactant with several PV.The analysis predicted results concluded: 1) Scenario II, water injection plus polymer of 0.1 PV, injection rate of 800 bbl/day and injection pressure 550 psia is the best scenario for the compartment A1; 2) Scenario II, water injection plus 0.1 PV polymer, injection rate of 600 bbl/day and injection pressure 500 psia is the best scenario for the compartment B; 3) Scenario III, water injection plus 0.1 PV surfactant, injection rate of 400 bbl/day and an injection pressure of 400 psia is the best scenario for the compartment C2.  Keywords: OOIP, recovery factor, water injection, chemical injection.
Analisis dan Integrasi Data Log, Data Scal, Data Core, Data Uji Sumur, serta Data Produksi Untuk Mengetahui Harga Cut-Off Petrofisika dan Kontak Minyak-Air Lapangan Kejora (Cekungan Jawa Timur Utara) Sifa Fauzia; Bambang Triwibowo
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejora Oil Field is located approximately 20 kilometers northeast of Cepu, Bojonegoro regency, East Java. This field was matured, being first discovered in 1898 by Royal Dutch Shell, with more than 100 MMSTB of oil produced. The remaining oil is estimated to be around 18 MMSTB, based on existing data. This implies that the field is still promising to be developed. Advanced petrophysical analysis of the field, classified as a brown field, is necessary to ensure that its reserves amount is valid. Qualitative and quantitative analysis was performed using available data of Kejora Field. Qualitative and quantitative log interpretation was done by integrating log data, special core analysis (SCAL) data, core data, well test data, and production data (KJ P-01 and KJ P-04). Petrophysical modeling equivalence found in old wells (KJ P-01 and KJ P-04) was applied to new wells (drilled in 2013), namely KJ P-25 and KJ P-26. Petrophysical parameters, such as porosity cut-off (ø), shale volume (Vsh), and water saturation (Sw) of a well or oil/gas field, are required to determine the value of net pay (h). This “h” value is then used to evaluate the amount of hydrocarbon reserves. Cut-off analysis was performed on wells KJ P-25 and KJ P-26. The analysis result values of cut-off ø, Vsh and Sw are 0.125, 0.38, and 0.67 respectively. The oil-water contact in Kejora Field is defined as lowest known oil (LKO), based on outermost well test data on the trap edge of Kejora Field. Six values of LKO were obtained, as this field consists of six areas separated by faults. Keywords: cut-off, porosity, shale volume, water saturation, LKO  ABSTRAKLapangan Minyak Kejora terletak sekitar 20 kilometer sebelah timur-laut dari Cepu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Lapangan Kejora merupakan lapangan tua, ditemukan pada tahun 1898 oleh Royal Dutch Shell, dan telah menghasilkan minyak lebih dari 100 MMSTB. Dari data yang ada, masih tersisa minyak sekitar 18 MMSTB. Ini menyiratkan bahwa status lapangan masih menjanjikan untuk dikembangkan. Analisis petrofisika lanjutan pada lapangan dengan kategori brown field ini dibutuhkan, untuk mengkonfirmasi kebenaran angka cadangan. Analisis kualitatif dan kuantitatif petrofisika, dilakukan dengan  menggunakan data yang tersedia untuk Lapangan Kejora. Interpretasi kualitatif dan kuantitatif log dilakukan dengan integrasi antara data log, data special core analysis (SCAL), core, data tes sumur, serta data produksi yang tersedia dan lengkap (KJ P-01 dan KJ P-04). Ekuivalensi modeling petrofisik yang dijumpai pada  pada sumur lama (KJ P-01 dan KJ P-04), diterapkan pada sumur baru (tahun 2013) yakni sumur KJ P-25 dan KJ P-26. Determinasi parameter petrofisika seperti harga cut-off porositas (ϕ), volume shale (Vsh), dan saturasi  air  (Sw) dari  suatu  sumur atau lapangan  minyak/gas  bumi  perlu  ditentukan, untuk mengetahui besarnya netpay (h). Besaran “h” ini nantinya digunakan sebagai salah satu faktor penting untuk perhitungan cadangan hidrokarbon. Analisis cut-off dilakukan pada sumur KJ P-25  dan  KJ  P-26,  Lapangan  Kejora  dengan  hasil  dari  analisis  cut-off  ϕ,  Vsh,  dan  Sw berturut-turut  adalah 0.125,  0.38,  dan  0.67.  Kontak minyak-air  di  Lapangan  Kejora didefinisikan sebagai  minyak  terendah  yang  dapat  dikenali  (Lowest  Known  Oil/LKO),  yang  ditentukan berdasarkan data uji pada sumur terluar di tepi perangkap  Lapangan Kejora.  Terdapat 6 wilayah yang dibatasi oleh sesar pada lapangan ini, sehingga diperoleh 6 harga nilai LKO, sedangkan untuk resevoar N, O, P, P1 LKO ditentukan  berdasarkan sumur KJ P-25 dan KJ P-26. Kata-kata kunci: cut-off, porositas, volume shale, saturasi air, LKO
Aplikasi Seismik Attribut Untuk Mengidentifikasi Pola Sebaran “Stratigraphy Trap” Sebagai Reservoar Pada Formasi Pematang, Cekungan Sumatera Tengah Ardian Novianto; Eka Wisnu Irawan
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractPematang Formation in Central Sumatra Basin has the greatest potential in the presence of  hydrocarbons. This formation can serve as source rock and reservoir rock. Syn-rifting depositional pattern in the formation is a problem in the analysis of reservoir distribution. This pattern will form a complex stratigraphy so difficult in the analysis of reservoir distribution. The reservoir distribution in this area will be identified using several seismic attribute and controlled by well log. The data used in this study is the 3D Seismic and 8 wells were subsequently used in the manufacture of seismic attributes such as Inversion AI, reflection strength, attribute RMS and distribusi GammaRay use multiattribute analysis. The results of this study indicate that Pematang Formation can serve as the source rock and also serves as a reservoir rock in which deposits of hydrocarbons in the formation is greatly influenced by the fault and stratigraphy condition. Hydrocarbon accumulation is affected by stratigraphic traps (onlaping pattern) and structures trap due to the faults  in the study area.Keywords: reservoir, hydrocarbons, seismic, acoustic impedance, seismic attribute AbstrakFormasi Pematang pada Cekungan Sumatera Tengah mempunyai potensi yang besar terhadap kehadiran  hidrokarbon. Formasi ini dapat berfungsi sebagai source rock maupun sebagai reservoir rock. Pola pengendapan syn-rifting yang terjadi pada pembentukan batuan di Formasi ini menjadi permasalahan dalam analisa sebaran Reservoar . Pola ini akan membentuk Stratigraphy Trap yang komplek sehingga menyulitkan dalam analisa sebaran reservoir. Pola penyebaran reservoir pada area ini akan diidentifikasi menggunakan beberapa attribute seismic dan dikontrol oleh log sumur. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah Seismik 3D dan 8 sumur yang selanjutnya digunakan dalam pembuatan atribut seismik seperti Inversi AI, reflection strength, attribute RMS dan penyebaran GammaRay menggunakan multiattribute. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Formasi Pematang selain berfungsi sebagai source rock juga berfungsi sebagai reservoir rock dimana cebakan hidrokarbon pada formasi ini sangat dipengaruhi oleh struktur sesar dan kondisi stratigrafinya.  Akumulasi hidrokarbon dipengaruhi oleh perangkap stratigrafi berupa “onlaping” dan perangkap struktur akibat sesar-sesar pada area penelitian.Kata kunci : reservoar, hidrokarbon, seismik, Akustik Impedance, atribut seismik
Hidrogeologi Kawasan Cagar Budaya Gunung Penanggungan Puji Pratiknyo
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemetaan hidrogeologi Kawasan Cagar Budaya Gunung Penanggungan merupakan salah satu tindakan dalam rangka ikut melengkapi data kondisi kawasan cagar budaya. Dengan diketahui kondisi hidrogeologi kawasan cagar budaya dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam  mengelola kawasan cagar budaya.Metodologi yang dilakukan adalah dengan melakukan pemetaan hidrogeologi.  Data yang terkumpul diolahdan selanjutnya dilakukan analisa dan dibuat peta hidrogeologinya.Hasil yang didapatkan adalah di daerah penelitian terdapat 3(tiga) sistem akuifer,yaitu :sistem akuifer ruang antar butir,sistem akuifer antar butir dan rekahan, dansistem akuifer rekahan.Air tanah, secara umum, mengalir dari bagian Selatan menuju ke arah Utara dengan tinggi muka air tanah berkisar 16,28 – 167,62 meter dari permukaan air laut dengan kedalaman berkisar 0,46 – 11,93 m.Daerah imbuhan terdapat pada puncak hingga lereng bawah Gunung Penanggungan sedangkan daerah lepasan berada disebelah Utara dan juga di bagian tengah-Timur daerah penelitian atau di bagian lereng paling bawah Gunung Penanggungan sampai daerah dataran sepanjang alur sungai utama pada daerah pemetaan.Secara umum,kondisi fisik air tanah yang ada memenuhi persayaratan kualitas air minum.
EKSPLORASI GEOLOGI BIJIH BESI BERDASARKAN DATA GEOLISTRIK INDUKSI POLARISASI DAERAH NGOLONIO NUSA TENGGARA TIMUR Adi Candra; Fadlin Fadlin; Juan Pandu GNR
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTIron oxides are widespread in nature such as hematite (Fe2O3), magnetite (Fe3O4), ilmenite (TiO2 FeO), Geothite (FeO OH), limonite (FeO OH H2O), siderite (Fe2CO3), and other types. Extraction of iron oxides are used in industrial world of steel/iron which was increased in day to day. Geoelectric survey is one of the methods for studying subsurface conditions which recoreded by electrical properties of rock beneath the earth's surface that using geoelectric method modified induced polarization configuration that was conducted at Ngolonio Area, Nagakeo Regency, East Nusa Tenggara. Magnitude of induced polarization results was formed of a cross-2D and 3D model that pointed out information of iron ore distribution in the western and eastern part. Parameter test of iron ore in research area was resulted 100 to 500 ohm m for resistivity and >10 ms for the induced polarization which used for calcution of hypothetical resources. The number of resources is 14,568,866 m3 of 1,144,275 m2 area were observed to a depth of 113 m or 86.202 million m3 volume observed in western meanwhile in eastern area of 5,040,542 m3 of 366 750 m2 area were observed to a depth of 113 or 27.6285 million m3 by using a density rock 4 g/cm3. Lithological interpretation of magnitude parameters on resistivity and induced polarization was pointed out that geological conditions made sense and it could be used for consideration of iron ore exploration in future. keyword : iron ore, geoelectricity, induced polarization, resources ABSTRAKBesi pada umumnya berbentuk oksida besi seperti hematit (Fe2O3), magnetit (Fe3O4), ilmenit (FeO TiO2), Geotit (FeOOH), Limonit (FeO OH H2O), Siderit (Fe2CO3), dan jenis batuan besi lainnya. Besi digunakan dalam dunia industri baja/besi dimana kebutuhannya semakin setiap tahun. Geolistrik merupakan salah satu metoda penyelidikan kondisi bawah permukaan dengan mempelajari sifat listrik pada batuan di bawah permukaan bumi. Penelitian ini dilakukan di Daerah Ngolonio dan Sekitarnya, Kabupaten Nagakeo, Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan metoda geolistrik konfigurasi induksi polarisasi. Hasil pengukuran resistiviti induksi polarisasi berupa penampang 2D dan blok model 3D yang memberikan informasi mengenai sebaran bijih besi pada bagian barat dan timur. Hasil uji parameter untuk bijih besi 100 sampai 500 ohm m untuk resistivitas dan > 10 ms untuk induksi polarisasi. Besarnya sumberdaya untuk daerah bagian barat sebesar 14.568.866 m3 dari 1.144.275 m2 luas area yang diamati hingga kedalaman 113 atau 86.202.000 m3 volume area yang diamati. Sedangkan untuk bagian daerah timur sebesar 5.040.542 m3 dari 366.750 m2 luas area yang diamati hingga kedalaman 113 atau 27.628.500 m3. Interpretasi litologi hasil pengukuran parameter menunjukkan kecocokan dengan kondisi geologi secara umum daerah penelitian dan dapat digunakan untuk bahan pertimbangan tahapan eksplorasi bijih besi lebih lanjut. kata kunci : bijih besi, geolistrik, induksi polarisasi, sumberdaya 
Geologi dan Studi Paleokeologi Berdasarkan Fosil Moluska Pada Formasi Cemoro di Daerah Ngebung dan Sekitarnya Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah Adhitya Fakhrul Hidayat; Ediyanto Ediyanto; Achmad Subandrio
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah telitian secara administrasi di daerah Ngebung dan sekitarnya, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak di koordinat X: 480000–487000 dan Y: 9174000–9182000 UTM. Stratigrafi daerah penelitian terdiri atas delapan satuan litostratigrafi tidak resmi dengan urutan dari tua ke muda adalah satuan batulempung-karbonatan Puren (Miosen Akhir-Pliosen Awal), satuan breksi vulkanik Cemoro (Plistosen Awal) tidak selaras di atas satuan batulempung-karbonatan Puren, satuan batulempung-karbonatan Cemoro (Plistosen Awal) selaras di atas satuan breksi vulkanik Cemoro, satuan batupasir vulkanik Bapang (Plistosen Awal-Tengah) menumpang selaras di atas satuan batulempung-karbonatan Cemoro, satuan breksi vulkanik Pohjajar (Plistosen Tengah) menumpang selaras di atas satuan satuan batupasir vulkanik Bapang, satuan mud vulcano (Plistosen Akhir) mengintrusi satuan yang lebih tua sebelumnya, dan satuan Endapan Aluvial (Holosen) yang menumpang tidak selaras di atas batuan yang lebih tua. Berdasarkan analisa paleokeologi dari data sedimentologi, pola sebaran fosil moluska dan asosiasi fosil moluska dari Formasi Cemoro menghasilkan 4 model paleoekologi, terdiri dari Brackish Coastal River, Brackish River, Coastal dan Swamp Pond. Ekosistem purba daerah telitian diinterpretasikan seperti bird foot delta. Kata Kunci: Paleoekologi, Moluska, Ekosistem ABSTRACTThe research area is located in the administrative area and surrounding Ngebung, Kalijambe, Sragen, Central Java Province. Geographically located at the coordinates X: 480000-487000 and Y: 9174000-9182000 UTM. Stratigraphy study area consists of eight units of litho not authorized to order from old to young is a Puren  carbonate claystone (Late Miocene-Early Pliocene), Cemoro vulcanic breccias (Early Plistosen) unconformity at the top of Puren carbonate claystone, Cemoro carbonate claystone (Early Plistosen) conformity on top of the Cemoro vulcanic breccias, Bapang  vulcanic sandstone (Early-Middle Plistosen) conformity on top of the Cemoro  carbonate claystone, Pohjajar vulcanic breccias (Plistosen Central) conformity on top of Bapang vulcanic sandstone, mud vulcano (Late Pleistocene) intruded older unit previously, and the unit Alluvial Deposition (Holocene) are unconformity on top of older rocks. Based on the analysis of the paleocology from sedimentology data, distribution patterns mollusc fossil and mollusc associations in Cemoro Formation get 4 Palaeoecology models, consist of Brackish Coastal River, Brackish River, Coastal and Swamp Pond. Ancient ecosystem on the research area interpreted of "bird foot delta". Key Word: Paleoecology, Mollusc, Ecosystem
Mineralisasi Dan Prospeksi Urat Polimetalik (Pb-Zn-Cu-Au) Daerah Bukit Pondok (Bekas Tambang Voc Tahun 1902) Tanah Tidung, Kalimantan Timur Fadlin Fadlin; Adi Candra
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDaerah penelitian merupakan jalur busur magmatik Kalimantan yang berumur paleosen-Tersier Tengah, yang secara regional merupakan jalur metalogenik (Metallogenic Province) sehingga sangat menarik utnuk dilakukan kajian keberadaan potensi logam. Tujuan penelitian yaitu untuk mempelajari karakteristik mineralisasi endapan logam serta akhirnya memberikan informasi kepada pemerintah setempat mengenai endapan logam yang ada di daerah studi, sehingga pemerintah dapat meningkatkan pendapatan daerah, diantaranya dengan mengoptimalkan sumberdaya mineral yang ada. Metode penelitian yang dilakukan yaitu pemetaan geologi permukaan yang dikonsentrasikan pada pemetaan urat untuk menentukan orientasi serta geometrik urat yang berkembang di daerah penelitian dan juga dilakukan random sampling pada urat maupun batuan samping untuk dilakukan analisis geokimia dengan metode AAS (Fire Assay) di Laboratorium Intertek. Daerah penelitian tersusun oleh satuan tuff klastika yang diterobos oleh intrusi dasit dan andesit. Mineralisasi di daerah ini cukup luas dan sangat intensif, hampir semua dapat ditemukan pada batuan samping. Alterasi hidrotermal pada daerah penelitian dibagi menjadi dua tipe utama meliputi: 1.) argilik alterasi (silika-mineral lempung ”kaolin”) dan 2.) propilitik, sedangkan mineralisasi bijih pada daerah penelitian berupa logam dasar Sfalerit (ZnS), galena (PbS) dan kalkopirit (CuFeS2) yang hadir pada urat quarsa maupun pada batuan samping yang termineralisasi. Urat kuarsa di daerah penelitian ini memiliki ciri-ciri berwarna coklat–putih susu, dengan ketebalan 5–600 cm. Tekstur urat yang berkembang yaitu banded, chalcedonic dan masive cockade breccia. Pola urat kuarsa pada daerah ini relatif berarah barat-timur dengan kedudukan strike berkisar N270°E – N300 dan dip rata-rata > 60o. Hasil analisis geokimia (AAS-Fire Assay) urat kwarsa dan batuan menunjukan kehadiran unsur logam dasar (Pb, Zn dan Cu) serta logam mulia (Au dan Ag) yang cukup menarik terutama pada daerah Bukit Pondok yang pernah dilakukan penambangan oleh Belanda tahun 1902. Kata kunci : Mineralisasi, Polymetallic vein, eksplorasi, logam dasar, Bukit Pondok. ABSTRACTThe research area is one of a trajectories Borneo magmatic arc (Paleocene-Middle tertiary) that is regionally  occupied as Metallogenic Province so that much more fascinating for study of metal occurence. The aim of this reaearch is take up characteristic of mineralization and providing insight for local goverment about the resources of metal that it can be increased a local revenue such as optimalization of existing mineral resources. The method of research based on geological surface mapping in particular vein mapping for determining orientation and geometric of veins that also conducted random sampling in both the veins and wall rock which figure out geochemical characteristics by Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) method at Intertek Laboratory. Litology of research area composed by clastical tuff that intruded by dacite and andesite intrusion. Mineralization in this area is ample and intensely that was found on the wallrock. Hydrothermal alteration can be divided into 1) argillic (silica-clay “kaolin”) and 2) prophylitic meanwhile the ore mineralization was formed by Sphalerite (ZnS), Galena (PbS) and Chalcopyrite (CuFeS2) that have presently in both on quartz veins and wallrock mineralization. Quartz characteristics is brown and pale white, 5-600 cm in thickness. Veins texture are banded, chalcedonic and massive cockade breccia. The pattern of quartz vein is relatively directed east-west with strike N270° E - N300°E and dip >60°. The results of geochemical analysis was pointed out both quartz veins and rocks that are shown elements of basic metals (Pb, Zn and Cu) and precious metals (Au and Ag) particularly at Bukit Pondok area that was mined in 1902 by Dutch. Keywords: mineralization, polymetallic vein, exploration, base metal, Bukit Pondok.
Analisis Kestabilan Lereng untuk Meminimalisir Resiko Bencana Tanah Longsor di Lembah Cerorong, Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat Bedy Fara Aga Matrani; Sari Bahagiarti Kusumayudha; Purwanto Purwanto
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembah Cerorong, a valley which located in the Pringgarata district of Central Lombok regency is a landslide-prone zones. In 1994, there occurred the first avalanche that initially generate the valley.Until 2014 avalanches had been persisted, resulting in widening of the valley and creating steep slopes. The landslide-prone area is situated about 30 meters from a settlement location. Therefore, this zone is potential to threathening the safeness of people living near by the area. Landslide occurrences are caused by the inbalance of stresses acting on such a slope. Factors that contribute to the stability of Lembah Cerorong are slope inclination, lithology, hydrogeology and rainfall. One factor that plays an important role in the occurrence of landslide is the rising of groundwater level in soil during rainy season. Some slope in the study area reach ± 80ᵒ, while the type of avalanche belongs to rotational slide. From the computation using software Slope / W, it is obtained that the safety factor of slope 1 = 0.738 to 0.757; slopes 2 = 0.901 to 0.915; slope 3 = 0.875 to 0.901. This shows that all the slopes are unstable. Countermeasures can be done to reduce the risk of avalanche is lowering and benching the steep slopes, and then recalculate the safety factor of the slope with software Slope / W. Recalculation results that safety factor of slope 1 = 1.626 to 1.827; slope 2 = 1.759 to 2.205 and the slope 3 = 1.245 to 1.331. This proves that after doing remediation, all the slopes are in stable condition. In addition to increase the slope stability, it can be done by constructing gabion wire containing rocks at the foot of the slopes, and plantation around the slopes.Keywords: landslide, causative factor, slope stability, countermeasure AbstrakLembah Cerorong yang terletak di Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah merupakan zona rawan longsor. Pada tahun 1994, terjadi longsoran pertama yang merupakan awal dari pembentukan lembah. Sampai dengan tahun 2014 longsoran demi longsoran terus berlanjut, sehingga menyebabkan lembah semakin luas dan membentuk lereng-lereng yang terjal. Daerah rawan longsor ini berjarak sekitar 30 meter dari lokasi pemukiman. Oleh sebab itu daerah ini sangat berpotensi untuk membahayakan keselamatan penduduk yang bermukim di dekatnya. Peristiwa tanah longsor terjadi akibat tidak seimbangnya tegangan yang  bekerja pada suatu lereng. Faktor-faktor yang berperan pada kestabilan lereng lembah Cerorong antara lain kelerengan, litologi, hidrogeologi dan curah hujan. Salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam terjadinya longsoran adalah meningkatnya kadar air di dalam tanah pada saat musim hujan. Kemiringan lereng pada daerah penelitian mencapai  ± 80ᵒ, sementara jenis longsoran termasuk tipe rotasi. Dari hasil perhitungan menggunakan software Slope/W didapatkan faktor keamanan lereng 1 = 0,738 - 0,757; lereng 2 = 0,901 – 0,915; lereng 3 = 0,875 – 0,901. Hal ini menunjukkan bahwa semua lereng dalam kondisi labil.Upaya penanganan yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko longsor pada lembah Cerorong adalah pelandaian serta pembuatan benching pada lereng yang terjal, selanjutnya menghitung kembali faktor keamanan lereng dengan software Slope/W. Hasilnya didapatkan faktor keamanan lereng 1 = 1,626 – 1,827; lereng 2 = 1,759 – 2,205 dan lereng 3 = 1,245 – 1,331. Hal ini membuktikan bahwa setelah dilakukan perbaikan, semua lereng dalam kondisi stabil. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kestabilan lereng yaitu dengan pemasangan bronjong kawat berisi batu pada kaki lereng, serta penanaman pepohonan di sekitar lereng.  Kata kunci: longsoran, faktor penyebab, kestabilan lereng, penanggulangan.
Prediksi Terjadinya Scaling Berdasarkan Analisa Output Curve Pada Sumur Panas Bumi Dewi Asmorowati
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor penting di dalam pengoperasian suatu lapangan panas bumi adalah keberlanjutan produksi dan masalah-masalah yang mempengaruhinya. Masalah-masalah yang sering muncul disuatu lapangan panas bumi adalah scaling, korosi dan problem mekanis. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperkirakan adanya masalah di sekitar lubang sumur hingga permukaan adalah metode analisa deliverability. Analisa dilakukan berdasarkan interpretasi data dan grafik deliverability yang pernah dilakukan oleh Grant. Dalam penelitian ini, data diambil dari 3 sumur yang berbeda dari salah satu lapangan panas bumi di Indonesia. Dari hasil analisa sumur A, B dan C telah mengalami penurunan produksi. Output curve sumur A menunjukkan penurunan produksi sebesar 60-85%, yang disebabkan oleh perpindahan titik flashing. Perpindahan ini terlihat dari peningkatan nilai dryness dari 7-14% di tahun 1997 menjadi 13-15% di tahun 2010. Pada sumur B penurunan produksi yang terjadi sekitar 50%, yang disebabkan oleh penurunan tekanan reservoir. Penurunan tekanan reservoir terlihat dari penurunan tekanan pada feed zone yaitu 27 bar di tahun 1997 menjadi 20 bar di tahun 2010.  Sumur C juga menunjukkan penurunan produksi sebesar 29% yang disebabkan oleh pergerakan titik flashing.

Page 1 of 2 | Total Record : 15