cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Studi Kinerja Reservoir gas Konvensional dan Reservoir Coal bed Methane (CBM) Menggunakan Simulator Reservoir Suranto, Suranto
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Conventional reservoir gas known widely is reservoir which consists of cap rock, reservoir rock and gas. The trap of reservoir could be structure trap, stratigraphy, fault or combination of all the three. While the reservoir which produces coal bed methane (CBM) is  an isolated coal , has natural fracture and is filled with water. Basically these reservoirs (conventional and CBM gas reservoirs) have different characteristics, so the reserve calculation techniques, how to produce and its performance will also be different. Because of their background is different but produce the same hydrocarbon (gas), then need to be observed the performances of reservoir by using reservoir simulation. By assuming the same volume of each reservoir, then done a sensitivity characteristics of each model. This study resulted in that the CBM reservoir has a gas production rate is lower, the drainage area is smaller and less recovery factor when compared with conventional gas reservoirs. Due to the unconventional gas resources are increasingly depleted the reservoir CBM as an alternative to be developed after a conventional gas. ABSTRAKReservoir gas konvensional yang dikenal oleh masyarakat luas adalah reservoir yang  terdiri dari jebakan reservoir (cap rock), batuan reservoir dan isi (gas).  Perangkap bisa berupa perangkap struktur, stratigrafi, patahan atau kombinasi dari  ketiganya. Sedangkan reservoir yang menghasilkan gas methane batubara (Coal Bed Methane yang disingkat CBM) merupakan zona batubara yang terisolasi, memiliki rekahan alami dan terisi oleh air. Pada dasarnya reservoir reservoir tersebut (reservoir gas konvensional dan  CBM) mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga teknik perhitungan cadangan, cara memproduksikan dan kinerjanya akan berbeda pula.Disebabkan latar belakang yang  berbeda tetapi memproduksikan hidrokarbon yang sama (gas)maka perlu diamati kinerja reservoirnya menggunakan simulasi reservoir. Dengan mengasumsikan volume masing-masing reservoir  sama, selanjutnya dilakukan sensitivitas karakteristik reservoir terhadap masing-masing  model. Studi ini menghasilkan bahwa reservoir CBM mempunyai laju  produksi gas lebih rendah, daerah pengurasan lebih kecil dan recovery factor lebih sedikit  bila dibandingkan dengan reservoir gas konvensional. Dikarenakan sumber gas  konvensional semakin lama semakin menipis, maka reservoir CBM sebagai alternatif yang  perlu dikembangkan setelah gas konvensional. Keywords: Reservoir, konvensional, Coal Bed Methane, Gas, Kinerja.
Analisis “Alteration Box Plot” Terhadap Batuan Vulkanik Terubah, Studi Kasus Batuan Vulkanik Binangun, Jawa Timur DF Yudiantoro; Arif Rianto; Luvisola Agie; David Agus; Isao Takhasima
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah penelitian merupakan bagian dari Pegunungan Selatan Jawa Timur, sekaligus merupakan bagian dari jalur magmatisme Oligosen Akhir hingga Miosen Awal di Pulau Jawa. Batuan yang menyusun wilayah ini adalah batuan vulkanik sedimenter yang tersingkap cukup luas dan diterobos oleh beberapa intrusi. Pada umumnya batuan vulkanik tersebut telah banyak mengalami alterasi, sehingga sulit dikenali jenis batuan dan tatanan tektoniknya. Untuk itu perlu dilakukan analisis alteration box plot. Metodologi analitik yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis petrografi, analisis XRF (X-Ray Fluorescence), serta dilakukan pengolahan data dengan menggunakan analisis “alteration box plot”. Sampel batuan yang dianalisis menunjukkan jenis basalt, andesit dan riolit. Mineral plagioklas, piroksen, mineral opaq dan gelas vulkanik hadir secara umum pada basalt, andesit dan riolit.  Sedangkan hornblende dan K-felspar hadir pada riolit. Beberapa mineral primer menunjukkan telah mengalami ubahan hidrotermal menjadi klorit, kalsit, kuarsa, dan mineral lempung. Kehadiran mineral tersebut mempengaruhi komposisi unsur utama batuan. Hasil analisis geokimia menunjukkan, bahwa himpunan batuan vulkanik daerah penelitian merupakan produk aktivitas magmatisme busur kepulauan yang berafinitas tholeitik dan transisi antara tholeitik dan kalk-alkali.
Penentuan Kadar Timah (Sn) Plaser dan Mineral Penyertanya Pada lahan Bekas Tambang Berdasarkan Analisa Distribusi Besaran Butir Di Daerah Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Herry Riswandi; Dina Tania
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Determination of tin plaser and accompanying minerals can be determined by analysis of the grain size distribution, so as to know the level of the mineral wealth of tin ore cassiterite carrier element in the region of Central Bangka regency.The research area is located in the former mining areas of mechanical afforded by PT Timah, which has been declared unfit mine, and followed by the local community for traditional mined.This research method is the retrieval of rock samples in the observation location in the traditional mining area, for subsequent analysis in the laboratory by using a sifter based on the fraction of Tyler.From the analysis of rock samples showed the presence of the percentage content of mineral cassiterite tin as a carrier element along with minerals followers. Obtained varying levels until at levels of 25.49% cassiterite. Minerals that often arises is ilmenite, zircon, tourmaline, muscovite and quartz minerals, which its content can be greater than the mineral cassiterite.Keywords: Lead Levels Plaser, mineral cassiterite, Fraction Tyler, Mine Traditional ABSTRAKPenentuan kadar timah plaser dan mineral penyertanya dapat ditentukan dengan analisa distribusi besaran butir, sehingga dapat diketahui tingkat kekayaan mineral bijih kasiterit pembawa unsur timah di wilayah Kabupaten Bangka Tengah. Daerah penelitian berada pada daerah bekas lahan tambang mekanik yang diusahakan oleh PT Timah, yang sudah dinyatakan tidak layak tambang, dan dilanjutkan oleh masyarakat sekitar untuk ditambang secara tradisional. Metode penelitian ini adalah dengan mengambilan sampel batuan di lokasi pengamatan di area penambangan tradisional, untuk selanjutnya di analisa di laboratorium dengan menggunakan ayakan berdasarkan fraksi Tyler. Dari hasil analisa sampel batuan memperlihatkan keberadaan kandungan persentase mineral kasiterit sebagai pembawa unsur timah beserta mineral pengikutnya. Kadar yang didapatkan bervariasi sampai pada kadar kasiterit 25,49%. Mineral yang sering muncul adalah ilmenit, zircon, turmalin, muskovit dan mineral kuarsa, yang kandungannya dapat lebih besar dari mineral kasiterit.Kata Kunci: Kadar Timah Plaser, Mineral Kasiterit, Fraksi Tyler, Tambang Tradisional
PEMODELAN 3D RESISTIVITAS BATUAN ANDESIT DAERAH SANGON, KAB. KULONPROGO, PROVINSI DIY Wrego Seno Giamboro; Wahyu Hidayat
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemodelan 3 Dimensi (3D) batuan andesit telah dilakukan pada Daerah Sangon, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan menggunakan Metode Geolistrik. Penelitian ini menggunakan 5 (lima) lintasan geolistrik dengan panjang lintasan 290 m yang berorientasi Tenggara - Baratlaut. Model inversi resistivitas batuan dihasilkan dari Konfigurasi Dipole-Dipole yang memiliki akurasi yang baik untuk analisa struktur - struktur vertikal. Pemodelan 3D dihasilkan dari korelasi model 2 Dimensi (2D) resistivitas batuan yang mampu memberikan solid model sebaran batuan andesit. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa batuan andesit memiliki nilai resistivitas yang tinggi (>450 ohm.m) dengan kedalaman yang bervariasi antara 0-40 meter. Berdasarkan pemodelan 3D, diketahui bahwa batuan andesit tersebar hampir di seluruh daerah penelitian.
Identifikasi Biomarker Fraksi Aromatik Batubara Muara Wahau, Kalimantan Timur 2016 Basuki Rahmad; Komang Anggayana; Sri Widodo; Agus Haris Widayat
Jurnal Ilmu Kebumian Teknologi Mineral (JIK TekMin) Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research location in Wahau Muara District, East Kutai Regency, East Kalimantan Province. Geological setting of Muara Wahau located in the Kutai Basin Upper included in the Early Miocene Formations Wahau. Coal of Muara Wahau has a unique characteristic that inertinite abundant content with an average value of 20.1% with a low maturity (immature) with Rv (random) 0.40 to 0.44 including lignite rank.Coal samples taken from Seam-1 directly from drill core which drill hole GT-02. Intake of sample done by coring method with the preparation ply by ply based on lithotype appearance. Laboratory analysis of coal samples for organic geochemical analyzes conducted by Soxhlet extraction and then using column chromatography to obtain aromatic fractions.Picene derivatives such as 1,2,4a, 9-tetramethyl-1,2,3,4,4a, 5,6,14b-octahydropicene dominate with the highest concentration of 6509 mg / g TOC than other pentacyclic compounds in the aromatic hydrocarbon fraction Muara Wahau coal.The presence amyrin resulting from microbial degradation or the result of oxidative degradation in tropical climates and several derivatives amyrin typical of Muara Wahau coal one of which is a non-aromatic fraction hopanoid pentacyclic triterpenoids (picene) indicating Angiosperm plant origin. Picene presence implies that the formation of Muara Wahau coal still in the initial transformation during the first stage of diagenesis (early diagenetic) with the maturity level is low (immature). Keywords: picene; amyrin; oxidative degradation; tropis; angiosperm; immature. ABSTRAKLokasi penelitian terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur. Tatanan geologi daerah Muara Wahau berada di Cekungan Kutai Bagian Atas termasuk dalam Formasi Wahau berumur Miosen Awal. Batubara Muara Wahau memiliki keunikan yang khas yaitu kandungan inertinite yang berlimpah  dengan nilai rata-rata 20,1% dengan kematangan yang rendah (immature) dengan Rv (random) 0,40-0,44 termasuk peringkat lignite.Conto batubara diambil dari Seam-1 langsung dari inti bor yaitu lubang bor GT-02.  Pengambilan conto dilakukan dengan metode coring dengan preparasi ply by ply berdasarkan kenampakan lithotype. Analisa laboratorium conto batubara untuk analisis geokimia organik dilakukan dengan cara ekstraksi soxhlet kemudian menggunakan column chromatography untuk memperoleh fraksi aromatik.Turunan picene seperti 1,2,4a,9-tetramethyl-1,2,3,4,4a,5,6,14b-octahydropicene mendominasi dengan konsentrasi paling tinggi 6509 µg/g TOC dibanding senyawa-senyawa pentasiklik lainnya dalam fraksi hidrokarbon aromatik batubara Muara Wahau.Kehadiran amyrin yang dihasilkan dari microbial degradation atau akibat dari oxidative degradation di iklim tropis dan beberapa turunan amyrin yang khas dari batubara Muara Wahau salah satunya adalah fraksi aromatik non-hopanoid pentacyclic triterpenoid (picene) yang mengindikasikan tumbuhan asal angiosperm. Kehadiran picene mengimplikasikan bahwa pembentukan batubara Muara Wahau masih dalam transformasi awal selama tahap pertama diagenesis (early diagenetic) dengan tingkat kematangan yang masih rendah (immature). Kata kunci: picene; amyrin; oxidative degradation; tropis; angiosperm; immature.

Page 2 of 2 | Total Record : 15