cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
konversi@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Konversi
ISSN : 23023686     EISSN : 25413481     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
OPTIMIZATION OF RICE HUSK HYDROLYSIS TIME INTO FURFURAL ASSISTED BY MICROWAVE Marinda Rahim; Arief Adhiksana; Mina Indriani
Konversi Vol 8, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v8i2.7013

Abstract

Rice production in East Kalimantan is quite high. In the process of milling usually rice husk obtained is about 20-30% from grains weight produced. The quite potential amount of rice husk  has not yet widely utilized, even though rice husk contains pentosan which can be processed into furfural by hydrolysis method.  The purpose of this research is to develop one step hydrolysis technique of rice husk into furfural  with  microwaves assistance to obtain the optimum time which can produce maximum furfural. In  this research 50 grams of rice husk was added with 500 mL of H2SO4 1% as the catalyst. The mixture was then hydrolyzed using microwave-assisted method with a time variety of 15, 30, 45, 60, 75, 90, 105 and 120  minutes.  The result of analysis by Gas Chromatography (GC) showed that the highest result of furfural was at 90 minutes with a yield of 2.923%.
PENINGKATAN KADAR GLISEROL HASIL SAMPING PEMBUATAN BIODIESEL DENGAN METODE ADSORPSI ASAM LEMAK BEBAS (ALB) MENGGUNAKAN FLY ASH Mardhiyah Nadir; Marlinda Marlinda
Konversi Vol 2, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v2i2.69

Abstract

Proses produksi biodiesel menimbulkan hasil samping crude glycerol sekitar 10% (w/w). Kadar gliserol dalam crude tersebut masih rendah karena masih mengandung pengotor sehingga perlu pemurnian agar dapat dimanfaatkan untuk bahan baku industri, misalnya industri obat dan kosmetika. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemurnian crude glycerol dengan metoda adsorpsi menggunakan fly ash dan menentukan kapasitas adsorpsinya. Data kesetimbangan adsorpsi asam lemak bebas dalam gliserol didekati dengan Model Langmuir dan Freundlich. Berat adsorben pada penelitian ini berturut- turut 2,5; 5,0; 7,5 dan 10 gram dengan waktu adsropsi bervariasi selama 40, 50, 60 , 70 dan 80 menit. Hasil pemurnian dianalisa kandungan asam lemak bebas dan gliserol. Kadar asam lemak bebas dapat teradsorpsi maksimum ketika pemurnian menggunakan 10 g adsorben selama 60 menit. Kapasitas maksimum adsorpsi sebesar 5,186x10-4 mmol/g. Berdasarkan nilai koefisien korelasi (R2) menunjukkan bahwa model Langmuir dan Freundlich cocok untuk penelitian ini. Kata kunci : adsorpsi, Crude glycerol, biodiesel, fly ash Crude glycerol is a byproduct of the production of biodiesel produced about 10% (w/w) of the weight of biodiesel . Crude glycerol still contains many impurities that cause low levels of glycerol into that utilization is not maximized . Purified glycerol widely used in several fields such as manufacture of drugs and cosmetic. Therefore, there needs to be a process of purification in order to obtain higher levels of glycerol . This study aims to perform the purification of crude glycerol to determine the method of adsorption and adsorption capacity of fly ash. Adsorption processes associated with the equilibrium adsorption performed at constant temperature (isotherms) to obtain the maximum adsorption capacity data. Langmuir and Freundlich models proposed to interpret the data of adsorption equilibrium of free fatty acids in the glycerol . This research was carried out by varying the mass of adsorbent 2.5g , 5.0g , 7.5g and 10g, and the adsorption time 40, 50, 60, 70 and 80 minutes. Purification of crude glycerol were analyzed using analysis of free fatty acids and glycerol analysis. The results showed that 10g Mass adsorbent and adsorption time of 60 minutes can reduce Free Fatty Acid (FFA) that glycerol levels increased . The maximum adsorption capacity of 5.186 x10- 4 mmol/g. Based on the value of the correlation coefficient (R2) indicates that the Langmuir and Freundlich models are suitable for this study. Keywords: adsorption, crude glycerol, biodiesel, fly ash  
PERBANDINGAN LIMBAH DAN LUMPUR AKTIF TERHADAP PENGARUH SISTEM AERASI PADA PENGOLAHAN LIMBAH CPO Febrina Rantifa Sari; Raudhah Annissa; Abubakar Tuhuloula
Konversi Vol 2, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v2i1.128

Abstract

Limbah cair kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan, proses klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah cair kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi seperti 34,20% ekstrak tanpa N (komposisi kimia) dan 13,19 % Glutamit Asam (komposisi asam amino)sehingga potensial mencemari air tanah dan badan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem aerasi pada limbah CPO dan lumpur aktif dalam bak aerasi sehingga didapat penurunan konsentrasi BOD5, COD dan pH effluen serta mengetahui variasi perbandingan volume antara limbah CPO dengan lumpur aktif (activated sludge) terhadap optimalisasi penurunan nilai konsentrasiBOD5, COD dan pH effluen.Pada penelitian ini, limbah cair CPO dan lumpur aktif dimasukkan kedalam bioreaktor dengan variasi perbandingan volume. Kemudian masing-masing bioreaktor diaerasi dengan menggunakan aerator dan dilakukan pengamatan sistem aerasi terhadap penurunan nilai BOD5, COD, dan pH nya dengan menggunakan lumpur aktif. Hasil analisa didapatkan nilai optimum terjadi pada bioreaktor C (8:2)v/v dimana perbandingan antara limbah CPO dengan penambahan lumpur aktif lebih sedikit, nilai BOD5 22,4 mg/L dari nilai awal 25,6 mg/L, nilai COD 42,5953 mg/L dari nilai sampel awal 65,77 mg/L begitu pula nilai MLSS dan MLVSS meningkat pada Bioreaktor C dari 52690 mg/L menjadi 71060 mg/L. Keywords: Waktu retensi, tangki Aerasi, Lumpur Aktif, Limbah cair,  BOD5, COD. Liquid waste crude palm oil derived from strilizer unit, clarification unit and exiles from hydrocyclone. Liquid waste from crude palm oil industry such as34.20% extractwithoutN(chemical composition) and13.19% Glutamitacid(amino acidcomposition)might potentially contaminate ground water and water bodies. This studyaimed todetermine the effect of aeration systemonCPOandwasteactivated sludge in theaerationbasinin order to get the concentrationdecreasedBOD5, CODandpH of theeffluentanddetermine variations inthe ratio betweentheCPOwasteactivated sludgetooptimize theconcentrationimpairmentBOD5, CODandeffluentpH.In this study, liquid wasteandsludgeCPOinserted into thebioreactorwith avolumeratiovariation.Then eachaeratedbioreactorsusingaeratorsandaerationsystemswas observedtodecrease invalue ofBOD5, COD, andpHby usingactivated sludge. Analysisresultsobtainedoptimumvalueoccurs inbioreactorC(8:2) v/vCPOwhere thecomparisonbetweenthe wasteactivated sludgewiththe addition ofa little more,BOD5value of22.4mg/Lfrom baseline25.6mg/L, COD42,5953mg/Lofinitialsamplevalue65.77mg/Las well asthe value ofMLSSandMLVSSincreased inBioreactorCof52 690mg/Lto71060mg/L. Keywords: retention time, aeration tank, Activated sludge,liquid waste,BOD5, COD
STUDI PERBANDINGAN SIMULASI PROSES PEMBAKARAN BATUBARA DAN VINASSE METODE NON-PREMIX COMBUSTION MODEL Bayu Triwibowo; Abdul Halim; Annie Mufyda Rahmatika
Konversi Vol 4, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v4i1.262

Abstract

Abstrak-Vinasse merupakan limbah dari industri gula dengan debit yang sangat besar sehingga harus diolah dengan berbagai metode. Salah satu alternatif metode yang dapat digunakan adalah pembakaran. Pembakaran merupakan reaksi kimia yang memproduksi panas dan dapat digunakan sebagai suplai energi untuk proses selanjutnya. Berdasarkan analisis proksimat dan ultimat, vinasse memiliki karakteristik yang hampir sama dengan batubara setelah mengalami proses evaporasi. Penelitian ini mempelajari perbandingan dari karakteristik pembakaran antara batubara dan vinasse sebagai bahan bakar yang dilihat dari aspek distribusi temperatur, distribusi spesies, dan vektor kecepatan. Proses pembakaran dijalankan dengan metode computational fluid dynamics (CFD) khususnya model pembakaran non-premix. Geometri dari ruang bakar yang digunakan adalah 84 x 5,2 m dengan kualitas ortogonal mesh yang digunakan mendekati 1 dan bentuk cell segiempat 100 persen. Simulasi pembakaran dijalankan dengan geometri 2D (dua dimensi) dengan udara sebagai oksidator. Hasil dari simulasi menunjukkan bahwa vinasse memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif karena lebih cepat terbakar dibandingkan dengan batubara serta karakteristik lain yang sedikit berbeda. Kata kunci : pembakaran, vinasse, batubara, CFD, non-premix Abstract-Vinasse as a sugarcane waste has large amount of debit that must be treated through various methods. One of the methods is combustion. Combustion is a chemical reaction that produced heat which is can be used as energy supply for further process. Vinasse according to proxymate and ultimate analysis has characteristic similar to coal after being evaporated. This paper is studied about the comparassion of combustion characteristic between vinasse and coal as a fuel in terms of temperature distribution, species distribution, and velocity vector. Combustion process conducted with computational fluid dynamics method especially non-premix combustion model. The geometry of furnace is 84 m x 5.2 m with the orthogonal quality of mesh is close to 1 and 100 percent of quad cells. The simulation of combustion process conducted in 2D (two dimensions) with air as oxydizer. The results of the simulation shows that vinasse were very potential to use as a fuel with quicker combustion compared to coal but with slightly different characteristic. Keywords : Combustion, vinasse, coal, CFD, non-premix
THE INFLUENCE OF THE PALM SUGAR MASS ON THE MAKING OF THE COMPOS FROM THE PALM OIL SALES WITH ANAEROBIC FERMENTATION METHOD USING EM-4 Ramli Ramli; Marlinda Marlinda
Konversi Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v6i2.4757

Abstract

Abstract- East Kalimantan, especially Kutai regency produces 1,112,442 tons/year of palm oil. Oil palm empty fruit bunches (EFB) are one of the wastes generated in the processing of palm oil that is equal to 20-23% of the fresh fruit bunches, so the amount of EFB that can be generated is 244,737.24 tons/year. The purpose of this study is to determine the effect of palm sugar as a nutrient to nutrient nitrogen EM4, phosphor and potassium in composting EFB. This research was conducted by varying the mass of Palm Sugar: 0.4000 g, 0.6000 g, 0.8000 g, 1.0000 g and 1.2000 g. The main composting process that was carried out by adding EM4 solution of 10 mL and 100 mL sugar solution into 200 grams EFB, letting it stand for 30 days, and after that the analysis was conducted. The total content of nutrients is highest on the mass of 1.2000 g palm sugar that is 3.174%. The conclusion of this study is the greater the mass of Palm Sugar is added, the greater the concentration of nutrients found in the composting by using bacterial EM4. Keywords: bio-activator EM4, palm Sugar, EFB.
OPTIMASI PROSES KOAGULASI MENGGUNAKAN CAMPURAN KOAGULAN ALUMINIUM SULFAT DAN POLY ALUMINIUM CHLORIDE (1:1) PADA PENGOLAHAN AIR SUNGAI TELLO Setyo Erna Widiyanti; Pabbenteng Pabbenteng; Eko Wardana Saputra; Andi Nurul Islamiati
Konversi Vol 8, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v8i1.6515

Abstract

Abstrak- Koloid dan padatan total tersuspensi (TSS) dalam air dapat dihilangkan dengan proses koagulasi dan flokulasi. Konsentrasi koagulan dan pH merupakan dua parameter terpenting dalam keberhasilan proses koagulasi dan flokulasi. Tujuan dari penelitian ini adalah optimasi pH proses koagulasi dan flokulasi menggunakan campuran koagulan Alum dan PAC (1:1) untuk menghilangkan TSS air sungai Tello. Sampel yang digunakan dari penelitian ini adalah Air Sungai Tello yang memiliki konsentrasi TSS awal 195 mg/L. Konsentrasi campuran koagulan Alum dan PAC (1:1) yang digunakan sebesar 25% dari konsentrasi TSS awal sampel. Kondisi proses koagulasi dan flokulasi yang digunakan adalah pengadukan cepat (koagulasi) dengan kecepatan pengadukan 350 rpm selama 1 menit, pengadukan lambat (flokulasi) dengan kecepatan pengadukan 50 rpm selama 20 menit, dan pengendapan selama 30 menit. Proses koagulasi dan flokulasi dilakukan pada kisaran pH 4-10 dan konsentrasi TSS dianalisa menggunakan metode Gravimetri. pH proses koagulasi dan flokulasi dan persen (%) removal TSS optimal pada pH 6 dengan persen (%) removal TSS sebesar 98,20%. Kata kunci: Alum, Koagulasi, PAC, pH, TSS 
PENGAMBILAN LOGAM Cr6+ DAN Cr TOTAL DARI LIMBAH INDUSTRI ELEKTROPLATING SECARA ELEKTROKOGULASI Muhammad Nizar Pahlevi; Agus Mirwan; Rahmi Triwulandari
Konversi Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v1i1.117

Abstract

Abstrak-Industri elektroplating adalah industry pelapisan logam dengan cara mengendapkan logam pelapis pada logam atau plastic yang dilakukan secara elektrolitik sehingga menghasilkan limbah yang mengandung logam berat. Elektrokoagulasi merupakan proses penggabungan gumpalan-gumpalan yang diakibatkan dari pengaliran arus listrik searah (DC) untuk pengambilan senyawa logam yang terdapat dalam limbah cair. Dalam proses ini akan terjadi reaksi reduksi dan oksidasi. Dimana logam akan tereduksi dan elektroda positif (Al) akan teroksidasi menjadi (Al(OH)3) yang berfungsi sebagai koagulan. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini untuk mempelajari metode elektrokoagulasi menggunakan elektroda aluminium serta pengaruh lama waktu pengadukan dan kecepatan pengaduk terhadap pengambilan kadar Cr6+ dan Cr total. Elektrokoagulasi ini mengolah limbah cair elektroplating dengan dialiri listrik supaya ion-ion yang ada pada limbah terserap oleh koagulan pengikat yang di lepaskan dari elektroda sehingga akan terjadi ikatan antara ion-ion logam dengan koagulan. Variasi kecepatan pengaduk yaitu 200, 400 dan 600 rpm, sedangkan lama waktu pengadukan 25, 50 dan 75 menit. Berdasarkan hasil uji, setelah dilakukan analisis menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan terhadap kadar Cr6+ dan Cr total dalam limbah elektroplating tersebut,. Untuk Cr6+ diperoleh penurunan sebesar 95,1% pada menit 50 dan kecepatan pengaduk 200 rpm, sedangkan Cr total diperoleh penurunan sebesar 82,69% pada menit 75 dan kecepatan pengaduk 600 rpm. Keywords: Elektroplating, Elektrokoagulasi, Elektroda aluminium Abstract-Electroplating industry is a metal coating industry by way of metal precipitate coatings on metal or plastic which is done so that the electrolytic waste containing heavy metals. Electrocoagulation is a process of merging clumps resulting from the flux of electrical current (DC) for the extraction of metal compounds contained in wastewater. In this process of reduction and oxidation reactions occur. Where the metal is reduced and the positive electrode (Al) will be oxidized to (Al (OH) 3) which serves as a coagulant. The purpose of this research to study methods of electrocoagulation using aluminum electrodes and the influence of the length of time stirring and stirring speed of decision-CR6+ levels and total Cr. This electrocoagulation electroplating wastewater with electricity so that the ions are absorbed by the coagulant in waste binder in the release of the electrode and causes the bond between the metal ions with coagulant. Variation of stirrer speed of 200, 400 and 600 rpm, whereas the long stirring time 25, 50 and 75 minutes. Based on test results, after an analysis showed a significant reduction of the levels of total CR6 + and Cr in the electroplating wastes. CR6+ to obtain a decrease of 95.1% at minute 50 and the stirrer speed of 200 rpm, whereas the total Cr obtained a decrease of 82.69% at minute 75 and a stirrer speed of 600 rpm. Keywords: Electroplating, electrocoagulation, an aluminum electrode 
MINYAK KULIT JERUK PAKIS SEBAGAI ESSENTIAL OIL DALAM PEMBUATAN SABUN: EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI Iryanti Fatyasari Nata; Yulia Nurul Ma'rifah; Herlina Herlina
Konversi Vol 3, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v3i2.162

Abstract

Abstrak- Kulit jeruk pakis (Citrus grandis) merupakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga, industri dan pertanian. Dengan proses distilasi kulit jeruk pakis dapat diambil minyaknya sebagai citrus oil yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sabun. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan rendemen dan mutu citrus oil dari bahan baku kulit jeruk pakis segar dan dikeringkan (40 oC, 6 jam) dengan metode water distillation. Massa kulit jeruk yang digunakan adalah 200, 300, 400 dan 500 gram diekstraksi selama 3 jam pada 100 °C. Rendemen minyak yang diperoleh untuk kulit jeruk pakis segar berturut-turut pada massa kulit jeruk 200, 300, 400 dan 500 gram ialah  0,888 %, 0,619%, 0,178% dan 0,239% sedangkan untuk kulit jeruk yang keringkan diperoleh rendemen berturut-turut 0,214%, 0,029%,0,074% dan 0,023%. Minyak yang dihasilkan dari kulit jeruk segar dan kering dianalisa dengan Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS) mengandung 82,136% limonen. Kulit jeruk pakis sebelum dan sesudah diekstraksi dianalisa dengan Scanning Electro Microscopy (SEM) dan X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan bahwa struktur permukaan setelah ekstrasi menjadi rusak dan struktur kristalinnya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Minyak yang dihasilkan selanjutnya direaksikan dengan NaOH 30% untuk menghasilkan sabun. Kadar pH sabun pada konsentrasi (w/v) 1%, 5% dan 10% dalam 100mL air berturut-turut sebesar 9, 10 dan 10 sedangkan kadar air dalam sabun yang diperoleh sebesar 37,25%. Kata Kunci: jeruk pakis, minyak kulit jeruk, water distillation, sabun Abstract- Pakis orange peel is one of wasted product from household, industry and agriculture activities. Pakis orange peel can be extracted by distillation as citrus oil. Furthermore, it can be used as essential oil in production of soap. The purposes of this research  is to compare yield and quality of citrus oil base on fresh and dried  pakis orange peel (40°C, 6 hours) by water distillation methode. The variation mass of orange peel was used  200, 300, 400 and 500 gram then was extracted  for 3 hours at 100°C. The yield of citrus oil from fresh pakis orange peel with weight 200, 300, 400 and 500 gram are 0,888%, 0,619%, 0,178% and 0,239%,  respectively. The dried pakis orange peel was produced citrus oil 0,214%, 0,029%, 0,074% and 0,023%, respectively. The citrus oilwas analyzed by Gas Chromatoghrapy Mass Spectrometry (GCMS) which was contained ca. 82,13% of limonene. Pakis orange peel before and after extraction analyzed with Scanning Electro Microscopy (SEM) and X-Ray Diffraction (XRD) were indicated the structure of surface area after extraction has become broken  and the sructure of crystalline structure was not significant changes. Furthermore, citrus oil obtained from extraction was reacted with 30% NaOH for soap production. The pH of soap at concentration 1%, 5% and 10% (w/v) in water  9, 10 and 10, respectively.  The water content in the soap about 37,25%. Keywords: pakis orange, orange peel oil, water distillation, soap
PENGARUH LARUTAN BENFIELD, LAJU ALIR GAS PROSES, DAN BEBAN REBOILER TERHADAP ANALISA KINERJA KOLOM CO2 ABSORBER DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR ASPEN PLUS V. 8.6 Bagus Kurniadi; Dexa Rahmadan; Gusti Riyan Febriyanto; Ari Susandy Sanjaya
Konversi Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v6i1.2760

Abstract

 Abstrak-Absorbsi adalah operasi pemisahan solute dari fasa gas ke fasa cair, yaitu dengan mengontakkan gas yang berisi solute dengan pelarut cair yang tidak menguap. Penerapan absorbsi dalam industri untuk mengambil suatu komponen dari campuran gas suatu produk reaksi, salah satu komponen yang sering dipisahkan adalah gas CO2. Pengurangan kadar CO2 dari aliran gas proses dapat menghindari poisoning katalis sintesis serta dapat mengurangi biaya operasi. Penentuan properties yang digunakan dalam simulasi program Aspen Plus v.8.6 adalah property ELECNRTL dan equilibirium vapour-liquid. Metode yang digunakan pada simulasi/penelitian ini adalah melakukan penentuan laju alir gas proses kolom absorber terdiri dari pengambilan data dan pengolahan data yang kemudian dilakukan simulasi. Tujuan dari simulasi ini adalah untuk mengetahui profil kadar keluaran CO2 pada kolom CO2 absorber pada kondisi aktual dibandingkan dengan data desain, yang ditinjau dari pengaruh konsentrasi larutan Benfield, laju sirkulasi larutan Benfield, laju alir dari gas proses, serta pengaruh reboiler duty pada kolom absorber. Berdasarkan hasilnya, keluaran gas CO2 dari absorber adalah 0,11% yang mana melebihi batas dari desain yaitu 0,1% dengan kondisi gas seperti ini, untuk meningkatkan kinerja dari absorber maka CO2 keluaran harus sama dengan batasan dari desain. Untuk mengatasi masalah ini, dengan cara meningkatkan konsentrasi  Benfield menjadi 29,8% dan menurukan laju alir gas proses. Penambahan beban reboiler pada absorber akan meningkatkan kadar CO2 keluaran absorber, sehingga penambahan beban reboiler pada absorber tidak perlu dilakukan. Kata kunci : Absorber, Konsentrasi Benfield, Laju Alir Gas Proses, Kadar CO2, Reboiler Duty, Aspen Plus Abstract-Absorption is the operation separation of solutes from the gas phase into the liquid phase, with contacting the gas which contains solute liquid with solvent that doesn’t evaporate. The application of absorption in the industry is taking a component from gas mixture to take reaction product, one of the component that frequently separated is CO2. Equity levels of CO2 from process gas stream can be avoid poisoning the catalyst synthesis as well as can be reduced the cost of operation. The property of simulation program Aspen Plus v.8.6 is ELECNRTL and equilibrium vapor-liquid. The method that used for this simulation or research is determination flow rate of process gas from column absorber based from base design data and working data which then simulated. The purpose from this simulation is to get knowing the profil level of exodus CO2 in CO2 column absorber in the actual condition which compare with design condition, which under review from effect of the concentration of Benfield solution, circulation flow of Benfield solution, flowrate from gas process, and effect from reboiler duty in column absorber. Based on the result, CO2 gas outlet from the absorber is 0.11% which exceeds the limit from design, that is 0.1% with this condition, to increase the performance of the absorber, the CO2 must have the same output from the limit of design.  To solve this problem, increasing the concentration of Benfield to 29.8% and lowering the gas flow rate. Adding reboiler duty in the absorber, it will increase the level of CO2 output from absorber, so adding reboiler duty in the absorber is not necessary. Keywords : Absorber, Benfield Concentration, Process Gas Flow Rate, CO2 Levels, Reboiler Duty, Aspen Plus
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF STARCH-BASED FUNCTIONAL EDIBLE FILM Aceng Lesti; Gita Cristy; Selly Agustina; Iryanti Fatyasari Nata
Konversi Vol 9, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v9i2.9320

Abstract

Abstrak-Pengemasan merupakan salah satu faktor penting yang diperlukan pada produk makanan. Jenis pengemasan yang sering digunakan adalah plastik, namun sifatnya yang nonbiodregadable akan memunculkan permasalahan baru. Oleh karena itu dikembangkan edible film, yang merupakan suatu kemasan primer ramah lingkungan serta dapat dimakan. Salah satu sumber daya alam lokal Kalimantan Selatan yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan edible film tersebut adalah ubi Alabio ungu dengan cangkang kulit telur sebagai produk limbah utama industri makanan yang dijadikan filler untuk bahan campuran penyusun edible film. Kombinasi penggunaan cangkang kulit telur ini karena penggunaan tunggal pada edible film seperti pati masih kurang baikSelain itu, penambahan ekstrak kelakai bertujuan untuk meningkatkan aktivitas antioksidan edible film. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penambahan filler pada edible film terhadap sifat fisik dan kimianya, serta penambahan bahan antioksidan untuk membuat edible film fungsional.Metode Penelitian yang akan digunakan untuk pengkajian dalam penelitian ini berupa studi literatur. Data yang diperoleh dikompilasi, dianalisis, dan disimpulkan sehingga mendapatkan kesimpulan mengenai studi literatur yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Hasil yang diperolah dari penelitian penambahan ekstrak kelakai dan filler cangkang telur ayam mendapatkan komposisi terbaik dari edible film yang dihasilkan dengan 10% tepung cangkang telur ayam dengan kandungan 5% ekstrak kelakai yang mempunyai ketebalan 0,174 mm, kuat tarik 1,5 MPa, panjang pemutusan 27,4%, transmisi uap air 10,83 g/m2 jam, scavenging activity 5,19% setelah 10 menit, uji biodegradasi bertahan sampai 5 hari dengan menggunakan media sosis. Karakteristik terbaik edible film pati ubi jalar diperoleh dari formulasi 10% (v/b pati) gliserol dengan ketebalan 0,06 mm, laju transmisi uap air 1,79 g/m2, elongasi 8,75% dan kekuatan tarik 0,75 Mpa. Edible Film yang dihasilkan dari penambahan kitosan akan menaikkan ketebalan film dan kuat tarik, namun menurunkan kelarutan, pemanjangan dan nilai laju transmisi uap air dari edible film yang terbentuk. Manfaat dari edible film fungsional ini dapat membantu memperpanjang umur simpan makanan dan ramah lingkungan.