Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016"
:
12 Documents
clear
Evaluasi Kegagalan Pondasi Pada Gedung Bertingkat (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Ruko 3 Lantai – Banua Anyar Banjarmasin)
Akhmad Marzuki;
Alpiannor Alpiannor
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3127
Berdasarkan hasil observasi lapangan terhadap keadaan bangunan di lokasi studi pada proyek pembangunan ruko 3 (tiga) lantai, telah terjadi kegagalan konstruksi sehingga menyebabkan bangunan mengalami keruntuhan. Sebagai tindak lanjut kondisi tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi kegagalan yang terjadi dan memberikan alternatif solusinya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dengan cara pengumpulan data melalui pengamatan langsung dan pengukuran elemen-elemen struktur yang telah mengalami kegagalan. Data tersebut disimulasi ulang dengan pemodelan struktur sebelum dan sesudah kegagalan untuk mengetahui penyebab kegagalannya.Hasil evaluasi menunjukkan bahwa runtuhmya struktur bangunan diawali dengan adanya retak- retak struktural pada joint-joint struktur dan terjadinya perubahan elevasi serta geometris bangunan. Hal tersebut terjadi akibat kegagalan pondasi yang ditunjukkan dengan adanya penurunan tidak seragam (differential settlement) karena daya dukung pondasi yang rendah, pola konfigurasi lajur dan jumlah tiang yang mempengaruhi distribusi gaya pada tiang serta adanya eksentrisitas tiang. Eksentrisitas pada pondasi mengakibatkan terjadinya tambahan momen yang bekerja pada pondasi, hal ini sangat berpengaruh terhadap pendistribusian beban yang bekerja pada tiang sehingga tambahan momen yang bekerja mengakibatkan beban yang diterima oleh tiang melebihi daya dukung batas tiang tunggal. dari perhitungan distribusi beban pada joint 178 faktor keamanan yang diperoleh sebesar 0,985 kurang dari faktor keamanan yang disyaratkan yaitu 3,00 (Hardiyatmo, 2010).
Alternatif Solusi Pembangunan Perkerasan Jalan Pada Subgrade Berdaya Dukung Rendah
Hary Christady Hardiyatmo
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3042
Sistem perkerasan harus dirancang tahan-lama, sehingga tidak mengalami kerusakan prematur akibat pengaruh lingkungan.Perkerasan yang terletakpada tanah-dasar yang teletak padatanahfondasi (timbunan)lunak atau ekspansif, sering mengalami deformasi yang berlebihan oleh beban kendaraan beratmaupunolehpenurunan konsolidasi akibatberat sendiri timbunan.Demikian pula, bila tanah-dasar mengalami gerakan naik turun akibat kembang-susut tanah di bawahnya oleh berubahnya musim. Akibat kembang-susut tanah- dasar yang tidak seragam, perkerasan menjadi bergelombang tidak teratur.Masalahjuga timbul bilaperkerasan jalanterendam airbanjir.Rendamanair banjir,menyebabkanmaterial pembentukperkerasan maupuntanah-dasarmenjadi berkurang daya dukungnya.Alternatif solusi perkerasan jalan yang tahan terhadap pengaruh banjir dan beban berlebihan adalah perkerasan jalan dengan Sistem Cakar Ayam Modifikasi dan Sistem Pelat Terpaku.Perkerasan ini, kecuali tahan terhadap pengaruh genanganair banjir,bila digunakan pada tanah-dasar ekspansif, memberikan ketahananjangka panjangdanmenjagakerataan permukaan perkerasan terhadap pengaruh kembang-susut tanah dasar.
Kehandalan Daya Dukung Aksial Tiang Pancang Beton Segi Empat Berdasarkan Hasil SPT Dan PDA
Yusti Yudiawati
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3067
Besarnya biaya pondasi sangat ditentukan pada keputusan saat pemilihan dimensi tiang pancang. Penentuan dimensi tiang selain didasarkan oleh evaluasi daya dukung tiang berdasarkan uji tanah perlu sekali dievaluasi terhadap hasil-hasil uji tiang di lapangan untuk memastikan kehandalan daya dukung pondasi tiang yang dipilih. Selama ini para perencana lebih memilih menggunakan tiang bulat dibandingkan tiang persegi dengan alasan dianggap lebih murah dan lebih handal daya dukungnya. Kenyataan di lapangan membuktikan tiang segiempat menghasilkan daya dukung tiang ultimit yang jauh lebih besar daripada tiang bulat sehingga dengan dimensi yang lebih kecil akan dihasilkan daya dukung ultimit yang setara dengan dimensi tiang bulat yang jauh lebih besar. Hasil uji PDA pada tiang 400x400 di Banjarmasin mencapai >400 ton atau 2,7 kali lebih besar daripada perkiraan daya dukung berdasarkan SPT sebesar 159,98 ton. Untuk daerah Banjarbaru hasil PDA test mencapai >300 ton atau 1,5 kali lebih besar dari perhitungan SPT sebesar 222.50 ton. Hasil uji PDA tiang 400x400 jika dibanding tiang diameter 400 memberikan hasil 3,2 kali lebih besar daya dukung ultimitnya. Daya dukung end bearing hasil PDA tes tiang diameter 400 setara dengan tiang 250x250. Hal ini tentunya akan sangat mengefisienkan jumlah titik pancang serta besarnya biaya pondasi.
Pelaksanaan Instalasi Boredpile Pada Proyek Pembangunan Flyover Gatot Subroto Banjarmasin
M. Firdaus
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3128
Pada konstruksi yang kondisi tanah lunak dengan ketebalan yang cukup dalam seperti di Banjarmasin, secara teknis mempunyai sifat – sifat geoteknik yang tidak menguntungkan. Seiring tuntutan kebutuhan, tingkat kepadatan lalu lintas yang semakin tinggi terutama permasalahan kemacetan yang panjang pada persimpangan jalan Gatot Subroto Banjarmasin memastikan perlu adanya konstruksi jembatan Flyover yang dibangun di tengah kota. Konstruksi pondasi boredpile dengan diameter besar memerlukan perhatian khusus bagi inspektur geoteknik dalam pengawasan konstruksi jembatan khususnya pada Flyover. Penggunaan Boredpile dengan diameter 2000 mm merupakan konstruksi pondasi pertama kali yang dilaksanakan di Banjarmasin, dengan kedalaman instalasi mencapai 60 meter rencana memerlukan metode pelaksanaan dalam piling record sesuai dengan code/ standar yang berlaku termasuk didalamnya adalah pengujian – pengujian yang dilakukan pada Boredpile dalam rangka mencapai quality assurance yang diperlukan.
Perbaikan Tanah Lempung Lunak Metoda Preloading Pada Pembangunan Infrastruktur Transportasi Di Pulau Kalimantan
Wahyu P. Kuswanda
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3064
Problema utama pembangunan infrastruktur transportasi pada tanah lempung lunak (soft clay) adalah daya dukung tanah dasarnya yang relatif rendah dan pemampatan tanah dasarnya yang relatif besar serta berlangsung relatif lama. Apabila tanpa dilakukan perbaikan pada tanah dasarnya terlebih dahulu maka infrastruktur transportasi yang dibangun berpotensi akan mengalami kerusakan sebelum mencapai umur yang direncanakan. Untuk menanggulangi problema tersebut salah satu dari beberapa alternatif yang bisa dilakukan adalah melakukan perbaikan tanah dasar metoda preloading dengan penggunaan prefabricated vertical drain (PVD). Makalah ini menguraikan prinsip- prinsip dasar perbaikan tanah lempung lunak metoda preloading dengan penggunaan PVD dan beberapa contoh aplikasinya pada pembangunan infrastruktur transportasi di Pulau Kalimantan. Diberikan juga contoh aplikasi perbaikan tanah lempung lunak metoda preloading dengan penggunaan PVD yang menerapkan sistem kontrak berbasis kinerja (performance based contract).
Jebakan Air Dan Sebaran Cracks Dalam Talud Tanah Bermanfaat Untuk Membuktikan
Sejarah Kelongsoran Talud
Stephanus Alexsander;
Indrasurya B. Mochtar;
Widya Utama
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3068
Penelitian ini dilakukan di tanah timbunan setinggi 10 m pada daerah Bandara Sanggu - Buntok yang mengalami kelongsoran yang dipicu oleh hujan lebat sehingga memicu adanya water pressure built up di dalam talud melalui cracks. Longsor yang terjadi berbentuk translasi didapatkan dari pengamatan di lapangan dengan patahnya dinding penahan tanah berupa pasangan batu kali. Hasil penelitian yang dilakukan setelah terjadinya longsor menunjukan adanya jebakan air di dalam timbunan dan adanya sebaran cracks yang didapatkan dari hasil tomography resistivity dan Induced Polarization. Hasil ini yang menunjukan adanya jebakan air dan sebaran cracks yang ditandai dengan adanya penurunan nilai resistivitas dan peningkatkan nilai induced polarization. Jebakan air dan sebaran cracks ditemukan hingga kedalaman 10 m. Jebakan air dan sebaran cracks digunakan untuk memperkuat analisis stabilitas talud terutama memodelkan bentuk stratifikasi tanah timbunan, jebakan air dan model cracks dengan baik. Hasil analisis stabilitas talud sebelum adanya jebakan air dan cracks didapatkan nilai keamanan 1.42 dan setelah tebentuknya jebakan air dan sebaran cracks hingga menyebabkan kelongsoran didapatkan nilai keamanan 0.869 dengan model longsoran translasi
Asumsi Sistem Cerucuk Sebagai Alternatif Solusi Dalam Penanganan Kelongsoran Lereng Jalan Diatas Tanah Lunak
Rusdiansyah Rusdiansyah
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3124
Daya dukung tanah yang rendah merupakan akibat yang ditimbulkan oleh tanah yang memiliki tahanan geser yang rendah. Hal ini karena tahanan geser merupakan unsur utama daya dukung tanah. Tahanan geser yang rendah selalu dimiliki oleh kondisi tanah dengan konsistensi sangat lunak sampai lunak. Upaya untuk meningkatkan tahanan geser tanah lunak yang rendah dapat dilakukan antara lain melalui metode perkuatan tanah. Metode perkuatan tanah bertujuan untuk menambah kekuatan tanah agar lebih mampu mendukung beban yang bekerja padanya. Saat ini tersedia beragam metode perkuatan tanah dengan teknologi yang memadai dan metode tersebut telah berkembang dengan baik. Namun perlu dijadikan perhatian bahwa suatu metode perkuatan tanah tertentu belum tentu cocok untuk jenis tanah yang lain, apalagi bila ada permasalahan spesifik yang ditimbulkan oleh tanah tersebut.Salah satu metode perkuatan tanah yang efektif untuk mengatasi kelongsoran jalan dan stabilitas lereng adalah dengan menggunakan perkuatan tiang-tiang vertikal yang berperilaku seperti sistem cerucuk. Cerucuk memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan turap dalam mengatasi overall stability. Alasannya berdasarkan pada kemampuan cerucuk yang dapat menghambat pergeseran tanah pada bidang longsornya. Cerucuk dapat dipancang sampai melewati asumsi bidang keruntuhan sirkuler yang terdalam. Pada perencanaan turap, bidang keruntuhan sirkuler yang terdalam tersebut tidak diperlukan.Untuk menunjang perhitungan konstruksi cerucuk yang mendekati kondisi yang ada di lapangan sangat dibutuhkan teori yang relevan mengenai cerucuk. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa apabila overall stability lebih menentukan dalam perhitungan stabilitas turap dan penjangkarnya, maka asumsi perhitungan yang lebih mendekati kondisi sebenarnya di lapangan adalah asumsi konstruksi cerucuk. Asumsi cerucuk didasarkan pada kemampuan turap atau tiang berfungsi serupa cerucuk, yang dapat memberikan perlawanan tambahan terhadap geser pada saat akan terjadinya pergeseran keruntuhan menurut asumsi kelongsoran berbentuk lingkaran (circular sliding plane). Hal ini apabila panjang turap melebihi asumsi bidang kelongsorannya.Hasil kajian juga menunjukkan bahwa tahanan geser tanah pada stabilitas lereng yang diperkuat dengan cerucuk selain dipengaruhi oleh parameter momen maksimum yang bekerja pada cerucuk (Mmaks), koefisien momen (Fm), dan faktor kekakuan cerucuk (T), juga dipengaruhi oleh : a) panjang tancap cerucuk, b) jarak atau spasi antar cerucuk, c) jumlah cerucuk dan faktor efisiensi, d) diameter cerucuk, e) posisi tancap cerucuk, f) pola pemasangan cerucuk, dan g) jenis tanah.Selain itu hasil kajian juga menunjukkan bahwa panjang tancap cerucuk mempengaruhi peningkatan kuat geser tanah, dimana semakin panjang batang cerucuk yang ditancap dibawah bidang kelongsoran maka semakin meningkat pula kuat geser tanah yang dihasilkan. Pada spasi cerucuk sebesar 3D dan 5D yang digunakan, kuat geser tanah menjadi meningkat. Tahanan geser tanah mengalami penurunan disaat spasi cerucuk yang digunakan semakin besar, dalam hal ini spasi cerucuk yang digunakan lebih dari 5D (spasi 8D). Pada spasi cerucuk yang digunakan sebesar 5D dapat menghasilkan kuat geser tanah yang lebih besar. Faktor efisiensi juga dapat mempengaruhi tahanan geser tanah yang diperkuat kelompok cerucuk yang menerima gaya geser horisontal (longsoran). Dimana kemampuan kelompok cerucuk dalam menahan geseran tidak akan sama dengan kemampuan masing-masing cerucuk dikalikan dengan jumlah cerucuk dalam kelompok yang bersangkutan. Faktor efisiensi mempengaruhi tahanan geser tanah yang diperkuat kelompok cerucuk yang menerima gaya geser horisontal (longsoran). Posisi tancap tiang cerucuk terhadap tahanan geser tanah mempunyai pengaruh yang signifikan. Posisi tiang cerucuk yang tepat memotong garis lengkung bidang longsor tanah yang membentuk sudut 30o dan 450 terhadap horisontal menghasilkan tahanan geser yang lebih besar daripada yang dihasilkan pada sudut 0o.
Pondasi Jembatan Berbentang Panjang
FX Supartono
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3060
Seringkali dikatakan bahwa sejarah perkembangan pembangunan jembatan dapat menggambarkan perkembanganbudaya manusia dari jaman dulu hingga sekarang.
Tanah Gambut Berserat : Solusi Dan Permasalahannya Dalam Pembangunan Infrastruktur Yang Berwawasan Lingkungan
Muhammad Afief Ma'ruf;
Faisal Estu Yulianto
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3125
Tanah gambut berserat merupakan tanah organik yang terbentuk akibat pelapukan tumbuh tumbuhan yang tergenang air di daerah tropis; akibatnya sebagian serat masih jelas terlihat pada struktur tanah gambut berserat. Tanah gambut berserat mempunyai sifat fisik dan teknis yang jelek, yaitu: kadar air dan angka pori yang tinggi, spesific gravity dan daya dukung yang rendah serta pemampatan yang besar dan tidak merata. Oleh sebab itu, banyak metode perbaikan tanah gambut berserat yang telah diterapkan di lapangan. Akan tetapi, metode yang telah diterapkan tersebut belum memperhatikan dampak lingkungan yang terjadi serta ketebalan lapisan tanah gambut berserat yang harus diperbaiki. Berdasarkan hal tersebut, penting dilakukan analisa terhadap metode perbaikan yang telah diterapkan di lapangan sehingga pemilihan metode perbaikan tanah gambut yang dilakukan tepat dan berwawasan lingkungan. Metode perbaikan tanah gambut berserat yang telah diterapkan meliputi, pengelupasan lapisan gambut, pembebenan awan, galar kayu, cerucuk kayu dan stabilisasi seluruh lapisan gambut. Semua metode yang telah diterapkan tersebut (kecuali stabilisasi) ternyata mempunyai dampak yang cukup besar terhadap lingkungan serta hanya mampu dilaksanakan pada lapisan tanah gambut dengan ketebalan maksimal empat meter. Sedangkan metode stabilisasi lebih berwawasan lingkungan dan lebiih murah dibandingkan metode lainnya dan mampu diterapkan pada lapisan gambut dengan ketebalan sepuluh meter. Untuk tanah gambut yang memiliki ketebalan lebh dari sepuluh meter, penggunaan tiang pancang dengan lapisan anti korosif merupakan pilihan yang terbaik.
Peran Geoteknik Pada Infrastruktur Perkeretaapian
Pintor Tua Simatupang
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3063
Pengembangan jaringan kereta api koridor Pulau Kalimantan ada dua yaitu pembangunan KA khusus/batubara/akses pelabuhan (skema KPS) dan pembangunan kereta api antar kota/trans Kalimantan