cover
Contact Name
Muhammad Afief Ma'ruf
Contact Email
afief84@gmail.com
Phone
+6281803821373
Journal Mail Official
infoteknik.ftunlam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Ahmad Yani Km. 35 Banjarbaru Kalimantan Selatan Telp. (0511)-4773868 Fax. (0511)-4773868
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Info-Teknik
ISSN : 08532508     EISSN : 24599964     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Engineering,
Jurnal Info – Teknik menerbitkan artikel – artikel karya orisinil dan signifikan pada Bidang Rekayasa Teknik.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016" : 12 Documents clear
Evaluasi Kegagalan Pondasi Pada Gedung Bertingkat (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Ruko 3 Lantai – Banua Anyar Banjarmasin) Akhmad Marzuki; Alpiannor Alpiannor
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3127

Abstract

Berdasarkan  hasil  observasi  lapangan  terhadap  keadaan  bangunan  di lokasi  studi  pada  proyek pembangunan ruko 3 (tiga) lantai, telah terjadi kegagalan konstruksi sehingga menyebabkan bangunan mengalami keruntuhan. Sebagai tindak lanjut kondisi tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi kegagalan yang terjadi dan  memberikan alternatif solusinya.Metode yang digunakan  dalam penelitian  ini adalah metode observasi dengan cara pengumpulan data melalui pengamatan langsung dan pengukuran elemen-elemen struktur yang telah mengalami kegagalan. Data tersebut disimulasi ulang dengan pemodelan struktur sebelum dan sesudah kegagalan untuk mengetahui penyebab kegagalannya.Hasil  evaluasi  menunjukkan  bahwa  runtuhmya  struktur  bangunan  diawali  dengan  adanya  retak- retak struktural  pada joint-joint  struktur  dan terjadinya  perubahan  elevasi  serta geometris  bangunan. Hal  tersebut  terjadi  akibat  kegagalan  pondasi  yang  ditunjukkan   dengan  adanya  penurunan   tidak seragam (differential  settlement)  karena daya dukung pondasi yang rendah, pola konfigurasi  lajur dan jumlah   tiang   yang   mempengaruhi   distribusi   gaya   pada   tiang   serta   adanya   eksentrisitas   tiang. Eksentrisitas pada pondasi mengakibatkan  terjadinya tambahan momen yang bekerja pada pondasi, hal ini sangat  berpengaruh  terhadap  pendistribusian  beban  yang  bekerja  pada  tiang  sehingga  tambahan momen yang bekerja mengakibatkan  beban yang diterima oleh tiang melebihi daya dukung batas tiang tunggal. dari perhitungan distribusi beban pada joint 178  faktor keamanan yang diperoleh sebesar 0,985 kurang dari faktor keamanan yang disyaratkan yaitu 3,00 (Hardiyatmo, 2010).
Alternatif Solusi Pembangunan Perkerasan Jalan Pada Subgrade Berdaya Dukung Rendah Hary Christady Hardiyatmo
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3042

Abstract

Sistem perkerasan harus dirancang tahan-lama, sehingga tidak mengalami kerusakan prematur akibat pengaruh lingkungan.Perkerasan yang terletakpada tanah-dasar yang teletak padatanahfondasi (timbunan)lunak atau ekspansif, sering mengalami deformasi yang berlebihan oleh beban kendaraan beratmaupunolehpenurunan konsolidasi akibatberat sendiri timbunan.Demikian pula, bila tanah-dasar mengalami gerakan naik turun akibat kembang-susut tanah di bawahnya  oleh berubahnya musim. Akibat kembang-susut tanah- dasar yang tidak seragam, perkerasan menjadi bergelombang tidak teratur.Masalahjuga timbul bilaperkerasan jalanterendam airbanjir.Rendamanair banjir,menyebabkanmaterial pembentukperkerasan maupuntanah-dasarmenjadi berkurang daya dukungnya.Alternatif solusi perkerasan jalan yang tahan terhadap pengaruh banjir dan beban berlebihan adalah perkerasan jalan dengan Sistem Cakar Ayam Modifikasi dan Sistem Pelat Terpaku.Perkerasan ini, kecuali tahan terhadap pengaruh genanganair banjir,bila digunakan pada tanah-dasar ekspansif, memberikan ketahananjangka panjangdanmenjagakerataan permukaan perkerasan terhadap pengaruh kembang-susut tanah dasar.
Kehandalan Daya Dukung Aksial Tiang Pancang Beton Segi Empat Berdasarkan Hasil SPT Dan PDA Yusti Yudiawati
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3067

Abstract

Besarnya  biaya  pondasi     sangat  ditentukan  pada  keputusan  saat  pemilihan  dimensi  tiang  pancang. Penentuan  dimensi  tiang  selain  didasarkan  oleh evaluasi  daya  dukung  tiang  berdasarkan  uji  tanah  perlu  sekali dievaluasi terhadap hasil-hasil uji tiang di lapangan untuk memastikan kehandalan daya dukung pondasi tiang yang dipilih. Selama ini para perencana lebih memilih menggunakan tiang bulat dibandingkan tiang persegi dengan alasan dianggap  lebih murah dan lebih handal daya dukungnya.  Kenyataan  di lapangan  membuktikan  tiang segiempat menghasilkan daya dukung tiang ultimit yang jauh lebih besar daripada tiang bulat sehingga dengan dimensi yang lebih kecil akan dihasilkan daya dukung ultimit yang setara dengan dimensi tiang bulat yang jauh lebih besar. Hasil uji PDA pada tiang 400x400 di Banjarmasin mencapai >400 ton atau 2,7 kali lebih besar daripada perkiraan daya dukung berdasarkan SPT sebesar 159,98 ton. Untuk daerah Banjarbaru hasil PDA test mencapai >300 ton atau 1,5 kali lebih besar dari perhitungan SPT sebesar 222.50 ton. Hasil uji PDA tiang 400x400 jika dibanding tiang diameter 400 memberikan hasil 3,2 kali lebih besar daya dukung ultimitnya. Daya dukung end bearing hasil PDA tes tiang diameter 400 setara dengan tiang 250x250. Hal ini tentunya akan sangat mengefisienkan jumlah titik pancang serta besarnya biaya pondasi.
Pelaksanaan Instalasi Boredpile Pada Proyek Pembangunan Flyover Gatot Subroto Banjarmasin M. Firdaus
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3128

Abstract

Pada konstruksi yang kondisi tanah lunak dengan ketebalan yang cukup dalam seperti di Banjarmasin, secara teknis mempunyai sifat – sifat geoteknik yang tidak menguntungkan.   Seiring tuntutan kebutuhan,  tingkat  kepadatan  lalu  lintas  yang  semakin  tinggi  terutama  permasalahan  kemacetan  yang panjang pada persimpangan jalan Gatot Subroto Banjarmasin memastikan perlu adanya konstruksi jembatan Flyover  yang dibangun  di tengah kota. Konstruksi  pondasi boredpile  dengan diameter  besar memerlukan perhatian khusus bagi inspektur geoteknik dalam pengawasan konstruksi jembatan khususnya pada Flyover. Penggunaan  Boredpile  dengan  diameter  2000  mm  merupakan  konstruksi  pondasi  pertama  kali  yang dilaksanakan di Banjarmasin,  dengan kedalaman instalasi mencapai 60 meter rencana memerlukan metode pelaksanaan dalam piling record sesuai dengan code/ standar yang berlaku termasuk didalamnya adalah pengujian – pengujian yang dilakukan pada Boredpile dalam rangka mencapai quality assurance yang diperlukan.
Perbaikan Tanah Lempung Lunak Metoda Preloading Pada Pembangunan Infrastruktur Transportasi Di Pulau Kalimantan Wahyu P. Kuswanda
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3064

Abstract

Problema utama pembangunan infrastruktur transportasi pada tanah lempung lunak (soft clay) adalah daya dukung tanah dasarnya yang relatif rendah dan pemampatan tanah dasarnya yang relatif besar serta berlangsung relatif lama. Apabila tanpa  dilakukan perbaikan pada  tanah dasarnya  terlebih dahulu  maka  infrastruktur transportasi yang dibangun berpotensi akan mengalami kerusakan sebelum mencapai umur yang direncanakan. Untuk menanggulangi problema tersebut salah satu dari beberapa alternatif yang bisa dilakukan adalah melakukan perbaikan tanah dasar metoda preloading dengan penggunaan prefabricated vertical drain (PVD). Makalah ini menguraikan prinsip- prinsip dasar perbaikan tanah lempung lunak metoda preloading dengan penggunaan PVD dan beberapa contoh aplikasinya pada pembangunan infrastruktur transportasi di  Pulau Kalimantan. Diberikan juga contoh aplikasi perbaikan tanah lempung lunak metoda preloading dengan penggunaan PVD yang menerapkan sistem kontrak berbasis kinerja (performance based contract).
Jebakan Air Dan Sebaran Cracks Dalam Talud Tanah Bermanfaat Untuk Membuktikan
Sejarah Kelongsoran Talud Stephanus Alexsander; Indrasurya B. Mochtar; Widya Utama
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3068

Abstract

Penelitian  ini dilakukan  di tanah timbunan  setinggi  10 m pada daerah  Bandara  Sanggu  - Buntok yang mengalami kelongsoran yang dipicu oleh hujan lebat sehingga memicu adanya water pressure built up di dalam talud melalui cracks. Longsor yang terjadi berbentuk translasi didapatkan  dari  pengamatan  di lapangan  dengan  patahnya  dinding  penahan  tanah  berupa pasangan batu kali. Hasil penelitian yang dilakukan setelah terjadinya longsor menunjukan adanya jebakan air di dalam timbunan dan adanya sebaran cracks yang didapatkan dari hasil tomography resistivity dan Induced Polarization.  Hasil ini yang menunjukan adanya jebakan air dan sebaran cracks yang ditandai dengan adanya penurunan nilai resistivitas dan peningkatkan nilai induced polarization.  Jebakan air dan sebaran cracks ditemukan hingga kedalaman  10  m.  Jebakan  air  dan  sebaran  cracks  digunakan  untuk  memperkuat  analisis stabilitas talud terutama memodelkan bentuk stratifikasi tanah timbunan, jebakan air dan model cracks  dengan  baik. Hasil analisis stabilitas  talud sebelum adanya jebakan air dan cracks didapatkan nilai keamanan 1.42 dan setelah tebentuknya jebakan air dan sebaran cracks hingga menyebabkan kelongsoran didapatkan nilai keamanan 0.869 dengan model longsoran translasi
Asumsi Sistem Cerucuk Sebagai Alternatif Solusi Dalam Penanganan Kelongsoran Lereng Jalan Diatas Tanah Lunak Rusdiansyah Rusdiansyah
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3124

Abstract

Daya dukung tanah yang rendah merupakan  akibat yang ditimbulkan  oleh tanah yang memiliki tahanan geser yang rendah. Hal ini karena tahanan geser merupakan unsur utama daya dukung tanah. Tahanan geser  yang  rendah  selalu  dimiliki  oleh  kondisi  tanah  dengan  konsistensi  sangat  lunak  sampai  lunak.  Upaya untuk  meningkatkan  tahanan  geser  tanah  lunak  yang  rendah  dapat  dilakukan  antara  lain  melalui  metode perkuatan  tanah.  Metode  perkuatan  tanah  bertujuan  untuk  menambah  kekuatan  tanah  agar  lebih  mampu mendukung  beban yang bekerja padanya. Saat ini tersedia beragam metode perkuatan tanah dengan teknologi yang memadai  dan metode  tersebut  telah berkembang  dengan  baik. Namun  perlu dijadikan  perhatian  bahwa suatu  metode  perkuatan  tanah  tertentu  belum  tentu  cocok  untuk  jenis  tanah  yang  lain,  apalagi  bila  ada permasalahan  spesifik  yang  ditimbulkan  oleh tanah  tersebut.Salah  satu metode  perkuatan  tanah  yang  efektif untuk  mengatasi  kelongsoran  jalan  dan  stabilitas  lereng  adalah  dengan  menggunakan  perkuatan  tiang-tiang vertikal yang berperilaku seperti sistem cerucuk. Cerucuk memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan turap dalam mengatasi  overall stability. Alasannya  berdasarkan  pada kemampuan  cerucuk yang dapat menghambat pergeseran tanah pada bidang longsornya. Cerucuk dapat dipancang sampai melewati asumsi bidang keruntuhan sirkuler yang terdalam. Pada perencanaan turap, bidang keruntuhan sirkuler yang terdalam tersebut tidak diperlukan.Untuk  menunjang  perhitungan  konstruksi  cerucuk  yang  mendekati  kondisi  yang  ada  di lapangan sangat dibutuhkan teori yang relevan mengenai cerucuk. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan  bahwa apabila overall  stability   lebih  menentukan   dalam  perhitungan   stabilitas   turap  dan  penjangkarnya,   maka  asumsi perhitungan  yang lebih mendekati  kondisi sebenarnya  di lapangan  adalah asumsi konstruksi  cerucuk. Asumsi cerucuk  didasarkan  pada  kemampuan  turap  atau  tiang  berfungsi  serupa  cerucuk,  yang  dapat  memberikan perlawanan   tambahan   terhadap   geser  pada  saat  akan  terjadinya   pergeseran   keruntuhan   menurut   asumsi kelongsoran berbentuk lingkaran (circular sliding plane). Hal ini apabila panjang turap melebihi asumsi bidang kelongsorannya.Hasil  kajian juga menunjukkan bahwa tahanan geser tanah pada stabilitas lereng yang diperkuat dengan  cerucuk  selain  dipengaruhi  oleh parameter  momen  maksimum  yang  bekerja  pada cerucuk  (Mmaks), koefisien momen (Fm), dan faktor kekakuan cerucuk (T), juga dipengaruhi oleh : a) panjang tancap cerucuk, b) jarak atau spasi antar cerucuk,  c) jumlah  cerucuk  dan faktor  efisiensi,  d) diameter  cerucuk,  e) posisi  tancap cerucuk,  f)  pola  pemasangan  cerucuk,  dan  g)  jenis  tanah.Selain  itu  hasil  kajian  juga  menunjukkan  bahwa panjang tancap cerucuk mempengaruhi  peningkatan kuat geser tanah, dimana semakin panjang batang cerucuk yang ditancap  dibawah  bidang kelongsoran  maka semakin  meningkat  pula kuat geser tanah yang dihasilkan. Pada spasi cerucuk sebesar 3D dan 5D yang digunakan,  kuat geser tanah menjadi meningkat.  Tahanan  geser tanah mengalami  penurunan  disaat spasi cerucuk yang digunakan  semakin besar, dalam hal ini spasi cerucuk yang digunakan lebih dari 5D (spasi 8D). Pada spasi cerucuk yang digunakan sebesar 5D dapat menghasilkan kuat geser tanah yang lebih besar. Faktor efisiensi juga dapat mempengaruhi tahanan geser tanah yang diperkuat kelompok  cerucuk yang menerima  gaya geser horisontal  (longsoran).  Dimana kemampuan  kelompok  cerucuk dalam menahan geseran tidak akan sama dengan kemampuan masing-masing  cerucuk dikalikan dengan jumlah cerucuk  dalam  kelompok   yang  bersangkutan.   Faktor  efisiensi  mempengaruhi   tahanan  geser  tanah  yang diperkuat  kelompok  cerucuk  yang  menerima  gaya  geser  horisontal  (longsoran).  Posisi  tancap  tiang  cerucuk terhadap tahanan geser tanah mempunyai pengaruh yang signifikan. Posisi tiang cerucuk yang tepat memotong garis  lengkung  bidang  longsor  tanah  yang  membentuk  sudut  30o  dan  450  terhadap  horisontal  menghasilkan tahanan geser yang lebih besar daripada yang dihasilkan pada sudut 0o.
Pondasi Jembatan Berbentang Panjang FX Supartono
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3060

Abstract

Seringkali dikatakan bahwa sejarah perkembangan pembangunan jembatan dapat menggambarkan perkembanganbudaya manusia dari jaman dulu hingga sekarang.
Tanah Gambut Berserat : Solusi Dan Permasalahannya Dalam Pembangunan Infrastruktur Yang Berwawasan Lingkungan Muhammad Afief Ma'ruf; Faisal Estu Yulianto
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3125

Abstract

Tanah gambut berserat merupakan tanah organik yang terbentuk akibat pelapukan tumbuh tumbuhan yang tergenang air di daerah tropis; akibatnya sebagian serat masih jelas terlihat pada struktur tanah gambut berserat. Tanah gambut  berserat  mempunyai  sifat  fisik  dan  teknis  yang  jelek,  yaitu:  kadar  air dan  angka  pori  yang  tinggi,  spesific gravity dan daya dukung yang rendah serta pemampatan  yang besar dan tidak merata. Oleh sebab itu, banyak metode perbaikan tanah gambut berserat yang telah diterapkan di lapangan. Akan tetapi, metode yang telah diterapkan tersebut belum  memperhatikan  dampak  lingkungan  yang  terjadi  serta  ketebalan  lapisan  tanah  gambut  berserat  yang  harus diperbaiki.  Berdasarkan  hal tersebut,  penting  dilakukan  analisa  terhadap  metode  perbaikan  yang telah diterapkan  di lapangan  sehingga  pemilihan  metode  perbaikan  tanah  gambut  yang  dilakukan  tepat  dan  berwawasan  lingkungan. Metode  perbaikan  tanah gambut  berserat  yang telah diterapkan  meliputi,  pengelupasan  lapisan gambut,  pembebenan awan, galar kayu, cerucuk kayu dan stabilisasi seluruh lapisan gambut. Semua metode yang telah diterapkan tersebut (kecuali   stabilisasi)   ternyata   mempunyai   dampak   yang   cukup   besar   terhadap   lingkungan   serta   hanya   mampu dilaksanakan  pada lapisan tanah gambut dengan ketebalan maksimal empat meter. Sedangkan metode stabilisasi lebih berwawasan  lingkungan  dan lebiih murah dibandingkan  metode lainnya dan mampu diterapkan  pada lapisan gambut dengan ketebalan  sepuluh meter. Untuk tanah gambut yang memiliki ketebalan  lebh dari sepuluh meter, penggunaan tiang pancang dengan lapisan anti korosif merupakan pilihan yang terbaik.
Peran Geoteknik Pada Infrastruktur Perkeretaapian Pintor Tua Simatupang
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/infotek.v0i0.3063

Abstract

Pengembangan jaringan kereta api koridor Pulau Kalimantan ada dua yaitu pembangunan KA khusus/batubara/akses pelabuhan (skema KPS) dan pembangunan kereta api antar kota/trans Kalimantan

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2025): INFOTEKNIK VOL. 26 NO. 2 DESEMBER 2025 Vol 25, No 2 (2024): INFOTEKNIK VOL. 25 NO. 2 DESEMBER 2024 Vol 25, No 1 (2024): INFOTEKNIK VOL. 25 NO. 1 JULI 2024 Vol 24, No 2 (2023): INFOTEKNIK VOL. 24 NO. 2 DESEMBER 2023 Vol 24, No 1 (2023): INFOTEKNIK VOL. 24 NO. 1 JULI 2023 2023: PROSIDING SEMNAS TAHUNAN X 2023 Vol 23, No 2 (2022): INFOTEKNIK VOL. 23 NO. 2 DESEMBER 2022 Vol 23, No 1 (2022): INFOTEKNIK VOL. 23 NO. 1 JULI 2022 Vol 22, No 2 (2021): INFOTEKNIK VOL. 22 NO. 2 DESEMBER 2021 Vol 22, No 1 (2021): INFOTEKNIK VOL. 22 NO. 1 JULI 2021 Vol 21, No 2 (2020): INFOTEKNIK VOL. 21 NO. 2 DESEMBER 2020 Vol 21, No 1 (2020): INFOTEKNIK VOL. 21 NO. 1 JULI 2020 Vol 20, No 2 (2019): INFOTEKNIK VOL. 20 NO. 1 DESEMBER 2019 Vol 20, No 1 (2019): INFOTEKNIK VOL. 20 NO. 1 JULI 2019 Vol 19, No 2 (2018): INFOTEKNIK VOL. 19 NO. 2 DESEMBER 2018 Vol 19, No 1 (2018): INFOTEKNIK Vol. 19 No. 1 Juli 2018 Vol 18, No 2 (2017): INFOTEKNIK VOL. 18 NO.2 2017 Vol 18, No 1 (2017): INFOTEKNIK Vol. 18 No. 1 2017 Vol 17, No 2 (2016): INFOTEKNIK VOL. 17 NO. 2 2016 Vol 17, No 1 (2016): INFOTEKNIK Vol. 17 No. 1 2016 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016 Vol 16, No 2 (2015): INFOTEKNIK VOL. 16 NO. 2 2015 Vol 16, No 1 (2015): INFOTEKNIK VOL. 16 NO. 1 2015 2015: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2015 Vol 15, No 2 (2014): INFOTEKNIK VOL. 15 NO. 2 2014 Vol 15, No 1 (2014): INFOTEKNIK VOL. 15 NO. 1 2014 Vol 14, No 2 (2013): INFOTEKNIK VOL. 14 NO. 2 2013 Vol 14, No 1 (2013): INFOTEKNIK VOL. 14 NO. 1 2013 Vol 13, No 2 (2012): INFOTEKNIK VOL. 13 NO. 2 2012 Vol 13, No 1 (2012): INFOTEKNIK VOL. 13 NO. 1 2012 Vol 12, No 2 (2011): INFOTEKNIK VOL. 12 NO. 2 2011 Vol 12, No 1 (2011): INFOTEKNIK VOL. 12 NO. 1 2011 Vol 11, No 1 (2010): INFOTEKNIK VOL. 11 NO. 1 2010 Vol 10, No 1 (2009): INFOTEKNIK VOL. 10 NO. 1 2009 Vol 9, No 2 (2008): INFOTEKNIK VOL. 9 NO. 2 2008 Vol 8, No 2 (2007): INFOTEKNIK VOL. 8 NO. 2 2007 Vol 8, No 1 (2007): INFOTEKNIK VOL. 8 NO. 1 2007 Vol 7, No 2 (2006): INFOTEKNIK VOL. 7 NO. 2 2006 Vol 7, No 1 (2006): INFOTEKNIK VOL. 7 NO. 1 2006 Vol 6, No 2 (2005): INFOTEKNIK VOL. 6 NO. 2 2005 Vol 6, No 1 (2005): INFOTEKNIK VOL. 6 NO. 1 2005 Vol 5, No 2 (2004): INFOTEKNIK VOL. 5 NO. 2 2004 Vol 5, No 1 (2004): INFOTEKNIK VOL. 5 NO. 1 2004 Vol 4, No 2 (2003): INFOTEKNIK VOL. 4 NO. 2 2003 Vol 4, No 1 (2003): INFOTEKNIK VOL. 4 NO. 1 2003 Vol 3, No 1 (2002): INFOTEKNIK VOL. 3 NO. 1 2002 Vol 2, No 1 (2001): INFOTEKNIK VOL. 2 NO. 1 2001 Vol 1, No 1 (2000): INFOTEKNIK VOL. 1 NO. 1 2000 More Issue