cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik
ISSN : 26202964     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik FKIP Unsyiah terbit 4 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Novembe.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS" : 10 Documents clear
PEMANFAATAN LIMBAH BOTOL BEKAS PADA PEMBELAJARAN BINA DIRI DI SMALB-CD YPAC II BANDA ACEH Asmaul Husna; Ahmad Syai; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.817 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Limbah dalam Pembelajaran Bina Diri di SMALB-CD YPAC II Banda Aceh” mengangkat masalah tentang bagaimana proses pemanfaatan limbah botol bekas dalam pembelajaran bina diri pada anak berkebutuhan khusus dan apa hambatan guru dalam proses pemanfaatan limbah botol bekas dalam pembelajaran bina diri pada anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemanfaatan limbah botol bekas dalam pembelajaran bina diri serta mendeskripsikan hambatan guru dalam proses pemanfaatan limbah botol bekas pada pembelajaran bina diri pada anak berkebutuhan khusus pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah guru dan siswa sedangkan Objek pada penelitian ini adalah pemanfaatan limbah dalam pembelajaran bina diri kelas XII  Lokasi penelitian ini di SMALB-CD YPAC II Banda Aceh, jalan Banda Aceh-Medan, Gampong Santan, Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar. Teknik Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi serta pengolahan dan analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan  limbah pada pembelajaran bina diri guru mengajarkan cara pembuatan kerajinan dari bahan limbah botol bekas yang diikuti semua siswa berlangsung dengan baik. Guru menanyakan kembali kepada siswa apa saja bahan-bahan yang digunakan dalam membuat kerajinan dari botol bekas yang sudah diajarkan dan dibuat saat pembelajaran berlangsung. Selain itu juga terdapat beberapa hambatan dalam pemanfaatan limbah dalam pembelajaran bina diri yaitu guru harus pelan-pelan dan lebih intensif mengajar cara membuat kerajinan, karena mereka mudah lupa, dan sewaktu-waktu bisa saja mudah lelah.Kata kunci: limbah, pembelajaran, bina diri,   
BENTUK PENYAJIAN TARI LANGKIR DEHWER DI KECAMATAN TEUPAH SELATAN KABUPATEN SIMEULUE Dwi Restika; Ahmad Syai; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.954 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini tentang “Bentuk Penyajian Tari Langkir Dehwer di Kecamatan Teupah Selatan Kabupaten Simeulue”. Mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian dan makna tari Langkir Dehwer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Langkir Dehwer serta makna yang terkandung dalam tari Langkir Dehwer. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriftif. Data penelitian ini bersumber dari para seniman dan pelatih yang mengetahui tentang tarian Langkir Dehwer di Desa Pasir Tinggi Kecamatan Teupah Selatan Kabupaten Simeulue. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu: mereduksi data, display data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tari Langkir Dehwer ditarikan oleh delapan orang penari, empat penari perempuan dan empat penari laki-laki. Tetapi penari perempuan tetap diperankan oleh laki-laki, karena tari yang berpasangan dengan perempuan tabu di kalangan masyarakat Simeulue khususnya di desa Pasir tinggi Kecamatan Teupah Selatan. Tari ini memiliki 33 gerakan, tetapi banyak pengulangan gerak, 21 jenis pola lantai, alat musik yang digunakan adalah Gendang. Properti yang digunakan delapan helai tali nilon. Tata rias penari menggunakan bedak tabur secukupnya saja, bahkan tidak digunakan sama sekali karena semua penarinya laki-laki dan sudah berumur. Secara garis besar, makna yang terkandung dalam rangkaian gerak tari Langkir Dehwer adalah makna bagaimana tata cara kehidupan bermasyarakat. Tarian ini ditampilkan pada acara pernikahan, khitanan, dan acara-acara adat lainnya.Kata kunci: bentuk penyajian, tari Langkir Dehwer   
TANGGAPAN GURU SENI BUDAYA TENTANG KURIKULUM 2013 DI SMP SEKECAMATAN BAITURRAHMAN Adeliana Adeliana; Taat Kurnita; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.135 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini berjudul “Tanggapan guru seni budaya tentang kurikulum 2013 di SMP Se-Kecamatan Baiturrahman” ini mengangkat masalah bagaimana respon guru terhadap kurikulum 2013 pada mata pelajaran seni budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tanggapan guru seni budaya tentang kurikulum 2013. Pendekatan  yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru seni budaya di SMP sekecamatan Baiturrahman, dan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah guru seni budaya di SMP Kartika, SMPN 17, SMP 16, SMP 3 dan SMP Cut Meutia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah tekknik presentase P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggapan guru seni budaya tentang kurikulum 2013 adalah  positif dan dapat diterima serta dilaksanakan dengan lancar. Hal ini menunjukkan bahwa 100% guru menyetujui dengan adanya kurikulum 2013, guru dapat dengan mudah menjalankan proses pembelajaran dan penilaian. Walaupun ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan kurikulum 2013 seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, namun hal ini bukan menjadi penghalang besar bagi guru dalam melaksanakan dan mengembangkan kurikulum 2013. Kata Kunci:  Tanggapan guru Seni Budaya, pembelajaran, kurikulum  2013
BENTUK PENYAJIAN TARI TRADISIONAL ANDALAS DI KABUPATEN SIMEULUE Citra Dewi Maysarah; Taat Kurnita; Cut Zuriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.745 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Bentuk Penyajian Tari Tradisional Andalas di Kabupaten Simeulue”. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian dan makna apa saja yang terkandung dalam setiap gerak tari tradisional Andalas di Kabupaten Simeulue khususnya tari Siram-siram dan tari Perak-perak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dan mengetahui makna yang terkandung dalam tari tradisional Andalas di Kabupaten Simeulue khususnya tari Siram-siram dan tari Perak-perak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitin ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Agar hasil penelitian dapat dipercaya, peneliti menggunakan alat bantu berupa buku catatan, kamera foto dan kamera video. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian, tari tradisional Andalas khususnya tari Siram-siram dan tari Perak-perak disajikan pada saat malam bainai gadang. Tarian ini ditarikan secara berpasangan. Tari Siram-siram memiliki 5 ragam gerakan, 18 jenis pola lantai dan menggunakan sebuah selendang dan sebotol parfum. Tari Perak-perak terdapat 5 ragam gerakan, 9 jenis pola lantai dan menggunakan sebuah selendang dan sebuah saputangan.Kata kunci: Bentuk penyajian, tari Andalas, tari Perak-perak
KERAJINAN GERABAH DI DESA ATEUK JAWO KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH Alfazri Alfazri; Rida Safuan Selian; Cut Zuriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.858 KB)

Abstract

ABSTRAK     Penelitian berjudul Kerajinan Gerabah di Desa Ateuk Jawo dilakukan di desa Ateuk Jawo kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh, ini mengangkat masalah bagaimanakah Eksistensi dan proses pembuatan Gerabah di desa Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh serta bagaimanakah Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam konteks sosialisasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi dan proses pembuatan Gerabah di desa Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh serta mendeskripsikan bagaimanakah Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam konteks sosialisasi masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi non-partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan (mendisplay), dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa beberapa masyarakat masih ada yang memproduksikan kerajinan Gerabah, kerajinan yang dihasilkan berbentuk periuk nasi (kanot bu), belanga (beulangong) dan cobek (capah) sehingga Gerabah di Ateuk Jawo masih exist. Proses pembuatan kerajinan Gerabah di desa Ateuk Jawo melalui beberapa langkah yaitu: pengambilan jenis tanah, pengadukan tanah dengan pasir, pembentukan Gerabah, pengeringan Gerabah, dan proses pembakaran. Gerabah di desa Ateuk Jawo dalam konteks sosialisasi masyarakat merupakan bentuk penanaman nilai secara turun temurun dengan  cara mengamati, berpartisipasi dan berbuat yang dilakukan oleh pengrajin selanjutnya.  Kata Kunci: eksistensi, kerajinan, gerabah, konteks sosialisasi masyarakat
STUDI KOMPARATIF TARI RATEEB MEUSEUKAT DI SANGGAR EUNCIEN MEULIGOE ACEH UTARA DENGAN TARI RATEEB MEUSEUKAT DI SANGGAR ANEUK CERIA BANDA ACEH Cut Reisya Apriliani; Tri Supadmi; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.408 KB)

Abstract

ABSTRAK          Penelitian ini berjudul “Studi Komparatif Tari Rateeb Meuseukat di Sanggar Euncien Meuligoe Aceh Utara dengan Tari Rateeb Meuseukat di Sanggar Aneuk Ceria Banda Aceh” mengangkat masalah bagaimana komparasi gerak tari Rateeb Meuseukat yang ada di sanggar Euncien Meuligoe dan di sanggar Aneuk Ceria. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan dan persamaan gerak tari Rateeb Meuseukat di sanggar Euncien Meuligoe dan di sanggar Aneuk Ceria. Pendekata yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah pelatih dan penari di sanggar Euncien Meuligoe dan Aneuk Ceria. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara serta dokumentasi, dan teknik analisis data dengan mereduksi, display, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak tari Rateeb Meuseukat yang ada di sanggar Euncien Meuligoe dengan di sanggar Aneuk Ceria, memiliki perbedaan dan persamaan. Secara keseluruhan gerak tari Rateeb Meuseukat menggambarkan keuletan, kecepatan kekompakan dan keselarasan.Kata Kunci: studi komparatif, tari Rateeb Meuseukat sanggar Euncien Meuligoe, tari Rateeb Meuseukat sanggar Aneuk Ceria 
PERKEMBANGAN BENTUK DAN MOTIF PADA KERAJINAN TAS DI GAMPONG DAYAH DABOH KECAMATAN MONTASIK ACEH BESAR Annisa Annisa; Rida Safuan Selian; Cut Zuriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.446 KB)

Abstract

ABSTRAK                                                                   Penelitian yang berjudul “perkembangan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar” mengangkat masalah apa saja bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar serta bagaimana perkembangan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar serta mendeskripsikan perkembangan bentuk dan motif pada kerajinan tas di gampong Dayah Daboh Kecamatan Montasik Aceh Besar. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif . Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa: bentuk tas awalnya adalah 3 bentuk yaitu selempang, tas map, dan tas furla, yang kemudian mengalami perkembangan  menjadi 18 bentuk seperti tas selempang, tas mini, tas jinjing, tas ririn, tas ransel, tas golf, tas koper, tas Abg, tas setengah lingkaran, tas manik-manik, tas keong, tas mambo, tas labu, tas kipas, tas elizabeth, tas tenun, tas songket, dan tas kain spons. Motif tas di gampong Dayah Daboh awalnya adalah 10 motif puta talo, tapak leman, embun berarak, awan diris, pinto Aceh, pucok rebong, kotoran burung, bungong meulu, awan dong, dan awan keong. Motif  yang berkembang menjadi 11 motif seperti  pinto Aceh kombinasi motif matahari dan puta talo, pinto Aceh kombinasi bola-bola, awan keong kreasi, batik kacang, bungong meulu kreasi, bak padee, cacing, matahari, bunga timbul, motif Aceh kombinasi bunga timbul, dan bunga sulam. Kata Kunci: perkembangan, bentuk, motif, kerajinan tas
BENTUK PENYAJIAN TARI ZAPIN PEKAJANG DI SANGGAR BUANA KOTA BANDA ACEH Dara Ananda Suraya Tiba; Tri Supadmi; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.085 KB)

Abstract

penyajian tari Zapin Pekajang di Sanggar Buana Kota Banda Aceh”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian tari Zapin Pekajang di Sanggar Buana Kota Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk penyajian tari Zapin Pekajang di sanggar buana Kota Banda Aceh. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah penari dan pelatih sanggar buana. Objek dalam penelitian ini adalah tari Zapin Pekajang. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Zapin Pekajang termasuk ke dalam tari tradisional dari Johor, Malaysia. Penggunaan unsur gerak pada tarian ini tidak terlalu banyak, tarian ini cenderung menggunakan pola lantai yang beragam. Tari Zapin Pekajang ini berasal dari salah satu kampung yang berada di Johor. Tarian ini menceritakan bagaimana perjalanan pemuda-pemudi yang ingin mendapatkan pasangan hidup mereka. Tari ini memiliki 3 ragam gerak, yaitu ragam gerak Dua, Tiga dan lima. Di dalam ragam gerak terdapat pembatas antara ragam gerak satu dengan ragam gerak lainnya yang disebut dengan kopak. Tari ini memiliki 20 pola lantai dan 8 orang penari diantaranya 4 penari pria dan 4 penari wanita. Tata rias yang digunakan pada tari Zapin Pekajang adalah tata rias cantik. Tata busana yang digunakan pada tari Zapin Pekajang adalah busana adat Melayu seperti celana hitam, baju Melayu lengan panjang dan songket. Bentuk sanggul yang digunakan sama seperti sanggul Aceh pada umumnya dengan perlengkapan hiasan kepala berupa mahkota dan bunga. Properti yang digunakan adalah bunga telur. Tarian ini tidak menggunakan musik langsung, melainkan audio. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian zapin ini adalah gambus, rebana, gendang dan marwas. Kata kunci: Bentuk penyajian, tari Zapin Pekajang   
PENYAJIAN TARI KREASI TURUN KU AIH AUNEN PADA SANGGAR KERENEM PIRAK KABUPATEN GAYO LUES Ardi Pradita; Ahmad Syai; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.367 KB)

Abstract

ABSTRAK                         Penelitian ini tentang “Penyajian Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen pada Sanggar Kerenem Pirak Kabupaten Gayo Lues”. Menyangkut masalah bagaimana penyajian tari dan makna gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyajian tari dan makna gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriftif. Data bersumber dari koreografer serta pelatih di sanggar Kerenem Pirak Kabupaten Gayo Lues tentang Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen. Pengumpulan data yang digunakan dengan tehnik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data mereduksi, display  dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen bercerita tentang kegiatan rutin seberu (Anak Gadis) zaman dahulu mengambil air dari telaga yang dibuat di pinggir sungai. Tari ini ditarikan oleh 7 orang penari wanita yang menggunakan properti Coran (Bambu) dan Labu (kendi). Tarian ini memiliki 13 gerak yang diiringi dengan Canang dan Gegedem, serta syair yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi. Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen ditampilkan di atas panggung proscenium, dengan tata rias cantik dan busana yang digunakan adalah busana kerawang Gayo Lues dengan Aksesoris berupa Genit Rante, Topong, dan Kupang. Gerak Tari Kreasi Turun Ku Aih Aunen ini memiliki makna dan ada juga yang tidak memiliki makna. Gerakan yang memiliki makna diantaranya gerak salam, gerak Berketibung dan gerak Mulawi. Kata kunci: penyajian, makna, tari kreasi Turun Ku Aih Aunen
PROSES PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA (TEATER) DI SMAN 1 KRUENG BARONA JAYA YANG DILAKSANAKAN OLEH GURU BIDANG STUDI NON SENI Dina Febriani; Ahmad Syai; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.666 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini mengangkat masalah, bagaimana  proses pelaksanaan pembelajaran seni budaya (teater) di SMAN 1 Krueng Barona Jaya yang dilaksanakan oleh guru bidang studi non seni, dan apasajakah hambatan yang dihadapi guru seni budaya dalam proses pelaksanaan pembelajaran seni budaya (teater) di SMAN 1 Krueng Barona Jaya yang dilaksanakan oleh guru bidang non seni. Serta bagaimanakah hasil pembelajaran seni budaya (teater) di SMAN 1 Krueng Barona Jaya yang dilaksanakan oleh guru bidang studi non seni. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran seni budaya (teater) di SMAN1 Krueng Barona Jaya yang dilaksanakan oleh guru bidang non seni, dan mengetahui apasaja hambatan yang dihadapi guru seni budaya dalam proses pelaksanaan pembelajaran seni budaya (teater) di SMAN 1 Krueng Barona Jaya, serta mendeskripsikan hasil pembelajaran seni budaya (teater) di SMAN 1 Krueng Barona Jaya yang dilaksanakan oleh guru bidang studi non seni. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitatif, sedangkan jenisnya menggunakan Deskriptif. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah proses pelaksanaan pembelajaran dan objeknya adalah pembelajaran seni budaya (teater). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian didapatkan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran seni budaya dengan guru bidang non seni dilakukan melalui tiga tahapan pelaksanaan yaitu pelaksanaan kegiatan awal, inti, dan akhir. Serta hambatan yang dihadapi guru seni budaya dalam materi seni teater di SMAN 1 Krueng Barona Jaya, yaitu tidak adanya guru bidang studi seni, kurangnya minat siswa, metode guru, kreatifitas siswa, dan tidak adanya dukungan dari orang tua. Sedangkan hasil pelaksanaan pembelajaran menunjukkan hasil yang baik dengan presentase nilai di atas rata-rata 70.Kata kunci: proses pembelajaran, hambatan, seni budaya (teater)

Page 1 of 1 | Total Record : 10