cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 217 Documents
Faktor Virulen Drofilaria immitis Pada Jaringan Tubuh Manusia Forman Erwin Siagian
Majalah Kedokteran UKI Vol. 25 No. 1 (2007): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Dirofilaria immitis merupakan cacing golongan nematoda dengan tempat predileksi pada jantung dan arteria pulmonalis anjing maupun kucing, serta banyak jenis hewan lain. Pada manusia, cacing itu menyebabkan infeksi zoonosis yang disebut dirofilariasis dan bisa berakibat fatal. Infeksi terjadi melalui gigtan nyamuk zooantropofilik yang mengandung stadium mikrofilaria. Teoritis D. Immitis tidak dapat berkembang menjadi cacing dewasa diluar hospes definitifnya. Namun dilaporkan beberapa kasus sumbatan pembuluh darah paru dan jantung oleh cacing dewasa. Kemampuan untuk bertahan hidup dan menimbulkan gangguan organ dalam hospes non alamiahnya menunjukan adanya sejumlah faktor virulen yang menyebabkan sistem kekebalan kesulitan untuk menghancurkan cacing ini. Faktor virulen cacing adalah stadium mikrofilaria dengan produk-produk sekresi, eksresi, dan enzimatik. Kata Kunci : D. Immitis, zoonosis, dirofilariasis, faktor virulensi Abstract Dirofilaria immitis is a filarial nematode of dogs, cats, and many kind of animals with its predilection site heart and lung vessels. In human, this worm can cause zoonotic infection that can be fatal named dirofilariasis. Infection occur though the bit of zooantrophohilic mosquito that contain infective microfilaria. Theoretically, D. Immitis will not be able develop and become adult worm outside its definite host, but several cases of heart and pulmonal vessels obstruction caused by adult stage have been reported. The ability to survive and destroy the inner organ of the non-natural hosts showed that there are several virulence factor that made the host immune system failed. This paper aimed to discuss about virulence factor of D.immitis. Keywords : D. Immitis, zoonosis, dirofilariasis, viruence factors.
Ezetimibe, Golongan Baru Penurun Kolestrol Abraham Simatupang
Majalah Kedokteran UKI Vol. 25 No. 1 (2007): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Penyakit kardiovaskuler tetap meningkat secara dramatis meskipun tersedia banyak obat penurun kolestrol. Obat penurun kadar kolestrol yang paling sering diresepkan adalah statin. Statin adalah kelompok obat yang secara kompetitif menghambat enzim HMG-KoA reduktase suatu enzim yang berperan dalam produksi mevalomat, prekursor kolestrol. Reaksi itu terutama terjadi di hepar, tempat hampir 90% kolestrol endogen disintesis. Salah satu faktor kunci dalam menurunkan kejadian penyakit koroner adalah dengan menurunkan kadar kolestrol plasma. Salah satu masalah yang sering dikhawatirkan oleh dokter maupun pasien adalah efek samping yang ditimbulkan oleh statin yaitu rhabdomiolisis. Hal itu terjadi bila statin digunakan dalam dosis tinggi atau dikombinasikan dengan penurun kolestrol golongan fibrat. Pengguanaan ezetimibe, obat penurun kolestrol yang baru telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) di bulan Oktober 2002. Eztimibe menghambat absorpsi kolestrol dari usus yang masuk melalui makanan dan empedu tanpa mengganggu absorpsi vitamin larut dalam lemak dan trigliserida. Obat itu juga menghambat absorpsi sterol tumbuhan seperti sitosterol dan campesterol. Ezetimibe secara tunggal diindikasikan sebagai terapi penunjang untuk hiperkolensterolemia bersamaan dengan terapi diet dan olahraga. Kata kunci : ezetimibe, obat penurun kolestrol, hiperkolesterolemia,farmakologi klinik Abstract Cardiovascular diseases are tremendously increase apart there are many lipid lowering drugs currently available. The most lipid lowering drug used and prescribed presently are statins. Statins are a group of drugs which competitively inhibits HMG-CoA reductase, a step-limiting enzyme for producing mevalonate, a precursor of cholestrol is synthesized. Thus one of the key factor to reduce the coronary event is to reduce the level of cholestrol in plasma. The main concerns for prescribers and patient is the adverse event of statins, namely rhabdomyolisis. This adverse event occurs especially with high dose or in combination with fibrates. Ezetimibe a new lipid-lowering drug has been approve by FDA in October 2002. Ezetimibe inhibits intestinal cholesterol absorption from diaetary and biliary sources without affecting the absorption of fat soluble vitamin and triglycerides. The drug inhibits also plant sterols such a siterol and campesterol. Ezetimibe alone is indicated as adjunctive theraphy to diet and exercise for hypercholestrolemia. Key words : ezetimibe, lipid-lowering drug, hypercholesterolemia, clinical pharmacology
Pemeriksaan Histerosalpingografi pada Infertilitas Primer dan Sekunder Mery Hutagalung
Majalah Kedokteran UKI Vol. 25 No. 1 (2007): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Infertilitas primer dan sekunder pada wanita umumnya disebabkan oleh kesalahan perkembangan saat embriogenesis atau proses lain pada masa dewasa. Kelainan pada proses histerosalpingo grafi (HSG). Hyperosalpingogram adalah salah satu pemeriksaan pilihan untuk mendeteksi kelainan bentuk, ukuran serta massa pada lumen uterus. Selain itu juga mendeteksi kelainan bentuk ukuran dan patensi tuba falopii. Pemeriksaan ini hanya membutuhkan waktu kurang dari 11/2 jam dan cukup aman dilakukan dengan kemungkinan komplikasi hanya 1%, HSG dilakukan setelah menstruasi dan sebelum terjadinya ovulasi, yaitu pada hari ke 9-10 dihitung dari hari pertama haid. Hal itu untuk menghindari kemungkinan telah terjadi kehamilan yang merupakan kontra indikasi pemeriksaan tersebut. Kata kunci : Histerosalpingografi, kelainan uterus, kelainan tuba. Abstract Primary and secondary infertility may caused by the failure during embryogenesis. Embryogenesis abnormalities occurs in 1-2% of females and some are detected on physical examination while other identified using other methods such as hysterosapingography. Hysterosalpingografi (HSG) is used to examine and evaluate the shape and configuration of uterus and patency of fallopian tubes. This examination only takes less than one and half hour and the complication only occurred in less than 1%. The procedure usually conducted after the menstrual cycle and prior to the next ovulation i.e on the 9th-10th day of menstrual cycle. One of HSG contra indication is pregnancy that might be happened before 9th-10th day of the cycle. Key word : Hysterosalphyngography, uterus anomaly, fallopian tube anomaly
Profil Bayi dan Anak Penderita Diare di Instalasi Rawat Inap RS Cikini Helena P. Turnip; Persadaan Bukit
Majalah Kedokteran UKI Vol. 26 No. 1 (2008): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Diare Merupakan penyebab tersering morbiditas dan mortalitas anak di negara berkembang. Karakteristik dan etiologic diare perlu diketahui untuk pedoman pencegahan dan tatalaksana diare pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik demografik, manifestasi klinis, dan etiologic serta komplikasi diare pada anak yang dirawat di RS Cikini pada tahun 20006. Penelitian ini merupakan penelitian retro spektif, data diperoleh dari rekam medis anak yang menjalani rawat inap di RS Cikini selama Januari sampai Desember 2006. Dari 235 anak yang diteliti sebagian besar berusia >1-5 tahun (50,2%) dan > 1-11 bulan (41,7%). Gangguan keseimbangan elektrolit ditemukan 15,4% berupa hiponetremi hipokalemi dan hipokalsemi. Sebagian besar biakan feses tidak tumbuh (57%), diikuti E. coli (22,1%). Infeksi jamur ditemukan pada 16,2% anak dan amuba pada 5,9% anak. Derajat dehidrasi diare paling banyak ditemukan adalah dehidrasi ringan-sedang (88,5%). Dehidrasi berat hanya ditemukan pada tiga pasien (1,3%). Hampir seluruh pasien sembuh (99,6%) setelah menjalani perawatan. Diare paling banyak terjadi pada usia > 1-5 tahun. Gangguan kesimbangan elektrolit jarang ditemukan. Etiologi bakteri penyebab diare tersering adalah E. coli. Komplikasi tersering adalah dehidrasi ringan-sedang. Terdapat hubungan yang berkenan antara status gizi dengan diare pada anak sedangkan pendidikan ibu dengan diare pada anak tidak didapatkan hubungan yang bermakna. Kata Kunci : diare, bayi dan anak Abstract Diarrhoea is the most frequent cause of morbidity and mortality among children in the developing countries. The knowledge of diarrhoea’s characteristic and etiologic are important in order to perform the diarrhoea’s prevention and management guidelines. The aim of this study is to identify demographic characteristic, clinical manifestations, etiology and complications of diarrhoea in children who hospitalized at Cikini hospital in the year of 2006. This is a retrospective study. The data was taken from the medical record of children hospitalized in Cikini hospital between January - December 2006. From 235 children, 50,2% children aged between 1-5 years and 41,7% children aged between 1-11 months. Electrolyte imbalance was found in 15,4% cases, such as hiponetremia, hipocalemia, and hipocalcemia. Most of the faeces cultured shown no bacteria growth (57%) Escherichia coli was found in 22,1% children. Furthemore, yeast infection was found in 16,2% children and amoeba in 5,9% children. Most of the children experienced mild- moderate dhydration (88,5%). Then, a severe dehydration was found only in three children (1,3%). Almost all of the patients recovered (99,6%) after the treatment. Most of the diarrhoea occurred in the aged between 1-5 year. Furthermore, imbalance electrolyte was infrequent. The most bacterial etiology of diarrhoea is E. coli. Finally, the most frequent complication was mild-moderate dehydration. It can be conluded there is significant relation between nutrient status and diarrhea. On the contrary, there is no significant relation between education of mother and diarrhea. Key words : diarrhoea, infant and children
Diabetes Melitus Tergantung Insulin dengan Ketoasidosis pada Anak Usia 12 Tahun Ida Bagus Eka Utama; Mei Dwi Rahajeng; Leopold Simanjuntak
Majalah Kedokteran UKI Vol. 26 No. 1 (2008): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Prevalensi diabetes tergantung insulin (Insulin dependent diabetes mellitus-IDDMM) tertinggi di Eropa bagian utara yaitu Negara Skandinavia. Di Finland insiden tersebut sekitar 1-2 dari 100.000/ tahun. Di Indonesia, prevalensi IDDM secara pasti belum diketahui. IDDM dengan Ketoasidosis merupakan kondisi kadar gula darah yang tinggi dan kadar insulin yang rendah atau tidak ada. Tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energy yang akan menghasilkan keton dan berakibat asidosis. Seorang pasien anak perempuan, umur 12 tahun, berat badan 33 kg datang ke RSU FK UKI dengan keluhan utama sesak nafas dan keluhan tambahan sakit perut, mual, dan muntah. Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini sekitar dua tahun yang lalu dengan diagnosis diabetes ketoasidosis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit berat, kesadaran somnolen, frekuensi pernafasan 54x/menit, terdapat retraksi suprasternal, interkosta, dan epigastrium. Hasil pemeriksaan laboratorium ; kadar gula darah sewaktu 363 mgdl, urin lengkap didapatkan protein (+)2, reduksi (+)2, aseton (+3), analisis gas darah Ph 6,847, pCO2 5,2mmHg, base excess -29,4 mmol/L dan buffer base 18,5mmol/L. Pada pasien ini dilakukan koreksi terhadap cairan elektrolit, status asam basa dan pemberian insulin. Setelah perawatan selama ± 14 hari keadaan pasien membaik. Pasien kemudian dirujuk ke RSCM sub bagian endokrinologi untuk mendapatkan terapi insulin lebih lanjut. Dengan diagnosis yang cepat dan tepat, serta penanganan yang tepat dapat mengurangi resiko edema serebri bahkan kematian. Kata Kunci : IDDM dengan ketoasidosis, insulin, tatalaksana Abstract The highest IDDM incidence is in Scandinavia, North Europe. In Indonesia, the IDDM incidence has not been investigated yet. However, it is omit that the prevalence is very rare. Ketoacidosis is a probem due to the low insulin concentration which cause high blood glucose level. The body start use lipid as the energy source which could produce keton that might cause acidosis. A 12 years old girl was admitted to FK UKI Hospital with diabetic ketoacidosis. She has the same problem two years ago, diagnosed as diabetic ketoacidosis patient. She looks weak, dyspneic, with suprasternal, intercostals and epigastrium retraction. The Laboratory results are blood glucose 363 mg/dL, urine analysis shown protein (+)2, reduction (+)2, aseton (+)2, and the blood gas analysis shown pH 6, pCO2 5,2mmHg, base excess -29,4 mmol/L and buffer base 18,5 mmol/L. Rehydration and electrolyte correction had been applied, Furthermore, insulin also had been given to her. After 14 days of treatment, an improvement shown, Then she was forwarded to the sub division of endocrinology of the RSCM hospital for further treatment. With early diagnosis and accuracy in treatment, an edema cerebi and a death risk could be decreased in a patient with diabetes ketoacidosis. Key words : IDDM, ketoacidosis, insulin, therapy
Peran Cacing Usus dalam Menekan Kejadian Atopi Taniawati Supali; Freggy S Joprang
Majalah Kedokteran UKI Vol. 26 No. 1 (2008): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Infeksi cacing usus merupakan jenis infeksi yang paling sering ditemukan pada anak di banyak negara di dunia terutama di negara yang belum berkembang dimana hygiene dan sanitasi buruk. Lebih dari satu miliyar orang didunia terinfeksi cacing usus. Spesies nematode yang paling sering menginfeksi adalah Ascaris Lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang. Kejadian alergi meningkat dinegara barat pada saat praktek hygiene pribadi dan sanitasi lebih baik. Hal ini menunjukan adanya relasi negatif antaracacing usus dan penyakit atopi/ alergi. Di daerah dengan intensitas transmisi cacing usus rendah atau jarang (misalnya daerah urban dengan status sosiologi ekonomi tinggi), reaktifitas alergi tinggi. Sebaliknya didaerah urban atau rural dengan pajanan terhadap infeksi tinggi, kejadian reaktivitas alergi rendah. Respon imun akibat infeksi cacing bergeser kea rah Th2 (IL -4, IL-5 dan IL-13) dan aktivitas Treg (IL-10 dan TGF-β) yang merupakan mediator anti radang. Atopi juga menginduksi respons imun Th2. Infeksi usus kronik akan mengkatkan kadar IL-10 yang akan menekan aktivitas Th2 dan mengurangi resiko atopi. Kata Kunci : cacing usus, atopi, Thelper-2 (Th2), Interleukin-10 (IL-10), Tregulatory (Treg) Abstract Intestinal helminth infections are the most prevalent infection in children in many countries worldwide, especially in poor-developing countries. In these countries the hygiene and sanitation practice are poor. More than one billion humans are infected with helminth worldwide. Among those nematodes, Ascaris lumbricoldes, Trichuris trichiura, and hookworm are the most prevalent species. Allergy in western countries has his eventhough good practices of personal hygiene and sanitation is important, showed that there is a negative relationship between intestinal helmiths and atopy/ allergic diseases. In the areas where intensity of intestinal helmith transmission is low or infrequent (e.q among urban group exposed to high and intense transmission/infection, allergic reactivity is low. The immune reponse from intestinal helminth infecton skewing toward TH2 (IL-4, IL-5, and IL-13) and Treg activation (IL-10 and TGF- β) which is an anti-inflamatory mediator. Atopy is also induced Th2 immune response. The chronic intestinal helminth infection will elevate the IL-10 titer which suppressed the Th2 activation and reduce atopy. Key words : Intestinal helminth, atopy, Thelper-2 (Th2), interleukin-10(IL-10), Tregulatory (Treg)
Microscopic Agglutination Test (MAT) untuk Diagnosis Leptospirosis pada Manusia I Made Setiawan
Majalah Kedokteran UKI Vol. 26 No. 1 (2008): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Leptospirosis adalah penyakit pada manusia dengan gejala yang sangat bervariasi, sehingga sulit dibedakan dengan penyakit lain. Sampai saat ini, untuk diagnosis standar penyakit leptospirosis masih dengan pemeriksaan serologis karena untuk melakukannya diperlukan antigen hidup dari semua serovar yang ada, terutama serovar yang endemus di daerah pemeriksaan. Untuk memenuhi kebutuhan antigen, maka dilakukan pembiakan bakteri secara terus menerus yang mempunyai resiko tinggi bagi petugas yang melakukannya. Disamping itu, untuk untuk menilai hasil MAT sampel tunggal sangat sulit, karena pada penderita masih ada titer agglutinin yang persisten, dan adanya variasi titer antibody yang sangat dipengaruhi oleh banyaknya paparan yang terjadi di masing-masing daerah, sehingga sampel perlu diambil dua kali (pada fase akut dan pada fase konvalesen), agar peningkatan titer yang terjadi antara sampel pertama dan kedua dapat dinilai. Nilai peningkatan titer MAT yang dianggap positif, bila terdapat peningkatan titer empat kali lipat antara sampel pertama. Bila sampel hanya diambil satu kali penilaian dapat dilakukan dengan melihat tingginya titer hasil MAT. Nilai titer yang dianggap positif untuk daerah non-endermis adalah 1:200 sedangkan untuk daerah endemis 1:800, atau malahan disarankan 1:1600. Walaupun demikian tes MAT tetap menjadi rujukan untuk tes serologis yang lain, karena tes-tes ini sering bereaksi silang dengan antibody yang disebabkan oleh penyakit lain. Kata Kunci : Leptospirosis, microscopic agglutination tes (MAT) Abstract Leptospirosis is disease infecting human that has varying symptoms which makes it difficult to differentiate to other disease. Currently, diagnosing this disease is performed by serological examination using microscopic agglutination test (MAT). However, MAT has many limitations since to perform it, living antigen, bacteria is continuously cultured which leads to high risks for the on-duty staff. Furthermore, to score a single MAT sample is very difficult due to the fact that persistent agglutinin titer till exist in the patient and variation of antibodies titler which is influenced by the frequent exposure in each region. Hence, sample need to be taken twice (during the acute phase and the convalescent phase) to evaluate the titer increase between the first and the second sample. The increase value of the MAT’s titer can be considered positive if the increase in the titer become four-fold from the first to the second sample. If the sample is taken once only, evaluation can be performed by observing the high titer of MAT’s result. Finally, the positive titer score for non-endemic areas is 1:200, while for endemic areas is 1:800, even to 1:1600. However, the MAT is still a reference for other serological test as other test are commonly cross-reacting with other diseases antibodies. Key words : Leptospirosis, microscopic agglutination tes (MAT)
Infeksi Parasit dan Jamur pada Pasien HIV Retno Wahyuningsih; Agnes Kurniawan; Lisawati Susanto
Majalah Kedokteran UKI Vol. 26 No. 1 (2008): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Infeksi HIV yang dapat berakhir dengan AIDS merupakan ancaman bagi penduduk dunia masa kini. Banyak infeksi oportunistik yang menyertai penderita AIDS dengan manifestasi gangguan pada sistim pernafasan, pencernaan, dan otak. Di bawah ini diuraikan secara singkat gejala, diagnosis dan pengobatan parasite dan jamur yang berperan menyebabkan gangguan pada ketiga sistem tersebut hasil temuan di laboratorium Parasitologi FKUI. Kata Kunci : Candida, Cryptocaccus, Toxoplasma, Blastocystis, Cryptoporiditium Abstract HIV infection, which ends up in AIDS, is a globally human life threatening disease. There are may co-infection due to the opportunistic organism which might cause disturbances in the respiratory system, digestive tract, and central neural system. In this paper, the signs, diagnosis and the treatment of parasitic and fungal infection in the system mentioned above would be discussed based on the study conducted in the FKUI’s Departement of Parasitology. Key words : Candida, Cryptocaccus, Toxoplasma, Blastocystis, Cryptoporiditium
Efikasi dan Efek Simpang Ramelteon untuk Pengobatan Insomnia Kronik Abraham Simatupang
Majalah Kedokteran UKI Vol. 26 No. 1 (2008): JANUARI-MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Insomnia dengan tanda utama kesulitan untuk mulai tidur dan mempertahankan tidur sering ditemui dalam praktek sehari-hari. Psikoterapi, latihan dan farmakoterapi merupakan pendekatan umum untuk insomnia. Hipnotika dan sadativa yang masuk dalam benzodiazepine dan fenobardital digunakan untuk mengurangi kondisi ini. Namun, benzodiazepine dan fenobarbital memiliki kekurangan, antara lain kekambuhan insomnia, efek lepas obat dan penyalahgunaan senyawa tersebut yang membuat dokter dan pasien berhati-hati menggunakan kedua obat tersebut terutama untuk jangka panjang. Melatonin disintesis dan dilepaskan dari kelenjar pineal dan berperan penting pada irama sirkadian mamalia dan fungsi reproduksi. Malatonin MT 1-receptor mRNA dan MT2- receptor Mrna terdapat di nekleus suprakiasma (NSK) yang berhubungan dengan efek pergeseran fase melantonin pada irama sirkadian. Karena itu senyawa aktif yang berinteraksi tinggi dengan kedua reseptor ini telah diteliti, dan ramelteon, suatu agonis reseptor melatonin tampaknya menjadi jawaban. Ramelteon memiliki selektifitas dan affinitas yang kuat terhadap reseptor MT1 ­dan MT2 manusia. Dari beberapa uji klinik ditemukan bahwa ramelteon menurunkan periode laten menuju tidur dan memperbaiki waktu tidur total dengan efek simpang yang minimal. Kata Kunci : Insomnia, ramelteon, melatonin, farmakokinetik, uji klinik Abstract Insomnia which characterises mainly with difficulty getting into sleep and maintains the sleep is commonly found in daily practice. Psychotheraphy, exercise and pharmacotheraphy are the main approaches against insomnia. Hynotic and sedativies belong to benzodiazepines and phenobarbitals have been used to alleviate the condition. However, benzodiazepines and phenobarbitals have so many drawbacks, such as rebound insomnia, withdrawal effect and abuse ability of the substance, that made prescribers and patients as well reluctant to use both substances especially for chronic use. Melantonin is synthesised and released by the pineal gland and play an important role on the mammalian circadian rhythms and reproductive function. Melantonin MT1-receptor mRNA and MT2-receptor mRNA have been found in suprachiasmatic nucleus (SCN), which is associated with the phase-shifting effect of melatonin on circadian rythms. Therefore, a melatonin receptor agonist, seems possibly the answer. Furthermore, the remelteon has high selectivity and greater affinity for human MT1 ­­and MT2 receptor. Finally, in some clinical trials the remelteon reduced latency to persistent sleep and improved the total sleep time with minimal adverse event compared to the benzodiazepines. Key words : Insomnia, remelteon, melatonin, pharmacokinetics, clinical trial
Effects of Annona muricate Extract on Short Chain Fatty Acid Level of Colorectal Cancer Patients Lili Indrawati; Purwantyastuti; Murdani Abdullah; Ingrid S Surono
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 1 (2020): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i1.2985

Abstract

Annona muricata leaves contains phytochemical substances, such as alkaloids, tannins, flavonoids, saponins, anthraquinones and cardiac glycosides, ellagic acid, triterpenoids, β- sitosterol. Polyphenols are considered to be potential in providing health benefits via modulation the gut microecology. Alteration of the gut microbiota composition can be achieved by consuming of flavonol-rich foods that exerting prebiotic-like effects. Short chain fatty acids (SCFA) that are produced from highly fermentable fibers is considered to be protective against colon cancer. Subjects were assigned consecutively into two group: ethanolic extract of A. muricata, and maltose as placebo. Ssupplementation was conducted for 8 weeks in a capsule. SCFA level assessment was conducted at baseline and the end of the study period. Gas liquid chromatography was used to determine concentration of butyrate. Fiber intake was measured using food record. Concentrations of fecal butyrate levelwas not significantly different between Fraction of A. muricata water extract that is soluble in ethanol (FAMSE) and placebo (p=0.854). Level of others SCFA were also not significantly different. The low fiberintakeisconsistent with the finding on fecal butyrate concentration, as shown by no significant increase in both groups. There is no statistically significant effect of supplementation with ethanol-soluble fraction of A muricata leaves water extract on fecal SCFA level of colo rectal cancer (CRC) patients, andin line with fiber intake below recommended daily allowance throughout the study period. Keywords: phytochemical substances, fiber intake, gut microbiota Abstrak Daun sirsak (Annona muricata) mengandung senyawa fitokimia seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, antraquinon, cardiac glycosides, ellagic acid, triterpenoid, dan β-sitosterol. Polifenol memiliki potensi yang baik dalam kesehatan dengan cara memodulasi mikro-ekologi usus. Komposisi microbiota usus dapat berubah dengan cara mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung flavonol yang memberikan efek seperti prebiotik. Asam lemak rantai pendek yang dihasilkan dari fermentasi tinggi serat dapat mencegah terjadinya kanker kolon. Subyek penelitian dibagi menjadi dua kelompok secara berurutan, yaitu ekstrak etanol Annonamuricata dan maltosa sebagai plasebo. Pemberian suplemen dilakukan selama 8 minggu dalam bentuk kapsul. Pengukuran kadar asam lemak rantai pendek dilakukan pada awal dan akhir masa studi ini. Pengukuran kadar asam butirat dilakukan dengan kromatografi gas. Asupan serat diukur berdasarkan catatan makanan. Konsentrasi kadar asam butirat pada feses tidak berbeda signifikan dengan fraksi ekstrak air Annona muricata yang larut di dalam etanol dan plasebo (p=0.854). Kadar dari asam lemak rantai pendek lainnya juga tidak berbeda nyata. Asupan serat yang rendah sejalan dengan pengukuran kadar asam butirat di feses yang menunjukkan tidak ada peningkatan secara signifikan pada kedua kelompok. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan suplementasi dengan fraksi larut etanol ekstrak air daun Annona muricata pada konsentrasi asam lemak rantai pendek feses dari pasien kanker kolon dan hal itu sejalan dengan asupan serat dibawah rekomendasi harian yang dilakukan selama masa studi ini. Kata kunci: fitokimia, asupan serat, microbiota saluran cerna