cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 17, No. 1, Juni 2016" : 26 Documents clear
PEMIKIRAN MOHAMMAD ILYAS TENTANG PENYATUAN KALENDER ISLAM INTERNASIONAL Amri, Rupi’i
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The object of this study is Mohammad Ilyas’s concept of the unification of InternationalIslamic calendar. The Method of analysis is descriptif-analysis. The results of this researchshow that Mohammad Ilyas’s concept of the unification of International Islamic Calendarbased on the hisab of the crescent visibility and the International Lunar Date Line (ILDL).The Ilyas’s criteria of the crescent visibility use two parameter, i.e. geocentric relative altitudeand relatif azimut. The application of Mohammad Ilyas’s concept of the crescent visibility asthe unification of International Islamic calendar can’t accepted by Indonesia Moslem. Thisproblem is caused by the difference criteria between Indonesia Moslem (Indonesia ReligiousAffair) of the crescent visibility and Ilyas. Ilyas’s concept of International Lunar Date Line isalways change every month. This condition is cause the difference in the beginning of the dayon the first month in the region of the country.Keyword: unification, International Islamic calendar, crescent visibility.Abstrak: Umat Islam sampai saat ini masih berbeda-beda dalam menentukan awal bulankamariah. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan pula dalam memulai peribadatan-peribadatantertentu, yang paling menonjol ialah perbedaan dalam memulai puasa Ramadan, IdulFitri, dan Idul Adha. Perbedaan penetapan awal bulan tersebut membuat para tokoh falakdan astronomi bekerja keras untuk memikirkan upaya penyatuan kalender Islam, baik tingkatnasional maupun internasional. Salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan upaya penyatuankalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Penelitian ini menunjukkanbahwa konsep pemikiran Mohammad Ilyas tentang Kalender Islam Internasional bertumpupada hisab imkan ar-rukyah (crescent visibiliy/visibilitas hilal) dan Garis Tanggal KamariahAntar Bangsa (International Lunar Date Line). Kriteria visibilitas hilal Ilyas menggunakankombinasi dua parameter, yaitu parameter ketinggian relatif geosentrik (geocentric relativealtitude) dan azimut relatif (relative azimut). Kriteria visibilitas hilal yang digunakan olehIlyas adalah: (1) Beda tinggi Bulan-Matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4°jika beda azimut Bulan-Matahari lebih dari 45°. Jika beda azimutnya 0°, maka beda tinggi Bulan-Matahari harus lebih dari 10.5°, (2) Terbenamnya Bulan sekurang-kurangnya 41 menitlebih lambat daripada terbenamnya Matahari dan memerlukan beda waktu yang lebih besaruntuk daerah yang lintangnya tinggi, (3) Hilal harus berumur lebih dari 16.5 jam bagi pengamatdi daerah tropis dan lebih dari 20 jam bagi pengamat di daerah yang lintangnya lebihtinggi. Aplikabilitas pemikiran Mohammad Ilyas tentang kriteria visibilitas hilal (crescentvisibility) sebagai upaya penyatuan kalender Islam Internasional sampai saat ini belum dapatditerima oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kriteria visibilitashilal yang dipakai oleh umat Islam di Indonesia (Kementerian Agama RI) dengan kriteriaIlyas. Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line) yang digagasIlyas juga selalu berubah-ubah setiap bulan sehingga seringkali menimbulkan perbedaan haridalam memulai bulan baru di suatu daerah atau negara.Kata Kunci: penyatuan; kalender Islam Internasional; visibilitas hilal.
STUDI DESKRIPTIF KINERJA DOSEN DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Aly, Abdullah
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Entering the age of 56, UMS still need to make improvements and development inthe learning process. For the sake of improvement and development, this study was conductedin order to map the performance of UMS lecturer in lesson plan, in the implementation oflearning and in the evaluation of learning outcomes. Based on non-experimental descriptivestudy of the survey form, by questionnaire, review of documents, and FGD, the study foundthree important findings. First, UMS lecturer has a good performance in lesson planning. Second,UMS lecturer’s performance in the implementation of the learning process has not beenentirely good, because they are not using a variety of learning methods. Third, UMS lecturer’sperformance in the evaluation of learning outcomes is quite good. By the three findings abovecan be said that the performance of UMS lecturer in the learning process nearly meet the liabilitycomponent required by Law on Teachers and Lecturers in 2005 and has been referred tothe PP 19 on National Education Standards (NES) in 2005.Keywords: Lecturer’s Performance; Law on Teachers and Lecturers; the National Standards;Student Centered Learning (SCL).Abstrak: Memasuki usianya ke-56, UMS masih harus melakukan perbaikan dan pengembangandalam proses pembelajaran. Untuk kepentingan perbaikan dan pengembangan tersebut,studi ini dilakukan dengan tujuan untuk memetakan kinerja dosen UMS dalam prencanaanpembelajaran, kinerja dosen UMS dalam pelaksanaan pembelajaraan, dan kinerja dosen UMSdalam evaluasi hasil pembelajaran. Berdasarkan studi deskriptif non-eksperimental berbentuksurvei, dengan metode angket, telaah dokumen, dan FGD, studi ini menemukan tiga temuanpenting. Pertama, dosen UMS memiliki kinerja yang baik dalam perencanaan pembelajaran.Kedua, kinerja dosen UMS dalam pelaksanaan proses pembelajaran belum sepenuhnya baik,karena belum menggunakan metode pembelajaran yang beragam. Ketiga, kinerja dosen UMSdalam evaluasi hasil pembelajaran cukup baik. Dengan tiga temuan di atas dapat dikatakanbahwa kinerja dosen UMS dalam proses pembelajaran selama ini hampir memenuhi komponenkewajiban yang diminta oleh UU Guru dan Dosen Tahun 2005 dan telah mengacukepada PP No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) Tahun 2005.Kata kunci: Kinerja Dosen; UU Guru dan Dosen; Standar Nasional Pendidikan; StudentCentered Learning (SCL).
KONSEP KEBEBASAN BERAGAMA DALAM ISLAM DAN KRISTEN Wijayanti, Tri Yuliana
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to identify and explain matters related to academic problems,namely: first, understand the formulation of religious freedom in the Islamic religion and religiousfreedom in the formulation of the Christian religion. Second, understand the differenceand points alignment of religious freedom contained in Islam and Christianity. This study wasa qualitative research with religious knowledge as the scope of its research and literature as aplace of research (library research). The collected data is then presented descriptively by usingthe approach of sociology of religion. Sources of data in this study were classified into twogroups, namely primary data and secondary data. The data collected by using documentationand tested the validity of test data by applying confirmability (objectivity of research). Thecollected data were then analyzed with a comparative analysis and deductive models. Basedon the analysis, researchers concluded that Islam and Christianity have their own meaning ofreligious freedom. Freedom of religion in Islam and Christians when studied by the method ofcomparative religion, it will show the differences—on the basis of the law of religious freedom,the freedom of religion, and the norms of religious freedom—and side alignment in the sense—the freedom of each individual to embrace religion according to his individual—and embodiedthe goals of religious freedom is to realize the inter religious harmony.Keywords: freedom of religion; Islam; ChristianAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan hal-hal yang terkaitdengan problem akademik, yaitu: pertama, memahami rumusan kebebasan beragama dalamagama Islam dan rumusan kebebasan beragama dalam agama Kristen. Kedua, memahami letakperbedaan dan poin kesejajaran kebebasan beragama yang terdapat dalam dalam Islam danKristen. Penelitian kualitatif ini dengan ilmu agama sebagai ruang lingkup penelitiannya dankepustakaan sebagai tempat penelitiannya (library research). Data yang didapat kemudiandisajikan secara diskriptif dengan menggunakan pendekatan ilmu sosiologi agama. Sumberdata dalam penelitian ini diklasifikasikan ke dalam dua golongan, yaitu data primer dan datasekunder. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi dan diuji validitasdatanya dengan menerapkan uji confirmability (obyektivitas penelitian). Data dianalisisdengan komparatif dan deduktif. Kesimpulan, bahwa agama Islam dan Kristen memilikipemaknaan tersendiri tentang kebebasan beragama. Kebebasan beragama dalam Islam danKristen ketika dikaji dengan metode perbandingan agama, maka akan terlihat sisi perbedaan—yakni pada sisi dasar hukum kebebasan beragama, batas kebebasan beragama, dan norma kebebasanberagama—dan sisi-sisi kesejajaran yakni pada pengertian—kebebasan tiap individuuntuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing—dan tujuan dari terwujudkankebebasan beragama yaitu mewujudkan kerukunan antar umat beragama.Kata Kunci: kebebasan beragama; agama Islam; agama Kristen
PEMIKIRAN EPISTEMOLOGI AMIN ABDULLAH DAN RELEVANSINYA BAGI PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA Waston, Waston
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The relation between religion and science seems to be the dichotomous view. Bothof them are like oil and water, two entities that cannot be reunited and separated. Due to “thisdispute”, science often misses their ethics, so science and modern technology have actuallyhumanized humans and distanced them from their nature. The conflict between them forcesmany intellectual Muslims to make “epistemology bridge” for reconciling science and religion.One of them is M. Amin Abdullah, who argues with the concept of integration-interconnectionwhich is the effort to avoid the dichotomous view of the science and religion (especiallyIslam-science) and in the epistemology view, the concept is to close back all disciplines so thereare dialogues, communications, relationships, and mutual help. This article aims to discussthe epistemology thought of M. Amin Abdullah concerning on integration-interconnectionwith its methodology and relevance for the scientific development of higher education in Indonesia.Keywords: Epistemology; Islam; science; Integration-interconnection.Abstrak: Hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan tampaknya menjadi pandangandikotomis. Keduanya ibarat minyak dan air, dua entitas yang tidak bisa bersatu kembali dandipisahkan. Karena “sengketa ini” ilmu pengetahuan mencoba merangkul konsep-konsep agamadan etika agar ilmu pengetahuan-teknologi memiliki nuansa yang manusiawi. Konflikantara keduanya memaksa kaum Muslim intelektual membuat “jembatan epistemologi” untukmendamaikan sains dan agama. Salah satunya adalah M. Amin Abdullah, yang berpendapatbahwa konsep integrasi-interkoneksi yang merupakan upaya untuk menghindari pandangandikotomis dari ilmu dan agama (khususnya Islam-ilmu) dan dalam pandangan epistemologi,konsep ini mencoba menawarkan kembali semua disiplin ilmu sehingga ada dialogisasi, komunikasi,sinergitas, dan hubungan saling membantu. Artikel ini bertujuan untuk membahasepistemologi pemikiran M. Amin Abdullah berkenaan konsep integrasi-interkoneksi denganmetodologi dan relevansinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan tinggi di Indonesia.Kata kunci: Epistemologi; Islam; ilmu pengetahuan; Integrasi-interkoneksi.
PENGARUH THEOSOFI DAN FREEMASON DI INDONESIA (Kajian Analitis Simbol-simbol Theosofi dan Freemason dalam Lirik Lagu dan Sampul Kaset Album Grup Musik Dewa 19) Prihatno, Setyahadi
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The lyrics and album cover of Dewa 19 wave of criticism with many symbols or emblemsthat allegedly represent the ancient mystical beliefs and visually turns almost identicalto the symbols on the Thesofi anf Freemason. It lead to the possibility of meaning similarity.Four main points discussed in this study is about the meaning of the lyrics of the album’ssongs of Dewa 19 band, regarding the visual appearance and meaning of symbols in the coverof the album of Dewa 19, reviewing the structure of the relationship between the lyrics and thesymbols in the album of Dewa 19 with Theosofi and Freemason, as well as explain the impactof visualization and dissemination of these symbols in a album of Dewa 19 cassette. Dewa 19has consistently display the lyrics of songs and symbols of Theosofi and Freemasonry teachingsstarted from his first album. Symbols are cleverly laid out in various ways and can onlybe seen with certain ways. The pattern of symbols has a characteristic appearance as well asits own theme. The structure of relations that are drawn in this study relates to the profile ofAhmad Dhani, Theosofi and Freemason teachings, text and lyrics, as well as a visual displayof Theosofi and Freemasons symbols in Dewa 19 album. Display representations of symbolscontained in the album cover of Dewa 19 concluded have relevance in form and meaning tothe symbols of the teachings or understood Occult, Paganism, Kaballah and Theosofi, as wellas movements such as secret Zionist, Illuminati and Freemasonry.Keywords: symbol; theosofi; freemason.Abstrak: Lirik dan sampul album Dewa 19 menuai banyak kritik dengan banyaknya simbolatau lambang yang diduga merepresentasikan kepercayaan mistik kuno dan secara visualternyata nyaris identik dengan simbol-simbol pada Theosofi dan Freemason.Hal tersebutmengarahkan pada adanya kemungkinan kesamaan makna. Empat hal utama yang dibahasdalam penelitian ini adalah mengenai makna dari lirik lagu album grup musik Dewa 19, mengenaitampilan visual dan makna simbol dalam sampul album Dewa 19, mengkaji strukturrelasi antara lirik lagu dan simbol dalam album Dewa 19 dengan Theosofi dan Freemason,serta menjelaskan dampak dari visualisasi dan penyebaran simbol-simbol tersebut dalam kasetalbum Dewa 19. Dewa 19 secara konsisten telah menampilkan lirik lagu dan simbol-simbolajaran Theosofi dan Freemason dari mulai album pertamanya. Simbol secara cerdik diletakkandengan berbagai cara dan hanya bisa dilihat dengan cara-cara tertentu. Pola pemunculan simbolmemiliki ciri serta tema tersendiri. Struktur relasi yang ditarik dalam penelitian ini berkaitandengan profil Ahmad Dhani, ajaran Theosofi dan Freemason, teks dan lirik lagu, sertatampilan visual simbol-simbol Theosofi dan Freemason dalam album Dewa 19. Representasitampilan simbol yang terdapat dalam sampul album Dewa 19 disimpulkan memiliki keterkaitansecara bentuk dan makna dengan simbol-simbol dari ajaran atau paham Okultisme,Paganisme, Kaballah serta Theosofi, serta pergerakan-pergerakan rahasia Zionisme Yahudi seperti, Illuminati dan Freemasonry.Kata kunci: symbol; theosofi; freemason.
REFORMULASI PERATURAN HUKUM LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH DI INDONESIA Muhtarom, Muhammad
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The presence of Act No. 1 of 2013 on Micro Finance Institutions, have given riseto legal problems for Cooperative of Syariah Micro Finance, because the cooperatives governedby two kinds of regulation, namely cooperative legislation and regulation of microfinance institutions(MFIs). Dualism of laws has given rise to overlapping regulation, supervision andoversight by the relevant agencies, as well as the contradictions settings between one to another.The legal problems required solutions through reformulation of laws of the Syariah MFI’s.Keywords: reformulation of law; cooperatives; syariah micro financeAbstrak: Kehadiran Undang Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga KeuanganMikro, telah memunculkan problem hukum bagi lembaga keuangan mikro syariah yang berbadanhukum Koperasi, karena LKM ini diatur oleh dua macam regulasi, yaitu peraturanperundangan perkoperasian dan peraturan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Adanya dualismeperaturan hukum ini telah menimbulkan tumpang-tindih pengaturan, pengawasandan pembinaan oleh instansi terkait, serta adanya kontradiksi-kontradiksi pengaturannya diantara satu dengan lainnya. Problem hukum itu memerlukan pemecahannya melalui reformulasiperaturan hukum yang berkaitan dengan LKM Syariah.Kata kunci: reformulasi peraturan; perkoperasian; lembaga keungan mikro syariah
MEMBEDAH TUJUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH Ali, Mohamad
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The presence of modern religious school “Muhammadiyah” (1911) be a trigger asthe establishment of modern organizations: Muhammadiyah (1912). Long time before Indonesia’sindependence, Muhammadiyah has formulated educational goals for schools which arebuilt.Since its establishment until today, the purpose of Muhammadiyah education amendedseveral times. These changes are a creative response of Muhammadiyah on current socialchange, a shift in the orientation of community life, as well as the progress of science andtechnology.from the political constellation of national education, Muhammadiyah was relativelyautonomous when formulating the educational goals.Meanwhile, from the perspectiveof modern educational theory, style of Muhammadiyah educational purposes closer to progressiveeducation theory that emphasizes the experience reconstruction continuously as a vehicleto promote social life.eKeywords: educational; Muhammadiyah education; progressive.Abstrak: Kehadiran sekolah agama modern “Muhammadiyah” (1911) menjadi trigger berdirinyaorganisasi modern: Muhammadiyah (1912). Jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyahtelah merumuskan tujuan pendidikan bagi sekolah-sekolah yang diselenggarakannya.Sejak awal berdiri hingga saat ini, tujuan pendidikan Muhammadiyah mengalamibeberapa kali perubahan. Perubahan-perubahan itu merupakan respons kreatif Muhammadiyahatas arus perubahan sosial, pergeseran orientasi kehidupan masyarakat, maupun kemajuanilmu dan teknologi. Dilihat dari konstelasi politik pendidikan nasional, Muhammadiyahternyata relatif mandiri ketika merumuskan tujuan pendidikannya. Sedangkan dari perspektifteori pendididkan modern, corak tujuan pendidikan Muhammadiyah lebih mendekati teoripendidikan progresif yang menekankan pada rekonstruksi pengalaman secara terus-menerussebagai wahana memajukan kehidupan sosial.Kata Kunci: tujuan pendidikan; pendidikan Muhammadiyah; progresif.
KINERJA GURU BERSERTIFIKASI DALAM MENINGKATKAN MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH SUDUNG KEDUNGTUBAN BLORA TAHUN 2015 Shobron, Sudarno; Suyanto, Suyanto
Profetika Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The performance of school teachers be one of the important factors in improving theschools quality. Certified teachers in Ibtidaiyah Elementary School of Muhammadiyah SudungBlora include planning and implementation of education quality development has been carriedout effectively and efficiently. It is characterized by the realization of the development of theimplementation of learning and learning outcomes in accordance with the vision and missionof the madrassa. support Factor in improving education quality management are 1) Availabilityof adequate learning media and support ongoing learning activities; 2) The interest andenthusiasm of students is increasing in participating in learning activities; 3) Preparation ofteachers in teaching is increasing; 4) The climate in the classroom learning environment moreconducive; 5) There is full support of the school community, society, and government; 6) Suppliedfacilities for picking up the students to and from school by teachers. Inhibiting factors inimproving the quality of education management in MI Muhammadiyah Sudung are 1) Lackof facilities to support the library and its contents; 2) Many teachers who are still miss match(not in accordance with the latest science education qualifications); 3) Lack of infrastructureeg. UKS room, and laboratory, so it is still a hard time in learning practices.Keywords: teacher performance; certification; management quality; education.Abstrak: Kinerja guru disekolah menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkanmutu sekolah. Guru bersertifikasi di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sudung KabupatenBlora meliputi perencanaan dan pelaksanaan pengembangan mutu pendidikan telahdilakukan secara efektif dan efisien. Hal ini ditandai dengan terwujudnya pengembanganpelaksanaan pembelajaran dan hasil pembelajaran sesuai dengan visi dan misi madrasah. Fakorpendukung dalam meningkatkan manajemen mutu pendidikan ialah 1) Tersedianya mediapembelajaran yang memadai dan menunjang berlangsungnya kegiatan belajar mengajar; 2)Minat dan semangat siswa semakin meningkat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran; 3)Persiapan guru dalam pembelajaran semakin meningkat; 4) Iklim lingkungan belajar dalamkelas yang semakin kondusif; 5) Adanya dukungan penuh dengan warga sekolah, masyarakat,dan pemerintah; 6) Disediakan fasilitas antar jemput siswa saat berangkat dan pulang sekolaholeh guru-guru. Faktor penghambat dalam meningkatkan manajemen mutu pendidikan di MIMuhammadiyah Sudung ialah 1) Kurangnya fasilitas pendukung perpustakaan beserta isinya;2) Tenaga pengajar masih banyak yang miss match (tidak sesuai dengan kualifikasi ilmupendidikan terakhir); 3) Kurangnya sarana prasarana misalnya ruangan UKS, dan laboratorium, sehingga masih kesulitan saat praktek pembelajaran.Kata Kunci: kinerja guru; sertifikasi; manajemen mutu; pendidikan.
KINERJA GURU BERSERTIFIKASI DALAM MENINGKATKAN MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH SUDUNG KEDUNGTUBAN BLORA TAHUN 2015 Shobron, Sudarno; Suyanto, Suyanto
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2100

Abstract

The performance of school teachers be one of the important factors in improving theschools quality. Certified teachers in Ibtidaiyah Elementary School of Muhammadiyah SudungBlora include planning and implementation of education quality development has been carriedout effectively and efficiently. It is characterized by the realization of the development of theimplementation of learning and learning outcomes in accordance with the vision and missionof the madrassa. support Factor in improving education quality management are 1) Availabilityof adequate learning media and support ongoing learning activities; 2) The interest andenthusiasm of students is increasing in participating in learning activities; 3) Preparation ofteachers in teaching is increasing; 4) The climate in the classroom learning environment moreconducive; 5) There is full support of the school community, society, and government; 6) Suppliedfacilities for picking up the students to and from school by teachers. Inhibiting factors inimproving the quality of education management in MI Muhammadiyah Sudung are 1) Lackof facilities to support the library and its contents; 2) Many teachers who are still miss match(not in accordance with the latest science education qualifications); 3) Lack of infrastructureeg. UKS room, and laboratory, so it is still a hard time in learning practices.Keywords: teacher performance; certification; management quality; education.Abstrak: Kinerja guru disekolah menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkanmutu sekolah. Guru bersertifikasi di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sudung KabupatenBlora meliputi perencanaan dan pelaksanaan pengembangan mutu pendidikan telahdilakukan secara efektif dan efisien. Hal ini ditandai dengan terwujudnya pengembanganpelaksanaan pembelajaran dan hasil pembelajaran sesuai dengan visi dan misi madrasah. Fakorpendukung dalam meningkatkan manajemen mutu pendidikan ialah 1) Tersedianya mediapembelajaran yang memadai dan menunjang berlangsungnya kegiatan belajar mengajar; 2)Minat dan semangat siswa semakin meningkat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran; 3)Persiapan guru dalam pembelajaran semakin meningkat; 4) Iklim lingkungan belajar dalamkelas yang semakin kondusif; 5) Adanya dukungan penuh dengan warga sekolah, masyarakat,dan pemerintah; 6) Disediakan fasilitas antar jemput siswa saat berangkat dan pulang sekolaholeh guru-guru. Faktor penghambat dalam meningkatkan manajemen mutu pendidikan di MIMuhammadiyah Sudung ialah 1) Kurangnya fasilitas pendukung perpustakaan beserta isinya;2) Tenaga pengajar masih banyak yang miss match (tidak sesuai dengan kualifikasi ilmupendidikan terakhir); 3) Kurangnya sarana prasarana misalnya ruangan UKS, dan laboratorium, sehingga masih kesulitan saat praktek pembelajaran.Kata Kunci: kinerja guru; sertifikasi; manajemen mutu; pendidikan.
PEMIKIRAN MOHAMMAD ILYAS TENTANG PENYATUAN KALENDER ISLAM INTERNASIONAL Amri, Rupi’i
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2096

Abstract

The object of this study is Mohammad Ilyas’s concept of the unification of InternationalIslamic calendar. The Method of analysis is descriptif-analysis. The results of this researchshow that Mohammad Ilyas’s concept of the unification of International Islamic Calendarbased on the hisab of the crescent visibility and the International Lunar Date Line (ILDL).The Ilyas’s criteria of the crescent visibility use two parameter, i.e. geocentric relative altitudeand relatif azimut. The application of Mohammad Ilyas’s concept of the crescent visibility asthe unification of International Islamic calendar can’t accepted by Indonesia Moslem. Thisproblem is caused by the difference criteria between Indonesia Moslem (Indonesia ReligiousAffair) of the crescent visibility and Ilyas. Ilyas’s concept of International Lunar Date Line isalways change every month. This condition is cause the difference in the beginning of the dayon the first month in the region of the country.Keyword: unification, International Islamic calendar, crescent visibility.Abstrak: Umat Islam sampai saat ini masih berbeda-beda dalam menentukan awal bulankamariah. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan pula dalam memulai peribadatan-peribadatantertentu, yang paling menonjol ialah perbedaan dalam memulai puasa Ramadan, IdulFitri, dan Idul Adha. Perbedaan penetapan awal bulan tersebut membuat para tokoh falakdan astronomi bekerja keras untuk memikirkan upaya penyatuan kalender Islam, baik tingkatnasional maupun internasional. Salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan upaya penyatuankalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Penelitian ini menunjukkanbahwa konsep pemikiran Mohammad Ilyas tentang Kalender Islam Internasional bertumpupada hisab imkan ar-rukyah (crescent visibiliy/visibilitas hilal) dan Garis Tanggal KamariahAntar Bangsa (International Lunar Date Line). Kriteria visibilitas hilal Ilyas menggunakankombinasi dua parameter, yaitu parameter ketinggian relatif geosentrik (geocentric relativealtitude) dan azimut relatif (relative azimut). Kriteria visibilitas hilal yang digunakan olehIlyas adalah: (1) Beda tinggi Bulan-Matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4°jika beda azimut Bulan-Matahari lebih dari 45°. Jika beda azimutnya 0°, maka beda tinggi Bulan-Matahari harus lebih dari 10.5°, (2) Terbenamnya Bulan sekurang-kurangnya 41 menitlebih lambat daripada terbenamnya Matahari dan memerlukan beda waktu yang lebih besaruntuk daerah yang lintangnya tinggi, (3) Hilal harus berumur lebih dari 16.5 jam bagi pengamatdi daerah tropis dan lebih dari 20 jam bagi pengamat di daerah yang lintangnya lebihtinggi. Aplikabilitas pemikiran Mohammad Ilyas tentang kriteria visibilitas hilal (crescentvisibility) sebagai upaya penyatuan kalender Islam Internasional sampai saat ini belum dapatditerima oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kriteria visibilitashilal yang dipakai oleh umat Islam di Indonesia (Kementerian Agama RI) dengan kriteriaIlyas. Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line) yang digagasIlyas juga selalu berubah-ubah setiap bulan sehingga seringkali menimbulkan perbedaan haridalam memulai bulan baru di suatu daerah atau negara.Kata Kunci: penyatuan; kalender Islam Internasional; visibilitas hilal.

Page 1 of 3 | Total Record : 26