cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol. 19, No. 1, Juni 2018" : 24 Documents clear
IMPLEMENTASI THE HIDDEN CURRICULUM DALAM MENUMBUHKAN KARAKTER ISLAMI Murti, Anjani Wira
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7749

Abstract

This study aims to describe the implications of co-curriculer improving the student's Islamic character and to know the supporting and inhibiting factors of implementing co-curiculer at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri. This type of research is qualitative research. The subjects of this study were headmasters, Islamic teachers, and students at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri. The objects of this study are Islamic habituation activities that exist in MTs Negeri I and II Wonogiri. The techniques of collecting the data through observation, interviews, and documentation. The data analysis techniques used descriptive qualitative. The results of the research show that (1) the implications of co-curriculer in improving the student's Islamic character at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri are: (a) the implication to the students are: through habituation which is conducted in the schools, the student will be discipline in doing his obligations such as prayer. The students also become more polite and noble. This shows that the student's attitude change be better is because of the application of co-curriculer in the school, (b) implications for schools: through co-curriculer, schools can achieve vision and mission. Co-curriculer also gives great benefits for schools, because with the existence of Islamic activities can make the name of the school more superior in the community. Besides that, by implementation of Islamic habituation activities and the existence of special program classes can also affect the school is superior.(2) The supporting factors of co-curriculer at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri are: (a) The existence of Islamic teachers, (b) The closeness between teachers and students through communication, (c) the holding of ESQ activities, (d) Facilities and infrastructure are complete, and (e) Supportive school environments.(3) The inhibiting factors of implementing co-curriculer in improving the student's Islamic character are: (a) Awareness of students who are still less obedient in worship, (b) less of attention from parents, (c) Many of the students left by their parents go abroad, and (d) student living environment that is still less obedient in worship.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implikasi ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan ko-kurikuler dalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif.Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru pembina keagamaan, dan siswa kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri.Objek dalam penelitian ini adalah kegiatan pembiasaan keagamaan yang ada di MTs Negeri I dan II Wonogiri.Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) implikasi dari ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri yaitu: (a) implikasi terhadap siswa: melalui pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah, siswa akan menjadi disiplin dalam melaksanakan kewajibannya seperti shalat. Siswa juga menjadi lebih santun dan berakhlak mulia. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan sikap siswa menjadi lebih baik karena diterapkannya ko-kulikulerdi sekolah, (b) implikasi terhadap sekolah: melalui ko-kurikuler, sekolah dapat mencapai visi dan misi. Ko-kulikulerjuga memberikan manfaat besar bagi sekolah, karena dengan adanya kegiatan keagamaan dapat menjadikan nama sekolah semakin unggul di masyarakat. Selain itu dengan diterapkannya kegiatan pembiasaan keagamaan dan adanya kelas program khusus juga dapat mempengaruhi sekolah lebih unggul.(2) faktor pendukung ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri yaitu: (a) Adanya guru pembina keagamaan, (b) Kedekatan antara guru dengan siswa melalui komunikasi, (c) diadakannya kegiatan ESQ, (d) Sarana dan prasarana yang lengkap, dan (e) Lingkungan sekolah yang mendukung.(3) Faktor penghambat pelaksanakan ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa yaitu: (a) Kesadaran siswa yang masih kurang taat dalam beribadah, (b) kurangnya perhatian dari orang tua, (c) Banyak siswa yang ditinggalkan orang tuannya pergi merantau, dan (d) lingkungan tempat tinggal siswa yang masih kurang taat dalam beribadah.
أحكام النقاب عند الألباني والأئمة الأربعة Azhari, Amri
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7756

Abstract

There are two different thoughts of the scholars since the last period to the present about the use of Veil. The first thought which oblige a woman Muslim to close the face [Veiled] in front of the male who is not her Mahram; because the face is a primary body part that must be covered. This thought being the opinion of Imam Ahmad bin Hambal, and a strong thought of Imam Syafi'i. The second opinion says Istihbab [Highly recommended], this being the opinion of the Imam Malik and Abu Hanifah's thought and Imam Malik, but, on the other thought of Hanafi and Maliki, since then,  they oblige a veiled woman when they're worried about a slander that will occurr to them. It could happen to her if she is pretty girl, so it appears a libel damages and a malice outbreaking. As this opinion asserted by Al imam Ibn ' Abidin Alhanafi his book [Raddul Muhtar ' Ala Addurul Mukhtar] said: the young girl is prohibited to open her face in the presence of a male [that is not her mahram], it does not because of the face is a body part that must be covered, nevertheless it is concerned as a defamation that occur to the tempted men though his desires are not appeared. Then, the thought about this istihbab is strongly assumed by Shaykh Muhammad al-Albani, a great scholar in the field of Hadith. In addition, he also has a considerable role in enriching the treasure in the field of Islamic law by producing a good works such as the book: (Hijab Almar-ah Almuslimah Fii Alkitaab Wa Assunnah) and a book (Arradul Mufhim ' Ala Man Khalafa Al ulamaa Wa tasyadda Wa ta'shshaba Wa alzama  Almar ata antastura Wajhaha Wa kaffaiha Wa awjaba Wa lam yaqna ' Biqaulihim Innahu Sunnatun  wa Mustahabbun). those two books were his Ijtihad about the use of the veil and islamic law.  Mustahabbun/Sunnah (highly recommended for Muslim women and it does not up to the obligatorily required status). Based on the some Imam Madzhab's thought being compared with the opinions of Shaykh Muhammad al-Albani about the veil, as a result, the author of this scientific works has  aims to explain a different thought among Mutaqaddimin and Muakhkhirin scholars about the veil. I pray to Allah, may Allah gives a great benefits, Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin.Para Ulama sejak dahulu sampai sekarang berselisih paham tentang hukum Cadar dangan dua pendapat: yang pertama pendapat yang mewajibkan seorang wanita muslimah untuk menutup wajah [ Bercadar ] didepan laki-laki yg bukan Mahram; dikarenakan Muka adalah Aurat yang wajib di tutut, hal ini menjadi pendapat Imam Ahmad bin Hambal, dan pendapat yang kuat dalam madzham Imam Syafi’. Yang kedua pendapat yang mengatakan Istihbab [ Sangat di anjurkan] , ini menjadi pendapat Madzhab Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, Namun di sisi lain para ulama Hanafi dan Maliki- sejak dahulu kala meraka mewajibkan wanita bercadar ketika di khawatirkan terjadinya fitnah yang akan menimpanya; hal tercebut bisa terjadi jika seorang wanit yg cantik maka timbullah fitnah berupa kerusakan dan merebaknya kefasikan. Sebagaimana pendapat ini di tagaskan oleh Al imam Ibnu ‘ Abidin Alhanafi di dalam kitab beliau [ Raddul  Muhtar  ‘Ala  Addurul Mukhtar ]  berkata: Wanita yg masih muda di larang membuka wajah di hadapan laki-laki [ yg bukan mahram baginya] , bukan karena wajah iyu Aurat , namun khawatir fitnah yg akan menimpa laki- laki seperti terlena/ tergoda walaupun tidak bangkit syahwatnya. Lalu pendat yg mengatakan Istihbab ini di kuat oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, beliau adalah seorang yang mampuni dalam bidang hadits. Di samping itu beliau juga memiliki peran yang cukup besar dalam memperkaya khazanah  dalam bidang hukum-hukum Islam dengan karya-karya yang bermutu semisal buku beliau:  ( Jilbab Almar-ah Almuslimah Fii Alkitaab Wa Assunnah ) Dan kitab  ( Arradul Mufhim ‘Ala Man Khalafa Al ulamaa Wa tasyadda Wa ta’shshaba Wa alzama Almar-ata An Tastura Wajhaha Wa kaffaiha Wa awjaba Wa lam yaqna’ Biqaulihim Innahu Sunnatun Wa Mustahabbun .dua  buku tersebut merupakan Ijtihad beliau tentang hukum Cadar  dalam huk um Islam yaitu: Mustahabbun/ Sunnah ( Sangat di anjurkan bagi wanita muslimah dan tidak sampai ke status Wajib). Berangkat dari pendapat Para Imam- imam Madzhab dan di bandingkan dengan pendapat Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani tentang Cadar, maka Penulis karya Ilmiah ini bertujuan untuk menjelaskan khilafiyah di antara ulama Mutaqaddimin dan Muakhkhirin tentang Cadar tersebut. Saya berdoa kepada Allah Suabhanu Wata’aala memberikan Manfa’at  yang  besar, Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin .   اختلاف العلماء قديماً، وحديثا في حكم النقاب على قولين: الأول: يجب على المرأة ستر وجهها أمام الرجال الأجانب؛ لأن الوجه عورة، وهو مذهب الإمام أحمد، والصحيح من مذهب الشافعي، الثاني: استحباب النقاب، وهو مذهب أبي حنيفة ومالك، لكن أفتى علماء الحنفية والمالكية - منذ زمن بعيد - أنه يجب على المرأة ستر وجهها، عند خوف الفتنة بها أو عليها، والمراد بالفتنة بها: أن تكون المرأة ذات جمال، والمراد بخوف الفتنة عليها، أن يفسد الزمان بكثرة الفساد وانتشار الفساق؛ قال "ابن عابدين الحنفي" في (رد المحتار على الدر المختار): "وتمنع المرأة الشابة من كشف الوجه بين رجال، لا لأنه عورة، بل لخوف الفتنة كمسه وإن أمن الشهوة. إن العلماء الذين يقولون باستحباب حكم النقاب لقد أيده الشيخ محمد ناصر الدين الألباني, كان رجلا بارعا في المجال الحديثي وله مساهمة غير قليلة في إثراء المكتبة الفقهية الإسلامية بالمؤلفات المفيدة منها: جلباب المرأة المسلمة في الكتاب والسنة والرد المفحم على من خالف العلماء وتشدّد وتعصب وألزم المرأة أن تستر وجهها وكفيها وأوجب ولم يقنع بقولهم: إنه سنة ومستحب, ومنخلال كتابيه راى وأخذ القول مجتهدا أن النقاب مستحب/ سنة وليس بواجب. انطلاقا من أراء العلماء المتقدمين والمعاصرين ثم المقارنة باجتهاد الشيخ الألباني عن النقاب, فلبى الباحث كتابة هذه الرسالة مبيّناً عن خلافية العلماء في أحكام النقاب, الله أسأل أن يمن علي الأجر والنفع الكبير, ويرزقنا العمل الصالح, آمين يا رب العالمين
ترجيحات الإمام أبي عبيد القاسم بن سلاّم بن عبد الله الهروي في الزكاة من كتاب الأموال Muthoifin, M; Humaidi, Sudarno
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.8084

Abstract

Abstract: The needs of low income families hasn't been fulfilled as it should be. Even poverty issues hasn't been solved yet. Therefore, the writer willing to involve in solving the issue by presenting the results of Tarjih from Ulama who's mastered in so many religious disciplines. He lives in Imam Syafi'ie and imam Ahmad's era. He is famous with his ability in Arabic language. He is Qasim bin Salaam, which commonly known as Abu Ubaid. He states on his book (Kitabul Amwal) Varieties of sources of public wealth managed by the government. Some of them are taxes, Ghanimah, Fa'i, Zakat and so many more. Meanwhile the writer only picks Zakat as his research object. This is because all Muslims have the ability and freewill to manage it at the maximum level. The writer limits his research into two points: first: what is the results of Abu Ubaid's Tarjih. Second: what is the method of Abu Ubaid in his Tarjih. The main purpose of this research is to know his tarjeh and the basis of it. While providing benefits to Amil zakat, fatwa institutions, and alike. So that the result of this research serve as a reference in regulating the wealth allocation on Zakat and in issuing fatwa. The conclusions of the research is: That in general Abu ubaid uses the method (manhaj) of the majority of ulama in interact with Dalils that looks contradictive. First, he tried to colaborate (jam'u) two Dalils that contradictive. Then if it can't be collaborated, he chooses (tarjih) one of the two Dalils without using the others. He wasn't do Naskh because he was able to Tarjih the whole problem of zakat in his book. If there is two Dalils that contradictive, he'll choose the Shohih one. He put Dalil first rather than Atsar and Qiyas. However if the Dalil is Dhoif he will choose Atsar and Qiyas. He put Atsar of the shohabat first rather than the words of ulama after them. If there is two Qiyas that contradictive, he'll choose Qiyas that supported with Dalils or in accordance with the general rules of the religions. Abstrak: Kebutuhan orang-orang yang berkekurangan belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Bahkan kefakiran dan kemiskinan juga belum teratasi. penelitian ini sebagai wujud dari andil kami dalam menuntaskan masalah tersebut dengan cara mempersembahkan hasil Tarjih seorang ulama yang menguasai banyak disiplin ilmu Agama, hidup di masa imam Syafi’i dan imam Ahmad dan terkenal sebagai ahli bahasa Arab. Dia adalah Qosim bin Sallam yang biasa disebut Abu Ubaid. Dalam bukunya (Kitabul Amwal) ia menulis bermacam-macam sumber kekayaan umum yang dikelola olah Negara. Seperti pajak, Ghonimah, Fa’i’, Zakat dan lain sebagainya. Permasalahan Zakatlah yang kami pilih sebagai obyek penelitian karena umat Islam memiliki kemampuan dan kebebasan untuk mengelolanya secara maksimal. Penelitihan ini kami batasi pada dua point saja: Pertama : Apa saja hasil Tarjeh Abu Ubaid. Kedua : Sebab atau landasan beliau dalam mentarjih. Tujuan utama dari penelitihan ini adalah mengetahui hasil Tarjeh Abu Ubaid serta landasannya dan memberikannya kepada lembaga-lembaga amil Zakat, lembaga-lembaga fatwa, dan yang serupa dengan itu. Agar hasil penelitihan ini dijadikan sebagai bahan rujukan dan pertimbangan dalam mengatur harta Zakat dan mengeluarkan fatwa. Kesimpulan dari penelitihan ini bahwa secara umum Abu Ubaid menggunakan methode (Manhaj) mayoritas Ulama dalam berinteraksi dengan dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan. Yaitu pertama-tama ia berusaha mengkolaborasi (Jam’u) dalil-dalil yang bertentangan. Jika tidak dapat dikolaborasikan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu dari dalil-dalil tersebut. Ia tidak melakukan Naskh karena sanggup mentarjih seluruh permasalahan Zakat dalam bukunya. Jika ada dalil-dalil yang bertentangan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu yang ia anggap Shohih. Jika ada Hadits, Atsar dan Qiyas saling bertentangan, maka ia mendahulukan Hadits dari pada Atsar dan Qiyas, jika Hadits tersebut Shohih. Jika Haditsnya Dhoif, ia lebih memilih Atsar dan Qiyas. Jika hanya terdapat satu Hadits dalam suatu masalah, jika Hadits tersebut dikuatkan oleh Atsar atau Qiyas, maka ia tetap mengambilnya meskipun Dhoif. Ia mengutamakan Atsar Sabahat dari pada perkataan ulama setelah mereka. Jika ada dua Qiyas yang bertentangan beliau memilih Qiyas yang didukung oleh dalil atau sesuai dengan kaidah-kaidah umum Agama.  الملخص: إن مما يدفع الباحث إلى اختيار هذا الموضوع ما يجري في واقع الحياة بمحتمعنا أن حوائج المحتاجين لم تسد على الوجه المطلوب والفقر والحرمان لم يمحا من الوجود . فأراد الباحث إسهام ما استطاع لأجل المشاركة في حل هذه القضية بتقديم ترجيحات أبي عبيد القاسم بن سلاّم الهروي في مسائل الزكاة . لأنه عالم متقن في كثير من الفنون الإسلامية ومن معاصري الإمامين الشافعي وأحمد وممن يقبله الناس. اختار الباحث مسائل الزكاة من كتابه لتكون موضوعا لبحثه لأن المسلمين لايزالون في سعة وقدرة في تنفيذها بخلاف المسائل الأخرى . وحدد الباحث نقطتين لبحثه . الأولى ترجيحاته والثانية أسباب ترجيحاته وتعليلاتها . مستهدفا معرفة ترجيحات أبي عبيد وأسبابها ، لتكون مرجعا للقائمين بجمع الزكاة وصرفها في مواضعها ، وليسترشدوا بها في تطبيقاتهم لأحكام الزكاة . كما استهدف إبراز جانب الفقه في شخصية أبي عبيد . والمنهج الذي أسير عليه في كتابة هذا البحث هو ذكر أقوال الفقهاء التي ذكرها أبو عبيد وأدلة كل قول بإيجاز ، ثم أذكر ترجيحاته مع بيان أسبابها وتعليلاتها . ثم أذكر موقفي من ترجيحاته موافقة أو مخالفة مع بيان أسباب ذلك. وقد توصل الباحث إلى التنيجة التي تتلخص فيما يلي : إن أبا عبيد قد نهج منهج الجمهور في التعامل بين النصوص الشرعية التي ظاهرها التعارض . حيث إنه حاول الجمع بينها أولا ، وإذا لم يمكنه ذلك قام بترجيحها . ولم يدخل أبو عبيد في النسخ لأنه استطاع ترجيح جميع مسائل الزكاة في كتابه . وعند التعارض بين النصوص قام بترجيح النص الصحيح . وعند التعارض بين النص والآثار والقياس فإنه رجح النص عليها إن كان صحيحا ، وإذا كان ضعيفا فإنه رجح الآثار والقياس عليه . وإذا لم يوجد في المسألة إلا حديث واحد فإنه أخذه بشرط أن تكون هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده ، وإن لم تكن هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده فإنه لا يأخذه . قدم أبو عبيد آثار الصحابة على أقوال من بعدهم . وعند التعارض بين الأقيسة رجح أبو عبيد قياسا صحيحا مؤيَّدا بالنص أو بالقواعد العامة في الدين على قياس فاسد عير معتبر . وقد يرجح بين أقوال الفقهاء بناء على مهارته في تفسير ألفاظ النصوص الشرعية.الكلمات الرئيسة: ترجيح، أبو عبيد، الزكاة، كتاب الأموال.
COVER Profetika, Redaksi
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.8105

Abstract

Cover
METODE PENGAJARAN KECERDASAN EMOSIONAL MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA Muhammad Thoriq Fauzan
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7754

Abstract

The background of this research is the method of teaching in formal school in general less attention to emotional development. The problems seen in MTs N Tanon are, among others, many who like to play truant, less attention to school tasks, not focus on solving problems such as lack of discipline in dressing, smoking out of school during school hours and school time and no less respect to the teacher and the teacher in the school. Therefore, additional curriculum is needed to complement the curricular activities so that the students' emotional development becomes more holistic and comprehensive. Learning emotional intelligence will benefit the students themselves and the people around them. The purpose of this study is to describe the learning method in MTs N Tanon and also to know the impetus and impediment of emotional teaching in MTs N Tanon. The type of this research is by using descriptive qualitative, and using ethnography approach. Data method by interview, observation, and documentation. The results of this study indicate that: First, the method of teaching emotional intelligence is in accordance with the characteristics of teaching methods of emotional intelligence or called the five dimensional methods of teaching emotional intelligence, emotions in terms of morals, thinking skills EQ, problem solving, social skills, self motivation and ability to perform. Second there are supporters and obstacles in the method of teaching emotional intelligence through extracurricular scout activities in MTs N Tanon. Supporting teaching methods Supporting factors include intrinsic and extrinsic factors. The intrinsic factor is the motivation in students to commit themselves to extracurricular activities. Extrinsic factors that contribute to the success of extracurricular activities in MTs N Tanon include the dedication of extra pengampu, a conducive environment, the existence of competition and support from the school. The inhibiting factor inhibiting methods of extracurricular activities in MTs N Tanon is the number of children left behind by parents and lack of understanding from teachers at MTs N Tanon. Latar belakang penelitian ini adalah metode pengajaran disekolah formal pada umum  nya kurang memperhatikan pengembangan kecerdasan emsoional.  Permasalahan yang terlihat di MTs N Tanon antara lain masih banyak nya siswa yang suka membolos, kurang perhatian terhadap tugas-tugas sekolah,  tidak fokus pada penyelesaian masalah seperti kurang displin dalam berpakaian, merokok diluar sekolah sewaktu jam pelajaran maupun waktu pulang sekolah dan juga kurang hormat terhadap bapak dan ibu guru di lingkungan sekolah. Untuk itu diperlukan pengajaran pada ekstra kurikuler sebagai pelengkap pada kegiatan ko kurikuler, sehingga perkembangan  emosi siswa menjadi lebih holistik dan komprehensif. Memeliki kecerdasan emosi akan bermanfaat bagi siswa itu sendiri dan orang-orang yang disekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi metode pengajaran kecerdasan emosional di MTs N Tanon dan juga mengetahui pendorong dan penghambat pengajaran kecerdasan emosional di MTs N Tanon.  Jenis penelitian ini berupa penelitian lapangan dengan analisis deskriptif kualitatif, dan memakai pendekatan etnografi .Metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, Metode pengajaran kecerdasan emosional sudah sesuai dengan ciri-ciri metode pengajaran kecerdasan emosional atau disebut dengan lima dimensi metode pengajaran kecerdasan emosional yaitu emosi dari segi moral, ketrampilan berpikir EQ, pemecahan masalah, ketrampilan sosial, motivasi diri dan kemampuan berprestasi. Kedua terdapat pendukung dan penghambat dalam metode mengajarkan kecerdasan emosional melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka di MTs N Tanon. Pendukung metode pengajaran Faktor penunjang tersebut antara lain faktor intrinsik dan esktrinsik. Faktor instrinsik adalah motivasi dalam diri siswa untuk berkomitmen dalam kegaiatan ekstrakurikuler. Faktor ekstrinsik yang berperan terhadap kesuksesan kegiatan ekstrakurikuler di MTs N Tanon antara lain dedikasi pengampu ekstra, lingkungan yang kondusif, adanya kompetisi serta dukungan dari pihak sekolah. Adapun penghambat Faktor penghambat dalam metode mengajarkan kegiatan ekstrakurikuler di MTs N Tanon adalah banyak nya anak- anak yang ditinggal oleh orang tua dan kurang adanya kesepahaman dari guru di MTs N Tanon
ترجيحات الإمام أبي عبيد القاسم بن سلاّم بن عبد الله الهروي في الزكاة من كتاب الأموال M Muthoifin; Sudarno Humaidi
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.8084

Abstract

Abstract: The needs of low income families hasn't been fulfilled as it should be. Even poverty issues hasn't been solved yet. Therefore, the writer willing to involve in solving the issue by presenting the results of Tarjih from Ulama who's mastered in so many religious disciplines. He lives in Imam Syafi'ie and imam Ahmad's era. He is famous with his ability in Arabic language. He is Qasim bin Salaam, which commonly known as Abu Ubaid. He states on his book (Kitabul Amwal) Varieties of sources of public wealth managed by the government. Some of them are taxes, Ghanimah, Fa'i, Zakat and so many more. Meanwhile the writer only picks Zakat as his research object. This is because all Muslims have the ability and freewill to manage it at the maximum level. The writer limits his research into two points: first: what is the results of Abu Ubaid's Tarjih. Second: what is the method of Abu Ubaid in his Tarjih. The main purpose of this research is to know his tarjeh and the basis of it. While providing benefits to Amil zakat, fatwa institutions, and alike. So that the result of this research serve as a reference in regulating the wealth allocation on Zakat and in issuing fatwa. The conclusions of the research is: That in general Abu ubaid uses the method (manhaj) of the majority of ulama in interact with Dalils that looks contradictive. First, he tried to colaborate (jam'u) two Dalils that contradictive. Then if it can't be collaborated, he chooses (tarjih) one of the two Dalils without using the others. He wasn't do Naskh because he was able to Tarjih the whole problem of zakat in his book. If there is two Dalils that contradictive, he'll choose the Shohih one. He put Dalil first rather than Atsar and Qiyas. However if the Dalil is Dhoif he will choose Atsar and Qiyas. He put Atsar of the shohabat first rather than the words of ulama after them. If there is two Qiyas that contradictive, he'll choose Qiyas that supported with Dalils or in accordance with the general rules of the religions. Abstrak: Kebutuhan orang-orang yang berkekurangan belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Bahkan kefakiran dan kemiskinan juga belum teratasi. penelitian ini sebagai wujud dari andil kami dalam menuntaskan masalah tersebut dengan cara mempersembahkan hasil Tarjih seorang ulama yang menguasai banyak disiplin ilmu Agama, hidup di masa imam Syafi’i dan imam Ahmad dan terkenal sebagai ahli bahasa Arab. Dia adalah Qosim bin Sallam yang biasa disebut Abu Ubaid. Dalam bukunya (Kitabul Amwal) ia menulis bermacam-macam sumber kekayaan umum yang dikelola olah Negara. Seperti pajak, Ghonimah, Fa’i’, Zakat dan lain sebagainya. Permasalahan Zakatlah yang kami pilih sebagai obyek penelitian karena umat Islam memiliki kemampuan dan kebebasan untuk mengelolanya secara maksimal. Penelitihan ini kami batasi pada dua point saja: Pertama : Apa saja hasil Tarjeh Abu Ubaid. Kedua : Sebab atau landasan beliau dalam mentarjih. Tujuan utama dari penelitihan ini adalah mengetahui hasil Tarjeh Abu Ubaid serta landasannya dan memberikannya kepada lembaga-lembaga amil Zakat, lembaga-lembaga fatwa, dan yang serupa dengan itu. Agar hasil penelitihan ini dijadikan sebagai bahan rujukan dan pertimbangan dalam mengatur harta Zakat dan mengeluarkan fatwa. Kesimpulan dari penelitihan ini bahwa secara umum Abu Ubaid menggunakan methode (Manhaj) mayoritas Ulama dalam berinteraksi dengan dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan. Yaitu pertama-tama ia berusaha mengkolaborasi (Jam’u) dalil-dalil yang bertentangan. Jika tidak dapat dikolaborasikan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu dari dalil-dalil tersebut. Ia tidak melakukan Naskh karena sanggup mentarjih seluruh permasalahan Zakat dalam bukunya. Jika ada dalil-dalil yang bertentangan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu yang ia anggap Shohih. Jika ada Hadits, Atsar dan Qiyas saling bertentangan, maka ia mendahulukan Hadits dari pada Atsar dan Qiyas, jika Hadits tersebut Shohih. Jika Haditsnya Dhoif, ia lebih memilih Atsar dan Qiyas. Jika hanya terdapat satu Hadits dalam suatu masalah, jika Hadits tersebut dikuatkan oleh Atsar atau Qiyas, maka ia tetap mengambilnya meskipun Dhoif. Ia mengutamakan Atsar Sabahat dari pada perkataan ulama setelah mereka. Jika ada dua Qiyas yang bertentangan beliau memilih Qiyas yang didukung oleh dalil atau sesuai dengan kaidah-kaidah umum Agama.  الملخص: إن مما يدفع الباحث إلى اختيار هذا الموضوع ما يجري في واقع الحياة بمحتمعنا أن حوائج المحتاجين لم تسد على الوجه المطلوب والفقر والحرمان لم يمحا من الوجود . فأراد الباحث إسهام ما استطاع لأجل المشاركة في حل هذه القضية بتقديم ترجيحات أبي عبيد القاسم بن سلاّم الهروي في مسائل الزكاة . لأنه عالم متقن في كثير من الفنون الإسلامية ومن معاصري الإمامين الشافعي وأحمد وممن يقبله الناس. اختار الباحث مسائل الزكاة من كتابه لتكون موضوعا لبحثه لأن المسلمين لايزالون في سعة وقدرة في تنفيذها بخلاف المسائل الأخرى . وحدد الباحث نقطتين لبحثه . الأولى ترجيحاته والثانية أسباب ترجيحاته وتعليلاتها . مستهدفا معرفة ترجيحات أبي عبيد وأسبابها ، لتكون مرجعا للقائمين بجمع الزكاة وصرفها في مواضعها ، وليسترشدوا بها في تطبيقاتهم لأحكام الزكاة . كما استهدف إبراز جانب الفقه في شخصية أبي عبيد . والمنهج الذي أسير عليه في كتابة هذا البحث هو ذكر أقوال الفقهاء التي ذكرها أبو عبيد وأدلة كل قول بإيجاز ، ثم أذكر ترجيحاته مع بيان أسبابها وتعليلاتها . ثم أذكر موقفي من ترجيحاته موافقة أو مخالفة مع بيان أسباب ذلك. وقد توصل الباحث إلى التنيجة التي تتلخص فيما يلي : إن أبا عبيد قد نهج منهج الجمهور في التعامل بين النصوص الشرعية التي ظاهرها التعارض . حيث إنه حاول الجمع بينها أولا ، وإذا لم يمكنه ذلك قام بترجيحها . ولم يدخل أبو عبيد في النسخ لأنه استطاع ترجيح جميع مسائل الزكاة في كتابه . وعند التعارض بين النصوص قام بترجيح النص الصحيح . وعند التعارض بين النص والآثار والقياس فإنه رجح النص عليها إن كان صحيحا ، وإذا كان ضعيفا فإنه رجح الآثار والقياس عليه . وإذا لم يوجد في المسألة إلا حديث واحد فإنه أخذه بشرط أن تكون هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده ، وإن لم تكن هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده فإنه لا يأخذه . قدم أبو عبيد آثار الصحابة على أقوال من بعدهم . وعند التعارض بين الأقيسة رجح أبو عبيد قياسا صحيحا مؤيَّدا بالنص أو بالقواعد العامة في الدين على قياس فاسد عير معتبر . وقد يرجح بين أقوال الفقهاء بناء على مهارته في تفسير ألفاظ النصوص الشرعية.الكلمات الرئيسة: ترجيح، أبو عبيد، الزكاة، كتاب الأموال.
IMPLEMENTASI THE HIDDEN CURRICULUM DALAM MENUMBUHKAN KARAKTER ISLAMI Anjani Wira Murti
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7749

Abstract

This study aims to describe the implications of co-curriculer improving the student's Islamic character and to know the supporting and inhibiting factors of implementing co-curiculer at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri. This type of research is qualitative research. The subjects of this study were headmasters, Islamic teachers, and students at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri. The objects of this study are Islamic habituation activities that exist in MTs Negeri I and II Wonogiri. The techniques of collecting the data through observation, interviews, and documentation. The data analysis techniques used descriptive qualitative. The results of the research show that (1) the implications of co-curriculer in improving the student's Islamic character at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri are: (a) the implication to the students are: through habituation which is conducted in the schools, the student will be discipline in doing his obligations such as prayer. The students also become more polite and noble. This shows that the student's attitude change be better is because of the application of co-curriculer in the school, (b) implications for schools: through co-curriculer, schools can achieve vision and mission. Co-curriculer also gives great benefits for schools, because with the existence of Islamic activities can make the name of the school more superior in the community. Besides that, by implementation of Islamic habituation activities and the existence of special program classes can also affect the school is superior.(2) The supporting factors of co-curriculer at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri are: (a) The existence of Islamic teachers, (b) The closeness between teachers and students through communication, (c) the holding of ESQ activities, (d) Facilities and infrastructure are complete, and (e) Supportive school environments.(3) The inhibiting factors of implementing co-curriculer in improving the student's Islamic character are: (a) Awareness of students who are still less obedient in worship, (b) less of attention from parents, (c) Many of the students left by their parents go abroad, and (d) student living environment that is still less obedient in worship.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implikasi ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan ko-kurikuler dalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif.Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru pembina keagamaan, dan siswa kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri.Objek dalam penelitian ini adalah kegiatan pembiasaan keagamaan yang ada di MTs Negeri I dan II Wonogiri.Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) implikasi dari ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri yaitu: (a) implikasi terhadap siswa: melalui pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah, siswa akan menjadi disiplin dalam melaksanakan kewajibannya seperti shalat. Siswa juga menjadi lebih santun dan berakhlak mulia. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan sikap siswa menjadi lebih baik karena diterapkannya ko-kulikulerdi sekolah, (b) implikasi terhadap sekolah: melalui ko-kurikuler, sekolah dapat mencapai visi dan misi. Ko-kulikulerjuga memberikan manfaat besar bagi sekolah, karena dengan adanya kegiatan keagamaan dapat menjadikan nama sekolah semakin unggul di masyarakat. Selain itu dengan diterapkannya kegiatan pembiasaan keagamaan dan adanya kelas program khusus juga dapat mempengaruhi sekolah lebih unggul.(2) faktor pendukung ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri yaitu: (a) Adanya guru pembina keagamaan, (b) Kedekatan antara guru dengan siswa melalui komunikasi, (c) diadakannya kegiatan ESQ, (d) Sarana dan prasarana yang lengkap, dan (e) Lingkungan sekolah yang mendukung.(3) Faktor penghambat pelaksanakan ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa yaitu: (a) Kesadaran siswa yang masih kurang taat dalam beribadah, (b) kurangnya perhatian dari orang tua, (c) Banyak siswa yang ditinggalkan orang tuannya pergi merantau, dan (d) lingkungan tempat tinggal siswa yang masih kurang taat dalam beribadah.
أحكام النقاب عند الألباني والأئمة الأربعة Amri Azhari
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7756

Abstract

There are two different thoughts of the scholars since the last period to the present about the use of Veil. The first thought which oblige a woman Muslim to close the face [Veiled] in front of the male who is not her Mahram; because the face is a primary body part that must be covered. This thought being the opinion of Imam Ahmad bin Hambal, and a strong thought of Imam Syafi'i. The second opinion says Istihbab [Highly recommended], this being the opinion of the Imam Malik and Abu Hanifah's thought and Imam Malik, but, on the other thought of Hanafi and Maliki, since then,  they oblige a veiled woman when they're worried about a slander that will occurr to them. It could happen to her if she is pretty girl, so it appears a libel damages and a malice outbreaking. As this opinion asserted by Al imam Ibn ' Abidin Alhanafi his book [Raddul Muhtar ' Ala Addurul Mukhtar] said: the young girl is prohibited to open her face in the presence of a male [that is not her mahram], it does not because of the face is a body part that must be covered, nevertheless it is concerned as a defamation that occur to the tempted men though his desires are not appeared. Then, the thought about this istihbab is strongly assumed by Shaykh Muhammad al-Albani, a great scholar in the field of Hadith. In addition, he also has a considerable role in enriching the treasure in the field of Islamic law by producing a good works such as the book: (Hijab Almar-ah Almuslimah Fii Alkitaab Wa Assunnah) and a book (Arradul Mufhim ' Ala Man Khalafa Al ulamaa Wa tasyadda Wa ta'shshaba Wa alzama  Almar ata antastura Wajhaha Wa kaffaiha Wa awjaba Wa lam yaqna ' Biqaulihim Innahu Sunnatun  wa Mustahabbun). those two books were his Ijtihad about the use of the veil and islamic law.  Mustahabbun/Sunnah (highly recommended for Muslim women and it does not up to the obligatorily required status). Based on the some Imam Madzhab's thought being compared with the opinions of Shaykh Muhammad al-Albani about the veil, as a result, the author of this scientific works has  aims to explain a different thought among Mutaqaddimin and Muakhkhirin scholars about the veil. I pray to Allah, may Allah gives a great benefits, Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin.Para Ulama sejak dahulu sampai sekarang berselisih paham tentang hukum Cadar dangan dua pendapat: yang pertama pendapat yang mewajibkan seorang wanita muslimah untuk menutup wajah [ Bercadar ] didepan laki-laki yg bukan Mahram; dikarenakan Muka adalah Aurat yang wajib di tutut, hal ini menjadi pendapat Imam Ahmad bin Hambal, dan pendapat yang kuat dalam madzham Imam Syafi’. Yang kedua pendapat yang mengatakan Istihbab [ Sangat di anjurkan] , ini menjadi pendapat Madzhab Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, Namun di sisi lain para ulama Hanafi dan Maliki- sejak dahulu kala meraka mewajibkan wanita bercadar ketika di khawatirkan terjadinya fitnah yang akan menimpanya; hal tercebut bisa terjadi jika seorang wanit yg cantik maka timbullah fitnah berupa kerusakan dan merebaknya kefasikan. Sebagaimana pendapat ini di tagaskan oleh Al imam Ibnu ‘ Abidin Alhanafi di dalam kitab beliau [ Raddul  Muhtar  ‘Ala  Addurul Mukhtar ]  berkata: Wanita yg masih muda di larang membuka wajah di hadapan laki-laki [ yg bukan mahram baginya] , bukan karena wajah iyu Aurat , namun khawatir fitnah yg akan menimpa laki- laki seperti terlena/ tergoda walaupun tidak bangkit syahwatnya. Lalu pendat yg mengatakan Istihbab ini di kuat oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, beliau adalah seorang yang mampuni dalam bidang hadits. Di samping itu beliau juga memiliki peran yang cukup besar dalam memperkaya khazanah  dalam bidang hukum-hukum Islam dengan karya-karya yang bermutu semisal buku beliau:  ( Jilbab Almar-ah Almuslimah Fii Alkitaab Wa Assunnah ) Dan kitab  ( Arradul Mufhim ‘Ala Man Khalafa Al ulamaa Wa tasyadda Wa ta’shshaba Wa alzama Almar-ata An Tastura Wajhaha Wa kaffaiha Wa awjaba Wa lam yaqna’ Biqaulihim Innahu Sunnatun Wa Mustahabbun .dua  buku tersebut merupakan Ijtihad beliau tentang hukum Cadar  dalam huk um Islam yaitu: Mustahabbun/ Sunnah ( Sangat di anjurkan bagi wanita muslimah dan tidak sampai ke status Wajib). Berangkat dari pendapat Para Imam- imam Madzhab dan di bandingkan dengan pendapat Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani tentang Cadar, maka Penulis karya Ilmiah ini bertujuan untuk menjelaskan khilafiyah di antara ulama Mutaqaddimin dan Muakhkhirin tentang Cadar tersebut. Saya berdoa kepada Allah Suabhanu Wata’aala memberikan Manfa’at  yang  besar, Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin .   اختلاف العلماء قديماً، وحديثا في حكم النقاب على قولين: الأول: يجب على المرأة ستر وجهها أمام الرجال الأجانب؛ لأن الوجه عورة، وهو مذهب الإمام أحمد، والصحيح من مذهب الشافعي، الثاني: استحباب النقاب، وهو مذهب أبي حنيفة ومالك، لكن أفتى علماء الحنفية والمالكية - منذ زمن بعيد - أنه يجب على المرأة ستر وجهها، عند خوف الفتنة بها أو عليها، والمراد بالفتنة بها: أن تكون المرأة ذات جمال، والمراد بخوف الفتنة عليها، أن يفسد الزمان بكثرة الفساد وانتشار الفساق؛ قال "ابن عابدين الحنفي" في (رد المحتار على الدر المختار): "وتمنع المرأة الشابة من كشف الوجه بين رجال، لا لأنه عورة، بل لخوف الفتنة كمسه وإن أمن الشهوة. إن العلماء الذين يقولون باستحباب حكم النقاب لقد أيده الشيخ محمد ناصر الدين الألباني, كان رجلا بارعا في المجال الحديثي وله مساهمة غير قليلة في إثراء المكتبة الفقهية الإسلامية بالمؤلفات المفيدة منها: جلباب المرأة المسلمة في الكتاب والسنة والرد المفحم على من خالف العلماء وتشدّد وتعصب وألزم المرأة أن تستر وجهها وكفيها وأوجب ولم يقنع بقولهم: إنه سنة ومستحب, ومنخلال كتابيه راى وأخذ القول مجتهدا أن النقاب مستحب/ سنة وليس بواجب. انطلاقا من أراء العلماء المتقدمين والمعاصرين ثم المقارنة باجتهاد الشيخ الألباني عن النقاب, فلبى الباحث كتابة هذه الرسالة مبيّناً عن خلافية العلماء في أحكام النقاب, الله أسأل أن يمن علي الأجر والنفع الكبير, ويرزقنا العمل الصالح, آمين يا رب العالمين
MODEL PENDIDIKAN JIHAD PONDOK PESANTREN TA’MIRUL ISLAM SURAKARTA DAN PONDOK PESANTREN DARUSY SYAHADAH BOYOLALI Muhammad Nur Rochim Maksum
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7750

Abstract

The purpose of this study was to know jihad meaning of Ta'mirul Islam boarding school leader and Darusy Shahadah boarding school leader, the model and the differences and similarities of education are applied at jihad in Ta'mirul Islam Boarding School and Darusy Syahadah boarding school 2015-2016. Type of research is a field research with qualitative methods with primary and secondary data sources, that obtained from informants in  Ta'mirul Islam Boarding School and Darusy Syahadah boarding school, this data collection techniques used interviews, observation and documentation. Data analysis technique used inductive method. These results indicate that: Ta'mirul Islam boarding school leader said that meaning of jihad in accordance with the theory of Yusuf Qordowi as seriusly form of doing things. Ta'mirul Islam boarding school avoids the sense of narrowing the meaning of jihad as war. Darusy Syahadah boarding school recognizes both the meaning of jihad, either in a general sense and still looks jihad with war that must be planted in deep inside a Muslim. Jihad educational model those are applied in Ta'mirul Islam boarding school  namely: Jaulah, mujahādah, education, social Jihad, economics Jihad, education organization, said the right words to despotic leaders, the devotion of one year after graduation. Darusy Syahadah applied namely: physical Jihad, passions jihad, faith jihad, social jihad, propaganda jihad, education jihad, media jihad. Similarities of jihad education model between both boarding are namely: propaganda jihad, second: passions and devils jihad, third: amar ma‘rūf nahī munkar, fourth: education jihad. The difference between them are Ta'mirul Islam boarding school used of economic jihad jihad and said the right words to  despotic leader, while Darusy Syahadah did not. Darusy Syahadah boarding school implemented physical education model while Ta'mirul Islam boarding school did not apply that model.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna jihad menurut Pimpinan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dan Pimpinan Pondok Pesantren Darusy Syahadah, model serta perbedaan dan persamaan pendidikan jihad yang diterapkan  Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dan Pondok Pesantren Darusy Syahadah 2015-2016. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan metode kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder, yang diperoleh dari informan di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dan Darusy Syahadah, Teknik pengumpulan data ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu metode induktif. Hasil penelitian yaitu: Pimpinan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam dalam memaknai jihad sesuai dengan teori Yusuf Qordowi sebagai bentuk kesungguh-sungguhan dalam melakukan sesuatu,. Pondok pesantren Ta’mirul Islam menghindari pengertian dari penyempitan makna dari jihad itu yakni jihad yang bermakna perang. Pimpinan Pondok pesantren Darusy Syahadah mengakui kedua makna jihad, baik dalam makna umum dan tetap memamdang jihad dengan perang sebagai makna yang harus tetap di tanamkan secara mendalam dalam diri seorang muslim. Model pendidikan jihad yang di terapkan pondok pesantren Ta’mirul Islam yakni: Jaulah, mujāhadah, Pendidikan, Jihad sosial, Jihad ekonomi, Pendidikan organisasi, mengatakan perkataan yang benar kepada pemimpin yang zalim, pengabdian setahun pasca kelulusan. Model pendidikan jihad Darusy Syahadah yakni: Jihad fisik, jihad hawa nafsu, jihad aqidah, jihad sosial, jihad dakwah, jihad pendidikan, jihad media. Persamaan model pendidikan jihad antara keduanya yaitu: jihad dakwah, kedua: jihad hawa nafsu dan syaitan, ketiga: jihad amar ma‘rūf nahī munkar,keempat: jihad pendidikan. Perbedaan diantara keduanya yaitu Ta’mirul Islam menggunakan model jihad ekonomi dan model jihad dengan mengatakan perkataan yang benar dihadapan penguasa yang zalim, sedangkan Darusy Syahadah tidak menggunkannya. Darusy Syahadah menerapkan model pendidikan jihad fisik sedangkan Ta’mirul Islam sendiri tidak menerapakan model tersebut.
دلالة أفعال الرسول على الأحكام والتأسي بها عند الإمام السمعاني: دراسة تحليلية أصولية على كتابه قواطع الأدلة في أصول الفقه Sirojul Yani
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7758

Abstract

Findings of the study showed that Imam Sam’ani had ushul opinions on the deeds of Prophet Muhammad, and the deeds can be divided into five types: First: Jibilliyah (deed that is suitable with the nature of human being) is mubah. Second: Al ‘Adiyyah (deed that is conforming with local habit and culture) is mubah at its origin, except the Prophet made it as routine one. Third: special law of deed for the Prophet Muhammad is not necessary to follow by his followers, but law of the deed was fardhu, haram and halal for Prophet Muhammad himself. Fourth: thedeed of Prophet Muhammad with sanction in nature was compulsory for his, and the laws following it will be depended on the cause. If the sanction was toward two persons, then Qadha’ law was in effect. Fifth: Deeds of Prophet Muhammad related to religious problems and worship were divided into three types: 1) affirmative deed, the law was according to what is affirmed. 2) Deed that was a realization or implementation, the law of the deed was according to what is ordered. 3) A deed that Prophet Muhammad just did it without any cause. The deed with no law consisted of two types: 1) the deed that was intended to worship, 2) the deed that was intended not to worship. The deed for worship had sunnah law according to the researcher and Imam Sam’ani did not made tarjih. The deed that was not intended to worship was mubah. According to law of At-Ta Assy (following) the deed of Prophet Muhammad, then there were 2 types: 1) It is obligated to follow the deed of Prophet Muhammad; 2) the law is according to types of laws contained in the deeds by considering Ta Assy prerequisites. If there was a conflict between what was said by the Prophet and his behavior, then Imam Sam’ani suggested to take opinion of equating of the two. However, researcher suggested to hold to what was said by the Prophet, and his behavior was just for him.Hasil dari penelitiannya ini, bahwasanya Imam Sam’any memiliki pendapat-pendapat ushul dalam hukum-hukum perbuatan Rasulullah, dan peneliti membagi perbuatan Rasulullah menjadi lima macam: yaitu; Pertama: Hukum perbuatan Rasulullah yang Jibilliyah (perbuatan yang sesuai fitrah manusia) adalah Mubah, adapun jika seseorang melakukannya karena cinta dengan Nabi, maka peneliti memandang untuk tidak disyariatkan mengikutinya, Kedua; Hukum perbuatan Rasulullah Al ‘Adiyyah (perbuatan yang sesuai kebiasaan dan adat setempat) adalah Mubah pada asalnya, kecuali kalau perbuatan tersebut terdapat dalil yang menunjukkan disyariatkannya dan Nabi merutinkannya Ketiga; Hukum perbuatan yang khusus bagi Rasulullah adalah tidak disyariatkan bagi ummatnya, adapun bagi Nabi sendiri hukumnya ada yang fardhu, haram dan halal, Keempat; Hukum perbuatan Rasulullah yang bersifat sanksi adalah Wajib atas Beliau, dan hukum mengikutinya tergantung dengan sebabnya, adapun jika sanksi terhadap dua orang maka berjalan seperti hukum Qadha’, Kelima; Hukum perbuatan Rasulullah yang berkaitan dengan masalah agama dan ibadah, ini dibagi menjadi 3 macam, 1. Perbuatan yang sifatnya sebagai penjelas, hukumnya sesuai dengan yang dijelaskan, 2. Perbuatan yang sifatnya realisasi atau pelaksanaan, hukumnya sesuai dengan kandungan perintah, 3. Perbuatan yang Nabi melakukannya begitu saja tanpa ada sebab, perbuatan-perbuatan yang tidak diketahui hukumnya maka ada 2 jenis, 1. Jenis yang dimaksudkan untuk ibadah, 2. Jenis yang tidak,  jenis yang dimaksudkan untuk ibadah maka hukumnya sunnah menurut peneliti dan Imam Sam’ani tidak mentarjihnya, adapun yang tidak dimaksudkan untuk ibadah maka hukumnya mubah, adapun hukum At-Ta Assy (mengikuti) perbuatan Rasulullah, maka ada 2 jenis; 1. Wajib mengikuti perbuatan Nabi, 2. Hukumnya sesuai jenis hukum yang terkandung dalam perbuatan-perbuatan tersebut dengan memperhatikan syarat-syarat Ta Assy, adapun jika ada pertentangan antara perkataan Nabi dengan perbuatannya maka Imam Sam’any mengambil pendapat penyamaan antara keduanya, adapun peniliti mengambil pendapat berpegang kepada perkataannya, adapun perbuatan Nabi menjadi kekhususan Beliau. الملخص: نتيجة هذا البحث أن الإمام السمعاني له آراء أصولية في أحكام أفعال الرسول، وقسم الباحث الأفعال إلى الخمسة وهي؛ الأول: حكم الأفعال الجبلية الإباحة، والثاني: حكم الأفعال العادية الإباحة في الأصل، إلا إذا ورد دليل أو قرينة تدل على القرب، والثالث: حكم الأفعال الخاصة به، فهي خاصة به، إما أن يكون فرضا أو حراما حلالا له، والرابع: حكم الأفعال الواقعة عقوبة له على غيره فهو واجب له وحكم التأسي به منوط بالسبب وأما إذا فعله بين شخصين متداعيين فيجري مجرى القضاء، الخامس: حكم الأفعال المتعلقة بالديانات والقرب، فهي ثلاثة، 1. ما تكون بيانا، فهذا حكمها حسب المبين، 2.ما تكون تنفيذا فهذا حكمها كالأمر، 3. ما يكون ابتداء من غير سبب، والأفعال التي لا يعلم حكمها، ,وهو نوعان؛ الأفعال التي ظهر فيها قصد القربة فحكمها الندبوالإمام السمعاني لم يصرح في الترجيح، والتي لم يظهر فحكمها الإباحة عند الباحث، وأما حكم التأسي بأفعاله ` فواجب باعتبار الأول، والثاني فهي تابعة لحكم أفعاله مع مراعات الشروط، وإذا تعارض الفعل مع القول أخذ الإمام السمعاني بالتسوية وأما الباحث أخذ القول بالتمسك بقوله وحمل الفعل إلى الخصوصية.الكلمات الرئيسة: أفعال الرسول, التأسي, الحكم الشرعي, الإجتهاد

Page 2 of 3 | Total Record : 24