cover
Contact Name
Jurnal Etnohistori
Contact Email
etnohistori@unkhair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arlinahmadjid@unkhair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
ETNOHISTORI: Jurnal Kebudayaan dan Kesejarahan
Published by Universitas Khairun
ISSN : 24601055     EISSN : -     DOI : -
Jurnal ETNOHISTORI adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan dengan tujuan turut serta mengembangkan ilmu Antropologi dan ilmu Sejarah di Indonesia. Karena itu, Redaksi Jurnal ETNOHISTORI menerima karangan dalam kedua ranah disiplin ilmu tersebut. Karangan dapat bersifat ulasan teoritis, refleksi metode, ataupun hasil penelitian lapangan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2017)" : 6 Documents clear
KASUS CEBONGAN DAN SPIRIT KORPSA: Analisis Fungsional Struktural dalam Kekerasan di Indonesia Roikan -
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.339 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v4i1.920

Abstract

Kasus penyerangan lapas Cebongan yang melibatkan oknum dari Kopassus menjadi perhatian nasional pada pertengahan tahun 2013. Kekerasan yang secara substansial berbeda karena berawal dari solidaritas yang didasari oleh Jiwa korpsa (spirit korpsa) sebagai aksi spontan atas tewasnya salah satu anggota. Tulisan ini membahas kasus Cebongan dalam perspektif fungsional-struktural, sebuah paradigma kultural yang mambahas tentang keseimbangan, harmonisasi dalam basis komunitas. Solidaritas kelompok dan aspek hukum menjadi perhatian dalam menyoroti kasus penyerangan Lapas Cebongan. Pasca penyerangan lapas Cebongan yang menurut saya sebagai aksi kekerasan sepihak, justu melahirkan solidaritas dari berbagai elemen masyarakat. Dukungan moral, pendampingan masa sidang, pemasangan spanduk sampai pengiriman bingkisan menjadi bagian dari solidaritas masyarakat khususnya Yogyakarta yang menganggap bahwa pemberantasan premanisme dapat dikatakan berhasil setelah Kopassus turun tangan. Kasus Cebongan berawal dari solidaritas pada korps yang melahirkan solidaritas dari masyarakat. Kata Kunci: Cebongan, Spirit Korpsa, Kekerasan, Fungsional Struktural 
BABAD CENDEK: Simbol Persatuan dan Konsensus Historis Eks Buruh Perkebunan Kolonial Belanda di Bali Barat I Putu Hendra Mas Martayana
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.721 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v4i1.921

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk melihat Babad Cendek sebagai hasil pengalaman yang digunakan dalam merekatkan persahabatan sosial eks buruh perkebunan Kolonial Belanda yang multietnis dan multiagama di Bali Barat. Wujudnya ditunjukkan oleh perilaku sosial masyarakat yang mencerminkan kesadaran tentang toleransi dan keberagaman. Keberadaannya adalah titik puncak dari kekitaan adanya kesamaan tujuan dan cita-cita di masa depan. Kehadirannya dipahami sebagai kenyataan sosial bahwa integrasi sosial yang tengah berlangsung bukanlah sebuah takdir yang diterima begitu saja, melainkan hasil yang diraih melalui perjuangan dan kerja keras.Kata kunci : Babad Cendek, Persatuan, Konsensus, Eks Buruh Perkebunan, Bali Barat
KAWIN LARI TETAPI DIRESTUI: Studi Tentang Tradisi Takko-takko Mata Pada Masyarakat Batak Angkola-Mandailing Azhar Riyadi S
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.561 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v4i1.922

Abstract

Studi ini mengulas tentang perkawinan lari yang mendapat restu pada masyarakat Batak Angkola-Mandailing, yang dalam istilah masyarakatnya disebut sebagai takko-takko mata. Permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana tradisi takko-takko mata dapat berjalan dan bagaimana peran dari kelembagaan adat yakni hatobangon. Tulisan ini merupakan hasil dari suatu penelitian deskriptif dan dianalisis secara kualitatif, peneliti tinggal (live in) bersama masyarakat dusun Napa Sigadung Laut agar dapat mengumpulkan data secara optimal. Studi ini memperlihatkan bahwa dalam dunia yang terbuka dimana pemilihan jodoh juga lebih terbuka ternyata masih belum sepenuhnya berlaku dalam sistem sosial orang Batak Angkola-Mandailing, sehingga kawin lari berpura-pura merupakan suatu alternatif dalam menyelesaikan persoalan biaya (ekonomi) dan persoalan yang menyangkut harga diri dan nama baik keluarga. Peran kelembagaan adat (hatobangon) masih dapat dikatakan kuat di tengah determinannya sistem pemerintahan modern.Kata Kunci: Marlojong; Takko-takko Mata; Angkola-Mandailing
FOSO dan BOBOSO: Ikhtiar Masyarakat Ternate Merawat Peradaban Fachmi Alhadar; Rudi S. Tawari
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.667 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v4i1.917

Abstract

Artikel ini membahas tentang foso dan boboso, salah satu ekspresi kebudayaan pada masyarakat Ternate. Tradisi ini bentuk larangan. Foso bagi masyarakat Ternate memiliki tingkatan yang lebih berat dari pada boboso. Sampai saat ini, bentuk larangan ini masih kuat di tengah-tengah masyarakat. Situasi ini mengisyaratkan bahwa setakat foso dan boboso masih sangat fungsional sehingga ini tetap dipertahankan untuk kepentingan kehidupan mereka. Dengan menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini berhasil mengungkapkan bahwa boboso dan foso adalah kecanggian berpikir masyarakat Ternate dan Maluku Utara secara umum. Jauh sebelum masyarakat mengenal hukum positif dan ajaran-ajaran keagamaan, boboso dan foso muncul sebagai respon masyarakat terhadap berbagai pengalaman yang telah dilalui. Tradisi ini menjadi ikhtiar keadaban masyarakat dalam proses humanisasi dan menata berbagai interaksi manusia (sosial dan ekologi). Selain itu, artikel ini juga mengungkapkan bahwa eksistensi boboso dan foso masih tetap berlangsung karena ditemukan bahwa pola transmisi  masihberjalan dengan baik. Prosesnya berlangsung sangat alamiah karena tradisi ini meskipun mengandalkan kelisanan tetapi tidak bersifat pertunjukkan. Pewarisan berjalan dengan cara yang ringan karena tradisi ini pada saat digunakan tidak membutuhkan keahlian tertentu. Sejauh mendengarkan boboso atau foso dari orang lain maka sejauh itu pula pengetahuan tentang boboso dan foso didapat. Kata Kunci: Foso, Boboso, Nilai, Makna, Masyarakat Ternate
TAUKE, JURAGAN, BANDOL : Relasi Patron-Klien dan Transformasi Sosial dalam Organisasi Perdagangan Tembakau di Madura Khotim Ubaidillah; Latif Kusairi
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.508 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v4i1.918

Abstract

Artikel ini ingin mengulas transformasi sosial beserta kompleksitas yang dialami oleh berbagai klasifikasi pedagang dalam dunia tembakau di Madura. Tembakau bagi masyarakat Madura meskipun sifatnya hanya musiman, dan dalam beberapa tahun terakhir harganya sangat tidak menentu – kadang bagus kadang juga anjlok akan tetapi menjadi faktor ekonomi penting. Dalam perdagangan dan pertanian temabakau Madura itu, tulisan ini lebih mencermati jaringan sosial di kalangan para pelaku melalui kajin pustaka. Ditemukan bahwa dalam dunia perdagangan tembakau di Madura, peranan penting yang menghubungkan hasil perkebunan tembakau penduduk Madura dengan pihak pabrikan adalah tauke, juragan, dan bandol. Tauke merepresentasikan pihak pabrik rokok, yang notabene dikuasai oleh orang-orang keturunan Cina, sedangkan juragan dan bandol lebih berperan sebagai ‘pedagang perantara’ dengan berbagai segmentasinya. Dalam praktik perdagangan yang dilakukan, ada pola relasional yang dibangun, baik antara tauke dengan juragan, maupun antara juragan dengan bandol. Kedua pola relasi ini memiliki unsur yang kurang lebih sama meski levelnya berbeda. Juragan sangat tergantung pada modal yang dimiliki oleh tauke, dimana modal tersebut ia gunakan untuk diberikan kepada bandol sebagai modal juga dalam membeli tembakau dari para petani secara langsung maupun melalui pedagang perantara yang lain. Relasi termasuk dengan berbagai konsekuensinya melahirkan pola yang disebut patron-klien.Kata Kunci: Transformasi sosial, Perdagangan tembakau, Madura 
TOBELO MANYAWA: Drama Politik Kesultanan Ternate Abad Ke IX-XX Irfan Ahmad
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.027 KB) | DOI: 10.33387/jeh.v4i1.919

Abstract

Artikel ini membahas Masyarakat Tobelo Abad IX sampai apada abad XX. Kajian tersebut sangat penting dengan melihat sisi politik yang terjadi pada masyarakat Tobelo. Permasalahan pokok dalam artikel ini ketidak kontrolnya kesultanan Ternate atas wilayah kekuasaannya sehingga banyak penduduk Tobelo melakukan konversi ke agama Kristen dalam ruang Kesultanan Ternate yang berkultur Islam. Sumber-sumber yang digunakan meliputi sumber primer berupa arsip, dan sumber-sumber sekuder, artikel, buku, jurnal, dan lain-lain digunakan dalam penulisan ini. Artikel ini berkesimpulan bahwa kondidsi politik dan ekonomi yang memburuk membuat masyarakat Tobelo lebih memili konversi ke agama Kristen setelah penginjilan dilakukan. Dengan harapan terhindar dari berbagai persoalan politik dan ekonomi yang dialami oleh mereka.Kata Kunci: Orang Tobelo, Politik Kesultanan, Ternate

Page 1 of 1 | Total Record : 6