cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2019)" : 5 Documents clear
EKSISTENSI MANUSIA DALAM REPRESI PERADABAN MODERN (Studi Kritis Terhadap Pemikiran Herbert Marcuse) Rosmiati, Ai
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i2.9371

Abstract

AbstrakKemajuan teknologi seharusnya menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi manusia. Sehingga manusia mempunyai waktu yang banyak untuk mendapatkan kebebasannya. Namun kenyataan itu hanya terlahir dalam mimpi. Ketika teknologi secara terang-terangan mengawinkan kekuasaannya dengan sistem politik, secara sah telah melahirkan penindasan yang tak terkendalikan terhadap kebebasan manusia. Manusia digiring masuk dalam dunia ‘entah berantah’ yang terjauh dari dunia eksistensinya, dan seketika menegaskan dirinya sebagai ‘mayat-mayat’ hidup yang harus berkerumun dalam sebuah sistem penindasan. Pada posisi ini, Herbert Marcuse sebagai seorang pemikir yang mencoba membedah problem eksistensi manusia dalam sebuah analisis yang lebih mendalam, memulai pembongkaran sistem penindasan ini dengan beranjak dari dunia alam bawah sadar manusia yang telah terepresi. Marcuse menempatkan problem represi manusia dalam kacamata yang berbeda. Marcuse melihat bahwa represi pada batasnya, dibutuhkan dalam menyokong terbentuknya sebuah peradaban yang sehat. Namun, ketika represi dipergunakan sebagai sebuah situasi yang melebih-lebihkan represi (surplus respesi) demi suatu kepentingan kelompok, maka akan menimbulkan sebuah penindasan manusia. Kenyataan tersebut, telah melahirkan sebuah ketertarikan yang mendalam terhadap pemikiran Herbert Marcuse dan menggiring penulis untuk melacak kembali problem eksistensi manusia dalam peradaban modern yang telah melahirkan sebuah sistem penindasan. Dalam analisisnya yang membedah persoalan represi manusia dengan beranjak dari alam bawah sadar manusia, Marcuse menyimpulkan bahwa manusia mampu membebaskan dirinya hanya melalui perubahan yang mendalam terhadap sifat represi teknologi dan industri modern, sehingga sifat represifnya tidak lagi memperbudak manusia. Terlepas dari karakter utopis yang terlihat dalam pemikirannya, secara umum pemikirannya telah memberikan analisis yang tajam yang bisa dibaca ulang sebagai dasar kerangka yang lebih kokoh dalam usaha mewujudkan pergerakan peradaban yang lebih baik.
TAREKAT ALAWIYYAH Konsep Ajaran Tarekat Alawiyyah pada Pondok Pesantren Masyhad An-Nur Desa Cijurai, Sukabumi – Jawa Barat (Analisis Filisofis) Sholihin, Mukhtar
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i2.9374

Abstract

AbstrakTarekat Alawiyyah merupakan salah satu tarekat yang berpengaruh di Indonesia, hampir seluruh tarekat yang tersebar di Indonesia merupakan bagian dari tarekat Alawiyyah, sebutan Alawiyyah merupakan berasal dari nama salah seorang nenek-moyang kelompok ini, yakni ‘Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin abi Thalib AS. Tarekat alawiyyah, tak pelak adalah suatu bentuk cara beragama yang berorientasi tasawuf. Namun, tak seperti tarekat pada umumnya, tarekat alawiyyah bukanlah suatu orde sufi (tarekat), meski tak bisa lepas dari dasar-dasar teoritis pemikiran kesufian, tarekat alawiyyah bisa dikelompokkan ke dalam apa yang biasa di sebut sebagai tasawuf akhlaki (Tasawuf Sunni). Para penyebar utama Islam awalnya adalah kaum sufi, selain menegaskan kenyataan ini, juga berusaha untuk mengembangkan versi yang menyakini bahwa para pendakwah Islam awal adalah dari keturunan Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir, cucu Imam Ja’far as-Shadiq. Bukan hanya Wali Songo dan para pendakwah awal lainnya di Nusantara, bahkan kontribusi kaum Alawiyyin yang datang membawa pesan damai dan secara langsung perkembangan Islam berada di bawah pengaruh Tarekat Alawiyyah ini Di desa Cijurai lah terdapat sebuat pusat penyebarah tarekat Alawiyyah, yang sampai sekarang masih menjadi Icon sebuah lembaga yang non-formal bagi perkembangan suatu lembaga, tetapi bisa menjadi dasar sebuah penelitian awal, untuk mengkaji sebuah Tarekat tersebut. Pondok Pesantren Masyhad An-Nur ini masih menjaga Tradis dan cirri khas, prinsip dasar dari ajaran tarekat Alawiyyah sampai saat ini. Ada kesalah fahaman dalam memaknai prinsip dasar dari tarekat Alawiyyah yang saat ini berkembang di masyarakat sekitar Pondok Pesantren Masyahad An-Nur, oleh karena itu perlu pendefinisian yang jelas atas sebuah lembaga dan ajarannya yang murni atas prinsip dasar Tarekat Alawiyyah ini kepada Publik yang ada di sekitar Pondok. Agar lebih memahami dan bisa menjalankan apa yang di bawa oleh para Alawi dalam menjunjung tinggi rasa Ubudiyyah kepada Allah Swt.
KONSEP TEOLOGI INKLUSIF NURCHOLISH MADJID Sopandi, Dede Ari; Taofan, Mohamad
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i2.9399

Abstract

AbstrakHal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah klaim keselamatan dan kebenaran antar kelompok yang menimbulkan perdebatan dan ruang-ruang konflik karena perbedaan, khususnya agama. perpecahan menjadi terbuka lebar dan menyebabkan disharmonis antar kelompok. Ini karena konstruk teologi yang bersifat ekslusif, sehingga implikasinya adalah hilangnya ruang-ruang toleransi. Nurcholish Madjid adalah seorang tokoh yang sangat penting disaat wacana keagamaan di Indonesia dihadapkan pada kondisi yang membingungkan karena keberagaman. Maka dari itu Nurcholish memformulasikan sebuah konsep teologi, yang bertujuan untuk membuka kepada arah persatuan dan perdamaian antar kelompok agama.  Dalam kontek ini, penting untuk mengkaji pemikiran Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, tentang teologi inklusif. Maka dari itu, skripsi ini bertujuan untuk mengetahui argumentasi dasar dan rancang bangun dari pemikiran teologi inklusif Nurcholish Madjid. Nurcholish Madjid memaknai kata inklusif pertama, pandangan kelompok agama lain, pengertian ini sebagai gambaran yang implisit dari kelompok agama tertentu. Kedua, sikap terbuka dan toleran terhadap penganut agama non Muslim. Dari sisi substansi, semua agama itu sama. Kesatuan agama-agama itu terjadi dalam tataran transendental. Hasil temuan dalam penelitian ini, bahwa Nurcholish melihat realitas manusia yang majemuk, dan baginya itu adalah suatu yang niscaya seperti pesan Allah yang tertulis dalam Al-Quran. Ini menurutnya dapat menjadi dasar ke arah pluralisme, yaitu sebuah sistem nilai yang positif terhadap pluralitas. Cak Nur terinspirasi dari Al-Quran dan sejarah Nabi Muhammad, khususnya ketika di Madinah. Madinah ditempati berbagai kelompok manusia yang berbeda-beda, akan tetapi mampu hidup harmonis, terbuka (inklusif) dan saling menghargai. Islam bagi Cak Nur sangat fleksibel, dan dapat didefinisikan ulang. Islam baginya mengandung arti sikap pasrah kepada Tuhan, dan ini menjadi dasar dalam beragama. Karena tidak ada agama yang benar, kecuali sikap pasrah kepada Tuhan. Maka ini menjadi titik pertemuan semua kelompok agama. Sehingga, setiap kelompok agama mampu mewujudkan peradaban yang terbuka (inklusif) dan toleransi, dengan menghayati agama sendiri tanpa menyerang kelompok agama lain.
PANDANGAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS TENTANG ISLAMISASI ILMU Muttaqien, Ghazi Abdullah
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i2.9458

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menyelidiki gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Metode deskriptif dengan pendekatan filsafat dipilih untuk penelitian ini. Dengan menafsirkan berbagai sumber, disimpulkan bahwa sejak awal kelahirannya, wacana Islamisasi ilmu telah menarik perhatian para ulama dan sebagian cendekiawan di dunia untuk membahasnya. Mereka yang terlibat dalam maudhu '(wacana) islamisasi ilmu, biasanya memperdebatkan pentingnya islamisasi ilmu mengingat suatu ilmu memiliki nilai yang sarat dengan apa yang diklaimnya, salah satu penyebabnya suatu ilmu atau ilmu pengetahuan disusupi oleh Pandangan dunia Barat yaitu sudut pandang sekuler, filosofi hidup mereka, serta nilai-nilai ideologi Barat yang pasti bertentangan dengan ajaran dan nilai Islam pula. Menurut penilaian mereka, ilmu yang berkembang saat ini sudah tidak bermanfaat lagi bagi umat manusia. Justru yang telah menyebabkan kehancuran dan malapetaka umat manusia. Sebagai cendekiawan Muslim kontemporer dan juga tokoh sentral dalam ide Islamisasi ilmu, Syed Muhammad Naquib al-Attas dengan berani menggemakan gagasan tersebut. Bahwa oleh karena itu Islamisasi ilmu bertujuan untuk mengembalikan ilmu yang dinilai telah keluar dari kerangka aksiologisnya.
MANIFESTASI KEIMANAN AKAN MAKHLUK GHAIB (JIN) DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA UMAT ISLAM (Studi Kasus ekspresi beragama Ormas Nahdlatul ‘Ulama dan Persatuan Islam di Kota Bandung) Hikmawati, Rismawati; Saputra, Muhammad
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i2.9466

Abstract

AbstrakPenelitian  ini didasarkan pada penelitian mengenai  keimanan terhadap makhluk ghaib (Jin) yang mempunyai perbedaan penyikapan dan manifestasi tersendiri dalam yang dapat dilihat dari ekspresi keberagamaan warga NU (Nahdlatul Ulama) serta warga Ormas Persis (Persatuan Islam) di Kota Bandung, Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan pendekatan teologis.  Berdasarkan hasil penelitian kemudian diketahui bahwa pertama, kedua ormas memiliki pemahaman bahwa jin juga memiliki kehidupan sendiri seperti manusia dan bisa berinteraksi dengan manusia. Kedua, ormas NU seara umum melaksanakan  tradisi-tradisi keagamaan Islam dengan memelihara tradisi lokalnya sebagai ekspresi keimanan terhadap mahluk gaib. Sedangkan ekspresi keberagamaan dan budaya pemikiran ormas Persis manifestasi ritualnya meliputi bentuk ibadah yang sebagaimana yang tertera dalam rukun Islam, demikian juga dengan gaya kehidupan Spiritualistik lainnya, seperti tawasul yang tata caranya terdapat didalam nsh, melakukan tradisi meminta perlindungan dengan kepada Allah melaui doa-doa dalam nash dan rukyah yang menggunakan landasan formal nash.

Page 1 of 1 | Total Record : 5