cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Farmasi Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23017716     EISSN : 26224607     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Udayana merupakan jurnal elektronik yang dikelola oleh jurusan Farmasi FMIPA Udayana. Jurnal ini yang merupakan media publikasi penelitian dan review article pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif , kreatif, original dan didasarkan pada scientific. Artikel yang dimuat dalam jurnal ini meliputi penemuan obat, sistem penghantaran obat serta pengembangan obat. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia medisinal, farmakologi, farmakokinetika, farmakodinamika, analisis farmasi, sistem penghantaran obat, teknologi farmasi, bioteknolofi farmasi, obat herbal dan komponen aktif tanaman serta evaluasi klinik obat
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 8, No. 2, Tahun 2019" : 8 Documents clear
Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Potensial Antioksidan dari Daun Binahong (Anredera scandens (L.) Moq.) Anak Agung Gede Rai Yadnya Putra; Putu Oka Samirana; Dewa Ayu Angghy Andhini
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.915 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p05

Abstract

Binahong (Anredera scandens (L.) Moq.) adalah salah satu tanaman yang diketahui bagian daunnya memiliki aktivitas farmakologi seperti antiinflamasi, antitukak lambung, antiluka bakar, antiluka eksisi, bahkan antioksidan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa golongan flavonoid dari daun binahong yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Isolasi dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu maserasi, fraksinasi, subfraksinasi menggunakan kromatografi kolom, pemurnian menggunakan KLT-preparatif, dan uji kemurnian isolat secara KLT dan penentuan titik leleh isolat. Potensi antioksidan isolat diuji melalui peredaman DPPH radikal menggunakan metode KLT-bioautografi. Isolat dikarakterisasi struktur kimianya menggunakan spektroskopi IR dan UV-Vis dengan pereaksi geser. Berdasarkan analisis spektroskopi IR, isolat memiliki gugus fungsi C=O, OH, C-H alifatik, C-H aromatik, dan C-O alkohol. Data spektroskopi UV-Vis memperlihatkan adanya serapan pita I pada panjang gelombang 330nm dan pita II pada 266nm. Berdasarkan data spektroskopi tersebut diduga isolat yang berpotensi sebagai antioksidan dalam daun A. scandens (L.) Moq. memiliki struktur kimia parsial 4’,7 dihidroksi 3-O-R flavonol. Kata kunci: Binahong, Anredera scandens (L.) Moq., antioksidan, flavonoid.
Aliskiren: Direct Renin Inhibitor Baru pada Terapi Hipertensi Ni Putu Uma Sari Dewi; I Gusti Ayu Artini Ekajaya Amandari; Made Winda Krisnayanti; Made Ary Sarasmita
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.15 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p01

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah meningkat secara kronis. Mengacu pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Bali memiliki proporsi hipertensi sebesar 19,9%. Beberapa studi epidemiologis menyebutkan bahwa risiko kerusakan berbagai organ vital secara langsung berkorelasi dengan peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, diperlukan keteraturan dalam mengontrol dan juga meminum obat antihipertensi. Obat antihipertensi yang umum digunakan saat ini adalah angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin receptor blocker (ARB). Akan tetapi, temuan sebelumnya menyatakan bahwa ACEI dan ARB belum sepenuhnya efektif dalam menurunkan tekanan darah. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, ditemukan direct renin inhibitor baru yaitu aliskiren. Aliskiren dapat memblokade renin-angiotensin-aldosterone system (RAAS) pada level tertinggi, sehingga kemampuan aliskiren dalam menurunkan tekanan darah tidak dapat diragukan lagi. Aliskiren mampu menghambat konversi angiotensinogen menjadi angiotensin I, sehingga dapat menurunkan tekanan darah secara berkelanjutan.
Evaluasi Kepuasaan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan Hipertensi Terhadap Layanan Kefarmasian Di Puskesmas Mulyorejo Surabaya Oki Nugraha Putra
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.385 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p06

Abstract

Puskesmas merupakan tempat fasilitas kesehatan untuk layanan pasien Diabetes Mellitus (DM) maupun hipertensi. Evaluasi penyelenggaraan pelayanan kesehatan penting dilaksanakan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik, termasuk pelayanan kefarmasian di puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kepuasan pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi terhadap pelayanan kefarmasian serta untuk mengetahui dimensi mutu pelayanan yang perlu ditingkatkan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian ini ialah pasien Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) dengan Hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan secara consecutive sampling, selama bulan Juli - Oktober 2018 di Puskesmas Mulyorejo Surabaya. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala likert yang telah tervalidasi. Untuk mengukur tingkat kepuasan pasien digunakan metode SERVQUAL dengan menghitung selisih kinerja dan harapan. Diperoleh 110 pasien DMT2 dengan hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa nilai rata-rata gap antara harapan dan kinerja ialah -0,49 dengan nilai gap terbesar ditunjukan pada dimensi tangible yaitu -0,76. Pada tingkat kepuasaan secara keseluruhan didapatkan hasil sebesar 88%. Kesimpulannya ialah tingkat harapan pasien DMT2 dengan hipertensi lebih tinggi daripada tingkat kinerja layanan informasi obat yang diberikan oleh pihak puskesmas Mulyorejo dengan tingkat kepuasaan pasien yang tergolong baik.
Efek Penggunaan ACE Inhibitor terhadap Perubahan Tekanan Darah dan Kadar Kalium pada Pasien Hipertensi dengan Komplikasi Gagal Jantung di RSUP Sanglah Denpasar Ni Kadek Santi Lestari
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p02

Abstract

ACE inhibitors are the first choice therapy used in the treatment of hypertension with heart failure. In hypertension with heart failure, ACE inhibitors are given in combination with other antihypertensive agents such as diuretics or ?-bloker, and aldosteron antagonists. One of the side effect caused by the use of ACE inhibitors for a long time is hyperkalemia. Severe hyperkalemia in conditions of heart failure can cause cardiac arrest and heart rhythm disorders. The purpose of this study was to determine changes in blood pressure and potassium levels in hypertension patients with heart failure after receiving combination ACE inhibitor therapy. This study was an observational study, conducted retrospectively using the patient's medical record data at Sanglah Hospital Denpasar, the data was processed descriptively and analytically using the paired t-test and wilcoxon methods in SPSS 22 software. 35 patients who met inclusion and exclusion criteria were obtained this research. The results of statistical tests showed that the use of ACE Inhibitor combination therapy gave a significant decrease in systolic and diastolic blood pressure of p value <0.05, at potassium levels didn’t provide a significant change effect of p value> 0.05. The use of a combination of ACE Inibitor + ?-Bloker causes one patient suffering mild hyperkalemia.
Studi Komparatif Efektivitas Seftriakson dibanding Kombinasi Seftriakson-Metronidazole dan Sefuroksim-Metronidazole pada Pasien Apendisitis yang Menjalani Apendiktomi Ilil Maidatuz Zulfa
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.012 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p07

Abstract

Appendicitis or inflammation of appendix still has high prevalence in Indonesia which reach 3236 cases in 2103 and increase at 4351 cases in 2014. Antibiotics are used in appendicitis to prevent surgical site infection (SSI) after appendictomy. Cephalosporins like ceftriaxone and cefuroxime are commonly used as monotherapy or in combination with imidazole. This study was aimed to compare the effectifity of antibiotics used in acute appendicitis non perforation using parameter length of hospital stay, discharge status, and amount of SSI occurence. An analytical observation was conduct retrospectively through acute appendicitis patient medical records with ICD k35.8 during 2018. A total of 39 medical records were analyzed. Of that, 25 patients received ceftriaxone monotherapy, 5 patients received combination of ceftriaxone and metronidazole, and 9 remaining received cefuroxime in combination with metronidazole. All antibiotics were administered intravenously and used as prophylaxis and continued as pasca appendictomy therapy. The average of hospital stay of that three antibiotics regimen showed that the patients received combination of cefuroxime and metronidazole had the shortest period (3.00 + 0,50 days) while based on discharge status, patients with ceftriaxone monotherapy were the most who discharged to home with complete recovery (64.00%). However, SSI occurence was only observed in patients received ceftriaxone monotherapy (2.00%). Statistical analysis showed that there is a significant different in the average of hospital stay and discharge status through three groups of antibiotics treatment (p-value 0,000; p-value 0,001). In conclusion, the three regimens of antibiotics are effective as prophylactic and post appendictomy in acute appendicitis. However, becuse of significant difference of hospital stay, antibiotics regimen selection should consider the cost and effectivity ratio analysis.
Pemanfaatan Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Sebagai Alternatif Penanganan Toxic Shock Syndrome Suly Sunarsi
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.578 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p03

Abstract

Toxic Shock Syndrome (TSS) merupakan penyakit akut yang mengancam jiwa yang dimediasi oleh racun, biasanya dipicu oleh infeksi Staphylococcus aureus atau grup A Streptococcus (GAS), diantaranya Streptococcus pyogenes. Pemanfaatan buah belimbing wuluh masih terbatas dibandingkan dengan ketersediannya di kalangan masyarakat, sehingga penelitian ini bermaksud untuk memanfaatkan belimbing wuluh yang diformulasi dalam bentuk Infused Water dengan pemanis alami Stevia rebaudiana yang digunakan sebagai alternatif penanganan Toxic Shock Syndrome dengan penghambatan pada bakteri Streptococcus pyogenes. Sari buah belimbing wuluh dan liofilisatnya diujikan terhadap Streptococcus pyogenes secara In Vitro dengan beberapa variasi konsentrasi untuk melihat aktivitas antibakterinya. Infused water buah belimbing wuluh dibuat dengan metode perendaman selama 12 jam dan 24 jam dengan kombinasi 500 mg daun stevia dalam 250 mL air matang dan dievaluasi menggunakan uji organoleptik, uji ALT dan uji MPN. Hasil penelitian menunjukkan uji aktivitas antibakteri sari buah belimbing wuluh terdapat zona hambat dengan diameter 7,09±0,2 (1%), 7,41±0,1 (3%), 8,33±0,3 (5%), dan 8,38±0,2 (10%). Sedangkan liofilisat sari buah belimbing wuluh menunjukkan zona hambat dengan diameter 7,11±0,4 (1%), 7,34±0,3 (3%), 7,05±0,8 (5%), dan 7,44±0,9 (10%).
Penetapan Kadar Flavonoid Total Pada Beberapa Bagian Tanaman Kepel (Stelecocharpus burahol Hook F. & Th) Trie Yuni Elfasyari
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.946 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p08

Abstract

Kepel, Stelecocharpus burahol Hook F. & Th are originally grows in Indonesia. This plant is usually found in the Palace at Java island. Kepel has its own phylosophical meaning for the Palace, and the fruit is useful to maintain the beauty of princes of the Palace, the leaves are also nutritious to decrease cholesterol level. Efficacy of kepel is due to its contain active substance suchs us flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, and steroids. There are currently no detailed data about levels of flavonoids in S. burahol. It is needs to be researched for determination of total flavonoid content ethanolic extract in different parts (young leaves, old leaves and seeds ) of S. burahol. Each part of plant were extracted by soxhlet using 96% ethanol as the solvent. Preliminary tests was conducted using cellulose plates as stationary phase and the mobile phase of n-butanol-acetic acid-aquadest (4:1:5, upper phase). Total flavonoid content was determined by visible spectrophotometric using alluminium chloride as chelating agent. The result of ANOVA analysis obtained showed that the total flavonoid content in ethanolic extracts leaves (young and old) and seeds, respectively (3.32±0.12); (4.82±0.08), and (0.25±0.01)%. The 96% ethanol of old leaves extract of S. burahol showed the highest of total flavonoid content as 4.82±0.08%.
Aktivitas Penyembuhan Luka Insisi dari Salep Daun Binahong (Anredera scandens (L.) Moq.) putu dessy wilantari
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.327 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p04

Abstract

Luka insisi adalah luka yang terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam, misalnya luka yang terjadi setelah pembedahan atau operasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas sediaan salep ekstrak daun A. scandens (L.) Moq. pada penyembuhan luka insisi. Parameter standardisasi ekstrak meliputi kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan kadar flavonoid total. Pengujian aktivitas sediaan salep ekstrak daun A. scandens (L.) Moq. dilakukan pada tiga puluh lima ekor tikus betina galur Wistar. Pengamatan dilakukan secara makroskopis pada hari ke-0, 7, 14 dan 21 terhadap adanya eritema, edema, dan keropeng, serta pengamatan mikroskopis pada hari ke-21 melihat adanya infiltrasi sel radang dan pembentukan kolagen. Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan adanya penurunan tanda eritema dan edema, namun tidak berbeda bermakna secara statistik pada semua kelompok perlakuan (K2, K3, K4, K5, K6, dan K7) (p>0,05) dan keropeng yang menurun dimulai dari hari ke-7. Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa pemberian sediaan salep ekstrak daun A. scandens (L.) Moq. berpotensi dalam penyembuhan luka insisi yang diamati secara makroskopis.

Page 1 of 1 | Total Record : 8