cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Farmasi Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23017716     EISSN : 26224607     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Udayana merupakan jurnal elektronik yang dikelola oleh jurusan Farmasi FMIPA Udayana. Jurnal ini yang merupakan media publikasi penelitian dan review article pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif , kreatif, original dan didasarkan pada scientific. Artikel yang dimuat dalam jurnal ini meliputi penemuan obat, sistem penghantaran obat serta pengembangan obat. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia medisinal, farmakologi, farmakokinetika, farmakodinamika, analisis farmasi, sistem penghantaran obat, teknologi farmasi, bioteknolofi farmasi, obat herbal dan komponen aktif tanaman serta evaluasi klinik obat
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 9, No. 2, Tahun 2020" : 7 Documents clear
Perbandingan Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Intradialisis Dengan Obat Antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril di RS Bhayangkara TK. I R. Said Sukanto Via Rifkia
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p03

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia. Tatalaksana penyakit GGK stadium V adalah terapi pengganti ginjal, salah satunya adalah terapi hemodialisis. Beberapa komplikasi dapat disebabkan oleh proses hemodialisis. Komplikasi yang paling umum ditemukan adalah hipertensi intradialisis. Saat ini, hipertensi intradialisis masih belum diketahui patofisiologinya secara pasti, namun ada beberapa cara untuk mengatasi hipertensi intradialisis. Salah satunya adalah pemberian obat antihipertensi. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui perbandingan penurunan tekanan darah pasien hipertensi intradialisis dengan obat antihipertensi Amlodipin dan Kaptopril. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada pasien hemodialisis dengan purposive sampling sebagai metode pengambilan sampel. Populasi dari studi ini adalah pasien rawat jalan hemodialisis di RS Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto. Data diambil secara primer melalui pengukuran tekanan darah pasien selama proses hemodialisis. Sebanyak 73 pasien didapatkan sebagai sampel. Hasil penelitian ini adalah Amlodipin memiliki penurunan tekanan darah sebesar 40 mmHg dan Kaptopril sebesar 30 mmHg. Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Amlodipin memiliki penurunan tekanan darah yang lebih besar dibandingkan dengan Kaptopril.
Efek Antineuroinflamasi Ekstrak Etanol 96% Daun Marsilea crenata Presl. Budidaya Papda Sel Mikroglia HMC3 Burhan Maarif
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p04

Abstract

ABSTRACT Neuroinflamation is a neurodegenerative disease caused by estrogen deficiency. Marsilea crenata Presl. is a plant that contains phytoestrogens, which are compounds that can replace the function of estrogen in maintaining cell homeostasis in the brain. The purpose of this study was to predict the antineuroinflammatory effect of 96% ethanol extract of cultivated Marsilea crenata Presl. leaves in HMC3 microglia cells through activated ER measurements, and observed using the immunocytochemistry method. IFN? is induced into cells 24 hours before treatment to cause an inflammatory condition. 96% ethanol extract of cultivated Marsilea crenata Presl. leaves is given at a dose of 62.5; 125; and 250 ?g/ml. Genistein 50 ?m was used as a positive control. The results showed that 96% ethanol extract of cultivated Marsilea crenata Presl. leaves at doses of 125 and 250 ?g/ml can decrease free ER? expression with values ??of 814,216 and 573,190 AU at p <0.05, and shows an increase in the amount of activated ER?. From these results it can be concluded that the 96% ethanol extract of cultivated Marsilea crenata Presl. leaves provides a potential antineuroinflammatory effect shown by the decreasing of free ER? expression on HMC3 microglia cells with 250 ?g/ml as the best dose. Keywords: antineuroinflammation; ER?; phytoestrogens; Marsilea crenata Presl.; HMC3 microglia cells ABSTRAK Neuroinflamasi merupakan penyakit neurodegeneratif yang disebabkan defisiensi estrogen. Marsilea crenata Presl. merupakan tumbuhan yang mengandung fitoestrogen, yaitu senyawa yang dapat menggantikan fungsi estrogen dalam menjaga homeostasis sel di dalam otak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi efek antineuroinflamasi dari ekstrak etanol 96% daun Marsilea crenata Presl. budidaya pada sel mikroglia HMC3 melalui pengukuran ER teraktivasi, dan diamati menggunakan metode immunocytochemistry. IFN? diinduksikan ke dalam sel 24 jam sebelum perlakuan untuk menimbulkan kondisi inflamasi. Ekstrak etanol 96% daun Marsilea crenata Presl. budidaya diberikan dengan dosis 62.5; 125; dan 250 ?g/ml. Genistein 50 ?m digunakan sebagai kontrol positif. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun Marsilea crenata Presl. budidaya dengan dosis 125 dan 250 ?g/ml dapat menurunkan ekspresi ER? bebas dengan nilai 814.216 dan 573.190 AU pada p<0.05, serta menunjukkan peningkatan jumlah ER? teraktivasi. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% daun Marsilea crenata Presl. budidaya memberikan efek antineuroinflamasi yang potensial ditunjukkan dengan penurunan ekspresi ER? bebas pada sel mikroglia HMC3 dengan 250 ?g/ml sebagai dosis terbaik. Kata kunci: antineuroinflamasi, ER?, fitoestrogen, Marsilea crenata Presl., sel mikroglia HMC3
Identifikasi Komponen Volatile Kulit Ari Biji Kopi (Coffea robusta) Guna Optimalisasi Kebermanfaatan Arie Dharma Putra Nugraha
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p05

Abstract

Bau dapat dibedakan menjadi dua yaitu bau enak dan tidak sedap, bau yang tidak diharapkan tentunya bau tidak sedap, yang dapat memberikan dampak buruk yaitu terganggunya penciuman dan bersifat menyesakkan. Bau yang tidak sedap dapat berasal dari tempat lembab.Tingginya kekayaan hayati di Indonesia, memiliki peluang besar untuk memanfaatkannya sebagai produk pewangi alami. Salah satu produk pewangi dan penyerap bau tidak sedap (absorbent) yaitu memanfaatkan biji kopi robusta (Coffea robusta). Salah satu komponen biji kopi robusta yang jarang dimanfaatkan yaitu kulit ari kopi yang didapatkan saat proses sangrai. Seluruh komponen biji kopi terbukti memiliki kandungan volatile yang tinggi dan beragam, melihat kulit ari kopi yang jarang dimanfaatkan, maka dilakukan ekstraksi minyak atsiri dari kulit ari kopi robusta dengan pelarut metanol. Analisis minyak atsiri yang digunakan yaitu dengan metode GC-MS, menyatakan bahwa dalam ekstrak kulit ari biji kopi robusta komponen volatile yang terdapat dalam ekstrak kulit ari biji kopi robusta yaitu trans-Caryophyllene (1,4.56%), Germacrene D (2, 3.59%), alpha-Farnesene (3, 4.35%) dan Pentan-1,3-dioldiisobutyrate (4, 10.22%). Banyaknya komponen volatile, menunjukan bahwa kulit ari kopi robusta dapat potensial dimanfaatkan massal di masyarakat.
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Kulit Durian (Durio zibethinus Murr.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus ANDI TENDRIANI SAFITRI
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p01

Abstract

Durian peel (Durio zibethinus Murr) is a plant that can be used as a treatment. Durian skin contains secondary metabolites, namely flavonoids which have antibacterial activity. The bacteria that cause acne are Propionibacterium acnes and Staphylococcus aureus. The extract was obtained by maceration using 70% ethanol solvent. The ethanol extract of durian peel obtained was made in 3 series of concentrations of 10%, 15% and 25% then tested on propionibacterium acnes and staphylococcus aureus bacteria. The MIC value of Propionibacterium acnes bacteria obtained was 10% with an area of ??inhibition zone formed of 7.5 mm ± 0.4 mm. 15% with an area of ??inhibition zone formed of 7.7 mm ± 0.3 mm. 25% with an area of ??inhibition zone formed of 8.4 mm ± 0.2 mm while the MIC value of the Staphylococcus aureus bacteria obtained was 10% with an area of ??inhibition zone formed of 8.11 mm ± 0.4 mm. 15% with an area of ??inhibition zone formed of 8.11 mm ± 0.3 mm. 25% with an area of ??inhibition zone formed of 8.8 mm ± 0.5 mm. based on the results of ethanol extract durian skin has activity against Propionibacterium acnes and Staphylococcus aureus. Keywords: Durio zibethinus Murr, Acne, Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus
Perbandingan Stabilitas Obat Racikan Yang Dipreparasi Menggunakan Mortir Dan Tablet Crusher Di Apotek Sarana Pelayanan Kesehatan Primer Made Krisna Adi Jaya
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p06

Abstract

Latar Belakang: Penggerusan obat dengan menggunakan mortir memang dinilai sudah sesuai prosedur dan dapat terjaga stabilitas obatnya. Tetapi proses ini membutuhkan waktu yang relatif lama sehingga membuat beberapa apotek meracik obat dengan menggunakan mesin tablet crusher. Ada kemungkinan penggerusan menggunakan tablet crusher akan mengurangi stabilitas jenis obat tertentu jika kontak langsung dengan logam mesin blender. Tujuan: variable yang diteliti adalah stabilitas obat racikan yaitu perbandingan kadar suatu obat yang dipreparasi menggunakan tablet crusher dan mortir di apotek sarana pelayanan kesehatan primer. Metode: spektrofotometri UV-VIS. Hasil: Panjang gelombang maksimum klorfeniramine maleat yang diperoleh adalah 261,5 nm dan parasetamol adalah 247,7 nm. % perolehan kembali (% recovery) baku klorfeniramin maleat adalah 99,82 ± 2,8% sedangkan pada parasetamol adalah 100,17 ± 2,09 %. Hasil dari perhitungan uji presisi didapatkan nilai RSD pada klorfeniramin Maleat adalah 0,76% sedangkan pada parasetamol adalah 1,13%. LOD dan LOQ dari klorfeniramin maleat adalah 3,20 ± 0,05 dan 9,7 ± 0,15 sedangkan LOD dan LOQ dari parasetamol adalah 0,38 ± 0,22 dan 1,16 ± 0,56. Hasil pengujian perbandingan preparasi waktu penggerusan dengan kadar yang telah dilakukan diketahui bahwa nilai signifikansi uji Mann Whitney tidak adanya perbedaan kadar obat yang dipreparasi dengan menggunakan mortir dan tablet crusher. Kesimpulan: Penggerusan obat dengan tablet crusher dan dengan mortir tidak memiliki perbedaan secara statistik. Kata Kunci : blender, crusher, mortir, stabilitas
Kebijakan Industri Farmasi pada Masa Pandemi COVID-19 Rini Meliawati
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p02

Abstract

Drug shortages has been global problem since 2000s until now, and it become in serious condition by the presence of the pandemic COVID-19. The main causes of drug shortages were economic and regulation, business problem, manufacture and supply chain. During this pandemic, the main causes of drug shortages are many pharmaceutical industries closures due to quarantine, logistical problems caused by border closure, export bans, quarantine of exporting active subtances and drugs’countries, increased demand and pilling up. However, this problem has been overcome by making policies and good cooperation between governments, regulatory institution and the pharmaceutical industry throughout the world. Several policies like increasing production capacity, restrict quantity of drugs purchased by the public, facilitate the process of industrial license and making a systems such as i-SPOC (Industry Single Point of Contact). It is expected to reduce drugs shortages problem during this pandemic.
Studi Penggunaan Obat Golongan Beta-Blocker Pada Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Ansari Saleh Banjarmasin Okta Muthia Sari
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 9, No. 2, Tahun 2020
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JFU.2020.v09.i02.p07

Abstract

Beta-blockers have a role in cardiovascular and non-cardiovascular therapy. Many beta-blockers are now available and in general they are all equally effective. There are, however, differences between them, which may affect choice in treating particular diseases or individual patients. Research related to the profile of beta-blocker drug use in cardiovascular and non-cardiovascular therapy is still limited. This study aims to describe the use of beta-blockers in inpatients at Ansari Saleh Hospital, Banjarmasin. This retrospective descriptive study was conducted from April to May 2019 at the Anshari Saleh Hospital, Banjarmasin. The beta-blocker drugs used were bisoprolol and propranolol which were administered in cardiovascular medications such as angina (3.7%); arrhythmia (3%); Congestive Heart Failure (20%); hypertension (3%); myocardial infarction (54.8%); non hemorrhagic stroke (9.6%); and non-cardiovascular including hepatic cirrhosis (1.5%); hyperthyroidism (4.4%). The bisoprolol dosage used by inpatients at Ansari Saleh Hospital starts from 1.25 to 5 mg per day. Myocardial infarction and non-hemorrhagic stroke patients received bisoprolol dose uptitration. The propranolol dosage is 20-30 mg per day. In cardiovascular patients, bisoprolol is a drug that is often given to patients with comorbids than propranolol. Keywords: Beta-blockers, cardiovascular, non-cardiovascular, therapy

Page 1 of 1 | Total Record : 7