cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
KARAKTERISTIK KLINIS PASIEN CHRONIC MYELOID LEUKEMIA DENGAN TERAPI TYROSINE KINASE INHIBITOR DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH Gabrielle Alexander Kartawan; Ketut Suega; Renny A Rena
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.493 KB)

Abstract

CLINICAL CHARACTERISTICS OF CHRONIC MYELOID LEUKEMIA PATIENTS WITH TYROSINE KINASE INHIBITOR THERAPY IN SANGLAH HOSPITALChronic Myeloid Leukemia (CML) is the most common type of leukemia in Indonesia. Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) is now the main therapy for CML including imatinib and nilotinib. However, data about clinical characteristics and TKI usage in CML patients are still rare in Indonesia. This study aimed to evaluate clinical characteristics, peripheral blood count, complete hematologic response (CHR) and adverse effects of TKI in CML patients in retrospective cross-sectional study method using medical record of CML patients with TKI therapy in RSUP Sanglah. Twenty nine patients met the criteria. All 29 patients were in chronic phase and 19 of them were males. Median age was 36 years. The most common manifestations were weight loss (100%) and splenomegaly (96%). Imatinib was administered in 21 patients and the rest received nilotinib. Before TKI was administered, median WBC was 118.500/mm3, Hb was 9,5 g/dL, and platelet 338.000/mm3. After 3 months of TKI therapy, median WBC was 14.500/mm3, Hb was 10,9 g/dL, and platelet was 124.400/mm3. Within 3 months of TKI therapy, 13 patients (44,8%) achieved CHR. After TKI therapy, 18 (62,1%) patients got nausea and 16 (55,2%) got myalgia. From hematologic side, 11 (37,9%) got anemia and 10 (34,5%) got trombositopenia. In conclusion, splenomegaly was the most notable manifestations of CML. Achievement of CHR within 3 months in this study was low. The most common non-hematologic adverse effect was nausea while the most common hematologic adverse effect was anemia.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA SISWA TAMAN KANAK-KANAK DI KELURAHAN DANGIN PURI KECAMATAN DENPASAR TIMUR TAHUN 2014 Anthony Widyanata Lebuan; Agus Somia
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.854 KB)

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi pada saluran pernapasan baik saluran pernapasan atas atau bawah, dan dapat menyebabkan berbagai spektrum penyakit dari infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan. ISPA sering dijumpai di negara-negara berkembang. Di Bali, ISPA merupakan penyakit tersering dan menempati posisi pertama sepuluh besar penyakit terbanyak yang tercatat di puskesmas. Tujuan penelitian ini untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan ISPA. Penelitian ini menggunakan studi analitik cross-sectional. Sampel yang digunakan berjumlah 165 orang yang diambil secara konsekutif pada lima taman kanak-kanak di Kelurahan Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur. Hasil penelitian menggunakan uji chi-square menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status gizi ( p < 0,0001; RP = 1,593; IK 95% 1,314; 1,930), paparan terhadap asap rokok (p < 0,0001; RP = 1,758; IK 95% 1,359; 2,274), pola pemberian ASI (p < 0,0001; RP = 1,592; IK 95% 1,184; 2,141) dan kepadatan hunian (p < 0,0001; RP = 1,708; IK 95% 1,379; 2,116) dengan kejadian ISPA. Sedangkan status imunisasi dasar, berat, dan tingkat pendidikan ibu tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian ISPA. Prevalensi ISPA pada siswa taman kanak-kanak cukup tinggi (63%) dan terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi, paparan asap rokok, pola pemberian ASI, dan kepadatan hunian dengan kejadian ISPA pada siswa taman kanak-kanak. Rekomendasi dalam upaya penurunan angka kejadian ISPA berupa peningkatan sikap dan pengetahuan masyarakat tentang faktor-faktor pencetus terjadinya suatu penyakit khususnya ISPA dengan cara penyuluhan kesehatan.
KUALITAS HIDUP KLIEN TERAPI METADON DI PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON (PTRM) SANDAT RSUP SANGLAH Komang Tria Anggareni; Ni Ketut Sri Diniari
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.749 KB)

Abstract

Quality of life is an important indicator of the success of a therapy. Methadone Maintenance Therapy (MMT) is one of the popular choices for drug substitution therapy. Aside from its role in harm reduction against HIV infection, MMT may potentially increase clients’ quality of life. This study aims to identify the quality of life of methadone therapy clients and its affecting factors. Descriptive study with cross sectional design was used to describe quality of life of clients at Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) Sandat RSUP Sanglah. Samples were taken by consecutive sampling technique. Quality of life parameters were measured through the WHOQOL-BREF questionnaires. Quality of life of 35 subjects, 48.6% is categorized to good, 51,4% is moderate, and 0% is poor. Clients in age group 11-40 yo (58.6%), well educated (85.7%), have a job (55.2%), not widower (56.6%), and have had therapy for less than 12 months (66.7%) are mainly have a good quality of life. Quality of life of methadone maintenance therapy clients showed moderate and good category with no significant difference and none of them in poor quality of life. For further researchesare expected to be a more in depth study of the four domains that affect quality of life and develop by method of correlation.. Keywords:quality of life, methadone therapy client, drug abuse
ANALISIS KADAR ALBUMIN SERUM TERHADAP ASPARTATE TRANSAMINASE (AST), ALANIN TRANSAMINASE (ALT) DAN RASIO DE RITIS PADA PASIEN HEPATITIS B DI RSUP SANGLAH, DENPASAR NP Winda Pradnyawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.474 KB)

Abstract

Hepatitis B merupakan suatu inflamasi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis tipe B (HBV). Peningkatan serum AST, ALT serta penurunan kadar serum albumin merupakan indikator dari kerusakan hati. Rasio antara AST dan ALT (Rasio De Ritis) dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan kerusakan hati. Rasio <1 biasanya terjadi pada hepatitis akut sedangkan rasio >1 terjadi pada hepatitis kronis yang sudah mengarah ke sirosis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis antara AST, ALT, Rasio De Ritis dan albumin pada pasien hepatitis B. Studi cross-sectional dilakukan untuk mengetahui kadar serum albumin, AST, ALT serta rasio de ritis pada pasien hepatitis B. Penelitian menggunakan data sekunder yaitu 75 subjek penderita hepatitis B dari Januari 2014 sampai September 2015 di RSUP Sanglah Denpasar. Subjek penelitian terdiri dari 54 laki-laki dan 21 perempuan. Keseluruhan subjek menunjukkan penurunan kadar albumin dengan rerata 3,19 + 0,894 (p=0,044), peningkatan kadar AST dengan rerata 155,39 + 293,35 (p=0,001) dan peningkatan kadar ALT dengan rerata 138,02 + 289,40 (p=0,488). Penurunan kadar albumin menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok AST normal dengan kelompok AST meningkat (p<0,0001) serta antara kelompok ALT normal dan kelompok ALT meningkat (p<0,0001). Namun penurunan kadar albumin antara kelompok rasio de ritis <1 dan >1 tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,274). Terdapat hubungan yang bermakna antara albumin dengan AST (r= -0,544), ALT (r= -0,395) dan rasio de ritis (r=-0,018). Dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan kadar albumin pada pasien hepatitis B. Penurunan kadar albumin berhubungan dengan peningkatan AST, ALT dan Rasio De Ritis. Kata kunci: Hepatitis B, Albumin, AST, ALT, Rasio De Ritis
GAMBARAN PERLEMAKAN HATI NON-ALKOHOLIK DI RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE TAHUN 2017-2018 Derryl Ravertio Timothy Subroto; I Ketut Mariadi
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.295 KB)

Abstract

Perlemakan hati (fatty liver, disingkat FL) merupakan penyakit yang paling sering terjadi di negara-negara barat. Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang terjadi akibat gangguan fungsi pankreas dalam menghasilkan insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin (resistensi insulin). Resistensi insulin yang disebabkan oleh T2DM juga dapat menjadi penyebab dari NAFLD ini. Selain itu, pasien T2DM juga berpotensi mengidap fibrosis dan sirosis, akibat perkembangan penyakit NAFLD. Studi ini adalah studi deskriptif potong lintang (cross-sectional). Sampel yang digunakan adalah seluruh populasi terjangkau yang diambil dari rekam medis. Data kemudian diolah menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian diperoleh 13 sampel dengan reratausia 49,62 tahun (SD ± 9,57) dan penderita terbanyak pada kelompok umur 50-59 tahun. Didapatkan 8 penderita dengan indeks massa tubuh (IMT) berlebih (IMT ?23) (61,5%), dan 5 orang dengan IMT tidak berlebih (<23) (38,5%). Selain itu, hanya 2 penderita (15,4%) yang menderita diabetes melitus dan NAFLD, dan 11 orang sisanya (84,6%) tidak menderita diabetes melitus. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan disimpulkan bahwa jumlah penderita NAFLD pada RSUP Sanglah periode 2017-2018 sebanyak 13 kasus, dengan rerata usia 49,62 tahun ( ± SB 9,57), 61,5% dengan IMT berlebih (?23), dan 15,4% menderita diabetes melitus. Kata Kunci : Gambaran, Berat Badan Lebih, NAFLD, DM Tipe 2, RSUP Sanglah.
PREVALENSI VARISES TUNGKAI PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS WILAYAH DENPASAR SELATAN Edwind Rakatama Fahlevie; I Nyoman Semadi
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.873 KB)

Abstract

Varises tungkai (vena varikosa) adalah manifestasi klinis dari aliran darah vena yang secara fisiologis tidak terjadi pada tungkai bawah. Kehamilan merupakan salah satu penyebab tersering varises tungkai. Saat kehamilan, faktor hormon dalam sirkulasi meningkatkan distensibilitas dinding vena. Varises pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi Ibu dan janin apabila tidak ditangani. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas wilayah Denpasar. Peneliti menggunakan kuisioner yang berisi pertanyaan seputar varises pada kaki guna mendapatkan data primer dari sampel. Data yang didapat akan diolah secara manual, dianalisa secara deskriptif, dan disajikan dengan analisis univariat untuk memaparkan data demografis dan karakteristik sampel penelitian. Sebanyak 81 sampel diberikan kuisioner mengenai penyakit varises pada kaki. Sebanyak 14 Ibu hamil (17,3%) menderita varises dan 67 Ibu hamil (82,7%) tidak menderita varises. Pada pasien yang menderita varises, 10 orang (71,4%) sedang dalam trimester ke-3 kehamilan, 3 orang (21,45%) dalam trimester ke-2 kehamilan dan 1 orang (7,1%) dalam trimester pertama kehamilan. Kategori usia pasien sebanyak 8 pasien (57,1%) masuk dalam kategori umur 31-40 tahun, 5 pasien (35,7%) kategori 21-30 tahun dan 1 pasien (7,1%) kategori umur kurang dari 20 tahun. Ibu hamil yang menderita varises mempunyai pekerjaan sebagai Ibu rumah tangga 12 orang (85,7%). sebanyak 2 orang (14,28%) mempunyai riwayat varises sebelumnya. Sebanyak 9 orang (64,2%) dari penderita varises mempunyai riwayat varises kaki pada anggota keluarganya. sebanyak 8 varises (57,1%) terletak pada ekstrimitas bawah dekstra dan 6 varises (42,8%) pada sinistra. Sebanyak 94% varises terletak pada betis dan berwarna biru. Mayoritas penderita tidak merasakan rasa nyeri. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa riwayat keluarga, usia subjek, usia kehamilan menggambarkan semakin tinggi variable, semakin tinggi angka kejadian varises. Penyedia kesehatan di Puskesmas harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap varises kaki Ibu hamil karena semua varises yang ditemukan belum mendapatkan penanganan. Kata kunci: Varises tungkai, Ibu hamil
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA DI RSUP SANGLAH DENPASAR Ni Putu Windi Sukma Putri; Wayan Citra Wulan S; Putu Cintya Denny Y
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.217 KB) | DOI: 10.24843/eum.2020.v09.i01.p05

Abstract

Preeklampsia merupakan penyebab penting dari morbiditas berat, disabilitas jangka panjang dan kematian pada ibu dan bayi. WHO merekomendasikan untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan sebagai upaya mencegah dan menangani masalah preeklampsia melalui deteksi dini dan pengenalan faktor risiko preeklampsia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada ibu bersalin di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian dilakukan pada bulan April – Oktober 2018. Sebanyak 104 ibu bersalin dilibatkan dalam penelitian ini yang dipilih menggunakan metode systematic random sampling. Data preeklampsia dan faktor risiko seperti usia, paritas, obesitas, riwayat hipertensi dan tingkat pendidikan dikumpulkan dari rekam medis ibu bersalin periode Januari-September 2018. Data dianalisis dengan uji Poisson Regression untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kejadian preeklampsia sebesar 54,8% dan faktor yang berhubungan adalah usia < 20 dan >35 (PR = 2,042; 95% IK 1,478-2,820; P value < 0,001) serta paritas ? 1 dan ? 4 (PR = 2,280; 95% IK 1,129-4,60; P value = 0,003). Sedangkan faktor yang tidak berhubungan adalah obesitas (PR= 1,385; 95% IK 0,987-1,943; P value = 0,088), riwayat hipertensi (PR= 0,911; 95% IK 0,225-3,682; P value = 0,890) dan tingkat pendidikan ibu (PR= 1,201; 95% IK 0,847-1,702; P value=0,320). Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor risiko usia dan paritas berhubungan dengan kejadian preeklampsia sehingga dapat disarakan untuk mengawasi lebih intens pada ibu hamil dengan usia < 20 dan >35 dan paritas ? 1 dan ? 4. Kata Kunci: preeklampsia, usia, paritas, obesitas, riwayat hipertensi, tingkat pendidikan
INFLAMMATORY BOWEL DISEASE I Gusti Ayu Mahaprani Danastri; Ida Bagus Darma Putra
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.229 KB)

Abstract

Crohn disease (CD) and ulcerative colitis (UC) is an chronic inflammation in the gastrointestinal tract. Colecctively, they are called inflammatory bowel disease (IBD), and about 1,5 millions people in America suffering from UC and CD. The cause of UC and CD is unknown, but the expert believe that UC and CD are caused by a disturbed immune response in someone who has a genetic predisposition. UC and CD have a significant recurrency  and remission rate. Surgery in UC is a curative treatment for colon’s disease and a potentially colon’s malignancy, but it is not a curative treatment for CD.
STUDI KASUS : EPISODE DEPRESI PASCA STROKE Dewa Ayu Dita Udayani Pratama
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.054 KB)

Abstract

Pendahuluan : Gangguan mood dapat bervariasi baik normal, meningkat, ataumenurun dengan prevalensi 2-25%. Dimana sekitar 7-12% pria dan 20-25% wanitamengalamai depresi mayor. Depresi mayor merupakan bentuk yang paling buruk daridepresi. Etiologi dihubungkan dengan genetik, biologis, dan psikososial. Diantaradepresi, depresi pasca stroke terjadi 20-65% dari populasi dan umumnya terjadidalam 1-2 bulan setelah serangan stroke. Ada berbagai faktor yang mempengaruhikejadian dan beratnya kejadian. Dalam penanganannya seorang klinisi harusmemandang depresi dan stroke dalam hal yang terpisah dan ditangani sedinimungkin. Laporan Kasus : laki-laki 42 tahun, dikonsulkan dari bagian neurologidengan suspek depresi post-stroke dengan gangguan tidur, penurunan nafsu makan,rasa rendah diri, rasa bersalah, dan adanya keinginan bunuh diri. Pada pemeriksaanfisik didapatkan kerusakan pada kapsula i nterna dengan tanda-tanda depresi. Pasiendidiagnosis episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan diberikan terapimedikamentosa dan non-medikamentosa. Simpulan : penegakan diagnosis lebih awalpada pasien depresi pasca stroke untuk mendapatkan luaran yang optimal.
ANEMIA SEL SABIT Gede Agus Suwiryawan; I Wayan Putu Sutirta Yasa; DAP Rasmika Dewi
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.863 KB)

Abstract

Anemia is a form of blood disorder most often occurs in the community. Sickle cell anemia is anemia due to hemoglobinopathy caused by a change in the amino acid-6 of the ? globin chain. Sickle cell anemia is common in tropical areas of Africa and some parts of the region Saudi Arabia, India and the Mediterranean as well as black people in America. In addition there are also careers in various European countries. In pathophysiology, there are amino acid change from glutamic acid to valine in the ?-globin chain that causes red blood cells become sickle-shaped when deoxygenatied, but still be able to return to its normal shape when experiencing oxygenation. When the red blood cell membrane have been amended, the polymerization of red blood cells has become irreversible. Clinical picture seen in sickle cell anemia can be divided into two, namely: acute and chronic. Diagnosis can be done is to distinguish between heterozygous or homozygous sickle cell. Treatment provided in accordance with the clinical picture appears. Treatment that can be done is by blood transfusion, bone marrow transplant, anti-sickling drug delivery, and drug delivery to trigger the synthesis of HbF. Treatment still in the development stage is to use stem cells.

Page 30 of 196 | Total Record : 1956


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue