cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2011)" : 12 Documents clear
Leukositosis pada Ibu Sebagai Salah Satu Faktor Risiko Infeksi Neonatal Awitan Dini: Telaah Klinis di RSAB Harapan Kita Toto Wisnu Hendrarto
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.33-40

Abstract

Latar belakang. Infeksi awitan dini neonatal masih menjadi masalah karena tingginya angka kesakitan,kematian, biaya perawatan, dan akan menimbulkan komplikasi tumbuh kembang di kemudian harikhususnya bayi prematur. Di sisi lain diagnosis cepat sangat diperlukan terutama untuk menentukan saatpemberian antibiotik.Tujuan. Mengetahui hubungan faktor risiko maternal sebagai prediktor terjadinya infeksi neonatal awitandini (INAD).Metode. Studi kasus kontrol, retrospektif terhadap pasien neonatus yang dirawat di Unit Perawatan IntensifNeonatal, Rumah Sakit Anak dan Bunda ”Harapan Kita” sejak Desember 2008 sampai dengan November2010. Data dianalisis secara multivariat regresi logistik dengan menggunakan program SPSS 16.0.Hasil. Subyek penelitian 566 bayi baru lahir dari 5094 kelahiran selama periode dua tahun; ditemukan179 neonatus (35,17 per 1000 kelahiran) didiagnosis tersangka INAD, 12 (6,7%) terbukti berdasarkanpemeriksaan biakan darah. Jenis kuman adalah Staphylococcus epidermidis (6), candida sp (2), Staphylococcusaureus (1), Streptococcus B hemoliticus (1), Streptococcus maltophilia (1), serratia sp (1). Faktor risikoleukositosis (􀂕15.000 sel/mm3) pada ibu dan adanya leukosit (􀂕5/LPB) dalam cairan lambung bayi yangdiaspirasi segera setelah lahir memiliki probabilitas sebagai prediktor kemungkinan neonatus menderitainfeksi awitan dini sebesar 67.7%.Kesimpulan. Peningkatan jumlah leukosit darah ibu dan peningkatan jumlah leukosit dalam cairan lambungbayi yang diaspirasi segera setelah lahir merupakan prediktor kemungkinan neonatus menderita infeksiawitan dini
Proporsi Infeksi Tuberkulosis dan Gambaran Faktor Risiko pada Balita yang Tinggal dalam Satu Rumah dengan Pasien Tuberkulosis Paru Dewasa Aryana Diani; Darmawan B. Setyanto; Waldi Nurhamza
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.901 KB) | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.62-9

Abstract

Latar belakang.Tuberkulosis (TB) anak merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang sering dijumpai di negara berkembang. Anak mendapatkan infeksi TB dari orang dewasa di lingkungan sekitar mereka. Risiko infeksi TB meningkat pada anak yang tinggal dalam satu rumah dengan pasien TB dewasa. Belum ada studi mengenai proporsi dan faktor risiko transmisi infeksi TB anak di Indonesia.Tujuan. Mengetahui proporsi dan gambaran faktor risiko infeksi TB pada balita yang tinggal dalam satu rumah dengan pasien TB paru dewasa.Metode. Uji potong lintang deskriptif di Puskesmas Kecamatan Tebet, Jakarta-Selatan selama Juli-Agustus 2010. Subjek adalah balita yang tinggal dalam satu rumah dengan pasien TB paru dewasa. Pada setiap subjek dilakukan pemeriksaan antropometri, uji tuberkulin, dan pencatatan data sesuai formulir data penelitian.Hasil. Dilaporkan 85 subjek, terdiri dari 42 perempuan dan 43 lelaki ikut serta dalam penelitian. Uji tuberkulin positif ditemukan pada 36 dari 85 anak (42,4%). Pada gambaran karakteristik subjek, didapatkan sebagian besar subjek hanya memiliki 1 orang sumber penularan, intensitas kontak dengan sumber penularan yang lebih dari 8 jam/hari dengan sputum BTA positif 1 (48,2%). Persentase antara kepadatan populasi/hunian yang tidak memenuhi syarat dengan memenuhi syarat hampir berimbang (55,3% dan 44,7%). Mayoritas subjek memiliki status sosioekonomi menengah rendah dan status gizi baik. Didapatkan 67,1% subjek tinggal dalam rumah dengan ventilasi buruk. Infeksi TB lebih banyak ditemukan pada kelompok subjek dengan jumlah sumber penularan lebih dari 1, sputum BTA positif 3, kepadatan populasi yang tidak memenuhi syarat, ventilasi buruk, intensitas kontak <8 jam/hari dan status sosioekonomi menengah tunggi-rendah. Persentase infeksi TB banyak dijumpai pada kelompok subjek dengan status gizi buruk yang memiliki pajanan terhadap asap rokok. Sebagian besar pasien TB paru dewasa dengan sputum BTA positif 3 tinggal dengan subjek berstatus gizi baik.Kesimpulan. Proporsi infeksi TB pada anak balita yang tinggal dalam satu rumah dengan pasien TB paru dewasa 42,4%. Faktor risiko pajanan yang kemungkinan berperan adalah jumlah sumber penularan, sputum BTA dan kepadatan populasi/hunian. Faktor risiko infeksi yang kemungkinan berperan sirkulasi udara/ventilasi dan pajanan terhadap asap rokok.
Gambaran Perkembang Bicara dan Bahasa Anak Usia 0-3 Tahun Gladys Gunawan
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.21-5

Abstract

Latar belakang. Deteksi dini penyimpangan perkembangan anak merupakan tema global utama dalampelayanan kesehatan anak saat ini. Kegiatan deteksi dimaksudkan untuk menyingkirkan adanya penyimpangantumbuh kembang anak dan melihat faktor risiko yang mempengaruhinya. Kemampuan bicara dan bahasamerupakan salah satu indikator perkembangan anak yang sangat penting. Perubahan sosial dan demografitelah menyebabkan jumlah anak yang menerima perawatan dari seseorang yang bukan orangtuanya semakinbertambah, dan sebagian menitipkan anaknya di Tempat Penitipan Anak (TPA).Tujuan. Mengetahui gambaran perkembangan bicara dan bahasa anak usia 0-3 tahun di TPABanjarmasin.Metode. Penelitian deskriptif secara cross-sectional, dengan metode purposive sampling. Subjek penelitianadalah 33 anak usia 0-3 tahun yang dititipkan di delapan TPA di Banjarmasin. Instrumen penelitian yangdigunakan adalah alat skrining yang dipakai Early Languange Milestone scale-2, kuesioner terhadap orangtua, dan pengasuh anak di TPA.Hasil. Hasil penelitian dengan ELMs-2 menunjukkan bahwa 100% subyek dinyatakan pass atau menunjukkanperkembangan bahasa dan bicara yang normal. Kuesioner terhadap orang tua dan pengasuh anak di TPAmenunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua dan pengasuh TPA berada di tingkat tinggi. Subyekpenelitian berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang baik.Kesimpulan. Perkembangan bicara dan bahasa anak usia 0-3 tahun di delapan TPA Banjarmasin adalahnormal, sesuai dengan tahapan perkembangan pada usia masing-masing anak.
Peran Kortikosteroid dalam Pencegahan Stridor Pasca-ekstubasi pada Anak Rismala Dewi; Cahyani Gita Ambarsari
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.17 KB) | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.14-20

Abstract

Stridor pasca-ekstubasi merupakan tanda obstruksi jalan napas atas akibat inflamasi yang terjadi padatindakan intubasi. Inflamasi ini menimbulkan risiko untuk perlunya reintubasi dalam 24-48 jam pascaekstubasi,sehingga memperpanjang lama rawat pasien di unit perawatan intensif, meningkatkan risikoterjadinya berbagai penyulit akibat penggunaan ventilator mekanis, dan meningkatkan mortalitas. Padacontoh kasus ini, pasien mengalami intubasi berulang sebanyak tiga kali dengan lama tiap-tiap penggunaanintubasi adalah 5 hari, dan ada riwayat kesulitan intubasi pada tindakan intubasi pertama. Pasca-ekstubasiyang pertama, pasien mengalami sesak dan stridor sehingga reintubasi diperlukan. Riwayat kortikosteroidprofilaksis sebelum ekstubasi tidak diketahui. Dengan mempertimbangkan adanya riwayat intubasi sulitserta durasi intubasi >48 jam, pasien ini berisiko mengalami kegagalan ekstubasi, sehingga pemberiankortikosteroid profilaksis sebelum ekstubasi diharapkan akan bermanfaat. Pada pasien anak, belum ada buktiberbasis medik yang memadai untuk menyimpulkan bahwa pemberian kortikosteroid profilaksis sebelumekstubasi elektif akan mencegah stridor pasca-ekstubasi. Telaah dari studi yang heterogen dengan metodologiyang kurang memadai seperti dalam ulasan ini cenderung hanya melaporkan efek terapi, tetapi belumdapat digunakan sebagai suatu pedoman. Beberapa studi menunjukkan peran kortikosteroid menghasilkankeluaran yang baik. Deksametason IV yang diberikan beberapa jam sebelum dan sesudah ekstubasi padaanak, termasuk pada pasien dengan riwayat kegagalan intubasi, akan mengurangi risiko terjadinya stridorpasca-ekstubasi.
Pengaruh Perilaku Ibu Terhadap Status Kesehatan Anak Baduta di Provinsi Jawa Tengah Lilis Heri Mis Cicih
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.41-8

Abstract

Latar belakang. Kesehatan merupakan hak dasar anak yang harus dipenuhi. Anak yang sehat menjadiinvestasi bagi modal manusia. Masa baduta adalah masa yang penting, karena merupakan masa kritisdalam kesehatan dan masa emas dalam pertumbuhan otak. Salah satu faktor berpengaruh terhadap statuskesehatan baduta adalah perilaku ibu.Tujuan. Mengetahui pengaruh perilaku ibu terhadap status kesehatan baduta (bawah dua tahun) diProvinsi Jawa Tengah. Provinsi yang memiliki jumlah penduduk banyak dan masih menghadapi berbagaipermasalahan kesehatan balita.Metode. Data yang digunakan adalah Susenas tahun 2007, dengan unit analisis baduta yang tinggal bersamaibunya. Metode analisis meliputi analisis deskriptif, odds ratio (OR), regresi logistik multinomial, denganmelakukan pengujian statistik Chi-square. Status kesehatan dicerminkan oleh keluhan kesehatan, sementaraperilaku ibu dilihat dari status pemberian ASI eksklusif dan imunisasi dasar lengkap.Hasil. Baduta yang mengalami keluhan kesehatan 42,47%. Dilihat dari status pemberian ASI eksklusif,baduta yang pernah mendapatkan ASI lebih sehat daripada yang tidak pernah mendapatkan ASI. Sementarauntuk baduta yang berstatus imunisasi tidak lengkap lebih rendah status kesehatannya dibandingkan badutayang status imunisasinya lengkap atau belum lengkap.Kesimpulan. Secara bersama-sama, status pemberian ASI dan kelengkapan imunisasi baduta berpengaruhsignifikan terhadap status kesehatan baduta
Tingkat Depresi Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dan Faktor-Faktor Terkait Intan Alita Putri; Soepardi Soedibyo
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.335 KB) | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.70-8

Abstract

Latar belakang.Program pendidikan dokter spesialis seringkali menimbulkan stres pada kehidupan personal maupun profesional seorang residen. Residen diharapkan mampu memenuhi tuntutan klinis, akademis, fisis, dan sosial, sementara bekerja hingga 80 jam per minggu. Kondisi ini sangat berhubungan erat dengan ketidakpuasan terhadap program studi dan rumah sakit. Stres dapat menyebabkan seorang dokter tidak mampu bertanggungjawab secara penuh terhadap diri dan pekerjaannya. Tujuan.Mengetahui prevalens depresi, hubungannya dengan berbagai faktor sosiodemografis serta aspek lingkungan, dan cara mengatasinya. Metode.Studi potong-lintang, deskriptif-analitik dengan teknik total samplingterhadap seluruh residen yang masih terdaftar dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak (PPDS IKA) pada periode Agustus-September 2010. Kuesioner Major Depression Inventory(ICD-10) dari WHO disebarkan untuk mengetahui derajat depresi yang dialami dalam dua minggu terakhir. Hasil.Angka kejadian depresi berdasarkan kuesioner MDI, 28 (23,9%), 15 di antaranya mengalami depresi ringan, 10 mengalami depresi sedang, dan 3 mengalami depresi berat, tidak banyak berbeda dengan angka kejadian depresi yang dirasakan oleh subjek secara subjektif (n=31, 26,5%). Sebagian besar (59%) pernah mengalami depresi lebih dari satu kali.Kesimpulan. Angka kejadian depresi pada peserta PPDS IKA berdasarkan kuesioner MDI, 28 (23,9%). Tidak didapatkan faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan terjadinya depresi. Upaya untuk mengatasi depresi dengan berdoa, menghabiskan waktu atau bercerita pada teman dan keluarga tentang masalah yang dialami.
Pengaruh Asfiksia Neonatal Terhadap Gangguan Pendengaran Gatot Irawan Sarosa; Alifiani Hikmah Putranti; Tri Kartika Setyarini
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.5-13

Abstract

Latar belakang. Kejadian gangguan pendengaran di negara maju 1–3 dari 1000 kelahiran hidup, sedangkan prevalensi gangguan pendengaran di Indonesia ±4,2%, penyebabnya antara lain asfiksia. Identifikasi dini usia 3 bulan pertama kehidupan dan intervensi optimal 6 bulan pertama mencegah gangguan bicara, bahasa, kognitif, personal sosial, emosional, perilaku, akademik dan keterbatasan kesempatan kerja.Tujuan. Membuktikan asfifi ksia sebagai faktor risiko gangguan pendengaran sensorineural dengan mempertimbangkan prematuritas, obat ototoksik, dan ventilator mekanik.Metode. Penelitian observasional dengan rancangan kohort prospektif di RSUP Dr. Kariadi Semarang bulan Desember 2009 – November 2010. Subjek penelitian 68 neonatus terdiri dari 34 neonatus kelompok asfiksia dan 34 neonatus tanpa asfiksia Pemilihan subjek secara consecutive sampling, dicatat data klinis, laboratorium, dilakukan timpanometri, oto acustic emission (OAE) pertama usia <1 bulan dan OAE kedua dan brainstem evoked response audiometry (BERA) usia 3 bulan. Analisis statistik dengan uji Chi-square, uji Mc Nemar dan uji t tidak berpasangan, regresi logistik.Hasil. Kejadian gangguan pendengaran 35,3% pada asfiksia berdasarkan OAE pertama (p=0,003; RR:6,0; 95%CI:1,5-24,8), menjadi 20,6% pada OAE kedua (p=0,15). Gangguan pendengaran pada asfiksia berat 57,1% berdasarkan OAE pertama (p=0,003), menjadi 28,6% pada OAE kedua (p=0,16). Gangguan pendengaran sedang pada asfiksia 11,8% berdasarkan BERA (p=0,14). Faktor risiko prematuritas pada OAE pertama dan kedua p=1,00. Obat ototoksik, ventilator mekanik dan gangguan pendengaran pada OAE pertama (p=0,005; RR:4,4; 95%CI:1,3-14,3 dan p=0,03; RR:3,5; 95%CI:1,5-8,2). Analisis multi variat faktor risiko gangguan pendengaran untuk asfiksia (OR 1,3; 95%CI 0,1 - 19,9; p=0,84), obat ototoksik (OR 3,7; 95%CI 0,3 - 55,0; p=0,34), ventilator mekanik (OR 1,5; 95%CI 0,2-10,2;p=0,69)Kesimpulan. Asfiksia merupakan faktor risiko gangguan pendengaran usia kurang dari satu bulan. Gangguanpendengaran terbanyak pada asfiksia berat. Obat ototoksik dan ventilator mekanik merupakan faktor risikogangguan pendengaran usia kurang dari satu bulan. Prematuritas dan asfiksia, obat ototoksik, ventilatormekanik secara bersama-sama belum dapat disimpulkan sebagai faktor risiko gangguan pendengaran.
Karsinoma Nasofaring pada Anak: Karakteristik, Tata Laksana dan Prognosis Novie Amelia C; Gitta Cempako; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.296 KB) | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.79-84

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian karsinoma nasofaring (KNF) pada anak bervariasi antara 1-5% dari seluruhkeganasan pada anak, dengan gejala klinis tersering massa di leher yang tidak nyeri akibat keterlibatankelenjar getah bening regional.Tujuan. Mengkaji secara deskriptif karakteristik, tata laksana, dan prognosis pasien KNF pada anak.Metode. Studi ini merupakan kajian deskriptif pada pasien KNF anak yang berobat di Departemen IKARSCM sejak Januari 2004 hingga Desember 2009 dan telah dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi.Data perjalanan penyakit pasien berikut hasil pemeriksaan penunjang dan terapi diperoleh dari data registrasipasien onkologi IKA RSCM dan rekam medik.Hasil. Selama tahun 2005-2009 terdapat pasien baru KNF 24 orang, namun data lengkap hanya terdapatpada 13 pasien. Satu orang pasien meninggal sebelum dilakukan penentuan stadium. Dari 12 pasien, 10pasien adalah laki-laki dan 2 orang perempuan. Median usia pasien 12 tahun. Manifestasi klinis terseringadalah benjolan di leher yang tidak nyeri (8), epistaksis (4), dan nyeri kepala (1). Sepuluh dari 12 pasienmempunyai gambaran histopatologi karsinoma tidak berdiferensiasi (klasifikasi WHO tipe III), dan 2 oranglainnya karsinoma sel skuamosa (klasifikasi WHO tipe I). Dari 12 pasien, 3 orang stadium III, 4 orangstadium IVA, 4 orang stadium IVB dan 1 orang stadium IVC. Sepuluh dari 12 pasien mendapat pengobatankombinasi radioterapi dan kemoterapi, dua lainnya menjalani radioterapi. Dari 12 pasien yang mendapatpengobatan, 7 orang dinyatakan loss to follow up, dan 5 orang masih dalam pengobatan.Kesimpulan. Jumlah pasien KNF anak di Departemen IKA RSCM 2% (24 dari 1194 pasien) dari seluruhkeganasan anak tahun 2004-2009. Mayoritas pasien datang dalam kondisi lanjut, stadium III dan IV padawaktu diagnosis. Analisis free survival pada studi ini sulit dilakukan karena angka loss to follow up tinggi.
Karakteristik UDT (Undescended Testis) di RSAB Harapan Kita tahun 2009 Aditya Suryansyah
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.1-4

Abstract

Latar belakang.Undescended testis (UDT) merupakan testis yang tidak turun pada tempatnya. Sehinggaapabila testis belum turun pada usia dua tahun akan menurunkan fertilitas.Tujuan. Mengetahui karakteristik pasien UDT yang datang ke RSAB Harapan Kita.Metode. Penelitian UDT di RSAB Harapan Kita, antara Januari-Desember 2009, dan dilakukan secararetrospektif.Hasil. Didapatkan 78 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Tigapuluh tiga pasien (42%) datang tanparujukan, 28 di antaranya berusia lebih dari 2 tahun. Menurut tempatnya, UDT bilateral 21,8% dan sisanyaunilateral. Pasien yang diberikan terapi hormon (hCG) 48 pasien, dengan angka keberhasilan 50%, angkakeberhasilan lebih tinggi (55%) bila dilakukan pada usia 6 bulan-1 tahun. Pasien yang dioperasi (orchidopexy)34 pasien, 41,2% pasien dioperasi setelah terapi hormon gagal. Pasien yang menjalani orchidopexy padausia 2-5 tahun dan usia di atas 5 tahun berturut-turut 47,1% dan 29,4%.Kesimpulan. Disimpulkan bahwa masih banyak kasus UDT yang terlambat didiagnosis. Keterlambatanini akan mempengaruhi keberhasilan terapi.
Peran Transforming Growth Factor-B1 pada Penyakit Ginjal Partini Pudjiastuti Trihono
Sari Pediatri Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.1.2011.49-54

Abstract

Peran sitokin dan faktor pertumbuhan(growth factor)sangat penting dalam proses inflamasi yang mendasari pembentukan jaringan sklerotik dan fibrosis pada glomerulonefritis. Transforming growth factor(TGF)-E1merupakan sitokin multipoten yang disekresi oleh berbagai sel dalam tubuh. Sitokin TGF- E1 mempunyai kapasitas untuk mengaktivasi fibroblas interstisial, menginduksi apoptosis (yang menyebabkan sel intrinsik ginjal hilang, digantikan dengan jaringan fibrotik), dan diferensiasi sel tubulus menjadi miofibroblas, sehingga terjadi pembentukan jaringan parut ginjal. Jumlah (TGF)-E1 di daerah tubulo-interstisial berkorelasi dengan derajat inflamasi interstisial dan atrofi tubulus. Keterlibatan TGF-E1 pada pembentukan jaringan parut ginjal juga melalui peningkatan sintesis matriks ekstra selular. Diketahui bahwa TGF-E1 berperan dalam progresivitas penyakit ginjal. Kadar TGF-E1 di dalam urin kasus glomerulonefritis dengan proteinuria berat, sangat meningkat, dan kadarnya sebanding dengan derajat proteinuria. Peran TGF-E1 dalam progresivitas penyakit ginjal juga melalui terjadinya hipertensi. Angiotensin II sebagai hasil aktivasi sistim renin-angiotensin menstimulasi produksi TGF-E1. Inhibitor enzim konvertase (ACEI) dan atau antagonis reseptor angiotensin II terbukti dapat menurunkan proteinuria dan produksi TGF-E1, sehingga kedua obat tersebut dikenal mempunyai efek reno-proteksi.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue