cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 4 (2012)" : 12 Documents clear
Perbandingan Tatalaksana Konstipasi Kronis antara Disimpaksi per Oral dengan per Rektal di Instalasi Kesehatan Anak RS DR Sardjito Yogyakarta Wahyu Damayanti; Pradini Pradini; Zamrina Zamrina; M. Juffrie
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.224-9

Abstract

Latar belakang. Konstipasi adalah kelainan yang sering terjadi dan menimbulkan masalah yang serius padabayi dan anak. Penyebab konstipasi dapat dibagi menjadi penyebab non organik/fungsional dan penyebaborganik. Tatalaksana anak dengan konstipasi fungsional meliputi beberapa langkah, 1) edukasi, 2) pengeluaranfeses/disimpaksi, 3) fase pemeliharaan. Pada disimpaksi dan fase pemeliharaan diperlukan laksansia secara oralataupun rektal.Tujuan. Membandingkan disimpaksi oral (Laktulose) dengan per rektal (phosphate enema) pada anakdengan konstipasi kronis, kedua obat ini dari golongan yang sama yaitu laksansia osmotikMetode. Merupakan penelitian uji klinis acak terkendali. Sampel penelitian adalah anak konstipasi fungsional yangberobat jalan dan dirawat di Instalasi Kesehatan Anak RS Dr. Sardjito Yogyakarta dan memenuhi kriteria inklusidan kriteria eksklusi, usia antara 􀁴6 bulan – 14 tahun akan dilakukan uji disimpaksi per oral atau per rektal.Hasil. Angka kesembuhan pada kelompok terapi per oral lebih sedikit dibanding per rektal (=0,636, IK95% 0, 336-1,205), p=0,162. Efek samping yang timbul yaitu kembung (RR=0,857, IK 95% 0,633-1,160),p=0,285, nyeri perut (RR=0,583, IK 95% 0,141-2,410), p=0,312, diare (RR=0,952, IK 95% 0,611-1,484),p=0,832. Penerimaan terhadap obat yang diberikan pada anak (RR=1,000, IK 95% 0,699-1,448), p=1,000,pada orang tua (RR=1,1670, IK 95% 0,862-1,579), p=0,317. Perubahan gejala konstipasi setelah intervensiobat, yaitu retensi (RR=1,40, IK 95% 0,112-17,543), p=0,802, soiling (RR=1,40, IK 95% 0,875-2,237),p=0,171, konsistensi feses (RR=1,20, IK 95% 0,839 -1,716), p=0,071.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan efektifitas pada kedua kelompok, hanya dalam lama terapi lebihcepat pada laksansia per rektal dibandingkan per oral. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada keduakelompok dalam mengurangi retensi, nyeri saat defekasi dan konsistensi feses. Tidak ditemukan efek sampingyang bermakna pada pemakaian laksansia per oral ini. Laksansia per oral lebih mudah diberikan dibandinglaksansia per rektal walau hasil tidak berbeda bermakna.
Faktor Risiko dan Luaran Fungsi Hati pada Asfiksia Neonatus di Unit Perawatan Intensif Neonatus (UPIN) RSUP Sanglah Denpasar I Wayan Dharma Artana
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.260-4

Abstract

Latar belakang. Asfiksia neonatus menyebabkan disfungsi organ, termasuk hati sebagai salah satu organyang dikorbankan akan mengalami cedera karena proses asfiksia.Tujuan. Mengetahui dan membandingkan luaran fungsi hati pada asfiksia neonatus dan mengetahui faktorrisiko kejadian asfiksia.Metode. Penelitian dengan rancangan potong lintang, subyek dipilih dengan cara non random sampling,yaitu consecutive sampling, sejak bulan Juni sampai Desember 2010. Subyek penelitian 46 neonatus asfiksiadan 60 kontrol. Hubungan antara derajat asfiksia dengan parameter fungsi hati dilakukan dengan analisisof varian (ANOVA).Hasil. Dari 46 neonatus asfiksia, derajat ringan 21 (19,8%), derajat sedang 11 (10,4%), derajat berat 14(13,2%). Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok asfiksia dengan kontrol terhadap enzim serumglutamic oxaloacetic transaminase (SGOT), serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT), Prothrombin time(PT) dan International normalised ratio (INR)(p<0,001). Faktor risiko terhadap kejadian asfiksia adalahumur kehamilan (p<0,013) dan berat badan lahir (p<0,001).Kesimpulan.Asfiksia neonatus menyebabkan luaran SGOT, SGPT lebih tinggi dibandingkan kontrol. NilaiINR dan PT juga dipengaruhi oleh asfiksia neonatus.
Kejadian Infeksi Saluran Kemih di Ruang Rawat Inap Anak RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Syafruddin Haris; Anisah Sarindah; Yusni Yusni; Raihan Raihan
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.173 KB) | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.235-40

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan istilah umum untuk berbagai keadaan bertumbuhdan berkembang biaknya mikroorganisme dalam saluran kemih dalam jumlah yang bermakna.Tujuan. Mengetahui kejadian dan kuman penyebab ISK pada anak rawat inap di RSUD Dr. Zainoel AbidinBanda Aceh.Metode. Penelitian observasional dengan pengambilan sampel menggunakan sampel urin porsi tengah(midstream urine) dan kateterisasiHasil. Bakteri penyebab ISK pada anak di ruang rawat inap anak RSUD Dr.Zainoel Abidin Banda Aceh adalahbakteri Pseudomonas aeroginosa 4 (28,56%) kemudian diikuti oleh Escherichia coli 3(21,43%), Klebsielasp 3 (21,43%) dan Stafilokokus aureus 2 (14,29%). Hasil uji sensitivitas pada setiap bakteri berbeda-beda.Bakteri yang diuji telah mengalami resistensi terhadap antibiotik golongan sefalosporin generasi I,II,III.Golongan meropenem masih sensitif terhadap bakteri Gram negatif batang, namun bakteri Gram positifkokus yaitu Stafilokokus aureus resisten terhadap antibiotik ini.Kesimpulan. Bakteri penyebab ISK di ruang rawat inap anak yang terbanyak adalah Pseudomonas aeroginosayang sensitif dengan antibiotik golongan meropenem.
Sikap Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Terhadap Tugas Administrasi Rumah Sakit Soepardi Soedibyo; R. Adhi Teguh P.I; Dede Lia Marlia
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.79 KB) | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.218-23

Abstract

Latar belakang. Administrasi sebagai pendukung pelayanan rumah sakit yang baik dan bermutu sangatdiperlukan baik yang harus dilakukan oleh dokter, perawat, maupun tenaga lain. Namun, tugas administrasitersebut sering tumpang tindih, sehingga sering menyebabkan kerancuan. Banyak jenis tugas administrasirumah sakit dinilai tidak berhubungan dengan kewajiban seorang dokter dalam memberikan pelayanankesehatan. Sementara beban seorang peserta PPDS-IKA dinilai cukup besar, dikhawatirkan pekerjaanadministrasi ini akan mengganggu performa peserta PPDS dalam memberikan pelayanan kesehatan danpencapaian prestasi akademisnya.Tujuan. Mengetahui sikap peserta PPDS terhadap tugas administrasi di Departemen IKA RSCM.Metode. Penelitian observasional di Departemen IKA FKUI-RSCM pada bulan Agustus sampai September2011 pada semua peserta PPDS IKA FKUI yang terdaftar mulai dari Januari 2006 sampai Januari 2011.Hasil. Dari 108 responden 54 (50%) responden menganggap pembuatan coding obat-obatan asuransikesehatan (ASKES), jaminan kesehatan daerah (JAMKESDA), keluarga miskin (GAKIN), surat keterangantidak mampu (SKTM), dan lain-lain merupakan pekerjaan administrasi yang paling menyita waktu. Semuaresponden menganggap tugas administrasi rumah sakit dapat menganggu pelayanan terhadap pasien.Enampuluh tiga (58,3%) responden menganggap tugas administrasi rumah sakit akan mengurangi performaPPDS IKA dalam memberikan pelayanan kesehatan.Kesimpulan. Tugas administrasi rumah sakit yang paling menyita waktu yaitu pembuatan coding. Tugasadministrasi rumah sakit dianggap tidak bermanfaat serta mengganggu dan mempengaruhi kinerja danperforma peserta PPDS IKA.
Kandungan Zat Besi pada Produk Makanan Bayi Siap Saji Titis Prawitasari
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.265-8

Abstract

Latar belakang. Setelah ASI eksklusif 6 bulan, bayi harus telah mendapatkan MPASI karena cadangan zatbesi dalam tubuh yang makin menipis dan asupan yang diperoleh dari ASI sudah tidak memadai lagi.Tujuan. Melakukan evaluasi kandungan zat besi yang tercantum dalam label produk MPASI siap saji yangada di pasaran.Metode. Dilakukan survei terhadap produk MPASI yang terdapat di swalayan di Jakarta Barat dan Timurselama bulan Mei 2011.Hasil. Dievaluasi 15 produk dari 5 produsen, berupa bubur, tim dan biskuit untuk golongan usia 6 bulan keatas, 8 bulan ke atas, dan 9 bulan ke atas. Semua mencantumkan petunjuk penggunaan dan saran penyajian.Takaran saji berbagai produk tersebut berbeda, antara 40-50 g (5-6) sendok makan per saji untuk bubur dantim serta 19-21 g per saji (2-3) keping untuk biskuit. Jumlah kalori per saji MPASI bubur dan tim antara160-210 kalori, sedangkan jumlah kalori per saji MPASI biskuit antara 80-90 kalori. MPASI yang terdapatdi pasaran mempunyai kandungan zat besi berkisar antara 0,48-4,8 mg (6-60)% dari AKG. Setelah 6 bulan,kekurangan asupan zat besi dapat tercukupi dengan minimal pemberian 1-2 kali MPASI siap saji per hari,di samping pemberian ASI atau susu formula sesuai kebutuhan berdasarkan usia.Kesimpulan. Produk MPASI/makanan bayi siap saji yang ada di pasaran mengandung antara 0,48-4,8 mgzat besi per takaran sajinya. Produk MPASI biskuit mempunyai kandungan zat besi yang paling rendah diantara bentuk lainnya.
Demam Berkepanjangan pada Anak di RSUP Fatmawati Tahun 2008-2010 Debbie Latupeirissa
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.898 KB) | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.241-5

Abstract

Latar belakang. Demam berkepanjangan merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas padaanak, terutama di negara-negara tropis dan sedang berkembang. Diagnosis sering sulit ditentukan sehinggaperlu diteliti etiologi dan karakteristik demam berkepanjangan pada anak, khususnya di RSUP Fatmawati,Jakarta.Tujuan. Mengetahui karakterisrik penyebab demam berkepanjangan pada anak di RSUP Fatmawati.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan untuk melihat karakteristik dan etiologi pasiendemam berkepanjangan yang dirawat di SMF Kesehatan Anak RSUP Fatmawati. Populasi anak dengandiagnosis demam berkepanjangan diambil dari data rekam medis sejak Januari 2008 hingga Desember2010.Hasil. Angka kejadian pasien demam berkepanjangan di SMF Kesehatan Anak RSUP Fatmawati 0,68%(60/8808 pasien), sebagian besar laki-laki. Rerata usia adalah 7,28±3,91 tahun. Penyebab terbanyak penyakitinfeksi 97%, yaitu demam tifoid, tuberkulosis paru dan infeksi saluran kemih. Sebagian besar pasien berusia> 6 tahun, memiliki status gizi kurang. Kuman terbanyak ditemukan pada biakan darah dan urin yaituSalmonella typhi dan E.coli.Kesimpulan. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama demam berkepanjangan pada anak.
Karakteristik Keterlambatan Bicara di Klinik Khusus Tumbuh Kembang Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Tahun 2008 - 2009 Attila Dewanti; Joanne Angelica Widjaja; Anna Tjandrajani; Amril A Burhany
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.230-4

Abstract

Latar belakang. Keterlambatan berbicara dan berbahasa adalah masalah yang cukup umum pada anakanakusia 2-5 tahun. Prevalensi dari keterlambatan berbicara dan berbahasa bervariasi antara 1%-32% padapopulasi normal, dipengaruhi berbagai faktor dan menurut metode yang digunakan untuk mendiagnosis.Keterlambatan dalam gangguan perkembangan berbicara dapat merupakan gejala dari berbagai penyakit,seperti keterbelakangan mental, gangguan pendengaran, gangguan bahasa ekspresif, autisme, selektifmutisme, afasia reseptif dan cerebral palsy, dan penyakit lainnya. Gangguan berbicara mungkin sekunderkarena keterlambatan perkembangan atau disebabkan bilingualisme.Tujuan. Mengetahui karakteristik keterlambatan bicara di Klinik Khusus Tumbuh Kembang (KKTB)RSAB Harapan Kita, Jakarta.Metode. Desain penelitian deskriptif retrospektif dari rekam medik pasien baru berusia 1-5 tahun yangdatang ke KKTK RSAB Harapan Kita pada Januari 2008 sampai dengan Desember 2009.Hasil. Terdapat 260 pasien baru dengan keterlambatan bicara di KKTK RSAB Harapan Kita, 116 (44,6%)anak dengan diagnosis developmental dysphasia. Dijumpai 69,6% kasus, diagnosis ditegakkan pada usiaantara 13-36 bulan, dan lebih banyak anak laki laki 185 (71,2%) anak. Latar belakang pendidikan ibupasien 65,8% berpendidikan tinggi.Kesimpulan. Keterlambatan bicara di KKTK sebagian besar adalah developmental dysphasia. Ibu pasienmembawa ke KKTK pada usia dini sehingga dapat ditindaklanjuti dan diterapi lebih cepat sehingga mendapatluaran yang lebih baik.
Profil Sindrom Nefrotik pada Ruang Perawatan Anak RSUP Sanglah Denpasar GAP Nilawati
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.269-72

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik merupakan salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai pada anak,ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, edema, dan hyperkolesterolemia.Tujuan. Untuk mengetahui karakteristik, gambaran klinis, dan laboratorium anak dengan sindromnefrotik.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif, dengan mengambil data dari rekam medis pasien sindrom nefrotikselama periode 2001-2007, di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah, Denpasar.Hasil. Selama periode 6 tahun (2001-2007), terdapat 68 anak dengan sindrom nefrotik. Usia berkisar dari 6bulan sampai dengan 11 tahun (rerata 5,1),laki-laki 50 (73,5%), perempuan 18 (26,5%) dengan rasio 2,7:1.Sebagian besar pasien datang dengan keluhan utama bengkak 62 (91%), demam 2 (3%), kejang 2 (3%), dan syok2 (3%). Kadar albumin rata-rata 1,02 ± 0,67, kolesterol 485,3±162,39, 14,7% dengan hematuria. Peningkatankreatinin 16 (23,5%), respons terhadap terapi 58 (85,2%) sensitif steroid, 10 (14,8%) resisten steroid.Kesimpulan. Sindrom nefrotik lebih banyak mengenai laki-laki dibandingkan perempuan. Sebagianbesar pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan bengkak dan proteinuria masif. Respons pengobatanmenunjukkan sebagian besar sensitif terhadap steroid.
Hubungan Antara Kadar Feritin dan Kadar 25-Hidroksikolekalsiferol {25(OH)D} Serum Pasien Thalassemia Mayor Anak Tubagus Ferdi Fadilah; Sri Endah Rahayuningsih; Djatnika Setiabudi
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.246-50

Abstract

Latar belakang. Pasien thalassemia mayor secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi akibattransfusi darah berulang dan menyebabkan hidroksilasi vitamin D 25-hidroksikolekalsiferol {25(OH)D}terganggu akibat deposisi besi di parenkim hati.Tujuan. Mengetahui korelasi antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D pada pasien thalassemia mayor anak.Metode. Desain penelitian rancangan potong lintang dilakukan pada bulan Desember 2010–Januari 2011di poli Thalassemia anak RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sejumlah 64 subjek diambil secara consecutivesampling. Data diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, dan catatan medis.Pemeriksaan kadar feritin serum menggunakan metode enhanced chemiluminescence immunoassay (ECLIA).Pemeriksaan kadar 25(OH)D serum menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dandilakukan di Laboratory Research and Esoteric Testing Laboratorium Klinik Prodia Jakarta. Analisis statistikdigunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk distribusi data dan transformasi log terhadap distribusi datatidak normal. Untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D serum digunakan ujikorelasi Spearman. Hubungan dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Dari 64 subjek berusia 2–14 tahun, didapatkan kadar feritin serum rerata (SB) 3.525 (2.356,784) ng/mL,serta kadar vitamin D 25(OH)D serum rerata (SB) 37 (10,067)nmol/L Enam puluh/enam puluh empat(94%) subjek memiliki kadar feritin serum >1.000 ng/dL, 55/64 (86%) subjek memiliki kadar 25(OH)D serum <50 nmol/L dan dianggap defisiensi vitamin D. Kadar feritin berkorelasi negatif dengan kadar25(OH)D serum (􀁕=-0,368; p<0,01).Kesimpulan. Peningkatan kadar feritin serum diikuti penurunan kadar 25(OH)D serum pada pasienthalassemia mayor anak yang berusia 2–14 tahun.
Peningkatan Berat Badan Bayi Baru Lahir dengan Seksio Sesarea yang Diberikan Kombinasi ASI dengan Susu Formula Mengandung Probiotik dan Nonprobiotik Tetty Yuniati
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.657 KB) | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.251-5

Abstract

Latar belakang. Penelitian terdahulu melaporkan pro-kontra bahwa suplementasi probiotik meningkatkan beratbadan bayi dibandingkan tanpa probiotik.Tujuan. Menentukan perbedaan peningkatan berat badan bayi dari saat lahir sampai usia 4 minggu yang diberikankombinasi ASI dengan susu formula mengandung probiotik dan nonprobiotik.Metode. Penelitian randomized open label clinical dilakukan selama periode November 2009 sampai Oktober2010 pada 96 bayi normal, BBL 􀂕2.500 g dengan orangtua tidak mempunyai riwayat alergi, lahir dengan seksiosesarea di RS Hasan Sadikin Bandung. Selama 4 minggu 48 bayi diberikan ASI dan susu formula probiotik dan48 bayi ASI dan nonprobiotik sebagai kontrol dan setiap hari dicatat lama menyusui dan jumlah formula yangdiberikan. Analisis statistik dengan Chi- square untuk data kategori dan uji t untuk data numerik serta perbedaanpeningkatan berat badan antara kedua kelompok dengan analysis of variance (ANOVA) repeated measure.Hasil. Karakteristik keluarga tidak berbeda bermakna antara kedua golongan bayi. Jenis kelamin antara keduakelompok tidak berbeda (p>0,05). Lama menyusui selama 4 minggu pada golongan probiotik dan nonprobiotikmasing-masing 2.789±1.308,52 dan 3.055±1.515,22 menit (p=0,512), sedangkan jumlah susu formula yangdiberikan selama 4 minggu 7.029±2.031,57 dan 6.583±1.320,17 mL (p=0,496). Berat badan pada saat lahirdan usia 4 minggu pada kelompok probiotik 3.153±326,89 g dan 4.150±413,12 g (p=0,786) dan kelompoknonprobiotik 3.113±395,06 g dan 4.070±490,73 g (p=0,382), sedangkan perbedaan peningkatan berat badan padakelompok probiotik 997±86.23 g dan kelompok nonprobiotik 957±95,67 g (p= 0,258). Hasil uji ANOVA repeatedmeasure menunjukkan jenis susu formula tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatanberat badan bayi.Kesimpulan. Peningkatan berat badan bayi sejak lahir sampai usia 4 minggu yang mendapat kombinasi ASI dan susuformula mengandung probiotik dan tidak mengandung probiotik tidak berbeda. 

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue