cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2013)" : 12 Documents clear
Faktor yang Berhubungan dengan Hiperglikemia dan Luarannya pada Anak Sakit Kritis Rosary Rosary; Imral Chair; Pustika Amalia; Agus Firmansyah; Irawan Mangunatmadja; Mulyadi M. Djer
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.32-8

Abstract

Latar belakang. Hiperglikemia pada sakit kritis berhubungan dengan luaran yang lebih buruk, seperti lama penggunaan ventilasi mekanik, dan obat vasoaktif lebih panjang, serta derajat disfungsi organ yang lebih berat.Tujuan. Mengetahui hubungan karakteristik subjek dengan hiperglikemia serta mengetahui perbedaan proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia antara kelompok subjek yang memakai ventilasi mekanik, mendapat obat vasoaktif, serta dengan disfungsi organ berat, dibandingkan dengan kelompok subjek yang tidak.Metode. Studi analitik potong lintang dilakukan pada anak sakit kritis di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan-18 tahun, dilakukan antara Maret-Juni 2011.Hasil. Didapatkan 87 subjek penelitian, 60 di antaranya laki-laki. Hiperglikemia ditemukan pada 25/87 (28,7%) subjek dengan median kadar glukosa darah 121 (37-443) mg/dL Hiperglikemia ditemukan lebih banyak pada laki-laki, usia >1-5 tahun, gizi kurang, dan pasca-bedah, tetapi tidak ditemukan hubungan yang bermakna. Subjek yang menggunakan ventilasi mekanik dan vasoaktif memiliki proporsi lebih besar mengalami hiperglikemia dibandingkan dengan subjek yang tidak, tetapi perbedaan ini juga tidak bermakna. Enam dari 10 subjek yang memiliki skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD) tinggi mengalami hiperglikemia. Proporsi ini lebih besar dibandingkan subjek dengan skor PELOD rendah, yaitu 19/77 subjek (p=0,03).Kesimpulan. Proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia lebih besar pada anak dengan disfungsi organ berat daripada disfungsi organ ringan. Karakteristik subjek tidak berhubungan dengan hiperglikemia pada sakit kritis. Tidak terbukti adanya perbedaan proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia pada anak sakit kritis yang menggunakan ventilasi mekanik dan obat vasoaktif dibandingkan dengan kelompok subjek yang tidak.
Pengaruh Stimulasi terhadap Perkembangan Bicara Anak 1-3 tahun di Daerah GAKY dan Non GAKY Saldi Fitra; Asri Purwanti; Niken Puruhita
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.10-6

Abstract

Latar belakang. Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Gangguan perkembangan bicara pada GAKY terjadi akibat kerusakan otak. Angka kejadian gangguan perkembangan bicara masih cukup tinggi. Stimulasi pada anak di bawah 3 tahun dapat meningkatkan kemampuan bicara berkat kemampuan plastisitas otak. Tujuan. Menilai pengaruh pemberian stimulasi terhadap perkembangan bicara anak 1-3 tahun di daerah GAKY dan Non GAKY.Metode.Studi quasi eksperimental one group pretest post test design dengan consecutive samplingdilakukan pada anak 1– 3 tahun yang memenuhi kriteria inklusi di Kecamatan Kepil (non endemis GAKY) dan Kertek (endemis GAKY), Wonosobo, pada bulan April-September 2011. Intervensi stimulasi sesuai dengan pedoman pelaksanaan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di tingkat pelayanan kesehatan dasar 2006. Nilai standar ekuivalen bahasa global dari Early Language Milestones Scale2 diukur sebelum dan sesudah stimulasi pada daerah GAKY dan Non GAKY. Analisis statistik dengan Paired T-testdan Independent T test.Hasil. Delapanpuluh anak terdiri dari 57,5% laki-laki dan 43,5% perempuan. Rerata nilai perubahan perkembangan bicara daerah GAKY 8,4 (SB 7,94) dan Non GAKY 2,93 (SB 8,3) p= 0,004. Nilai standar ekuivalen perkembangan bicara sebelum dan sesudah diberikan stimulasi di daerah Non GAKY meningkat dari 89,8 menjadi 92,7 (SB 8,3) p=0,032, dan meningkat dari 85,7 menjadi 94 (SB 7,94) (p=0,001) di daerah GAKY.Kesimpulan.Stimulasi berpengaruh terhadap peningkatan perkembangan bicara anak 1-3 tahun di daerah GAKY dan Non GAKY.
Faktor Risiko Terjadinya Demam Neutropenia pada Anak Leukemia Limfoblastik Akut MMDEAH Hapsari; Moedrik Tamam; Pradipto Satrio
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.39-45

Abstract

Latar belakang. Demam neutropenia merupakan suatu sindrom yang terdiri dari dua gejala, yaitu adanya demam dan neutropenia yang didefinisikan sebagai absolute neutrophils count/ANC <500 sel/mm3, yang seringkali muncul pada pasien keganasan akibat penyakit maupun pengobatannya. Leukemia limfoblastik akut merupakan keganasan hematologi dengan kemungkinan sembuh yang cukup tinggi, adanya komplikasi demam neutropenia meningkatkan angka mortalitas.Tujuan. Mencari faktor risiko terjadinya demam neutropenia pada LLAMetode. Studi pada 26 kasus anak yang dipilih secara consecutive sampling dan 26 kontrol. Kasus adalah pasien LLA yang menderita demam neutropenia sedangkan kontrol pasien LLA yang tidak demam neutropenia. Faktor risiko demam neutropenia pada anak dengan LLA yang diteliti meliputi dosis terapi sitostatika risiko tinggi, status gizi, status sosial ekonomi, durasi pemakaian infus dan hipoalbuminemia. Statistik yang digunakan adalah uji t, Chi square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik berganda..Hasil. Studi univariat status sosial ekonomi miskin merupakan faktor risiko terhadap kejadian demam neutropenia dengan nilai OR sebesar 4,591 kali dibandingkan pasien yang tidak miskin (p=0,032; 95%CI=1,078-15,086). Terapi sitostatika risiko tinggi(p=0,109; 95%CI=0,09-1,308), status gizi(p=0,382; 95%CI=0,439-4,699), rerata durasi pemakaian infus (p=0,5; 95%CI=0,442-4,790) dan hipoalbuminemia (p=-0,271; 95%CI=0,522-5,969) bukan risiko terhadap kejadian demam neutropenia. Analisis multivariat tidak didapatkan adanya faktor risiko yang berpengaruh secara bermakna terhadap kejadian demam neutropenia (p>0,05)Kesimpulan. Pasien LLA dengan sosial ekonomi rendah berisiko tinggi terhadap demam neutropenia.
Pengaruh Penyakit Infeksi terhadap Kadar Albumin Anak Gizi Buruk Nur Aisiyah Widjaja; Siti Nurul Hidayati; Roedi Irawan
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.46-50

Abstract

Latar belakang. Penyakit infeksi dan gizi buruk merupakan hubungan yang sinergis. Serum albumin merupakan prognostik faktor yang penting untuk pasien gizi buruk terutama yang dirawat di rumah sakit. Pasien rawat inap dengan gizi buruk mempunyai risiko komplikasi klinis yang lebih berat, dan mortalitas lebih tinggi dibanding pasien tanpa gizi buruk.Tujuan. Mengetahui pengaruh penyakit infeksi terhadap kadar albumin anak dengan gizi buruk yang dirawat di rumah sakit.Metode. Penelitian analitik deskriptif retrospektif dari data sekunder status semua pasien gizi buruk dengan atau tanpa edema yang dirawat di bangsal anak RSUD Dr Soetomo, Surabaya sejak Mei tahun 2008-Juni 2009. Data yang diambil adalah data umur, jenis kelamin, dan status penyakit. Pasien dibagi dua kelompok, yaitu kelompok infeksi dan non infeksi, dan diukur kadar albuminnya. Analisis data menggunakan chi-square dan t-test.Hasil. Didapatkan 77 anak dengan gizi buruk tipe non edema, 44 anak dengan penyakit infeksi dan 33 anak dengan penyakit non infeksi. Nilai rerata albumin pada anak gizi buruk dengan infeksi lebih rendah dan bermakna secara statistik dibandingkan gizi buruk non infeksi (3,08±0,74 g/dL dibanding 3,56±0,99 g/dL, p=0,019). Anak gizi buruk dengan serum albumin rendah mempunyai risiko untuk mendapatkan penyakit infeksi lebih tinggi dibanding anak gizi buruk tanpa penyakit infeksi (RR:1,35, CI 95%:1,030-1,946).Kesimpulan. Kadar serum albumin yang rendah pada anak gizi buruk yang dirawat di rumah sakit lebih berisiko untuk mendapatkan infeksi.
Kadar Cystatin-C Serum Sebagai Penanda Fungsi Ginjal Bayi Prematur Dinna Meinardaniawati; Sjarif Hidajat Effendi; Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.17-22

Abstract

Latar belakang. Cystatin-C dipertimbangkan menjadi pemeriksaan potensial pengganti kreatinin serum sebagai penanda fungsi ginjal. Kadar cystatin-C serum lebih mendekati nilai laju filtrasi glomerulus dibandingkan dengan kreatinin serum. Beberapa penelitian menyatakan bahwa cystatin-C dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan ras meskipun tidak sebesar pengaruhnya terhadap kreatinin.Tujuan. Menganalisis korelasi kadar cystatin-C serum dengan kreatinin serum dan apakah kadar cystatin-C serum dapat digunakan sebagai penanda fungsi ginjal bayi prematur.Metode. Penelitian observasional analitik, cross-sectional, dilaksanakan Februari−Mei 2012. Subjek adalah bayi prematur usia kehamilan 32–<37 minggu, lahir di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Cibabat Cimahi, dan RSUD Bandung. Dilakukan pemeriksaan kadar cystatin-C serum dengan metode particle-enhanced immunonephelometry dan kreatinin serum dengan metode Jaffe. Uji statistik menggunakan korelasi Pearson, kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 37 subjek bayi prematur, 23/37 subjek dilahirkan spontan dengan perbandingan jenis kelamin hampir sama. Kadar cystatin-C dan kreatinin serum rerata adalah 1,68 mg/L (IK 95%; 1,32–2,09) dan 0,99 mg/dL (IK 95%; 0,62–1,48). Hasil analisis mendapatkan korelasi bermakna kadar cystatin-C dengan kreatinin serum (r=0,621; p<0,001).Kesimpulan. Semakin tinggi kadar kreatinin serum, maka semakin tinggi kadar cystatin-C serum. Cystatin-C dipertimbangkan sebagai penanda untuk menilai fungsi ginjal bayi prematur.
Faktor Risiko yang Memengaruhi Luaran Klinis Malformasi Anorektal pada Neonatus di RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh Dora Darussalam; TM Thaib
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.849 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.51-5

Abstract

Latar belakang. Malformasi anorektal merupakan salah satu masalah dan penyebab kematian pada neonatus di ruang NICU RSU Dr Zainoel Abidin Banda Aceh.Tujuan.Mengetahui faktor risiko yang memengaruhi luaran klinis pada neonatus dengan malformasi anorektal di RSUD Dr.Zainoel Abidin, Banda Aceh.Metode. Studi cross sectional dengan penelusuran rekam medis di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh sejak bulan Januari 2009-Desember 2011. Pengaruh variabel faktor risiko dengan luaran malformasi anorektal dianalisis dengan uji multivariat regresi logistik. Batas kemaknaan apabila p<0,05 dengan interval kepercayaan 95%.Hasil. Malformasi anorektal letak intermediat mempunyai peluang 0,148 kali lebih kecil memengaruhi luaran klinis pada neonatus (p=0,024, RP=0,148, 95% CI=0,04-0,62). Sembilan kasus (19,6%) malformasi anorektal yang berhubungan dengan satu atau lebih anomali atau sindrom. Hasil analisis multivariat regresi logistik diperoleh hasil bahwa malformasi anorektal letak tinggi berhubungan bermakna dan mempunyai peluang 24 kali lebih besar dibandingkan malformasi anorektal letak intermediat yang memengaruhi luaran klinis pada neonatus (p=0,021, RP=24,0; 95% CI=1 615-356 635).Kesimpulan. Malformasi anorektal letak tinggi merupakan faktor risiko yang mempengaruhi luaran klinis pada neonatus.
Profil Darah Tepi pada Anak dengan Infeksi Dengue Citra Raditha; Alan Roland Tumbelaka; Irawan Mangunatmadja; Taralan Tambunan; Najib Advani; Rosalina Roeslani
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.54 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.23-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue merupakan infeksi Arbovirus tersering pada manusia. Insiden global dari infeksi ini telah meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Perjalanan penyakit sulit diperkirakan, dan derajat penyakit bervariasi mulai dari yang bersifat asimtomatik sampai dengan syok.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kombinasi parameter darah tepi dengan derajat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence.Metode. Penelitian deskriptif analitik pada anak sepsis umur 1-18 tahun yang dirawat di Departemen. Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, RS Fatmawati, dan RS Harapan Kita. Penelitian dilakukan dari November 2010 – April 2011. Pemeriksaan darah tepi berupa trombosit, leukosit, hemoglobin, hematokrit, dan limfosit plasma biru dilakukan secara berkala tiap hari, dan pemeriksaan serologi hari ke-5 demam pada setiap subjek. Selanjutnya dilakukan analisis hubungan kombinasi parameter darah tepi dengan derajat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence.Hasil. Terdapat 100 subyek penelitian, terdiri dari 50 DD, 30 DBD derajat I dan II, dan 20 SSD antara bulan November 2010-April 2011. Pada demam hari ke-3, terjadi penurunan jumlah trombosit, leukosit, serta peningkatan nilai hemoglobin, dan hematokrit. Jumlah limfosit plasma biru mengalami peningkatan sejak awal demam. Analisis diskriminan menemukan persamaan antara kombinasi trombosit, hematokrit, leukosit dengan derajat berat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence yaitu y= -6,089 - 0,020 x trombosit (dalam 103) + 0,152 x hematokrit + 0,22 x leukosit (dalam 103). Prediksi diagnosis DD jika memiliki nilai diskriminasi -3,06047 hingga -0,20671, DBD derajat I-II jika nilai diskriminasi -0,25809 hingga 0,78855, dan SSD jika nilai diskriminasi 0,45226 hingga 2,80560.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan hubungan antara kombinasi trombosit, hematokrit, leukosit dengan derajat berat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence.
Perbedaan Kadar Leptin pada Anak yang Menderita Infeksi Dengue Anggia Farrah Rizqiamuti; Sri Endah Rahayuningsih; Dedi Rachmadi; Rachmat Budi
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.244 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.1-4

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue merupakan infeksi akut yang dapat mempengaruhi kadar leptin. Perbedaan spectrum klinis infeksi dengue menyebabkan perbedaan kadar interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-α(TNF-α). Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar leptin pada anak yang menderita infeksi dengue.Metode.Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien DB, DBD, dan SSD (pascasyok) yang memenuhi kriteria klinis dan telah dibuktikan melalui pemeriksaan serologis. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney untuk menentukan perbedaan kadar leptin pada DB dengan DBD dan SSD.Hasil. Pasien infeksi dengue 48 anak terdiri dari 27 DB, 11 DBD, dan 10 SSD. Terdapat perbedaan bermakna kadar leptin antara DB dengan DBD, dan SSD p=0,002. Rerata kadar leptin pada DD 703,4 (374,1–3616,7), DBD 2.172 (554,3–16631,1), dan SSD 1.321 (250,5–4.714,6). ng/mL Kadar leptin DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD (p<0,001), namun kadar leptin antara DBD dan SSD tidak berbeda bermakna (p=0,132) dan kadar leptin antara SSD (postsyok) dan DD tidak berbeda bermakna (p=0,158).Kesimpulan. Kadar leptin pada DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD, sedangkan kadar leptin antara DBD dan SSD (postsyok) tidak berbeda.
Peran Ibu Terhadap Durasi Diare Akut Anak Umur 6-24 Bulan Selama Perawatan G.Panji Pati Pati; Ninung Rose DK, I. Hartantyo; Ag. Soemantri
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.619 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.56-60

Abstract

Latar belakang. Peran ibu (knowledge, attitude, practise) dalam menurunkan durasi diare akut anak selama perawatan sangat penting. Oleh karena itu, diperlukan � � � � � � pemerataan dan peningkatan upaya pencegahan, pemberantasan, dan tatalaksana diare anak sehingga peran ibu diharapkan dapat menurunkan durasi diare.Tujuan. Membuktikan hubungan antara peran ibu dengan durasi diare akut anak selama perawatan di RSUP dr. Kariadi, Semarang.Metode. Rancangan studi potong lintang dengan subjek ibu dan anaknya yang berumur 6-24 bulan yang dirawat di Bangsal Gastroenterohepatologi RSUP Dr. Kariadi, Semarang karena diare akut pada bulan Mei-Agustus 2011. Penilaian peran ibu (knowledge, attitude, practise) dengan wawancara menggunakan kuesioner terpimpin, terdiri atas 15 pertanyaan dengan skor 0-15 untuk pengetahuan dan sikap, 0-45 untuk perilaku. Durasi diare adalah lama hari anak mengalami diare selama perawatan. Durasi pendek apabila dirawat selama 1-4 hari dan panjang >4 hari. Analisis statistik menggunakan analisis bivariat, untuk uji hipotesis dengan Spearman Rho Correlation Test.Hasil. Didapatkan 35 subjek selama periode penelitian. Korelasi skor total pengetahuan ibu terhadap durasi pendek selama perawatan diare didapatkan korelasi positif (0,169), sikap ibu didapatkan korelasi positif (0,220), praktek ibu didapatkan korelasi positif (0,012). Ketiganya dengan kekuatan korelasi lemah, dan untuk korelasi skor total KAP (knowledge, attitude, practise) ibu terhadap durasi pendek didapatkan korelasi positif (0,157) dengan kekuatan korelasi lemah.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara peran ibu dengan durasi diare akut anak selama perawatan.
Dismenore dan Kecemasan pada Remaja Handayani Handayani; Indria Laksmi Gamayanti; Madarina Julia
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.54 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.27-31

Abstract

Latar belakang. Prevalensi dismenore cukup tinggi pada remaja. Dampak yang ditimbulkan dari dismenore adalah penurunan aktifitas sehari-hari sampai memerlukan terapi. Faktor risiko dismenore tidak hanya berkaitan dengan faktor fisiologis tapi juga faktor psikologis termasuk kecemasanTujuan. Mengetahui prevalensi dismenore, prevalensi kecemasan tinggi, dan hubungan antara kecemasan dan dismenore pada remaja di kota Surakarta.Metode. Rancangan penelitian adalah cross sectional. Sembilan puluh subyek remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi mengikuti penelitian.Hasil. Prevalensi dismenore pada remaja di kota Surakarta 87,7%. Delapan puluh tujuh koma tujuh persen remaja tetap beraktivitas saat mengalami dismenore dan 12,2% menggunakan analgetik untuk mengurangi keluhan dismenore. Prevalensi skor kecemasan tinggi pada remaja di kota Surakarta 47,8%. Rerata skor VAS 4,1±2,2, dan rerata skor TMAS 22,6±5,7. Pada uji chi square, tidak didapatkan hubungan antara skor kecemasan yang tinggi dengan skor dismenore (RP 1,1 (IK 95% 0,4-2,8, Pearson chi square= 0,05, p=0,82). Hasil uji korelasi Spearman antara skor VAS dan skor TMAS diperoleh nilai 0,04, p=0,74. Berat ringannya dismenore tidak mempengaruhi jumlah subyek yang mencari pertolongan kesehatan (RP 4,1 (IK 95% 0,5-34), p=0,28).Kesimpulan. Prevalensi dismenore pada remaja di kota Surakarta cukup tinggi, namun berat ringannya dismenore tidak mempengaruhi subyek untuk mencari pertolongan kesehatan. Faktor informasi menstruasi, persepsi dismenore, dan karakteristik kepribadian diduga terkait dengan perilaku pencarian pertolongan kesehatan terkait dismenore remaja.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue