cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 5 (2015)" : 12 Documents clear
Hubungan Kadar Albumin Serum dengan Eritropoetin Serum pada Sindrom Nefrotik Anak Resisten Steroid Endah Purnawati; Dany Hilmanto; Adi Utomo Suardi
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.477 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.315-8

Abstract

Latar belakang. Pasien sindrom nefrotik resisten steroid mengalami hipoeritropoetinemia akibat kehilanganeritropoetin melalui urin dan gangguan pembentukan eritropoetin oleh ginjal. Paparan albumin kronisbersifat toksik dan menginduksi apoptosis sel tubulus ginjal, sementara eritropoetin diproduksi oleh selperitubular ginjal.Tujuan. Menentukan hubungan kadar albumin serum dengan eritropoetin serum pada pasien sindromnefrotik resisten steroid anak.Metode. Penelitian cross-sectional dilaksanakan pada pasien sindrom nefrotik anak resisten steroid dari bulanAgustus–Desember 2013 di unit rawat jalan dan rawat inap RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Kadar albuminserum diperiksa dengan metoda turbidimetri dan kadar eritropoetin serum dengan metode ELISA. Analisiskorelasi kadar albumin dengan eritropoetin serum dilakukan dengan menggunakan uji Rank Spearman.Hasil. Sembilan belas anak memenuhi kriteria penelitian, 14 subjek laki - laki, dan 5 perempuan dengan usia3–13 tahun. Nilai laju filtrasi glomerulus rerata 147,8+75 ml/menit/1,73 m2, sementara kadar hemoglobin12,1+2,8 g/dL. Nilai median albumin serum 3,8 (0,9–4,6)g/dL dan median eritropoetin serum 7,2 (0,2–39,6)mIU/mL. Tidak terdapat korelasi antara albumin dan eritropoetin serum pada sindrom nefrotik anakresisten steroid (rs=0,123;p=0,615).Kesimpulan. Kadar albumin serum tidak berhubungan dengan kadar eritropoetin serum pada pasiensindrom nefrotik resisten steroid anak.
Hubungan Kadar Vitamin D dengan Anak Atopi dan Obesitas Elza Noviani; Dwi Prasetyo; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.342-6

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian penyakit atopik dan obesitas meningkat bersamaan. Hubungan kadarvitamin D dengan atopi masih kontroversial.Tujuan. Menilai hubungan kadar vitamin D dengan anak atopi dan obesitas.Metode. Penelitian desain potong silang, sejak bulan Agustus sampai Desember 2013, terhadap 62 anakobesitas dan gizi normal murid sekolah dasar Kota Bandung. Kadar vitamin D-25 OH serum diukur denganmetode chemiluminescent immunoassay, dilakukan uji tusuk kulit dan kuosioner The International StudyOf Asthma And Allergies In Childhood. Analisis data dengan uji chi Kuadrat dan two-way Anova.Hasil. Tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok anak obesitas dan status gizi normal(p=0,994). Tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok atopi dan non-atopi (p= 0,58).Tidak terdapat interaksi antara kelompok atopi dan status gizi terhadap kadar vitamin D (p= 0,24).Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara kadar vitamin D dengan anak atopi dan obesitas.
Hubungan antara Profil Lipid, Ketebalan Tunika Intima Media Arteri Karotis dan Masa Ventrikel Kiri pada Remaja Obes David Kaunang; Damaris Pali; Jeanette I.Ch. Manoppo
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.319-24

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular. Belumdiketahui apakah profil lipid pada anak obes akan berpengaruh terhadap ketebalan tunika intima media(KIM) arteri karotis dan selanjutnya menyebabkan perubahan pada masa ventrikel kiri (MVK).Tujuan. Mengetahui hubungan antara profil lipid, ketebalan tunika intima media arteri karotis dan massaventrikel kiri pada remaja obes.Metode. Dilakukan penelitian observasional analitik dengan metode potong lintang terhadap 37 remajaobes berusia 13-18 tahun dari bulan November 2013- Februari 2014. Kriteria eksklusi adalah obesitasdengan penyakit penyerta dan obesitas endogen. Pemeriksaan profil lipid yaitu kolesterol total, LDL, HDLdan trigliserida. Penilaian KIM arteri karotis dan MVK dilakukan dengan ekokardiografi. Analisis deskriptifuntuk menganalisis karakteristik dan analisis korelasi menggunakan uji Pearson.Hasil. Kadar rerata kolesterol total 186,45 mg/dL, LDL 128,83 mg/dL, HDL 45,83 mg/dL, trigliserida110,75 mg/dL, KIM 0,67 mm, dan MVK 393 gr. Terdapat hubungan bermakna antara kadar HDL denganKIM arteri karotis (r= -0,338, p=0,02). Tidak didapatkan hubungan antara kadar kolesterol total, LDL dantrigliserida dengan KIM (secara berturut-turut r= 0,079, p=0,320; r= 0,085, p=0,309; r=0,116, p=0,247),dan tidak didapatkan hubungan antara KIM dan MVK (r=0,109, p=0,261).Kesimpulan. Semakin tinggi kadar HDL, semakin rendah ketebalan tunika intima media arteri karotis.Ketebalan tunika intima-media arteri karotis tidak berhubungan dengan masa ventrikel kiri.
Validitas Pemeriksaan Antigen P24 HIV Metode Rapid Immunochromatography Terhadap Viral Load RNA HIV Metode PCR Yanti Yanti; Ida Parwati; Agnes Rengga Indrati; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.347-50

Abstract

Latar belakang. Bayi yang dilahirkan oleh ibu pengidap HIV/AIDS akan mengandung antibodi HIV ibudalam darahnya, terdeteksi sampai usia 18 bulan. Pemeriksaan virologi (RNA/DNA HIV dan antigen p24HIV) sesuai standar WHO adalah pemeriksaan HIV pada bayi dan anak <18 bulan terlahir dari ibu HIV/AIDS.Tujuan. Mengetahui validitas pemeriksaan antigen p24 HIV metode rapid immunochromatogrpahy terhadapviral load RNA HIV metode PCR pada bayi dan anak <18 bulan dengan ibu HIV/AIDS.Metode. Penelitian dilakukan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dan RSK Dharmais Jakarta, periodeApril-September 2013. Subjek penelitian adalah 72 bayi dan anak berusia <18 bulan yang lahir dari ibuHIV/AIDS.Hasil. Sembilan (12,5%) dari 72 subjek penelitian terdeteksi HIV pada pemeriksaan viral load RNA HIV, 2(22,2%) di antaranya positif pada pemeriksaan antigen p24 HIV. Didapatkan sensitivitas 22,2%, spesifisitas100%, dan akurasi 90,3%.Kesimpulan. Pemeriksaan antigen p24 HIV metode rapid immunochromatography memiliki spesifisitastinggi, sensitivitas rendah sehingga pemeriksaan antigen p24 HIV metode rapid immunohromatographyini dapat digunakan sebagai alat diagnostik.
Perbedaan Laju Filtrasi Glomerulus Berdasarkan Kadar Kreatinin dan Cystatin C Serum pada Sindrom Nefrotik Anak Ackni Hartati; Nanan Sekarwana; Dzulfikar DLH
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.325-9

Abstract

Latar belakang. Komplikasi sindrom nefrotik (SN) yang sering telambat terdeteksi adalah gangguan ginjalakut (GnGA). Cystatin C serum dipertimbangkan menjadi pemeriksaan potensial pengganti kreatinin sebagaipenanda fungsi ginjal. Kadar cystatin C lebih mendekati nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) dibandingkandengan kreatinin serum.Tujuan. Menentukan perbedaan LFG berdasarkan kadar kreatinin dan cystatin C serum pada SN anak.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan dari Februari–Maret 2014 di unit rawat jalan dan rawat inapRSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Kota Bandung, dan RSUD Cibabat Kota Cimahi. Subjek SNusia 1–14 tahun. Pemeriksaan kadar kreatinin dengan metode Jaffe dan cystatin C serum dengan particleenhancedturbidimetric immunoassay (PETIA). Uji statistik menggunakan McNemar dan uji t berpasangandan kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 21 kasus SN yang terdiri atas 18 laki-laki dan 3 perempuan dengan rerata usia 6 tahun 3bulan. Nilai LFG berdasarkan kreatinin 137,86±27,07 ml/min/1,73 m2 dan LFG berdasarkan cystatin C73,59±12,49 ml/min/1,73 m2. Terdapat perbedaan signifikan antara LFG berdasarkan kadar kreatinin dancystatin C serum (p<0,01).Kesimpulan. Proporsi LFG cystatin C berdasarkan formula Filler lebih rendah dibandingkan kreatininberdasarkan formula Schwartz
Hubungan Kadar Hemoglobin dengan Kejang Demam Pada Anak Usia Balita Yulia Dasmayanti; Anidar Anidar; Imran Imran; Bakhtiar Bakhtiar; Tristia Rinanda
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.591 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.351-5

Abstract

Latar belakang. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang sering dijumpai pada anak. Hal inididuga dapat dipengaruhi oleh kadar hemoglobin. Pemeriksaan hemoglobin menentukan derajat anemia.Anemia menyebabkan berkurangnya kemampuan transpor oksigen ke dalam jaringan yang mengakibatkankestabilan membran sel saraf terganggu dan dapat memicu kejang.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar hemoglobin dengan kejang demam.Metode. Penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian terdiri atas 25 subjek kejangdemam dan 25 subjek demam tanpa kejang yang dirawat di ruang rawat inap anak (Seurune I) Rumah SakitUmum Daerah dr.Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh dari September 2012 sampai dengan September2013. Data dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan dan chi-square (􀁃2).Hasil. Hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin subjek kejang demamadalah 10,23 g/dL dan subjek demam tanpa kejang adalah 11,38 g/dL, p=0,000. Pada uji chi-square (􀁃2)menunjukkan kadar hemoglobin kurang pada kejang demam 23 subjek, sedangkan pada demam tanpakejang sebanyak 3 subjek, p=0,000.Kesimpulan. Terdapat perbedaan antara kadar hemoglobin subjek kejang demam dan demam tanpa kejang,dan juga terdapat hubungan antara kadar hemoglobin dengan kejang demam.
Defisiensi Zinc Sebagai Salah Satu Faktor Risiko Diare Akut Menjadi Diare Melanjut Dede Lia Marlia; Pramita G. Dwipoerwantoro; Najib Advani
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.74 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.299-306

Abstract

Latar belakang. Diare masih merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi pada anak,dan efeknya akan meningkat pada diare melanjut. Ekskresi yang meningkat dan malnutrisi menimbulkandefisiensi makro dan mikronutrien, defisiensi zinc merupakan salah satu penyebabnya.Tujuan. Mengetahui apakah defisiensi zinc merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjut.Metode. Penelitian uji potong lintang dilakukan di RSCM dan tiga rumah sakit umum daerah pada anakusia >1–60 bulan yang mengalami diare akut kurang dari 7 hari. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan kadar zinc serum.Hasil. Analisis dilakukan pada 99 subjek. Usia terbanyak 12-36 bulan, perbandingan laki-laki perempuan1,3:1. Prevalensi defisiensi zinc adalah 20,2%. Insiden diare melanjut 25,3%. Tidak terdapat hubunganantara defisiensi zinc dengan usia, status nutrisi, riwayat diare berulang, pendidikan ibu, dan pendapatanorangtua. Defisiensi zinc bukan merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjut RR 1,82 (IK95%0,633-5,260; p=0,261). Riwayat diare berulang merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjutRR 3,4 kali (IK95% 1,3-9,5; p=0,013).Kesimpulan. Defisiensi zinc bukan merupakan faktor risiko diare akut menjadi diare melanjut. Riwayat diareberulang berisiko untuk terjadinya diare akut menjadi diare melanjut
Profil Pubertas dan Pertumbuhan Linear pada Hiperplasia Adrenal Kongenital dalam Pengobatan Serial Kasus Nurul Iman Nilam Sari; Bambang Tridjadja; Nastiti Kaswandani; Damayanti Rusli Sjarif; Sukman Tulus Putra; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.122 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.356-64

Abstract

Latar belakang. Terapi yang adekuat pada hiperplasia adrenal kongenital (HAK) diharapkan dapatmenghasilkan perkembangan pubertas dan pertumbuhan linear yang optimal. Saat ini, di Indonesia, belumada data profil pubertas dan pertumbuhan linear penderita HAK yang sedang menjalani terapi.Tujuan. Mengetahui profil pubertas dan pertumbuhan linear pada HAK di Indonesia yang sedang menjalaniterapi.Metode. Studi serial kasus terhadap 14 kasus HAK yang memasuki masa pubertas di Departemen IlmuKesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta selama bulan November 2012 hingga April2013. Pencatatan data berisi anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium, dan radiologi boneage.Hasil. Hasil penelitian ini merupakan riset pendahuluan (preliminary research) terhadap 14 kasus HAK.Mayoritas subjek adalah perempuan, berusia di atas 8 tahun, HAK tipe Salt-Wasting (SW), dan terdiagnosissejak kurang dari satu tahun. Tujuh dari 14 subjek mengalami obesitas. Undertreatment terjadi pada 11/14subjek memiliki bone age accelerated dengan perhitungan tinggi badan dewasa yang pendek. Tiga belas subjeksudah pubertas dan 10/14 subjek mengalami pubertas prekoks. Rekomendasi dosis glukokortikoid yangdiberikan (median 18,12 mg/m2/hari) dengan median durasi terapi 8,1 tahun. Kontrol metabolik denganmenggunakan parameter 17-OHP bervariasi pada rentang 0,2-876 nmol/L (rerata 166,9 nmol/L).Kesimpulan. Sebagian besar subjek mendapatkan undertreatment sehingga memiliki bone age accelerateddengan estimasi tinggi badan dewasa pendek. Pubertas prekoks dialami oleh sebagian besar subjek.Pemberian glukokortikoid dengan dosis yang direkomendasikan. Ditemukan ketidakteraturan pengobatandan pemantauan yang buruk.
Validitas Skoring Hematologi Rodwell Untuk Deteksi Dini Sepsis Neonatorum Awitan Dini Tena Rosmiati Iskandar; Nadjwa Zamalek Dalimoenthe; Tetty Yuniaty; Dewi Kartika Turbawaty
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.575 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.330-6

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum awitan dini adalah sindrom klinis dengan gejala infeksi sistemik yangmerupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada neonatus. Diagnosis sepsis neonatorum seringkalisulit karena gejala klinisnya tidak khas. Pemeriksaan biakan darah sebagai baku emas, memerlukan waktu48-72 jam. Sistem skoring hematologi (SSH) Rodwell dapat digunakan sebagai alat bantu deteksi dinisepsis neonatorum awitan dini.Tujuan. Menentukan nilai sensitivitas dan spesifisitas SSH Rodwell dalam mendeteksi sepsis neonatorumawitan dini.Metode. Penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang dilakukan di RSUP dr. Hasan SadikinBandung antara bulan September sampai November 2013. Subjek penelitian adalah neonatus berumurkurang atau sama dengan 5 hari dengan faktor risiko sepsis neonatorum.Hasil. Pada neonatus ditemukan hasil biakan darah positif 45 (40,9%) subjek. Sistem skoring hematologiRodwell memiliki sensitivitas 100% dan spesifisitas 66% untuk mendeteksi sepsis neonatorum awitandini.Kesimpulan. Pemeriksaan SSH Rodwell memiliki nilai sensitivitas tinggi dan nilai spesifisitas sedang dalammenegakkan diagnosis sepsis neonatorum awitan dini.
Hubungan Defisiensi Besi dengan Perilaku Anak Usia Sekolah di Kota Palembang Desti Handayani; Rismarini Rismarini; Yudianita Kesuma; Rini Purnamasari; Syarif Husin
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.324 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.307-14

Abstract

Latar belakang. Prevalensi defisiensi besi anak usia sekolah di Indonesia sebesar 47,2%. Defisiensi besimenyebabkan perkembangan dan fungsi saraf terganggu, termasuk timbulnya masalah perilaku. Belum adapenelitian yang menilai hubungan defisiensi besi dan masalah perilaku anak usia sekolah di Palembang.Tujuan. Menganalisis hubungan defisiensi besi dengan masalah perilaku anak usia sekolah di Palembang.Metode. Desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalahanak Sekolah Dasar (SD) usia 6-12 tahun di Palembang yang dipilih dengan multi stage random samplingpada bulan April sampai Juni 2013. Pada semua subjek penelitian dilakukan pemeriksaan fisis, laboratorium(hemoglobin, besi serum, dan saturasi transferin), dan penilaian perilaku menggunakan Pediatric SymptomChecklist (PSC) 17. Perbedaan kejadian masalah perilaku antara subjek dengan dan tanpa defisiensi besidianalisis dengan uji kai kuadrat. Faktor risiko lain yang berpengaruh dianalisis dengan regresi logistik.Hasil. Dari 125 subjek yang terpilih didapatkan prevalensi defisiensi besi 26,6%, anemia defisiensi besi25%, dan kejadian masalah perilaku 29%. Dari 33 subjek dengan defisiensi besi terdapat 20 yang memilikimasalah perilaku, sedangkan dari 81 subjek tanpa defisiensi besi terdapat 14 dengan masalah perilaku (ujikai kuadrat, p=0,001; OR 7,363; IK95%:2,978-18,203). Pada penilaian tipe perilaku, terdapat hubunganbermakna antara defisiensi besi dengan perilaku internalisasi (p=0,001, OR 7,604; IK95%:2,462-18,363).Ditemukan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku, melalui analisis regresi logistik, yaitu defisiensibesi (p=0,001; adjusted OR 6,901; IK95%:2,816-16,914).Kesimpulan. Defisiensi besi merupakan faktor risiko terjadinya masalah perilaku, terutama perilakuinternalisasi.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue