cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 4 (2023)" : 10 Documents clear
Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi Prematur Usia Gestasi 28-34 Minggu Pasca Rawat: Studi Kohort di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Putri Maharani Tristanita Marsubrin; Bernie Endyarni Medise; Yoga Devaera
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.243-8

Abstract

Latar belakang. Kemajuan dalam perawatan neonatal intensif telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan angka kesintasan bayi prematur. Bayi yang bertahan hidup mempunyai risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan prematuritas dan morbiditas yang menyertainya. Tujuan. Mengetahui luaran pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur usia gestasi 28-34 minggu pasca rawat dari Unit Neonatologi Rumah Sakit Ciptomangunkusumo.Metode. Penelitian kohort prospektif dengan wawancara kepada orang tua subjek penelitian, pencataan melalui rekam medis, dan pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan langsung oleh peneliti pada 90 bayi prematur pasca rawat pada bulan Juli? Desember 2016 dengan cara consecutive sampling. Kriteria inklusi adalah bayi prematur dengan masa gestasi 28-34 minggu, berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi dan orang tua menyetujui mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah bayi memiliki kelainan kongenital atau bawaan seperti sindrom Down, sindrom Rubella dan lainnya, dan memiliki malformasi orofasial. Hasil. Hasil data usia koreksi 0 sampai 3 bulan, didapatkan rerata kenaikan berat bayi prematur 29,01±5,31 g/hari, hasil rerata kenaikan panjang badan 3,7±0,8cm/bulan dan rerata kenaikan lingkar kepala 1,6±0,6cm/bulan. Hasil perkembangan berdasarkan FSDQ CAT-CLAM (full-scale developmental quotient cognitive adaptive test- clinical linguistic and auditory milestone scale) menunjukkan skor yang cukup baik yaitu di atas 100% dengan rerata 148% (111-160% ).Kesimpulan. Pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur usia gestasi 28-34 minggu pasca rawat Unit Neonatologi Rumah Sakit Ciptomangunkusomo Jakarta sampai usia 3 bulan koreksi baik dan dalam rentang normal.
Peran Pelayanan Paliatif dan Suportif pada Pasien Kanker Anak Murti Andriastuti
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.278-82

Abstract

Kanker masih menjadi penyebab kematian utama pada anak. Angka kesintasan pasien kanker anak di negara berkembang masih jauh di bawah angka kesintasan pasien kanker anak di negara maju. Banyak faktor yang memengaruhi perbedaan tersebut, antara lain belum tersedianya sarana pengobatam transplantasi sumsum tulang sebagai opsi dalam tata laksana lanjutan kanker anak sehingga sangat penting peran pelayanan paliatif dan suportif dalam menunjang kualitas hidup pasien. Pelayanan paliatif dan suportif berfokus pada penanganan gejala akibat penyakit dan terapi yang diberikan untuk memberikan kenyamanan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan pendekatan holistik. Perlunya pemahaman yang baik mengenai pelayanan paliatif dan suportif, kolaborasi dari berbagai pihak (multidisiplin) menjadi hal penting dalam memberikan pelayanan paliatif dan suportif yang optimal bagi pasien kanker anak dan keluarganya.
Hubungan Terapi Asam Valproat dengan Peningkatan Berat Badan pada Anak Epilepsi di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin Banda Aceh Syari Afrianingsih Afrianingsih; Anidar Anidar; T.M. Thaib; Dora Darussalam; Herlina Dimiati; Eka Yunita Amna
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.257-63

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan salah satu penyebab peningkatan morbiditas yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup pada populasi anak di seluruh dunia. Terapi asam valproat sebagai anti-epilepsi jangka panjang untuk mencegah serangan berulang. Pemberian asam valproat dapat memberikan efek menambah nafsu makan dan meningkatkan berat badan pasien.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi asam valproat dengan peningkatan berat badan anak epilepsi setelah tiga dan enam bulan terapi berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin.Metode. Studi ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dengan desain potong lintang. Evaluasi kenaikan berat badan dilakukan pada bulan ke-3 dan ke-6 setelah pemberian terapi asam valproat.Hasil. Sebanyak 70 subjek pasien epilepsi yang memenuhi kriteria inklusi dengan rerata usia empat tahun delapan bulan didominasi jenis kelamin perempuan (54,3%). Terjadi peningkatan berat badan setelah tiga bulan terapi dengan dosis asam valproat 20-25 mg/kgBB dengan p = 0,002 dan terjadi peningkatan berat badan setelah enam bulan terapi dengan p = <0,001 pada kelompok usia. Kesimpulan. Hubungan terapi asam valproat dan peningkatan berat badan hanya signifikan pada setelah enam bulan terapi berdasarkan kelompok umur. Dengan demikian, peningkatan berat badan adalah hal yang normal sesuai dengan pertambahan usia anak.
Pendampingan Asuhan Nutrisi Balita dengan Epilepsi di Era Pandemi COVID-19 Secara Daring: Uji Klinis Acak Terkontrol Klara Yuliarti; Achmad Rafli; Citra Raditha; Valensia Vivian The; Nadia Chairunnisa; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.221-30

Abstract

Latar belakang. Anak epilepsi berisiko mengalami malnutrisi, keterlambatan perkembangan, dan defisiensi vitamin D akibat obat anti-epilepsi. Pandemi COVID-19 membatasi kunjungan ke dokter sehingga menghambat pemantauan pertumbuhan anak epilepsi. Pemantauan jarak jauh dapat membantu asuhan nutrisi optimal selama pandemi..Tujuan. Mengevaluasi efektivitas pendampingan asuhan nutrisi pediatrik melalui WhatsApp pada balita epilepsi.Metode. Penelitian multisenter dimulai Maret 2021 pada pasien epilepsi (6 bulan - 5 tahun). Kelompok intervensi mendapat pendampingan asuhan nutrisi melalui WhatsApp selama 3 bulan, sementara kelompok kontrol tidak. Sebelum intervensi, subjek diberikan edukasi melalui webinar, pemeriksaan anemia defisiensi besi dan vitamin D 25-OH.Hasil. Sebanyak 73 subjek direkrut dan 69 subjek mengikuti penelitian sampai selesai. Defisiensi/insufisiensi vitamin D didapatkan pada 35,6% subjek. Oral nutrition supplement merupakan saran intervensi terbanyak (23,1%). Meski WhatsApp tidak signifikan untuk perbaikan status gizi, 84,2% orangtua melihat manfaatnya dalam meningkatkan pengetahuan dan mengatasi masalah nutrisi. Meskipun beberapa memerlukan nutrisi enteral dan kunjungan tatap muka, dampak positif WhatsApp terlihat dalam meningkatkan pemahaman orangtua. Kesimpulan. Asuhan nutrisi anak epilepsi dapat ditingkatkan melalui pendampingan WhatsApp di masa pandemi. Beberapa intervensi memerlukan konsultasi tatap muka, tetapi kombinasi supervisi daring dan kunjungan tatap muka dapat menjadi alternatif setelah pandemi, mengatasi kendala jarak dan mobilitas dalam memberikan asuhan nutrisi.
Studi Pendahuluan Perbandingan Terapi Salin Hipertonik 3% dengan Manitol 20% Intravena terhadap Luaran Anak Sindrom Ensefalitis Akut Dyah Kanya Wati; I Gusti Ngurah Made Suwarba; Anlidya Permatasari Gunawijaya
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.209-14

Abstract

Latar belakang. Terapi osmotik merupakan pilihan terapi penting dalam sindrom ensefalitis akut. Manitol adalah salah satu jenis terapi osmotik yang telah banyak digunakan, namun penggunaanya dapat menyebabkan ketidaknormalan elektrolit, seperti hiponatremia dan hipokloremia.Tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan salin hipertonik dan manitol pada anak-anak dengan sindrom ensefalitis akut.Metode. Penelitian ini menggunakan desain studi klinis pendahuluan untuk mengevaluasi perbedaan dalam durasi penurunan kesadaran, mortalitas, kadar natrium serum, dan osmolaritas darah pada pasien sindrom ensefalitis akutyang diberikan salin hipertonik dan manitol. Pendekatan acak digunakan untuk mengelompokan setiap sampel. Analisis univariat dan bivariat dilakukan menggunakan perangkat lunak analisis statistik. Hasil. Sembilan pasien secara acak dikelompokan pada salin hipertonik, dan sembilan pasien dikelompokan pada manitol dari total 18 subjek dengan usia median 49,5 (5-194) bulan. Kelompok manitol memiliki kadar natrium awal signifikan lebih tinggi (p=0,009). Antara kedua kelompok perlakukan, tidak terdapat perbedaan dalam durasi penurunan kesadaran maupun mortalitas. Perubahan kadar natrium dan osmolaritas menunjukan perbedaan signifikan. Antara sebelum dan setelah perlakuan, penurunan natrium pada kelompok salin hipertonik lebih besar daripada kelompok manitol [median (rentang); -6 (-47 to -4) mmol/L vs 1 (-6 to 17) mmol/L], dan perubahan osmolaritas secara signifikan lebih tinggi [Mean SD; -32,6 ± 26,9 mOsm/kg vs 4,7 ± 13,5 mOsm/kg].Kesimpulan. Salin hipertonik dapat dianggap efektif dan aman seperti manitol dalam pengobatan non-traumatik sindrom ensefalitis akut pada anak.
Prevalensi dan Faktor Risiko Catheter Associated Urinary Tract Infection di Unit Perawatan Intensif Anak Febrianti, Sindy Amalia; Alam, Anggraini; Rachmadi, Dedi
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.249-56

Abstract

Latar belakang. Sekitar 80% Infeksi Saluran Kemih yang didapat di rumah sakit yang berhubungan dengan penggunaan kateter urin atau catheter-associated urinary tract infection. Beberapa faktor risiko dianggap memengaruhi kejadian CAUTI. Hingga saat ini, prevalensi CAUTI pasien anak di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin belum tercatat dan pola kuman penyebab CAUTI serta sensitivitas antibiotik dapat bervariasi antar rumah sakit.Tujuan. Mengetahui prevalensi catheter-associated urinary tract infection di Unit Perawatan Intensif Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin dan menganalisis faktor risiko yang menyebabkannya.Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan metode kasus-kontrol menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien yang terpasang kateter urin, dirawat di Unit Perawatan Intensif Anak Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin tahun 2017-2019, baik terdiagnosis CAUTI maupun tidak terdiagnosis CAUTI.Hasil. Sebanyak 138 subjek memenuhi kriteria inklusi penelitian, kemudian dikelompokkan masing-masing 69 pasien kriteria kasus dan kontrol. Sebagian besar subjek berjenis kelamin laki-laki. Usia terbanyak adalah 11-18 tahun (33,3%) pada kelompok kasus dengan status gizi normal (50,7%). Dari enam faktor risiko yang diteliti hanya satu yang menunjukkan perbedaan bermakna yaitu diagnosis awal saat dirawat (sepsis). Kesimpulan. Prevalensi CAUTI cukup tinggi. terutama terkait dengan diagnosis awal sepsis. Penelitian lanjutan perlu dilakukan dan pemeriksaan rutin kultur urin dianjurkan untuk diagnosis dan terapi yang efektif.
Korelasi antara Skor Apgar dengan Derajat Keparahan Enterokolitis Nekrotikans pada Neonatus Kurang Bulan Kecil Masa Kehamilan Via Dewinta Sari; Novina Andriana; Sri Endah Rahayuningsih; Reni Ghrahani; Mia Milanti Dewi; Fiva Aprilia Kadi
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.264-70

Abstract

Latar belakang. Enterokolitis nekrotikans merupakan penyakit yang dapat terjadi pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan. Prevalensi neonatus kecil masa kehamilan di Indonesia tahun 2012 mencapai 18% dengan neonatus kurang bulan sejumlah 8800. Penelitian sebelumnya menyatakan insidensi enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan sebesar 3,2%. Hipoksia kronis menyebabkan hipoksia perinatal sehingga didapatkan Skor Apgar yang rendah saat lahir. Skor Apgar rendah diduga dapat menyebabkan hipoperfusi splanknik yang memicu peningkatan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans.Tujuan. Mengetahui korelasi antara Skor Apgar dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan.Metode. Studi potong lintang ini melibatkan neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan yang terdiagnosis enterokolitis nekrotikans dan tidak enterokolitis nekrotikans. Data berasal dari rekam medis pasien yang dirawat pada tahun 2018-2022 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.Hasil. Terdapat 55 neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan yang terdiagnosis enterokolitis nekrotikans dan 55 neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan tidak enterokolitis nekrotikans. Hasil riset didapatkan korelasi yang signifikan antara Skor Apgar menit ke-1 (p<0,001, r -0,873) dan ke-5 (p<0,001, r -0,876) dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan. Variabel lain, seperti usia gestasi (p<0,001, r -0,930) dan berat badan lahir (p<0,001, r -0,636) juga memiliki korelasi yang signifkan dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan. Tidak terdapat pengaruh usia gestasi (p=0,590), berat lahir (p=0,211), dan skor Apgar (p=0,058) terhadap kejadian enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan.Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara Skor Apgar dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan.
Perbedaan Kadar C-Reactive Protein Pasien Tuberkulosis Paru dan Ekstra Paru pada Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Kariadi Semarang Moh Syarofil Anam; Maria Mexitalia
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.215-20

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis pada anak dapat mengenai paru dan di luar paru. C-Reactive protein merupakan penanda inflamasi yang digunakan dalam klinis dan telah diketahui kadarnya meningkat pada pasien tuberkulosis anak.Tujuan. Menganalisis perbedaan kadar C-Reactive protein pada pasien tuberkulosis paru dan ekstra paru anak.Metode. Penelitian belah lintang menggunakan data rekam medis pasien tuberkulosis anak usia 0-18 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang periode Januari 2019 – Desember 2020. Data yang dikumpulkan usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, kadar C-Reactive protein, penyakit komorbid dan kualitas penegakan diagnosis. Kriteria inklusi pasien tuberkulosis anak usia 0-18 tahun, kriteria eksklusi data tidak lengkap. Analisis data menggunakan komputer.Hasil. Dari 221 kasus tuberkulosis, 50 subyek dilakukan analisis dengan distribusi tuberkulosis paru 21/50 dan tuberkulosis ekstra paru 29/50 kasus. Terdapat perbedaan usia (p=0,019), berat badan (p=0,008), tinggi badan (p=0,011), penyakit komorbid (0,001) antar kelompok. Tidak didapatkan perbedaan pada Jenis kelamin, status gizi, tes tuberkulin, bakteriologis, dan kualitas penegakan diagnosis. Median kadar C-Reactive protein pasien TB paru 0,23 (0,01-12,91) mg/L dan tuberkulosis ekstra paru 2,6 (0,05-32,15) (p=0,006). Kesimpulan. Kadar C-Reactive protein pasien tuberkulosis ekstra paru lebih tinggi dibandingkan dengan tuberkulosis paru pada anak.
Sindrom Nefrotik Idiopatik Sensitif Steroid pada Anak: Telaah Perbandingan Panduan Klinis Trihono, Partini Pudjiastuti; Fahlevi, Reza; Kinesya, Edwin; Hidayati, Eka Laksmi; Puspitasari, Henny Adriani; Pardede, Sudung Oloan
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.231-42

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik idiopatik merupakan penyakit ginjal tersering pada anak di dunia. Penelitian terkait sindrom nefrotik idiopatik pada anak terus berkembang. Namun, pada praktiknya masih terdapat variasi yang lebar terkait evaluasi dan tata laksana sindrom nefrotik idiopatik pada anak di dunia. Tujuan. Membandingkan panduan klinis sindrom nefrotik idiopatik sensitif steroid pada anak. Metode. Membandingkan empat panduan klinis sindrom nefrotik idiopatik sensitif steroid pada anak, yaitu panduan klinis sindrom nefrotik idiopatik Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2012, Kidney Disease Improving Global Outcome tahun 2021, International Pediatric Nephrology Association tahun 2022, dan Indian Society of Pediatric Nephrology tahun 2021. Dikembangkan 7 lingkup bahasan kajian, meliputi diagnosis, pemeriksaan penunjang awal, batasan kriteria, dan terapi sindrom nefrotik inisial, sindrom nefrotik relaps jarang, sindrom nefrotik relaps sering dan sindrom nefrotik dependen steroid.Hasil. Didapatkan beberapa perbedaan mendasar yang ditemukan, antara lain, terkait batasan proteinuria dan hipoalbuminemia yang digunakan, dosis maksimal steroid, definisi relaps sering, pilihan terapi imunosupresan pada SN relaps sering, dependen steroid, dan pemeriksaan genetik yang dirasonalisasikan berdasarkan bukti-bukti penelitian terbaru.Kesimpulan. Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara panduan klinis sindrom nefrotik idiopatik Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2012 dengan panduan klinis terbaru lainnya. Perlu dipertimbangkan pembaharuan konsensus sindrom nefrotik di Indonesia dengan menelaah bukti ilmiah terbaru dan disesuaikan dengan ketersediaan obat serta fasilitas pemeriksaan di Indonesia. 
Rapid Nucleic Acid Test pada Kasus Faringitis yang Disebabkan oleh Bakteri Group A Streptococcus Rika Febriana Pinem; Febi Arfini; Zaenab Azzahra; Dimas Seto Prasetyo
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.271-7

Abstract

Latar belakang. Faringitis streptokokal akut adalah salah satu infeksi saluran napas atas yang sering menyerang anak usia 5- 15 tahun. Insidensinya sangat tinggi di Indonesia, sekitar 20% pada rentang usia di atas, dan 10-15% pada usia dewasa (>15 tahun). Komplikasi sering berupa abses peritonsilar, glomerulonefritis pasca infeksi, atau penyakit jantung rematik, apabila penanganan tidak tepat dapat menyebabkan kematian.Tujuan. Menilai Rapid Nucleic Acid Test sebagai alat diagnosis pasien suspek faringitis.Metode. Penelusuran pada database elektronik, yaitu Pubmed, Embase, dan ProQuest dengan kata kunci “pharyngitis” “AND” “Nucleic Acid Amplification Test”.Hasil. Keenam penelitian yang masuk dalam pembelajaran Laporan Kasus Berbasis Bukti ini memiliki nilai sensistifitas cukup baik, yaitu >95%, kecuali oleh Hashavya S dkk (79%). Hal tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan ini dapat diaplikasikan secara klinis.Kesimpulan. Rapid Nucleic Acid Tests digunakan sebagai alat uji diagnostik pasien suspek Group A Streptococcal faringitis, cenderung lebih mudah serta hasil didapatkan lebih cepat jika dibandingkan dengan kultur. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2023 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue