cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 4 (2005)" : 9 Documents clear
Anemia pada Penyakit Keganasan Anak Nababan Rouli; Pustika Amalia
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.98 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.176-81

Abstract

Anemia merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada penyakit keganasan.Mekanismenya sangat kompleks, yaitu anemia dapat terjadi sebagai dampak langsungdari penyakit keganasan atau akibat dari pengobatannya. Angka kejadian anemia padapasien dengan penyakit keganasan berkisar antara 35% hingga 95% bergantung padajenis penyakit keganasan dan regimen kemoterapi yang dipakai. Radioterapi dankemoterapi seperti cisplatin, etoposid, dan kombinasi dari siklofosfamid, metotreksatdan 5-fluorourasil terbukti dapat menyebabkan anemia derajat sedang sampai berat,oleh sebab itu anemia pada pasien keganasan sangat membutuhkan penanganan yangbaik karena dapat mempengaruhi proses pengobatan, dan kualitas hidup.
Skrining Gangguan Pendengaran pada Neonatus Risiko Tinggi Lily Rundjan; Idham Amir,; Ronny Suwento; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.191 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.149-54

Abstract

Gangguan pendengaran pada masa bayi akan menyebabkan gangguan wicara, berbahasa,kognitif, masalah sosial, dan emosional. Identifikasi gangguan pendengaran secara dinidan intervensi yang sesuai sebelum usia 6 bulan terbukti dapat mencegah segalakonsekuensi tersebut. The Joint Committee on Infant Hearing tahun 1994merekomendasikan skrining pendengaran neonatus harus dilakukan sebelum usia 3 bulandan intervensi telah diberikan sebelum usia 6 bulan. Otoacoustic emissions (OAE) dan/atau automated auditory brainstem response (AABR) direkomendasikan sebagai metodeskrining pendengaran pada neonatus. Pemeriksaan ABR telah dikenal luas untuk menilaifungsi nervus auditorius, batang otak, dan korteks pendengaran. Pemeriksaan OAEsebagai penemuan baru dilaporkan dapat menilai fungsi koklea, bersifat non invasif,mudah dan cepat mengerjakannya, serta tidak mahal.
Pola Tata laksana Diare Akut di Beberapa Rumah Sakit Swasta di Jakarta; apakah sesuai dengan protokol WHO? Pramita G. Dwipoerwantoro; Badriul Hegar; Pustika A.W. Witjaksono
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.182 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.182-7

Abstract

Pada umumnya penyakit diare akut bersifat self limiting disease sehingga seringkalipasien tidak memerlukan pengobatan spesifik. Tata laksana diare akut dengan berbagaiderajat dehidrasi telah dibakukan oleh WHO.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai pola tata laksana diare akut di luarrumah sakit institusi pendidikan.Metoda: Penelitian deskriptif yang dilakukan secara retrospektif di tiga rumah sakitswasta Jakarta sejak 1 Januari sampai 31 Maret 1999 pada 67 pasien diare akut yangdirawat, berumur 0-24 bulan.Hasil: Didapatkan 37 (55%) anak lelaki dan 30 (45%) anak perempuan menderitadiare akut, terdiri dari tanpa dehidrasi 6 (9%) anak, dehidrasi ringan-sedang 52 (78%)anak, dan dehidrasi berat 9 (13%) anak. Proporsi rentang usia 0-6 bulan sebanyak 23(34%) anak, >6-12 bulan 28 (42%), dan >12-24 bulan 16 (24%). Jumlah pasien diareakut tanpa dan dengan dehidrasi ringan-sedang yang mendapat rehidrasi secara parenteralsebanyak 51 (88%) anak dari 58 anak. Sedangkan sisanya menderita dehidrasi beratdiberi cairan rehidrasi parenteral yang dibagi dalam 24 jam. Pada keseluruhan pasienrawat hanya 37 (55%) anak yang mendapat cairan rehidrasi oral (oralit/Pedialyte).Penggunaan antibiotik didapatkan pada 55 (82%) anak dan anti diare pada 32 (48%)anak. Pemberian ASI hanya didapatkan pada 41 (61%) anak, dan di antaranya pemberianASI dilanjutkan pada 36 (88%) anak, serta dihentikan pada 5 (12%) anak; sedangkan26 (39%) anak sudah tidak mendapatkan ASI. Dari 51 anak yang menggunakan susuformula, didapatkan pemberian susu formula khusus pada 47 (70%) anak danpengenceran susu formula pada 2 (3%) anak. Lama rawat rerata 3 hari, dengan kisaran2 sampai 6 hari, dan 1 anak dirawat lebih dari 7 hari.Kesimpulan: tata laksana diare akut di tiga rumah sakit swasta di Jakarta kurang sesuaidengan panduan/protabel WHO, tampak dari hasil pemakaian CRO hanya pada 50%pasien, antibiotik masih banyak dipakai (90%), dan pemakaian susu formula khususpada 70% anak. Sedangkan pemberian ASI diteruskan cukup baik, yaitu 88%.
Peran Alergi Makanan dan Alergen Hirup pada Dermatitis Atopik Sjawitri P Siregar
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.177 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.155-8

Abstract

Sensitisasi makanan dan aeroalergen memegang peran pada patogenesis penyakit atopikseperti dermatitis atopik (DA), rinitis alergik dan asma. Dermatitis atopik merupakansuatu penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan 100% dan sering mengalamieksaserbasi, serta menimbulkan masalah pada orang tua dan dokter. Banyak faktor yangberperan pada DA, baik faktor eksogen atau endogen maupun kombinasi keduanya.Faktor genetik merupakan salah satu faktor yang berperan pada DA. Faktor eksogenseperti makanan aeroalergen banyak dilaporkan sebagai pencetus timbulnya DA. Masihterdapat perbedaan pendapat mengenai makanan sebagai penyebab tetapi terdapat buktibahwa bila makanan dihindarkan gejala dermatitis membaik. Susu sapi memprovokasigejala DA pada usia bayi1 dan 30% DA disebabkan alergi susu sapi2.Alergen hirup seperti tungau debu rumah berperan pada patogenesis DA, terutamapada anak; hal ini berdasarkan beberapa pengamatan klinis, uji kulit dan IgE spesifikyang tinggi serta terdapat perbaikan gejala klinis DA setelah penghindaran tungau deburumah.3 Alergen makanan lebih berpengaruh pada usia bayi kurang dari 1 tahunsedangkan aeroalergen pada usia di atas 2 tahun.4 H asil penelitian di Departemen IKARSCM menunjukkan bahwa DA pada anak dengan onset kurang dari 1 tahun yangtelah tersensitisasi telur dan aeroalergen akan meningkatkan risiko alergi saluran napasdi kemudian hari sampai sepuluh kali lipat
Leukemia Kutis Melissa Gandi; Endang Windiastuti; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.188-96

Abstract

Dilaporkan seorang anak perempuan, A, usia 16 bulan dengan diagnosis LeukemiaMieloblastik Akut - M2 (LMA-M2) dengan infiltrasi leukemia ke kulit (leukemia kutis)berdasarkan hasil aspirasi sumsum tulang dan biopsi kulit. Manifestasi klinis dari leukemiakutis terdiri dari nodus multipel kebiruan numular yang tersebar, diameter 2–3 cm,berbatas tegas, tidak nyeri, pada wajah, ekstremitas atas dan bawah. Hasil pemeriksaanjaringan biopsi kulit menunjukkan infiltrasi sel-sel leukemia pada dermis dan subkutis.Pasien diberi kemoterapi sesuai protokol LMA, sedangkan antibiotik dan transfusidiberikan sesuai indikasi. Prognosis pada pasien ini buruk, karena dengan adanya leukemiakutis (LK) pada LMA, perjalanan penyakit menjadi agresif. Pasien meninggal 2 bulansetelah timbulnya lesi kulit.
Hipertensi pada Remaja Johannes H. Saing
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.091 KB) | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.159-65

Abstract

Pengukuran tekanan darah saat pemeriksaan kesehatan rutin terhadap remaja akanmemungkinkan ditemukannya hipertensi asimptomatik yang signifikan oleh karenapenyakit yang tidak diketahui, dan memperkuat pernyataan bahwa sering terjadi kenaikantekanan darah yang ringan pada remaja. Penyebab hipertensi pada remaja (usia 13-18tahun) yang paling sering adalah hipertensi esensial (80%), diikuti penyakit ginjal.Hipertensi esensial pada remaja dapat merupakan lanjutan dari masa kanak-kanak danberlanjut ke masa dewasa. Remaja dengan tekanan darah di atas persentil ke-90 menurutumur memerlukan pemeriksaan berkala. Remaja dengan hipertensi ringan yangasimptomatik hanya memerlukan pemeriksaan yang sederhana. Tujuan tata laksanahipertensi pada remaja, untuk menurunkan tekanan darah di bawah persentil ke-95 danmencegah komplikasi. Tata laksana ini mencakup non farmakologik dan farmakologik
Infeksi Saluran Kemih Sebagai Penyebab Kolestasis Intrahepatik Hanifah Oswari; Harijadi Harijadi; Julfina Bisanto; Purnamawati SP
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.166-71

Abstract

Diagnosis banding etiologi kolestasis intrahepatik (KIH) pada bayi sangat beragam,salah satu di antaranya adalah infeksi dan yang tersering adalah infeksi saluran kemih(ISK). Infeksi saluran kemih pada KIH akan mempunyai prognosis baik bila dapatdidiagnosis dan diobati. Pengamatan sehari-hari di Departemen Ilmu Kesehatan AnakFKUI/RS Dr. Cipto Mangunkusumo didapatkan kesan bahwa ISK pada KIH cukupsering ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi ISK pada bayidengan KIH dan mengetahui karakteristik pasien tersebut. Subyek adalah bayi dengankolestasis intrahepatik yang berusia kurang dari 1 tahun yang datang berobat di DivisiGastrohepatologi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM pada periodeJanuari sampai dengan Desember 2003. Diagnosis ISK ditegakkan bila ditemukanbakteriuria lebih dari 100.000 cfu/mL. Hasil penelitian ini mendapatkan prevalens ISKpada bayi dengan KIH sebesar 24 dari 34 subyek, dengan dominasi lelaki (3:1). Bakteripenyebab tersering adalah bakteri Gram negatif ditemukan sebanyak 21 dari 24 subyek.Pada lima belas dari 24 orang di antaranya ditemukan E. coli. Tidak ada gejala klinisyang spesifik pada kolestasis dengan ISK. Gejala demam ditemukan pada 3 dari 24subyek . Leukosituria ditemukan pada 1 dari 24 subyek dengan ISK. Oleh sebab itudianjurkan untuk melakukan pemeriksaan biakan urin untuk mendeteksi ISK.
Kejadian Luar Biasa Hepatitis A di SMPN-259 Jakarta Timur Hanifah Oswari; Tuty Rahayu; Julfina Bisanto,; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.172-5

Abstract

Infeksi virus hepatitis A (VHA) ditularkan melalui transmisi fekal-oral, dan merupakanmasalah di banyak negara, termasuk Indonesia. Bila terjadi pada anak usia sekolah akanmempengaruhi proses belajar dan membutuhkan pengeluaran biaya untuk perawatan.Tujuan penelitian ini untuk menentukan attact rate, penyebab, serta gejala penyakitpada Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis akut di SMPN-259 Jakarta Timur. Penelitianini bersifat prospektif observasional. Pada hasil penelitian didapatkan jumlah muridseluruhnya 1420 orang (usia 12-16 tahun), 1157 orang mengisi kuesioner yang dibagikan.Dari kuesioner didapatkan attack rate penyakit adalah 38,5 % terdiri dari kelas I 165/442 (37,3 %), kelas II 94/338 (27,8 %), kelas III 187/377 (49,6 %). Murid yangmemerlukan perawatan di rumah sakit 19/1157 (4,3 %). Tidak didapatkan murid yangmeninggal (crude fatality rate = 0). Pengambilan sampel dilakukan secara random padakelompok murid yang sakit dengan hasil sebagai berikut: IgM anti HAV positif 38/45(84,4 %) pada murid sakit yang tidak dirawat inap, dan 14/16 (87,5 %) pada muridsakit yang dirawat inap. Gejala klinis pada subyek dengan IgM anti HAV (+) meliputiurin gelap 67 %, lemah 57,7 %, demam 50 %, muntah 48 %, anoreksia 48 %, nyeriperut 46 %, kuning 36,5 %, diare 25 %, dan mialgia 19,2 %. Terdapat 51,6% subyekdengan IgG antiHAV positif pada kelompok subyek yang tidak sakit. Kesimpulan attackrate KLB hepatitis akut di SMPN-259 Jakarta adalah 38,5 % semua anak sembuh 0%.Penyebab KLB hepatitis akut terbukti adalah VHA
Gambaran Klinis Glomerulonefritis Akut pada Anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Sudung O. Pardede; Partini P. Trihono; Taralan Tambunan
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.144-8

Abstract

Glomerulonefritis akut merupakan glomerulonefritis yang sering ditemukan pada anakditandai dengan hematuria, hipertensi, edem, dan penurunan fungsi ginjal.Glomerulonefritis akut pada anak paling sering ditemukan pada umur 2- 10 tahun danumumnya terjadi pasca infeksi streptokokus.Tujuan: mengetahui gambaran klinis glomerulonefritis akut pada anak di DepartemenIlmu Kesehatan Anak RSCM, Jakarta.Metoda: penelitian deskriptif retrospektif. Data diperoleh dari catatan medik pasiendengan diagnosis glomerulonefritis akut yang berobat di Departemen Ilmu KesehatanAnak RSCM, Jakarta, sejak tahun 1998 sampai 2002.Hasil: selama 5 tahun (1998-2002), didapatkan 45 pasien glomerulonefritis akut (26laki-laki dan 19 perempuan) yang berumur antara 4 – 14 tahun dengan umur palingsering adalah 6-11 tahun. Riwayat infeksi saluran nafas akut didapatkan pada 36 pasien,dan infeksi kulit 14 pasien. Hematuria makroskopik didapatkan pada 29 pasien, anuria/oliguria 31 pasien, dan edem pada 39 pasien. Hipertensi dijumpai pada 39 pasien, 19 diantaranya merupakan hipertensi krisis. Proteinuria dan hematuria mikroskopikdidapatkan pada semua pasien, leukosituria 29 pasien. Penurunan fungsi ginjal didapatkanpada 21 pasien, peningkatan titer ASO 21 pasien, dan komplemen C3 yang menurun32 pasien.Kesimpulan: hematuria, proteinuria, edem, hipertensi, dan oligo/anuria merupakanmanifestasi klinis glomerulonefritis akut yang paling sering ditemukan pada anak.Dibandingkan dengan periode sebelumnya, kejadian glomerulonefritis akut semakinmenurun.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue