cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2005)" : 9 Documents clear
Deteksi Dini, Faktor Risiko, dan Dampak Perlakuan Salah pada Anak Daisy Widiastuti; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.105-12

Abstract

Child abuse atau kekerasan pada anak merupakan keadaan yang sering kita jumpaipada kehidupan sehari-hari, fenomena gunung es berlaku pada keadaan tersebut, datapasti mengenai child abuse sulit diperoleh. Kekerasan terhadap anak termasuk semuabentuk perlakuan menyakitkan baik fisik, seksual maupun emosional yang dilakukanorang tua atau orang lain dalam konteks hubungan tanggung jawab atau kekuasaan.Faktor resiko baik pada anak, orang tua/situasi keluarga maupun masyarakat/sosialmempunyai hubungan dengan dugaan kekerasan pada anak. Wawancara terstruktur,pemeriksaan fisik yang cermat, dan pemeriksaan penunjang dapat membantumengetahui kasus kekerasan pada anak. Kekerasan pada anak dapat memberikandampak akut atau kronik bagi tumbuh kembang anak, terhadap keluarga danmasyarakat.
Sindrom Wolff Parkinson White Sri Endah Rahayuningsih
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.73-6

Abstract

Dilaporkan satu kasus sindrom Wolff-Parkinson-White pada anak laki-laki usia 9 tahunyang datang dengan keluhan utama palpitasi disertai nyeri dada. Elektrokardiogrampada awal masuk rumah sakit memperlihatkan frekuensi QRS 231 kali per menit (N :60-100 x/m), gelombang P tersembunyi dalam gelombang T denyut sebelumnya, durasiQRS memanjang dan terdapat gelombang delta yang menunjukkan terdapat takikardiasupraventrikular dengan aberrant conduction. Penderita mendapat pengobatan awalstimulasi vagal, tetapi tidak berhasil sehingga dilanjutkan dengan pemberian sotalol 3 x25 mg per oral. Evaluasi elektrokardiogram menunjukkan irama sinus dengan gelombangdelta yang sesuai dengan sindrom Wollf Parkinson White yaitu adanya perubahanfrekuensi jantung menjadi 80-90 x/menit, tampak gelombang T dan P dengan intervalPR memendek, durasi QRS melebar, dan terdapat gelombang delta. Prognosis pasienbaik karena pada pengamatan elektrokardiografi tiap 24 jam terlihat irama jantungkembali menjadi irama sinus.
Obstructive sleep apnea syndrome pada Anak Bambang Supriyatno; Rusmala Deviani
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.77-84

Abstract

Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah suatu sindrom obstruksi total atauparsial jalan nafas yang menyebabkan gangguan fisiologis yang bermakna dengan dampakklinis yang bervariasi. Prevalensi OSAS adalah 0,7 – 10,3%. Beberapa keadaan dapatmerupakan faktor risiko OSAS seperti hipertofi adenoid dan atau tonsil, obesitas,disproporsi sefalometri, kelainan daerah hidung. OSAS pada anak berbeda dengan dewasabaik faktor risiko maupun tata laksananya. Manifestasi klinis OSAS pada anak adalahkesulitan bernafas pada saat tidur, mendengkur, hiperaktif, mengantuk pada siang hari,dan kadang-kadang enuresis. Diagnosis OSAS secara definitif menggunakanpolisomnografi yaitu adanya indeks apnea atau hipopnea lebih dari 5. Sebagai alternatifdiagnosis adalah menggunakan kuesioner Brouillette dkk, observasi dengan video, ataumenggunakan pulse oksimetri. Tata laksana OSAS pada anak adalah pengangkatanadenoid (adenoidektomi dan/atau tonsilektomi). Angka keberhasilannya cukup tinggiyaitu sekitar 75%. Selain itu diet untuk penurunan berat badan pada obesitas, sertapengunaan CPAP (continuous positive airway pressure). Komplikasi yang dapat terjadiadalah gangguan tingkah laku, kelainan kardiovaskular, dan gagal tumbuh.
Kecerdasan Majemuk pada Anak Kadek Suarca; Soetjiningsih Soetjiningsih; IGA. Endah Ardjana
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.85-92

Abstract

Kecerdasan majemuk pertama kali diperkenalkan tahun 1983 oleh Howard Gardner diHarvard School of Education and Harvard Project Zero. Teori ini membantah tes seperticontoh Stanford Binet Test yang dikatakan sebagai hitungan tradisional yang tidakadekuat menilai kecerdasan. Menurut Gardner, kecerdasan melebihi dari hanya sekedarIQ (Intelligence Quotient) karena IQ yang tinggi tanpa ada produktifitas bukanmerupakan kecerdasan yang baik. Anak harus dinilai berdasarkan apa yang merekadapat kerjakan bukan apa yang tidak dapat mereka kerjakan. Kecerdasan didefinisikansebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan memiliki nilai lebih dalam sebuahkultur masyarakat. Kecerdasan adalah potensi biopsikologikal untuk mengolah informasisehingga dapat memecahkan masalah, menciptakan hasil baru yang menambah nilainilaibudaya setempat. Pandangan baru ini sangat berbeda dengan pandangan lamayang selalu mengandalkan dua penilaian yaitu verbal dan komputasional. Delapan macamkecerdasan itu antara lain, (1) Kecerdasan linguistik, (2) Kecerdasan logika-matematika,(3) Kecerdasan gerak tubuh, (4) Kecerdasan musikal, (5) Kecerdasan visual-spasial, (6)Kecerdasan interpersonal, (7) Kecerdasan intrapersonal, dan (8) Kecerdasan naturalis.
Peran Alkohol 70%, Povidon-Iodine 10% dan Kasa Kering Steril dalam Pencegahan Infeksi pada Perawatan Tali Pusat Ari Yunanto; Edi Hartoyo; Lia Yulia Budiarti
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.58-62

Abstract

Latar belakang: tali pusat merupakan tempat yang sangat ideal untuk tumbuhnyabakteri, oleh karena itu pencegahan infeksi bakteri merupakan tindakan utama yangharus dilaksanakan dalam perawatan tali pusat. Menjaga agar tali pusat selalu keringdan bersih merupakan prinsip utama. Tujuan penelitian: Mengetahui peran alkohol70%, povidon-iodine 10% dan kasa kering steril dalam pencegahan infeksi padaperawatan tali pusat.Metoda: telah dilakukan penelitian pemberian alkohol 70 %, povidon-iodin 10 %, sertakasa kering steril, dalam perawatan tali pusat pasca pemotongan untuk mencegahterjadinya infeksi, serta membandingkan lama lepasnya tali pusat. Penelitian dilaksanakandi Ruang Neonatalogi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin/FK UNLAMBanjarmasin. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan 12 kali atau sampai talipusat lepas.Hasil: dari tiga jenis perlakuan tidak didapatkan tanda-tanda adanya infeksi tali pusatdemikian pula lama lepasnya tali pusat tidak terdapat perbedaan yang bermakna (alkohol70 %: 7,33 hari, povidon-iodine: 10 %: 7,25 hari, dan kasa kering steril: 6,42 hari).Kesimpulan: dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perawatan tali pusat denganmenggunakan alkohol 70%, povidone-iodine 10% dan kasa kering steril dapat mencegahterjadinya infeksi tali pusat dan tidak berpengaruh terhadap lama lepasnya tali pusat.Namun bila dipandang dari segi ekonomi perawatan tali pusat dengan kasa kering sterildinilai lebih ekonomis dibandingkan perawatan tali pusat dengan menggunakan alkohol70% dan povidone-iodine 10%.
Pengaruh Metabolit Tumor Akibat Sindrom Tumor Lisis pada Terjadinya Gagal Ginjal Akut Serta pada Anak Trie Hariweni
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.234 KB) | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.93-6

Abstract

Sindrom tumor lisis merupakan triad kelainan metabolik (hiperurisemia, hiperfosfatemia,hiperkalemia) yang sering terjadi pada pasien keganasan akibat sel-sel tumor lisis secaracepat baik secara spontan ataupun karena pengobatan anti kanker. Metabolit tumor(asam urat, fosfor, kalium) semuanya diekskresi oleh ginjal sehingga sering menimbulkankomplikasi pada ginjal. Komplikasi tersering adalah gagal ginjal akut, hal ini memerlukanperhatian yang serius karena lebih mudah dicegah daripada diobati.
Stress Oksidatif pada Autisme Ruslan Ruslan; Eko Suhartono
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.63-7

Abstract

Latar belakang: autisme merupakan gangguan perkembangan berat dalam halberkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku yang tampak sebelum anak berusia 3 tahun.Gangguan perkembangan ini dihubungkan dengan faktor psikologi, kelainanneurobiologi, genetik, gangguan metabolik, pencernaan, keracunan logam berat danbiokimia.Tujuan: mengetahui kelainan biokimia yaitu senyawa oksigen reaktif (SOR) dan nitrogenoksida (NO) pada autisme. Peningkatan SOR dan NO diduga menyebabkan stresoksidatif yang berperan dalam neuropatologi pada autisme.Metoda: penelitian terhadap 39 anak autisme sebagai kelompok risiko dan 10 anaknormal sebagai kontrol, melalui studi observasional analitik dengan metode crosssectional.Akumulasi SOR ditentukan dengan mengukur aktivitas katalase dan kadarsenyawa karbonil secara spektrofotometrik. Aktivitas NO ditentukan secara tidaklangsung, yakni mengukur kadar methemoglobin dalam plasma.Hasil: rerata aktifitas katalase pada autisme 0,0061±0,0013 s-1, sedangkan kontrol adalah0,0086±0,0042 s-1. Rerata hasil pengukuran methemoglobin pada autisme adalah30,38±15,44% sedangkan kelompok kontrol 21,73±9,66%. Kadar senyawa karbonilpada autisme adalah 0,411±337693 ìM ml-1/gr dan kontrol 0,424±265861 ìM ml-1/gr.Uji-t untuk dua rata-rata pada a=5% menyimpulkan aktivitas katalase dan kadarmethemoglobin berbeda secara bermakna dibandingkan kontrol (P<0,05), sedangkankadar senyawa karbonil kelompok risiko dan kontrol tidak berbeda (P>0,05)Kesimpulan: aktivitas katalase pada anak autisme lebih rendah dan kadar methemoglobinlebih tinggi secara bermakna dibandingkan anak normal. Meskipun demikian, keadaantersebut belum sampai mempengaruhi kerusakan oksidatif protein. Perlu dilakukanpenelitian lebih lanjut untuk mengetahui aktivitas antioksidan endogen lainnya sepertisuperoksida dismutase dan glutation peroksidase serta apakah kadar senyawa antioksidanberhubungan dengan derajat gejala klinis anak autisme.
Pemeriksaan Dermatoglifik dan Penilaian Fenotip Sindrom Down Sebagai Uji Diagnostik Kariotip Aberasi Penuh Trisomi 21 Sjarif Hidajat; Herry Garna; Ponpon S Idjradinata; Achmad Surjono
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.9 KB) | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.97-104

Abstract

Latar belakang: Sindrom Down (trisomi 21) terjadi karena aberasi numerik sebagaiakibat kegagalan proses replikasi dan pemisahan sel anak (non-disjunction). Bentukkariotip aberasi ini dapat berbentuk aberasi penuh dan dapat pula berbentuk mosaik,yang diduga mempunyai implikasi terhadap berat ringannya kelainan fenotip. Di sampingpenting untuk konseling genetik, penelaahan secara cepat di bangsal perinatologi jugadiperlukan untuk asumsi sementara dalam menjawab pertanyaan keluarga pasien.Tujuan: tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan jenis kariotip dengan beratnyaaberasi penuh terhadap beratnya fenotip sindrom Down.Metoda: penelitian dilakukan pada 147 anak usia 0-5 tahun di Yayasan Suryakanti, RSDr. Hasan Sadikin dan Yayasan Dian Grahita Jakarta. Penentuan fenotip sindrom Downdilakukan dengan penelaahan gejala utama dari kelainan tersebut. Dilakukan wawancarariwayat perinatal dan latar belakang keluarga serta pemeriksaan dermatoglifik,pemeriksaan antropometrik khusus dan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaankromosom dari kultur limfosit.Hasil: didapatkan 146 anak mempunyai kelainan kariotip, yang ternyata semuanya trisomi21, sedangkan seorang anak menunjukkan kariotip normal. Hasil analisis menunjukkandermatoglifik, kelainan mata dan kelainan tangan dan kaki mempunyai hubungan yangsignifikan dengan kariotip. Pada dermatoglifik abnormal 78,2% mengarah ke kariotipaberasi penuh. Kelainan jantung bawaan, kelainan mata dan kelainan tangan dan kaki,terdapat masing-masing 82,4%, 77,7% dan 77,6%. Secara bersama-sama yang memberikannilai risiko tertinggi adalah kelainan gerak, kemudian kelainan mata dan dermatoglifik.Sebanyak 47 anak (32%) menunjukkan kariotip mosaik dan 99 anak (68%) jenis aberasipenuh. Diperoleh besarnya risiko terjadinya kariotip aberasi penuh adalah 9,5 kali padakeempat variabel fenotip abnormal dibandingkan dengan subjek tanpa gangguan fenotipdan dermatoglifik. Kelainan dermatoglifik, kelainan mata dan kelainan tangan serta kakisecara bermakna menunjukkan adanya hubungan antara satu variabel dengan lainnya,makin rendah persentase sel normal pada kariotip aberasi penuh, makin abnormal keadaandermatoglifik dan fenotip organ tubuh tersebut.Kesimpulan: pasien kelainan aberasi kromosom numerik, khususnya trisomi 21,mempunyai kelainan gabungan dermatoglifik serta kelainan organ tertentu dalam derajatyang maksimal, dan cenderung menunjukkan kariotip jenis aberasi penuh.
Ukuran Besar Testis Anak Laki-laki pada Saat Awitan Pubertas Hakimi Hakimi; Charles D. Siregar; Melda Deliana; Lily Rahmawati
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.311 KB) | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.68-72

Abstract

Latar belakang: data memperlihatkan terjadi perubahan usia awitan pubertas pada anaklaki-laki dalam beberapa dekade belakangan ini. Hal ini mungkin disebabkan adanyaperbaikan kondisi sosioekonomi, status gizi, kesehatan umum dalam jangka waktutertentu tersebut. Perubahan tersebut mungkin juga mempengaruhi ukuran testis padasaat awitan pubertas anak laki-laki.Tujuan: untuk mengetahui gambaran besar testis anak laki-laki pada saat awitan pubertas.Metoda: penelitian cross sectional pada anak laki-laki di beberapa sekolah SD/ SLTP,dilakukan pada bulan Februari 2004 di kota Medan. Sampel penelitian diambil secarasystematic random sampling. Pemeriksaan ukuran testis dilakukan dengan caraorkidometer Prader.Hasil: diperoleh jumlah subjek 122 orang anak, besar testis anak laki-laki pada saatawitan pubertas dimulai pada ukuran nomor 4 sampai 12. Dijumpai besar testis terbanyakpada ukuran nomor 8 (37,3%) dan 12 (1,6%). Kelompok umur 9-10 tahun memulaiawitan pubertas pada ukuran testis nomor 4, umur 11-12 tahun pada nomor 5, danumur 13-14 tahun memulai pada nomor 6. Pada anak dengan obesitas memulai awitanpubertas pada ukuran testis nomor 5, status gizi lebih pada nomor 6, status gizi baik,sedang, kurang dan buruk masing-masing pada nomor 4.Kesimpulan: besar testis anak laki-laki pada saat awitan pubertas dimulai ukuran nomor4 sampai 12, dan besar testis terbanyak sesuai ukuran orkidometer Prader nomor 8.Kelompok umur yang lebih tua dan status gizi lebih baik memulai awitan pubertas padaukuran testis lebih besar.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue