cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2006)" : 12 Documents clear
Metoda Kanguru pada Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah Saur Lidya Margaretha
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.592 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.181-7

Abstract

Metoda kanguru adalah suatu teknologi tepat guna untuk perawatan bayi baru lahirkhususnya bayi prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR), dengan cara melekatkankulit bayi ke kulit ibu (skin-to-skin contact). Angka kesakitan dan kematian bayi padamasa neonatal masih tinggi. Berkat kemajuan teknologi, bayi prematur dapatdiselamatkan tetapi masih terbatas kegunaannya di rumah sakit negara maju. Untuknegara berkembang yang penghasilan perkapitanya masih rendah fasilitas ini merupakansesuatu yang langka; kalaupun ada jumlahnya sangat terbatas, dengan kemampuan sumberdaya manusia rendah. Hal ini merupakan kendala yang dihadapi dalam mengaksesteknologi tersebut. Kehadiran Metoda kanguru yang pertama kali diperkenalkan olehDr.Rey dan Martinez dari Bogota (Colombia) pada tahun 1978 memberikan harapanbaru khususnya di negara berkembang dengan fasilitas terbatas. World HealthOrganization telah menganjurkan untuk menggunakan Metoda ini sebagai salah satualternatif bagi perawatan bayi prematur. Metoda ini dijamin aman dan mampu memenuhikebutuhan dasar bayi baru lahir berupa kehangatan, ASI, kasih sayang dan perlindungan.
Pemberian Diet Formula Tepung Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) pada Sindrom Nefrotik Trully Kusumawardhani; M. Mexitalia; JC. Susanto; Lydia Kosnadi
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.251-6

Abstract

Latar belakang. Pemberian diet dengan protein seimbang pada sindrom nefrotikbertujuan untuk meningkatkan kadar albumin serum. Ikan gabus merupakan ikan airtawar yang banyak dijumpai di Indonesia dan memiliki kadar protein lebih tinggidibandingkan ikan lainnya.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberiansuplementasi formula tepung ikan gabus terhadap peningkatan kadar albumin serumpasien sindrom nefrotik.Metodologi. Penelitian uji klinik terbuka dilakukan di Bangsal Anak RS Dr. KariadiSemarang, pada 36 anak dengan sindrom nefrotik kelainan minimal, yang terbagi dalamkelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapatkansuplementasi ikan gabus, dengan cara mengganti 25% kebutuhan protein dengan tepungikan gabus. Suplemntasi ikan gabus diberikan setiap hari selama 21 hari, dengan jumlahprotein total yang diberikan sama dengan kelompok kontrol. Indeks masa tubuh (IMT),protein total, albumin dan globulin serum diukur setiap minggu, sedangkan akseptabilitastepung ikan gabus dinilai setiap hari. Analisis statistik menggunakan uji t independent.Hasil. Pada kedua kelompok didapatkan peningkatan IMT, kadar protein total danalbumin serum pada akhir penelitian dibandingkan dengan data awal. Tidak didapatkanperbedaan kadar protein total dan globulin pada akhir penelitian antara kelompokperlakuan dan kelompok kontrol. Selisih kenaikan kadar albumin pada kelompokperlakuan (2,04 ± 1,47 g/dl) lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompokperlakuan (1,47 ± 0,82 g/dl) dengan nilai p = 0,018.Kesimpulan. Pemberian suplementasi tepung ikan gabus selama 21 hari pada pasiensindrom nefrotik kelainan minimal dapat meningkatkan kadar albumin serum.
Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula Elemental Di RSU dr. Soetomo Surabaya Roedi Irawan
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.711 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.226-30

Abstract

Latar belakang. Dalam tata laksana kasus gizi buruk yang dirawat di rumah sakitmemerlukan nutrisi yang terbaik dalam mempercepat kesembuhannya terhadap penyakitutama maupun upaya dalam memperbaiki status gizi. Oleh karena itu sampai saat inimasih dicari dan diujicobakan beberapa nutrisi yang tepat dan terbaik pada anak giziburuk.Tujuan. Penelitian ini bertujuan mempelajari perbedaan kecepatan kesembuhan padaanak gizi buruk yang diberi modisco susu formula dan modisco susu formula elemental.Metoda. Pengambilan sampel secara acak buta ganda dengan uji eksperimental. Kriteriainklusi yaitu anak umur 1–3 tahun dengan status gizi buruk dan menderita penyakitinfeksi. Subyek penelitian diambil dari 112 populasi anak gizi buruk yang menderitaberbagai macam penyakit infeksi sebagai penyakit primer.Hasil. Didapatkan 49 anak diantaranya yang masuk kriteria inklusi, kemudian dibagidalam 2 kelompok: 27 anak diberi modisco susu formula dan 22 anak diberi modiscosusu formula elemental. Terdapat perbedaan bermakna antara berat badan sebelum dansesudah penelitian pada kedua kelompok (P<0,05). Perbedaan bermakna pada nilai Zskorberat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) antara kelompok yang diberi modiscosusu formula dan modisco susu formula elemental (P<0,05).Kesimpulan. Kelompok yang diberi modisco susu formula elemental menunjukkanpenyembuhan yang lebih cepat dibanding kelompok yang diberi modisco susu formula.
Penggunaan Antibiotik pada Terapi Demam Tifoid Anak di RSAB Harapan Kita Amar W Adisasmito
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.174-80

Abstract

Latar belakang. Insidens demam tifoid di Indonesia cukup tinggi (>100 kasus per100.000 populasi per tahun). Insidens pada anak usia 3-6 tahun adalah 1307 per 100.000populasi per tahun, dan 1172 pada usia 7-19 tahun. Chloramphenicol sampai saat inimasih merupakan obat pilihan lini pertama untuk terapi demam tifoid pada anak.Antibiotik lain yang dipergunakan untuk terapi demam tifoid anak adalah cotrimoxazole,cefixime dan ceftriaxone.Tujuan penelitian. Untuk mengevaluasi aspek pemberian antibiotik berdasar berbagaisituasi klinis pada terapi demam tifoid anak di ruang Rawat Inap Anak, DepartemenAnak, RSAB Harapan Kita, Jakarta.Metoda. Penelitian dengan desain deskriptif-retrospektif telah dilakukan di DepartemenAnak, RSAB Harapan Kita, Jakarta dari 1 Januari hingga 31 Desember 2004 Kriteriainklusi adalah pasien berusia antara 1 bulan sampai 18 tahun, gejala klinis sesuai demamtifoid, dan diagnosis pasti berdasar hasil biakan darah dengan metoda Bac-tect, positifSalmonella typhi. Data diperoleh dari rekapan laboratorium Mikrobiologi dan rekammedik pasien. Korelasi antara ketepatan dosis antibiotik dan lama rawat atau length ofstay (LOS) dievaluasi menggunakan program Excell.Hasil. Sebanyak 31 pasien memenuhi kriteria inklusi. Dari 31 pasien yang ditelitiditemukan bahwa pasien demam tifoid terbanyak adalah usia 6-10 tahun, diikuti usia 1– 5 tahun. Sensitifitas dan spesifisitas uji Widal terhadap uji Bac-tect rendah atau tidakmemadai, sehingga uji Widal disini tampaknya bukanlah uji yang baik dalam menegakkandiagnosis demam tifoid. Komplikasi terjadi pada 7 dari 31 pasien, terdiri dari pneumoniadan perdarahan saluran cerna. Ditemukan seluruhnya 1 kasus relaps dari 31 pasien.Tampaknya tidak ada perbedaan yang nyata antara rata-rata lama rawat dan ketepatandosis antibiotik yang diberikan.Kesimpulan. Antibiotik terbanyak yang dipakai adalah golongan chloramphenicol danceftriaxone intravena. Tidak ada hubungan yang nyata antara pemberian antibiotikdengan dosis kurang terhadap lama rawat pasien, tetapi tentunya masih banyak faktorlain yang dapat mempengaruhinya.
Refluks Vesiko Ureter Indriyani Sang Ayu Kompiyang; Suarta Ketut
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1572.864 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.218-25

Abstract

Refluks vesiko ureter (RVU) merupakan kelainan traktus urinarius yang biasa terjadipada anak. Kelainan ini seringkali didiagnosis sebagai penyerta pada anak dengan infeksisaluran kemih (ISK), meskipun terjadi peningkatan jumlah kasus yang didiagnosis saatlahir melalui pemeriksaan sonografi terdapat pelvo-kaleaktasis atau hidronefrosis.Kejadian RVU dapat menyebabkan terjadinya parut ginjal disertai hipertensi yang dapatberlanjut menjadi gagal ginjal kronik. Diagnosis dini melalui anamnesis, pemeriksaanfisik, laboratorium dan radiologi khususnya voiding cystourethrogram (VCUG) harusdilakukan untuk menentukan tata laksana yang sesuai. Sebagian besar pasien mendapatpengobatan medikamentosa tanpa memerlukan tindakan pembedahan.
Pentingnya Stimulasi Dini untuk Merangsang Perkembangan Bayi dan Balita Terutama pada Bayi Risiko Tinggi Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.164-73

Abstract

Bayi risiko tinggi ialah bayi yang secara klinis belum menunjukkan hambatanperkembangan tetapi berpotensi untuk mengalami gangguan perkembangan akibatfaktor risiko biomedik, lingkungan psikososial atau sosial ekonomi. Faktor risikotersebut secara langsung atau tidak langsung dapat mengganggu perkembangan otak,sehingga mengganggu perkembangan gerak, komunikasi, kognitif, emosi-sosial danperilaku. Plastisitas otak adalah kemampuan susunan saraf untuk menyesuaikan diriberupa perubahan anatomi, kemampuan neurokimiawi atau perubahan metabolik.Stimulasi dini adalah rangsangan auditori, visual, taktil dan kinestetik yang diberikansejak perkembangan otak dini, dengan harapan dapat merangsang kuantitas dan kualitassinaps sel-sel otak, untuk mengoptimalkan fungsi otak. Stimulasi dini harusmemperhatikan tahapan maturasi otak, waktu, jenis stimulasi, cara melakukanstimulasi, intensitas, perbedaan individual, keterpaduan dan dukungan program lainyang berkelanjutan. Peran dokter dan perawat di ruang bayi baru lahir, serta orangtuasangat penting, oleh karena itu mereka perlu dibekali pengetahuan dan ketrampilanmengenai stimulasi dini
Kesiapan Fisik dan Pengetahuan Remaja Perempuan Sebagai Calon Ibu dalam Membina Tumbuh Kembang Balita dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya Wan Nedra; Soedjatmiko Soedjatmiko; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.209-17

Abstract

Latar Belakang. Dua puluh satu persen penduduk Indonesia adalah remaja. Hanya11,6% lulusan SMU yang melanjutkan ke perguruan tinggi, yang tidak melanjutkanantara lain memasuki jenjang perkawinan, padahal perkawinan pada usia muda sangatmengundang risiko yang tidak bisa diabaikan. Mereka yang memasuki jenjangperkawinan, umumnya mempunyai kesiapan fisik dan pengetahuan yang belum memadai,sehingga perlu disiapkan. Seorang ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik akanmenghasilkan tumbuh-kembang balita yang baik pula, khususnya dalam tiga tahunpertama usia anak.Tujuan Pustaka. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesiapan fisik, dan pengetahuanremaja perempuan terhadap tumbuh kembang balita.Metoda. Penelitian merupakan studi analitik potong lintang pada remaja perempuansiswi SMU di 7 sekolah di Jakarta Timur, yang dilaksanakan Januari 2006 sampai Maret2006. Setelah mendapat persetujuan penelitian maka dilakukan pemeriksaan fisis danpengambilan sampel darah untuk pemeriksaan hemoglobin. Selanjutnya responden mengisikuesioner untuk mengetahui pengetahuan mereka tentang tumbuh kembang balita.Hasil. Dari 300 responden diperoleh rerata umur 17,2 tahun, suku Jawa 40,2 % danumumnya tinggal dengan orang tua (75,7%). Responden yang anemia sebanyak 25,36%,gizi kurang 18,5%, gizi baik 74,4%, gizi lebih 4,7%, dan obesitas 2,3%. Sumber informasiyang berhubungan dengan masalah tumbuh kembang balita hanya 13,6% berasal darisumber formal yaitu orang tua, guru dan tenaga kesehatan. Remaja yang berpengetahuantinggi didapatkan sebanyak 19%, pengetahuan sedang 33%, dan pengetahuan rendah48%. Remaja yang tidak siap menjadi calon ibu secara fisik didapatkan pada 42,3%.Kesiapan pengetahuan didapatkan pada 63,7% remaja, sedangkan kesiapan fisik danpengetahuan yang memadai didapatkan pada 31,3%. Tidak ada hubungan antara kesiapanresponden untuk menjadi calon ibu dengan demografi keluarga dan sumber informasi.Kesimpulan. Lebih dari separuh remaja (57,7%) telah mempunyai kesiapan fisik untukmenjadi calon ibu. Kesiapan pengetahuan remaja terhadap materi tumbuh kembang balitasebesar 63,7 %. Tingkat kesiapan fisik dan pengetahuan remaja menjadi calon ibu sebesar31,3%. Tidak ada hubungan antara karakteristik keluarga dan sumber informasi dengankesiapan remaja perempuan SMU di Jakarta Timur untuk menjadi calon ibu.
Pengenalan Acquired Immunodeficiency Syndrome pada Pasien Anak Ditinjau dari Bidang Kedokteran Gigi Anak Essie Octiara; Miftakhul Cahyati; Virmala Indah Aulia
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.231-7

Abstract

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakityang disebabkan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). 1 Di dunia pada tahun2002 sebanyak 3,2 juta anak telah terinfeksi HIV. Penularan HIV/AIDS pada anakdapat terjadi antara lain melalui tranfusi darah serta oleh ibu yang terinfeksi kepada bayiyang dikandungnya. Manifestasi pada rongga mulut merupakan salah satu gejala yangpertama kali timbul dan paling dapat dipercaya akan adanya infeksi HIV pada anak, danhal ini penting dalam mendiagnosis awal infeksi HIV serta dalam memberikan upayaintervensi dini. Manifestasi oral pada pasien anak dengan infeksi HIV berupa infeksijamur, virus, bakteri, neoplasma ataupun lesi idiopatik. Peran dokter gigi anak dalampreventif kesehatan mulut bagi pasien anak HIV antara lain melakukan supervisi semuapemberian makanan dengan botol, managemen medikasi yang kariogenik, sertamelakukan sealant dan pemberian fluor secara sistemik dan topikal.
Clinical Pathways Kesehatan Anak Dody Firmanda
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.195-208

Abstract

Clinical Pathways (CP) sebagai kunci utama untuk masuk ke dalam sistem pembiayaanyang dinamakan DRG-Casemix. Merupakan suatu konsep perencanaan pelayananterpadu yang merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkanstandar pelayanan medis dan asuhan keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yangterukur dan dalam jangka waktu tertentu selama di rumah sakit. Clinical Pathwaysmerupakan salah satu komponen dari Sistem DRG-Casemix yang terdiri dari kodefikasipenyakit dan prosedur tindakan (ICD 10 dan ICD 9-CM) dan perhitungan biaya (baiksecara top down costing atau activity based costing maupun kombinasi keduanya).Implementasi CP sangat erat berhubungan dan berkaitan dengan Clinical Governancedalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan dengan biaya yang dapatdiestimasikan dan terjangkau. Dalam menyusun Format Clinical Pathways harusdiperhatikan komponen yang harus dicakup sebagaimana definisi dari Clinical Pathways.Manfaatkan data yang telah ada di lapangan rumah sakit dan kondisi setempat sepertidata Laporan RL1 sampai dengan RL6 dan sensus harian.Variabel varians dalam CPdapat digunakan sebagai alat (entry point) untuk melakukan audit medis dan manajemenbaik untuk tingkat pertama maupun kedua (1st party and 2nd party audits) dalam rangkamenjaga dan meningkatkan mutu pelayanan. Variabel tindakan dalam CP dapatdigunakan sebagai alat (entry point) untuk melakukan surveilans Tim PengendalianInfeksi Nosokomial dan selanjutnya untuk menilai Health Impact Intervention. Variabelobat obatan dalam CP dapat digunakan sebagai alat (entry point) untuk melakukankegiatan evaluasi dan monitoring dari 5 Langkah 12 Kegiatan Tim Farmasi dan TerapiKomite Medik RS. Sekaligus secara tidak langsung menggalakkan penggunanan obatsecara rasional dan dapat melihat cermin dari penggunaan obat generik. CP dapatdigunakan sebagai salah satu alat mekanisme evaluasi penilaian risiko untuk mendeteksikesalahan aktif (active errors) dan laten (latent / system errors) maupun nyaris terjadi(near miss) dalam Manajemen Risiko Klinis (Clinical Risk Management) dalam rangkamenjaga dan meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien (patient safety). Hasildan revisi CP dapat digunakan juga sebagai alat (entry point) untuk melakukan perbaikandan revisi Standar Pelayanan Medis dan asuhan Keperawatan yang bersifat dinamis danberdasarkan pendekatan Evidence-based Medicine (EBM) dan Evidence-based Nurse(EBN). Partisipasi aktif, komitmen dan konsistensi dari seluruh jajaran direksi,manajemen dan profesi harus dijaga dan dipertahankan demi terlaksana dan suksesnyaprogram Casemix di rumah sakit. Bila Sistem Casemix Rumah Sakit telah berjalan,maka untuk selanjutnya akan lebih mudah untuk masuk ke dalam sistem pembiayaanlebih lanjut yakni Health Resources Group (HRG). Peran profesi organisasi IDAI sangatstrategis dan penting dalam mengembangkan SPM dan Clinical Pathways sebagai acuanpedoman bagi setiap anggota profesi dalam melaksanakan praktik keprofesiannya.
Hubungan antara Kadar Timbal Udara dengan Kadar Timbal Darah Serta Dampaknya pada Anak Anna F. Wagiu; F. H. Wulur
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.209 KB) | DOI: 10.14238/sp8.3.2006.238-43

Abstract

Latar belakang. Pencemaran timbal (Pb) di udara masih menjadi masalah pediatrisosial. Keracunan kronis pada anak akan berdampak pada gangguan fisik dan mental.Tujuan. Untuk mengetahui tingkat pencemaran timbal di udara serta dampak kesehatanyang ditimbulkan pada anak di Kota manado.Bahan dan cara. Analitik observasional potong lintang dilakukan antara bulan Meisampai Juli 2005. Sampel, anak yang berusia 6-13 tahun bermukim di Pusat Kota Pasar45 dan di Tingkulu sebagai kontrol. Kadar timbal udara diukur menggunakan highvolume sampler dianalisis dengan metode atomic absorption spectrophotometer (AAS),kadar timbal darah dengan metode AAS dan kadar hemoglobin dengan metodeSianmethemoglobin.Hasil. Subyek terdiri 75 orang anak yaitu 40 subyek kelompok Pasar 45 dan 35 subyekkontrol. Terbanyak pada kelompok Pasar 45 perempuan 28(58,3%) dan kontrol 20(41,7%) perempuan. Kadar timbal di udara lokasi Pasar 45 adalah 0,799 ìg/m3 dankontrol 0,237 ìg/m3. Pada lokasi Pasar 45 kadar timbal darah antara 10 – 19 ìg/dLterdapat pada satu anak (2,5%) dan >0-10 ìg/dL pada 39 anak (97,5%) sedangkan kontrol(100%) <0,2 ìg/dL. Tidak terdapat hubungan kadar timbal udara dengan kadar timbaldarah anak di Pasar 45 dan kontrol (p=0,346). Terdapat hubungan yang bermaknaantara kadar Hb dengan kadar timbal darah anak di Pasar 45 (p=0,016). Tidak didapatkanhubungan bermakna antara hitung retikulosit dengan kadar timbal darah anak di Pasar45 (p=0,812).Kesimpulan. Kadar timbal udara di Pasar 45 tidak melebihi ambang baku mutu. Tidakterdapat hubungan kadar timbal udara dengan kadar timbal darah di Pasar 45. Terdapathubungan bermakna antara kadar Hb dengan kadar timbal darah anak di Pasar 45.Walaupun masih dalam derajat ringan telah terjadi peningkatan kadar timbal darahpada anak yang tinggal di pasar 45.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue