cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 10 (2) 2021" : 16 Documents clear
Dampak Minyak Rajas yang Diberikan Secara Oral Terhadap Histopatologi Hati dan Aktivitas Aminotransferase Ayam Kampung Jantan Teja, Putu Tessa Hariys Septianda; Arjana, Anak Agung Gde; Setiasih, Ni Luh Eka; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.233

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran histopatologi hati dan aktivitas aminotransferase ayam kampung yang diberikan minyak rajas secara oral. Penelitian ini menggunakan sampel ayam kampung jantan fase grower umur 8 minggu dengan berat 500 – 800 g sebanyak 24 ekor. Hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan yaitu P0, P1, P2 dan P3 dengan tiap perlakuan terdiri dari 6 ekor hewan coba. Aklimatisasi terhadap semua hewan coba dilakukan selama 1 minggu dengan pemberian pakan ayam komersial dan air minum secara adlibitum terhadap semua kelompok. Selanjutnya minggu ke-2 sampai minggu ke-8, hewan coba dalam kelompok P1, P2 dan P3 diberikan minyak rajas sesuai dosis yang dicampur dengan pakan ayam komersial secara oral, sedangkan kelompok P0 diberikan placebo. Pemeriksaan kadar AST ALT dan pembuatan preparat histopatologi hati dilakukan pada minggu ke-5. Organ hati diambil secukupnya dan dimasukan ke dalam pot yang telah diisi dengan Neutral Buffer Formalin 10% untuk dibuat preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoxyilin-Eosin (HE). Variabel yang diamati dari sediaan histopatologi berupa nekrosis dan infiltrasi sel radang, kongesti dan degenerasi melemak. Data pemeriksaan sediaan histopatologi di analisis dengan uji statistik non parametrik Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney, sedangkan data kadar AST dan ALT dianalisis dengan uji sidik ragam dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan ditemukan adanya perubahan histapotologi hati serta kadar AST dan ALT ayam kampung jantan.
Laporan Kasus: Vulnus Laceratum Akibat Jeratan Kawat pada Leher Anjing Lokal Sanjaya, Gede Putra; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.293

Abstract

Vulnus laceratum adalah luka robek yang disertai dengan kehilangan jaringan yang minimum, disebabkan oleh trauma benda tumpul. Anjing lokal betina berusia satu tahun dengan bobot 12,7 kg mengalami luka pada daerah leher yang sudah mengalami infeksi akibat jeratan kawat, disertai gejala klinis penurunan nafsu makan, dan kekurusan. Berdasarkan anamnesis dan tanda klinis yang nampak, anjing didiagnosis mengalami vulnus laceratum yang melingkar pada bagian leher dengan prognosis fausta. Vulnus laceratum ditangani dengan pembedahan dengan terlebih dahulu dilakukan pembersihan luka (cleansing) dengan hidrogen peroksida (H2O2) 3%, kemudian pengangkatan jaringan yang mati atau rusak (debridement) untuk membuat luka baru agar bisa menyatu, dan dilanjutkan penutupan luka dengan jahitan (suturing). Pascaoperasi, anjing diberikan antibiotik cefotaxime dengan dosis 28 mg/kg bb secara intravena selama tiga hari berturut-turut dilanjutkan dengan pemberian antibiotik cefixime caps 100 mg (dua kali sehari) selama lima hari beturut-turut serta pemberian bacitracin. Pada hari kedelapan pascaoperasi, luka terlihat menyatu dan mulai mengering disertai dengan peningkatan nafsu makan.
Salep Ekstrak Daun Kersen Meningkatkan Kepadatan Kolagen dan Mempercepat Penyembuhan Luka Sayat pada Kulit Mencit Hiperglikemia Br Sembiring, Irene Cristina; Wardhita, Anak Agung Gede; Adi, Anak Agung Ayu Mirah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.189

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salep ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) terhadap kesembuhan luka sayat pada kulit mencit hiperglikemia dilihat dari kepadatan kolagen. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit (Mus musculus) jantan hiperglikemia yang diinduksi aloksan (150 mg/kg BB) secara intraperitonial. Luka sayat kulit dibuat pada bagian punggung menggunakan skalpel dengan panjang ± 15 mm dan kedalaman mencapai subkutan. Secara acak hewan coba dibagi menjadi empat perlakuan dan setiap perlakuan terdiri atas enam ulangan, yaitu kontrol diberikan placebo dan perlakuan pemberian salep ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 30%, 40%, dan 50%. Proses kesembuhan luka diamati secara histopatologi dengan parameter kepadatan kolagen. Berdasarkan hasil, terjadi peningkatan kepadatan kolagen pada setiap perlakuan. Rerata kepadatan kolagen pada perlakuan 0% (P0) 0,60; pada perlakuan 30% (P1) 0,73; pada perlakuan 40% (P2) 1,46; pada perlakuan 50% (P3) adalah 2,20. Hasil penelitian melalui uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa salep ekstrak daun kersen berpengaruh sangat nyata terhadap kesembuhan luka insisi mencit hiperglikemia yang dilihat dari kepadatan kolagen. Disimpulkan bahwa pemberian salep ekstrak daun kersen 50% paling efektif dalam mempercepat penyembuhan luka insisi mencit hiperlikemia dilihat dari kepadatan kolagen.
Prevalensi dan Faktor Risiko Strongyloides papillosus pada Kambing-Kambing di Kota Denpasar Handojo, Chindi Meilina; Apsari, Ida Ayu Pasti; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.245

Abstract

Kambing merupakan salah satu ternak yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Kota Denpasar. Namun, dalam pengembangannya terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh nematoda gastrointestinal Strongyloides papillosus. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi infeksi nematoda ini pada kambing, di antaranya adalah; umur, jenis kelamin, jumlah kambing per kandang, ras/breed serta sistem perkandangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi infeksi S. papillosus dan hubungannya dengan faktor risiko yang memengaruhi infeksi pada kambing yang dipelihara di Kota Denpasar. Sejumlah 150 faeses berbeda dari kambing yang dipelihara di Kota Denpasar diambil sebagai sampel pada penelitian ini. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan metode apung dan data yang diperoleh dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat berupa uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi S. papillosus pada kambing yang dipelihara di Kota Denpasar adalah 24,7%. Uji chi-square mendapatkan bahwa umur dan jumlah kambing per kandang memiliki hubungan dengan prevalensi infeksi cacing S. papillosus, sedangkan jenis kelamin, breed serta sistem perkandangan tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi cacing S. papillosus.
Laporan Kasus: Anaplasmosis pada Anjing Peranakan Kintamani Tahlia, Ninis Arsyi; Suartha, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.304

Abstract

Anaplasmosis merupakan penyakit pada anjing yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular gram negatif yang termasuk dalam famili Anaplasmataceae. Seekor anjing mix kintamani berumur 1 tahun diperiksa di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan; gatal-gatal, infestasi caplak, lemas, nasfu makan menurun dan eritema di seluruh tubuh anjing. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan membran mukosa mulut pucat, anjing lemah, infestasi caplak Rhiphicephalus pada kulit. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadi anemia normositik hiperkromik, dan trombositopenia. Pemeriksaan ulas darah positif ditemukan agen Anaplasma spp. Terapi yang diberikan berupa terapi secara kausatif, simtomatis dan suportif. Terapi kausatif diberikan doksisiklin dosis 10 mg/kg BB diberikan secara oral selama 28 hari, ivermectin dosis 0,2-0,3 mg/kg BB, disuntikkan secara subkutan satu minggu sekali selama tiga minggu, terapi simtomatis dengan vetadryl dosis 1-5 mg/kg BB,disuntikkan secara subkutan satu minggu sekali selama tiga minggu, sedangkan terapi suportif diberikan pemberian vitamin livron b-pleks sehari sekali selama 10 hari. Pengobatan dengan doksisiklin, ivermectin, vetadryl dan livron b-pleks memberikan hasil yang baik terhadap anjing kasus dari segi keaktifan hewan, pertumbuhan rambut, nafsu makan yang baik dan hewan bebas dari caplak.
Klasterisasi Babi yang Dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran berdasarkan Bobot Badan Maheswari, Ni Putu Permata Dewi; Sampurna, I Putu; Sukada, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan babi yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran berdasarkan bobot badan. Bobot badan babi menjadi salah satu hal yang penting, sebab bobot badan menentukan harga jual daging babi. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran langsung bobot badan babi dan melakukan pendataan terhadap jenis kelamin, jenis babi, pakan, sistem pemeliharaan, umur, dan daerah asal babi tersebut. Data yang diperoleh dianalisis dengan deskriptif distribusi frekuensi kuantitatif, dilanjutkan dengan analisis klaster hierarki, dan dijelaskan dalam bentuk tabel keanggotaan klaster. Hasil penelitian terhadap 220 ekor babi yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran diperoleh rata-rata bobot badan sebesar 109,64 ± 17,053 kg dan berdasarkan distribusi frekuensi komulatif, sebaran data tersebut masuk ke dalam kategori sebaran normal dan tidak ada faktor dominan yang memengaruhi variasi bobot badan babi tersebut. Dapat disimpulkan bahwa klaster bobot badan babi yang dipotong di Rumah Pemotong Hewan Pesanggaran diperoleh hasil lima keanggotaan klaster dan kelima keanggotaan klaster tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin dan daerah asal babi termasuk jenis babi, umur, pakan, serta sistem pemeliharaan.
Laporan Kasus: Anemia Mikrositik Hipokromik pada Anjing yang Terinfeksi Tungau Sarcoptes sp. secara General Rumpaisum, Natalia Irene; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.255

Abstract

Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi tungau Sarcoptes sp. Tujuan penulisan artikel ini untuk memberikan informasi mengenai dampak dari infeksi skabies pada anjing yang menyebabkan anemia mikrositik hipokromik serta pengobatan dan penanganan yang tepat diberikan kepada anjing kasus skabies. Seekor anjing kasus berjenis kelamin jantan, dan berumur empat tahun, dengan bobot badan 9,4 kg dan memiliki masalah kulit berupa eritema pada bagian telinga, hiperkeratosis pada bagian kepala, kaki depan, abdomen, hiperpigmentasi, squama, skar, krusta dan alopesia. Masalah kulit pada anjing telah berlangsung selama delapan bulan sebelum dilakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan kerokan kulit dengan metode superficial skin scraping ditemukan adanya larva tungau Sarcoptes sp dan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hipokromik, neutofilia dan limfositopenia. Berdasarkan serangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan, hewan didiagnosis menderita infeksi skabiosis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin 0,2 mL dan sabun belerang/sulfur sebagai terapi kausatif. Chlorpheniramine maleate (CTM) satu tablet dan hematodin 1,8 mL sebagai terapi simptomatik, minyak ikan/fish oil satu kapsul sebagai terapi suportif memberikan hasil yang baik dengan ditandai perubahan pada area lesi yang menunjukkan kesembuhan. Pengobatan yang telah dilakukan selama 42 hari menunjukan kondisi anjing mengalami kesembuhan ditandai dengan hilangnya squama, crusta, eritema, hiperkeratosis pada daerah punggung, wajah, telinga, leher, kaki depan, kaki belakang, pelvis dan rambut anjing tumbuh kembali normal.
Prevalensi Infeksi Strongyloides sp. pada Sapi Bali di Mengwi Badung dan Baturiti Tabanan, Provinsi Bali Suastini, Ni Ketut; Apsari, Ida Ayu Pasti; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi Strongyloides sp. pada sapi bali di dataran rendah basah (Kecamatan Mengwi Badung) dan dataran tinggi basah (Kecamatan Baturiti Tabanan) Provinsi Bali. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 300 sampel, 150 berasal dari dataran rendah basah dan 150 berasal dari dataran tinggi basah. Sampel diperiksa dengan metode pengapungan menggunakan larutan gula jenuh sebagai larutan pengapung. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif menunjukkan prevalensi infeksi Strongyloides sp. pada sapi bali di Provinsi Bali sebesar 5% (15/300) yang berasal dari dataran rendah basah 2,7% (4/150) dan tinggi basah 7,3 % (11/150). Hasil analisis dengan uji chi-square, menunjukkan umur berhubungan dengan prevalensi infeksi Strongyloides sp. sedangkan jenis kelamin dan ketinggian wilayah tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi Strongyloides sp.
Laporan Kasus: Rhinitis Infeksi Bakteri pada Kucing Peliharaan Taruklinggi, Utari Resky; Suartha, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.316

Abstract

Seekor kucing lokal betina bernama Calico berumur 1,5 tahun dengan bobot 2,5 kg diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan anamnesis, kucing menunjukan bersin-bersin dan mengeluarkan leleran hidung dari kedua lubang hidung sejak berumur tiga bulan. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan terdapat bercak leleran hidung yang mengering pada kedua lubang hidung dan pemeriksaan sinar X menunjukkan adanya gambaran radiopaque pada rongga hidung. Pemeriksaan ulas leleran hidung berhasil diidentifikasi bakteri Klebsiella sp. dan Staphylococcus sp. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan kucing kasus mengalami leukositosis dan limfositosis. Kucing didiagnosis menderita rhinitis infeksi bakteri dengan prognosis fausta dari rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan. Terapi yang diberikan pada kucing kasus terdiri dari antibiotik cefixime (sediaan 100 mg, dosis 10 mg/kg bobot badan (BB), diberikan per oral (PO) dua kali sehari selama 10 hari) antiinflamasi meloxicam (sediaan 7,5 mg, dosis 0,1 mg/kg BB, diberikan PO satu kali sehari selama empat hari) dan imunomodulator Echinacea purpurea (sejumlah 2 mL, diberikan PO satu kali sehari selama 10 hari). Hasil pengobatan selama 10 hari menunjukkan terjadi perubahan leleran hidung yang tadinya berupa purulen menjadi serous serta frekuensi bersin berkurang yang menandakan kucing mulai membaik.
Salep Ekstrak Daun Kersen Menurunkan Kadar Gula Darah dan Migrasi Sel Polimorfonuklear pada Mencit Hiperglikemi Ginting, Gerda Ivana Niniarta; Jayawardhita, Anak Agung Gde; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.211

Abstract

Luka penderita hiperglikemia digolongkan sebagai luka kronis. Dalam tubuh terdapat sistem imun yang dapat melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh yaitu sel-sel leukosit. Penyembuhan luka dapat dilakukan dengan pengobatan tradisional seperti penggunaan salep ekstrak daun kersen. Daun kersen (Muntingia calabura L) diketahui memiliki beberapa kandungan senyawa yang berfungsi sebagai antidiabetik dan antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salep ekstrak daun kersen terhadap kadar glukosa darah dan jumlah sel polimorfonuklear. Objek penelitian menggunakan mencit (Mus musculus) berjumlah 24 ekor yang dibuat hiperglikemi dengan diinduksi aloksan dengan dosis 150 mg/kg BB, kemudian dilakukan insisi dan diberi perlakuan salep ekstrak etanol daun kersen konsentrasi 30%, 40% dan 50% pada luka insisi mencit. Kemudian dilakukan pengukuran kadar glukosa darah serta jumlah sel polimorfonuklear yang diamati melalui mikroskop. Hasil data penelitian ini menggunakan analisis data uji Parametrik metode One Way Anova, kemudian bila terjadi perbedaan maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Namun jika data tidak terdistribusi normal, maka data dianalisis menggunakan uji Non Parametrik metode Kruskal Wallis. Hasil yang didapat bahwa salep ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 30%, 40%, dan 50% berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah serta dengan konsentrasi 40% dan 50% secara topikal berpengaruh terhadap penurunan migrasi sel polimorfonuklear (PMN).

Page 1 of 2 | Total Record : 16