cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 8 (1) 2019" : 14 Documents clear
Penambahan Tepung Temulawak dalam Pakan Meningkatkan Respon Imun Ayam Pedaging Pascavaksinasi Flu Burung Pratiwi, Ni Made Diah Kusuma; Ardana, Ida Bagus Komang; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.841 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.72

Abstract

Flu burung merupakan penyakit viral pada unggas yang bersifat zoonosis, akut, dan mematikan yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Masalah yang sering terjadi saat vaksinasi, tidak semua vaksin akan menghasilkan titer antibodi yang tinggi akibat berbagai sebab. Oleh karena itu diperlukan penggertak sistem imun (immunomodulator) tambahan. Salah satu senyawa dalam tanaman yang bersifat immunomodulator adalah kurkuminoid yang banyak terkandung pada temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.). Penelitian ini menggunakan 24 ekor ayam pedaging umur 14 hari yang dibagi menjadi 4-empat kelompok, yaitu kelompok kontrol (P0), kelompok yang diberikan penambahan tepung temulawak 10 g/kg pakan (P1), penambahan tepung temulawak 20 g/kg pakan (P2), penambahan tepung temulawak 30 g/kg pakan (P3). Pengambilan sampel darah dilakukan satu kali yaitu pada umur 25 hari. Pemeriksaan titer antibodi AI dilakukan dengan uji serologi Haemaglutination Inhibition (HI). Titer antibodi selanjutnya dianalisis menggunakan uji sidik ragam, dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian didapatkan titer antibodi 5,6 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 10 g/kg pakan), 5,8 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 20 g/kg pakan) dan titer antibodi tertinggi yaitu 6 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 30 g/kg pakan), hal ini menunjukkan bahwa penambahan tepung temulawak pada pakan dapat meningkatkan titer antibodi pascavaksinasi (P<0,05).
Perbedaan Morfometri Anjing Kintamani Bali yang Dipelihara di Kabupaten Bangli dan Kota Denpasar Amalia, Ainun Rizki; Suatha, I Ketut; Suartini, I Gusti Ayu Agung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.544 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.119

Abstract

Anjing kintamani bali merupakan anjing asli Indonesia dengan ciri khas uniknya yaitu gumba, badong, dan ekor yang seperti sabit serta tubuh yang tegap dan seimbang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfometri anjing kintamani bali jantan dan betina umur 6 - 18 bulan yang dipelihara di Kabupaten Bangli dan Kota Denpasar. Anjing kintamani bali yang digunakan sebanyak 32 ekor dan dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin (jantan dan betina), tempat asal (Kabupaten Bangli dan Kota Denpasar), dan umur (6 - 12 bulan dan 12 - 18 bulan). Variasi morfometri dari panjang tubuh, tinggi kaki belakang, tinggi kaki depan, panjang kepala, panjang nasale, jarak panggul, jarak sudut mata, dan lingkar dada diukur menggunakan pita ukur. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfometri anjing kintamani bali yang dipelihara di Kabupaten Bangli dan Kota Denpasar tidak berbeda nyata (P>0,05) dan anjing kintamani bali antara jantan dan betina berbeda nyata (P<0,05) pada panjang kepala dan panjang tubuh tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) pada variabel yang lain.
Studi Kasus: Paralisis pada Anjing Shih-tzu yang Diduga Terinfeksi Virus Distemper Anjing Gurning, Santri Devita Sari; Widyastuti, Sri Kayati; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.657 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.34

Abstract

Canine Distemper Virus (CDV) merupakan virus RNA beramplop, genus Morbilivirus dari famili Paramyxoviridae. Anjing Shih-tzu yang dijadikan kasus berumur dua tahun, dilaporkan mengalami kelumpuhan sejak dua bulan yang lalu. Anjing pernah didiagnosis CDV dengan gejala letargi, anoreksia, demam, batuk, keluar eksudat berlebih dari hidung dan mata. Anjing tahan terhadap infeksi awal CDV, dan beberapa minggu setelah infeksi, anjing menunjukkan gejala saraf. Berdasarkan riwayat penyakit, tanda klinis dan pemeriksaan darah anjing kasus terindikasi mengalami leukopenia, limfopenia, dan anemia, hewan kasus didiagnosis mengalami paralisis akibat ikutan penyakit distemper anjing. Terapi yang diberikan berupa terapi simptomatis dan supportif dengan pemberian infus NaCl fisiologis sebanyak 870 ml/hari selama 3 hari, injeksi Neurotropic® dengan dosis 0,5 ml sekali pemberian, injeksi Amoxycillin 10% dosis 0,5 ml sekali pemberian, serta antibiotik tabur (Enbatic®) yang ditaburkan pada kulit yang mengalami ulserasi sekali sehari sampai sembuh. Anjing dievaluasi tujuh hari kemudian dan tidak ditemukan tanda-tanda pemulihan dari gejala saraf namun kulit yang mengalami ulserasi terlihat membaik. Evaluasi dihari ke-14 juga tidak banyak perubahan, bekas ulserasi kulit yang tampak memudar. Pada hari ke-28 hewan beberapa kali mengalami epistaksis kemudian mati di hari berikutnya.
Studi Kasus : Babesiosis Pada Anjing Persilangan Paramita, Ni Made Diana Pradnya; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.983 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.79

Abstract

Babesiosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh Babesia sp dan didistribusi didalam sirkulasi darah. Babesiosis pada anjing disebabkan oleh Babesia canis (subfilum: apicomplexa, ordo: piroplasmida, genus: babesia, spesies Babesia canine) yang diperantai oleh caplak (tick-borne) yaitu caplak-anjing coklat Rhipicephalus sanguineus sebagai vektor utama. Hasil pegamatan ditemukan kasus babesiosis pada anjing campuran pom dan peking, berjenis kelamin jantan usia 8 bulan di Denpasar, Bali. Tanda klinis yang tampak dari infeksi Babesia sp pada anjing kasus yaitu nafsu makan berkurang, haemoglobinuria dan terdapat eritema pada bagian abdomen. Pada hasil pemeriksaan darah lengkap didapatkan interpretasi bahwa anjing mengalami anemia normositik hiperkromik leukositosis, limfositosis, dan eosinophilia. Pemeriksaan ulas darah tipis teramati adanya agen Babesia. Anjing ini diterapi dengan pemberian Antibiotik clindamycin (10mg/kg BB, q: 12 jam, PO) dua kali sehari selama dua minggu, dan terapi suportif menggunakan livron B-pleks untuk meningkatkan daya tahan tubuh diberikan selama 7 hari. Hasil evaluasi terhadap anjing penderita menunjukan baha dalam waktu 4 hari nafsu makan hewan kasus sudah kembali normal dan memerlukan waktu 14 hari sampai menunjukan tanda-tanda perbaikan klinis.

Page 2 of 2 | Total Record : 14