cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 64 Documents
Search results for , issue "2017: SEMINAR NASIONAL " : 64 Documents clear
CITRAAN BAHASA INDONESIA DALAM KAMPANYE POLITIK Murdiyanto Murdiyanto
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan model bahasa yang digunakan oleh caleg guna mendulang suara rakyat  agar memilih dirinya. Bahasa merupakan instrument pokok untuk menceritakan realitas. Pemaknaan citra merupakan hal  yang abstrak. Citra tidak dapat diukur secara  sitematis tetapi wujudnya bisa dirasakan baik positif maupun negatif. Penerimaan dan tanggapan baik positif maupun negatif  tersebut datang dari publik  atau khalayak sasaran masyarakat. Citra terbentuk atas proses akumulasi dari tindakan maupun perilaku individu yang kemudian mengalami suatu proses untuk terbentuknya opini publik yang luas. Pencitraan pada diri seorang tokoh populer (Public  figure) terbentuk oleh pencitraan diri  yang sengaja diolah sedemikian rupa dengan harapan mendapat citra positif di mata publik atau masyarakat luas. Keberagaman latar belakang, status sosial dan ekonomi, perbedaan pengalaman, serta aspek-aspek lain dapat mempengaruhi pemaknaan akan pencitraan yang dibangun oleh caleg. Melalui iklan kampanye, caleg membangun realitas atas dirinya. Realitas itu dibangun melalui pencitraan, baik secara objektif maupun  secara subjektif. Bahasa pencitraan dipakai sebagai strategi menanamkan idelogi yang dilakukan oleh caleg dapat dilihat pada bentuk-bentuk  formal teks. Pencitraan  caleg ditemukan baik pada level leksikal maupun dalam level gramatika. Kata Kunci: Pencitraan, bahasa Indonesia, dan kampanye politik caleg.
LEKSIKON SAPAAN ISOLEK GOROM (LSIG) DI KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR: KAJIAN DIALEK SOSIAL Iwan Rumalean
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolek Gorom (IG) sebagai local wisdom perlu dikembangkan, sehingga bermanfaat bagi penggunanya dalam era global, dan dapat pula memperkayah khasanah kosakata bahasa Indonesia. Penelitian LSIG bertujuan mendeskripsikan leksikon sapaan, dengan menggunakan pendekatan dialek sosial. Lokasi penelitian di Kepulauan Gorom dengan 5 daerah pengamatan (DP). DP-1 Dusun Dada, DP-3 Negeri Ondor, dan DP-5 Dusun Wawasa Kecamatan Pulau Gorom, DP-2 Negeri Lalasa Kecamatan Pulau Panjang, DP-4 Negeri Kilkoda Kecamatan Gorom Timur. Sumber data 10 orang yang diambil dari setiap DP dua orang. Data penelitian berupa kosa kata dasar yang mencirikan LSIG. Teknik pengumpulan data: pencatatan, perekaman, simak, dan cakap. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan metode triangulasi. Tahapan analisis data yaitu memilah, mengedit, mentranskripsi, mengelompokkan berdasarkan tipe dan kekhasan LSIG. Temuan LSIG: (1) leksikon sapaan nama diri (LSND): (a) Arobi, (b) Bini, (c) LSND + Julukan, dan (d) LSND + nama keluara; (2) leksikon sapan kekerabatan (LSK): (a) kekerabatan langsung, dan (b) kekerabatan tidak langsung; (3) leksikon sapaan gelar (LSG): (a) leksikon sapaan gelar PNS (LSGPNS), (b) leksikon sapaan gelar wiraswasta (LSGWs, (c) leksiokon sapaan gelar pemerintahan adat (LSGPA), dan (d) leksikon sapaan gelar keagamaan (LSGK); (4) leksikon sapaan kata ganti diri (LSKGD): (a) kata ganti diri orang pertama (KGD1), (b) kata ganti diri orang kedua (KGD2), dan (c) kata ganti diri orang ketiga (KGD3).Kata Kunci: Leksikon Sapaan, Isolek Gorom, Dialek Sosial
LOKALITAS DAN KECERDASAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Asep Yusup Hudayat
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap suku bangsa memiliki nilai-nilai kerifan lokal yang terkandung di setiap sendi kehidupan tradisonalnya. Penerapan nilainilai kearifan di era global tentu menjadi sangat penting dalam upaya memperkuat karakter bangsa.  Nilai-nilai kearifan lokal  menyangkut silih asah, silih asih, dan silih asuh yang merupakan warisan kecerdasan budaya leluhur bangsa Indonesia akan menempati fungsi nyatanya dalam geliat globalisasi. Menyangkut penerapan nilai yang dimaksud, kecerdasan budaya „cultural intelligence‟ menjadi penting untuk diberdayakan dalam pengajaran bahasa dan sastra yang dimungkinkan peserta didiknya berlatar belakang budaya heterogen sehingga penerapan pembelajaran berbasis kecerdasan budaya menjadi sangat penting. Makalah ini memusatkan perhatian kepada penjejakan andil nilai-nilai kearifan lokal berbasis kecerdasan budaya dalam pembentukan karakter peserta didik. Tujuan utama makalah ini adalah memetakan secara konseptual makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilai-nilai kearifan lokal untuk menakar identitas bangsa. Menurut Barker (2005: 15)  identitas itu diciptakan dan bukan ditemukan dan terbentuk dari representasirepresentasinya. Dengan demikian, identitas kebangsan yang dapat dijejak melalui nilai-nilai kearifan lokal pun berada dalam kapasitas pengkonstruksiannya secara kultural. Identitas pun terbentuk melalui representasi-representasinya. Metode yang digunakan dalam kepentingan menjejak andil nilai-nilai kearifan lokal tersebut adalah metode dialektika. Hasil yang diharapkan dari makalah ini adalah pemetaan makna-makna hubungan kecerdasan kultural dengan nilainilai kearifan lokal melalui ekspresi dan sumber-sumber maknanya. Kata Kunci: lokalitas, kecerdasan budaya, identitas, pendidikan karakter 
PEMBENTUKAN KARAKTER KRITIS DAN KREATIF MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA DAN KETELADANAN GURU BAHASA Agustinus Indradi Agustinus Indradi
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perkembangan dunia yang begitu pesat, dibutuhkan orang-orang yang memiliki karakter kritis dan kreatif. Pembentukan kedua karakter tersebut bisa dikembangkan melalui proses pendidikan, yang salah satunya melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karakter kritis dan kreatif siswa bisa dikembangkan melalui proses pembiasaan, baik melalui pembelajaran maupun pemerolehan. Proses pembelajaran terjadi secara sengaja di dalam kelas, sedangkan proses pemerolehan terjadi secara alami melalui apa yang dilihat siswa pada gurunya. Sama halnya dengan orang yang belajar bahasa, apa yang didapat melalui pemerolehan akan lebih membekas daripada yang didapat melalui pembelajaran. Pembelajaran membaca dan menulis bisa dipakai sebagai sarana mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Pembelajaran membaca bisa banyak membantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan pembelajaran menulis bisa banyak membantu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Tetapi apabila dalam pembelajaran menulis, guru tidak bisa berperan sebagai model yang bisa dijadikan teladan dalam hal menulis, kiranya kreativitas menulis dari siswa sulit untuk dikembangkan secara maksimal. Oleh karena itu, guru Bahasa Indonesia tidak cukup bisa menyampaikan teori bahasa dengan bagus, tetapi juga harus mampu menjadi model dalam menghasilkan karya tulis yang baik.Kata Kunci: pembelajaran, pemerolehan, karakter, kritis, kreatif
IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL DALAM TEKS BAHAN AJAR UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING N Rinaju Purnomowulan; Upik Rafida; Ida Farida Sachmadi
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran bahasa dan sastra untuk penutur asing pada dasarnya merupakan pergumulan antara budaya asing dan budaya sendiri. Target capaian kompetensi dalam kegiatan belajar mengajar seharusnya mampu memotivasi pembelajar untuk mengembangkan kreativitasnya dalam berkomunikasi dengan masyarakat dari ruang budaya bahasa yang dipelajarinya. Pada kenyataannya, alih-alih berhadapan dengan nilai-nilai yang terkandung di balik ungkapan bahasa, orang justru kerap terjebak pada pembelajaran aspek formal bahasa. Akibatnya, suasana belajar menjadi kurang menyenangkan dan kebutuhan pembelajar pun tidak terakomodir dengan baik. Padahal kehidupan di „desa global“ pada masa kini menuntut masyarakat untuk lebih terbuka dan toleran satu sama lain. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan perubahan pada proses belajar mengajar. Melalui penggunaan bahan ajar yang mengandung kearifan lokal dan metode pembelajaran berorientasi tindakan dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan dialog antarbudaya akan terbangun. Hal itulah yang dapat menstimulasi pembelajar untuk berkonfrontasi secara kritis dengan budaya asing dan dirinya sendiri. Dan pada akhirnya mereka akan mampu melihat dan merasakan bahwa di antara budaya asing dan budayanya sendiri terdapat kesamaan atau kemiripan.Kata Kunci: pergumulan budaya, nilai-nilai budaya, bahan ajar, dialog antarbudaya
MENIMBANG SUARA LOKAL-GLOBAL Novi Anoegrajekti
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sastra Jember memiliki kekhasan tersendiri, bersifat kerakyatan dan memiliki kebebasan dalam berekspresi dan penyebarannya dominan secara lisan. Perkembangannya menempuh dua jalur, pertama: secara lisan murni seperti yang terlihat dalam komunikasi langsung; dan kedua melalui media setengah lisan, yaitu sastra yang penyebarannya menggunakan alat bantu musik seperti, kesenian lengger. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif, karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Melalui kajian hibriditas kritis –konsep hibriditas menunjukkan bahwa setiap proses budaya mengandung percampuran dan interaksi lintas batas. Tidak ada suatu kebudayaan yang sepenuhnya asli dan murni, dikotomi dapat diatasi dengan mengkaji dengan bagaimana kreativitas lokal berdialog. Tulisan ini menekankan bagaimana mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal diera global. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan multidisiplin, model tersebut diharapkan mampu mengembangan industri kreatif di wilayah lokal. Kajian ini bertolak dari semakin menguatnya identitas lokal dalam setiap kebudayan. Munculnya pluralitas budaya, heterogenitas, dan etnisitas membuat pemerintah daerah menciptakan identitas daerahnya. Kata Kunci: cerita rakyat, kontestasi, pluralitas budaya, identitas 
IDENTITAS KE-INDONESIAAN DALAM PANYANDRA BENTUK TUBUH INDAH MASYARAKAT JAWA Agustina Dewi S.
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Jawa merupakan salah satu bagian dari pembentuk identitas ke-Indonesiaan. Dengan berbagai etnis yang ada di Indonesia tentu bahasa yang digunakan untuk melukiskan sesuatu juga berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Demikian juga dengan Masyarakat Jawa yang merupakan bagian dari etnis yang ada di Indonesia. Menurut Masyarakat Jawa, berbagai macam keindahan tubuh manusia khususnya tubuh perempuan perlu dilukiskan/ dicandra dengan bahasa. Pelukisan keindahan bentuk tubuh perempuan pada Masyarakat Jawa dilakukan dengan membandingkannya dengan flora dan fauna yang ada di sekitarnya. Istilah-istilah yang digunakan dalam panyandra ini sangat dipengaruhi oleh pola pikir Masyarakat Jawa yang merupakan bagian dari identitas Ke-Indonesiaan. Masyarakat Indonesia pada umumnya dan Masyarakat Jawa pada khususnya adalah masyarakat agraris yang sangat dekat dengan dunia pertanian. Hal ini kemudian mempengaruhi pemakaian bahasa khususnya pada pemakaian bahasa panyandra pada Masyarakat Jawa ini. Metode etnosemantik merupakan metode yang akan dipergunakan dalam analisis ini. Etnosemantik merupakan metode yang memadukan analisis etnografi dengan semantik. Dengan etnosemantik tersebut diharapkan panyandra dapat dianalisis berdasarkan kacamata kearifan lokal masyarakat setempat di era global yang semuanya telah dibawa pada cita rasa dan cara pandang yang sama. Kata Kunci: Panyandra, Identitas ke-Indonesiaan, masyarakat Jawa, dan etnosemantik
PENGEMBANGAN SIKAP BAHASA MELALUI PENDIDIKAN FORMAL: RESPON TERHADAP PEMINATAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASING Arju Muti‟ah
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin meluasnya minat masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia tentu patut kita apresiasi karena hal tersebut menandakan bahasa Indonesia telah diperhitungkan sebagai salah satu bahasa yang penting dalam konteks komunikasi global. Namun demikian, kita perlu lebih cermat dalam melihat motif dari peminatan terhadap bahasa Indonesia tersebut. Bahasa Indonesia dipelajari karena kebutuhan mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Fenomena tersebut tentu akan diikuti masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia , lebih-lebih pasar bebas di kawasan Asia telah terbuka lebar. Bahasa Indonesia juga dipelajari untuk mendapatkan wawasan yang komprehensif tentang Indonesia. Kondisi ini tidak didukung oleh sikap yang positif sebagian masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Melalui pendekatan interdisipliner dilakukan kajian deskriptif evaluatif dengan tujuan menyajikan gambaran sikap bahasa masyarakat Indonesia di tengah semakin meluasnya minat dan perhatian masyarakat dunia terhadap bahasa Indonesia beserta gagasan pengembangan sikap bahasa melalui pendidikan formal sebagai upaya antisipatif dalam merespon dampak perluasan peminatan tersebut. Lembaga pendidikan formal, dalam hal ini sekolah dan perguruan tinggi, dipandang sebagai tempat yang tepat bagi pengembangan sikap bahasa. Upaya pengembangan ini dapat ditempuh melalui optimalisasi peran dan partisipasi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program sekolah. Kata Kunci: sekolah, sikap bahasa, bahasa Indonesia, bahasa nasional, masyarakat dunia 
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARYA ILMIAH MAHASISWA PROGRAM JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL (JTD) MELALUI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) Mujianto Mujianto; Zubaidi Zubaidi; Yusuf Suprapto YM
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa Prodi JTD Polinema dalam menyusun karya ilmiah melalui model PBL. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dan desain penelitian berbentuk PTK. Data penelitian berupa pelaksanaan pembelajaran peningkatan kemampuan menyusun karya ilmiah melalui model PBL, baik yang berupa data proses maupun data produk pembelajaran. Data tersebut diperoleh dengan teknik observasi, angket, dan studi dokumentasi. Data dianalisis melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan, model PBL, inovasi pembelajaran pada era global, dapat meningkatan kemampuan menyusun karya ilmiah bagi mahasiswa Prodi JTD Polinema. Peningkatan kemampuan menyusun karya ilmiah ini dapat dilihat dari segi proses maupun produk pembelajaran. Peningkatan dari segi proses tercermin pada peningkatan kualifikasi pembelajaran dengan indikator adanya peningkatan keantusiasan dan keaktifan mahasiswa, dari pembelajaran siklus I ke pembelajaran siklus II. Peningkatan dari segi produk tercermin pada peningkatan kualitas produk karya ilmiah mulai bagian awal, isi, notasi ilmiah, dan aspek mekanis penulisan dari siklus I ke siklus II.Kata Kunci: pembelajarn berbasis masalah, kualifikasi pembelajaran, hasil belajar
INFERENSI DAN PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN ANALISIS WACANA Surana Surana
FKIP e-PROCEEDING 2017: SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problematika Pembelajaran Inferensi terletak pada kemiripan istilah Inferensi dengan Presuposisi dan Implikatur dalam konteks Analisis Wacana. Inferensi atau Inference secara leksikal berarti kesimpulan. Dalam bidang wacana, istilah tersebut memiliki arti sebuah proses yang harus dilakukan pembaca atau pendengar untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat didalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis. Pembaca harus dapat mengambil pengertian, pemahaman, atau penafsiran suatu makna tertentu dan harus sesuai dengan pemahaman penulis/pembicara. Dengan kata lain, pembaca harus mampu mengambil kesimpulan sendiri. Sedangkan Presuposisi atau praanggapan penggunaannya juga ditujukan kepada pendengar yang menurut pembicara, memiliki pengetahuan seperti yang dimiliki pembicara. Adapun Implikatur mengindikasikan implikasi dari sebuah percakapan yang dapat bermuara dan bertautan dengan Inferensi-Presuposisi. Hal yang lebih mendukung penafsiran makna yang terdapat pada unsur wacana, lebih tepatnya konteks wacana yang mendukung teks wacana. Presuposisi lebih didukung dan ditentukan oleh unsur internal dari wacana. Jadi, Unsur internal wacana menentukan dan mendukung penafsiran makna suatu wacana. Sedangkan, implikatur diartikan sebagai maksud yang tersembunyi, yang diambil dari proses penyimpulan dan penafsiran yang kebenarannya tidak mutlak. Mengingat dasar penyimpulan suatu tuturan yang memiliki banyak kemungkinan.  Kata Kunci: Inferensi, Problematika Pembelajaran, AnalisisWacana