cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Energi Dan Manufaktur
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23025255     EISSN : 25415328     DOI : -
"Jurnal Energi dan Manufaktur" is a journal published by Department of Mechanical Engineering, University of Udayana, Bali since 2006. During 2006-2011 the journal's name was "Jurnal Ilmiah Teknik Mesin CAKRAM" (Scientific journal in mechanical engineering, CAKRAM). "Jurnal Energi dan Manufaktur" is released biannually on April and October, respectively. We invite authors to submit papers from experimental research, review work, analytical-theoretical study, applied study, and simulation, in related to mechanical engineering (energy, material, manufacturing, design) to be published through "Jurnal Energi dan Manufaktur".
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 2 (2019)" : 12 Documents clear
Redesain Meja Cetakan Mesin 3D Printer Berbasis Fused Deposition Modelling Sally Cahyati; Dhifan Putra Mulianto
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.412 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p09

Abstract

Mesin 3D printer adalah mesin pembuat suatu model 3D. Metode mesin 3D printer yang digunakan pada Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti adalah metode FDM (Fused Deposition Modelling). Diketahui adanya ketidak stabilan pada meja cetakan mesin 3D printer pada saat proses produksi dilakukan. Ketidak stabilan meja cetakan mesin 3D printer, menyebabkan tidak maksimalnya produk yang dihasilkan. Terdapat perbedaan antara hasil produk dengan bentuk produk yang telah di desain sebelumnya. Setelah diteliti lebih lanjut, ketidak rataan pada meja disebabkan pada pengaturan meja cetakan yang kurang sesuai. Hasil dari redesain dapat menstabilkan meja cetakan dan memudahkan untuk melakukan kalibrasi dan pengaturan pada meja cetakan mesin 3D printer. Hal ini terbukti ketelitian dimensi produk hasil cetakan yang meningkat dari penyimpangan terbesar 0,037 mm menjadi 0,069 mm, yang diukur dengan proyektor profil yang mempunyai kecermatan 1 mikrometer. 3D Printer Machine is a 3D shaped model making machine. The method of 3D printer machine used by the faculty OF Industrial Technology of Trisakti University is FDM (Fused Deposition Modelling) method. There is known unevenness on the build plate of 3D printer machines during the production process. The unevenness that appears on the objects makes the build plate used by the 3D printer engine unstable. This causes the product to be produced not maximal. There is a difference in shape between product results and previous product design. After further investigation, the unevenness of the table was caused by the improper arrangement of the printed table. The results of the redesign will stabilize the print table and make it easier to calibrate and adjust the print table of the 3D printer machine. This proven that precision of product dimension increase from 0,037 mm deviation to 0,004 mm, its measured with a profile projector has 1 micrometer resolution.
Usulan Penjadwalan Job Machine Seri Menggunakan Metode Campbell Dudek Smith (CDS) untuk Meminimasi Makespan di UD. Wira Vulkanisir Tengku Nurainun; Wira Oktiandri
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.928 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p03

Abstract

Dalam perkembangan industri saat ini yang terus maju maka setiap perusahaan dituntut untuk dapat bersaing dan mempunyai strategi yang tepat agar tidak ketinggalan dari perusahaan pesaing yang lainnya. Strategi dari perusahaan itu sendiri bermacam-macam, dapat berupa peningkatan kualitas, ketepatan waktu penyelesaian suatu pekerjaan dan lain sebagainya. UD. Wira Vulkanisir merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang vulkanisir ban, dengan jenis sistem produksi yang diterapkan yaitu MTO (Make To Order) dimana perusahaan ini sering mengalami keterlambatan dalam pengirim kepada konsumen, yang tentunya berdampak terhadap performa perusahaan itu sendiri. Penjadwalan dengan menggunakan metode CDS pada bulan maret 2019 mengahsilkan urutan job 9-8-7-6-3-4-2-5-1 dengan makespan sebesar 284,49 jam dimana metode ini lebih optimal dibandingkan dengan metode aktual perusahaan dengan selisih makespan sebesar 17,29 jam.Dari hasil penjadwalan menggunakan metode CDS dapat mempercepat proses produksi sebesar 5,6% di bandingkan penjadwalan perusahaan saat ini. Oleh karena ini itu, penajdwalan menggunakan metode CDS dapat di pertimbangkan oleh perusahaan untuk di terapkan di lantai produksi. In an industry scheduling is a very important thing to support the productivity of a company. Therefore, to meet customer demand and satisfaction, a scheduling system that is properly planned, effective and efficient is needed. UD. Wira Vulkanisir is a company engaged in tire retreading, with the type of production system being applied, namely MTO (Make To Order) where the company often experiences delays in the sender to consumers, which of course has an impact on the performance of the company itself. Scheduling using the CDS method in March 2019 produces a sequence of jobs 9-8-7-6-3-4-2-5-1 with makespan of 284.49 hours where this method is more optimal than the actual method of the company with a difference of makespan of 17.29 hours. From the results of scheduling using the CDS method it can speed up the production process by 5.6% compared to the current company scheduling. Because of this, the prediction of using the CDS method can be considered by the company to be applied on the production floor.
Perancangan Lemari Buku Perpustakaan Bagi Penyandang Tunadaksa Dan Tunanetra Nofirza Nofirza; Keke Agnes Faulian; Misra Hartati; Ismu Kusumanto
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.072 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p04

Abstract

Berdasarkan hasil data yang di peroleh dari SLB Negeri Pembina Pekanbaru jumlah penyandang tunadaksa dan tunanetra dari jenjang pendidikan sekolah dasar sampai sekolah menengah atas yaitu sebanyak 18 orang. Membaca merupakan salah satu sarana yang dapat dijadikan metode untuk mengasah kemandirian setiap penyandang disabilitas terutama penyanang tunadaksa dan tunanetra. Untuk itu sangat di perlukan sarana dan prasarana yang mendukung seerti lemari buku, buku bacaan, meja dan kursi. Namun, saat ini fasilitas yang tersedia belum memenuhi criteria yang sesuai dengan kondisi penyandang tunadaksa dan tunanetra sehingga perlu dilakukan kajian menggunakan Metode Kansei Engineering yang menterjemahkan perasaan pengguna ke dalam spesifikasi desain produk. Tujuan dilakukannya kajian ini untuk mempermudah penyandang tunadaksa dan tunanetra dalam menggunakan fasilitas perpustakaan terutama lemari. Hasil yang di peroleh dari penelitian ini yaitu untuk spesifikasi lemari tunadaksa adalah material triplek dengan warna coklat tua, bentuk lemari yang simple, dan di berikan diplay yang besar untuk memudahkan pemilihan buku dengan ukuran yang di gunakan adalah tinggi duduk 47 cm, tinggi mata duduk 36 cm, dan tinggi kursi roda yaitu 37 cm dengan ukuran akhir produk yaitu tinggi meja 67 cm dengan sisi lemari 48 cm. Sedangkan spesifikasi akhir lemari buku tunanetra adalah material triplek dengan warna coklat tua, bentuk lemari yang simple, dan di berikan diplay berupa huruf Braille dengan ukuran tinggi lemari yaitu 117 cm. Based on the results of data obtained from the Pembina Pekanbaru SLB, the number of phisical disability and visually impaired connections from the level of primary to high school education is 18 people. Reading is one of the tools that can make a method to hone the independence of each disability, especially for the phisical disability and visually impaired. For this reason, there is a great need for support and infrastructure that supports such as book cabinets, reading books, tables and chairs. However, at present the available facilities do not meet the criteria that are in accordance with the requirements of the disabled and the blind need to be assessed using the Kansei Engineering Method which translates the user's feelings into product design specifications. The purpose of this discussion is to allow phisical disability and visually impaired people to use special library facilities for cabinets. The results obtained from this study are for the specifications of the quadrilateral cupboard are plywood material with dark brown color, a simple cupboard shape, and a large display is provided to facilitate the selection of books with a size that is 47 cm high, 36 cm high, and wheelchair height is 37 cm with the final size of the product, which is a table height of 67 cm with a side cabinet of 48 cm. While the final specifications of the blind bookshelf are plywood material with dark brown color, a simple cupboard shape, and played in the form of Braille letters with a cupboard height of 117 cm
Optimasi Multirespon Proses Wire Electrical Discharge Machining untuk Pengerjaan Komponen Punch and Dies Bracket Konstruksi Kapal Alumunium Fipka Bisono; Dhika Aditya P.
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.641 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p11

Abstract

Wire electrical discharge machining(WEDM) banyak digunakan untuk proses pembuatan punch and dies. Dimana material yang digunakan memiliki tingkat kekerasan yang sangat tinggi. Parameter pemesinan yang kurang tepat dapat menyebabkan hasil pemotongan yang tidak optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengoptimalkan beberapa karakteristik hasil proses pemesinan secara serentak dengan cara mevariasikan variabel-variabel proses pemesinan WEDM. Karakteristik hasil proses yang diteliti antara lain adalah lebar pemotongan, kekasaran permukaan, dan tebal lapisan white layer. Proses pemesinan dilakukan pada material tool steel SKD 11. Arc on time, on time, open voltage dan servo voltage merupakan variabel-variabel proses yang akan divariasikan. Rancangan percobaan dilakukan menggunakan metode Taguchi dengan matriks ortogonal L18(21x33) dengan dua kali replikasi. Sedangkan langkah yang digunakan untuk mengoptimasi karakteristik hasil proses pemesinan yang diteliti secara serentak adalah menggunakan metode grey relational analysis (GRA). Lebar pemotongan, kekasaran permukaan dan tebal lapisan white layer memiliki performance characteristics “smaller-is-better.” Hasil dari penelitian menunjukkan nilai variabel-variabel proses pemesinan yang menghasilkan kualitas karakteristik yang paling optimum adalah sebagai berikut: arc on time (1A), on time (4?s), open voltage (70V), dan servo voltage (40V). Dengan persentase kontribusi variabel proses dari yang terbesar berturut-turut adalah on time (65,09%), open voltage (11,35%), arc on time (7,71%), dan servo voltage (5,61%). Wire electrical discharge machining (WEDM) process is commonly used to make punch and dies. WEDM services are typically used to cut hard metals. Inappropriate machining parameters can cause suboptimal cutting results. This research was conducted to optimize several characteristics of the machining process simultaneously by varying WEDM machining process variables. Performance characteristics of the WEDM process include the kerf, surface roughness and thickness of the white layer. The machining process is carried out on SKD 11 tool steel material. Arc on time, on time, open voltage and servo voltage are process variables that will be varied. The experimental matrix design was carried out using the Taguchi method L18 (21x33) orthogonal array with two replications. Then to optimize the performance characteristics of the machining process simultaneously is using the Gray Relational Analysis (GRA) method. Performance characteristics of kerf, surface roughness, and thickness of the white layer is "smaller-is-better". The results of the experiment indicate the value of the machining process variables that produce the most optimum quality performance characteristics are as follows: arc on time (1A), on time (4?s), open voltage (70V), and servo voltage (40V). And the percentage of contribution of the process variables from the largest to smallest are as follows: on time (65,09%), open voltage (11,35%), arc on time (7,71%), and servo voltage (5,61%).
Perilaku Nonlinier Pipa Elbow Bertekanan dengan Beban Termal dan In-Plane Bending Nurcahya Nugraha; Asnawi Lubis; Ahmad Su’udi
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.704 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p06

Abstract

Pipa elbow adalah komponen yang penting pada sistem perpipaan. Pipa elbow memiliki fleksibilitas yang baik, sehingga dapat mengurangi tegangan akibat ekspansi termal. Beban yang diterima oleh pipa elbow adalah beban bending, beban termal dan tekanan internal. Beban bending menyebabkan ovalisasi pada pipa elbow. Jika tekanan internal ditambahkan, maka tekanan internal akan cenderung bertindak melawan efek yang disebabkan oleh beban bending dan menunjukkan perilaku nonlinear. Beban in-plane bending dan tekanan internal yang bekerja secara bersamaan pada ping elbow tidak menunjukkan perilaku nonlinier. Pada kondisi aktual, beban yang diterima oleh pipa elbow adalah beban termal yang memberikan efek cenderung sama seperti beban in-plane bending. Pada penelitian ini dilakukan analisis untuk menilai perilaku nonlinier pipa elbow yang diberikan beban termal dan tekanan internal dibandingkan dengan beban in-plane bending dan tekanan internal. Pada penelitian ini digunakan metode elemen hingga (ANSYS Mechanical APDL). Material yang dipakai adalah titanium alloy (Ti-6Al-4V) dan diasumsikan bersifat elastic-perfectly plastic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku nonlinier hanya terjadi pada pembebanan in-plane bending dan tekanan internal. Sedangkan pada pembebanan termal dan tekanan internal tidak terjadi perilaku nonlinier. Pada pembebanan termal, tekanan internal memberikan efek yang searah dengan perpindahan yang disebabkan oleh beban termal. Pada pembebanan in-plane bending, tekanan internal memberikan efek yang berlawanan dengan perpindahan yang disebabkan oleh beban in-plane bending. Tegangan akibat beban in-plane bending lebih besar dibandingkan beban termal. Tekanan internal meningkatkan tegangan yang disebabkan pembebanan termal dan mengurangi tegangan yang disebabkan pembebanan in-plane bending
Pengaruh Parameter Pemotongan Terhadap Kekasaran Permukaan Blok Head Pada Proses Frais I Gusti Komang Dwijana
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.866 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p10

Abstract

Teknologi Mesin Frais sudah dikenal dan biasa digunakan dunia industri besar maupun industri kecil, mesin ini biasaya digunakan untuk meratakan permukaan benda atau melubangi benda, dengan penyayatan mengunakan pisau frais atau mata bor. Blok head sepeda motor biasanya jika digunakan bertahun lamanya akan mengalami deformasi atau pembengkokan pada permukaan, sehingga kompresi pada sepeda motor akan menjadi bocor. Untuk memperbaikinya salah satu mesin yang dapat digunakan adalah mesin frais, diratakan kembali permukaan blok head yang bengkok. Untuk proses pengefraisan disini variasi yang digunakan adalah putaran spindle 300 rpm, dengan gerak makan 10 mm/menit, 15 mm/menit, 20 mm/menit dan kedalaman potong 0,1 mm, 0,2 mm, 0,3 mm. Hasil dari pengujian menunjukan bahwa tingkat kekasaran hasil pengfraisan yang paling kecil ada pada gerak makan 10 mm/menit dan kedalam potong 0,1 mm hasil yang di dapat 1.098 ?m. Milling Machine Technology is well known and commonly used in the world of large and small industries, this machine is usually used to flatten the surface of objects or pierce objects, by cutting using a milling knife or drill bit. Motorcycle head block usually if used for many years will experience deformation or bending on the surface, so that the compression on the motorcycle will leak. To fix it, one of the machines that can be used is a milling machine, flattened back the curved head block surface. For the process of refining here variation used is 300 rpm spindle rotation, with feeding motion of 10 mm / min, 15 mm / min, 20 mm / min and a cut depth of 0.1 mm, 0.2 mm, 0,3 mm. The results of the test showed that the smallest level of roughness of the results of refining was at a feed motion of 10 mm / min and into a 0.1 mm cut the results were 1.098 ?m.
Pengaruh Temperatur Aniling Material Mgalti Terhadap Media Penyimpan Hidrogen Sabtun Ismi Khasanah; Nandha Riveri Sesunan
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.014 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p07

Abstract

Hidrogen merupakan salah satu sumber energi alternatif di masa depan. Penyimpanan Hidrogen dalam bentuk solid state memiliki keunggulan daripada penyimpanan dalam bentuk gas dan cair. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh material MgAlTi dan temperatur aniling material (MgAlTi) hasil preparasi reactive mechanical alloying (RMA) terhadap sifat media penyimpan hidrogen. Penambahan paduan logam Al dan Ti pada paduan logam Mg dilakukan untuk memperbaiki sifat serapan Mg. Penelitian dilakukan dengan memadukan material Mg, Al dan Ti dengan komposisi berat berturut-turut 85, 15 dan 5 %. Ketiga logam dipadukan dengan teknik RMA. Persiapan pemaduan dilakukan dalam glove box yang dialiri gas argon untuk memastikan pengerjaan teknik RMA dalam keadaan inert. Pemaduan teknik RMA dilakukan selama 10 jam dengan dialiri gas Hidrogen. Selanjutnya, paduan Mg85Al15+Ti5 di anil dengan variasi temperatur pemanasan 300; 340; dan 380 °C. Karakterisasi struktur kristal, mikro dan termal uji diobservasi dengan menggunakan X-Ray Difraction, SEM-EDX dan Differential Scanning Calorimetry (DSC). Hasil analisis struktur kristal dan mikro sesudah di aniling menjadi homogen dan hasil ini menunjukkan bahwa temperatur optimum material penyimpan hidrogen terjadi pada temperatur 300 °C. Aktifitas katalis terhadap disosiasi ikatan Mg-H2 dapat menentukan penurunan temperatur desorpsi dibandingkan pengaruh temperatur aniling. Pemaduan teknik RMA pada paduan logam MgAlTi dapat meningkatkan sifat-sifat penyimpanan hidrogen. Hydrogen is an alternative energy source and it has advantages to storage the element in form of solid state compare gas and liquid. The study was conducted to analyse the effect of MgAlTi in aniling temperature used reactive mechanical alloying (RMA) for hydrogen storage. The experimental was carried out to improve the absorption Mg by combination of Mg, Al and Ti materials with 85, 15 and 5% weight composition. The preparation is carried out in the glove box which is flowed with argon gas to ensure the work of the RMA technique in an inert state. The RMA techniques is carried out for 10 hours with Hydrogen gas flowing. Thus, the Mg85Al15 + Ti5 alloy is annealed with a heating temperature variation of 300; 340; and 380 °C. Characterization of crystal structure, micro and thermal tests were observed using X-Ray Difraction, SEM-EDX and Differential Scanning Calorimetry (DSC). The results of analysis of the crystal and micro structures after aniling become homogeneous and this shows that the optimum temperature of the hydrogen storage material occurs at a temperature of 300 °C. Moreover, the catalyst activity against dissociation of Mg-H2 bonds can determine the decrease in desorption temperature compared to the effect of aniling temperature. The integration of RMA techniques in MgAlTi metal alloys can improve hydrogen storage.
ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS CACAT PRODUK KALENG TIPE TWO PIECE CANS 307 DI PT X DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA Qoyinul Amin; Dedi Dwilaksana; Nasrul Ilminnafik
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.888 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p01

Abstract

Pengendalian kualitas merupakan sebuah teknik yang dapat dilakukan mulai dari tahap sebelum proses produksi hingga proses produksi berakhir. Six sigma merupakan sebuah metodologi terstruktur untuk memperbaiki proses dengan menggunakan statistik dan problem solving tools secara intensif menuju target 3,4 kegagalan per satu juta kesempatan. PT. X bergerak di bidang industri pembuatan kaleng makanan dengan salah satu produknya adalah kaleng tipe two piece cans 307. Berdasarkan informasi perusahaan, pada proses produksi kaleng tipe tersebut seringkali ditemukan produk mengalami cacat yang merugikan perusahaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk meminimalkan cacat kaleng tipe tersebut dengan menggunakan metode six sigma. Hasil penelitian diketahui bahwa penyebab utama cacat adalah pekerja kurang teliti, setting clearence dies yang terlalu rapat, dies kemasukan afval, pisau press tumpul, bahan kotor dan rusak, perawatan mesin yang tidak dilakukan secara berkala, area produksi tidak rapi dan bising. Nilai DPMO sebesar 2844 yang dikonversikan kedalam sigma level yakni 4.27. Usulan perbaikan dengan Five-M Checklist meliputi memberikan pelatihan dan memperketat pengawasan kepada pekerja, melakukan setting mesin sesuai prosedur serta ubah clearence dies menjadi 0,24 mm, memperketat pemeriksaan bahan baku kaleng, melaksanakan perawatan mesin sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, menjaga kebersihan dan kerapian area produksi. Quality control is a technique that can be carried out from before the production process until the production process ends. Six sigma is a structured solution to process improvement using statistics and problem solving tools that intensively reach the target of 3.4 recovery per one million opportunities. PT. X is engaged in the industry of making cans with one of its products is a 307 two-piece can. Based on company information, in the production process, cans are found to find products that can save the company. This research was conducted to find out the right way to overcome this type of defect by using the six sigma method. The results of the study are known to be related to the fact that workers do not have meticulous, clear dead settings that are too tight, afval conceded dies, blunt press blades, dirty and damaged materials, machine maintenance that is not officially done, production area is not neat and noisy. The DPMO value is 2844 which is converted into sigma level which is 4.27. Proposed improvements with the Five-M Checklist provide training and tighten supervision to workers, make machine arrangements according to procedures and change clearly to 0.24 mm, tighten inspection of tin raw materials, manage engine maintenance according to agreed schedules, care about cleanliness and neatness production area.
Efek Tegangan Listrik dan Waktu Proses Elektroplating Krom Keras terhadap Tebal Lapisan Ketut Suarsana; I M. Astika; D.N.K Putra Negara
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.316 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p05

Abstract

Proses pelapisan krom keras merupakan proses akhir atau tahap penyelesaian pada kebanyakan pembuatan komponen agar tidak cepat aus, seperti pada poros, pasak, ring piston, silinder, bearing dan crank shaf. Dalam bidang industri sifat mekanik yang banyak diperlukan pada logam yang dipergunakan adalah kemampuannya untuk tahan aus dan tahan korosi yang mana kita ketahui logam mempunyai reaksi yang sangat aktif terhadap perubahaan temperatur dan cuaca, maka perlu dilakukan pelapisan sehingga kemungkinan suatu bahan logam terkena korosi bisa dihambat. Bahan spesimen yang di gunakan adalah Baja St 60 (C 0.40%; Mn 7%; Si 0.28%; P+S 0.09%; Fe 98,53%) dengan variasi tegangan listrik: 4, 6, dan 8 volt, untuk variasi waktu elektroplating krom keras 30, 45, dan 60 menit. Pengujian yang dilakukan dengan pengukuran ketebalan lapisan menggunakan skala foto mikro dan menghitung ketebalan lapisan permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tegangan listrik yang digunakan dan semakin lama waktu proses pelapisan krom keras maka meningkat ketebalan lapisannya. Ketebalan lapisan permukaan yang paling tebal didapatkan pada tegangan 8 volt dengan waktu pelapisan 60 menit dengan ketebalan lapisannya sebesar 89,37 ?m, sedangkan ketebalan lapisan permukaan tipis didapat pada tegangan 4 volt dengan waktu pelapisan 30 menit ketebalan lapisannya sebesar 20,18 ?m. Jadi tegangan listrik dan waktu electroplating dapat mempengaruhi dan memberikan efek terhadap ketebalan lapisan yang terjadi pada Baja St.60. The hard chrome coating process is the final process or completion stage in most parts making so as not to wear out quickly, such as on the shaft, pegs, piston rings, cylinders, bearings and crank shafts. In the industrial field of mechanical properties that are much needed in the metal used is its ability to withstand wear and corrosion resistance which we know metals have a very active reaction to changes in temperature and weather, coating is necessary so that the possibility of a metal being corroded can be inhibited. The specimens used were Baja St 60 (C 0.40%; Mn 7%; Si 0.28%; P + S 0.09%; Fe 98.53%) with variations in electrical voltage: 4, 6 and 8 volts, for time variations hard chrome electroplating 30, 60 and 90 minutes. Tests carried out by measuring the thickness of the layer use a micro photo scale and calculate the thickness of the surface layer. The results showed that the higher the voltage used and the longer the coating process was hard chrome, the thickness of the layer increased. The thickest surface layer thickness was obtained at 8 volts with a coating time of 60 minutes with a layer thickness of 89.37 ?m, while the thickness of the thin surface layer was obtained at a voltage of 4 volts with a coating time of 30 minutes layer thickness of 20.18 ?m. So the electrical voltage and time of electroplating can affect and give effect to the thickness of the coating that occurs in Steel St.60
Pengaruh Jumlah Bilah dan Sudut Pasang terhadap Daya Turbin Angin Poros Vertikal Tipe H-Darrieus Termodifikasi sebagai Energi Alternatif Pembangkit Tenaga Listrik Skala Rumah Tangga Susilo Susilo; Bambang Widodo; Eva Magdalena Silalahi; Atmadi Priyono
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 12 No 2 (2019)
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.556 KB) | DOI: 10.24843/JEM.2019.v12.i02.p08

Abstract

Bentuk sudu taper linier merupakan bentuk sudu yang paling optimal untuk kecepatan angin yang rendah. Jumlah sudu yang baik untuk kecepatan angin rendah berkisar antara 3-7 buah sudu, namun desain sudu dengan menggunakan airfoil dan profil pada sudut pasang sudu yang bagaimana memberikan daya keluaran dan tegangan keluaran yang optimal. Turbin angin didesain dengan 2 bilah dan 4 bilah dengan sudut pasang yang bisa diatur untuk mendapatkan perbedaan daya optimal masing-masing desain. Pengujian dilakukan di 3 area berbeda untuk mendapatkan gambaran geografis kondisi angin yang berbeda khususnya masalah kecepatan angin di ksiaran 2 m/s - 7 m/s. Pengujian dilakukan dengan luas penampang turbin angin (A) sebesar 3m2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai terbaik diperoleh pada kecepatan angin maksimal 4 m/s dan jumlah blade 4 sedangkan untuk nilai terkecil diperoleh pada kecepatan angin 3 m/s dan jumlah blade 2 yaitu. Untuk nilai TSR maksimal pada kecepatan maksimal 4 m/s terjadi pada jumlah blade 4, sedangkan untuk nilai terendah pada kecepatan angin 3 m/s dihasilkan pada jumlah blade 2. Melalui pengukuran berbasis teknologi smart monitoring system, dari penelitian diperoleh semakin tinggi kecepatan angin maka tegangan keluaran semakin tinggi. Semakin tinggi tegangan keluaran, semakin tinggi daya keluaran pada generator. Sudut pasang ? dan jumlah sudu mempengaruhi kecepatan putaran rotor turbin angin. Kecepatan putaran rotor turbin angin berelasi dengan tegangan keluaran generator. pada sudut pasang ? dan jumlah sudu 4, diperoleh daya keluaran yang sebesar 150 watt namun pada kecepatan angin 7 m/s daya turbin yang dihasilkan mencapai 600 watt. Dengan kondisi ini cukup memenuhi untuk alternatif cadangan listrik skala rumah tangga khusunya di pedesaan dan daerah terpencil (rural area). The linear taper blade shape is the most optimal blade shape for low wind speeds. The number of blades that are good for low wind speeds ranges from 3-7 blades, but the blade design uses an airfoil and profile on the blade mounting angle which is how to provide optimal output power and output voltage. Wind turbines are designed with 2 blades and 4 blades with adjustable tide angles to get the difference in the optimal power of each design. Tests were carried out in 3 different areas to obtain a geographical description of different wind conditions, especially the problem of wind speed in the range of 2 m / s - 7 m / s. Tests carried out with a cross section area of wind turbines (A) of 3m2 The results showed that the best value was obtained at a maximum wind speed of 4 m / s and number 4 blade while the smallest value was obtained at wind speeds of 3 m / s and number 2 blades namely. For the maximum TSR value at a maximum speed of 4 m / s occurs in the number of 4 blades, while for the lowest value at 3 m / s wind speed is produced on the number of blades 2. From the research, the higher the wind speed, the higher the output voltage. The higher the output voltage, the higher the output power at the generator. The ? tide angle and number of blades affect the speed of the wind turbine rotor rotation. The rotational speed of the wind turbine rotor is related to the generator output voltage. at the tide angle ? and number of blades 4, the output power of 150 watts is obtained but with wind speed 7 m/s turbine power 600 watt achieved. With this condition, it is sufficient for alternative household electricity reserves, especially in rural and remote areas (rural areas).

Page 1 of 2 | Total Record : 12