cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Lensa Budaya
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 0126351X     EISSN : 26207273     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Lensa Budaya merupakan jurnal yang memiliki scope dan fokus pada kajian bahasa, sastra dan budaya dari hasil penelitian dan pemikiran ilmu-ilmu budaya.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
LAUT YANG MENYATUKAN: MENGUNGKAP RUANG-JEJARING LAUT NUSANTARA Alex John Ulaen
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3111

Abstract

Maritime transportation has a role in unifying one coastal area with another and allowing population mobility. The arrivals of various communities, both Indonesians and from overseas in the coastal cities of Sulawesi and Maluku have taken place since five centuries ago. One thing can be noted is that the maritime networks did not only facilitate population mobility but also allowing them to be closer to their new host communities. The concept of merantau (migrating) that is still strong is one reason for national integration. In principle, migrants would not forget their origins even though they adiminstratively registered as citizens of their migration destination areas. The returning-home traditon in every religious holidays would activate shipping and would benefit shipping enterprises which connect one island (port) with another.
MENENGOK PRIMADONA DAGANG PELABUHAN KUPANG, 1850-1870 Fadliani Sahaka
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 2 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i2.3051

Abstract

Trade through the port of Kupang grew significantly after the port opened by the colonial government to be an international port at the beginning of the 19th century. The port served as a collecting center for smaller surrounding ports as well as for its hinterland. From the port of Kupang all export and import commodities could be traded. Between 1850-1870 the overall value of export and import fluctuated. The fluctuation was due to the fluctuating values of some the main commodities such as cloth, firearms, liquer and others. This paper also conclude that trade in the port of Kupang was dominated by Dutch-flag ships. In each period 90% of export and import values were carried by ships with Dutch flags while the remaining 10% with British and other ships.
BOYCOT JEPANG!: NASIONALISME CINA PERANTAUAN DI MAKASSAR 1915-1937 Heri Kusuma Tarupay
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3118

Abstract

Gerakan boikot di Makassar tidak lagi menjadi hanya semacam penolakan terhadap tindakan Jepang di Cina, tetapi lebih jauh telah memperlihatkan bentuk pembayangan akan bagian dari kesatuan bangsa Cina yang dibayangkan, dalam ruang lingkup geografis yang berbeda. Jalannya gerakan ini menunjukkan bahwa demi terwujudnya masyarakat yang satu, apapun akan dilakukan untuk membelanya. Sejauh efektifitasnya, gerakan boikot terbilang tidak berjalan dengan efektif, dikarenakan tidak bisa merangkul semua masyarakat Cina di Makassar untuk turut serta. Pengawasan dari pemerintah colonial telah turut memberikan sumbangsih tidak berjalan efektifnya gerakan ini. Gerakan boikot di wilayah koloni, telah menunjukkan bahwa masyarakat Cina dalam kurun waktu tertentu juga melakukan kegiatan politik. Bersamaannya waktu gerakan boikot dan gerakan nasionalis Indonesia bisa saja saling memberikan pengaruh.
TRANSFORMASI TEATER TRADISIONAL KONDO BULENG DAN KONTINUITAS ELEMEN BAHARI Alief Nur Situdju M. N. Nadjamuddin; Sahriana Syamsiah; Isna Tahir
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 2 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i2.3107

Abstract

Makalah ini menggambarkan transformasi teater tradisional Kondo Buleng dari wilayah penutur bahasa Makassar sejak awal abad ke-20 hingga sekarang. Transformasi yang diamati meliputi struktur, bentuk, musik dan lagu pengiring hingga simbolisme yang digunakan dalam pementasannya. Pengamatan dilakukan dengan melakukan rekonstruksi berdasarkan catatan-catatan terdahulu serta melalui pengamatan langsung. Disimpulkan bahwa telah terjadi transformasi teater tradisional Kondo Buleng dimana struktur pementasannya menjadi jauh lebih panjang, rumit, dan dilengkapi dengan unsur-unsur musik ataupun drama yang diambil dari tradisi tari dan lagu tradisional Makassar lain namun dengan gaya pementasan moderen yang bercorak komedi dan slapstick. Pada saat yang sama, dalam transformasi ini, elemen-elemen kebaharian semakin nyata bahkan cenderung untuk digambarkan secara langsung tanpa menggunakan metafora. Ada kesan bahwa dalam pementasan yang terbaru maka aspek simbolisme semakin ditinggalkan demi mencapai efek-efek pertunjukan yang dapat langsung direspon oleh penonton.
APPROACHING THE MARITIME SOUTHEAST ASIA FROM THE MARGINS. A TALE OF MUHAMMAD SALEH, A MINANGKABAU WEST COAST MERCHANT OF THE NINETEENTH CENTURY SUMATRA Mestika Zed
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 2 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i2.3045

Abstract

West coast of Sumatra, which was relatively remote from major centers laying on the Malacca Straits, had a lengthy history of trading contacts with the maritime Southeast Asia, especially with the Indian Ocean basins. The paper asks whether the trajectories of broader historical development of maritime Southeast Asia can be informed by way of tracing developments among the small localcontexts as evidenced in the case of the fate of Muhammad Saleh, a Minangkabau west coastal merchant of the 19 th century Sumatra. In other words, it asks if the sea trading routes underpinning integration of the archipelagic countries are also partly valid for the world west coast of Sumatra in the early-modern era. This paper will help us to appreciate our maritime world, how we got to where we are now, and identify constants and trends that will assist in our understanding of maritime Southeast Asia today and in the future.
BERLOMBA DI DAERAH BERGOLAK: PENYELENGGARAAN PEKAN OLAHRAGA NASIONAL (PON) IV DI KOTA MAKASSAR Leni Ponne
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3114

Abstract

Penyelenggaraan PON I yang dilaksanakan di Solo menjadi satu langkah pemerintah Indonesia untuk menyatukan semua wilayah Republik Indonesia. Penunjukan Kota Makassar sebaga tuan rumah PON IV di tahun 1957 bukan hal mudah sebab wilayah ini masih dalam keadaan belum aman. Pemerintah pusat menjadikan Makassar sebagai tuan rumah pelaksana PON IV dengan tujuan untuk menarik perhatian pemuda agar tidak terlibat ke dalam pemberontakan. Perayaan PON IV dilaksanakan di Kota Makassar juga untuk melebur suasana ketegangan di kalangan penduduk. Penyelenggaraan PON IV di Kota Makassar telah diklaim sebagai perayaan olah raga terakbar sepanjang periode tahun 1950an dimana tidak kurang dari delapan belas cabang olahraga dipertandingkan serta sembilan belas daerah ikut serta berlomba. Pada PON IV ini Jakarta Raya tampil sebagi juara umum sedangkan Sulawesi sebagai tuan rumah hanya mampu meraih posisi ke tujuh
SEJARAH PERKOTAAN: SEBUAH TINJAUAN HISTORIOGRAFIS DAN TEMATIS Ilham Daeng Makkelo
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 2 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i2.3052

Abstract

The growth of cities since the beginning of the 20th century has experienced rapid complexity of their elements and problems. Cities are not as simple as they used to be. Complexity in various fields requires methods and analytical knifes that can trace and expose parts and structures of urban areas to their smallest details and also to show their meanings to reveal structural relations which usually are complicated. One of my focus here is to pay attention to urban problems and theirinhabitants that increasingly becoming more complex, through the concept of modernity. Modern, modernization, modernism and modernity are historcal concepts that being used to read and to unravel the complexity in different periods. My using of the concept of modernity is an effort to explain in various ways the complex reality of urban history in Indonesia
PERAN AGAMA DALAM MEMPERKUAT INTEGRASI NASIONAL (DALAM PRESPEKTIF SEJARAH) Abd. Rasyid Rahman
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3049

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana peran agam dalam menjaga integritas bangsa, dan menjadi solusi berbagai konflik struktural dan horizontal di berbagai daerah di Indonesia yang salah satu penyebabnya adalah; penerapan kandungan emosional keagamaan yang melampaui batas, serta meningkatnya pengagungan terhadap suku dan etnik. Tantangan yang harus kita pikirkan bersama adalah merumuskan secara sadar dan tulus mengenai peran nilai-nilai keaga-maan, moral dan etik dalam membina kerukunan, persatuan, kohesi sosial, integrasi nasional, serta ketahanan nasional dalam era globalisasi. Kemitraan umat beragama antar bangsa dan negara perlu dibina dalam kerangka membina ketahanan regional, sebab dengan terciptanya, ketahanan nasional dan ketahanan regional, dalam upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang tertuan dalam pembukaan UUD 1945.
PERSEBARAN KAIN DI INDONESIA BAGIAN TIMUR 1850-1870 Hidayatullah Hidayatullah
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3108

Abstract

Perdagangan kain di Indonesia bagian timur pada 1850-1870 terbilang sangat ramai untuk beberapa pelabuhan seperti Makassar, Ambon, Banda, Ternate, Manado dan Kupang. Kain datang ke Indonesia bagian timur dibawa oleh pedagang-pedagang dari Kepulauan Timur, India bagian barat, Bengal, Eropa, Amerika dan juga dari Cina, Manila, Siam. Daerah-daerah ini memasokkain dalam jumlah yang sangat besar di setiap pelabuhan. Sementara untuk daerah tujuan ekspor, kain-kain ini ternyata dikirim kembali ke daerah yang mengimpor tadi, namun telah melalui pertu karan komoditas dari daerah lainnya. Kain selama periode perdagangan abad 19 digunakan sebagai alat barter yang paling efektif untuk menukarnya dengan rempah-rempah. Hal lainnya yang menjadikan kain populer di paruh kedua abad 19 adalah kegunaan dari kain itu sendiri yang sangatpenting untuk kelangsungan hidup masyarakat.
LAUT YANG MENYATUKAN: MENGUNGKAP RUANG-JEJARING LAUT MALUKU Alex John Ulaen
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 2 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v12i2.3046

Abstract

Maritime transportation has the role of unifying one coast with another and allowing population mobility. The existence of various communities from Nusantara or overseas in coastal cities in Sulawesi and Maluku since five centuries ago confirms what Lombard wrote, “...Sea seems to to separate but alsu unify.” If members of various ethnic communities from Nusantara live side by side in coastal cities or have married each other in their new places with local population can be seen as a sign that they have integrated themselves to the existing communities, the question is: is this not an early sign of wider integration process, namely in nation-state? If sailors-traders formed a communication networks because they needed each other organized themselves in organizationssuch as the Ropelin because of being in similiar profession and mutual needs, is that not the roots of national integration? The existence of of inter-island shipping does not only to facilitate population mobility but to bring closer one with another in new places, allowing new member to enter and to integrate with the existing community