cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Lensa Budaya
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 0126351X     EISSN : 26207273     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Lensa Budaya merupakan jurnal yang memiliki scope dan fokus pada kajian bahasa, sastra dan budaya dari hasil penelitian dan pemikiran ilmu-ilmu budaya.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
THE HIERARCHY OF NEEDS IN WEINER’S LITTLE EARTHQUAKES Andi Inayah Soraya
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4152

Abstract

This research aimed to describe the Hierarchy of Needs manifested to the main character in the novel. It applies psychological Maslow’s theory, who proposes five steps of Hierarchy of Needs covering Psychological Needs, Safety Needs, Belongingness and Love Needs, Esteem Needs, and Self-Actualization. This research used descriptive qualitative method. The data in this research were in written form taken from the dialogue and narration of the novel. The result of analysis indicates that all of characters have a lot ofpower to fulfillthe Hierarchy of Needs.
PEMBENTUKAN CITRA JEPANG DALAM MASYARAKAT INDONESIA DI MASA KOLONIAL BELANDA (1900 – 1942) MELALUI PRODUK DAN KOMODITAS JEPANG: STUDI KASUS PIL MORISHITA JINTAN Meta Sekar Puji Astuti
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4145

Abstract

This research describes the historyof Japanese commodities and business expansions in prewar Java with a focus on the Morishita Jintan CompanyMorishita Jintan Company (森下仁丹株式会社), a pharmaceutical manufacturing company established by Morishita Hiroshi in 1893. This research explores theroots of colonial Indonesian perceptions and an imagery of Japan (through Japanese commodities). This study shows that, a patent medicine with round-shaped pill, namely Jintan pills (Jintan (仁丹), produced by Morishita Jintan Company was very popular among Indonesian society. Furthermore, this product also gave an influence and an impact on the formation of Japanese (or) Japan imagery which recognized by Indonesian society. It will be doneby exploring the question on how Japanese commodites/products influenced the lives of the community in Indonesian history. This study primarily focuses on the Japanese traders and merchants who went to colonial Indonesia during theprewar period. The study also discusses the trade activities in the Japanese community, in general, duringprewar colonial Indonesia. The further attempt of this study is to examine how the Japanese people and goods influenced colonial Indonesiaby exploring what the Japanese merchants brought and sold to colonial Indonesian citizens in the early days. Thus, the history, which is always colored by two phenomenons which are opposites but will continuously walk side by side: change and continuity. Through this study, a rise and fall in relations between Japan and Indonesia politically and economically had previously occured, was analyzed.
FENOMENA KEKKON IJU JOSEI DALAM MASYARAKAT JEPANG Ayu Gardenia Lantang
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4143

Abstract

This paper is focus on the phenomenon of Kekkon Iju Josei in rural areas that represented by Tohoku prefecture and Niigata prefecture, Japan. This research is a qualitative research that describe the result of research was applied by analysis descriptive research. This paper aim to give an understanding of the background the increase of kekkon iju josei in rural societies in Japan. The results of analysis indicate several things, the first that the phenomenon of kekkon josei iju is arrange married and conducted for the purpose to increase number of people in rural areas in Japan. Second, that kekkon iju josei is motivated by the initiative and cooperation of local governments in the prefecture with the local authorities in the destination country, and matchmaking to facilitate and bring foreign women to married with men in rural areas in Tohoku and Niigata prefecture. Thirdly, that the majority of these immigrant women from the Philippines, China, Thailand and Korea. This is affected because there was an impression, interests and image Japan as a developing and rich countries from foreign womens which encourage them to come get married, work and settled in Japan. This is done so that they could have a better life than in their home country.
MEDIATISASI RUPA KOTA DALAM IKLAN MEIKARTA Khairil Anwar
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4153

Abstract

Iklan yang dijumpai di setiap sudut kota memperlihatkan hilangnya realitas kota. Mereka yang dianggap sebagai pembaca iklan, dituntut untuk memahami dan mengikuti realitas baru yang ditampilkan oleh iklan-iklan tersebut. Yang luput dari sini adalah bahwa kondisi kota atau sebutlah realitas kota yang sesungguhnya tidak dibicarakan bahkan diabaikan oleh pembuat atau mereka yang mengiklankan. Iklan hanya menjanjikan tanah impian (happyland) tanpa memperlihatkan berbagai dinamika di dalamnya. Iklan “tanah impian” Meikarta dengan gamblang memperlihatkan pengabaian realitas kota Jakarta dan masyarakat di dalamnya. Iklan perumahan ini menjanjikan kehidupan indah yang diimajinasikannya, dan membuat para pembacanya melihat bahwa kehidupan indah idealnya serupa dengan yang ada diiklan Meikarta tersebut. Hal ini memberi gambaran kondisi media saat ini, yang tidak lagi berangkat dari realitas, tetapi telah menciptakan realitas sendiri yang indah yang dipertontonkan kepada pembacanya. Penanda dalam hal ini realitas kota, telah diganti dengan petanda-petanda baru yang diciptakan oleh iklan Meikarta. Tulisan ini mengulas bagaimana tarik menarik antara realitas kota dan realitas baru yang ditampilkan dalam media iklan dan posisi “spectacle” (masyarakat, pembaca iklan) dalam tarik-menarik tersebut.
AGAM WISPI: SASTRA UNTUK MANUSIA Albertus Harimurti
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4079

Abstract

Sekitar tahun 1960, kesempatan untuk belajar ke negeri-negeri komunis seperti China dan Rusia amatlah terbuka bagi para intelektual bangsa Indonesia. Kesempatan ini kemudian dipergunakan para sastrawan maupun sarjana untuk menimba ilmu di luar negeri. Namun, setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, para intelektual tersebut tidak dimungkinkan kembali ke Indonesia. Ketidakmungkinan ini akibat ancaman pembantaian rezim Soeharto terhadap mereka yang dilabeli PKI (Partai Komunis Indonesia), termasuk para intelektual yang telah mengikuti program belajar di negeri komunis. Akibatnya, para intelektual tersebut banyak yang kemudian menjadi eksil (displaced persons). Lewat pengalaman yang diceritakan oleh Agam Wispi, tulisan ini berusaha memahami bagaimana dunia atau subyektivitas yang terbentuk dari orang-orang eksil sebagaimana Agam Wispi. Meskipun demikian, Agam Wispi hanyalah satu contoh dari sekian banyak eksil, yang artinya pengalamannya bukan berarti mewakili semua eksil asal Indonesia. Uniknya, pengalaman Agam Wispi menunjukkan bahwa ketersingkirannya dan ketercerabutan identitasnya (hidup di-antara) dari negara-bangsa Indonesia justru membukakan pintu bagi energi kreatif dalam dirinya, yakni sastra ambang yang berpihak pada manusia dan makhluk hidup.
KOIZUMI JUN’ICHIRO: SEBUAH AMBISI REVOLUSI Dihas Triananda
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4149

Abstract

Jurnal ini mendeskripsikan tentang perjuangan Perdana Menteri Jepang dalam melaksanakan reformasi ekonomi politiknya tahun 2001-2006. Jurnal ini berjudul Koizumi Jun’ichiro: Sebuah Ambisi Revolusi.Pemilihan Umum pada April 2001 menjadi hal yang penting bagi bangsa Jepang. Masa resesi selama satu dekade atau sering disebut ‘Lost Decade’ harus segera diubah dan yang menjadi harapan akan adanya perubahan secara ekonomi terletak pada hasil pemilu ini. Koizumi yang keluar sebagai pemenang dari pemilu ini memikul tanggungjawab sebagai Perdana Menteri revolusioner.Partai Perdana Menteri sendiri dan birokrasi yang didukung partainya ternyata yang menjadi penghambat dalam melaksanakan revolusinya.Selain itu terdapat perdebatan sengit diawal pemerintahannya soal yang mana harus dilaksanakan harus lebih dahulu dilaksanakan reformasi politik atau ekonomi tanpa menambah beban kepada negara.meskipun pada akhirnya rencan ini gagal akibat kehabisan waktu dalam mengurai birokrasi yang terlalu berbelit-belit namun ini tetap menjadi sebuah langkah yang belum pernah ada satupun dari Perdana Menteri pendahulunya yang berani menapaki.
TENTANG KONSEP BERFIKIR SEJARAH Mestika Zed
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4147

Abstract

Tulisan ini memperbincangkan kembali apa yang diistilahkan sebagai konsep sejarah dalam posisi sejarah sebagai satu kajian ilmiah. Memperbincangkan kembali di sini bisa pula ditempatkan sebagai memperbaharui konsep berpikir sejarah terkait dengan perkembangan kurikulum pengajaran sejarah dan juga seperti apa peristiwa-peristiwa sejarah dianalisa dan ditulis dalam abad ke-21. Berpikir sejarah dalam proses pembelajaran sejarah ini menjadi penting, untuk menjadi perhatian bagi kalangan pengajar sejarah, bahwa peserta didik tidak hanya perlu dibekali dengan metode sejarah, tetapi juga cara berpikir sejarah. Dengan mengasumsikan bahwa para pengajar sejarah saat ini di Indonesia telah memperoleh dan mengetahui apa yang diistilahkan lima konsep dasar berpikir sejarah –perubahan, kausalitas, konteks, kompleksitas, kemungkinan-, tulisan ini dengan berdasar pada “The Historical Thinking Project yang dikembangkan di Kanada dan juga di Amerika, Australia dan Eropa, mengulas apa yang diistilahkan sebagai “The Big Six”, cara berpikir sejarah lanjutan. Dengan pemikiran ini, diharapkan riset sejarah bisa lebih kekinian dan juga lebih kritis.
BUDAYA SUNDA VERSUS RADIKALISME ISLAM Yazin Azhari
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 1 (2018): Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i1.4144

Abstract

Ketika politik kebudayaan Sunda dihidupkan kembali, sama halnya dengan menguatkan identitas dan rasa kebanggaan serta percaya diri pada komunitas global. Khazanah warisan kultural Sunda yang terpendam lama, memberikan wahana serta nuansa yang penuh warna dalam meretas jalan kemanusiaan. Namun entah mengapa permasalahan klasik  yang telah usang pun berupa “ketakutan akan merusak keyakinan” dihidupkan kembali dengan mengatasnamakan agama oleh sekelompok mereka yang seperti “wakil Tuhan” di bumi ini. Islam  yang bermakna damai, kini dihadirkan oleh paham serta pemikiran yang justru menjadi merubah maknanya sendiri. Apa mungkin keistimewaan transformasi antara Islam dan budaya yang dicontohkan oleh para Wali Songo mampu dirajut kembali?
PERSEBARAN OPIUM DI INDONESIA BAGIAN TIMUR ABAD XIX Nur anisa
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 2 (2018): Lensa Budaya:Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i2.5297

Abstract

In the second half of the nineteenth century, the colonial authority turned 4 ports namelyMakassar, Ambon, Banda and Menado to become “free ports” while another, Timor-Kupang, an“international port.” In the same period, opium imported from Bengal, Manila, and areas in India,became one of the most sought after commodities in Southeast Asia and especially in the DucthIndies. This paper discusses the opium trade in the five ports in the eastern part of what is nowIndonesia, between 1850-1870. The export and import data show that opium was highly soughtafter like a primary commodities (such as rice and textile). The farming system for opium traderegulated by the colonial government was dominated by Chinese traders.
AGEING IN EAST ASIA CHALLENGES AND POLICIES: A COMPARATIVE STUDY OF WELFARE SERVICES FOR THE ELDERLY IN KOREA AND JAPAN Gajender Thakur
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 13 No. 2 (2018): Lensa Budaya:Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jlb.v13i2.5295

Abstract

The Social welfare for the elderly and challenges to execute social welfare system is a global phenomenon nowadays. The world stands on the threshold of a stunning demographic transformation. It is called global ageing, and it promises to reshape virtually every dimension of the economy and society over the next few decades. The growing ageing population in East Asia has significant consequences for providing social protection to the elderly. The region`s has graying demographic profile, rising old-age dependency ratios, and changing living situations of elderly. In this region, elderly need special attention and more resources from government. Among the East Asian countries situation of Japan and Korea is acute regarding rapid ageing, it is major concern for both the countries that how to provide sufficient welfare amenities to the elderly with limited resources of social welfare. Though, the execution of welfare policies and its impact on welfare of elderly seems appropriate according to the current situation but declining birthrate and raisingpopulation of elderly putting a huge challenge for execution of welfare policies. This paperelucidates how rapid demographic transition effect the social welfare system with an analytical study of Japanese welfare system and what lessons is possible for Japan from the other East Asian Countries. In other words, this paper will be the effort to enhance cooperation between the nations by cross cultural ageing or gerontology studies (specially the experience of Japan where situations are acute) to mitigate the problems of ageing and provide a concrete solution through the global connection.