cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Developmental and Clinical Psychology
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
PENGARUH OPTIMISME MENGHADAPI MASA PENSIUN TERHADAP POST POWER SYNDROME PADA ANGGOTA BADAN PEMBINA PENSIUNAN PEGAWAI (BP3) PELINDO SEMARANG Yunian, Fandy Achmad
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena mengenai gejala-gejala post power syndrome yang dialami para anggota BP3 Pelindo yang anggotanya adalah sekumpulan individu yang sudah tidak bekerja atau pensiun. Post power syndrome ini timbul akibat dari perasaan tidak bisa menerima keadaan barunya sebagai seorang pensiunan. Pensiun menimbulkan perasaan - perasaan tidak berguna, depresi, kekecewaan, dan menimbulkan frustasi yang mengganggu fungsi kejiwaan dan organiknya.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh optimisme menghadapi masa pensiun terhadap post power syndrome pada anggota BP3 Pelindo. Subjek pada penelitian ini berjumlah 63. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Post power syndrome diukur dengan skala post power syndrome. Skala post power syndrome terdiri dari 63 item valid. Item yang valid tersebut mempunyai p< 0,05 yaitu dengan  rentang signifikansi 0,000-0,001. Skala post power syndrome mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,945. Optimisme diukur dengan menggunakan skala optimisme. Skala Optimisme terdiri dari 57 aitem valid. Aitem yang valid tersebut memiliki p<0,05 yaitu pada rentang signifikansi 0,000-0,001.Skala konflik peran ganda mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,956. Uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment dan uji pengaruh digunakan analisis regresi yang dikerjakan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan variabel post power syndrome pada anggota BP3 Pelindo tergolong rendah.  Berbeda dengan variabel optimisme menghadapi masa pensiun pada anggota BP3 Pelindo tergolong tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara post power syndrome dengan optimisme dengan nilai F sebesar 201,240. Pengaruh post power syndrome dengan optimisme diperoleh koefisien r = - 0,876 dengan signifikansi atau p = 0,000. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh optimisme menghadapi pensiun terhadap post power syndrome dengan R Square sebesar 76,7%. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh negatif yang signifikan antara optimisme menghadapi masa pensiun terhadap post power syndrome pada anggota Badan Pembina Pensiunan Pegawai (BP3) Pelindo Semarang.   The study was backed by the phenomenon of the symptoms of post power syndrome experienced by the members of the BP3 Pelindo whose members are a group of individuals who were not working or retired. Post power syndrome arises as a result of feeling couldnt accept his new condition as a retiree. Retire cause useless feelings, depression, disappointment, and frustration that interfere with the function of psychiatric and organic. This research is quantitative korelasional research aims to know the influence of optimism against the retirement of post power syndrome on the BP3 member of Pelindo. The subject of this research totalled 63. The sampling technique used is the total sampling. Post power syndrome is measured by the scale of post power syndrome. The scale of post power syndrome consists of 63 items. Items that have a valid p & lt; 0.05 the significance of range 0.000-0.001. The scale of post power reliability coefficient of syndrome has 0,945. Optimism is measured using a scale of optimism. The scale consists of 57 aitem Optimism. A valid Aitem has p & lt; 0.05 in the range 0.000-0.001 significance. the scale of the conflict has a dual role of reliability coefficient 0,956. Test correlation using the correlation test effect of product moment and used regression analysis that was done using SPSS 10.0 program help for windows. The results showed a variable power syndrome post on Member BP3 Pelindo is low. In contrast to the optimism of variables facing retirement at a member of Pelindo BP3 is high. The results showed that there is a negative influence of post power syndrome with optimism to the value F of 201,240. The influence of post power syndrome with optimism obtained coefficients of r =-0,876 with significance or p = 0.000. The results showed the influence of optimism to face retirement of post power syndrome with R Square of 70.7%. It shows that there is a significant negative influence of optimism against the retirement of post power syndrome on board the coach Retired employees (BP3) Pelindo Semarang
SELF INJURY PADA MAHASISWA (STUDI KASUS PADA MAHASISWA PELAKU SELF INJURY) Maidah, Destiana
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 1 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efektivitas Permainan Ular Tangga untuk Meningkatkan Kemampuan Materi Penggunaan Mata Uang Pada Anak Tunagrahita Ringan Agustriyana, Nur Astuti; Undarwati, Anna
Developmental and Clinical Psychology Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan jumlah subyek 8 orang. Desain penelitian eksperimen yang digunakan adalah desain eksperimen perlakuan ulang (Time Series Design) merupakan desain eksperimen yang hanya menggunakan satu kelompok subyek serta pengukuran dilakukan berulang-ulang. Sehingga dapat membandingkan kecenderungan perubahan skor sebelum dan sesudah pemberian manipulasi melalui tes prestasi. Hasil penelitian diawali dengan kegiatan pretest dengan mean 4,2222. Selanjutnya diberikan perlakuan berupa permainan ular tangga. Hasil pretest menunjukkan perbedaan kemampuan siswa yang terbukti dengan postest pertama yang memiliki nilai mean sebesar 5,8889, Z -2,762 dan signifikansi 0,06. Selanjutnya postest pertama juga menunjukkan perbedaan kemampuan siswa yang terbukti pada postest ke dua dengan mean 7,000, Z -2,724 dan signifikansi 0,006. Postest ke dua juga menunjukkan perbedaan kemampuan siswa dengan bukti pada postest yang ke tiga memperoleh mean 8,3333, Z -2,701 dan signifikansi 0,007. Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan validitas isi yang dilakukan oleh guru, dosen pembimbing, maupun siswa. Selanjutnya, reliabilitas pada penelitian ini sebesar 0,458. Kesimpulan dari penelitian ini adalah permainan ulartangga memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan materi penggunaan mata uang pada anak tunagrahita ringan. This study use experimental research the number of subjects 8 people. Experimental research design used was a re-design of the experimental treatment (Time Series Design) is an experimental design which uses only single group of subjects as well as measurements performed repeatedly. So as to compare the trend of changes in scores before and after manipulation through achievement tests. The result of the study began with a pretest with mean 4.2222. Further treatment is given in the form of snake and ladder game. Pretest results showed differences in the ability of students who proved to have the first posttest mean value of 5.8889, Z -2.762 and a significance of 0.06. Furthermore, the first post-test also showed differences in the ability of students who proved to posttest two with mean 7.000, Z -2.724 and 0.006 significance. Posttest two also showed diffefrences in the ability of students with evidence on the posttest to obtain three mean 8.3333, Z -2.701 and 0.007 significance. The validity of that used in this study was conducted using content validity by teachers, lecturers, and students. Furthermore, the reliability in this study was 0.458. The conclusion of this study is snake and ladder game gives effect to increase the ability of curency usage material toward mentally retarded children light.
DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DAN SPIRIT MENJADI SEHAT PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Andini, Dyah Resti
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penempatan dalam tempat khusus adalah salah satu jenis hukuman disiplin yang dijatuhkan kepada anggota kepolisian Negara Republik Indonesia yang telah melakukan pelanggaran disiplin dengan menempatkan terhukum dalam tempat khusus. Tempat khusus yang dimaksud adalah dapat berupa markas, rumah kediaman, ruangan tertentu, kapal, atau tempat yang ditunjuk oleh Ankum (Atasan yang berhak menghukum). Penerimaan Diri merupakan sikap menerima akan keadaan diri baik kelebihan maupun kekurangan yang ada pada dirinya dan memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan orang lain dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerimaan diri pada polisi setelah mendapat hukuman penempatan dalam tempat khusus. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi kasus. Subjek penelitian ini adalah polisi yang pernah mendapatkan hukuman penempatan dalam tempat khusus dan masih mengalami dampak psikologis berjumlah dua orang. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dan observasi non partisipan, tes grafis, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian secara umum, gambaran penerimaan diri pada subjek penelitian diketahui bahwa subjek belum memiliki penerimaan diri atas hukuman penempatan dalam tempat khusus yang sudah dijalani. Tidak adanya penerimaan diri pada subjek karena tidak terpenuhinya aspek-aspek yang ada dalam penerimaan diri. Tidak adanya penerimaan diri pada subjek juga dilatarbelakangi adanya hambatan baik secara internal maupun eksternal. Hambatan internal berupa adanya kekhawatiran diterimanya berbagai reaksi negatif dari lingkungan. Hambatan eksternal yaitu belum kondusifnya norma sosial terhadap penempatan dalam tempat khusus, serta tidak banyak polisi yang mendapatkan hukuman penempatan dalam tempat khusus. Adapun saran yang disampaikan kepada keluarga adalah agar mengajak interaksi dan mendukung profesi subjek. Kepada Kepolisian agar lebih mengerti dan memahami subjek. Kepada teman agar memberikan perhatian, dukungan, dan sikap empatik pada subjek. Kepada subjek penelitian agar lebih terbuka dan mengakui kesalahan yang telah diperbuat dan bisa menjalankan hidup yang lebih baik tanpa ada rasa bersalah dan kepura-puraan.
HUBUNGAN KOMUNIKASI THERAPEUTIC PERAWAT DENGAN MOTIVASI SEMBUH PADA PASIEN RAWAT INAP Hardhiyani, Rizky
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini di latarbelakangi oleh fenomena kurangnya motivasi sembuh pasien rawat inap di ruang melati RSUD Kalisari Batang. Penyebabnya antara lain kurang terjalinnya hubungan yang therapeutic antara perawat dan pasien sehingga menyebabkan pasien merasa kurang termotivasi untuk segera sembuh dari penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi therapeutic perawat dengan motivasi sembuh pada pasien rawat inap. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek pada penelitian ini berjumlah 127 pasien. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi therapeutic dengan motivasi sembuh pasien rawat inap saling mempengaruhi dimana semakin tinggi komunikasi therapeutic perawat semakin tinggi pula motivasi sembuh pasien rawat inap begitu juga sebaliknya semakin rendah komunikasi therapeutic perawat maka semakin rendah pula motivasi sembuh pasien rawat inap.    This researchs background is phenomenon lack of motivation heal the patient take care of to lodge in jasmines room of RSUD Kalisari Batang. Its cause for example less intertwin of relation which therapeutic between nurse and patient, so that cause the patient feel to demotivate to immediately get over from their disease. This research aim to to know the relation between communications of therapeutic nurse with the motivation heal the patient take care of to lodge. This research represent the correlation quantitative research. Subjek at this research amount to 127 patient. Sampling technique used is accidental sampling. Result of research indicate that the communications therapeutic with the motivation heal the patient take care of to lodge is influencing each other. Excelsior of communications of therapeutic nurse, excelsior also motivate to heal the patient take care of to lodge. So also on the contrary, progressively lower the communications of therapeutic nurse, hence progressively lower also motivate to heal the patient take care of to lodge.
EFEKTIVITAS BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH Wardani, Sandra Rizki
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 1 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN ANTARA INFERIORITY FEELING DAN AGRESIVITAS PADA REMAJA DELINKUEN (STUDI DI PSMP ANTASENA MAGELANG) Wahyudi, Roni Agung
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 1 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Dewi, Aprilia Kristina
Developmental and Clinical Psychology Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena perilaku seksual pranikah remaja yang akhir-akhir ini banyak dijumpai di Universitas Negeri Semarang. Perilaku seksual pranikah dapat digolongkan sebagai kenakalan remaja sebagai akibat gagalnya sistem kontrol diri terhadap pengaruh dari luar. Keterkaitan antara kontrol diri dengan perilaku seksual pranikah pada remaja memperlihatkan bahwa kemampuan mengendalikan diri berperan penting dalam menekan perilaku seksual. Perilaku seksual pranikah dapat ditekan apabila terdapat kontrol diri yang kuat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara kontrol diri dengan perilaku seksual pranikah pada mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif korelasional. Subjek pada penelitian ini berjumlah 160 mahasiswa. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada korelasi negatif antara kontrol diri dengan perilaku seksual pada mahasiswa dengan koefisien r =- 0,417 dan signifikansi atau p = 0,000. Apabila kontrol diri rendah maka perilaku seksualnya akan tinggi, begitu juga sebaliknya. This research is motivated by the phenomenon of premarital sexual behavior of teenagers these days are often found at the State University of Semarang. Premarital sexual behavior can be classified as juvenile delinquency as a result of the failure of self-control system to outside influences. The link between self-control with premarital sexual behavior in adolescents showed that the ability to control themselves play an important role in suppressing sexual behavior. Premarital sexual behavior can be reduced if there is a strong self-control. The purpose of this study is to determine is there a relationship between self-control with premarital sexual behavior at Semarang State University students. This research is a quantitative correlation. Subjects in this study amounted to 160 students. The sampling technique used was purposive sampling. The results showed no negative correlation between self-control sexual behavior in students with a coefficient of r = - .417 and significance or p = 0.000. If the low self-control sexual behavior will be high, and vice versa.
KUALITAS HIDUP PENDERITA KANKER Pratiwi, Tita Febri
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi subyek penderita kanker mengalami perubahan fisik dan psikis karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru dalam hidupnya. Kanker adalah penyakit pada sel jaringan tubuh yang menjadi ganas. Pengobatan yang berlangsung lama memiliki efek kesakitan tinggi, membawa dalam kondisi lemah bahkan depresi. Penderitaan tersebut mendorong penderita untuk menentukan sikap yang menggambarkan kualitas hidup. Kualitas hidup adalah persepsi individu mengenai keadaan dirinya pada aspek-aspek kehidupan untuk mencapai kepuasan hidup. Keterbatasan yang dialami justru disikapi positif oleh subyek, antara lain: tidak mengeluh, tidak mengasihani diri sendiri, penampilan fisik yang sehat dan keefektifan kinerja dalam hidupnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas hidup penderita kanker.  Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus dan kualitas hidup penderita kanker sebagai unit analisis. Responden berjumlah tiga orang, delapan orang informan pendukung dan empat orang ahli. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan pengintepretasian tes grafis yang meliputi House Tree Person, Tree Test, dan Draw A Person Test oleh psikolog. Keabsahan data diuji dengan ketekunan pengamatan di lapangan dan triangulasi.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyakit kanker memberikan perubahan signifikan secara fisik maupun psikis individu, antara lain: kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan dan kematian. Kualitas hidup penderita kanker dipengaruhi pemahaman individu terhadap penyakitnya sehingga seseorang tahu cara menjaga kesehatan, serta faktor ekonomi dimana hal ini menjadi kekhawatiran khusus terhadap biaya pengobatan. Aspek dominan pembentukan kualitas hidup penderita kanker adalah aspek psikologis, meliputi spiritualitas, dukungan sosial dan kesejahteraan. Faktanya, aspek psikologis sangat menentukan kualitas hidup, penderita mendapatkan kekuatan dan merasa lebih sehat tanpa obat, hal ini disebabkan karena sugesti dalam diri individu tersebut untuk tetap sehat. Kecerdasan spiritualitas menuntun penderita memiliki penerimaan diri terhadap penyakitnya. Penderita mengalami peningkatan spiritual dibanding sebelum menderita kanker. Penderita merasa lebih dekat dengan Tuhan dan tidak menyalahkan Tuhan, melainkan menganggap sebagai sebuah anugerah Tuhan. Rasa cinta dan nyaman dari dukungan sosial memberi motivasi untuk sembuh dan kuat menjalani hidup. Akhirnya memberikan kesejahteraan yang menentukan kualitas hidup penderita. Saran bagi pemerintah adalah memberikan perhatian dan bantuan khususnya bagi penderita kanker kurang mampu. Bagi keluarga, agar memberi dukungan sehingga dapat menjadi partner yang baik untuk mencapai kesembuhan dan pemulihan secara fisik maupun psikis penderita kanker.
IDENTITAS DIRI REMAJA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 PEMALANG DITINJAU DARI JENIS KELAMIN Purwanti, Fisnanin
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Identitas diri dapat dibentuk oleh banyak faktor salah satu diantaranya adalah jenis kelamin. Remaja dapat mengupayakan pembentukan identitas diri positif dengan berbagai cara. Adanya perbedaan Identitas diri remaja antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari bagaimana remaja tersebut sukses dalam pencarian identitas dirinya.Untuk mendapatkan hasil yang lebih terpercaya mengenai perbedaan identitas diri remaja, maka dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui identitas diri pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang.; (2) mengetahui adanya perbedaan identitas diri  pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 2 Pemalang. Subjek penelitian berjumlah 78 orang yang ditentukan menggunakan teknik Proportional Sample. Identitas diri diukur dengan menggunakan skala Identitas diri yang terdiri dari 55 item. Koefisien reliabilitas skala Identitas diri sebesar 0,952. Uji perbedaan menggunakan teknik Mann-Whitney U Test dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Hasil uji hipotesis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara identitas diri pada siswa laki-laki dan siswa perempuan. Identitas diri pada siswa laki-laki dengan nilai rata-rata 208,44 lebih tinggi dibandingkan dengan identitas diri pada siswa perempuan nilai rata-rata 190,64 yang berarti siswa laki-laki mempunyai identitas diri yang lebih positif dibandingkan siswa perempuan.    Identity can be shaped by many factors, one of which is gender. Teens can seek positive self-identity formation in various ways. Identification of differences in adolescents between men and women can be seen from how teens are successful in the search for identity dirinya.Untuk get more reliable results about the differences in adolescent identity, then do the research. The purpose of this study was: (1) the identity of students in class XI at SMAN 2 Pemalang., (2) determine the identity differences in class XI student of SMAN 2 Pemalang in terms of gender. This study was conducted at SMA N 2 Pemalang. Subjects numbered 78 people were determined using the technique of Proportional Sample. Identity was measured using Identity scale comprising 55 items. Identity of the scale reliability coefficient of 0.952. Test differences using the Mann-Whitney U technique Test with SPSS 17.0 for windows. Hypothesis test results showed a significant difference between self-identity in the male students and female students. Identity of the boys with an average value of 208.44 is higher than the female students self-identity on the average value of 190.64 which means that male students have a more positive self-identity than female students.