cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Developmental and Clinical Psychology
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK RETARDASI MENTAL DITINJAU DARI KELAS SOSIAL Khoiri, Hadid
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah perbedaan tingkat penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial. Beberapa kasus yang terjadi adalah orang tua kelas sosial tinggi menolak kehadiran anak yang mengalami retardasi mental. Idealnya, orang tua apapun kelas sosialnya bisa menerima dengan baik bagaimanapun keadaan anaknya. Penerimaan orang tua adalah suatu keadaan dimana orang tua memberikan kasih sayang dan perhatian terhadap anak, dan menghargainya tanpa membeda-bedakannya. Anak retardasi mental adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan berupa kemampuan IQ yang kurang dari 70.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan tingkat penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif. Subjek penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak retardasi mental di SLBN Semarang. Diperoleh 38 subjek yang terbagi menjadi 5 subjek kelas sosial atas, 16 subjek untuk  kelas sosial menengah dan 17 untuk kelas sosial bawah. Metode pengumpulan data menggunakan angket kelas sosial dan skala penerimaan orang tua sebanyak 50 item. Hasil uji validitas dengan korelasi product moment diperoleh 34 aitem valid dengan kisaran koefisien validitas dari 0,339 sampai dengan 0,702. Hasil uji reliabilitas dengan rumus alpha cronbach diperoleh koefisien reliabilitasnya 0,870. Hasil analisis data dengan teknik Mann Whitney menunjukkan z=0,271 dengan  P=0,787.  (P>0,05) yang berarti tidak ada perbedaan penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial menengah dan kelas sosial bawah. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa kelas sosial yang berbeda tidak membuat penerimaaan orang tua terhadap anak retardasi mental ikut berbeda. Penyebabnya adalah tingkat kemampuan beradaptasi orang tua yang baik terhadap keadaan anak, dan penerimaan diri orang tua sendiri.  Peneliti menyarankan kepada orang tua agar lebih meningkatkan penerimaan mereka terhadap anak, karena penerimaan akan kehadiran anak akan sangat membantu dalam proses perkembangan anak. Saran bagi peneliti selanjutnya, pengambilan responden penelitian secara lebih luas, dan lebih memperhatikan faktor lain yang juga mempengaruhi penerimaan orang tua
HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY INTELLIGENCE DENGAN WORK-FAMILY CONFLICT PADA IBU YANG BEKERJA SEBAGAI PERAWAT Arfidianingrum, Diyah
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Work-family conflict merupakan suatu fenomena yang seringkali tidak bisa dihindari oleh individu, tidak terkecuali pada ibu yang bekerja sebagai perawat. Keterlibatan ibu dalam peran pekerjaan (keluarga) akan membawanya pada kesulitan untuk memenuhi tuntutan peran keluarga (pekerjaan). Dibutuhkan suatu kemampuan untuk mengatasi situasi sulit yang dialami oleh ibu bekerja agar terhindar dari perilaku yang merugikan. Adversity intelligence merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi dan bertahan terhadap kesulitan hidup dan tantangan yang dialaminya. Usaha tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara adversity intelligence dengan work-family conflict pada ibu yang bekerja sebagai perawat. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di dua rumah sakit swasta Kota Semarang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Data penelitian diambil menggunakan skala work-family conflict dan skala adversity intelligence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara adversity intelligence dengan work-family conflict pada ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Panti Wilasa Semarang dengan rxysebesar -0,477. Sumbangan efektif adversity intelligence terhadap work-family conflict adalah sebesar 22,8% dan sisanya 77,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.  Work-family conflict is a phenomenon that often can not be avoided by individuals, is no exception to the mother who works as a nurse. Mothers involvement in the work role (family) will take the trouble to meet the demands of the family role (job). It takes an ability to overcome the difficult situation faced by working mothers to avoid harmful behaviors. Adversity intelligence is a persons ability to confront and survive the hardships and challenges they experienced. The efforts made ​​to achieve certain goals. The purpose of this study was to determine the relationship between adversity intelligence with work-family conflict among women who worked as nurses. This study is a quantitative correlation. Respondents in this study were mothers who worked as a nurse in a private hospital two Semarang. The sampling technique used is total sampling. The data were taken using a scale of work-family conflict and adversity intelligence scale. The results showed that there is a significant negative relationship between adversity intelligence with work-family conflict in the mother who worked as a nurse at Panti Wilasa Semarang with rxysebesar -0.477. Effective contribution adversity intelligence to work-family conflict is 22.8% and the remaining 77.2% is influenced by other factors that are not revealed in this study.
PERMISIVISME REMAJA TERHADAP KEHAMILAN PRANIKAH PADA SISWA-SISWI SMK KOMPUTER KARANGANYAR - KEBUMEN Amelia, Belina Astyana
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 1 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MOTIVASI SUAMI MENGIKUTI PROGRAM KB DENGAN METODE KONTRASEPSI MANTAP (VASEKTOMI) Stya Putri, Maydita Arie; Hariyadi, Sugeng; Prihastuty, Rahmawati
Developmental and Clinical Psychology Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran motivasi suami mengikuti program KB dengan metode kontrasepsi mantap (vasektomi). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Oleh karena itu, penulis yang sekaligus sebagai peneliti akan menggunakan in depth interview, mengingat bahan kajian yang akan diteliti bersifat sangat pribadi bagi subjek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Narasumber yang memiliki motivasi paling lemah adalah narasumber keempat yaitu MF. MF memiliki moivasi yang lemah karena MF tidak memenuhi semua aspek yang menunjukkan adanya motivasi. Narasumber yang memiliki motivasi paling kuat adalah narasumber ketiga. Narasumber ketiga berinisial SM. SM memiliki motivasi paling kuat karena dia memiliki aspek-aspek motivasi yang baik. This study aims to reveal the husband motivation to follow the family planning program with a steady method of contraception (vasectomy). This study uses qualitative methods. Therefore, the writer who is also a researcher will be using in depth interviews, given the study materials that will be examined is very personal for research subjects. The results of this study indicate that the resource persons who have the weakest motivation is the fourth speaker MF. MF has weak moivasi because MF does not fulfill all the aspects that indicate the presence of motivation. Speakers who have the most powerful motivation is the third speaker. Third speaker initials BC. BC has the most powerful motivation because he has the aspects of a good motivation.
STUDI DESKRIPTIF EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK TENTANG MASALAH SEKSUAL D’Vega, Luthfiana Luluq
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena mengenai efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual. Ketakutan anak untuk mengkomunikasikan masalah seksual kepada orang tua disebabkan karena anak takut salah ‘ngomong’ dan orang tua masih menganggap tabu pembicaraan seputar masalah seksual dengan anak. Hal itu menyebabkan rendahnya efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual. Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara deskriptif efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Subjek pada penelitian ini berjumlah 52 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Analisis data deskriptif dengan menggunakan program SPSS 17.00 for windows menunjukkan variabel efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual tergolong sedang cenderung rendah. Hasil tersebut ditinjau dari aspek keleluasaan dengan perolehan hasil terbanyak 76,92% atau 40 subjek pada kategori sedang, aspek lamanya waktu dengan perolehan hasil terbanyak 73,08% atau 38 subjek pada kategori sedang dan aspek kedalaman dengan perolehan hasil terbanyak 80,77% atau 42 subjek  pada kategori sedang. Kesimpulan yang didapat bahwa secara umum efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok tergolong dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa responden sudah cukup efektif dalam mengkomunikasikan masalah seksual dengan orang tua meskipun belum secara keseluruhan subjek bersedia terbuka kepada orang tua mengenai masalah tersebut.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN TEMPER TANTRUM PADA ANAK PRA SEKOLAH Kirana, Rizkia Sekar
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecenderungan pola asuh yang digunakan orang tua di Negmplak Bawen, mengetahui gambaran tingkat temper tantrum dan mengetahui adanya hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak pra sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Jumlah subjek 88 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik total sampling. Pengukuran menggunakan dua skala yaitu skala pola asuh orang tua dan skala temper tantrum. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa intensitas temper tantrum pada anak pra sekolah tergolong sedang. Pola asuh yang digunakan cenderung otoriter. Terdapat hubungan antara pola asuh otoriter dan pola asuh permisif dengan temper tantrum pada anak pra sekolah. Dapat disimpulkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokatis memiliki intensitas temper tantrum yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter dan permisif.    This research has purpose to find the preference picture of parenting which is used by the parents in Ngemplak Bawen. to find the grading pictures of temper tantrum and to find that there is a relation between parenting with the temper tantrum of preschool child. This research used quantitative method. The amount of subjects is 88 people. Sampling technique which is used is total sampling. The measuring used two scales, there are scale of parenting and scale of temper tantrum. The result of research showed that te temper tantrum intentity of preschool is medium, the parenting is use by parents was inclined authoritative parenting. There is a relation between authoritative parenting and permissive parenting with temper tantrum of preschool child. It can be concluded that the child which is grow up with democratic parenting has the lower intensity of temper tantrum compared with the child which is grow up with authoritative and permissive parenting.
INTENSI DAN PERILAKU ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI (STUDI DESKRIPTIF PADA IBU-IBU DI KELURAHAN SEKARAN KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG) Kulsum, Umi
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 1 (2013): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

OPTIMISME HIDUP PENDERITA HIV/AIDS Danistya, Farisa
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CINDERELLA KOMPLEKS PADA MAHASISWI DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Hapsari, Anisa Dwi; Mabruri, Moh. Iqbal; Hendriyani, Rulita
Developmental and Clinical Psychology Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemandirian merupakan salah satu unsur kepribadian yang dianggap penting bagi kehidupan manusia dalam kaitannya dengan dunia sekitar. Faktanya, tidak semua perempuan dapat mandiri karena mengalami ketergantungan, takut mandiri, serta mempunyai keinginan yang mendalam untuk dirawat dan dilindungi oleh orang lain. Fenomena ketakutan akan kemandirian ini dikenal dengan istilah cinderella complex. Cinderella complex pada mahasiswi adalah ketergantungan secara psikologis yang ditunjukkan dengan adanya keinginan yang kuat untuk dirawat dan dilindungi orang lain terutama laki-laki. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sample. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 160 orang, yaitu mahasiswi Universitas Negeri Semarang yang sedang menempuh pendidikan Diploma atau Sarjana yang berumur 16-25 tahun. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah angket ciri-ciri cinderella complex dan skala cinderella complex. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa cinderella complex pada mahasiswi di Universitas Negeri Semarang berada pada kategori sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa ketakutan akan kemandirian yang dialami oleh mahasiswi di Universitas Negeri Semarang tidak terlalu berat. Aspek cinderella complex yang paling menonjol pada mahasiswi di Universitas Negeri Semarang yaitu mengharap pengarahan orang lain dan yang tidak menonjol yaitu tergantung kepada orang lain. Self-reliance is one element of personality that are considered essential for human in relation to the world. In fact, not all women can be independent because of a dependency, fear of self, and having a deep desire to be cared and protected by others. The phenomenon of fear of independence is known as the Cinderella complex. Cinderella complex on female college student is psychological dependence which indicated by a strong desire to be cared and protected by others, especially a men. This research is descriptive quantitative research. The sampling technique use purposive sample. Subjects in this research is 160 people, in Semarang State University student currently studying a Diploma or Bachelor aged 16-25 years old. Data collection tool used was a questionnaire characteristics cinderella complex and cinderella complex scale. The results obtained showed that the cinderella complex at Semarang State University student is in the middle category. This indicates that the fear of independence experienced by the student at the Semarang State University is not too serious condition. Aspect that most prominent is expecting guidance of others and who have the not prominent is dependent on other people.
DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DAN SPIRIT MENJADI SEHAT PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Desmisagili, Auxentia Erythrina
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012): Developmental and Clinical Psychology
Publisher : Developmental and Clinical Psychology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lupus adalah penyakit otoimun yang menyerang satu atau seluruh sistem organ dalam tubuh manusia. Pasien lupus banyak mengalami gangguan psikis seperti depresi, stres, cemas, dan kemarahan. Gangguan psikis yang dialami odapus membutuhkan penanganan yang serius supaya tidak memperparah penyakitnya, sehingga dalam hal ini odapus membutuhkan suatu dukungan yang besar dari lingkungan. Keluarga merupakan lingkungan terdekat. Keluarga diharapkan bisa memberikan support kepada odapus untuk tidak menyerah pada penyakitnya, memberi harapan pada setiap peluang, dan memberi dukungan materi untuk pengobatan lupus agar tidak semakin merajalela. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bentuk dukungan sosial keluarga kepada penderita lupus dalam menumbuhkan semangat menjadi sehat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Unit analisis penelitian adalah keluarga penderita lupus, penderita lupus, dan tenaga medis yang merawat penderita lupus. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi, pada 3 subjek penelitian (keluarga odapus), dan 9 orang informan (odapus, kerabat, dan tenaga medis) sebagai triangulasi data. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2011 di rumah masing-masing subjek penelitian. Penerimaan keluarga adalah dukungan yang paling dibutuhkan. Perhatian dan penerimaan keluarga kepada penderita lupus mampu menguatkan penderita untuk bisa mengatasi diri dan memiliki semangat menjadi sehat. Perceraian dan penolakan membuat kondisi fisik penderita lupus menjadi lemah dan memicu kekambuhan lupus yang berpotensi mengakibatkan kematian. Kehadiran buah hati menumbuhkan sebuah harapan. Adanya harapan akan membuat seseorang tetap berusaha mempertahankan hidup. Harapan muncul sebagai bentuk kesadaran pribadi dan saran/nasihat dari orang lain. Bentuk nyata semangat penderita lupus untuk menjadi sehat yaitu dengan menghindari/mengurangi faktor risiko kekambuhan (gangguan stres, sinar matahari, kelelahan), serta mengikuti anjuran dokter untuk rutin minum obat dan melakukan check up.