cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Geo-Image Journal
ISSN : 22526285     EISSN : 25490362     DOI : -
Core Subject : Science,
This journal publishes original research and conceptual analysis of geography, geographical mapping science and technology and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 419 Documents
Analisis Kesehatan Mangrove Berbasis Algoritma NDVI Menggunakan Citra Sentinel 2A di Kecamatan Tugu Kota Semarang
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.54461

Abstract

Kecamatan Tugu memiliki sejumlah masalah salah satunya abrasi, perbandingan perubahan garis pantai tahun 2017 dan 2021 Kecamatan Tugu mengalami abrasi sejauh 970 meter, pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi abrasi tersebut menggunakan sabuk pantai alami yaitu hutan mangrove, namun dalam realisasinya masih terjadi abrasi, untuk itu perlu dilakukannya monitoring dan evaluasi kualitas mangrove sebagai sabuk pantai alami yang di gunakan sebagai solusi mengatasi abrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kondisi hutan mangrove di Kecamatan Tugu dan persebarannya. Jenis penelitian ini yaitu deksriptif dengan pengolahan data kuantitatif. Populasi penelitian adalah vegetasi mangrove di Kecamatan Tugu. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified proportional random sampling yaitu pengambilan sampel secara bertingkat sesuai klasifikasi kondisi kesehatan mangrove yaitu menjadi 5 kelas dan pengambilan secara acak namun dalam penentuan jumlah sampel secara proportional tergantung pada luasan setiap kelas kesehatan mangrove. Penentuan jumlah menggunakan metode total sampel minimal. Hasil perhitungan TSM, sampel yang harus di ambil adalah 32. Hasil penelitian menunjukan luas mangrove di Kecamatan Tugu adalah 113,93 hektar, persebaran mangrove di Kecamatan Tugu tidak merata pada sepanjang pantai, terdapat 3 kelompok hutan mangrove yang luas yaitu di Kelurahan Mangunharjo, randugarut, dan karanganyar, hutan mangrove mangunharjo memiliki hutan mangrove terluas yaitu 48,8 ha. Kelurahan Karanganyar memiliki mangrove seluas 15,8 ha, Kelurahan Mangkang Kulon memiliki mangrove seluas 9,14 hektar, Kelurahan Mangkang Wetan memiliki mangrove seluas 14 hektare, Kelurahan Randugarut memiliki mangrove seluas 5,3 hektar, dan Kelurahan Tugurejo memiliki mangrove seluas 20,6 hektar. Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan hasil analisis kesehatan mangrove bahwa kondisi kesehatan mangrove hasil klasifikasi NDVI di Kecamatan Tugu dominan dengan kondisi Baik yang diperoleh dari nilai modus atau luas paling besar pada kelas kondisi Baik yaitu 57,1 hektar. Saran dari penelitian ini adalah perlunya pelaksana kebijakan melakukan monitoring dan kontroling berkala terhadap program yang telah direncanakan, tidak lepas tanggungjawab begitu saja agar kebijakan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Analisis Daya Layan dan Proyeksi Kebutuhan Fasilitas Sekolah Dasar di Kecamatan Colomadu Tahun 2030
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56388

Abstract

Kecamatan Colomadu memiliki perkembangan wilayah relatif pesat sehingga jumlah penduduk selalu meningkat setiap tahun yang berpengaruh terhadap permintaan kebutuhan fasilitas pendidikan di tingkat Sekolah Dasar. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui daya layan fasilitas Sekolah Dasar serta mengetahui proyeksi kebutuhan fasilitas Sekolah Dasar dimasa mendatang supaya dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan pemenuhan pelayanan fasilitas Sekolah Dasar. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan analisis sistem informasi geografi. Hasil penelitian daya layan fasilitas Sekolah Dasar di Kecamatan Colomadu belum efektif dengan 8 desa yang belum bisa memenuhi pelayanan secara baik, selain itu terdapat 3 desa memiliki daya layan efektif Desa Ngasem, Bolon, dan Malangjiwan. Sedangkan proyeksi kebutuhan dimasa mendatang pada tahun 2030 terdapat 3 desa yang tidak memerlukan penambahan fasilitas yaitu Desa Ngasem, Malangjiwan dan Gajahan. Analisis Daya layan berdasarkan jangkauan (range) di Kecamatan Colomadu terdapat 2 desa yang tidak bisa menjangkau keseluruhan wilayahnya dengan baik yaitu Desa Klodran dan Baturan. Faktor yang paling mempengaruhi daya layan dan kebutuhan fasilitas Sekolah Dasar yaitu jumlah penduduk dan ketersediaan Sekolah Dasar. Dimana semakin banyak jumlah penduduk maka jumlah kebutuhan fasilitas Sekolah Dasar semakin meningkat.
Analisis Spasial Kerapatan Tajuk Mangrove Kota Semarang Tahun 2021 menggunakan Indeks Vegetasi MRE–SR pada Citra Sentinel 2A
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56389

Abstract

Kota Semarang dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Tahun 2011 – 2031 telah menetapkan beberapa wilayah sebagai Kawasan Pantai Berhutan Bakau yang fungsi utamanya untuk mempertahankan fungsi hutan mangrove di wilayah pesisir Kota Semarang, namun dalam perkembangannya dinamika yang terjadi di wilayah pesisir Kota Semarang cukup tinggi sehingga mempengaruhi kondisi ekosistem mangrove yang sudah ada. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi spasial kerapatan tajuk mangrove tahun 2021 di wilayah yang ditetapkan sebagai Kawasan Pantai Berhutan Bakau Kota Semarang melalui analisis indeks vegetasi mRE - SR. Hasil penelitian ini adalah dari indeks vegetasi mRE – SR dinilai cukup baik dalam memetakan kerapatan tajuk mangrove, luas tutupan tajuk mangrove Kota Semarang tahun 2021 seluas 261,92 Ha dengan tutupan terluas adalah Kelurahan Mangunharjo (73,18 Ha) dan terendah Kelurahan Terboyo Kulon (6,01 Ha), tingkat kerapatan tajuk mangrove dominan berada di tingkat “sedang” dan pola distribusi seluruhnya mengelompok dengan nilai ANN di 0,47 – 0,88. Tingkat kerapatan tajuk mangrove yang dominan pada tingkat sedang dipengaruhi oleh penggunaan lahan tambak yang menekan habitat mangrove, namun disisi lain juga menyediakan substrat yang aman dari gelombang dan bahan organik yang melimpah.
Analisis Potensi Geografi dalam Upaya Pengembangan Pariwisata di Pantai Bopong Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56391

Abstract

Objek Wisata Pantai Bopong merupakan Objek Wisata yang cukup baru di Kabupaten Kebumen. Sebagai objek wisata yang baru, belumdiketahui secara pasti bagaimana faktor geografis mempengaruhi pada objek wisata tersebut dan juga pengembangannya. juga peran potensi faktor penunjang pengembangan terhadap objek wisata.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi geografis untuk mengetahui kondisi objek wisata Pantai Bopong dan pengembangan objek wisata yang dilihat dari faktor geografis dan faktor penunjang pengembangan. Hasil penelitian menunjukan (1) faktor-faktor geografis yang mendukung dalam pengembangan objek wisata Pantai Bopong adalah lokasi, kemiringan lereng, iklim, flora dan fauna, tanah,dan air. Selain itu terdapat faktor penunjang pengembangan yang mendukung dalam pengembangan wisata terdiri dari daya tarik,infrastruktur,fasilitas pelayanan,akomodasi,pengelolaan,permodalan dan kondisi penduduk (2) Usaha yang dilakukan untuk pengembangan wisata Pantai Bopong Kabupaten Kebumen untuk saat ini terdapat dua kategori besar yaitu sektor fisik dan non fisik
Tinjauan Geografis di Kawasan Objek Wisata Goa Kreo Semarang
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata suatu daerah merupakan aset penting yang harus dikembangkan. Salah satu objek pariwisata yang ada di Semarang adalah Goa Kreo di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.Kerja sama yang baik antara masyarakat sekitar dengan pemerintah merupakan kunci dari suksesnya pariwisata suatu daerah. Selain faktor kerja sama, faktor geografis juga sangat berpengaruh pada perkembangan pariwisata khusunya untuk menjaga kelestariam alam sekitar objek pariwisata. Penelitian ini memiliki tiga tujuan, yaitu menganalisis tujuan geografis, mengetahui upaya yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan, dan mengidentifikasi potensi wisata di kawasan objek wisata Goa Kreo. Dalam penelitian ini juga menggunakan teknik sampling.Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menerapkan lima metode, yaitu metode angket, metode dokumentasi, metode wawancara, dan metode observasi. Dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif dan teknik analisis SWOT kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (treaths). Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis yang telah dilakukan, kondisi geografis objek wisata Goa Kreo dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi kondisi alam ditemukan lima faktor yaitu faktor lokasi, faktor topografi, faktor iklim, faktor air, faktor flora dan fauna. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pengembangan kawasan objek wisata terdiri atas rencana jangka panjang dan pendek yang tetap memperhatikan pembenahan kondisi sarana dan prasarana yang mampu memfasilitasi wisatawan dengan baik. Saran dalam penelitian ini adalah diharapkan kerja sama antar masyarakat, pengelola dan pemerintah berkaitan lokasi dengan memperhatikan faktor geografis lebih ditingkatkan. Perbaikan fasilitas umum dan adanya aquascape perlu diadakan guna menunjang daya tarik wisatawan
Kualitas Lingkungan Permukiman di Kelurahan Miroto, Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56394

Abstract

Permukiman merupakan isu strategis yang sering terjadi di kawasan perkotaan. Lahan permukiman kota yang padat merupakan konsekuensi dari banyaknya populasi penduduk di kota. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan permukiman. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengklasifikasikan kualitas lingkungan permukiman (KLP) di Kelurahan Miroto, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah skoring dan pembobotan parameter dari interpretasi citra satelit dan survei lapangan. Area permukiman dibagi menjadi 9 blok, hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 2 klasifikasi yaitu kelas baik (4 blok) seluas 14.87 Ha, serta kelas sedang (5 blok) seluas 13,29 Ha. Terjadinya perbedaan klasifikasi KLP diakibatkan oleh adanya perbedaan kondisi parameter-parameter penentu KLP, semakin baik kondisi parameter KLP maka kualitas permukiman semakin baik
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Eksistensi Industri Gerabah di Desa Gebangsari Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56395

Abstract

Desa Gebangsari merupakan desa sentra industri gerabah di Kabupaten Kebumen. Pada zaman modern ini eksistensi industri gerabah terancam karena kegunaan gerabah tergantikan oleh peralatan modern yang berbahan dasar plastik atau aluminium. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi eksistensi industri gerabah di Desa Gebangsari dan menganalisis strategi bertahan perajin industri gerabah di Desa Gebangsari. Teknik analisis data yang digunakan yaitu kuantitatif deskriptif dengan persentase sederhana. Hasil penelitian menunjukan 1) profil perajin gerabah di Desa Gebangsari paling banyak perempuan, rentang usia 51-56 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir sekolah dasar, produksi gerabah dikerjakan dengan cara tradisional yang menjadi pekerjaan tetap secara turun temurun oleh perajin. 2) faktor faktor yang mempengaruhi eksistensi industri gerabah yaitu: a) bahan baku mudah didapatkan dengan harga bahan baku sekali produksi Rp. 100.000-Rp. 200.000 b) bahan bakar tergolong mudah didapatkan dengan harga bahan bakar sekali proses pembakaran <Rp. 100.000 c) modal sebagian besar berasal dari tabungan pribadi perajin sebanyak 86% responden dengan besar modal yang dikeluarkan sekali produksi Rp. 100.000-Rp. 200.000 d) tenaga kerja berasal dari anggota keluarga sebanyak 88% responden e) pemasaran hasil produksi dijual melalui pengepul sebanyak 76% responden f) pendapatan perajin dalam sekali produksi <Rp. 1000.000 sebanyak 79% responden. 3) strategi bertahan perajin industri gerabah dengan cara memasarkan hasil produksi melalui pengepul dan membuat inovasi baru yaitu mengembangkan eduwisata, pinjaman modal produksi dari pengepul serta pemanfaatan jaringa sosial antar perajin dan tetangga sekitar untuk gotong royong dalam pembuatan gerabah
Analisis Sebaran Spasial Greywater pada Airtanah Dangkal di Permukiman Kecamatan Gunungpati Kota Semarang
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56396

Abstract

Kecamatan Gunungpati merupakan salah satu kecamatan di bagian selatan Kota Semarang yang terdampak masalah pembangunan permukiman. Pembangunan permukiman di Kecamatan Gunungpati meningkat seiring meningkatnya kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk berkaitan dengan tingkat pencemaran airtanah berupa Greywater yang merupakan salah satu pencemar airtanah yang berupa limbah domestik dari aktivitas rumah tangga seperti dari bekas mencuci pakaian, bekas mencuci piring dari dapur, serta air sisa mandi yang pada umumnya tidak diolah dan langsung dibuang ke sungai maupun selokan. Dalam mengkaji pencemaran airtanah dangkal oleh greywater parameter yang perlu diperhatikan diantaranya pH, TSS, BOD, COD, amonia, nitrit dan nitrat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kepadatan permukiman dan sebaran spasial greywater pada airtanah dangkal di permukiman Kecamatan Gunungpati. Penelitian ini menggunakan teknik klasifikasi supervised untuk mengetahui kepadatan permukiman dan metode STORET untuk sebaran spasial greywater pada airtanah berdasarkan status mutu air. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan permukiman di Kecamatan Gunungpati didominasi oleh kepadatan sedang hingga tinggi, dengan kepadatan sedang yaitu seluas 691,73 Ha atau 48,01% dari seluruh luas permukiman di Kecamatan Gunungpati. Berdasarkan analisis mutu air dari 15 sampel airtanah dangkal 10 diantaranya yang berstatus cemar ringan. Adapun sebaran spasial greywater pada airtanah dangkal di Kecamatan Gunungpati didominasi oleh parameter BOD.
Analisis SWOT Strategi Revitalisasi Objek Wisata Waduk Mrica Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56410

Abstract

Revitalisasi merupakan sebuah upaya guna memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian dimana pada masa lampau pernah memiliki fungsi vital akan tetapi sekarang mengalami penurunan fungsi. Salah satu objek wisata di Kabupaten Banjarnegara adalah Waduk Mrica. Adanya penurunan vitalitas yang terjadi di objek wisata tersebut perlu ditindaklanjuti dengan Analisis SWOT untuk mengetahui strategi revitalisasi dalam menghidupkan kembali objek wisata. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor – faktor yang menyebabkan penurunan vitalitas pada Objek Wisata Waduk Mrica dan merumuskan strategi revitalisasi yang sesuai pada Objek Wisata Waduk Mrica. Analisis data dilakukan dengan Root Cause Analysis dan Deskriptif Presentase untuk mengetahui akar permasalahan penurunan vitalitas pada objek wisata, serta Analisis SWOT untuk merumuskan strategi revitalisasi pada Objek Wisata Waduk Mrica. Hasil penelitian menunjukkan, faktor – faktor penurunan vitalitas pada Objek Wisata Waduk Mrica dari faktor revitalisasi dan juga aspek penawaran wisata yang mempunyai permasalahan dari faktor intervensi kawasan (fisik), rehabilitasi ekonomi (ekonomi), revitalisasi sosial dan dukungan lembaga (sosial – budaya – lembaga), atraksi, transportasi, akomodasi, fasilitas pelayanan dan infrastruktur. Kemudian, hasil dari perumusan strategi revitalisasi, Objek Wisata Waduk Mrica berada pada Kuadran IV. Strategi yang dapat dilakukan antara lain adalah meningkatkan koordinasi antar pihak yang terkait, memberdayakan penduduk desa setempat, melakukan pembebasan lahan, bekerjasama dengan intansi terkait dan membuat kebijakan yang sah guna mengatur kawasan wisata.
Timbulan Sampah Harian dan Kebutuhan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) di Kecamatan Ciracas, Kota Administrasi Jakarta Timur
Geo-Image Vol 11 No 1 (2022): Geo-Image
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/geoimage.v11i1.56411

Abstract

Pada setiap wilayah, jumlah timbulan sampah yang dihasilkan penduduk sebanding dengan TPSS yang diperlukan untuk menampungnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis jumlah timbulan sampah yang dihasilkan, serta kebutuhan TPSS yang diperlukan untuk menampung sampah, dan mencari lokasi rekomendasi untuk penambahan TPSS baru berdasarkan indikator LPS liar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis SIG untuk pemetaan lokasi TPSS dan LPS Liar, serta perhitungan jumlah timbulan sampah dan kebutuhan TPSS. Pada tahun 2021, diperkirakan sejumlah 957 liter/hari sampah yang dihasilkan, dengan kebutuhan fasilitas TPSS sebanyak 67 buah. Sedangkan TPSS yang tersedia di Kecamatan Ciracas hanya sejumlah 36 buah saja yang tersebar di lima kelurahan. Hal ini menyimpulkan bahwa ketersediaan TPSS di Kecamatan Ciracas masih kurang, sehingga masih diperlukan penambahan fasilitas TPSS baru di wilayah ini.