cover
Contact Name
samuel budi wardhana kusuma
Contact Email
samuelbudiunnes@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agungchem@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Chemical Science
ISSN : 22526951     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 830 Documents
Penggunaan Zeolit A Termodifikasi HDTMA sebagai Slow Release Urea Fertilizer Haditya, Ervan Bagus; Jumaeri, Jumaeri; Sulistyaningsih, Triastuti
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v9i1.28675

Abstract

Abstrak Penggunaan zeolit A-HDTMA sebagai agen pupuk lepas lambat terhadap ketersediaan nitrogen tanah telah dipelajari. Penelitian diawali dengan sintesis zeolit A menggunakan bahan kaolin dengan metode hidrotermal. Zeolit A hasil sintesis dimodifikasi dengan surfaktan HDTMA dengan konsentrasi 2x KTK. Analisis nitrogen dengan menggunakan metode Kjeldahl. Karakterisasi zeolit A dan zeolit A termodifikasi surfaktan ditentukan menggunakan FT-IR, dan XRD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil karakteristik XRD dan FT-IR dari zeolit hasil sintesis sesuai dengan karakteristik zeolit A. Zeolit A termodifikasi menunjukkan karakteristik yang berbeda pada analisis FT-IR pada serapan bilangan gelombang 2852 dan 2920 cm-1,sedangkan hasil karakteristik XRD pada zeolit hasil sintesis menunjukkan fase kristal dengan puncak tertinggi pada 2θ = 7,20°, 10,18°, dan 23,99°. Kandungan nitrogen tertinggi pada pot yang berisi tanaman jagung dan SRUF sebesar 1,04%, sedangkan pada pot yang berisi tanaman jagung dan urea 0,99 %, dan pot tanpa penambahan pupuk sebesar 0,49%. Abstract Research has been studied on the effect of zeolite A-HDTMA as a slow release fertilizer agent on availability of soil nitrogen. The study began with synthesis of zeolite using kaolin by hydrothermal method. Synthesis of zeolite A is modified by HDTMA surfactant with concentration of 2x CEC. Nitrogen analysis using the Kjeldahl method. Characterization of zeolite A and modified zeolite A using FT-IR, and XRD. The results showed that the characteristics XRD and FT-IR of the synthetic zeolite according to the characteristics of zeolite A. Zeolite A modification showed different characteristics in FT-IR analysis of wave number absorption 2852 and 2920 cm-1, while result of XRD of synthesis zeolite shows the crystal phase with highest peak at 2θ = 7.20°, 1018°, dan 23.99°. The higest nitrogen content in a pot containing corn plant and slow release fertilizer is 1.04%, where in pot containing corn plant and urea 0.99%, and pot without additions fertilizer is 0.49%.
Penentuan Nilai LoD dan LoQ pada Pengujian Metanol pada Miras Oplosan menggunakan Gas Chromatography dengan Variasi Metode Ainul, Ahmad Akhib; Mahatmanti, F Widhi; Sulistyaningsih, Triastuti
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v8i3.28725

Abstract

ABSTRAK Penentuan kadar metanol dalam minuman keras oplosan dapat dianalisis menggunakan Gas Chromatography-Flame Ionization Detector (GC-FID). Sebelum dianalisis, sampel minuman keras oplosan dapat dipreparasi menggunakan metode destilasi, ekstraksi cair-cair dan ekstraksi fase padat (SPE). Metode penelitian diawali dengan preparasi minuman keras oplosan menggunkan metode destilasi, ekstraksi cair-cair dan SPE kemudian dianalisis menggunakan GC-FID untuk menentukan nilai LoD dan LoQ masing-masing metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa linieritas kurva standar yang didapatkan sebesar 0,9996 dengan LoD dan LoQ berturut-turut 0,074% dan 0,247%. Perhitungan LoD metanol dalam sampel oplosan hasil dari ketiga metode distilasi, ekstraksi cair-cair, dan ekstraksi fase padat berturut-turut 0,048%, -0,020%, dan -0,018%. Perhitungan LoQ metanol dalam sampel oplosan hasil dari ketiga metode distilasi, ekstraksi cair-cair, dan ekstraksi fase padat berturut-turut 0,072%,-0,024, dan -0,005%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa LoD dan LoQ dari metode distilasi lebih baik dibandingkan metode ekstraksi cair-cair dan ekstraksi fase padat, sehingga metode distilasi lebih cocok digunakan untuk menentukan kadar metanol dalam miras oplosan menggunakan GC-FID ABSTRACT Determination of methanol in alcoholic beverage can be analyzed by using Gas Chromatography-Flame Ionization Detector (GC-FID). Alkoholic beverage samples are first prepared with distillation method, liquid-liquid extraction, and solid phase extraction to remove impurities. This study aims to determine the most good preparation based on LoD and LoQ value. The standard curve linearity which was obtained in the amount of 0.9996 with LoD and LoQ respectively 0.0743% and 0.2477%. Calculation of LoD methanol in the beverage results from all three distillation methods, liquid-liquid extraction, and solid phase extraction were respectively 0,048126%, -0,019919%, and -0,018107%. Calculation of LoQ methanol in the beverage results from all three distillation methods, liquid-liquid extraction, and solid phase extraction were respectively 0,072629%,-0,024376, and -0,005351%. Those results indicated that LoD and LoQ distillation method were better than liquid-liquid extraction and solid phase extraction methods. So it can be concluded that the distillation method is more suitable to determine the methanol levels in the alcoholic beverage using GC-FID.
Peningkatan Kadar Etanol dalam Ciu dengan Metode Distilasi Adsorptif Menggunakan Zeolit Alam Rahayu, Anita; Sulistyaningsih, Triastuti; Jumaeri, Jumaeri
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v9i2.28727

Abstract

Abstrak Kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia, khususnya premium semakin meningkat, sedangkan ketersediaannya di alam semakin sedikit. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif bahan bakar yang dapat diperbaharui, seperti Etanol. Etanol dengan kadar >96,5% v/v dapat digunakan sebagai campuran bahan bakar. Etanol dengan kadar >96,5% dapat dicapai dengan menggunakan metode distilasi adsorptif. Pada penelitian ini pemurnian etanol dilakukan menggukana dua cara yaitu distilasi sederhana dan distilasi adsorptif. Kadar awal sampel CIU A, CIU B dan CIU C berturut-turut adalah 9,92%, 44,60% dan 47,31% dengan menggunakan metode distilasi sederhana kadar etanol dapat meningkat menjadi 29,37%, 86,96% dan 90,81%. Meskipun metode distilasi sederhana dapat meningkatkan kadar etanol secara signifikan namun tidak dapat melampaui titik azeotropnya sehingga perlu adanya metode lain yaitu distilasi adsorptif dengan adsorben zeolit alam yang sudah teraktivasi. Dengan menggunakan metode distilasi adsorptif diperoleh kadar etanol tertinggi CIU A, CIU B dan CIU C berturut-turut sebesar 33,20%, 98,28% dan 99,22%. Kadar etanol tertinggi diperoleh saat pengambilan distilat ke-3 yaitu pada waktu 45 menit distilasi. Abstract The need for fuel oil in Indonesia, especially premium, is increasing, while its availability in nature is getting smaller. Therefore, it is necessary to look for alternative renewable fuels, such as Ethanol. Ethanol with a level of> 96.5% v / v can be used as a mixture of fuel. Ethanol with a concentration of> 96.5% can be achieved using the adsorptive distillation method. In this study, ethanol purification was carried out using two methods, simple distillation and adsorptive distillation. Initial levels of CIU A, CIU B and CIU C samples were 9.92%, 44.60% and 47.31% respectively using a simple distillation method. Ethanol levels could increase to 29.37%, 86.96% and 98.81%. Although a simple distillation method can significantly increase ethanol levels but cannot exceed its azeotropic point, it is necessary to have another method, namely adsorptive distillation with activated zeolite natural adsorbent. By using the adsorptive distillation method, the highest ethanol levels of CIU A, CIU B and CIU C were 33.20%, 98.28% and 99.22% respectively. The highest ethanol content was obtained when the third distillate was taken at 45 minutes distillation.
Sintesis Zeolit dari Kaolin sebagai Carrier Amoksisilin Wardani, Deta Sri; Mahatmanti, F. Widhi; Jumaeri, Jumaeri
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v9i2.28728

Abstract

Abstrak Pada penelitian ini dilakukan sintesis zeolit dari kaolin dan kemampuannya sebagai carrier amoksisilin. Proses sintesis zeolit diawali dengan kalsinasi kaolin menjadi metakaolin, kemudian ditambahkan larutan NaOH 3,0 M dan diaduk selama 2 jam. Proses pembentukan kristal zeolit menggunakan metode hidrotermal pada suhu 100ºC selama 8 jam. Zeolit hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan instrumen FTIR, XRD, dan SAA. Zeolit sintetis digunakan sebagai carrier obat amoksisilin dengan parameter adsorpsi dan desorpsi. Hasil karakterisasi zeolit hasil sintesis dilihat dari gugus fungsi dan pola difraksi menunjukkan kemiripan dengan zeolit A. Diameter pori zeolit sintetis sebesar 7,44 Å dan luas permukaannya adalah 3,456 m2/g. Kondisi optimum zeolit hasil sintesis dalam mengadsorpsi amoksisilin terjadi pada pH 5 dan waktu kontak selama 75 menit, dan kapasitas adsorpsinya sebesar 5,356 mg/g atau 80,334%. Sedangkan untuk amoksisilin yang terlepas dari zeolit sebesar1,561 mg/g atau 29,144%. Abstract This research is to know the of zeolite synthesis based kaolin ability as drug carrier amoxicillin. The synthesis process of zeolite begin with calcination of kaolin to methakaolin, then added 3.0 M NaOH solution and stirred for 2 hours. Followed by the process of making zeolite crystals using hydrothermal method at temperature 100oC for 8 hours. Synthetic zeolites was characterized using FTIR, XRD, and SAA instruments. Synthetic zeolites are then used to drug carrier amoxicillin with parameter adsorption and desorption. The results of characterization of the synthesized zeolite seen from the functional groups and diffraction patterns show similarities with zeolite A. The pore diameter of synthetic zeolite is 7.44 Å and its surface area is 3.456 m2/g. While amoxicillin released for zeolite as 1.561 mg/g or 29.144%.
Perbandingan Metode Destruksi Sedimen Sungai Kaligarang pada Analisis Logam Cu Menggunakan Flame Atomic Absorption Spectrometer (FAAS) Kristiyana, Kristiyana; Prasetya, Agung Tri; Kasmui, Kasmui
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v9i2.28756

Abstract

Abstrak Telah dilakukan perbandingan terhadap dua metode destruksi basah untuk analisis logam Cu dalam sedimen Sungai Kaligarang Semarang, yaitu destruksi basah menggunakan HNO3-HClO4 dan HNO3-H2O2 menggunakan FAAS. Validasi metode dilakukan untuk menentukan kelayakan metode destruksi berdasarkan beberapa parameter uji meliputi uji linieritas penentuan limit of detection (LoD) dan limit of quantitation (LoQ), uji akurasi, dan presisi. Linieritas kurva standar Cu dengan FAAS diperoleh sebesar 0,999174 dengan nilai LoD dan LoQ berturut-turut adalah 0,1788 mg/L dan 0,5960 mg/L. Uji akurasi dilakukan dengan menghitung persen recovery untuk metode destruksi HNO3-HClO4 sebesar 98,61% dan metode destruksi HNO3-H2O2 sebesar 91,23% (syarat keberterimaan 75-120%). Uji presisi dilakukan dengan pendekatan repeatability dihitung sebagai %RSD hasil yang diperoleh untuk metode destruksi HNO3-HClO4 sebesar 1,53% dan metode destruksi HNO3-H2O2 sebesar 0,44% (syarat keberterimaan 2%). Konsentrasi Cu dalam sampel sedimen Sungai Kaligarang sesuai dengan metode destruksi basah menggunakan HNO3-HClO4 sebesar 36,4969 mg/kg dan HNO3-H2O2 sebesar 39,1904 mg/kg. Hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada rata-rata konsentrasi Cu dari kedua metode pengujian. Berdasarkan hasil analisis validasi metode disimpulkan bahwa metode destruksi menggunakan HNO3-HClO4 dan HNO3-H2O2 dapat digunakan untuk mendestruksi sedimen yang dibuktikan dengan hasil dari uji akurasi dan presisi yang memenuhi syarat keberterimaan. Abstract Comparison of two methods of wet digestion has been carried out for the analysis of Cu in the sediment of the Kaligarang River Semarang, namely wet destruction using HNO3-HClO4 and HNO3-H2O2 using FAAS. The method validation is done to determine the feasibility of the digestion method based on several test parameters including the linearity test for the determination of limit of detection (LoD) and the limit of quantitation (LoQ), accuracy, and precision. The linearity of the Cu standard FAAS curve is 0,9992 with LoD and LoQ values ​​respectively 0,1788 mg/L and 0,5960 mg/L. Accuracy test was carried out by calculating percent recovery for the method of digestion of HNO3-HClO4 by 98,61% and the method of digestion of HNO3-H2O2 by 91,23% (acceptability requirement 75-120%). The precision test carried out with a repeatability approach was calculated as %RSD. The results obtained for the method of digestion of HNO3-HClO4 were 1,53% and the method of digestion of HNO3-H2O2 was 0,44% (acceptance requirement 2%). The Cu concentration in the sediment samples of the Kaligarang River is in accordance with the method of wet digestion using HNO3-HClO4 of 36.4969 mg/kg and HNO3-H2O2 of 39,1904 mg/kg. The results of unpaired t test indicate that there are significant differences in the average Cu concentration of the two test methods. Based on the results of the method validation analysis it was concluded that the method of digestion using HNO3-HClO4 and HNO3-H2O2 can be used to destroy sediments as evidenced by the results of accuracy and precision tests that meet the acceptability requirements.
Pengaruh Dopan Logam Scandium dan Vanadium pada Carbon Nanotube terhadap Energi Adsorpsi Hidrogen Menggunakan Metode Density Functional Theory Nurdiani, Arida; Kasmui, Kasmui; Kusumastuti, Ella
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v8i2.28804

Abstract

Penggunaan hidrogen dalam fuell cell sebagai bahan bakar alternatif memiliki kendala pada penyimpanannya. Salah satu caranya yaitu mengadsorpsi hidrogen pada permukaan carbon nanotube, namun kapasitas penyimpanan hidrogen belum maksimal dan perlu dilakukan doping logam untuk meningkatkan penyimpanannya sehingga penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dopan logam Sc dan V pada CNT terhadap bandgap dan energi adsorpsi hidrogen sehingga dapat digunakan untuk penyimpanan hidrogen. Density Functional Theory digunakan sebagai metode perhitungan dengan fungsi B3LYP dan basis set 6-31G*. Perangkat lunak NWChem digunakan untuk perhitungan energi. Hasil perhitungan menunjukkan bandgap dari CNT, CNT-Sc dan CNT-V berturut-turut sebesar 1,5530595770 eV, 1,1867661186 eV dan 1,5053155447 eV, namun bandgap mengalami sedikit kenaikan ketika struktur mengadsorpsi hidrogen. Energi adsorpsi hidrogen pada CNT, CNT-Sc dan CNT-V berturut-turut sebesar -0,0108127215 eV, -0,0459859037 eV, dan -0,3491878286 eV, hal ini menunjukkan adsorpsi pada CNT-V lebih kuat dibandingkan CNT-Sc dan CNT. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa doping logam Sc dan V dapat menurunkan bandgap dan meningkatkan energi adsorpsi hidrogen pada CNT. The use of hydrogen in fuell cell as an alternative fuel has problems in its storage. One way is to adsorb hydrogen on the surface of carbon nanotubes, but the hydrogen storage capacity is not maximal and metal doping needs to be done to increase its storage so that the research was conducted to determine the effect of Sc and V metal dopants on CNT on hydrogen bandgap and adsorption energy so that it can be used for hydrogen storage. Density Functional Theory is used as a calculation method with B3LYP functions and base set 6-31G *. NWChem software is used for energy calculations. The calculation results show bandgap from CNT, CNT-Sc and CNT-V respectively at 1.5530595770 eV, 1.1867661186 eV and 1.5053155447 eV, but bandgap has a slight increase when the structure adsorbs hydrogen. Hydrogen adsorption energy in CNT, CNT-Sc and CNT-V are -0.0108127215 eV, -0.0459859037 eV, and -0.3491878286 eV respectively, this shows that adsorption on CNT-V is stronger than CNT-Sc and CNT. From the results of this study it can be concluded that the doping of Sc and V metals can reduce bandgap and increase hydrogen adsorption energy in CNT.
Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) dan Uji Aktivitas Antioksidannya dengan Metode DPPH (2,2-Difenil-1- Pikrilhidrasil) Asbanu, Yoseanno Widi Anugrah; Wijayati, Nanik; Kusumo, Ersanghono
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v8i3.29330

Abstract

Metode maserasi bertingkat dengan variasi pelarut bertujuan untuk mengekstraksi komponen senyawa kimia simplisia berdasarkan kepolarannya. Daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung senyawa asetogenin dan flavonoid. Senyawa golongan flavonoid diketahui mempunyai kemampuan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa utama ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) dan aktivitas antioksidannya terhadap radikal bebas 2,2-Difenil-1-Pikrilhidrasil (DPPH). Metode ekstraksi daun sirsak (Annona muricata L.) menggunakan metode maserasi bertingkat dengan variasi pelarut n-heksana (non polar), etil asetat (semi polar), metanol (polar). Identifikasi senyawa kimia ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) dianalisis menggunakan spektrofotometer FTIR, UV-Vis, dan GC-MS, kemudian uji antioksidannya menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukan ekstrak metanol daun sirsak (Annona muricata L.) mengandung 12 senyawa dengan persen area yang besar diantaranya kaempferol, asam heksadekanoat, isopulegol, 5-metil-2-(1-metiletenil) sikloheksanol, asam oktadekanoat. Senyawa yang berperan sebagai antioksidan seperti kaempferol, asam oktadekanoat, asam heksadekanoat, metil 9-oksononanoat, propil 2,3-dihidroksi 9- oktadekenoat, dan etil 2-hidroksi-1-(hidroksimetil) heksadekanoat. Ekstrak etil asetat dan metanol daun sirsak (Annona muricata L.) memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 masing masing sebesar 56,894 ppm dan 24,895 ppm.
Pengaruh Rasio Mol M2O/SiO2 dan M2O/Al2O3 (M: Na dan K) terhadap Karakteristik Geopolimer Abu Layang Batubara Rahman, Ridho Aditya; Kusumastuti, Ella; Widiarti, Nuni
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v9i1.29354

Abstract

Abu layang kelas C telah diteliti mampu menggantikan semen portland karena memiliki kandungan alumino dan silika yang tinggi, sebagai bahan dasar pada beton berbasis geopolimer. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi reaksi geopolimerisasi adalah jenis aktivator yang digunakan yang berperan dalam proses pelarutan alumino dan silika. Semakin banyak kation penyeimbang muatan anion yang terbebaskan, akan meningkatkan kompleksitas geopolimerisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio mol M2O/SiO2 dan M2O/Al2O3 (M : Na dan K) terhadap kualitas geopolimer yang dihasilkan serta mengetahui pengaruh dua jenis aktivator KOH dan NaOH terhadap kualitas geopolimer berdasarkan uji kuat tekan, analisis fasa mineral XRD dan analisis gugus fungsi FTIR. Sintesis geopolimer dilakukan dengan memvariasi mol aktivator KOH dan NaOH dari variasi massa KOH dan NaOH sebesar (3,5; 4; 4,5; 5 dan 5,5 gram). Hasil penelitian menunjukan bahwa kuat tekan optimum diperoleh pada geopolimer dengan rasio mol K2O/SiO2 sebesar 0,17 dan rasio K2O/Al2O3 sebesar 0,91 pada curing 60 ℃ sebesar 34,14 MPa dan rasio mol Na2O/SiO2 0,27 dan rasio Na2O/Al2O3 1,43 memiliki kuat tekan sebesar 31,85 MPa. Hasil suhu curing optimum pada penelitian ini sebesar 60 ℃ dimana terjadi penurunan nilai kuat tekan pada perlakuan curing sebesar 75 ℃ dan 90 ℃. Karakteristik geopolimer dengan rasio mol M2O/SiO2 dan M2O/Al2O3 (M : K dan Na) terhadap analisis XRD mengakibatkan terbentuknya puncak KAlSiO4 (Ka) dan NaAlSi3O8 (Al) dengan nilai derajat kristalinitas total aktivator K+ 52,14% lebih amorf dari aktivator Na+ 55,32% dan lebih amorf dari prekursor abu layang 58,05%. Analisis gugus fungsi geopolimer dengan FTIR menunjukkan telah terbentuk geopolimer ditandai dengan adanya pita serapan pada 996,01 cm-1dan 987,53 cm-1 mengindikasikan vibrasi ulur asimetri Si-O-Si atau Si-O-Al. Class C fly ash has been studied capable of replacing portland cement because it has a high content of alumino and silica, as a base for geopolymer-based concrete. One of the factors that can influence the geopolymerization reaction is the type of activator used which plays a role in the dissolution process of alumino and silica. The more anion load balancing cations released, will increase the complexity of geopolymerization. The purpose of this study was to determine the effect of mmole ratios M2O/SiO2 and M2O/Al2O3 on the geopolymer quality produced and determine the effect of two types of KOH and NaOH activators on geopolymer quality based on the test compressive strength, XRD mineral phase analysis and FTIR functional group analysis. The geopolymer synthesis was carried out by varying the moles of KOH and NaOH activators from the mass variations of KOH and NaOH for (3.5; 4; 4.5; 5 and 5.5 grams). The results showed that optimum compressive strength was obtained in geopolymers with a mol ratio of K2O/SiO2 of 0.17 and a ratio of K2O/Al2O3 of 0.91 at curing 60 ℃ of 34.14 MPa and mol ratio of Na2O/SiO2 0.27 and the ratio of Na2O/Al2O3 1.43 has a compressive strength of 31.85 MPa. The temperature results curing optimumin this study were 60 ℃ where the compressive strength decreased in the treatment curing by 75 ℃ and 90 ℃. Geopolymer characteristics with mmole ratios M2O/SiO2 and M2O/Al2O3 (M: K and Na) to XRD analysis resulted in the formation of peak KAlSiO4 (Ka) and NaAlSi3O8 (Al) with the degree of crystallinity total K+ 52.14% activator is more amorphous than Na+ activator+ 55.32% and more amorphous than fly ash precursor 58.05%. Analysis of the geopolymer functional group with FTIR showed that geopolymers were formed characterized by the presence of absorption bands at 996.01 cm-1 and 987.53 cm-1 indicating stretching vibrations of Si-O-Si or Si-O-Al asymmetry.
Sintesis Nanopartikel Perak Termodifikasi Kitosan dengan Bioreduktor Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) dan Uji Aktivitasnya sebagai Antibakteri Prasetyaningtyas, Tiwi; Prasetya, Agung Tri; Widiarti, Nuni
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v9i1.29927

Abstract

ABSTRAK Infeksi bakteri terhadap kesehatan manusia merupakan masalah yang sering dijumpai saat ini. Bakteri E.coli dan S.aureus merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit kulit, radang paru-paru, diare, dan kegagalan ginjal (Fardias, 1992). Sintesis nanopartikel perak dan uji aktivitasnya terhadap bakteri telah dipelajari untuk mengetahui potensi nanopartikel perak sebagai antibakterial. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh volume AgNO3 terhadap karakteristik nanopartikel perak yang meliputi ukuran dan distribusi ukuran partikel serta pengaruh waktu kontak terhadap kestabilan nanopartikel dan aktivitas antibakteri. Nanopartikel perak disintesis dengan metode green synthesis, dengan cara mereduksi AgNO3 dengan bioreduktor daun kemangi dan ditambahkan kitosan 1% sebagai stabilisator. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun kemangi yang dipreparasi dengan metode sokletasi mengandung senyawa fenolik yang berperan dalam proses reduksi perak. Koloid nanopartikel perak yang disintesis selanjutnya dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan Particle Size Analyzer (PSA). Analisis terhadap spektra UV-Vis menunjukkan bahwa kondisi optimal sintesis nanopartikel perak diperoleh pada AgNPs II-kit (45:10:15 mL v/v) dengan waktu pembentukan pada hari ke-0. Identifikasi ukuran partikel menggunakan PSA menunjukkan bahwa nanopartikel perak yang disintesis mempunyai ukuran rata-rata terkecil 366 nm yaitu pada koloid AgNPs II-kit dengan distribusi melebar karena terkompositkan dengan kitosan. Analisis zeta potensial menunjukkan nanopartikel perak yang disintesis memiliki ukuran yang beragam dan kurang stabil. Nanopartikel perak hasil sintesis menunjukkan adanya aktivitas antibakteri terhadap bakteri E.coli lebih kuat dibandingkan dengan S.aureus. Abstract Bacterial infections against human health are a common problem today. E.coli and S.aureus is one of the bacteria that causes skin disease, pneumonia, diarrhea, and kidney failure (Fardias, 1992). The synthesis of silver nanoparticles and their activity on bacteria has been studied to determine the potential of silver nanoparticles as antibacterial. The purpose of this study was to determine the effect of the volume of AgNO3 on the characteristics of silver nanoparticles which included the size and distribution of particle size and the effect of contact time on nanoparticle stability and antibacterial activity. Silver nanoparticles were synthesized by the green synthesis method, by reducing AgNO3 with basil leaf extract and 1% chitosan added as a stabilizer. The results showed that basil leaf extract prepared by the socletation method contained phenolic compounds which played a role in the process of silver reduction. The synthesized silver nanoparticles colloid were then characterized using Spectrophotometers UV-Vis and Particle Size Analyzer (PSA). Analysis of UV-Vis spectra showed that the optimal conditions for synthesis of silver nanoparticles were obtained at AgNPs II-kit (45:10:15 mL v/v) with the formation time on day 0. Particle size identification using PSA showed that the synthesized silver nanoparticles had the smallest average size of 366 nm, namely AgNPs II-kit with a widening distribution because it was composited with chitosan. Potential zeta analysis shows that the synthesized silver nanoparticles have diverse and less stable size. The synthesized silver nanoparticles showed antibacterial activity against E. coli tends to be stronger than S. aureus bacteria.
Identifikasi Senyawa Minyak Daun Kari (Murraya koenigii) dan Kajian Reaksi Oksidasinya dengan KMnO4 Septiyaningsih, Tri; Cahyono, Edy; Wijayati, Nanik
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v8i3.30346

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa pada daun kari dan kajian reaksi oksidasi minyak daun kari (Murraya koenigii L.) menggunakan oksidator KMnO4. Reaksi oksidasi dilakukan pada temperatur 25, 45 dan 65oC berlangsung selama 30; 60; 90; 120; dan 150 menit. Metode penelitian yang dilakukan dimulai dengan isolasi minyak menggunakan penyulingan destilasi uap dan air kemudian dilakukan identifikasi kandungan menggunakan gas chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS) dan Fourier Transform Infra Red (FT-IR), selanjutnya dilakukan reaksi oksidasi minyak daun kari dengan KMnO4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak daun kari mengandung senyawa golongan terpenoid. Hasil isolasi didapatkan 25 senyawa yang terkandung dalam minyak daun kari. Komponen utamanya yaitu kariofilena (38,92%), α-pinena (19,10%), β-felandrena (8,91%), α-humulena (7,13%) dan germakrena (6,51%). Hasil reaksi oksidasi minyak daun kari terdapat 63 senyawa hasil. Senyawa klovena dan α-terpinena merupakan hasil reaksi yang paling merujuk untuk di analisis lebih lanjut. Klovena diduga berasal dari reaksi oksidasi kariofilena sedangkan α-terpinena diduga merupakan produk isomerisasi α-pinena. The aim of this study was to identify compounds in curry leaves and study the oxidation reaction of curry leaf oil (Murraya koenigii L.) using KMnO4 oxidizing agents. The oxidation reaction is carried out at temperatures 25, 45 and 65oC for 30; 60; 90; 120; and 150 minutes. The research method was carried out starting with oil isolation using steam and water distillation distillation then identification of the content using gas chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS) and Fourier Transform Infra Red (FT-IR), then oxidation of curry leaf oil with KMnO4. The results showed that curry leaf oil contained terpenoid compounds. The results of isolation obtained 25 compounds contained in curry leaf oil. The main components are caryophyllene (38.92%), α-pinene (19.10%), β-phellandrene (8.91%), α-humulene (7.13%) and germacrene (6.51%). The results of the curry leaf oil oxidation reaction found 63 compounds. clovene and α-terpinene compounds are the reaction products that most refer to further analysis. clovena is thought to originate from the caryophyllene oxidation reaction whereas α-terpinene is thought to be an α-pinene isomerization product.