cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Edu Geography
ISSN : 22526684     EISSN : 25490346     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Edu Geography [p-ISSN 2252-6684|e-ISSN 2549-0346|DOI 10.15294.edugeo] publishes original research and conceptual analysis of geography education. Edu Geography provides a forum for educators and scholars to present innovative teaching strategies and essential content for elementary and secondary geography, AP Human Geography, introductory college geography, and preservice methods courses. The journal invites scholarly work in the areas of how students learn and instructors teach by preserving and disseminating research. It is also a forum for discussion of state, national, and international trends in geography education. The journal seeks original manuscripts that contribute to the understanding of issues and topics associated with geography education.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PELAKSANAAN WAJIB BELAJAR 9 TAHUN BAGI ANAK USIA SEKOLAH DI DESA BODAS KECAMATAN WATUKUMPUL KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2012
Edu Geography Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat pelaksanaan wajib belajar 9 tahun bagi anak usia sekolah dan untuk mengetahui faktor yang paling dominan. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel populasi yaitu seluruh orang tua di Desa Bodas yang mempunyai anak usia sekolah yang tidak menyelesaikan wajib belajar 9 tahun yaitu sebanyak 59 orang. Teknik pengumpulan data dengan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan orang tua anak sebesar 77,96% lulusan SD, 71,19% pendapatannya kurang dari Rp.260.000 per bulan, 49,15% orang tua berpandangan bahwa pendidikan agak penting, sebesar 62,71% menempuh jarak lebih dari 5 km untuk menuju ke SMP terdekat, sebesar 67,80% kondisi jalan yang dilalui menuju SMP terdekat sangat rusak, 66,80% membutuhkan waktu lebih dari 2 jam untuk sampai di SMP terdekat, dan 100% responden untuk bepergian ke sekolah dengan berjalan kaki. Simpulan bahwa penghambat pelaksanaan wajib belajar 9 tahun bagi anak usia sekolah di Desa Bodas adalah tingkat pendidikan orang tua yang rendah, pendapatan orang tua yang rendah, rendahnya pandangan orang tua tentang pentingnya pendidikan anak, kondisi jalan yang rusak, waktu dan jarak tempuh yang jauh, tidak adanya transportasi, dan faktor yang paling dominan adalah faktor aksesibilitas yaitu kondisi transportasi.This studyaimedtodetermine the inhibiting factors of the9-yearcompulsory education’s implementationfor the school-age childrenandto determinethe mostdominantfactor. The sample inthis study wasthe wholepopulation sampleof parentsin Bodas village whohave the school-age childrenwhodo notcomplete the9-yearcompulsory educationas many as59 people. The data collection techniques were questionnaires, interviews, observationanddocumentation. The data analysis used in this study wasdescriptivepercentage analysis technique. The results showedthe parents’educationforprimary schoolgraduates77.96%, 71.19% of their revenue are lessthanRp.260.000permonth, 49.15% of parents viewthat educationis rather important, 62.71% take on a distance morethan5milesto go to thenearest secondary school, 67.80% of the roadconditionto thenearest secondary school wasbroken, 66.80% took morethan2hours toreach thenearest secondary school, and 100% of respondentsgoto schoolby foot. The conclusion is thatinhibiting factors ofthe9-yearcompulsory education’s implementationforschool-age childrenin Bodasvillage are the low level ofparents’ education, lowparents’ income, low parentalviewson the importance ofeducation, the condition ofroads,timeand far distance, lack oftransportationandthe mostdominantfactoris theaccessibility factor that istheconditions of transportation.
KENDALA PEMBELAJARAN IPS PADA SISWA KELAS XI SMALB TUNARUNGU DI SLB NEGERI SEMARANG TAHUN AJARAN 2011/2012
Edu Geography Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semua anak berhak mendapatkan pendidikan, termasuk juga anak berkebutuhan khusus (ABK).  Anak tunarungu merupakan bagian integral dari anak berkebutuhan khusus. Anak tunarungu adalah anak yang mengalami kehilangan kemampuan pendengaran yang disebabkan kerusakan pada sebagian atau seluruh organ pendengaran sehingga dalam proses pembelajaran, informasi yang diberikan guru sering dimaknai salah. Agar para penyandang tunarungu dapat bersosialisasi dan mengembangkan kemampuan intelektualnya maka pemerintah maupun swasta mengadakan layanan pendidikan khusus. Dari upaya-upaya pemberian layanan pendidikan khusus tersebut maka para penyandang tunarungu dapat memperoleh pelajaran-pelajaran yang mereka butuhkan dalam bersosialisasi dengan masyarakat maupun keahlian-keahlian yang akan membawa masa depan mereka. Misalnya saja mata pelajaran IPS memberikan mereka pengetahuan tentang kondisi masyarakat dan lingkunganya, begitu juga dengan mata pelajaran lain yang mempunyai kegunaan masing-masing. Permasalahan dari penelitian ini  adalah apakah kendala dalam proses pembelajaran IPS pada siswa tunarungu, sedangkan tujuannya yaitu untuk mengetahui kendala dalam proses pembelajaran IPS pada siswa tunarungu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kendala yang dihadapi dalam perencanaan pembelajaran adalah kemampuan siswa yang berbeda-beda, kesulitan dalam mencari sumber dan bahan ajar, serta dengan sistem guru kelas menyebabkan guru kurang fokus dalam membuat perencanaan. Sedangkan, kendala dalam pelaksanaan pembelajaran adalah konsep kata siswa yang kurang baik, kurangnya sumber-sumber belajar dan alat peraga, proses pemahaman kata yang tidak merata sehingga butuh  media untuk memvisualisasikan materi dan kendala dalam pelaksanaan evaluasi adalah waktu pembelajaran relatif pendek, kurangnya sarana penunjang dan kurangnya konsep kata yang dimiliki siswa.All children are entitled to education, including children with special needs. Children with hearing impairment is an integral part of children with special needs. Deaf child is a child who has lost hearing ability due to damage to some or all of the organ of hearing so that the learning process, the information provided is often interpreted as false teachers. So that the deaf can socialize and develop their intellectual abilities, the government and private conduct of special education services. Of these efforts is the provision of special education services so the deaf can get the lessons they need in the community and socialize with the skills that their future will bring. For example, IPS subjects gave their knowledge about the condition of society and lingkunganya, as well as other subjects which have their usefulness. Problems of this study is whether the constraints in the process of learning social studies to students with hearing impairment, while the objective being to determine the IPS constraints in the learning process in students with hearing impairment.The results showed that in general the obstacles encountered in planning student learning is the ability of different, and the difficulty in finding sources of materials, as well as with the class teacher system causes less focus on teacher planning. Meanwhile, the constraints in the implementation of student learning is the concept of the word is not good, lack of learning resources and learning tools, the process of understanding a word that is uneven so take the media to visualize the material and the constraints in the evaluation of learning is a relatively short time, the lack of supporting facilities and lack concepts students have said.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI (EEK) SERTA KEBENCANAAN SEBAGAI BAHAN AJAR MATA PELAJARAN GEOGRAFI SMA/MA DI KABUPATEN REMBANG
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Kelayakan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi (EEK) serta Kebencanaan sebagai Bahan Ajar Mata Pelajaran Geografi SMA/MA di Kabupaten Rembang”. Penentuan sampel dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Sampel penelitian ini yaitu SMA N 1, 2, 3 Rembang, MAN 1 Rembang dan SMA N 1 Sumber. Variabel penelitian ini berupa kelayakan LKS sebagai bahan ajar. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian yaitu penilaian kelayakan LKS yang nilai oleh lima ahli bahan ajar dan materi menunjukkan rata-rata persentase sebesar 81,5% dengan kriteria sangat layak, hal tersebut sesuai dengan penilaian bahan ajar BSNP. Tanggapan oleh lima guru di SMA yang berbeda yang menanggapi LKS menunjukkan rata-rata persentase sebesar 82,1% dengan kriteria sangat layak. Sedangkan tanggapan oleh tigapuluh siswa menunjukkan rata-rata persentase sebesar 82% dengan kriteria sangat layak. Dapat disimpulkan bahwa LKS berbasis EEK serta kebencanaan layak digunakan sebagai bahan ajar mata pelajaran Geografi di SMA/MA di Kabupaten Rembang.This research’s aim is to determine “the feasibility of Exploration, Elaboration, Confirmation, and Disaster Based Students Work Sheet as Geography subject’s Learning Material of Senior High School in Rembang Regency”. Sampling was done by using Purposive Sampling. This research’s samples are 1, 2, 3 Senior High School of Rembang, Religious Senior High School of Rembang (MAN) and 1 Senior High School of Sumber. The variable is Students Work Sheet’s feasibility. Data analysis technique used is descriptive percentages. Work Sheet’s feasibility assesment that is assesed by five learning material and matter specialists showed 81,5% average percentage, the criteria is very proper, it was suitable with BSNP’s learning material assesment. Response of five teachers in different Senior High School showed 82,1% average percentage, the criteria is very proper. While response of thirty students showed 82% average percentage, the criteria is very proper. It can be concluded that Exploration, Elaboration, Confirmation, and Disaster Based Students Work Sheet is proper to used as Geography subject’s learning material of Senior High School in Rembang regency.
PENGARUH KONDISI SOSIAL EKONOMI KELUARGA TERHADAP TINGKAT PARTISIPASI ANAK PADA JENJANG PENDIDIKAN TINGGI
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi keluarga di Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, (2) Untuk mengetahui partisipasi anak pada pendidikan tinggi di Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, (3) Untuk mengetahui pengaruh kondisi sosial ekonomi keluarga terhadap partisipasi anak pada jenjang pendidikan tinggi di Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Penentuan sampel dengan menggunakan teknik Proporsional sampling. Sampel penelitian ini yaitu orang tua yang mempunyai anak tamatan SMA atau usia Perguruan Tinggi. Metode pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dan angket. Teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif persentase, uji normalitas,uji t, dan uji F. Hasil penelitian yaitu: (1) Hasil persentase kondisi sosial ekonomi orang tua menunjukkan nilai rata-rata (mean) adalah 76,58% sehingga dapat diketahui bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua termasuk dalam kategori “sedang”. (2) Hasil persentase tingkat partisipasi anak pada jenjang pendidikan tinggi menunjukkan nilai rata-rata (mean) adalah 40,80% sehingga dapat diketahui bahwa tingkat partisipasi termasuk dalam kategori “rendah”. (3) Hasil regresi linear menunjukkan bahwa pengaruh kondisi sosial ekonomi keluarga terhadap partisipasi anak pada jenjang pendidikan tinggi di Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Kota Semarang yaitu sebesar 0,197, sehingga di katakan ”rendah”. Dapat di simpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi keluarga berpengaruh rendah terhadap tingkat partisipasi anak pada jenjang pendidikan tinggi di Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.This study aimed to determine: (1) To determine the socio-economic condition of the family in the village Patemon Gunungpati District of Semarang, (2) To know the child’s participation in higher education in Sub Patemon Gunungpati of Semarang district, (3) To determine the effect of socio-economic conditions families of the children’s participation in higher education in Sub Patemon Gunungpati District of Semarang. Sampling using proportional sampling technique. The research sample is that parents who have children graduate high school or university age. Methods of data collection methods of observation, interviews, and questionnaires. The data analysis technique used is descriptive percentages, normality test, t, and F test The results of the study are: (1) The percentage of socio-economic conditions of parents shows the average value (mean) is 76.58%, so it can be seen that the socio-economic conditions of the parents are included in the category of ”moderate”. (2) The percentage rate of participation in higher education shows the average (mean) was 40.80%, so it can be seen that the level of participation is included in the category of ”low”. It can be concluded that the socio-economic conditions of low family influence on the level of participation in higher education in Sub Patemon Gunungpati District of Semarang.
STUDI EKSPERIMEN PEMANFAATAN BLENDED LEARNING MODEL BERBASIS WEB SEBAGAI SUMBER BELAJAR GEOGRAFI
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pelaksanaan pembelajaran blended learning model berbasis web sebagai sumber belajar geografi dan pembelajaran model konvensional, (2) perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan blended learning model berbasis web dan pembelajaran model konvensional. Populasi siswa kelas X SMA N 1 Parakan. Penentuan sampel menggunakan teknik purporsive sampling. Sampel penelitian yaitu siswa kelas X-4 dan X-6. Metode pengumpulan data dengan metode dokumentasi, observasi, angket dan tes. Teknik analisis data yaitu deskriptif persentase dan uji t. Hasil penelitian yaitu: kelas yang menggunakan blended learning model berbasis web rerata kinerja guru sebesar 78,33% dalam kriteria “baik”, aktivitas siswa ”aktif” pembelajaran dan siswa memberikan tanggapan “sangat tertarik”. Pada kelas siswa model konvensional rerata kinerja guru sebesar 65,83% kriteria “baik”, aktivitas siswa “cukup aktif” dalam  pembelajaran dan memberikan tanggapan “cukup tertarik” terhadap pembelajaran. Rerata hasil belajar geografi kelas eksperimen sebesar 76,78 dan kelas kontrol 72,71. Dengan uji t diperoleh thitung = 2,852 > ttabel = 2,000. Dapat disimpulkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran blended learning model lebih baik dari pembelajaran konvensional (2) terdapat perbedaan rerata hasil belajar geografi antara siswa di kelas yang diajar dengan blended learning model dengan yang diajar dengan model konvensional. This study aimed to determine: (1) the implementation of blended learning models of web-based learning and conventional model, (2) differences in learning using blended learning models and conventional models in  SMA N 1 Parakan. Population are studen`ts classs X SMA N 1 Parakan. Determination of the sample by technique purporsive sampling. The sample are students class X-4 and X-6. The method of data documentation, observation, questionnaires and tests. The data analysis technique used descriptive percentages and t-test. The results are : (1) the results showed uses blended learning model of web-based teachers average performance of 72,5% criteria “good” student activity “active” and the students responded “very interested”. In class with  conventional model of teacher performance by 65,83% criteria “good” student activity “quite active” and the students responded “quite active”. Learning results of experimental class at 76,78 and 72,71 control class. With t-test obtained by t- test = 2,852> t table = 2,000. It was concluded that (1) the implementation of blended learning model is better than conventional learning (2) there is difference of learning result between students by blended learning model with by conventional models.
KONTRIBUSI PENDAPATAN TENAGA KERJA INDUSTRI KERAJINAN RAMBUT TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN ANAK DI DESA KARANGBANJAR KECAMATAN BOJONGSARI KABUPATEN PURBALINGGA
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri merupakan salah satu sektor ekonomi yang memegang peranan penting. Tingkat pendidikan diasumsikan dapat mewakili kualitas tenaga kerja, tetapi tingkat pendidikan masyarakatnya sebagian besar berpendidikan tamat SD/ Sederajat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi pendapatan tenaga kerja industri kerajinaan rambut terhadap tingkat pendidikan anak dan mengetahui persentase tiap tingkat pendidikan anak dari tenaga kerja industri kerajinan rambut di Desa Karangbanjar Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga. Pengambilan sampel menggunakansimple random sampling, dengan sampel sebanyak 82 orang. Penelitian ini menggunakan metode kuntitatif. Data dikumpulkan dengan kuesioner, wawancara, observasi, dokumentasi, dianalisis dengan deskriptif persentase dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan tenaga kerja industri kerajinaan rambut berkontribusi terhadap tingkat pendidikan anak sebesar kontribusi pendapatan tenaga kerja industri kerajinaan rambut terhadap tingkat pendidikan anak dengan kontribusi sebesar 32,7%. Besarnya persentase pendidikan yaitu anak tidak sekolah 3,40%, SD 23,80%, SMP 19,80%, SMA 38,30% dan Perguruan Tinggi 4,70%. Kesimpulan penelitian ini yaitu pendapatan tenaga kerja tinggi dan berkontribusi terhadap tingkat pendidikan anak. Saran yang diajukan yaitu sebaiknya tenaga kerja lebih meningkatkan keterampilan melalui pelatihan, dan pemerintah lebih memberikan perhatian untuk tenaga kerja dengan pelatihan dan penyuluhan untuk meningkatkan pendapatan sehingga biaya pendidikan dapat terpenuhi.Industry is one of the economic sectors that handling important role. The education levels are assumed can be represent the quality of the manpower, but the education levels of society largely educated elementary school/ same degree. The purpose of this research is to know the contribution of manpower incomes haircraft industry to the children’seducation levelsand to know percentage of children’s education levels of the manpower haircraft industry in the Karangbanjar village Bojongsari Purbalingga district. The removal sampling use simple random sampling, with samples as many as 82 people. This research use quantity method. The data was collected with questionnaires, interviews, observation, documentation, analyzed with descriptive percentages and regression analysis. The research showed thats the incomesof manpower haircraft industry contributes to the children’s education levelswith contribution to 32.7%. The percentage of education is children who are not schooling as much as 3.40%, elementary school 23.80%, junior high school 19.80%, senior high school 38.30% and high institution 4.70%.The conclusion of this research isincome of the manpower is high and contributed to the children’s education levels.Suggestions put forward is the manpower should more increase the skill with training and the government should give more attention to the manpower with providing training and information toincrease the incomes so cost of their children’s education can be fulfilled.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN TERHADAP KETUNTASAN WAJIB BELAJAR 9 TAHUN ANAK DI KELURAHAN BANDARHARJO KECAMATAN SEMARANG UTARA
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model pembelajaran bolasalju merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan nelayan dengan ketuntasan wajib belajar 9 tahun anak di Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara, (2) Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kondisi sosial ekonomi nelayan dengan ketuntasan wajib belajar 9 tahun anak di Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara, (3) Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan sosial ekonomi nelayan terhadap ketuntasan wajib belajar 9 tahun anak di Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Penentuan sampel dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Sampel penelitian ini yaitu orang tua yang aktif bekerja sebagai nelayan. Metode pengumpulan data dengan metode kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif persentase, dan korelasi ganda. Hasil penelitian yaitu: (1) Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan nelayan dengan ketuntasan wajib belajar 9 tahun anak dengan koeffisien korelasi sebesar 0,356 dengan taraf signifikasi 0,018, (2) Ada hubungan yang signifikan antara kondisi sosial ekonomi orang tua dengan ketuntasan wajib belajar 9 tahun anak dengan koeffisien korelasi sebesar 0,307 dengan taraf signifikasi sebesar 0,043, (3) Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan sosial ekonomi nelayan terhadap ketuntasan wajib belajar  9 tahun anak dengan r hitung sebesar 16,18 yang lebih besar daripada r tabel yaitu 1,6820. Dapat di- simpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan dan sosial ekonomi nelayan terhadap ketuntasan wajib belajar 9 tahun anak . This study aimed to determine: (1) To determine whether there is a relationship between the level of education of fishermen with the 9-year compulsory completeness children Bandarharjo Urban District of North Semarang, (2) to determine whether there is a relationship between socio-economic conditions of fishermen with thoroughness compulsory 9 Bandarharjo year old son in the Village District of North Semarang, (3) To determine whether there is a relationship between level of education and socioeconomic fishermen toward mastery 9-year compulsory Bandarharjo children in the Village District of North Semarang. Determination of the sample using stratified random sampling technique. The research sample is that parents who are actively working as a fisherman. Methods of data collection by questionnaire, documentation, and interviews. The data analysis technique used is descriptive percentage, and double correlation. The results of the study are: (1) There is a significant relationship between the level of education of fishermen with the 9-year compulsory completeness child with a correlation coefficient of 0.356 with a significance level of 0.018, (2) There is a significant relationship between socio-economic conditions of older people with mastery compulsory 9 year-old kid with a correlation coefficient of 0.307 with a significance level of 0.043, (3) There is a significant relationship between level of education and socioeconomic completeness fishermen to 9-year compulsory child with r count of 16.18 is greater than the table r 1, 6820. It can be concluded that there is a significant effect between level of education and socioeconomic fishermen to mastery compulsory 9 year old son.
PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN MASYARAKAT PETERNAK SAPI PERAH DI DESA SUKORAME KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat pendidikan masyarakat di Desa Sukorame yang masih relatif rendah me ngakibatkan cara mengelola atau memanajemen dalam usaha beternak sapi pe rah yang dilakukan masih sederhana. Maka dari itu tingkat pendapatan yang dipe roleh dari usaha tersebut belum maksimal dan masih dalam tingkatan yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk  mengetahui bagaimana usaha peternakan sapi perah di Desa Sukoram, mengetahui tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat peternak sapi perah di Desa Sukorame, mengetahui apakah tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat peternak sapi perah di Desa Sukorame.Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang memiliki usaha ternak sapi perah.Pengambilan sampel menggunakan teknik combined sampling, kemudian diperoleh 124 responden. Analisis data meliputi deskriptif persentase, uji normalitas, uji linieritas, uji analisis regresi sederhana, uji determinasi, dan uji hipotesis menggunakan uji t.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat peternak sapi perah 56,01% masuk dalam rata-rata klasikal rendah. Tingkat pendapatan masyarakat peternak sapi perah 61,64% masuk dalam rata-rata klasikal rendah. Serta terdapat pengaruh antara tingkat pendidikan terhadap tingkat pendapatan masyarakat peternak sapi perah sebesar 32,2%.Level of public education in the village is still relatively low in Sukorame lead the way in an attempt to manage or managing dairy cattle breeding is done is simple.Thus thelevel of revenue generated from the business is not maximized and is still in a low level.The purpose of this study was to determine how the business dairy farmin the village of Sukorame, knowing the level of education held by the dairy farmers in the village of Sukorame, determine whether the level of education affects the incomes of dairy farmers in the village Sukorame.Populasi this study are all people who have dairy cattle business. Sampling using combined sampling, and obtained124respondents.Data analys is includes descriptive percentages, test for normality, linearity test, simple regression analysis test, determination test, and test hypotheses using the t test. The results showed that the level of public education 56.01% of dairy farmers in the classical average low. Income levels 61.64% of dairy farmers in the classical average low. And there is the influence of the level of education on the level of income of dairy farmers by 32.2%.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKTUNTASAN NILAI MATA PELAJARAN GEOGRAFI MATERI POKOK DASAR-DASAR ILMU GEOGRAFI
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaktuntasan nilai mata pelajaran geografi materi pokok dasar-dasar ilmu geografi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, angket, dan interview. Analisis data menggunakan deskriptif persentase. Hasil analisis  menunjukkan bahwa 53% siswa memiliki minat yang rendah dan 4% siswa memiliki minat sangat rendah terhadap pelajaran geografi dan 36 % siswa memiliki perhatian rendah bahkan 22% siswa memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap pelajaran geografi. Dapat disimpulkan bahwa fakor yang mempengaruhi ketidaktuntasan mata pelajaran geografi materi pokok dasar-dasar ilmu geografi adalah faktor minat dan perhatian siswa terhadap mata pelajaran geografi.The goal of this research is to find out the factors of low achievement in geography from the material of “dasar-dasar ilmu geografi”. The subject of the research is the tenth grade students. In collecting the data, this study used the approaches of documentating, questionaries, and interview sessions. Descriptive precentages were being used to analyze the data. The result of the analysis shows that 53% of the students are having low interest and the 4% of the students are having very low interest in geography. While 36% of the students rae having low attention and the 22% of the students are having even lower attention in geography. From the above result, it came to a conclusion that the factors of low achievement in geography by the material of “dasar-dasar ilmu geografi”, is the factor of student’s interest and student’s attention toward geography itself.
SUMBANGAN PENDIDIKAN TERHADAP PERAN SERTA PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) DALAM PENGELOLAAN JARINGAN IRIGASI DI KECAMATAN PETARUKAN KABUPATEN PEMALANG
Edu Geography Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumbangan pendidikan terhadap peran serta perkumpulan petani pemakai air (P3A), mengkaji pengetahuan dan kendala-kendala dalam pengelolaan jaringan irigasi. Populasi dalam penelitian ini adalah 21 orang P3A di Kecamatan Petarukan. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan tehnik sampel jenuh dan purposive sampling, seluruh P3A di Kecamatan Petarukan, 4 pengurus GP3A, dan 4 pegawai DPU diambil sebagai sampel. Fokus data dalam penelitian ini adalah pendidikan, pengetahuan dan peran serta P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Tehnik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pendidikan P3A ialah SMA (42,86%). Tingkat pendidikan cukup mampu memberikan sumbangan bagi peran sertanya dalam pengelolaan jaringan irigasi yang dalam kategori sedang (90,48%).This research aim to know the education contribution to role and also bevy of farmer wearer irrigate the (P3A), studying knowledge and constraints in management of irrigation network. Population in this research is 21 people P3A in District Petarukan. Sampel in this research taken technicsly is saturated sampel and purposive sampling, all P3A in District Petarukan, 4 official member GP3A, and 4 officer DPU taken by as sampel. Focus the data in this research is education, knowledge and role and also P3A in management of irrigation network. Technics of data collecting in this research is by using interview, documentation, and observation. Technics analyse the data in this research use the descriptive analysis of kuantitatif. Result of research indicate that the mean mount the education P3A is SMA ( 42,86%). Education level enough can give the contribution to role and also in management of irrigation network which is in category is enough ( 90,48%).

Filter by Year

2012 2023