cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AKULTURASI (JURNAL ILMIAH AGROBISNIS PERIKANAN)
ISSN : 23374195     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023" : 27 Documents clear
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA TERHADAP LAYANAN ADMINISTRASI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) BITUNG DI KOTA BITUNG Nova Kristiani Matondang; Siti Suhaeni; Djuwita R.R. Aling; Swenekhe S. Durand; Christian R. Dien
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.44814

Abstract

Abstract Bitung Ocean Fishing Port is located in the waters of the Lembeh Strait. PPS Bitung is a class A fishing port located in Bitung City, North Sulawesi. The Bitung Ocean fishing port as the Technical Implementation Unit of the Director General of Capture Fisheries. Bitung Ocean Fishing Port has services such as port facility services and administrative services, the two services are one unit in fulfilling fishermen's satisfaction. Administrative services in Bitung Ocean Fishing Port such as issuance of STBLKK, SLO, SPB and IJTL. The population in this study are users of administrative services such as agents, captains and ship owners. The purpose of this study was to determine the satisfaction level of administration service users at Bitung Ocean Fishing Port. This research method uses a survey method. The number of samples taken as many as 15 people, using the sampling method. Sampling using incidental sampling method. The data collected is in the form of primary data and secondary data. Primary data is data collected directly by researchers by means of interviews. Secondary data is data collected from a second party in the form of notes or reports obtained from the port chief office at PPS Bitung. Data analysis in this study used a Likert scale. Based on the results of the analysis it can be concluded that users are very satisfied with the administrative services provided by PPS Bitung because the results of the analysis with a Likert scale obtained a score of 4.14 which means that users are very satisfied with the administrative services provided by PPS Bitung.  Keywords: fishery, port, port chief, service, satisfaction   Abstrak Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung terletak di perairan Selat Lembeh. PPS Bitung merupakan pelabuhan perikanan kelas A yang berlokasi di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Pelabuhan perikanan Samudra Bitung sebagai Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Direktur Jendral Perikanan Tangkap. PPS Bitung memiliki layanan seperti layanan sarana pelabuhan serta layanan administrasi, kedua layanan tersebut merupakan satu kesatuan dalam memenuhi kepuasan nelayan. Layanan Administrasi yang ada di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis layanan administrasi apa saja yang ada di PPS Bitung dan mengetahui tingkat kepuasan pengguna terhadap layanan administrasi yang disediakan PPS Bitung Populasi dalam penelitian adalah pengguna layanan administrasi seperti agen, nahkoda dan pemilik kapal. Metode penelitian ini menggunakan metode survey. Pengambilan data menggunakan metode sampling dan pengambilan sampel menggunakan metode insidental sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 15 orang. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara yang dipandu dengan kuesioner . Data sekunder dikumpulkan melalui catatan atau laporan yang diperoleh dari kantor Kesyahbandaran di PPS Bitung. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis kualitatif yang dikuantitatifkan dengan analisis skala likert. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada beberapa layanan administrasi yang disediakan oleh PPS Bitung yaitu sarana penunjang layanan administrasi, layanan penerbitan STBLKK (Surat Tanda Bukti Laporan Kedatangan Kapal),STBLKK (Surat Tanda Bukti Laporan Keberangkatan Kapal) SLO (Surat Laik Operasi), SPB (Surat Persetujuan Berlayar) dan IJTL (Imbalan Jasa Tambat Labuh). Hasil analisis dengan skala Likert diperoleh hasil bahwa pengguna layanan administrasi PPS Bitung merasa sangat puas terhadap layanan administrasi yang disediakan. Hasil analisis dengan skala Likert diperoleh skor 4,14 yang berarti bahwa pengguna merasa sangat puas terhadap layanan administrasi yang diberikan oleh PPS Bitung. Kata Kunci: perikanan, pelabuhan, syahbandar, layanan, kepuasan
KONDISI SOSIAL EKONOMI PEDAGANG IKAN LAUT SEGAR DI PASAR RAKYAT SUKUR KECAMATAN AIRMADIDI KABUPATEN MINAHASA UTARA Mega Kereh; Jeannette F. Pangemanan; Jardie A. Andaki; Victoria E.N. Manoppo; Djuwita R.R. Aling
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.44855

Abstract

Abstract The purpose of this study was to find out the general condition of the market and find out the socio-economic conditions of traders in the Sukur People's Market, Airmadidi District, North Minahasa Regency. The population in this study was fresh sea fish traders at the Sukur People's Market. The method that will be used in this study is the survey method. The data analysis that will be used in this study is quantitative analysis and qualitative analysis. Socioeconomic conditions of fresh sea fish traders in Sukur People's Market: 1.)Social conditions: The age of the respondents is at the productive age of 30-50 years, the most education is elementary school and the least is junior high school, the highest number of family dependents is 3-4 people and the religion of each trader is the most from Islam with 7 people and Christianity 1 person. 2) Economic circumstances: the average income of fresh sea fish traders in a year is 46,450,000, monthly expenses with an average of 430,000, start-up capital is sent capital.  Keywords: socio-economic; merchant; fresh fish; Sukur People's Market   Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan umum Pasar dan mengetahui kondisi sosial ekonomi pedagang di Pasar Rakyat Sukur Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah pedagang ikan laut segar di Pasar Rakyat Sukur. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Kondisi sosial ekonomi pedagang ikan laut segar di Pasar Rakyat Sukur: 1.) Kondisi sosial: Umur responden berada pada usia produktif 30-50 tahun, Pendidikan yang paling banyak yaitu SD dan yang paling sedikit yaitu SMP, jumlah tanggungan keluarga terbanyak yaitu 3-4 orang dan agama dari setiap pedagang paling banyak dari agama Islam dengan jumlah 7 orang dan Kristen 1 orang. 2) Kondisi ekonomi: rata-rata dari pendapatan pedagang ikan laut segar dalam setahun sebesar 46.450.000, pengeluaran perbulan dengan rata-rata 430.000, modal awal adalah modal sendiri kemudian untuk meningkatkan penghasilan maka jumlah modal sesuai dengan keterangan pada Tabel modal dari pedagang ikan laut segar. Kata Kunci: sosial ekonomi; pedagang; ikan luat segar; Pasar Rakyat Sukur
TARAF HIDUP KELUARGA ANAK BUAH KAPAL (ABK) KAPAL PAJEKO DI KELURAHAN BATULUBANG KECAMATAN LEMBEH SELATAN KOTA BITUNG Riska Puji Lestari; Siti Suhaeni; Steelma V. Rantung; Swenekhe S. Durand; Jeannette F. Pangemanan; Grace O. Tambani
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.44957

Abstract

Abstract ABK is a crew member whose income depends on the catch and also the profit-sharing system. The problem is how the abk family meets their daily needs and how they family's standard of living is, because their catch is heavily influenced by the season and weather. The purpose of this study is to determine the number and source of income of the ABK pajeko family, to find out the amount and type of family expenses, and analyse the contribution of ABK's income to the total family income, as well as to find out the standard of living of the ABK pajeko family in Batulubang Village. The method used in this study is the survey method. The population in this study is a family of pajeko ship crew in Batulubang Village, which numbers 40 people. Data retrieval method using census method. The data collected is primary data and secondary data. Primary data collection was carried out by means of guided interviews with questionnaires and observations. Secondary data collection is by citing existing data from relevant agencies or previous research. Standard of living in analysis with Engel Index. Based on the results of the study, it is known that the average income of the family of the crew of the pajeko ship in Batulubang Village for one year is Rp. 40,152,500, sourced from the main job as a pajeko ship crew member and side job. The contribution of ABK's income to family income is 94.2%, this means that work as a pajeko ship crew member is the foundation of family life. The family expenditure of the crew of the pajeko ship consists of total food expenditure and total non-food expenditure. Average food expenditure of one year is Rp. 21,000,000, and average non-food expenditure for one year is Rp. 19,152,500, so that the average family expenditure for one year is Rp. 40,152,500. Engel Index analysis obtained at 52.3%, this means that 52.3% of the total income of ABK families in Batulubang Village is used to meet food needs only. This means that the welfare level of pajeko ship crew in Batulubang Village is still relatively low.  Keywords: standard of living, ABK, Batulubang   Abstrak ABK merupakan anak buah kapal yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkapan dan juga sistem bagi hasil. Permasalahannya adalah bagaimana keluarga ABK tersebut memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan bagaimana taraf hidup keluarga mereka, karena hasil tangkapan mereka banyak dipengaruhi oleh musim dan cuaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah dan sumber pendapatan keluarga ABK Kapal Pajeko, untuk mengetahui jumlah dan jenis pengeluaran keluarga, dan menganalisis kontribusi pendapatan ABK terhadap total pendapatan keluarga, serta untuk mengetahui taraf hidup keluarga ABK Kapal Pajeko di Kelurahan Batulubang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah ABK Kapal Pajekoyang sudah berkeluarga yang ada di Kelurahan Batulubang yang berjumlah 40 orang. Metode pengambilan data menggunakan metode sensus. Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara yang dipandu dengan kuisioner dan observasi. Pengumpulan data sekunder yaitu dengan mengutip data yang sudah ada dari instansi terkait ataupun penelitian yang terdahulu. Taraf hidup di analisis dengan Indeks Engel. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendapatan rata-rata keluarga ABK Kapal Pajeko di Kelurahan Batulubang adalah Rp. 40.152.500 per tahun, bersumber dari pekerjaan pokok sebagai ABK Kapal Pajeko dan pekerjaan sampingan. Kontribusi pendapatan ABK terhadap pendapatan keluarga yaitu 94,2%, ini berarti bahwa pekerjaan sebagai ABK Kapal Pajeko merupakan tumpuan kehidupan keluarga. Pengeluaran keluarga ABK Kapal Pajeko terdiri dari total pengeluaran pangan dan total pengeluaran non pangan. Rata-rata pengeluaran pangan sebesar Rp. 21.000.000 per tahun, dan rata-rata pengeluaran non pangan sebesar Rp. 19.152.500 per tahun, sehingga rata-rata pengeluaran keluarga sebesar Rp. 40.152.500 per tahun. Analisis Indeks Engel yang diperoleh sebesar 52,3%, ini berarti bahwa 52,3% dari total pendapatan keluarga ABK di Kelurahan Batulubang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan saja. Hal ini berarti bahwa tingkat kesejahteraan ABK Kapal Pajeko di Kelurahan Batulubang masih tergolong rendah. Kata Kunci: taraf hidup, ABK, Batulubang
KEADAAN SOSIAL EKONOMI PELAKU USAHA KECIL MENENGAH (UKM) BIDANG KULINER DI DERMAGA DESA BUDO, KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Excel Golioth; Djuwita R.R. Aling; Jeannette F. Pangemanan; Nurdin Jusuf; Steelma V. Rantung; Jardie A. Andaki
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45004

Abstract

Abstract Coastal areas have specific conditions. The conditions of the coastal areas are different from one another, so each has differences. Differences in terms of characteristics cause different problems that exist, thus, have differences in how to handle them. Budo Village, Wori District, North Minahasa Regency is one of the coastal villages in North Sulawesi which is famous for its mangrove tourism. There are about 30 hectares of which are overgrown with various mangrove vegetation. This mangrove forest tour was nominated for the 5 (five) best in North Sulawesi. In addition to the potential for mangrove forests, Budo village has a pier which is a place for culinary tours for visitors. The purpose of this study was to determine the socio-economic conditions of culinary SMEs at the docks of Budo Village, Wori District, North Minahasa Regency. The basic method used in this study is a case study, data taken by census on 3 UKM culinary business actors. Analysis of the results of the research data is divided into two, namely quantitative descriptive analysis and qualitative descriptive analysis. Business analysis uses the formula: π = TR − T????, in which case: π = Net income, TR = Total revenue and TC = Total cost. The results obtained regarding social conditions are taken according to age, who are still young and productive, last junior high school education, the number of family dependents of 3 people, more than 1 year of business experience and the condition of a permanent home. The economic situation of the 3 respondents can be seen that the culinary business at the pier of the first Budo Village, the capital of R1, R2 and R3 is in the range of Rp. 2,988,000, Rp. 11,915,000 and Rp. 8,361,000. Total Cost (TC) of each respondent Rp. 684,400, Rp. 984,100, Rp. 619,050. Total Revenue (TR) for each respondent is around Rp. 1,862,000, Rp. 1,957,000 and Rp. 1,166,000 Net income (π) for each respondent is Rp. 1,177,600, Rp. 972,900, and Rp. 546,950 so this business is worth continuing because it is profitable.  Keywords: small business, mangrove tourism, culinary, wharf, social, economy   Abstrak Wilayah pesisir mempunyai kondisi yang spesifik. Kondisi wilayah pesisir yang satu dengan yang lainnya, maka masing-masing memiliki perbedaan. Perbedaan dari sisi karakteristiknyamenyebabkan berbeda pula masalah yang ada, dengan demikian, memiliki perbedaan dalam cara penanganannya. Desa Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara merupakan salah satu desa pesisir di Sulawesi Utara yang terkenal dengan wisata mangrove. Terdapat sekitar 30 Ha yang ditumbuhi vegetasi tumbuhan mangrove yang beragam. Wisata hutan mangrove ini masuk nominasi 5 (lima) terbaik di Sulawesi Utara. Selain potensi hutan mangrove, desa Budo memiliki dermaga yang menjadi tempat berwisata kuliner bagi pengunjung. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui keadaan sosial ekonomi pelaku UKM bidang kuliner di dermaga Desa Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi kasus, data diambil secara sensus atas 3 orang pelaku usaha UKM bidang kuliner. Analisis data hasil penelitian dibedakan atas dua, yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Analisis usaha menggunakan rumus : π = TR − T????, hal mana : π = Pendapatan bersih, TR = Total penerimaan (Total Revenue) dan TC = Total biaya (Total cost). Hasil yang diperoleh tentang keadaan sosial diambil menurut umur, yang masih berumur muda dan produktif, pendidikan terakhir SMP, jumlah tanggungan keluarga 3 orang, pengalaman berusaha di atas 1 tahun dan keadaan rumah permanen. Keadaan ekonomi dari ke-3 responden dapat dilihat bahwa usaha kuliner di dermaga Desa Budo pertama, modal R1, R2, dan R3 berada pada kisaran Rp. 2.988.000, Rp. 11.915.000, dan Rp. 8.361.000. Total Cost (TC) masing-masing responden Rp. 684.400, Rp. 984.100, Rp. 619.050. Total Revenue (TR) masing-masing responden berkisar Rp. 1.862.000, Rp. 1.957.000, dan Rp. 1.166.000 Pendapatan bersih (π) masing-masing responden Rp. 1.177.600, Rp. 972.900, dan Rp. 546.950 sehingga usaha ini layak untuk diteruskan karena menguntungkan. Kata kunci: usaha kecil, wisata mangrove, kuliner, dermaga, sosial, ekonomi
TARAF HIDUP RUMAH TANGGA NELAYAN PENANGKAP GURITA DI DESA BULUTUI KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA Adhiah Mella Cahyani; Siti Suhaeni; Srie J. Sondakh; Florence V. Longdong; Steelma V. Rantung
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45468

Abstract

Abstract The purpose of this study, first to find out what are the sources and how much income of octopus-catching fisherman households, secondly to find out what types and amounts of octopus-catching fisherman households spend, and thirdly to find out how the standard of living of octopus-catching fishermen is. The method used in this research is survey method. The population in this study were octopus fishermen in Bulutui Village. The data collection method used is census. The census was conducted on a total population of 38 respondents. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data collection was carried out through observation and interviews guided by questionnaires. Secondary data were obtained from the Bulutui Village Office and previous studies related to this research. The data analysis used is descriptive qualitative and quantitative analysis. The standard of living of octopus fishing households was analyzed using the Engel Index. Based on the research results, it is known that fishermen's household income comes from work as octopus fishermen, and side jobs are still in the field of fisheries, such as crew members. Other jobs outside the fishery sector such as being a construction worker and animal breeder. The average total household income of octopus fishermen in Bulutui Village for one year is Rp. 34.254.349. There are 2 types of expenditure for fishing households in Bulutui Village, which is expenditure for food and expenditure for non-food. The average total expenditure for one year is Rp. 34.254.349, which is divided into expenditure for food needs of Rp. 17.981.053 and expenditure for non-food needs which are Rp. 16.273.296. The results of the analysis of the Engel Index are 52,49%, meaning that more than half of the total income of octopus fishermen is used to meet food needs only. The proportion for food, which is 52,49%, is greater than the proportion for non-food, which is 47,51%. This indicates that the standard living or welfare level of octopus fishermen in Bulutui Village is still relatively low because more than half of their income is only sufficient to meet food needs.   Keywords: standard of living, fishermen, octopus, Bulutui.  Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sumber dan jumlah pendapatan rumah tangga nelayan penangkap gurita, dan untuk mengetahui jenis dan jumlah pengeluaran rumah tangga nelayan penangkap gurita, serta untuk mengetahui bagaimana taraf hidup nelayan penangkap gurita di Desa Bulutui. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode survei. Populasi dalam penelitian ini ialah nelayan penangkap gurita yang ada di Desa Bulutui yang berjumlah 38 orang. Metode pengambilan data menggunakan metode sensus Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dan wawancara yang dipandu dengan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Bulutui dan penelitian-penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Analisis data yang digunakan iaalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Taraf hidup rumah tangga nelayan gurita dianalisis dengan Indeks Engel. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendapatan rumah tangga nelayan bersumber dari pekerjaan sebagai nelayan penangkap gurita, dan pekerjaan sampingan masih dibidang perikanan, seperti ABK. Pekerjaan lain diluar bidang perikanan seperti menjadi tukang bangunan dan peternak hewan. Total pendapatan rumah tangga nelayan penangkap gurita di Desa Bulutui rata-rata per tahun adalah Rp. 34.254.349. Pengeluaran rumah tangga nelayan di Desa Bulutui ada 2 macam, yaitu pengeluaran untuk pangan dan pengeluaran untuk non pangan. Total pengeluaran rata-rata per tahun adalah sebesar Rp. 34.254.349 yang terbagi menjadi pengeluaran untuk kebutuhan pangan sebesar Rp. 17.981.053 dan pengeluaran untuk kebutuhan non pangan yaitu sebesar Rp. 16.273.296. Hasil analisis Indeks Engel ialah 52,49%, artinya total pendapatan nelayan penangkap gurita lebih dari setengah pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan saja. Proporsi untuk pangan yaitu 52,49% lebih besar dibanding proporsi untuk non pangan yaitu 47,51%. Hal ini menandakan bahwa taraf hidup atau tingkat kesejahteraan nelayan penangkap gurita di Desa Bulutui masih tergolong rendah. Kata Kunci: taraf hidup, nelayan, gurita, Bulutui
PERSEPSI NELAYAN TERHADAP INDUSTRI KECIL PENGOLAHAN IKAN ROA ASAP DI DESA KINABUHUTAN KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Sarah Safitri` Ramadhany; Siti Suhaeni; Srie J. Sondakh; Victoria E.N. Manoppo; Steelma V. Rantung; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.44893

Abstract

Abstract Kinabuhutan Village is a coastal village located on a small island in West Likupang District, North Minahasa Regency, North Sulawesi Province. The majority of Kinabuhutan Village residents work as fishermen and most of them are traditional fishermen. One of the catches of fishermen in Kinabuhutan Village is the Julung-julung fish or in the local language it is known as the roa fish. Almost all of the catches of roa fish in Kinabuhutan Village are accommodated by smoked roa fish processing entrepreneurs in Kinabuhutan Village as raw materials.It is necessary to examine the assessment, views, perceptions and attitudes of fishermen as raw material suppliers towards the existence of a small smoked roa fish processing industri in Kinabuhutan Village in order to determine the sustainability of each business, both fishermen and smoked roa fish processors. If all attitudes and views of the fishing community towards the smoked roa fish processing small industry are negative, then there will be no support from fishermen for efforts to develop existing smoked roa fish processing businesses. The positive perception of the community is an important factor that determines the success and sustainability of the small smoked roa fish processing industry in Kinabuhutan Village. The purpose of this study was to find out how fishermen's knowledge of the functions and benefits of smoked roa fish processing small industries in Kinabuhutan Village and to find out fishermen's perceptions of smoked roa fish processing small industries in Kinabuhutan VillageThe population in the study were all fishermen who owned roa fishing gear, totaling 27 people. This research method used a survey method. Retrieval of data using the census method, namely the entire population is used as a respondent. The data collected is in the form of primary data and secondary data. Primary data was collected by means of observation and interviews guided by questionnaires. Secondary data is collected through notes or reports obtained from the Kinabuhutan Village office. Data analysis in this study used qualitative analysis which was quantified using a Likert scale analysis.Based on the results of the research analyzed using the Gutman Scale, it is known that 86.48% of fishermen in Kinabuhutan Village know the functions and benefits of a small smoked roa fish processing industry in Kinabuhutan Village. The results of the Likert scale analysis show that fishermen's perceptions of the small smoked roa fish processing industri in Kinabuhutan Village are very good. This is evidenced by the results of the average Likert scale dimension, which is 4.28, which means it is on a very good scale. Keywords: perception; fishermen; roa smoke; Kinabuhutan   Abstrak Desa Kinabuhutan merupakan salah satu desa pesisir yang terletak di sebuah pulau kecil di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Mayoritas penduduk Desa Kinabuhutan bekerja sebagai nelayan dan kebanyakan merupakan nelayan tradisional. Salah satu hasil tangkapan nelayan di Desa Kinabuhutan adalah ikan Julung-julung atau dalam bahasa daerahnya terkenal dengan ikan roa. Hasil tangkapan ikan roa di Desa Kinabuhutan hampir semuanya ditampung oleh pengusaha pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan sebagai bahan baku. Penilaian, pandangan, persepsi dan sikap nelayan sebagai pemasok bahan baku terhadap adanya industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan perlu untuk diteliti agar dapat mengetahui keberlanjutan usaha masing-masing, baik nelayan maupun pengolah ikan roa asap. Jika seluruh sikap dan pandangan masyarakat nelayan terhadap industri kecil pengolahan ikan roa asap adalah negatif, maka tidak akan ada dukungan dari nelayan terhadap upaya pengembangan usaha pengolahan ikan roa asap yang ada. Persepsi yang positif dari masyarakat merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengetahuan nelayan akan fungsi dan manfaat industri kecil pengolahan ikan roa asap di Desa Kinabuhutan dan untuk mengetahui persepsi nelayan terhadap industri kecil pengolahan ikan roa asap di Desa Kinabuhutan Populasi dalam penelitian adalah semua nelayan pemilik alat tangkap ikan roa yang berjumlah 27 orang Metode penelitian ini menggunakan metode survey. Pengambilan data menggunakan metode sensus yaitu seluruh populasi dijadikan responden. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara yang dipandu dengan kuesioner. Data sekunder dikumpulkan melalui catatan atau laporan yang diperoleh dari kantor Desa Kinabuhutan. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis kualitatif yang dikuantitatifkan dengan analisis skala Likert. Berdasarkan hasil penelitian yang dianalisis dengan Skala Gutman diketahui bahwa 86,48% nelayan di Desa Kinabuhutan mengetahui fungsi dan manfaat adanya industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan. Hasil analisis skala Likert diketahui bahwa persepsi nelayan terhadap adanya industri kecil pengolahan ikan roa asap yang ada di Desa Kinabuhutan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil rataan dimensi skala Likert yaitu 4,28 yang berarti berada dalam skala yang sangat baik. Kata Kunci: persepsi; nelayan; roa asap; Kinabuhutan
PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN MODALPADA USAHA TRANSPORTASI LAUT DI KELURAHAN PAPUSUNGAN KECAMATAN LEMBEH SELATAN KOTA BITUNG Edwin Tindige; Victoria E.N. Manoppo; Christian R. Dien; Jeannette F. Pangemanan; Steelma V. Rantung; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45499

Abstract

Abstract The purpose of this study is to describe the profile of the sea transportation business and to analysed in depth the formation and development of sea transportation business capital in Papusungan Village. How do they obtain or form and develop their capital both for capital for procuring boats/vessels, and capital for operations? In connection with the things that exist in the mind in accordance with the reality on the ground, it is felt necessary to conduct a study to obtain clear and scientific answers. The research method uses a survey method, the data comes from primary data and secondary data and will be discussed and analysed based on quantitative descriptive and qualitative descriptive analysis. This research was conducted from August–December 2022. Based on the results of research on capital formation in sea transportation business actors, it can be concluded: 1) capital formation is the initial capital of sea transportation business actors originating from their own capital, some of them work as hand line fishermen and light boats in collaboration with the soma pajeko business; and 2) the development of marine capital obtained from the capital saved during the taxi. They will use this capital to develop their business, where previously sea transportation business actors only had one unit of boat, one outboard engine unit and makeshift facilities when starting a business, now they are expanding their business using the results of existing capital while running the sea transportation business.  Keywords: sea transportation, profile, formation, development, capital   Abstrak Tujuan penelitian ini mendeskripsikan profil usaha transportasi laut dan menganalisis secara mendalam pembentukan dan pengembangan modal usaha transportasi laut di Kelurahan Papusungan. Bagaimana cara mereka memperoleh atau membentuk dan mengembangkan modal mereka baik untuk modal pengadaan perahu/kapal, dan modal untuk operasional. Berkaitan dengan hal-hal yang ada dalam benak sesuai realita di lapangan maka dirasakan perlu untuk mengadakan suatu penelitian untuk mendapatkan jawaban secara jelas dan ilmiah. Metode penelitian menggunakan metode survei, data berasal dari data primer dan data sekunder dan akan dibahas dan dianalisis berdasarkan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dari Agustus–Desember 2022. Berdasarkan hasil penelitian pada pembentukan modal pelaku usaha transportasi laut dapat disimpulkan: 1) pembentukan modal merupakan modal awal dari pelaku usaha transportasi laut berasal dari modal sendiri, mereka ada yang pekerjaannya sebagai nelayan pancing ulur dan perahu lampu yang bekerja sama dengan usaha soma pajeko; dan 2) pengembangan modal laut diperoleh dari modal hasil tabungan selama bertaksi. Modal tersebut akan mereka gunakan untuk pengembangan usahanya, yang pada sebelumnya pelaku usaha transportasi laut hanya memiliki satu unit perahu, satu unit mesin tempel dan fasilitas yang seadanya saat memulai usaha, kini mengebangkan usahanya menggunakan hasil modal yang ada selama manjalankan usaha transportasi laut. Kata kunci: transportasi laut, profil, pembentukan, pengembangan, modal
KAJIAN SALURAN PEMASARAN IKAN SEGAR OLEH NELAYAN USAHA PANCING ULUR DI KELURAHAN TATELI II KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA Dietrys Maria Mangaro; Victoria E.N. Manoppo; Jeannette F. Pangemanan; Jardie A. Andaki; Christian R. Dien; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45541

Abstract

Abstract Fresh fish is a commodity that is easily damaged, so it must receive serious attention in its marketing. The short length of the marketing channel will affect quality, costs, margins, profits and efficiency. The purpose of this study was to determine marketing channels, fresh fish marketing margins, and channel efficiency of fresh fish marketing by hand line fishermen in Tateli II Village, Mandolang District. The method used in this research is survey method. The data collected consists of primary data and secondary data. There are three analyses that will be used to answer the objectives in this study, namely First, marketing channel analysis; Second, marketing margin analysis; Third, analysis of marketing efficiency: namely the comparison between marketing costs and the value of products sold (retail prices) expressed in percent. Based on the research results, it can be concluded that the marketing channel for fresh fish by fishermen in the Tateli II Village is a short marketing channel, namely collecting traders sell directly to consumers without involving other marketing institutions. Producers, in this case fishermen, as a source of raw materials in the form of raw tude fish. Fresh fish marketing margin on each marketing channel. the price difference at the consumer level is Rp. 250,000, or a margin of 41.67%. The margin is 41.67%, meaning that the collecting trader gets a profit of 41.67% of the purchase price so that it can be said that the collecting trader still makes a profit after the collecting trader sells it to the final consumer. Meanwhile, the marketing efficiency of tude fish at the collector level is 3.3%, so it can be said to be efficient.   Keywords: marketing channels; fresh fish; Tateli II   Abstrak Ikan segar merupakan salah satu komoditas yang mudah rusak sehingga dalam pemasarannya harus mendapatkan perhatian yang serius. Panjang pendeknya saluran pemasaran akan berpengaruh pada kualitas, biaya, margin, keuntungan, dan efisiensi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui saluran pemasaran, margin pemasaran ikan segar, dan efisiensi saluran pemasaran ikan segaroleh nelayan usaha pancing ulur di Kelurahan Tateli II Kecamatan Mandolang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode survei. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Ada tiga analisis yang akan digunakan untuk menjawab tujuan dalam penelitian ini, yaitu Pertama, analisis saluran pemasaran; Kedua, analisis margin pemasaran; Ketiga, analisis efisiensi pemasaran: yaitu perbandingan antara biaya pemasaran dengan nilai produk yang dijual (harga eceran) dinyatakan dengan persen. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa saluran pemasaran ikan segar oleh nelayan di Kelurahan Tateli II merupakan saluran pemasaran pendek yaitu pedagang pengumpul menjual langsung kepada konsumen tanpa melibatkan lembaga pemasaran lainnya. Produsen dalam hal ini nelayan sebagai sumber bahan baku berupa ikan tude mentah. Margin pemasaran ikan segar pada masing-masing saluran pemasaran. selisih harga di tingkat konsumen adalah Rp. 250.000, atau margin sebesar 41,67%. Margin 41,67%, artinya pedagang pengumpul mendapat untung sebesar sebesar 41,67% dari harga beli sehingga bisa dikatakan pedagang pengumpul masih memperoleh keuntungan setelah pedagang pengumpul menjualnya ke konsumen akhir. Sedangkan ffisiensi pemasaran ikan tude di tingkat pedagang pengumpul yaitu 3,3%, sehingga dapat dikatakan efisien.   Kata Kunci: saluran pemasaran; ikan segar; Tateli II
PEMBENTUKAN MODAL PEDAGANG PENJUAL MAKANAN DI KAWASAN PESISIR PANTAI MALALAYANG II KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Fransisco Magofa; Victoria E.N. Manoppo; Grace O. Tambani; Djuwita R.R. Aling; Christian R. Dien; Olvie V. Kotambunan
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45656

Abstract

Abstract The aim of this research is to know and analyze the capital formation of traders who sell food on the coast of Malalayang II Beach, Malalayang District, Manado City. This research was conducted in the Malalayang II Village, Malalayang District, Manado City. The research time is approximately 5 months, from August to December 2022.The method used in this research is survey method. The data collected in this study consisted of primary data and secondary data. The data analysis technique used in this study is descriptive analysis. The data obtained in the research is made in a simpler form so that it is easy to understand. In order to answer the research objectives, the data needed includes: a description of the food seller's business, as well as their daily activities, while for the needs of age, education, condition of the house where they live, length of time doing business, side jobs are needed as food seller profile data and economic data in the form of capital, operating income and operating expenses.Based on the results of the study, it can be concluded that the formation of capital for traders who sell food on the coast of Malalayang II Beach, Malalayang District, Manado City comes from their own savings, the help of parents and close relatives. There is capital for investment, capital for operations and loan capital. Keywords: culinary, capital formation, coast, Malalayang Beach   Abstrak Tujuan penelitian mengetahui serta menganalisis pembentukan modal pedagang yang menjual makanan di pesisir Pantai Malalayang II Kecamatan Malalayang Kota Manado. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Malalayang II Kecamatan Malalayang Kota Manado. Waktu penelitian kurang lebih 5 bulan, yaitu dari bulan Agustus sampai Desember 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode survei. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif. Data yang diperoleh dalam penelitian dibuat dalam bentuk yang lebih sederhana agar mudah dipahami. Guna menjawab tujuan penelitian, data yang diperlukan antara lain: deskripsi usaha penjual makanan, serta aktivitas mereka sehari-hari, sedangkan untuk kebutuhan umur, pendidikan, keadaan rumah tempat tinggal, lamanya menjalani usaha, pekerjaan sampingan diperlukan sebagai data profil penjual makanan dan data ekonomi berupa permodalan, pendapatan usaha serta pengeluaran operasional. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembentukan modal pedagang yang menjual makanan di pesisir Pantai Malalayang II Kecamatan Malalayang Kota Manado berasal dari tabungan sendiri, bantuan orang tua dan saudara dekat. Ada modal untuk investasi, modal untuk operasional dan modal pinjaman.   Kata kunci: kuliner, pembentukan modal, pesisir, Pantai Malalayang
KEADAAN SOSIAL EKONOMI KELUARGA NELAYAN HAND LINE DI DESA ONGKAW I KECAMATAN SINONSAYANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA Gerry Samuel Waraney Tombokan; Srie J. Sondakh; Swenekhe S. Durand; Jardie A. Andaki; Djuwita R.R. Aling; Grace O. Tambani
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.v11i1.45706

Abstract

Abstract Fishermen are a group of people who live in coastal areas, live together and meet their needs from marine resources. Communities living in coastal areas have socio-economic characteristics that are closely related to existing marine resources. The existence of fishermen socially and economically, in the sense that the number of fishermen in Indonesia is on average dominated by small fishermen or traditional fishermen. The purpose of this study was to determine the socio-economic conditions of fishermen's families in Ongkaw I Village, Sinonsayang District, South minahasa District.The method used in this research is survey method. The population in this study were traditional fishing rods in Ongkaw I Village. The data collection method was carried out by census. The census was conducted on a total population of 14 people. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data collection was carried out through observation and interviews guided by questionnaires. Secondary data was obtained from the Ongkaw Village Office. The data analysis used is descriptive qualitative and quantitative analysis.Based on the results of the study, it is known that fishermen's household income comes from their main job as fishermen, and side jobs are still in the fisheries sector as well as outside the fisheries sector. The average total income of fishing families in Ongkaw village per year is IDR 34,200,000. Expenditures for fishing households in Ongkaw I Village, which are divided into expenditures for food needs of IDR 8,460,000 and expenditures for non-food needs, namely IDR 540,843.  Keywords: social economy; fishermen; hand line; Ongkaw Village  Abstrak Nelayan merupakan sekelompok mayarakat yang tinggal di wilayah pesisir, hidup bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya laut. Masyarakat yang hidup di daerah pesisir memiliki karakteristik secara sosial ekonomi sangat terkait dengan sumber hasil laut yang ada. Keberadaan nelayan secara sosial dan ekonomi, dalam arti jumlah nelayan di Indonesia rata-rata didominasi oleh nelayan kecil atau nelayan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi keluarga nelayan Desa Ongkaw I Kecamatan sinonsayang Kecamatan Minahasa Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah nelayan tradisional pancing ulur yang ada di Desa ongkaw I. Metode pengambilan data yang dilakukan secara sensus. Sensus dilakukan pada total populasi 14 orang. Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dan wawancara yang dipandu dengan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Ongkaw I. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendapatan rumah tangga nelayan bersumber dari pekerjaan pokok sebagai nelayan, dan pekerjaan sampingan masih di bidang perikanan maupun diluar bidang perikanan. Total pendapatan keluarga nelayan di Desa Ongkaw I rata-rata per tahun adalah Rp34.200.000. Pengeluaran rumah tangga nelayan di Desa Ongkaw I yaitu yang terbagi menjadi pengeluaran untuk kebutuhan pangan sebesar Rp8.460.000 dan pengeluaran untuk kebutuhan non pangan yaitu sebesar Rp540.843. Kata Kunci: sosial ekonomi; nelayan; hand line; Desa Ongkaw

Page 1 of 3 | Total Record : 27