cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Indonesian History
ISSN : 22526633     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Indonesia History merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian atau artikel konseptual tentang pendekatan kajian sejarah dan sejarah Indonesia. Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNNES dan dikelola oleh Tim Jurnal Jurusan Sejarah FIS-UNNES. Jurnal ini terbit 2 kali setiap tahunnya pada bulan Juli dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
PEMANFAATAN PERKEBUNAN KARET PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IX OLEH MASYARAKAT BATANG TAHUN 1993-2003 Anggriyanto, Pradipta
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is the country with the largest rubber plantation in the world, although the new rubber plant was introduced in 1864 which at that time was still a Dutch colony. Indonesian rubber plantation companies inseparable from periods of Indonesian people's resistance in an attempt to gain independence from Dutch colonial rule. PT. Nusantara Plantation Trunk IX is one of the company resulting from the nationalization of a colonial plantation. The purpose of this study was to determine the development of rubber plantations, plantation management cooperation between peoples with PT. IX Nusantara Plantation Trunk years 1993-2003.  The analysis was conducted using qualitative analysis interaktif.Lokasi research is PT. Plantation Nusantara IX Batang, Central Java. The results of this research indicate that PT. Nusantara Plantation Trunk IX has become a field of income for the local community, as was first made by the Dutch people have to use them in a way to work in the rubber plantations around. In 1993 occurred just after forest replanting of old Dutch colonial era and cut down on the time it was also a lot of people who work in PT. Plantation Nusantara IX, many people who use them by means of intercropping and was carried from generation to generation until now. Between the years 1993-2003 after the execution of the new rubber replanting workers is increasing with the number of plants that have been actively put gum in particular after 6 to 7 years of planting.  
MENGUNGKAP SEJARAH DAN MOTIF BATIK SEMARANG SERTA PENGARUH TERHADAP MASYARAKAT KAMPUNG BATIK TAHUN 1970-1998 Afreliyanti, Susi
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Batik Semarang in Rejomulyo Village, District East Semarang. Kampung Batik Batik is the biggest producer in Semarang. In a research report stating that many natives in Semarang livelihood in the batik industry sectors. 1970 - 1998 A lot of events happening in the world of Batik Semarang. From the early generation of batik village until the monetary crisis lunge keeksisan batik dyeing semarang, addition appears also Effect of the batik batik village semarang to society. The results showed that this is the place Kampung Batik largest batik producer disemarang.Tahun 1970 appeared the famous Batik company named "Batikkerij Tan Kong Tin" Which brings many famous motif scene at that time. Seeing that there are motives disemarang visible once the influence of the Dutch, many are calling batik batik semarang as colonial. But at the beginning of production motif dominated chinese descent. In the Year 1997 has been agreed by the General batik international conventions that the process of writing a picture or decoration on any media using wax batik (wax) as a means of printing batik coloring. However, entering 1970 batik production started to decline due to the influx of foreign textile production. Then Batik Semarang suffered a setback in 1998 due to the financial crisis. Masyrakatnya own influence to include three fields, among others, the influence of the Economic, Social and Cultural.  
PERKEMBANGAN PERKEBUNAN TEH JOLOTIGO KECAMATAN TALUN KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 1957-1996 (PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI) Praharwati, Vika
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jolotigo tea plantation is one of the businesses managed by PTP. Nusantara IX (Persero) Annual Crops Division, which is one Enterprises (SOEs). PTP. Nusantara IX managing unit of tea gardens and 8 sugar mills spread throughout Central Java. Jolotigo tea plantations located between Talun District of Pekalongan and types of crops produced include coffee, tea, quinine and rubber.  At the time of the Dutch Government, Jolotigo plantation planted with coffee and deemed not suitable and replaced Tea, Kina, and rubber. At this time all the equipment was minimal and wear of equipment can help, even where pemetikannyapun away from the plant. The resulting tea is black tea and marketing only to Europe. At the Government of Japan are all cut off, thus reducing the income of the plantation economy. Dampakanya the Government of the Republic of Indonesia plantations under Administrator R. Soemardjo. In 1960 the factory was built, and administrators who first dirangkep be pimpimnan and cinder.  
PERKEMBANGAN PERKERETAAPIAN PADA MASA KOLONIAL DI SEMARANG TAHUN 1867-1901 Ratnawati, Yusi
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang chosen as the initial construction of railroads because the city has an important role for government Kolonila Netherlands. In addition to administration as the city of Semarang also serve as a center of trade, especially sugar at that time became the main commodity. The development of railways in Semarang very rapidly even to say Semarang is a center for the development of railways. There are at least six stations in the city of Semarang is Kemijen station, station Jurnatan, Jomblang station, Pendikran stations, stations and station Tawang Poncol. Based on the research that has been done can be obtained information that (1) the history of railways in Indonesia began with the construction of a rail network that connects between Semarang-Vorstenlanden under the supervision of NISM. Construction of the railroad network continues to spread throughout the islands of Java and outside Java. Implementation of development carried out by the SS and SSS which is owned by the Government. (2) The development of transport, railways in Semarang started with the construction of a railway between Semarang (Kemijen) and responsibilities. In 1900 the railway industry in Hyderabad is increasing with the presence of several private companies that build roads tram. (3) The role perkretaapian in Semarang accelerate the mobility of people in the city of Semarang. This is because the increase in plantation crops and agriculture encourages the Government of the Netherlands East Indies add ground transportation that can penetrate into the interior regions of Central Java at a cost that is cheaper, faster to transport the plantation and agriculture in a large capacity so the government built a railroad.  
Sejarah Undang-Undang Perkawinan Atas Pendapat Hingga Pertentangan dari Masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Tahun 1973-1974 Rifai, Ahmad; Sodiq, Ibnu; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses terbentuknya UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 berawal dari inisiatif pemerintah sendiri untuk membahasnya dilingkup DPR setelah sekian lama berbagai masukan silih berganti dari organisasi wanita untuk secepatnya dibuat UU perkawinan yang baru, proses tersebut memakan waktu hingga 7 bulan yaitu dari pemerintah menyerahkan hasil RUU perkawinan yang dibuat oleh DPRGR hingga sampai semua fraksi menyetujui pasal demi pasal yaitu dari 77 pasal menjadi 66 pasal. Namun banyak pertentangan antar fraksi yang terjadi saat akan disahkanya RUU perkawinan tersebut, dari fraksi Persatuan berpandangan bahwa RUU tersebut banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan ini juga didukung oleh sebagian masyarakat dan organisasi Islam untuk merevisi pasal-pasal tersebut. Fraksi lainya justru berpandangan lain seperti dari fraksi Karya yang menggangap RUU tersebut sudah pas untuk dijadikan UU Perkawinan karena sudah banyak menyoroti kaum perempuan untuk urusan berumah tangga, hal ini juga didukung oleh pemerintah dan fraksi ABRI, sedangkan fraksi PDI bersikap netral dan hanya menyoroti masalah poligami dan monogaminya saja. Setelah disahkan pada 2 Januari 1974 oleh pemerintah dampak yang terjadi adalah wanita memiliki hak dalam urusan berumah tangga terutama dalam hal poligami, perceraian dan poligami pun menjadi berkurang serta biaya untuk membayar pensiunan PNS yang poligami menjadi dapat ditekan, namun dari hal itu dampak lain juga bermunculan seperti banyaknya perkawinan sirri serta semakin banyaknya masalah sosial akibat dari susahnya poligami.
Perkembangan Batik di Ponorogo Tahun 1955-2015 Safitri, Anissa Fauzijah Rizky; Subagyo, Subagyo; Jayusman, Jayusman
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik Ponorogo sendiri sudah berkembang sejak kerajaan Islam di Indonesia. Industri yang pertama berkembang di Ponorogo bermula dari pengusaha Tionghoa bernama Kwee Seng (Wi Sing) dari Banyumas. Dengan adanya industri batik masyarakat mulai mengembangkan usaha batik hingga batik Ponorogo mengalami masa kejayaan di tahun 1960-an. Batik Ponorogo saat itu terkenal dengan batik cap biru yang dijual dengan harga murah. Tahun 1980-an batik Ponorogo mulai mengalami kemunduran salah satu penyebabnya adalah kemunculan batik printing. Setelah kemunduran produksi, industri batik yang berkembang hanya industri rumahan (home industry). Industrinya pun hanya berjumlah dua pengusaha saat itu. Tahun 2000-an merupakan awal industri batik Ponorogo mulai berkembang sebab mulai muncul pengusaha-pengusaha batik baru. Jumlahnya sebanyak lima pengusaha baru yang muncul dengan membawa model-model baru dalam perbatikan Ponorogo seperti adanya batik kontemporer, batik printing dan batik lukis. Faktor yang menghambat seperti kurangnya sumbar daya manusia, modal, bahan baku dan pemasaran produk. Faktor pendorong industri batik Ponorogo seperti teknologi yang digunakan, produk yang dihasilkan dan peran pemerintah dalam mendukung perkembangan industri batik Ponorogo.
Peranan Muslimat dalam Pemberdayaan Perempuan di Bidang Sosial Keagamaan di Batang Tahun 1998-2010 Qorina, Dzurotul; Pramono, Suwito Eko; Sodiq, Ibnu
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muslimat merupakan organisasi sosial keagamaan bagian dari NU yang telah melaksanakan perannya dalam membangun perempuan. Muslimat merupakan organisasi sosial kemasyarakatan Muslimat dalam meningkatkan status perempuan yaitu dengan melaksanakan program pemberdayaan di bidang sosial, lingkungan hidup, koperasi, organisasi, budaya, dakwah dan penerangan serta ekonomi. Program-program yang terlaksana yaitu membangun klinik, program KB yang bekerjasama dengan PKK dan BKKBN, mendata majlis ta’lim, mendata khafidhoh menyelenggarakan hari besar Islam, siraman rohani, lomba-lomba MTQ dan da’wah, membangun panti asuhan PSAA, bakti sosial, dan membangun klinik Siti Rohmah. Muslimat telah berperan penting di Batang seperti mendirikan panti asuhan, pendidikan, kesehatan, dan juga dalam hal agama. Muslimat di Batang telah memperhatikan anggotanya yang tercermin melalui gerakan yang dilakukan Muslimat selama ini, dibuktikan dengan adanya klinik dibawah YKM NU dari sinilah nantinya digalakan KB, sosialisasi mengenai kesehatan yang berpengaruh kepada kesehatan masyarakat Batang. Mendirikan panti asuhan yang dilandasi dengan tujuan kesejahteraan sosial bagi anak-anak terlantar.
Perkeretaapian di Wonosobo Tahun 1917-1942 Novita, Fitrianis; Sodiq, Ibnu; Purnomo, Arif
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan pemerintah Hindia Belanda menerapkan politik pintu terbuka (Opendeur Politiek) pada tahun 1870 membuat sistem kapitalisme mulai masuk ke Indonesia dan industri perkebunan berkembang. Kebutuhan sarana pengangkutan bagi industri perkebunan melatarbelakangi dibukanya jalur kereta api, termasuk di Wonosobo. Latar belakang dibukanya jalur kereta api di Wonosobo adalah karena permintaan pabrik gula yang mengeluhkan kesulitan dalam pendistribusian hasil bumi ataupun hasil industri. Adanya kereta api ini telah mengakibatkan mobilitas barang dan penumpang naik setiap tahun. Awal pembukaan jalur merupakan masa keemasa bagi kereta api di Wonosobo. Depresi ekonomi dan pendudukan Jepang merupakan masa suram bagi kereta api di Wonosobo. Pada tahun 1917-1942 banyak dampak yang telah ditimbulkan oleh transportasi kereta api, seperti dampak politik, sosial budaya, dan ekonomi.
Sejarah Perjalanan PPP Pasca Orde Baru: Dinamika Politik dalam Mengatasi Konflik Internal Partai Giatama, Kahfi Ananda; Sodiq, Ibnu
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Partai Persatuan Pembangunan merupakan salah satu partai bentukan Orde Baru disamping Golongan Karya (Golkar) dan PDI. Partai Persatuan Pembangunan ini dibentuk karena peraturan Presiden Soeharto tentang penyederhanaan partai berdasarkan tiga ideologi besar yaitu Golkar, Agama dan Nasionalisme. Partai Persatuan Pembangunan merupakan hasil fusi dari empat partai Islam kecil yaitu Nahdlatul Ulama, Partai Syarekat Islam Indonesia, Partai Muslimin Indonesia dan Perti. Dalam perkembangannya, PPP setelah rezim Orde Baru tumbang karena terdapat ledakan partisipasi politik yang disalurkan melalui pembentukan partai baru. Akibat dari fenomena itu PPP sebagai partai Islam semakin bertambah saingan dalam Pemilu 1999 yang multipartai. Setelah pemilu tersebut, PPP kemudian dirundung oleh konflik internal perihal jadwal pelaksnaan Muktamar V yang dibalut konflik antar elit partai. Strategi khusus PPP dalam Pemilu 1999 adalah perubahan asas dan lambang partai menjadi Islam dan Kabah, serta penunjukkan Hamzah Haz sebagai ketua umum. Konflik internal dengan PBR diakibatkan pelaksanaan Muktamar V yang molor dan perebutan kekuasaan antara Hamzah Haz dan KH Zainuddin MZ.
Perkembangan Tanaman Pangan di Indonesia Tahun 1945-1965 Mudiyono, Mudiyono; Wasino, Wasino
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia, sehingga menjadi perhatian penguasa di suatu negara. Kekurangan bahan makanan tidak hanya menimbulkan masalah ekonomi, tetapi masalah sosial politik pada suatu negara. Kebudayaan menanam padi pada masyarakat Nusantara sudah terdapat sejak zaman pra sejarah, proses pertanian merupakan kegiatan turun temurun yang dilakukan masyarakat terutama pulau Jawa. Pertanian padi sampai awal abad masehi masih sederhana dan belum menggunakan teknologi pertanian. Pertanian padi di Nusantara sampai awal abad masehi masih sederhana dan relatif belum menggunakan teknologi. Perubahan terjadi pada sistem pertanian di Nusantara dalam meningkatkan hasil produksi padi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada masa Kolonial Belanda pusat pemerintahan terpusat di Jawa, makanan pokok masyarakat mayoritas beras pemerintah Kolonial memperhatikan produksi bahan makanan selain tanaman ekspor. Sistem politik etis membuat pertanian pangan mendapat perhatian pemerintah dengan meningkatkan hasil produksi pangan seperti pembanguan bangunan pertanian dan sauran irigasi. Pasca Proklamasi kemerdekaan terjadi perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Perkebunan dan instalasi-instalasi industri mengalami kerusakan yang berat, serta meningkatnya jumlah penduduk secara drastis. Akibat dari perang dan revolusi membuat produksi bahan makanan mengalami penurunan. Persoalan untuk menaikan produksi bahan makanan terus dilakukan pemerintah, persoalan beras asih menjadi permasalahan besar yang dihadapi masyarkat Indonesia.