cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Indonesian History
ISSN : 22526633     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Indonesia History merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian atau artikel konseptual tentang pendekatan kajian sejarah dan sejarah Indonesia. Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNNES dan dikelola oleh Tim Jurnal Jurusan Sejarah FIS-UNNES. Jurnal ini terbit 2 kali setiap tahunnya pada bulan Juli dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Erupsi Merapi dan Perubahan Pemukiman di Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan Kabupaten Sleman tahun 1990-2010 Kurniawan, Yanuar Rezza; Wasino, Wasino
Journal of Indonesian History Vol 10 No 1 (2021): Journal Of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v10i1.47304

Abstract

Gunung Merapi menurut catatan sejarah sudah menunjukan aktivitas vulkaniknya (erupsi) sejak tahun 1003. Pada kurun waktu 1990an sampai 2010 telah terjadi erupsi Gunung Merapi sebanyak tujuH kali, yakni pada tahun 1992, 1994, 1997, 1998, 2001, 2006 dan 2010. Erupsi Gunung Merapi selalu memberikan dampak positif dan negatif kepada masyarakat yang tinggal di Kabupaten Sleman. Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui bagaimana dampak dari erupsi Gunung Merapi dan juga dampaknya bagi masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Sleman. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode penelitian sejarah. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Perubahan Permukiman yang terjadi di Kecamatan Pakem Turi Cangkringan ini pasca erupsi Gunung Merapi tahun 1994 dan 2010. Erupsi tahun 1994 mengarah ke permukiman masyarakat dusun Turgo dan Erupsi tahun 2010 mengarah ke permukiman masyarakat Umbuharjo, Kepuharjo dan Glagaharjo. Banyak rumah penduduk yang rusak parah tidak dapat dihuni lagi dan sebagian hanya rusak ringan. Peran pemerintah dalam hal ini memberikan tempat relokasi, huntara dan juga huntap (hunian tetap) bagi masyarakat yang terdampak langsung erupsi Gunung Merapi tahun 1994 dan tahun 2010
Migrasi Tiga Gelombang: Jejak Wong Cilik Klaten Di Singapura Tahun 1920-1980 Fernandi, Muhammad Farhan; Soeharso, R
Journal of Indonesian History Vol 10 No 1 (2021): Journal Of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v10i1.47379

Abstract

Singapura merupakan negara pulau yang dikategorikan sebagai negara metropolitan dengan industri perdagangannya yang sangat maju di Asia Tenggara bahkan di tingkat dunia. Keberadaannya yang diakui dunia tidak terlepas dari penduduknya yang memainkan peran dalam perkembangan Singapura. Seluruh penduduk Singapura dari masa lalu hingga kini dapat dikatakan bukan penduduk asli karena Singapura saat itu hanya sebuah kecil yang dihuni oleh beberapa nelayan dan bajak laut yang menghuni wilayah tersebut. Dalam perkembangannya, pulau ini dibeli oleh Thomas Stanford Raffles dari Kesultanan Johor yang menjadi titik awal modernisasi di Singapura yang membuat para pendatang ramai-ramai mendatangi Singapura untuk memnuhi kebutuhan ekonominya hingga memutuskan menetap di pulau ini. Hal ini juga dilakukan oleh penduduk Klaten Klaten yang juga melakukan migrasi ke Singapura sudah sejak dekade ketiga abad 20. Kemudian juga disusul pada gelombang berikutnya ketika penduduk Klaten melakukan migrasi pada masa penjajahan Jepang ketika Jepang mengirimkan romusha ke berbagai wilayah. Para migran yang sudah melakukan migrasi tersebut pada akhirnya memutuskan untuk menetap di Singapura dan tidak kembali ke Indonesia. Pemerintah Singapura menetapkan kebijakan untuk mengintegrasikan penduduk yang heterogen dengan berbagai rasnya ke dalam satu perumahan publik yang membuat mereka saling hidup rukun dalam identitas Singapura.
Pers dan Orientasi Pemberitaan Sosial Politik Orde Baru dalam Sorotan Harian Sinar Harapan, 1966-1986 Dewi, Amalia Rusti Mutiara; Ba'in, Ba'in
Journal of Indonesian History Vol 10 No 1 (2021): Journal Of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v10i1.47391

Abstract

Pada awal periode pemerintahan Orde Baru, keberadaan pers di Indonesia sedang berada dalam fase penuh kebebasan. Kebebasan tersebut dipergunakan untuk melakukan konsolidasi kekuasaan oleh Presiden Soeharto. Beriringan dengan kebebasan pers, pemerintah dihadapkan pada situasi politik yang rumit. Sehingga artikel ini mengkaji tentang dinamika politik pada masa Orde Baru, dengan memfokuskan analisis kepada pemberitaan yang dilakukan oleh pers harian Sinar Harapan pada periode 1966 – 1986. Fokus kajian tertuju kepada maraknya kasus KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang terjadi dalam badan pemerintah, seperti isu adanya SPRI; kasus BULOG; dan masalah proyek TMII yang menjadi sorotan pada penulisan berita oleh harian Sinar Harapan. Penulisan berita yang memuat kritikan tajam terhadap pemerintah ternyata tidak sedikitpun berhasil menggoyahkan kekuasaan rezim ini. Pemerintah Orde Baru justru melakukan tindak represif sebagai reaksi terhadap pemberitaan yang mengandung kritik tajam kepada pemerintah dengan melakukan pembungkaman kepada sejumlah pers yang kritis, salah satunya adalah harian Sinar Harapan.
Peran Gedung Sobokartti Terhadap Pelestarian Kesenian Di Semarang Tahun 1992-2010 priliandana, yolanica; Amin, Syaiful
Journal of Indonesian History Vol 10 No 1 (2021): Journal Of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jih.v10i1.47882

Abstract

Indonesia memiliki beberapa pusat kebudayaan yang tersebar diberbagai wilayah. Namun para seniman Indonesia saat itu kurang memiliki wadah untuk berkesenian dan mengembangkan berbagai kesenian di Indonesia. Maka dari itu Ir. Thomas Karsten membangun Gedung Sobokartti untuk menambah wadah berkesenian. Kesenian yang berkembang di Sobokartti ada beberapa macam seperti wayang, tari, pedalangan juga pranatacara. Setiap kesenian di Sobokartti memiliki gurunya masing-masing. Gedung Sobokartti memiliki masalah pendanaan dan kurangnya pengetahuan akan adanya Gedung berkesenian Sobokartti ini. Walaupun sudah di Cagar budaya namun masyarakat tidak begitu tertarik karena banyaknya budaya-budaya luar yang lebih unggul eksistensinya daripada budaya Jawa. Lalu bagaimana strateginya agar tetap lestari dan tidak kalah saing dengan budaya modern? Tujuan dalam penulisan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan Sobokartti dari pembuatan hingga sekarang. Juga untuk mengetahui apa peran serta strategi pengelolaan Sobokartti dalam melestarikan kebudayaan indonesia. Peneliti menulis skripsi dengan menggunakan metode sejarah. Peneliti melakukan wawancara dengan ketua perkumpulan Sobokartti yang baru ganti tahun 2019 lalu yaitu Bapak Sutrisno dan pelatih karawitan bapak Sudardi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perkumpulan Sobokartti untuk membuat sebuah pertunjukan harus mengeluarkan dana dari para pengelola sendiri dan hanya dapat memberikan penampilan seadanya.
GERAKAN SAREKAT BURUH SEMARANG TAHUN 1913-1925 Novita, Angghi
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang is a growing industrial city since colonial era. At that time, Semarang has become traffic of sugar trade that influence to economic and administrative role for the colonial government. The labor in Semarang works in factories, plantations, ports, and railways. They works with minimum wage, so that they are compelled to build union. In 1913 until 1925 is the year of revival Semarang labor’s union. Around the years, labor’s union grew along with the development of communism in this city. Labor’s union in Semarang characterized by a variety of strike action as a resistance by ploretariat to the arbitrariness of the capital. The biggest strike by labor’s union took place in 1923 by Railway Worker’s Union (VSTP) and in 1925 by the Port Worker’s Union (SPPL). The strike is so big, cause followed by thousands even by ten of thousands of workers and the impact was spreading. In 1926 labor’s union in Semarang declined because Communism wich greatly affect the movement of labor’s union has become aware prohibited. Destruction of communism in Semarang make the movement of labor’s union being regressive.
KEHIDUPAN MASYARAKAT KELURAHAN SEKARAN TAHUN 1990-2002 Ratnasari, Diah
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekaran is one village in the District Gunungpati Semarang, precisely located in the village have now itself. This district is the only village in the district Gunungpati which has the function of land to be used as a college. Unnes existence in the Village have now has affected the social life, economy, and culture of the surrounding community. The purpose of this study was to (1) determine the condition of the social life of village communities have now; (2) determine the cultural life of village communities have now years 1990-2002; (3) menegtahui economic life of village communities have now years 1990-2002 or after arrival Unnes. The method used in the form of historical method, which consists of four stages, namely; heuristics, criticism of sources, interpretation, and historiography. Results from this study show that the presence in the village Unnes have now made the region have now become a thriving region. In the social field there has been a increase in education, improving the social status as well as the population growth due to migration as well as the amount of land ownership by the growing immigrant communities. In the field of culture, the culture in such traditions have now begun to fade. Meanwhile, in the aspect of economic life, which have now become a village public welfare increases, the unemployment rate to be reduced.  
PERKEMBANGAN INDUSTRI TENUN ULOS DI KELURAHAN SIGULANG-GULANG, KECAMATAN SIANTAR UTARA DAN PENGARUHNYA TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TAHUN 1998-2005 Nainggolan, Evan
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine : 1) Introduction emergence of industry weaving ulos in the village of Sigulang-gulang 2) the development of industry weaving ulos in the village of Sigulang-gulang 3) influence of industry weaving ulos for social economic society in the village of Sigulang-gulang. The method used in this paper is the method of historical research , because this research is related to the fact that occurred during the study lampau.Berdasarkan obtained the following results :Influence industry weaving ulos to a life social economic and a impact very feel for the people of village Sigulang-gulang. Increasing the quality of education, the emergence of new field jobs and press the amount of unemployment for the community around and immigrants, increasing the income of the community, increase the number of new entrepreneurs.  
SIKAP POLITIK ELIT NU PASCA KEMBALI KE KHITTAH DI KABUPATEN WONOSOBO TAHUN 1984-1998 Imam, Faizal
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NU in Wonosobo was established in 1933. NU Wonosobo branch was established to spread Islam in accordance with the understanding of ahlussunnah wal Jama'ah. That role is run by clerics who are in NU. Kyai in NU itself has a very important role, because it acts as elite clerics in the NU but also as a leader in the community. Every decision or position that is taken by the clerics will influence the students and also for local people, including attitude in politics. Figures who contributed to the establishment of a branch NU Wonosobo include Sayyid Ibrahim, KH Kyai Abu Jamroh and Kyai Hasbillah Bumen. Wonosobo NU itself visible role when joining the Hezbollah and Sabilillah in maintaining the independence of Indonesia. Before Khittah figures NU elite joined the PPP as a manifestation of their support for the PPP as a party fusion. Basically the political elite, NU Wonosobo, reflecting the dynamics of politics in Wonosobo regency itself. Stance taken NU elite who joined Golkar (KH Muntaha and KH Habib Idris) is a political strategy, where the entrance to the government system, the ideas can be heard while the citizens Nadliyin elite survive in PPP (KH Zainuddin and KH Ibrahim) after Khittah based because PPP remains the Islamic party that must be fought. The impact of each of the political attitudes of NU elite in Wonosobo, making some aspects of change, such as the impact of the government, NU organizations, political parties, and political choices Nahdliyin  
LAWEYAN DALAM PERIODE KRISIS EKONOMI HINGGA MENJADI KAWASAN WISATA SENTRA INDUSTRI BATIK TAHUN 1998-2004 Majah, Ibnu
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laweyan is an unique, specific and historic area of ​​industrial centers of batik. In these developments, Laweyan has experienced the various dynamics of people's lives. Laweyan entered a difficult period due to the economic crisis in 1997. After that, at the beginning of the Reformation era Laweyan condition gradually recovering. The results of the research showed that in post-crisis of economic in 1997 Laweyan conditions was undergone various changes. The economic conditions improved gradually returned, with the growth of new types of businesses in Laweyan. Laweyan society also become more open, after previously known as a closed society. In addition, Laweyan also began returning to preserve cultural traditions after almost gone. The conditions was more grow after the formation Laweyan as a tourist area in 2004. The establishment of that is start from the concerns of employers and community leaders in Laweyan against Laweyan potention. Then formed a forum with tasked to managing Laweyan as a tourism area. Post-declarations of Kampoeng Batik Laweyan on October 24th 2004, the forum also officially as Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) or Kampoeng Batik Laweyan Development Forum.  
PERUBAHAN SOSIAL, BUDAYA DAN EKONOMI DI KAMPUNG KAUMAN SEMARANG 1962-1998 Azizah, Nur
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kauman Semarang is Islamic Student’s village. Whose Majority are native’s Java people that have religion of Islam, there’s also Arabic and Chinese descendant. The purpose of this study was to (1) determine how the general picture of the village Kauman Semarang; (2) determine the development of social, cultural and community Kauman in 1962-1998; (3) determine the development of Community Economic Kauman years 1962-1998. The method used in the form of historical method, which consists of four stages, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography. The results showed that Kauman located in downtown Semarang, apparently influenced the development of community life like in terms of social, cultural, and economic. In the period 1962-1998, the development of community life so visible. In terms of social and cultural, villagers Kauman diverse not only native Java, but are also a few ethnic, make them live side by side in harmony is maintained, the culture was still preserved as Dugderan which is the result of acculturation. In economic terms, with the market Johar and market Yaik, Kauman region changed over time also become regional trade and services, traditional houses Kauman replaced with a row of shop (shop houses) along the way Kauman Kingdom. Â