cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 495 Documents
TINGKAT AKTIVITAS TEKTONIK BERDASARKAN ASPEK MORFOTEKTONIK PADA DAS CIPAMINGKIS DAN DAS CIJANGGEL, KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT Pradnya Paramarta Raditya Rendra, Ari Setya Nugraha, Iyan Haryanto,
Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i2.49213

Abstract

penelitian berada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) daerah penelitian dengan menggunakan indeks-indeks geomorfik. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis geomorfologi kuantitatif. Analisis morfometri dan morfotektonik Sub DAS mencakup perhitungan nisbah percabangan (Rb), kerapatan jaringan sungai (Dd), rasio elongasi (Re), faktor asimeri (Af), rasio lebar dan tinggi lembahan (Vf), sinusitas muka gunung (Smf), dan indeks bentuk DAS (Bs). Pada daerah, baik itu DAS Cipamingkis maupun DAS Cijanggel secara umum memiliki tingkat aktivitas tektonik relatifnya didominasi oleh aktivitas tektonik sedang. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitan berupa kekar dan sesar. Hasil interpretasi ini dibuktikan dengan data kekar di lapangan dan indikasi pensesaran berupa cermin sesar.Kata Kunci : DAS, Morfometri, Morfotektonik, Aktivitas Tektonik
PERMEABILITAS TANAH KANDUNGAN MERKURI TANAH DAN UDARA TANAH DI DAERAH KECAMATAN TANGGEUNG-CIBUNGUR, KABUPATEN CIANJUR Andri Eko Wibowo, Aton Patonah, Undang Mardiana, Zhabiyan Aqsal Delyanda,
Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i1.49203

Abstract

Penelitian dilakukan di Kecamatan Tanggeung-Cibungur, Kabupaten Cianjur, untuk mengevaluasi geokimia merkuri tanah sebagai metode deteksi zona permeabel yang terlibat langsung dengan siklus hidrotermal lokal. Sampel tanah diambil dari kedalaman ±1 meter permukaan tanah dan kemudian sampel disusun sehingga diperoleh sampel berukuran mesh 80 dengan interval 250-2000 meter titik pengukuran yang melintasi komponen manifestasi di daerah penelitian dan selanjutnya sampel dianalisis dengan menggunakan metode instrumen AAS (Atomic Absorption Spectrometry), atau penganalisis merkuri. Hasil penelitian menunjukan anomali merkuri ditemukan di sekitar munculnya manifestasi air panas dengan nilai yang lebih tinggi daripada daerah yang jauh dari sumber manifestasi (dalam satuan ppb). Selain pengambilan sampel merkuri, pengambilan sampel udara tanah (%CO2) juga dilakukan untuk mengkorelasikan zona permeabilitas karena struktur, dengan area yang terkait erat dengan sistem hidrotermal. Sampel udara tanah diambil menggunakan 50 ml NaOH (±25%) yang disambungkan oleh handy sampler dan terhubung langsung dengan pipa yang dihisap melalui lubang bor sampel tanah merkuri, dan selanjutnya dianalisis menggunakan metode titrimetri. Hasil analisis geokimia tanah (merkuri dan % CO2) memberikan informasi tentang aktivitas termal dan tektonik di dekat permukaan area studi yang dapat membantu dalam interpretasi sistem hidrotermal yang ada di area studi.Kata Kunci: Air Raksa, Atomic Absorption Spectrometry, Titrimetri, Permeabilitas, Sistem Hidrotermal, Tanggeung – Cibungur, Kabupaten Cianjur
KONTROL STRUKTUR TERHADAP KEBERADAAN ALTERASI DAN MINERALISASI DAERAH X, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT Aton Patonah, Iyan Haryanto, Agata Vanessa, Muhammad Hilmy Aziz,
Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i2.49224

Abstract

Daerah penelitian termasuk ke dalam Kabupaten Bogor yang secara tektonik terletak di cekungan busur belakang yang berada pada jalur magmatik dan berkaitan dengan proses mineralisasi yang ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis struktur geologi yang berkembang dan implikasinya terhadap keberadaan alterasi dan mineralisasi sehingga dapat menentukan lokasi prospek untuk dilakukan eksplorasi lebih lanjut dengan melakukan obervasi di lapangan berupa pengukuran data kekar, urat, mineral ubahan, dan mineral logam. Hasil pengukuran struktur secara umum menunjukan bahwa kekar, urat, dan kelurusan didominasi oleh arah relatif barat laut - tenggara. Jenis urat yang ditemukan berupa urat kuarsa, urat kuarsa-oksida, urat oksida, urat kalsit, dan urat salvage, serta ditemukannya indikasi sesar normal, sesar mendatar sinistral, dan sesar mendatar dekstral. Zona alterasi yang berkembang akibat kontrol struktur tersebut adalah zona kuarsa-lempung-karbonat, zona klorit-karbonat, dan silsiifikasi. Zona silisifikasi berkembang pola struktur struktur barat laut - tenggara, zona kuarsa-lempung-karbonat dan zona klorit-karbonat tersebar mengikuti porositas batuan pada satuan tuf dan satuan andesit. Mineral pirit dan sfalerit ditemukan mengisi urat dan pirit juga ditemukan pada tekstur diseminasi. Mineral logam Au ditemukan pada material hasil galian lubang tambang. Hasil overlay peta prospek mineralisasi, didapatkan korelasi dengan persebaran zona alterasi dan mineralisasi pada bagian timur daerah penelitian. Zona prospek Au selaras dengan zona silisifkasi dapat diinterpretasikan bahwasannya kontrol struktur geologi memiliki peran dominan terhadap keberadaan alterasi dan mineralisasi selain litologi.Kata kunci: Struktur Geologi, Alterasi, Mineralisasi.
BIOSTRATIGRAFI NANNOPLANKTON PADA SEDIMEN DASAR LAUT WILAYAH TELUK KRUI PERAIRAN PESISIR BARAT, PROVINSI LAMPUNG Vijaya Isnaniawardhani, Ismawan, Sri Ardhyastuti, Zahra Hanifah Budiman,
Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i1.49208

Abstract

Daerah studi berada pada wilayah Teluk Krui, Perairan Pesisir Barat, Provinsi Lampung pada Cekungan Bengkulu yang merupakan salah satu cekungan batuan sedimen di Pulau Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi nannofosil serta penentuan zona biostratigrafi pada daerah terkait. pengambilan data dilakukan pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan data yang diperoleh dan digunakan pada penelitian ini berupa data gravity core. Penelitian ini didukung oleh identifikasi nannoplankton. Metode penelitian dilakukan dengan metode suspense untuk preparasi nannofosil, yang kemudian diidentifikasi dengan mikroskop polarisasi dengan perbesaran 1000x dalam perhitungan 100 field of view (FOV) Hasil analisis menunjukan terdapat 15 genus dan 25 spesies dari 18 sampel gravity core dengan kode sampel GC003 yang teridentifikasi. Distribusi nannoplankton menunjukan 3 zona biostratigrafi yaitu zona Pseudomiliania lacunosa (NN19), zona Gephyrocapsa oceanica (NN20), dan zona Emiliania huxleyi (NN21). Penelitian menunjukan rentang umur Pleistosene hingga resen, dengan rentang zona biostratigrafi pada NN19-NN21.Kata Kunci:Nannoplankton, Krui, Biostratigrafi, Sedimen dasar laut
HUBUNGAN KARAKTERISTIK GUGUS FUNGSIONAL TERHADAP TINGKAT KEMATANGAN BATUBARA PADA FORMASI STEENKOOL DI DAERAH TISIHU, KABUPATEN TELUK BINTUNI, PAPUA BARAT Ahmad Helman Hamdani, Agus Didit Haryanto, Gerald Khansa Muhammad,
Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i1.49338

Abstract

Batubara merupakan sumber energi yang banyak digunakan di seluruh dunia, meskipun banyak alternatif sumber energi lain seperti panas bumi yang akhir-akhir ini mulai banyak dikembangkan. Pematangan batubara berhubungan langsung dengan kualitas batubara, sehingga diperlukan analisis penentuan karakteristik dan tingkat kematangan batubara agar penggunaan batubara dapat dilakukan secara tepat. Terdapat potensi batubara di Provinsi Papua Barat yang menyisip pada Formasi Steenkool namun potensi tersebut belum ditangani secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik gugus fungsional batubara pada daerah penelitian dan menganalisis hubungan struktur molekul yang terbagi ke dalam beberapa gugus fungsional dengan tingkat kematangan yang terdapat pada daerah penelitian dengan menggunakan analisis Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Parameter struktur molekul yang tersebar di beberapa gugus fungsional pada batubara dikorelasikan dengan nilai indikator peringkat batubara yaitu nilai rasio H/C. Ketujuh sampel merupakan batubara tipe High Volatile Bituminous A Coal yang diklasifikasikan menurut ASTM D 388-05. Hasil analisis menunjukan rentang nilai dari parameter FTIR terdapat 2 parameter yang menunjukan kenaikan nilai tren seiring bertambahnya nilai H/C yang konsisten dengan penelitian terdahulu, yaitu parameter ƒa = 0,551 – 0,61, (R/C)u = 0,24 – 0,29. Parameter lainnya yang tidak konsisten yang seharusnya meningkat yaitu DOC = 0,068 – 0,121, I = 0,139 – 0,235, ‘C’ = 0,008 – 0,034 dan terdapat 2 parameter yang seharusnya menunjukan penurunan nilai tren seiring bertambahnya peringkat batubara, parameter tersebut yaitu Hal/H = 0,81 – 0,878, A(CH2)/A(CH3) = 0,37 – 0,45. Dari seluruh parameter FTIR yang diteliti, hanya 2 dari 7 parameter konsisten dengan hasil penelitian terdahulu dengan nilai korelasi yang kuat R>0,5 dan pengaruh yang besar R2 mendekati 1. Adanya ketidaksesuaian dari hasil perhitungan ini disebabkan oleh persebaran sampel yang seragam hanya pada satu kelas saja, sedangkan penelitian terdahulu memiliki sampel yang lebih variatif.Kata Kunci: Batubara, Struktur Molekul, Formasi Steenkol, Gugus Fungsional, FTIR
EVALUASI BATUAN INDUK DENGAN ANALISIS GEOKIMIA HIDROKARBON PADA SUB-CEKUNGAN BELUT, CEKUNGAN NATUNA BARAT Febrie Ekaninggarani, Nisa Nurul Ilmi, Edy Sunardi, Firda Fahriandini,
Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i2.49219

Abstract

Studi geokimia petroleum berperan dalam menentukan karakteristik batuan induk untuk mempelajari sistem petroleum di sebuah cekungan. Studi ini berfokus pada daerah penelitian yang terletak di Cekungan Natuna Barat sebagai salah satu cekungan produktif di Indonesia. Penelitian ini meliputi karakterisasi batuan induk (kuntitas, kualitas, kematangan, dan kematangan material organik), korelasi batuan-minyak bumi, lingkungan pengendapan, dan sejarah pemendaman cekungan. Sampel batuan induk pada daerah penelitian diambil dari Sumur Bima-1, Bima-2, Bima-3, dan Palu-1. Identifikasi dilakukan dengan analisis geokimia hidrokarbon pada 94 sampel batuan induk, 4 sampel ekstrak batuan induk, dan 1 sampel minyak bumi. Berdasarkan analisis geokimia, Formasi Belut berperan menjadi batuan induk efektif dengan tipe kerogen I dan III yang menghasilkan minyak. Berdasarkan analisis biomarker menggunakan kromatografi gas dan kromatografi gas-spektometri massa, Formasi Belut terendapkan pada lingkungan lakustrin dengan material berasal dari tanaman tinggi dan kondisi anoksik. Korelasi minyak bumi dan batuan induk menunjukan adanya korelasi genetik yang positif antara sampel minyak bumi Formasi Udang dan sampel batuan Formasi Belut yang mencirikan adanya migrasi vertikal. Berdasarkan hasil pemodelan sejarah pemendaman, fase kematangan awal dimulai pada Oligosen Awal di Formasi Belut kedalaman 5300 ft dan mencapai puncak kematangan Oligosen Awal di Formasi Belut kedalaman 6000 ft.Kata kunci: Form
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK RESERVOIR UNTUK PENENTUAN ZONA PROSPEK MELALUI ANALISIS PETROFISIKA PADA FORMASI TUALANG, LAPANGAN “KHF”, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH Shaskia Herida Putri, Billy Gumelar Adhiperdana, Edy Sunardi, Khafadloh Maulida,
Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i1.49204

Abstract

Formasi Tualang yang merupakan target penelitian terletak pada Lapangan “KHF”, Cekungan Sumatra Tengah. Analisis petrofisika dilakukan pada tiga buah sumur dengan menggunakan data log sumur, batuan inti, dan lumpur pemboran untuk mengetahui karakteristik reservoir sehingga dapat ditentukan zona prospek. Reservoir pada Formasi Tualang merupakan shaly sandstone yang mengandung banyak mineral lempung. Kandungan lempung akan mempengaruhi karakteristik reservoir. Hasil perhitungan volume serpih, porositas efektif, dan saturasi air menujukkan nilai yang cukup tinggi dengan cut-off volume serpih 60%, porositas 10%, dan saturasi air 65%. Zona prospek pada sumur KHF-1 berada di kedalaman 3.214-3.258 ft, sumur KHF-2 berada di kedalaman 3.272-3.318 ft, serta sumur KHF-3 pada kedalaman 3.210-3.244 ft, 3.320-3.386 ft, dan 3.430-3.452 ft. Kandidat reservoir yang paling baik merupakan fasies tidal channel karena persebarannya merata pada ketiga sumur dan paling tebal dibandingkan fasies lain. Nilai rata-rata setiap parameter fasies tidal channel pada lapangan “KHF” adalah 49,9% untuk volume serpih, 11,4% untuk porositas yang digolongkan cukup menurut Koesoemadinata (1980), dan 60,2% untuk saturasi air. Ketebalan reservoir berkisar antara 21,5-29 ft dengan kandungan fluida berupa gas.Kata kunci: Cekungan Sumatra Tengah, Formasi Tualang, Karakteristik Reservoir, Analisis Petrofisika, Zona Prospek.
EVALUASI FORMASI DI LAPANGAN “RA” PADA FORMASI LAKAT, CEKUNGAN SUMATERA TENGAH Yusi Firmansyah, Raisha Rahma Azalia, Abdurrokhim,
Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i2.49225

Abstract

Lapangan RA terletak di Cekungan Sumatera Tengah, merupakan salah satu lapangan yang menghasilkan minyak bumi. Penelitian ini difokuskan pada Formasi Lakat sebagai zona prospek reservoir. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui fasies dan lingkungan pengendapan, mengetahui sifat fisik reservoir, kemudian mengevaluasi fasies mana yang memiliki potensi reservoir yang paling baik pada Lapangan RA. Penelitian ini menggunakan data sumur (enam sumur), dan data side wall core. Berdasarkan analisis litofasies, pada Lapangan RA terdapat dua jenis litofasies, yaitu fasies batupasir glaukonitan dan batupasir. Hasil analisis elektrofasies menunjukkan adanya pola log cylindrical shape, serrated shape, bell shape dan funnel shape. Lingkungan pengendapan pada daerah penelitian yaitu fluvial berupa sungai berkelok. Sedangkan hasil analisis petrofisika menunjukkan tebal net pay pada sumur R-01, hingga R-06 secara berurutan adalah 8,7m, 10,1m, 10,1m, 5m, 8,1m, dan 13,6m, dengan nilai rata-rata volume serpih yaitu 28-58%; rata-rata nilai porositas yaitu 6-9% dengan kualitas buruk (Koesoemadinata, 1978); rata-rata nilai saturasi air yaitu 81-95%. Hasil evaluasi perhitungan petrofisika didapatkan zona reservoir terbaik terdapat pada fasies Batupasir 1 karena zona tersebut memiliki penyebaran yang baik pada daerah penelitian.Kata kunci: log sumur, litofasies, elektrofasies, petrofisika
Evaluasi Formasi Pada Interval Formasi “Ngrayong” Berdasarkan Analisis Petrofisika Sumur “SR-01, SR-02, SR03” Lapangan “Z” Cekungan Jawa Timur Utara Abdurrokhim, Yusi Firmansyah, Ilham Akbar, Andes Leo Purnomo, Syarifah Rayhan Hafizha,
Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i1.49209

Abstract

Daerah penelitian, secara administratif terletak di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tiga data sumur. Berdasarkan analisis kualitatif ditentukan terdapat tiga formasi di daerah penelitian yaitu Formasi Wonocolo, Bulu, dan Ngrayong dengan fokus utama penelitian berada di Formasi Ngrayong. Daerah penelitian didominasi oleh batupasir dan batugamping. Berdasarkan analisis elektrofasies dan litofasies terdapat dua fasies pengendapan, yaitu Delta Front dan Point Bar. Analisis kuantitatif di lakukan dengan menggunakan nilai yang paling pesimis. Berdasarkan perhitungan petrofisika didapatkan nilai cut off vsh sebesar 50%, cut off phie sebesar 5%, dan cut off sw sebesar 70%. Dari hasil perbandingan parameter petrofisika yang digunakan pada tiap sumur dapat disimpulkan jika, sumur SR01 merupakan sumur dengan ketebalan netpay yang terbaik dan menunjukan jika zona dua dengan rata rata hasil netpay tertinggi dengan porositas lebih baik dari zona satu yang terdapat di lower formasi Ngrayong pada sumur SR01, SR02 dan SR03 dapat menjadi fokus dalam eksplorasi dan pengembangangan lapangan.Kata Kunci: Formasi, Kualitatif, Kuantitatif, Petrofisika
SUMBERDAYA BATUBARA DI LOKASI ‘X’, BLOK SIUNG MALOPOT, BARITO SELATAN, KALIMANTAN TENGAH Ahmad Helman Hamdani, Agus Didit Haryanto, Faid Muhlis, Lois Pasaribu,
Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i2.49220

Abstract

untuk mengetahui potensi sumberdaya batubara. Perhitungan sumberdaya batubara dilakukan berdasarkan standar yang berlaku di Indonesia, yaitu SNI 5015:2019. Metode yang digunakan untuk menghitung sumberdaya batubara adalah metode circular dengan menggunakan jari-jari lingkaran terluar sebagai area of influence. Kompleksitas geologi daerah penelitian dikategorikan sebagai kondisi geologi moderat, dengan percabangan pada beberapa seam, ketebalan lapisan dan kualitas batubara yang bervariasi, serta dipengaruhi oleh aktivitas tektonik. Berdasarkan ASTM D388 (2005), batubara yang terdapat pada daerah penelitian dapat diklasifikasikan sebagai High Volatile A Bituminous dengan rata-rata nilai kalor (mmmf) 14.849,55 Btu/lb, kandungan volatile matter sebesar 45,95%, total sulfur 1,67%, fixed carbon 54,05%, dan ash content 5,66%. Dari hasil estimasi sumberdaya batubara, terdapat 5,26 juta ton total sumberdaya batubara, terdiri atas sumberdaya terukur sebesar 1,51 juta ton, sumberdaya tertunjuk sebesar 1,66 juta ton, dan sumberdaya tereka sebesar 2,08 juta ton.Kata Kunci: Batubara, Sumberdaya, Pemodelan Geologi, Kualitas

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue