cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 28, No 3 (2016): Desember" : 22 Documents clear
Perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan tanpa periodontitis kronisDifferences in potassium and sodium levels in the saliva of patients with and without chronic periodontitis Mahardhika, Muhammad Haikal; Hendiani, Ina; Susanto, Agus
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.059 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18702

Abstract

Pendahuluan: Periodontitis kronis menyebabkan perbedaan kadar ion kalium dan natrium pada saliva karena terjadinya perpindahan ion- ion tersebut dari cairan intraseluler dan ekstraseluler sel dan jaringan yang mengalami peradangan menuju saliva. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis. Metode: Penelitian deskriptif analitik, subjek penelitian sebanyak 30 pasien, terdiri dari 15 pasien periodontitis kronis dan 15 pasien tanpa periodontitis kronis. Pengukuran poket periodontal dan pengambilan saliva menggunakan spitting method serta pengukuran kadar kalium dan natrium saliva dalam satuan mmol/L menggunakan spektrofotometer AAS. Data diuji secara statistik menggunakan uji t independent sample test. Hasil: rata-rata kadar kalium dan natrium pada pasien periodontitis kronis (18,22 mmol/L dan 9,92 mmol/L), sedangkan pada pasien tanpa periodontitis kronis (16,54 mmol/L dan 6,95 mmol/L). Tidak terdapat perbedaan signifikan kadar kalium saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,351), dan terdapat perbedaan signifikan kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,004). Simpulan: Kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa periodontitis. ABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis causes differences in potassium and sodium ion levels in saliva due to the transfer of these ions from intracellular and extracellular fluid cells and tissues that experience inflammation into saliva. The aim of this study was to determine differences in potassium and sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis. Methods: A descriptive analytic study conducted towards 30 patients, consisting of 15 chronic periodontitis patients and 15 patients without chronic periodontitis. Measurement of periodontal pockets and saliva retrieval using spitting method and measurement of salivary potassium and sodium levels in mmol / L using AAS spectrophotometer. Data were statistically tested using independent sample test t test. Results: The average potassium and sodium levels in chronic periodontitis patients (18.22 mmol / L and 9.92 mmol / L), whereas in patients without chronic periodontitis (16.54 mmol / L and 6.95 mmol / L) . There were no significant differences in potassium saliva levels of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.351), and there were significant differences in sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.004). Conclusion: Sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients are higher than patients without periodontitis.Keywords: Potassium, sodium, chronic periodontitis, saliva.
Identifikasi usia berdasarkan metode Al Qahtani melalui radiograf panoramik di RSGM FKG UNPADAge identification based on Al Qahtani method through panoramic radiograph at the Dental Hospital of Universitas Padjadjaran Fitri Rusydiana; Fahmi Oscandar; Belly Sam
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.366 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18695

Abstract

Pendahuluan: Perkiraan usia dilakukan untuk mengetahui usia seseorang. Saat ini perkiraan usia banyak digunakan, kepentingannya adalah untuk forensik dan bidang kedokteran gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah Metode Al Qahtani mampu mengidentifikasi usia melalui radiograf panoramik di RSGM FKG Unpad. Metode: Penelitian ini dilakukan secara deskriptif sederhana dengan menggunakan software atlas Metode Al Qahtani, dengan melihat perkembangan gigi dan tingkat erupsi dari masing-masing radiograf panoramik. Hasil: Sebanyak 94 sampel yang diteliti, hanya 66 sampel dengan hasil usia gigi berdasarkan Metode Al Qahtani yang sama dengan usia pasien, sedangkan dari sisanya terdapat 28 sampel dengan usia gigi Metode Al Qahtani yang berbeda dengan usia pasien. Simpulan: Metode Al Qahtani dapat mengidentifikasi sebagian besar (70.21%) usia melalui radiograf panoramik di RSGM FKG Unpad dengan hasil usia yang bervariasi pada kelompok usia anak.Kata kunci: Identifikasi usia, metode Al Qahtani, radiograf panoramik ABSTRACTIntroduction: Estimated age is done to determine someone’s age. At present age estimates are widely used, its importance is for forensics and the field of dentistry. The purpose of this study was to determine whether the Al Qahtani Method was able to identify age through panoramic radiographs at RSGM FKG Unpad. Methods: This study was carried out in a simple descriptive manner using the atlas software of the Al Qahtani Method, by observing the development of teeth and the eruption rate of each panoramic radiograph. Results: A total of 94 samples were studied, only 66 samples with dental age results based on the Al Qahtani Method which were the same as the patient’s age, whereas of the remaining 28 samples with teeth age, the Al Qahtani Method was different from the patient’s age. Conclusion: Al Qahtani method can identify the majority (70.21%) of age through panoramic radiographs at RSGM FKG Unpad with varying age results in the age group of children.Keywords: Age identification, Al Qahtani method, panoramic radiograph.
Perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan tanpa periodontitis kronisDifferences in potassium and sodium levels in the saliva of patients with and without chronic periodontitis Muhammad Haikal Mahardhika; Ina Hendiani; Agus Susanto
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.059 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18702

Abstract

Pendahuluan: Periodontitis kronis menyebabkan perbedaan kadar ion kalium dan natrium pada saliva karena terjadinya perpindahan ion- ion tersebut dari cairan intraseluler dan ekstraseluler sel dan jaringan yang mengalami peradangan menuju saliva. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar kalium dan natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis. Metode: Penelitian deskriptif analitik, subjek penelitian sebanyak 30 pasien, terdiri dari 15 pasien periodontitis kronis dan 15 pasien tanpa periodontitis kronis. Pengukuran poket periodontal dan pengambilan saliva menggunakan spitting method serta pengukuran kadar kalium dan natrium saliva dalam satuan mmol/L menggunakan spektrofotometer AAS. Data diuji secara statistik menggunakan uji t independent sample test. Hasil: rata-rata kadar kalium dan natrium pada pasien periodontitis kronis (18,22 mmol/L dan 9,92 mmol/L), sedangkan pada pasien tanpa periodontitis kronis (16,54 mmol/L dan 6,95 mmol/L). Tidak terdapat perbedaan signifikan kadar kalium saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,351), dan terdapat perbedaan signifikan kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis dan pasien tanpa periodontitis kronis (p=0,004). Simpulan: Kadar natrium pada saliva pasien periodontitis kronis lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa periodontitis.Kata kunci: Kalium, natrium, periodontitis kronis, saliva. ABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis causes differences in potassium and sodium ion levels in saliva due to the transfer of these ions from intracellular and extracellular fluid cells and tissues that experience inflammation into saliva. The aim of this study was to determine differences in potassium and sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis. Methods: A descriptive analytic study conducted towards 30 patients, consisting of 15 chronic periodontitis patients and 15 patients without chronic periodontitis. Measurement of periodontal pockets and saliva retrieval using spitting method and measurement of salivary potassium and sodium levels in mmol/L using AAS spectrophotometer. Data were statistically tested using independent sample test t test. Results: The average potassium and sodium levels in chronic periodontitis patients (18.22 mmol/L and 9.92 mmol/L), whereas in patients without chronic periodontitis (16.54 mmol/L and 6.95 mmol/L). There were no significant differences in potassium saliva levels of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.351), and there were significant differences in sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients and patients without chronic periodontitis (p = 0.004). Conclusion: Sodium levels in the saliva of chronic periodontitis patients are higher than patients without periodontitis.Keywords: Potassium, sodium, chronic periodontitis, saliva.
Tipe wajah dan bentuk lengkung gigi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi angkatan 2010-2013 Universitas PadjadjaranDescription of facial types and dental arch form of the students in the Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran batch 2010-2013 Istiqomah Nur Oktarina; Yuliawati Zenab; Iwa Rahmat Sunaryo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.454 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18689

Abstract

Pendahuluan: Wajah merupakan salah satu bagian terpenting dari penampilan. Bentuk wajah yang ideal dipengaruhi oleh bentuk lengkung gigi, karena lengkung gigi dijadikan sebagai faktor yang penting dalam perawatan ortodonti. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran tipe wajah dan bentuk lengkung gigi. Metode: Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Sampelnya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran angkatan 2010-2013 yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap yaitu dengan melakukan pengukuran pada foto profil dan model lengkung gigi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi angkatan 2010-2013 Universitas Padjadjaran. Hasil: Terdapat tipe wajah hypereuryprosopic sebanyak 76,97%, euryprosopic sebanyak 86,06%, mesoprosopic sebanyak 18,18%, leptoprosopic sebanyak 12,12%, dan hyperleptoprosopic sebanyak 6,67%. Bentuk lengkung gigi tapered sebanyak 85,71%, square sebanyak 0%, dan ovoid sebanyak 14,29% baik pada rahang atas dan rahang bawah. Simpulan: Tipe wajah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi angkatan 2010-2013 Universitas Padjadjaran adalah euryprosopic dan Bentuk lengkung gigi adalah bentuk tapered.Kata kunci: Tipe wajah, bentuk lengkung gigi. ABSTRACTIntroduction: The face is one of the most fragile parts of appearance. Face types are things that can describe the differences in the shape of each person’s face. The aim of the study was to find out the description of the face type and the shape of the dental arch. Methods: The study was conducted using descriptive method. The samples were students of the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, 2010-2013 generation who were selected using purposive sampling technique. Results: There were hypereuryprosopic facial types as much as 30%, euryprosopic as much as 48.57%, mesoprosopic as much as 14.29%, leptoprosopic as much as 5.71%, and hyperleptoprosopic as much as 1.43%. From the same number of samples, found tapered dental arches as much as 85.71%, square as much as 0%, and ovoid as much as 14.29% both in the maxilla and mandible. Conclusion: Face types in the Faculty of Dentistry students of 2010-2013 University of Padjadjaran University are mostly hypereuryprosopic in male and euryprosopic students in female students. The curvature of the teeth in the Faculty of Dentistry students of the 2010-2013 University of Padjadjaran University is tapered to the maxilla and mandible in both male and female students. All facial types, namely hypereuryprosopic, euryprosopic, mesoprosopic, leptoprosopic, and hyperleptoprosopic in the 2010-2013 Faculty of Dentistry students at Padjadjaran University were dominated by tapered dental arches in both the maxilla and mandible.Keywords: Facial type, dental arch form.
Perbandingan berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis dan Enkasari® terhadap penurunan indeks plakComparison of gargling solution of mangosteen pericarp extract and Enkasari® in decreasing plaque index Annisa Rizky Pratiwi; Ina Hendiani; Indra Mustika Setia Pribadi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.306 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18696

Abstract

Pendahuluan: Plak terdiri dari berbagai macam bakteri. Plak dapat dikendalikan salah satunya dengan cara kimiawi, melalui penggunaan obat kumur. Salah satu obat kumur herbal yang sudah teruji klinis dan tersedia di pasaran adalah Enkasari®. Enkasari® memiliki kandungan utama daun sirih. Ekstrak kulit manggis telah teruji dapat berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan berpotensi dijadikan larutan kumur. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pengaruh dan perbedaan berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis konsentrasi 50% dan Enkasari® terhadap penurunan indeks plak. Metode: Penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan desain cross-over dan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada 32 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran angkatan 2010. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Pengukuran indeks plak gigi dilakukan sebelum dan sesudah berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis dan Enkasari® selama 2 hari tanpa oral hygiene. Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan dan uji t independen. Hasil: Penelitian menunjukan bahwa kedua larutan sama-sama mempunyai pengaruh terhadap penurunan indeks plak. Subjek yang berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis 50%, penurunan indeks plaknya lebih besar daripada subjek penelitian yang berkumur Enkasari®. Hasil uji t independen menunjukan bahwa nilai signifikasi (0,045) dengan p<0,05. Simpulan: Terdapat pengaruh berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis 50% dan Enkasari® terhadap penurunan indeks plak serta terdapat perbedaan penurunan nilai indeks plak yang signifikan antara berkumur larutan ekstrak kulit buah manggis 50% dan Enkasari®.Kata kunci: Kulit buah manggis, plak gigi, indeks plak gigi. ABSTRACTIntroduction: Plaque consists of various types of bacteria. Plaque can be controlled one of them by chemical means, through the use of mouthwash. One of the herbal mouthwashes that have been clinically tested and available on the market is Enkasari®. Enkasari® has the main content of betel leaf. Mangosteen peel extract has been tested to play a role in inhibiting bacterial growth and potentially being used as a mouth rinse. The purpose of this study was to compare the effects and differences of gargling solution of 50% mangosteen pericarp extract and Enkasari® on the reduction of plaque index. Methods: The research used was quasi-experimental with cross-over design and sampling using purposive sampling. The study was conducted on 32 students of the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, class of 2010. The study was conducted at the Dental and Oral Hospital of Padjadjaran University. Measurement of dental plaque index was done before and after gargling the solution of mangosteen rind extract and Enkasari® for 2 days without oral hygiene. Data processing uses paired t test and independent t test. Results: Research shows that both solutions have an effect on the decrease in plaque index. Subjects who rinsed the solution of mangosteen pericarp 50%, the decrease in plaque index was greater than the research subjects who rinsed Enkasari®. The independent t test results showed that the significance value (0.045) with p < 0.05. Conclusion: There is an effect of gargling 50% mangosteen pericarp and Enkasari® rind extract on decreasing plaque index and there is a significant difference in significant plaque index values between gargling 50% mangosteen pericarp extract and Enkasari® rinse.Keywords: Mangosteen pericarp, dental plaque, dental plaque index.
Impaksi gigi molar tiga rahang bawah dan sefalgiaMandibular third molar impaction and cephalgia Amalia Meisya Fitri; Alwin Kasim; Abel Tasman Yuza
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.092 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18691

Abstract

Pendahuluan: Impaksi yang sering terjadi adalah pada gigi molar tiga pada rahang bawah. Penderita biasanya mengeluhkan sefalgia yang dirasakan bersamaan dengan erupsi molar tiga tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besar prevalensi impaksi molar tiga rahang bawah yang disertai sefalgia dan seberapa besar frekuensi sefalgia yang terjadi berdasarkan posisi impaksi klasifikasi Pell dan Gregory serta klasifikasi Winter. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Univesitas Padjadjaran angkatan 2010 yang masuk dalam kriteria inklusi akan dilakukan foto panoramik untuk melihat klasifikasi impaksi. Sampel kemudian diminta untuk mengisi kuesioner penelitian. Hasil: Hasil penelitian menunjukan dari 100 orang sampel yang mengeluhkan impaksi sebanyak 58 orang, tetapi hanya 15 orang mahasiswa saja yang memasuki kriteria inklusi yaitu murni mengalami sefalgia yang berasal dari gigi impaksi. Simpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah prevalensi impaksi molar tiga rahang bawah yang disertai sefalgia sebanyak 25,86%. Posisi A merupakan posisi pada klasifikasi Pell dan Gregory yang paling banyak mengakibatkan sefalgia. Berdasarkan klasifikasi Winter, impaksi horizontal merupakan yang paling banyak mengakibatkan sefalgia.Kata kunci: Impaksi, sefalgia. ABSTRACTIntroduction: Frequent impaction is in the lower third molars. Patients usually complain of cephalgia which is felt along with the eruption of the third molar. The purpose of this study was to determine the prevalence of lower third molar impaction accompanied by cephalgia and how much the frequency of cephalgia occurred based on Pell and Gregory classification impaction position and Winter classification. Methods: The study used descriptive method for FKG students of Padjadjaran University 2010 class which included in the inclusion criteria, panoramic photos were taken to see the classification of impactions. The sample was then asked to fill out the research questionnaire. Results: The results showed that out of 100 samples who complained of impaction as many as 58 people, but only 15 students who entered the inclusion criteria were purely experiencing cephalgia from impacted teeth. Conclusion: The conclusion of this study is the prevalence of lower third molar impaction accompanied by cephalgia as much as 25.86%. Position A is the position in the classification of Pell and Gregory which most often results in cephalgia. Based on Winter’s classification, horizontal impaction is the most common cause of cephalgia.Keywords: Impaction, cephalgia.
Perbedaan indeks DMF-T antara siswa SMP di perkotaan dan perdesaan usia 12-13 tahunThe difference in the DMF-T index between 12-13-years-old junior high school students in urban and rural areas Regina Faranitha; Sjazili Muhibat; Netty Suryanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.131 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18697

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi karies dari pemeriksaan DMF-T yang dialami oleh penduduk berumur lebih dari 12 tahun di Indonesia sebesar 4,6. Perubahan gaya hidup dipertimbangkan sebagai salah satu faktor risiko yang menyebabkan terjadinya perbedaan kejadian karies gigi di perkotaan dan perdesaan.Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan indeks DMF-T antara siswa di SMP Negeri 1 Bandung yang berada di wilayah perkotaan dan SMP Negeri 1 Cimenyan di perdesaan usia 12-13 tahun. Metode: Penelitian yang dilakukan adalah deskriptif cross-sectional. Sampel penelitian diambil dengan teknik simple random sampling dan didapat sampel sebanyak 291 siswa, yaitu 158 siswa dari SMP Negeri 1 Bandung dan 133 siswa dari SMP Negeri 1 Cimenyan. Perbedaan indeks DMF-T antara siswa SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) dan SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) diketahui dengan menggunakan uji statistik chi kuadrat. Hasil: penelitian menunjukkan indeks DMF-T pada siswa di SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) sebesar 1,88, sedangkan indeks DMF-T pada siswa di SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) sebesar 4,10 dengan nilai p yang didapatkan adalah < 0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks DMF-T siswa di SMP Negeri 1 Bandung (perkotaan) dan SMP Negeri 1 Cimenyan (perdesaan) usia 12 – 13 tahun.Kata kunci: Indeks DMF-T, perkotaan, perdesaan. ABSTRACTIntroduction: Caries prevalence of DMF-T examination experienced by residents over 12 years of age in Indonesia is 4.6. Changes in lifestyle were considered as one of the risk factors that led to differences in the incidence of dental caries in urban and rural areas. The purpose of the study was to determine differences in DMF-T index between students in SMP Negeri 1 Bandung in urban areas and SMP Negeri 1 Cimenyan in rural areas. 12-13 years. Methods: The research was descriptive cross-sectional study. The research sample was taken by simple random sampling technique and obtained a sample of 291 students, namely 158 students from Bandung 1 Public Middle School and 133 students from Cimenyan 1 Public Middle School. The difference in DMF-T index between students of SMP Negeri 1 Bandung (urban) and SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) is known by using chi squared statistical test. Results: The study showed the DMF-T index in students at SMP Negeri 1 Bandung (urban) was 1.88, while the DMF-T index in students at SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) was 4.10 with the p value obtained was < 0,05. Conclusion: There is a significant difference between the DMF-T index of students in SMP Negeri 1 Bandung (urban) and SMP Negeri 1 Cimenyan (rural) aged 12-13 years.Keywords: DMF-T index, urban, rural.
Prevalensi suspek sinusitis maksilaris odontogenik ditinjau dari radiograf panoramik di instalasi radiologi RSGM UNPADPrevalence of odontogenic maxillary sinusitis suspects based on the panoramic radiographs at Universitas Padjadjaran Academic Dental Hospital Dentomaxillofacial Radiology Installation Shabrina Romadhona; Belly Sam; Fahmi Oscandar
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.811 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18692

Abstract

Pendahuluan: Sinus maksilaris, yang disebut juga Antrum Highmore merupakan sinus yang sering terinfeksi. Satu di antara penyebabnya adalah karena sinus ini merupakan sinus paranasal yang terbesar dan bentuknya bervariasi di setiap individu. Radiografi panoramik merupakan satu di antara teknik radiografi yang dapat melihat gambaran kedua sinus dan hubungannya terhadap gigi serta relatif aman karena paparan radiasinya tidak sebesar teknik radiografi lain. Penelitian mengenai prevalensi sinusitis maksilaris odontogenik telah banyak dilakukan tetapi peneliti belum menemukan adanya penelitian serupa di wilayah Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi suspek sinusitis maksilaris odontogenik ditinjau dari radiograf panoramik di RSGM FKG Unpad. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian dari 44 sampel yang diteliti, terdapat suspek radiologis sinusitis maksilaris odontogenik sebanyak 16 radiograf. Simpulan: Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa prevalensi suspek kasus sinusitis maksilaris odontogenik pada arsip radiograf panoramik pasien yang mengalami infeksi pulpo apikal yang datang ke Instalasi Radiologi RSGM Unpad pada periode Juli-September 2013 adalah sebesar 36,36% dengan suspek kasus banyak terdapat pada populasi usia dewasa muda dan lanjut, dengan proporsi jumlah yang sama pada populasi perempuan dan laki-laki, dan lebih banyak melibatkan infeksi dari gigi molar pertama dan kedua. Kata kunci: Panoramik, prevalensi, sinus maksilaris, odontogenik. ABSTRACTIntroduction: Maxillary sinus, also called Antrum Highmore, is a sinus that is often infected. One of the causes is because this sinus is the largest paranasal sinus and its shape varies in each individual. Panoramic radiography is one of the radiographic techniques that can see both sinus images and their relationship to teeth and is relatively safe because exposure to radiation is not as large as other radiographic techniques. Research on the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis has been carried out but researchers have not found similar studies in the Bandung, West Java region. This study aims to determine the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis suspicions from panoramic radiographs at RSGM FKG Unpad. Methods: This type of research is descriptive. Sample selection is done by purposive sampling technique. Results: The results of the 44 samples studied were radiological suspects of 16 radiographs of odontogenic maxillary sinusitis. Conclusion: The conclusions of this study are that the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis cases in panoramic radiographs of patients who have apical pulpo- rine infection who came to the Radiology Hospital Unpad installation in the period of July-September 2013 was 36.36% with many cases suspected in the population. young and advanced adulthood, with the same proportion of women and men, and more involving infections from first and second molars.Keywords: Panoramic, prevalence, maxillary sinus, odontogenic.
Ekstrak umbi bit (Beta vulgaris L.) sebagai bahan pewarna plakBeet (Beta vulgaris L.) tuber extract as plaque staining material Nurul Hidayah; Dede Hadidjah; Indrati Sudjarwo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.196 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18700

Abstract

Pendahuluan: Umbi bit (Beta vulgaris L.) memiliki pigmen betasianin yang menghasilkan warna merah dan sering digunakan sebagai pewarna alami makanan. Beberapa bahan pewarna makanan alami dapat digunakan sebagai bahan pewarna plak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai ekstrak umbi bit sebagai bahan pewarna pada plak gigi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni secara in vitro menggunakan 120 buah preparat apus plak yang dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing 30 buah preparat apus plak diberikan satu gram bahan pewarna plak eritrosin merek GC, satu tetes ekstrak umbi bit dengan konsentrasi 100%, 50%, dan 25%. Penilaian dilakukan dengan melihat hasil pewarnaan plak berdasarkan derajat warna merah menggunakan colour chart of royal holticultural society. Data yang diperoleh diolah menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Konsentrasi ekstrak umbi bit 100% memberikan warna merah yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak umbi bit konsentrasi 50%, 25%, dan bahan pewarna plak eritrosin untuk mewarnai plak secara in vitro. Simpulan: Ekstrak umbi bit (Beta vulgaris L.) dengan konsentrasi 100% dapat digunakan sebagai bahan pewarna plak pada gigi.Kata kunci: Ekstrak umbi bit, kartu skala warna, bahan pewarna plak. ABSTRACTIntroduction: Beetroot (Beta vulgaris L.) has a betacyanine pigment which produces red color and is often used as a natural food coloring. Some natural food coloring ingredients can be used as plaque dyes. The purpose of this study was to assess the extract of beet tuber as a coloring material in dental plaque. Methods: This study was a pure experimental study using in vitro 120 plaque smear preparations which were divided into four groups, each of 30 apus plaque preparations were given one gram of GC brand erythrosine plaque dye, one drop of 100% concentration of beet tuber extract, 50%, and 25%. Assessment is done by looking at the results of plaque staining based on the degree of red using the color chart of royal holticultural society. The data obtained were processed using the Mann-Whitney test. Results: The concentration of beetroot extract 100% gave a better red color compared to 50%, 25% concentration of beet tuber extract and erythrosine plaque dye for plaque coloring in vitro. Conclusion: Beetroot (Beta vulgaris L.) extract with a concentration of 100% can be used as a plaque coloring agent on teeth.Keywords: Beet tuber extract, color scale card, plaque staining material.
Perbandingan efektifitas pasta gigi yang mengandung sodium bikarbonat dan sodium monofluorofosfat terhadap plak dan gingivitisComparison of the effectiveness between toothpaste contained sodium bicarbonate and sodium monofluorophosphate against plaque and gingivitis Beta Duwisda; Nunung Rusminah; Agus Susanto
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.115 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18693

Abstract

Pendahuluan: Sodium bikarbonat dan sodium monofluorofosfat merupakan bahan aktif yang digunakan dalam pasta gigi dan memiliki fungsi tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan efektifitas kedua bahan tersebut dalam pasta gigi terhadap plak dan gingivitis. Jenis penelitian ini deskriptif dengan desain pre dan post-test. Metode: Sampel berjumlah 30 orang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing mendapat perlakuan penyikatan gigi dengan pasta gigi yang mengandung sodium bikarbonat dan pasta gigi yang mengandung sodium monofluorofosfat. Subjek diminta menyikat gigi dua kali sehari selama 14 hari. Penilaian menggunakan Indeks Plak menurut Sillness dan Loe dan Indeks Gingiva menurut Loe dan Sillness. Data dianalisis dengan uji t dan uji Mann-Whitney. Hasil: Pasta gigi yang mengandung sodium bikarbonat maupun sodium monofluorofosfat tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam menurunkan indeks plak dengan nilai p-value 0,983 (p> 0,05). Kedua pasta gigi memiliki efektifitas dalam menurunkan indeks gingiva dengan nilai p-value 0,044 (p<0,05). Pasta gigi yang mengandung sodium bikarbonat lebih efektif dalam menurunkan indeks gingiva dilihat dari penurunan rata- ratanya. Simpulan: Kedua pasta gigi tidak efektif menurunkan plak namun efektif dalam menurunkan gingivitis dimana pasta gigi yang mengandung sodium bikarbonat lebih efektif menurunkan gingivitis dibandingkan dengan sodium monofluorofosfat.Kata kunci: Gingivitis, pasta gigi, plak, sodium bikarbonat, sodium monofluorofosfat. ABSTRACTIntroduction: Sodium bicarbonate and sodium monofluorophosphate are active ingredients used in toothpaste and have certain functions. This study was conducted with the aim to compare the effectiveness of the two ingredients in toothpaste against plaque and gingivitis. This type of research is descriptive with pre and post-test design. Methods: A sample of 30 people was divided into two groups, each of which was treated with toothpaste with toothpaste containing sodium bicarbonate and toothpaste containing sodium monofluorophosphate. Subjects were asked to brush their teeth twice a day for 14 days. Assessment uses the Plaque Index according to Sillness and Loe and the Gingiva Index according to Loe and Sillness. Data were analyzed by t-test and Mann-Whitney test. Results: Toothpaste containing sodium bicarbonate and sodium monofluorophosphate did not have a significant difference in reducing plaque index with p-value of 0.983 (p > 0.05). Both toothpastes have effectiveness in lowering the gingival index with a p-value of 0.044 (p < 0.05). Toothpaste containing sodium bicarbonate is more effective in lowering the gingival index as seen from the decrease in average. Conclusion: Both toothpastes are not effective in reducing plaque but are effective in reducing gingivitis where toothpaste containing sodium bicarbonate is more effective in reducing gingivitis compared to sodium monofluorophosphate.Keywords: Gingivitis, toothpaste, plaque, sodium bicarbonate, sodium monofluorophosphate.

Page 2 of 3 | Total Record : 22