cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 29, No 1 (2017): April" : 22 Documents clear
Identifikasi relasi maksilomandibula rahang tidak bergigi lengkapIdentification of edentulous maxillomandibular relation classification Jessicca, Maria; Bonifacius, Setyawan; Damayanti, Lisda
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.056 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18604

Abstract

Pendahuluan: Pasien tidak bergigi lengkap yang sudah terlalu lama, umumnya mengalami perubahan anatomi dalam rongga mulut seiring bertambahnya usia, termasuk perubahan pada relasi maksilomandibula, sehingga keadaan ini akan menambah tingkat kesulitan dalam perawatan. American College of Prosthodontic telah mengembangkan suatu sistem klasifikasi untuk membantu dalam menyusun rencana perawatan gigi tiruan lengkap yang terdiri dari beberapa kriteria diagnostik utama salah satunya adalah relasi maksilomandibula. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi klasifikasi relasi maksilomandibula pada rahang tidak bergigi lengkap pada pasien di Klinik Prostodonsia RSGM FKG Universitas Padjadjaran (Unpad). Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik survei. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian didapat dari 20 artikulator yang sudah dipasang model kerja rahang tidak bergigi lengkap atas dan bawah. Relasi maksilomandibula didapat dari pemeriksaan artikulator gigi tiruan lengkap secara langsung yang sedang dikerjakan oleh ko-ass atau residen. Hasil: Klasifikasi relasi maksilomandibula kelas I ditemukan sebanyak 12 responden (60%), kelas II sebanyak 2 responden (10%), dan kelas III sebanyak 6 responden (30%). Simpulan: Klasifikasi relasi maksilomandibula kelas I sebanyak 12 responden (60%) merupakan relasi yang paling banyak ditemukan pada pasien rahang tidak bergigi lengkap di RSGM FKG Unpad. ABSTRACTIntroduction: Patients with long period edentulous jaw, generally experience anatomic changes in the oral cavity as we get older, including changes in the maxillomandibular relation, so this condition will increase the level of difficulty in treatment. The American College of Prosthodontic has developed a classification system to assist in developing a complete denture treatment plan consisting of several main diagnostic criteria, one of which is maxillomandibular relations. The aim of the study was to identify the classification of maxillomandibular relations in edentulous patients at the RSGM FKG Prosthodontics Clinic, Padjadjaran University (Unpad). Methods: This type of research is a descriptive study with survey techniques. Sampling using purposive sampling technique. The research sample was obtained from 20 articulators that had been installed with a complete upper and lower toothless jaw working model. Maxillomandibular relation was obtained from direct complete denture articulator examination that was being done by co-ass or resident. Result: Classification of class I maxillomandibular relations was found as many as 12 respondents (60%), class II as many as 2 respondents (10%), and class III as many as 6 respondents (30%). Conclusion: Classification of class I maxillomandibular relationships as many as 12 respondents (60%) is the most common relation in incomplete toothless jaw patients at FKG Unpad RSGM.Keywords: Edentulous jaw, maxillomandibular relation classification.
Identifikasi relasi maksilomandibula rahang tidak bergigi lengkapIdentification of edentulous maxillomandibular relation classification Maria Jessicca; Setyawan Bonifacius; Lisda Damayanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.056 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18604

Abstract

Pendahuluan: Pasien tidak bergigi lengkap yang sudah terlalu lama, umumnya mengalami perubahan anatomi dalam rongga mulut seiring bertambahnya usia, termasuk perubahan pada relasi maksilomandibula, sehingga keadaan ini akan menambah tingkat kesulitan dalam perawatan. American College of Prosthodontic telah mengembangkan suatu sistem klasifikasi untuk membantu dalam menyusun rencana perawatan gigi tiruan lengkap yang terdiri dari beberapa kriteria diagnostik utama salah satunya adalah relasi maksilomandibula. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi klasifikasi relasi maksilomandibula pada rahang tidak bergigi lengkap pada pasien di Klinik Prostodonsia RSGM FKG Universitas Padjadjaran (Unpad). Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik survei. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian didapat dari 20 artikulator yang sudah dipasang model kerja rahang tidak bergigi lengkap atas dan bawah. Relasi maksilomandibula didapat dari pemeriksaan artikulator gigi tiruan lengkap secara langsung yang sedang dikerjakan oleh ko-ass atau residen. Hasil: Klasifikasi relasi maksilomandibula kelas I ditemukan sebanyak 12 responden (60%), kelas II sebanyak 2 responden (10%), dan kelas III sebanyak 6 responden (30%). Simpulan: Klasifikasi relasi maksilomandibula kelas I sebanyak 12 responden (60%) merupakan relasi yang paling banyak ditemukan pada pasien rahang tidak bergigi lengkap di RSGM FKG Unpad.Kata kunci: Rahang tidak bergigi lengkap, klasifikasi relasi maksilomandibula ABSTRACTIntroduction: Patients with long period edentulous jaw, generally experience anatomic changes in the oral cavity as we get older, including changes in the maxillomandibular relation, so this condition will increase the level of difficulty in treatment. The American College of Prosthodontic has developed a classification system to assist in developing a complete denture treatment plan consisting of several main diagnostic criteria, one of which is maxillomandibular relations. The aim of the study was to identify the classification of maxillomandibular relations in edentulous patients at the RSGM FKG Prosthodontics Clinic, Padjadjaran University (Unpad). Methods: This type of research is a descriptive study with survey techniques. Sampling using purposive sampling technique. The research sample was obtained from 20 articulators that had been installed with a complete upper and lower toothless jaw working model. Maxillomandibular relation was obtained from direct complete denture articulator examination that was being done by co-ass or resident. Result: Classification of class I maxillomandibular relations was found as many as 12 respondents (60%), class II as many as 2 respondents (10%), and class III as many as 6 respondents (30%). Conclusion: Classification of class I maxillomandibular relationships as many as 12 respondents (60%) is the most common relation in incomplete toothless jaw patients at FKG Unpad RSGM.Keywords: Edentulous jaw, maxillomandibular relation classification
Sintesis partikel zirkonia-alumina-silika (ZrO2-Al2O3-SiO2) dari pasir zirkon alam sebagai bahan pengisi komposit kedokteran gigiSynthesis of zirconia-alumina-silica particles (ZrO2-Al2O3-SiO2) from natural zircon sand as dental composite fillers Silmina Susra; Nina Djustiana; Renny Febrida; I Made Joni
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.075 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i2.18537

Abstract

Pendahuluan: Pasir zirkon (ZrSiO4) merupakan mineral alam yang tersusun atas zirkonia (ZrO2) dan silika (SiO2) yang berikatan dengan stabil. Zirkonia adalah salah satu material keramik kedokteran gigi yang banyak digunakan karena memiliki sifat mekanis dan biokompatibilitas yang tinggi. Zirkonia dapat dikombinasikan dengan silika dan alumina untuk membentuk suatu bahan pengisi komposit dengan sifat mekanis dan estetis yang dapat disesuaikan dengan sifat gigi kodrat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan bahan pengisi komposit alternatif di bidang kedokteran gigi yang berasal dari pasir zirkon alam untuk dijadikan bahan bahan pengisi komposit. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratoris untuk mensintesis dan mengkarakterisasi partikel ZrO2-Al2O3-SiO2 dari bahan baku alam berupa pasir zircon dengan reaksi geopolimerisasi dan proses pemanasan suhu tinggi. Aktivator yang digunakan adalah larutan NaOH 3 mol dengan temperatur pemanasan 1100°C pada lama pemanasan 4 jam, 6 jam, dan 8 jam. Hasil: Hasil analisis uji X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan jumlah zirkonia berstruktur tetragonal terbesar ada pada sampel pemanasan 8 jam, yaitu 24%. Hasil analisis uji Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) menunjukkan rasio komposisi zirkonia-alumina-silika dengan nilai zirkonia tertinggi ada pada sampel pemanasan 8 jam, yaitu 55,7; 23,6; 20,6. Hasil analisis mikrograf Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan morfologi permukaan dan partikel yang tidak beraturan dan beraglomerasi. Simpulan: Sintesis partikel zirkonia-alumina-silika (ZrO2-Al2O3-SiO2) dari pasir zirkon alam dengan pemanasan 8 jam ditinjau dari jumlah zirkonia berstruktur tetragonal memadai digunakan sebagai bahan pengisi komposit berdasarkan uji XRD dan EDS, namun pada uji SEM partikel berbentuk tidak beraturan dan beraglomerasi.Kata kunci: Pasir zirkon, zirkonia-alumina-silika, geopolimerisasi, bahan pengisi komposit ABSTRACTIntroduction: Zircon sand (ZrSiO4) is natural mineral sand which is composed of zirconia (ZrO2) and silica (SiO2) that bind in a stable condition. Zirconia is one of a ceramic that is widely used in dentistry because of its high biocompatibility and good mechanical properties. Zirconia can be combined with silica and alumina to form a bahan pengisi composite material with its esthetics and mechanical properties that can be adjusted to real tooth properties. Methods: This study focuses on a synthesis of zirconia-alumina-silica (ZrO2-Al2O3-SiO2) from natural zircon sand using a geopolymerization method and a heat treatment in high temperature. Activator used in this method is 3 mol NaOH solutions. A temperature that is used to heat is 1100° C for 4 hours, 6 hours, and 8 hours. Results: Analysis result of X-ray Diffraction (XRD) indicates that a sample with 8 hours heating time has a greatest amount of tetragonal zirconia: 24%. An analysis result of Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) indicates that a composition ratio of zirconia-alumina-silica with a highest score in zirconia is present in a sample with 8 hours heating time, with a ratio 55,7 : 23,6 : 20,6. Analysis result of Scanning Electron Microscope (SEM) show irregularities in particles and surface morphology, and agglomerated particles. Conclusion: The study concludes that a synthesis of zirconia-alumina-silica (ZrO2-Al2O3-SiO2) particles from natural zircon sand based on the amount of tetragonal structure that is present in zirconia is suitable to be used as composite bahan pengisi materials based on XRD and EDS characterization tests. But in a SEM test, the particles show irregularities and agglomerations.Keywords: Zircon sand, zirconia-alumina-silica, composite bahan pengisi
Pola rugae palatina pada mahasiswa suku Minangkabau dan suku BatakPalatal rugae pattern in Minangkabaunese and Bataknese students Mentari Nurul Ilma; Nani Murniati; Djulaenah Ningsih
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.986 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18599

Abstract

Pendahuluan: Rugae palatina merupakan suatu lipatan anatomis yang terletak di sepertiga anterior palatum belakang papilla insisivum. Pertumbuhan rugae palatina dipengaruhi faktor genetik sehingga tiap individu memiliki keunikan pola rugae palatina masing-masing, termasuk antara suku Minangkabau dan suku Batak. Rugae palatina digunakan sebagai alternatif teknik identifikasi ras di kedokteran gigi forensik karena keunikannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran pola rugae palatina pada suku Minangkabau dan suku Batak. Metode: Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif sederhana kuantitatif dan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling. Penelitian dilakukan di UKSU ITB dan UPBM Unpad, total sampel yang diperoleh sebanyak 42 mahasiswa UKSU UPBM angkatan 2010-2012. Data diperoleh melalui pencetakan rahang atas kemudian dibuat model untuk diinterpretasikan pola rugae palatina masing-masing suku. Data disajikan dengan tabel distribusi frekuensi sederhana. Hasil: Hasil perhitungan pola rugae palatina yang ditampilkan tabel distribusi frekuensi sederhana menunjukkan 54,48% berbentuk gelombang pada suku Minangkabau dan 73,68% berbentuk divergen, sedangkan pada suku Batak ditemukan 55,63% berbentuk gelombang dan 83,33% berbentuk divergen. Simpulan: Gambaran pola rugae palatina berbentuk gelombang dan divergen merupakan jumlah terbanyak pada suku Minangkabau dan suku Batak.Kata kunci: Forensik odontologi, pola rugae palatina, suku Minangkabau, suku Batak ABSTRACTIntroduction: Palatal rugae is anatomical folds located on the anterior third of the palate, behind the incisive papilla. Growth of palatal rugae  is affected by genetic factor, thus it was proven that the rugae patterns are highly individualistic, including Minangkabau and Batak tribes. It is used as an alternative method for identification because of its unique anatomical structure. The aim of the study was to describe  palatal rugae patterns in Minangkabau and Batak tribes. Methods: This was a simple descriptive quantitative study, using consecutive sampling technique. Participants were recruited from UKSU ITB and UPBM Unpad, in total 42 undergraduate students from batch 2010-2012 signed informed consents. The maxillary impression of the subject was taken using alginate then transferred to casts to interpret the palatal rugae pattern. The data were presented with simple frequency distribution table. Result: The palatal rugae pattern distribution showed 54,48% wavy pattern and 73,68% divergent pattern  for Minangkabau, whereas Batak tribes had 55,63% and 83,33%, respectively. Conclusion: In this study,  the dominant shape of palatal rugae among the two tribes was wavy and divergent form. Keywords: Odontology forensic, palatal rugae pattern, Minangkabaunese, Bataknese
Tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 Kabupaten GarutOral hygiene level of students aged 11-12-years-old at Cijayana 1 State Elementary School of Garut Regency Qaulan Syahida; Riana Wardani; Cucu Zubaedah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.852 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18605

Abstract

Pendahuluan: Gigi dan mulut merupakan organ penting yang harus dijaga kebersihannya. Indeks kebersihan gigi dan mulut diperoleh dari dua komponen yaitu indeks plak dan indeks kalkulus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 Kabupaten Garut. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif dengan teknik survei. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Jumlah sampel penelitian sebanyak 51 siswa, terdiri dari 24 siswa laki-laki dan 27 siswa perempuan. Data diperoleh melalui pemeriksaan klinis, menggunakan indeks kebersihan gigi dan mulut dari Greene dan Vermillion. Hasil: Indeks kebersihan gigi dan mulut pada siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 adalah 2,07. Simpulan: Tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa usia 11-12 tahun di SDN Cijayana 1 termasuk kategori sedang.Kata kunci: Kebersihan gigi dan mulut, indeks plak, indeks kalkulus ABSTRACTIntroduction: Teeth and mouth are important organs that must be kept clean. Oral and dental hygiene indexes are obtained from two components, namely plaque index and calculus index. The purpose of this study was to determine the level of dental and oral hygiene of students aged 11-12 years at SDN Cijayana 1 Garut Regency. Methods: This type of research is descriptive with survey techniques. The sampling technique used is total sampling. The number of research samples was 51 students, consisting of 24 male students and 27 female students. Data obtained through clinical examination, using dental and oral hygiene indexes from Greene and Vermillion. Result: Oral and dental hygiene index for students aged 11-12 years at SDN Cijayana 1 is 2.07. Conclusion: The level of dental and oral hygiene of students aged 11-12 years at Cijayana 1 Elementary School is in the moderate category.Keywords: Oral hygiene, plaque index, calculus index
Pengetahuan dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu yang memiliki anak usia bawah tiga tahunKnowledge and practice of oral health maintenance in mothers with under 3-years-old children Monica Irvania Gustabella; Riana Wardani; Anne Agustina Suwargiani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.269 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18601

Abstract

Pendahuluan: Pola hidup sehat sudah menjadi kebutuhan pada setiap individu saat ini. Faktor orang tua merupakan faktor yang dominan dalam menerapkan pola hidup sehat khususnya pada kesehatan gigi dan mulut. Pengetahuan dan tindakan mengenai kesehatan gigi dan mulut dari orang tua sangat diperlukan. Peranan seorang ibu dalam kesehatan gigi anaknya adalah sebagai motivator, edukator, dan fasilitator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada ibu yang memiliki anak bawah tiga tahun. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survei. Sampel sebanyak 50 ibu yang memiliki anak bawah tiga tahun dan bersekolah di PAUD kelurahan Sukajadi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Penelitian menunjukkan pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut 84,4% dalam kriteria baik, 15,6% dalam kriteria cukup dan untuk tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut 22.2% kriteria baik, 62,2% kriteria cukup dan 25,6% kriteria kurang. Simpulan: Pengetahuan ibu yang memiliki anak usia bawah tiga tahun di Paud Kelurahan Sukajadi menunjukkan kriteria pengetahuan yang baik dan tindakan yang cukup mengenai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dilihat dari penggunaan sikat gigi, penggunaan pasta gigi, membersihkan gigi, dan kunjungan ke dokter gigi.Kata kunci: Pengetahuan, tindakan, pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut ABSTRACTIntroduction: A healthy lifestyle has become a necessity for every individual today. Parent factors are the dominant factors in implementing a healthy lifestyle especially in dental and oral health. Knowledge and actions regarding dental and oral health from parents are needed. The role of a mother in the dental health of her child is as a motivator, educator, and facilitator. This study aims to determine the level of knowledge and maintenance of dental and oral health in mothers who have children under three years. Methods: This type of research is descriptive with survey methods. A sample of 50 mothers who had children under three years old and attended PAUD Sukajadi village. Data retrieval is done using a questionnaire. Result: The study showed that the knowledge of dental and oral health maintenance was 84.4% in good criteria, 15.6% in sufficient criteria and for dental and oral health care measures 22.2% good criteria, 62.2% sufficient criteria and 25.6% criteria less. Conclusion: The knowledge of mothers who have children under three years of age in PAUD Sukajadi Village shows the criteria of good knowledge and adequate action regarding dental and oral health maintenance seen from the use of toothbrushes, use of toothpaste, cleaning teeth, and visits to dentists.Keywords: Knowledge, practice, oral health maintenance
Pola karies pada anak kembarDental caries patterns in twins Amilia Nabhila; Syarief Hidayat; Yetty Herdiyati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.049 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18606

Abstract

Pendahuluan: Karies merupakan penyakit gigi yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Etiologi karies multifaktorial, antara lain faktor genetik dan lingkungan. Penelitian dengan mempertimbangkan faktor tersebut dapat dilakukan pada anak kembar. Tujuan penelitian untuk memperoleh data mengenai pola karies pada anak kembar yaitu apakah terdapat kemiripan. Metode: Penelitian deskriptif dengan sampel penelitian menggunakan metode accidental sampling sebanyak 30 pasang anak kembar yang tinggal di Kota Bandung. Indikator yang digunakan berdasarkan ICDAS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola karies pada anak kembar terdapat 13,33% memiliki pola karies memiliki kemiripan, 13,33% memiliki pola karies dengan banyak kemiripan, 33,33% memiliki pola karies dengan sedikit kemiripan, sedangkan sisanya 40% memiliki pola karies yang tidak mirip. Simpulan: Pola karies pada anak kembar lebih banyak tidak ada kemiripan dan sedikit kemiripan dibandingkan yang memiliki kemiripan dan banyak kemiripan.Kata kunci: Anak kembar, pola karies ABSTRACTIntroduction: Caries is a dental disease that most people complain about. Etiology of multifactorial caries, including genetic and environmental factors. Research by considering these factors can be done in twins. The research objective was to obtain data regarding caries patterns in twins, namely whether there were similarities. Methods: A descriptive study with a sample of research using the accidental sampling method as many as 30 pairs of twins living in the city of Bandung. Indicators used based on ICDAS. Result: The results showed that caries patterns in twins had 13.33% had a similar caries pattern, 13.33% had a caries pattern with many similarities, 33.33% had a caries pattern with little resemblance, while the remaining 40% had a pattern unequal caries. Conclusion: Caries patterns in twins have no more similarities and less similarities than those who have similarities and many similarities.Keywords: Twins, dental caries patterns.
Pemanfaatan ekstrak etil asetat buah merah sebagai zat warna primer pada teknik pengecatan negatif kapsul bakteriUtilization of ethyl acetate extract of red fruit as primary negative staining substance for bacterial capsule Hishna Muthiah; Warta Dewi; Indrati Sudjarwo
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.744 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18602

Abstract

Pendahuluan: Bakteri memiliki salah satu struktur sel yang penting untuk diamati dan dipelajari, yaitu kapsul. Kapsul merupakan salah satu struktur bakteri yang berkaitan erat dengan virulensinya pada manusia dan sel inang. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekstrak etil asetat buah merah dapat digunakan sebagai alternatif pengganti zat warna primer pada teknik pengecatan negatif kapsul. Metode: Penelitian ini mendeskripsikan efektif atau tidaknya ekstrak etil asetat buah merah jika digunakan sebagai zat warna primer pada teknik pengecatan negatif kapsul. Hasil: Pewarnaan berhasil dilakukan. Hasil pewarnaan yang diperoleh selanjutnya disesuaikan dengan lembar degradasi warna berdasarkan RHS Colour Chart. Simpulan: Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa penggunaan ekstrak etil asetat buah merah dapat mewarnai struktur bakteri dengan warna yang beragam dan mampu mendekati zat warna karbol fuksin.Kata kunci: Ekstrak etil asetat buah merah, teknik pengecatan negatif, kapsul bakteri, zat warna primer ABSTRACTIntroduction: Bacteria have one of the important cell structures to be observed and studied, namely capsules. The capsule is a bacterial structure that is closely related to its virulence in humans and host cells. This study aims to prove that the red fruit ethyl acetate extract can be used as an alternative to primary dyes in the capsule negative staining technique. Methods: This study describes the effectiveness of the red fruit ethyl acetate extract if it is used as a primary dye in the capsule negative staining technique. Result: Coloring is successful. The coloring results obtained are then adjusted to the color degradation sheet based on the RHS Color Chart. Conclusion: Based on the observations it is known that the use of red fruit ethyl acetate extract can color the structure of bacteria with a variety of colors and is able to approach the fusion carbolic dye.Keywords: Ethyl acetate extract of red fruit, negative staining technique, bacterial capsule, primary staining substance
Tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa Sekolah Dasar Negeri di desa tertinggal Kabupaten BandungOral hygiene level of underdeveloped village State Elementary School students in Bandung Regency Monica Sherlyta; Riana Wardani; Sri Susilawati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.975 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18607

Abstract

Pendahuluan: Tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa sekolah dasar di desa tertinggal dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebersihan gigi dan mulut pada siswa-siswi SDN Mekarjaya sebagai salah satu sekolah dasar di desa tertinggal Kabupaten Bandung. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pengambilan sampel berdasarkan teknik sampling jenuh (total sampling). Sampel penelitian sebanyak 78 siswa sekolah dasar, yaitu 40 siswa laki-laki dan 38 siswa perempuan. Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) digunakan untuk melihat tingkat kebersihan gigi dan mulut. Hasil: rata-rata indeks kebersihan gigi dan mulut pada siswa SDN Mekarjaya, Kabupaten Bandung sebesar 2,67. Simpulan: tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa SDN Mekarjaya, Kabupaten Bandung dalam kategori sedang.Kata kunci: OHI-S, desa tertinggal, sosial ekonomi ABSTRACTIntroduction: The level of dental and oral hygiene of elementary school students in disadvantaged villages is influenced by various factors, including socioeconomic factors. This study aims to determine the level of dental and oral hygiene in Mekarjaya Elementary School students as one of the elementary schools in the underdeveloped village of Bandung Regency. Methods: This type of research is descriptive with sampling based on saturated sampling technique (total sampling). The study sample consisted of 78 elementary school students, namely 40 male students and 38 female students. Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) is used to see the level of dental and oral hygiene. Result: the average index of dental and oral hygiene for students of SDN Mekarjaya, Kabupaten Bandung amounted to 2.67. Conclusion: the level of dental and oral hygiene of students of SDN Mekarjaya, Kabupaten Bandung is in the moderate category.Keywords: OHI-S, underdeveloped village, socio-economic
Kebersihan mulut pada penderita Diabetes Mellitus tipe 1Oral hygiene of Diabetes Mellitus type 1 patients Dinda Aulia Istiqomah; Janti Rusjanti; Amaliya Amaliya
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 29, No 1 (2017): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.045 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v29i1.18603

Abstract

Pendahuluan: Diabetes mellitus adalah penyakit disregulasi metabolisme yang disebabkan oleh defisiensi fungsional aksi insulin dan bermanifestasi pada berbagai organ tubuh termasuk rongga mulut. Diabetes mellitus merupakan modifying factor penyakit periodontal karena dapat memperburuk respon jaringan periodontal terhadap iritasi plak bakteri. Akumulasi plak dapat diukur dari tingkat kebersihan mulut seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kebersihan mulut penderita diabetes mellitus tipe 1 di RSUP Dr. Hasan Sadikin, RSUD Ujung Berung dan RS Al Islam Bandung. Metode: Sebanyak 16 penderita diabetes mellitus tipe 1 berusia 16-48 tahun diperiksa kebersihan mulutnya menggunakan Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) dari Greene dan Vermillion (1964). Hasil: Rata-rata skor OHI-S sebesar 1,905, berdasarkan OHI-S, skor tersebut berada dalam kriteria sedang. Simpulan: Kebersihan mulut penderita diabetes mellitus di RSUP Hasan Sadikin, RSUD Ujung Berung dan RS Al Islam tergolong dalam kategori sedang.Kata kunci: Diabetes mellitus tipe I, kebersihan mulut, Oral Hygiene Index-Simplified ABSTRACTIntroduction: Diabetes mellitus is a metabolic dysregulation disease caused by a functional deficiency of insulin action and manifests in various organs including the oral cavity. Diabetes mellitus is a modifying factor for periodontal disease because it can worsen the response of periodontal tissues to bacterial plaque irritation. Plaque accumulation can be measured from the level of one’s oral hygiene. This study aims to evaluate the level of oral hygiene of type 1 diabetes mellitus patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Ujung Berung Hospital, and Al Islam Hospital Bandung. Methods: 16 patients with type 1 diabetes mellitus aged 16-48 years were examined for oral hygiene using the Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) from Greene and Vermillion (1964). Result: The average OHI-S score is 1.905, based on OHI-S, the score is in the medium criteria. Conclusion: Oral hygiene of diabetes mellitus patients at Hasan Sadikin General Hospital, Ujung Berung Regional Hospital, and Al Islam Hospital is classified as moderate.Keywords: Diabetes mellitus type 1, oral hygiene, Oral Hygiene Index-Simplified

Page 2 of 3 | Total Record : 22