Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mbok Mase dan Peran Perempuan Priyayi dalam Industri Batik Laweyan Surakarta Pada Masa Kolonial, 1900-1970 Arianingrum, Nabila; Ahmad Dzaky Benson Irani; Dewa Alfaquin Faturangga
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.12158

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran "Mbok Mase" atau perempuan bangsawan/priyayi dalam memimpin dan mengembangkan industri batik di sentra Laweyan, Surakarta, selama era kolonial (1900-1970). Berbeda dengan narasi umum yang sering menonjolkan peran pengusaha laki-laki, studi ini berfokus pada dinamika kepemimpinan perempuan dalam ranah ekonomi, khususnya di tengah tekanan pasar global. Melalui pendekatan historis-analitis, ditemukan bahwa perempuan priyayi tidak hanya berperan sebagai pengelola keuangan atau pewaris, tetapi juga sebagai inovator desain, pengambil keputusan strategis dalam produksi dan pemasaran, serta penjaga kualitas dan tradisi motif batik. Posisi sosial mereka, yang terintegrasi dengan jaringan kekuasaan keraton, memberikan keuntungan unik dalam mengakses modal, bahan baku, dan pasar elit, menjadikannya kunci sukses. Masa kolonial, dengan segala tantangan perubahan sosial dan ekonomi, termasuk masuknya batik cap dan persaingan impor, justru menempatkan Mbok Mase sebagai figur sentral yang menjembatani tradisi dan modernitas. Mereka sukses mempertahankan keberlangsungan usaha keluarga (Batik Kompeni/Saudagar) melalui manajemen yang adaptif, sekaligus menegaskan otonomi dan kekuatan ekonomi perempuan dalam masyarakat Jawa, memberikan sumbangsih penting bagi perekonomian lokal. Kata Kunci: Mbok Mase; Perempuan Priyayi; Batik Laweyan; Surakarta; Masa Kolonial
Pendidikan Sebagai Sarana Emansipasi Sosial: Kajian terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran 1912–1944 Ahmad Dzaky Benson Irani; Nor Huda; Moh Ashif Fuadi; Aan Ratmanto; Adrian Perkasa
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.13183

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang peran Studiefonds Mangkunegaran sebagai instrumen filantropi pendidikan dalam mendorong transformasi sosial masyarakat pada era kolonial. Sebagai inisiatif mandiri, lembaga ini hadir untuk mengatasi hambatan ekonomi masyarakat dalam mengakses pendidikan modern demi meningkatkan derajat sosial. Dengan menggunakan metode historis yang bersumber pada arsip primer Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, kajian ini mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan pemicu utama modernitas di Praja Mangkunegaran. Studiefonds yang didirikan pada tahun 1912 berdasarkan Pranatan Pustaka Praja (Rijksblad) 15 Oktober 1913 ini pada awalnya bersifat eksklusif bagi golongan sentono dan priyayi. Namun, kebijakan tahun 1915 menandai pergeseran signifikan melalui pemberian akses peringanan biaya pendidikan bagi masyarakat umum. Program tersebut tidak hanya membantu pembiayaan sekolah, tetapi juga membentuk mobilitas sosial baru melalui lahirnya kelompok terdidik pribumi yang kemudian berperan dalam birokrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran Studiefonds menunjukkan adanya kesadaran elite Mangkunegaran terhadap pentingnya pendidikan sebagai sarana kemajuan dan emansipasi sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan model kemandirian finansial pribumi sebagai bentuk resistensi terhadap restriksi pendidikan kolonial, yang memberikan kontribusi penting bagi historiografi pendidikan serta kajian filantropi di Indonesia, khususnya dalam konteks modernisasi masyarakat Jawa pada awal abad ke-20. Kata Kunci: Pendidikan; Pura Mangkunegaran; Studiefonds