Ni Made Puspa Dewi Astawa
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemberian kombinasi kalsium dengan asam askorbat meningkatkan kadar bone alkaline phosphatase dan osteocalcin serum dibandingkan kombinasi kalsium dengan vitamin D3 pada patah tulang panjang paska fiksasi internal di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia Ni Made Puspa Dewi Astawa; I Ketut Siki Kawiyana; Ketut Gede Mulyadi Ridia; Putu Astawa; I Ketut Suyasa; I Wayan Suryanto Dusak; I Gede Eka Wiratnaya
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 3 (2020): (Available online: 1 December 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.243 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i3.785

Abstract

Background: It is expected that supplementation will be able to satisfy the needs of calcium as well as improve the process of fracture healing. The goal of this study is to show the efficacy of calcium and ascorbic acid (vitamin C) combination supplements in fracture bone healing compared to calcium and vitamin D3.Methods. This study is a randomized clinical trial involving 30 patients with long bone fractures of the lower extremity who have undergone internal fixation and are split into two classes. The calcium carbonate-ascorbic acid regiment combination was given to one group, while the calcium carbonate-vitamin D3 regiment was given to the other group. The effect of the regiment was tested on serum calcium, bone alkaline phosphatase (BAP) and osteocalcin (OC) levels. The findings were compared and interpreted statistically by SPSS version 21 for Windows.Results. Administration of calcium carbonate and ascorbic acid combination was be able to increase serum calcium significantly (p = 0.00, 95% CI = 0.59 – 0,87), but not as strong as combination of calcium carbonate with vitamin D3. An increased level of serum BAP and OC was found significantly higher in calcium carbonate and ascorbic acid supplementation group (p value = 0,033, CI -4,18 – -0,19 for BAP, p value = 0,04, CI -2,25 – -0,49 for OC).Conclusion. The administration of calcium carbonate and ascorbic acid combination supplement increases the serum calcium level, but not as strong as calcium carbonate and vitamin D3 combination.  Latar Belakang: Pemberian suplemen diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan kalsium sekaligus mempercepat proses penyembuhan patah tulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan suplemen kalsium dan asam askorbat (vitamin C) dalam penyembuhan tulang pasca patah tulang dibandingkan pemberian suplemen kalsium dan vitamin D3.Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis terandomisasi yang melibatkan 30 pasien patah tulang panjang ekstremitas bawah pasca fiksasi internal yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diberikan suplemen kombinasi kalsium karbonat-asam askorbat sedangkan kelompok lainnya diberikan kombinasi kalsium karbonat-vitamin D3. Efeknya terhadap kadar serum kalsium, bone alkaline phosphatase (BAP), dan osteocalcin (OC) kemudian diperiksa dan dibandingkan antara kadar sebelum dengan setelah perlakuan. Analisis statistik dilakukan dengan SPSS versi 21 untuk Windows.Hasil: Pemberian kombinasi kalsium karbonat-asam askorbat mampu meningkatkan serum kalsium secara bermakna (p=0.00, IK 95% = 0.59 – 0,87), namun tidak lebih kuat dibandingkan kombinasi kalsium karbonat-vitamin D3. Peningkatan kadar BAP dan OC juga ditemukan lebih tinggi secara bermakna pada kelompok dengan suplementasi kalsium karbonat-asam askorbat (nilai p 0,033 IK -4,18 – -0,19 untuk BAP, nilai p = 0,04, IK -2,25 – -0,49 untuk OC) apabila dibandingkan dengan suplementasi kalsium karbonat-vitamin D3.Simpulan: Pemberian kombinasi kalsium karbonat dan asam askorbat terbukti dapat meningkatan kadar serum kalsium, namun tidak sekuat pada kombinasi kalsium dan vitamin D3.
Skrining Sarkopenia dan Gangguan Metabolik: Investasi Kesehatan Lansia Denpasar I Putu Arya Giri Prebawa; Ketut Wahyudiana Sudana; Ni Made Puspa Dewi Astawa
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.4.2.2025.164-170

Abstract

The elderly population in Indonesia continues to increase significantly every year. Common health problems experienced by the elderly are decreased motor function, known as sarcopenia, and metabolic disorders. Sesetan Village in Denpasar is one of the areas with the highest elderly population. This high number of elderly poses special challenges in the areas of health and environment. As a solution, counseling and screening of metabolic disorders and sarcopenia were conducted for posyandu cadres and the elderly, along with socialization of household waste sorting. The targets of this activity were posyandu cadres and the elderly in the Banjar Dinas Taman Sari neighborhood. This activity includes coordination with the head of the neighborhood and coordinator of posyandu cadres, counseling, health screening, and socialization of household waste sorting. Partners in this program are posyandu cadres and the elderly in the Banjar Dinas Taman Sari Environment, Sesetan Village, South Denpasar District. The priority problems addressed were metabolic disorders and sarcopenia. The methods used include counseling, discussion, screening, and training. The program implementation began with a pretest to measure initial understanding, followed by counseling, training, discussion, and ended with a posttest. Health screening was carried out using blood sugar, cholesterol, and uric acid testing tools. The results of the activity showed an increase in knowledge of the elderly and family members about metabolic disorders and sarcopenia, obtained data related to the risk of metabolic disorders and sarcopenia in the elderly, and increased understanding and awareness of the importance of sorting household waste before disposal to landfills. Evaluation was carried out by asking posttest questions after the program implementation. This activity succeeded in motivating partners to take prevention and understand the importance of health in overcoming metabolic problems and sarcopenia in the elderly.
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga bagi Komunitas Lari Island's Wolfpack di Denpasar Komang Aditya Yudistira; Ni Made Puspa Dewi Astawa
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.4.2.2025.176-181

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Island’s Wolfpack Bali adalah komunitas lari yang terdiri dari pelari pemula hingga berpengalaman. Aktivitas fisik yang intens dalam komunitas ini meningkatkan risiko kejadian darurat medis, seperti serangan jantung, cedera olahraga, dan dehidrasi. Namun, tingkat pengetahuan anggota komunitas mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan pertolongan pertama masih rendah. Oleh karena itu, pelatihan BHD dan pertolongan pertama pada cedera olahraga menjadi penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan anggota komunitas dalam menghadapi situasi darurat. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan kepada anggota komunitas lari Island’s Wolfpack Bali. Materi yang diberikan mencakup teori dan praktik terkait BHD, penggunaan Automated External Defibrillator (AED), serta pertolongan pertama pada cedera olahraga. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil: Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai BHD dan pertolongan pertama, dengan peningkatan rata-rata nilai post-test sebesar 30% dibandingkan pre-test. Selain itu, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi praktik, yang mencerminkan kesiapan mereka dalam menerapkan keterampilan yang diperoleh. Kesimpulan: Pelatihan BHD dan pertolongan pertama terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota komunitas lari Island’s Wolfpack Bali dalam menghadapi kejadian darurat medis. Kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan secara berkala untuk meningkatkan keselamatan dalam komunitas olahraga. Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar, Pertolongan Pertama, Cedera Olahraga, Pelari, Komunitas ABSTRACT Background: Island’s Wolfpack Bali is a running community consisting of runners ranging from beginners to experienced athletes. The intense physical activity within this community increases the risk of medical emergencies such as heart attacks, sports injuries, and dehydration. However, the level of knowledge among community members regarding Basic Life Support (BLS) and first aid is still low. Therefore, BLS and first aid training for sports injuries is important to improve the preparedness of community members in handling emergency situations. Methods: This activity was conducted in the form of outreach and training for members of the Island’s Wolfpack Bali running community. The material provided included theory and practice related to BLS, the use of Automated External Defibrillators (AED), and first aid for sports injuries. Evaluation was carried out through pre-tests and post-tests to measure participants’ knowledge improvement. Results: The activity was attended by 30 participants. Evaluation results showed a significant increase in participants’ understanding of BLS and first aid, with an average post-test score improvement of 30% compared to the pre-test. Additionally, participants demonstrated high enthusiasm during the practical sessions, reflecting their readiness to apply the skills acquired. Conclusion: BLS and first aid training has been proven to enhance the knowledge and skills of members of the Island’s Wolfpack Bali running community in responding to medical emergencies. Similar activities are expected to be conducted regularly to improve safety within the sports community. Keywords: Basic Life Support, First Aid, Sports Injuries, Runners, Community
Deteksi Dini Scoliosis dan Sosialisasi Anti-Bullying: PMR Sebagai Garda Depan Kesehatan Remaja Puspa Dewi Astawa; Rai Kusuma Putra; Ananta Wijaya Sahadewa
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.5.1.2026.77-81

Abstract

Remaja usia sekolah menengah pertama berada pada fase pertumbuhan cepat (growth spurt) yang meningkatkan risiko terjadinya atau memburuknya skoliosis. Di sisi lain, penggunaan media sosial yang semakin intens pada kelompok usia ini juga meningkatkan kerentanan terhadap perilaku bullying yang berdampak pada kesehatan mental. Anggota Palang Merah Remaja (PMR) memiliki peran strategis sebagai kader kesehatan di sekolah dalam upaya promotif dan preventif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota PMR tentang skoliosis, faktor risiko, pencegahan, serta deteksi dini melalui skrining sederhana, sekaligus meningkatkan kesadaran dan sikap anti-bullying melalui edukasi penggunaan media sosial yang bijak. Kegiatan dilaksanakan pada 20 siswa anggota PMR SMPN 9 Denpasar dengan metode ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi skrining skoliosis, serta evaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test yang terdiri dari lima pertanyaan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta sebesar 40–70% setelah kegiatan penyuluhan. Selain itu, peserta mampu mempraktikkan skrining skoliosis sederhana dan menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap pencegahan perilaku bullying di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi terintegrasi efektif dalam meningkatkan kapasitas kader kesehatan remaja dan berpotensi dikembangkan sebagai program berkelanjutan di sekolah.