Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam: Dari Masa Kenabian hingga Era Kontemporer Ikram Humaidi; Nurul Anisa; Putri Mahadewi Br Regar; Ahmad Gandhi; Aila Risna Azzura; Anggun Wiranda Ningrum; Aulia Dwi Putri; Muhammad Gilang Ramadhan
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.5899

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis periodisasi sejarah pendidikan Islam dari masa kenabian hingga era kontemporer serta mengidentifikasi karakteristik, dinamika, dan transformasi yang terjadi pada setiap periode. Pendidikan Islam dipandang sebagai elemen fundamental dalam pembentukan peradaban yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak, spiritualitas, dan karakter manusia secara holistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah berbagai sumber ilmiah yang relevan, baik dari jurnal bereputasi, buku akademik, maupun literatur klasik. Proses analisis dilakukan melalui teknik content analysis dan sintesis komparatif untuk mengkaji perkembangan pendidikan Islam dalam berbagai fase sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa kenabian, pendidikan Islam bersifat informal dan berfokus pada pembinaan akhlak dan keimanan. Pada masa Khulafaur Rasyidin hingga dinasti Islam, pendidikan berkembang secara lebih sistematis dengan munculnya lembaga-lembaga formal dan integrasi berbagai disiplin ilmu. Sementara itu, era kontemporer ditandai oleh upaya modernisasi, integrasi ilmu agama dan sains, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan globalisasi. Kesimpulannya, pendidikan Islam mengalami transformasi dinamis yang dipengaruhi oleh konteks sosial, politik, dan budaya, namun tetap berlandaskan pada nilai-nilai fundamental Islam. Temuan ini menegaskan pentingnya pemahaman historis sebagai dasar pengembangan pendidikan Islam yang adaptif dan berkelanjutan.
Sistem Pendidikan Di Universitas Al-Azhar Dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Islam Ikram Humaidi; Taqia Mafaza; Lina Febrianti; Era Frantika Sari; Nur Aisya Ramadania; Hafiezatul Hasanah; Anita Sawitri; Dita Wahyulia
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.6240

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pendidikan yang diterapkan di Universitas Al-Azhar serta mengkaji pengaruhnya terhadap dunia Islam. Metode yang digunakan adalah literature review sistematis dengan menganalisis 15 artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan dari Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Azhar menerapkan sistem pendidikan integratif yang menggabungkan ilmu agama (ulum al-din) dan ilmu umum. Metode pembelajaran seperti halaqah dan diskusi mendorong pemahaman mendalam serta kemampuan berpikir kritis. Selain itu, Al-Azhar berperan penting dalam menyebarkan nilai Islam moderat (wasathiyah), menangkal radikalisme, serta memengaruhi sistem pendidikan Islam di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara. Meskipun menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi, Al-Azhar tetap mampu beradaptasi tanpa meninggalkan tradisi keilmuannya. Dengan demikian, Al-Azhar tetap menjadi rujukan utama dalam perkembangan pendidikan dan pemikiran Islam kontemporer.
Kuttab Sebagai Lembaga Pendidikan Dasar Dalam Sejarah Islam Ikram Humaidi; Sofan Sofian; Eka Dian Safira; Naila Syahira; Mohd. Fadhilah Suwandi; Anisa Sulianti; Rostiana
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.6344

Abstract

Penelitian ini mengkaji kuttab sebagai institusi pendidikan dasar dalam sejarah Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini menganalisis literatur ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2026 dari berbagai basis data akademik, meliputi Google Scholar, DOAJ, dan Garuda. Hasil kajian mengungkap tiga dimensi yang saling berkaitan: (1) secara historis, kuttab berfungsi sebagai institusi pendidikan Islam awal yang mendahului terbentuknya sistem madrasah formal, dengan fokus pada literasi Al-Qur'an, membaca, dan menulis; (2) sebagai lembaga pendidikan dasar, kuttab mengintegrasikan literasi intelektual dengan pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai keislaman, mencerminkan paradigma pendidikan yang holistik; serta (3) dalam aspek kurikulum dan metode, kuttab menerapkan pendekatan tradisional seperti hafalan (hifzh) dan talaqqi, yang saat ini mengalami transformasi menuju pendekatan interaktif dan pemanfaatan teknologi pendidikan. Sintesis kritis terhadap literatur mengidentifikasi kesenjangan konseptual yang signifikan: sebagian besar kajian masih bersifat historis dan deskriptif, sehingga belum menawarkan kerangka operasional integratif yang mampu menghubungkan nilai-nilai kuttab klasik dengan tuntutan kompetensi pendidikan modern dalam era Society 5.0. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kuttab perlu diposisikan bukan sekadar sebagai artefak historis, melainkan sebagai konsep pendidikan yang adaptif dan mampu berkontribusi dalam pengembangan sistem pendidikan Islam kontemporer yang holistik dan berbasis karakter.
Madrasah Dalam Perspektif Historis: Studi Atas Madrasah Nizamiyah Ikram Humaidi; Siti Aisyah; Delfi Pebningsih; Rivandi Febrian; Embun Firdausi Amalia; Muhammad Yusran Al Faisal; Amelia Zaskira
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.6363

Abstract

Madrasah merupakan institusi pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam perkembangan intelektual dunia Islam sejak periode klasik. Salah satu model madrasah yang paling berpengaruh adalah Madrasah Nizamiyah yang didirikan pada abad ke-11 oleh Nizam al-Mulk pada masa Dinasti Seljuk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Madrasah Nizamiyah dalam perspektif historis dengan menekankan pada aspek kelembagaan, sistem pendidikan, kurikulum, serta relasinya dengan kekuasaan politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) melalui analisis literatur ilmiah terbitan tahun 2015–2025 yang terindeks Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Madrasah Nizamiyah merupakan institusi pendidikan yang terorganisir dengan baik dan didukung oleh negara, serta memiliki peran strategis dalam memperkuat ortodoksi Sunni. Selain itu, madrasah ini menunjukkan adanya integrasi antara fungsi pendidikan dan kepentingan ideologis-politik. Kesimpulannya, Madrasah Nizamiyah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai institusi hybrid yang mengintegrasikan dimensi pendidikan, ideologi, dan kekuasaan, serta menjadi model penting dalam perkembangan pendidikan Islam hingga era modern.
Dinamika Pendidikan Islam Era Bani Umayyah Dan Bani Abbasiyah Ikram Humaidi; Andrian Desta; Ghesan Riyadi Ananda; Mutiara Fitri; Rizkina Zahara; Sinta Anjelina; Ulfa Adelia Putri
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.6537

Abstract

Pendidikan memiliki peran penting dalam perkembangan Islam sebagai pedoman hidup yang universal. Hubungan antara pendidikan dan Islam bersifat erat dan tidak dapat dipisahkan, karena pendidikan menjadi sarana utama dalam mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika pendidikan Islam pada masa Bani Umayyah serta perbandingannya dengan masa awal Dinasti Abbasiyah. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai sumber terkait sejarah pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada masa Bani Umayyah, sistem pendidikan masih bersifat desentralisasi, belum terstandarisasi, dan kurang mendapat perhatian pemerintah akibat kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang tidak stabil. Hal ini berdampak pada lambatnya perkembangan intelektual. Sebaliknya, pada masa awal Dinasti Abbasiyah, pendidikan Islam mengalami perkembangan pesat yang ditandai dengan banyaknya lembaga pendidikan, meningkatnya minat belajar masyarakat, serta pembagian pendidikan menjadi formal dan nonformal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masa Bani Umayyah merupakan fase awal yang masih terbatas, sedangkan masa Abbasiyah menjadi periode kemajuan signifikan dalam sejarah pendidikan Islam.
Epistemologi Pendidikan Islam Perspektif Syed Muhammad Naquib Al-Attas Ikram Humaidi; Siti Wulan Sari; Dina Meliani; Tarisa Linta Adlyn; Nur Ainy; Ummi Sari Lubis; M. Alto Reskha; Tengku Iskandar Syahfetra Ilham
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5709

Abstract

Pendidikan Islam pada era modern menghadapi berbagai tantangan yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sering kali menimbulkan pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan landasan epistemologis pendidikan Islam agar pengembangan ilmu tetap selaras dengan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis epistemologi pendidikan Islam dalam perspektif Syed Muhammad Naquib Al-Attas serta melihat implikasinya terhadap pengembangan pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui kajian terhadap buku, artikel jurnal ilmiah, dan berbagai karya akademik yang relevan dengan pemikiran Al-Attas mengenai ilmu dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Al-Attas, ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan makna dan kesadaran spiritual manusia sehingga pendidikan harus mampu membentuk keseimbangan antara dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Konsep ta’dib yang dikemukakan Al-Attas menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang beradab. Implikasi dari pemikiran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam perlu mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu sains dalam satu kerangka keilmuan yang berlandaskan tauhid sehingga mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki tanggung jawab sosial.
Pemikiran Pendidikan Ibnu Sina Dan Relevansinya Sekarang Ikram Humaidi; Siti Khotizah; Ulfatul Makrifah; Raysa Sabina Putri; Fika Sartika; Nabila Azzahra; Salwa Winari; Farhan Hadi
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6343

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemikiran pendidikan Ibnu Sina serta relevansinya dengan sistem pendidikan modern. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya mengkaji kembali pemikiran pendidikan klasik Islam yang masih memiliki nilai актуal dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini, khususnya dalam aspek pembentukan karakter, pembelajaran holistik, dan pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep Ibnu Sina tentang klasifikasi ilmu, tujuan pendidikan, kurikulum, serta metode pembelajaran, kemudian mengaitkannya dengan praktik pendidikan saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi literatur yang bersumber dari berbagai karya klasik dan referensi ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan Ibnu Sina bersifat komprehensif karena mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual, serta menekankan pentingnya penyesuaian metode pembelajaran dengan perkembangan psikologis, minat, dan bakat peserta didik. Selain itu, gagasannya tentang pendidikan anak usia dini, pembentukan akhlak, dan pembelajaran berbasis pengalaman terbukti masih sangat relevan dalam konteks pendidikan modern. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina dapat menjadi dasar dalam mengembangkan sistem pendidikan yang lebih humanis, holistik, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin Ikram Humaidi; Bella Nurdaliza; Elga Almadea; Inda Irmawati; Khairun Nisak Suprapto; Muhammad Rafiansyah; Rohmat Nur Romadhon; Siti Aisyah Ramadani
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6400

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin sebagai fondasi awal dalam pembentukan sistem pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan Systematic Literature Review (SLR) melalui analisis berbagai sumber literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin berkembang seiring dengan dinamika sosial, politik, dan keagamaan, serta berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadis. Proses pendidikan dilaksanakan melalui masjid dengan metode halaqah yang sederhana namun efektif, serta didukung oleh peran aktif para sahabat sebagai pendidik. Setiap khalifah memberikan kontribusi penting, seperti pengumpulan dan kodifikasi Al-Qur’an, perluasan wilayah yang mendorong penyebaran pendidikan, serta pembentukan sistem pembelajaran yang lebih terarah. Selain itu, pendidikan pada masa ini tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan karakter melalui keteladanan para khalifah. Dengan demikian, pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin berkembang secara dinamis dan integratif serta menjadi dasar penting bagi perkembangan pendidikan Islam pada masa selanjutnya.