Robert Berthy Riry
Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengembangan dan Pengelolaan Destinasi Wisata Batu Kapal Desa Liliboi Kabupaten Maluku Tengah Marni Rumakat; Daniel Anthoni Sihasale; Robert Berthy Riry
JENDELA PENGETAHUAN Vol 19 No 1 (2026): JENDELA PENGETAHUAN
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jp19iss1pp147-159

Abstract

Destinasi wisata Batu Kapal di Desa Liliboi, Kabupaten Maluku Tengah, merupakan salah satu objek wisata alam yang memiliki keunikan bentang alam berupa formasi batu karang menyerupai kapal, panorama pesisir yang indah, serta lingkungan yang masih relatif alami. Namun, potensi tersebut belum didukung oleh pengelolaan dan pengembangan yang optimal sehingga pemanfaatannya sebagai destinasi wisata unggulan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi wisata Batu Kapal, menganalisis kondisi pengelolaannya, serta mengungkap berbagai kendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan destinasi wisata tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan pemerintah desa, pengelola wisata, pelaku usaha lokal, masyarakat, dan wisatawan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batu Kapal memiliki potensi wisata yang kuat berdasarkan keunikan geomorfologi, keindahan panorama laut, peluang pengembangan wisata bahari, serta dukungan sosial budaya masyarakat setempat. Meskipun demikian, pengelolaan destinasi masih bersifat sederhana dan didominasi oleh partisipasi masyarakat secara swadaya dengan keterbatasan pada aspek fasilitas pendukung, promosi, kelembagaan, dan perencanaan pengembangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan destinasi wisata Batu Kapal memerlukan pendekatan terpadu yang mengintegrasikan potensi alam, pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan, dan prinsip pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan infrastruktur, promosi digital, pembentukan pengelolaan berbasis komunitas, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing destinasi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kualitas dan kuantitas air bersih masyarakat Desa Ewiri Kecamatan Leksula Kabupaten Buru Selatan Yolanda Teslatu; Melianus Salakory; Robert Berthy Riry
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp131–147

Abstract

Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia, namun ketersediaannya baik dari segi kualitas maupun kuantitas masih menjadi permasalahan di wilayah pedesaan, termasuk Desa Ewiri Kecamatan Leksula Kabupaten Buru Selatan, dimana sumber air memiliki kandungan kapur yang tinggi sehingga berpotensi mempengaruhi kelayakan konsumsi dan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas dan kuantitas air bersih yang digunakan masyarakat serta kesesuaiannya dengan kebutuhan domestik berdasarkan standar kualitas air bersih. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan pengujian laboratorium terhadap parameter fisika, kimia, dan biologi, dengan sampel diambil secara simple random sampling dari rumah tangga pengguna air serta dianalisis mengacu pada standar Permenkes tentang kualitas air bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik air tergolong jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, sedangkan secara kimia terdapat kandungan kapur atau kesadahan yang cukup tinggi yang ditandai dengan terbentuknya kerak putih saat pemanasan, namun masih berada dalam batas yang diperbolehkan untuk kebutuhan domestik. Dari aspek kuantitas, ketersediaan air dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti minum, memasak, mandi, dan mencuci, meskipun pada musim kemarau berpotensi mengalami penurunan debit air. Temuan ini menunjukkan bahwa sumber air di Desa Ewiri masih layak digunakan, tetapi memerlukan pengolahan sederhana sebelum dikonsumsi guna mengurangi kadar kapur dan meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang. Implikasinya, diperlukan pengelolaan sumber air melalui sistem penyaringan sederhana, edukasi masyarakat terkait kualitas air, serta dukungan pemerintah dalam penyediaan sarana air bersih yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Kata kunci: kualitas air, kuantitas air, air bersih
Usaha Kopra Untuk Memenuhi Kebutuhan Ekonomi Masyarakat Desa Tounussa, Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat Gadrina Matayane; Johan Riry; Robert Berthy Riry
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp163–175

Abstract

Indonesia sebagai negara agraris memiliki ketergantungan tinggi pada sektor perkebunan, khususnya komoditas kelapa yang diolah menjadi kopra sebagai sumber pendapatan utama masyarakat pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran usaha kopra dalam memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat Desa Tounussa, Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat secara lebih komprehensif dan terukur.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap 30 petani dari populasi sekitar 45 orang dengan metode simple random sampling. Analisis data dilakukan melalui perhitungan biaya produksi, penerimaan, pendapatan, serta kelayakan usaha menggunakan Benefit Cost Ratio (B/C).Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha kopra menghasilkan pendapatan yang relatif stabil, berkisar antara Rp5.176.500 hingga Rp17.458.000 per tahun, dengan nilai B/C ratio lebih besar dari satu (>1) yang menunjukkan bahwa usaha ini layak dan menguntungkan secara ekonomi. Pendapatan tersebut berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga, meliputi pangan, sandang, papan, dan pendidikan, meskipun masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar dan skala usaha yang dimiliki petani.Temuan ini menegaskan bahwa usaha kopra tradisional memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi rumah tangga di wilayah pedesaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan efisiensi produksi, penguatan akses pasar, serta pengembangan produk turunan kelapa guna meningkatkan nilai tambah dan ketahanan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Kata kunci: Usaha kopra, kebutuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat
Pemahaman Masyarakat Terhadap Tingkat Kerentanan Bencana Gempa Bumi di Desa Kairatu Delila Patotnem; Mohammad Amin Lasaiba,; Robert Berthy Riry
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp176–195

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat kerentanan bencana gempa bumi di Desa Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, yang berada pada kawasan rawan aktivitas tektonik Sesar Seram. Kondisi geografis tersebut menyebabkan masyarakat rentan mengalami dampak fisik, sosial, ekonomi, dan psikologis akibat kejadian gempa bumi yang berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemahaman masyarakat terhadap kerentanan bencana gempa bumi di Desa Kairatu. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, studi literatur, dan penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert kepada 20 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pemahaman dasar mengenai penyebab, dampak, dan upaya penanggulangan bencana gempa bumi. Namun, tingkat kesiapsiagaan masyarakat masih tergolong rendah, terutama dalam aspek mitigasi dan penanganan pascabencana. Masyarakat cenderung melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang dianggap aman ketika terjadi gempa bumi. Selain itu, proses pemulihan pascabencana dilakukan melalui pendekatan psikologis, keagamaan, ekonomi, serta penguatan kelembagaan masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat berperan penting dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana pada wilayah rawan gempa bumi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kebencanaan, simulasi mitigasi secara berkala, serta penyediaan akses informasi kebencanaan yang berkelanjutan guna meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi di masa mendatang. Kata Kunci: pemahaman masyarakat, kerentanan bencana, gempa bumi
Analisis Dampak Galian C Pada Lingkungan Di Desa Benjina Kecamatan Aru Tengah Kabupaten Kepulauan Aru Sensya Saitian; Mohammad Amin Lasaiba,; Robert Berthy Riry
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp59–78

Abstract

Abstrak (Bahasa Indonesia) Aktivitas pertambangan galian C berupa pasir dan batu di wilayah pesisir Desa Benjina, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru terus meningkat seiring kebutuhan material konstruksi dan pembangunan infrastruktur masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak aktivitas pertambangan galian C terhadap kondisi lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan penyebaran kuesioner kepada masyarakat sekitar kawasan tambang serta pekerja tambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan memberikan dampak positif berupa peningkatan pendapatan masyarakat, terbukanya lapangan pekerjaan, berkembangnya jasa transportasi lokal, serta meningkatnya aksesibilitas material bangunan dengan harga yang lebih terjangkau. Harga pasir berkisar Rp200.000–Rp500.000 per kubik, sedangkan batu kerikil berkisar Rp10.000–Rp15.000 per karung. Di sisi lain, aktivitas pertambangan menyebabkan abrasi pantai, sedimentasi perairan, kerusakan jalan desa, meningkatnya debu dan kebisingan lingkungan, penurunan kualitas tanah, serta terganggunya habitat flora dan fauna pesisir. Aktivitas pertambangan juga memengaruhi kenyamanan permukiman dan perubahan pola sosial masyarakat sekitar kawasan tambang. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan rakyat memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, namun berpotensi menurunkan kualitas lingkungan apabila tidak dikelola secara berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan pemerintah, rehabilitasi kawasan pesisir, dan pengelolaan tambang berbasis lingkungan guna menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan pesisir. Kata kunci: pertambangan galian C, dampak lingkungan, sosial ekonomi masyarakat
Proses Budidaya Mutiara Laut (Pinctada Maxima) untuk Mendukung Kelayakan Usaha Pendapatan Masyarakat di Desa Hatusua Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat Christin Tanamal; Ferdinand Salomo Leuwol; Robert Berthy Riry
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp196–211

Abstract

Budidaya mutiara laut (Pinctada maxima) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses budidaya mutiara laut serta kelayakan usaha dalam mendukung peningkatan pendapatan masyarakat di Desa Hatusua, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan penyebaran kuesioner kepada masyarakat pembudidaya mutiara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses budidaya mutiara laut meliputi pemilihan lokasi budidaya, pemasangan longline, penggunaan pocket net dan spat collector, pemeliharaan, pembersihan rutin, hingga tahap pemanenan. Keberhasilan budidaya dipengaruhi oleh kualitas perairan, keterampilan tenaga kerja, kondisi cuaca, serta ketersediaan sarana dan prasarana produksi. Selain itu, penerapan teknik budidaya sistem bendera terbukti mampu menekan tingkat kematian spat dan meningkatkan efektivitas pemeliharaan dibandingkan metode konvensional. Analisis kelayakan usaha menunjukkan nilai B/C ratio sebesar 4,01 yang menandakan bahwa usaha budidaya mutiara laut layak dan prospektif untuk dikembangkan. Usaha ini tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi pembudidaya, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Oleh karena itu, pengembangan budidaya mutiara laut perlu didukung melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana produksi, penerapan teknologi budidaya yang tepat, serta pengelolaan lingkungan pesisir secara berkelanjutan.
Analisis Kualitas Air Sumur Bor di Perumnas RT 001 RW 005 Kelurahan Tihu Kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon Yunita Taponsabi; Robert Berthy Riry; Mohammad Amin Lasaiba,
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp47–58

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas air sumur bor di Perumnas RT 001 RW 005 Kelurahan Tihu, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon berdasarkan parameter fisik, kimia, dan biologis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas dua sumur bor yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan pengujian laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh parameter fisik dan kimia pada kedua titik pengamatan memenuhi baku mutu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023. Parameter warna, kekeruhan, bau, pH, nitrat, dan kesadahan total masih berada dalam batas yang diperbolehkan. Namun, hasil pengujian biologis menunjukkan bahwa sumur bor pada titik pertama mengandung Escherichia coli dan total coliform sebesar 65 CFU/100 mL sehingga tidak memenuhi baku mutu, sedangkan titik kedua tidak mengandung bakteri tersebut. Perbedaan kualitas biologis air diduga berkaitan dengan kondisi sanitasi dan lingkungan sekitar sumur. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan kualitas air secara berkala untuk menjamin keamanan penggunaan air oleh masyarakat.