Perkembangan Financial Technology (FinTech) dan kecerdasan buatan telah mentransformasi industri jasa keuangan serta berdampak signifikan terhadap ketenagakerjaan. Otomatisasi yang didorong FinTech menciptakan redundansi tenaga kerja di satu sisi, namun di sisi lain mendorong kebutuhan mendesak akan reskilling. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis bukti empiris mengenai dampak otomatisasi FinTech terhadap redundansi dan reskilling tenaga kerja, serta merumuskan kerangka manajemen risiko sumber daya manusia (SDM). Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada basis data Scopus, Web of Science, Google Scholar, dan Portal Garuda menggunakan kata kunci terkait FinTech, otomatisasi, redundansi, reskilling, dan manajemen risiko SDM. Kriteria inklusi meliputi artikel jurnal peer-review terindeks SINTA 1-4 atau Scopus/WoS Q1-Q4, terbit 2020-2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otomatisasi FinTech secara nyata menyebabkan redundansi, dengan lebih dari 63.000 pekerjaan terpangkas di sektor perbankan global pada 2026 dan proyeksi hingga 200.000 pekerjaan dalam tiga hingga lima tahun ke depan, terutama menyasar pekerja berketerampilan rendah serta fungsi operasional dan manajemen menengah. Strategi reskilling terbukti efektif sebagai mitigasi risiko SDM, sebagaimana praktik terbaik di bank UOB (melatih 20.000 karyawan dalam Generative AI) dan kebijakan OJK mewajibkan alokasi 2,5% biaya tenaga kerja untuk pelatihan. Namun, kesenjangan antara niat dan eksekusi reskilling (hanya 57% perusahaan memiliki jalur reskilling bermakna) serta ancaman experience gap tetap menjadi tantangan utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen risiko SDM di era FinTech harus mengintegrasikan identifikasi risiko redundansi, investasi pelatihan berkelanjutan, dan pendekatan transisi tenaga kerja yang seimbang.